Peng-GusDur-an Jokowi yang Gagal

Insiden rusuh politik menyusul ‘Aksi Damai’, Jumat (4/11) malam bukanlah semata-mata demi menuntut keadilan (meski samar) terhadap tuduhan penistaan agama terhadap Ahok. Lebih dari itu, target utamanya adalah penurunan Jokowi dari kursi kepresidenan. Hingga detik ini, tak ada satupun alasan yang bisa diterima akal manusia waras, alasan penjatuhan Jokowi. Adakah pelanggaran konstitusi yang dilakukan Jokowi?

Jika pokok soalnya adalah tidak terimanya sebagian orang yang merasa sebagai tokoh Islam dan panutan muslim atas tuduhan bahwa Ahok melecehkan firman Tuhan pada Surat Al Maidah ayat 51, kenapa mereka tidak merunut kebenaran ucapan Ahok? Simak baik-baik, reaksi keras bermunculan setelah beredar video editan dan transkrip tak utuh yang diunggah Buni Yani di laman Facebook-nya.

Jika tidak ada udang di balik rempeyek, politisasi murahan semacam itu tak akan terjadi. Bahkan seorang doktor lulusan IPB, yang sidang promosinya dilakukaan saat yang bersangkutan menjabat Presiden, pun menampakkan rasa gerahnya dan geramnya lewat sebuah konperensi pers di kediamannya. Maaf jika saya harus berburuk sangka kepada sang doktor, yang menurut hemat saya bukanlah orang berotak cetek. Continue reading

Cerita di Balik Penghapusan Diskriminasi Difabel

Searah jarum jam: tuna daksa, tuna grahita, tuna netra, tuna rungu wicara

Searah jarum jam: tuna daksa, tuna grahita, tuna netra, tuna rungu wicara

Sebuah pesan pendek datang dari salah seorang teman di Twitter, awal Juni lalu. Dia mengabarkan, Menpora Imam Nahrawi akan memanfaatkan sela waktu menjelang kehadirannya di resepsi pernikahan anak Pak Jokowi dengan mengunjungi mess Pelatnas Paragames di Solo. Dikabarkan, sang menteri ingin melihat lebih dekat persiapan para atlet sekaligus mencari tahu apa saja kekurangan.

“Pak Imam ingin mengenal lebih jauh seluk-beluk atlet difabel,” kata sang teman, yang ternyata kini menjadi staf khusus Menteri Pemuda dan Olahraga itu.

Singkat cerita, saya datang terlambat di Gedung Pusat Pengembangan dan Latihan Rehabilitasi Para Cacat Bersumberdaya Masyarakat (PPRBM) Colomadu, salah satu dari empat mess atlet Paralimpian itu. Cak Imam sudah berbincang akrab dengan belasan atlet tuna daksa dan tuna netra. Lalu, dilanjutkanlah keliling gedung, menengok beberapa kamar tidur dan fasilitas pendukung para atlet.

Menpora Imam Nahrawi bermain catur dengan seorang tuna netra, atlet paragames.

Menpora Imam Nahrawi bermain catur dengan seorang tuna netra, atlet paragames.

 

Tak hanya berbincang, keakraban yang cepat terjalin pun berbuah tantangan bertanding catur dengan atlet tuna netra. Beberapa kali, Menteri Imam kalah. Rupanya, kelebihan indera penglihatan tan serta merta mengungguli pecatur yang mengandalkan indera peraba. Bayangkan, Cak Menteri yang bisa melihat dengan jelas kotak hitam dan putih, tak membuatnya lebih gesit dua penantangnya, lelaki dan perempuan, dalam set berbeda! Continue reading

Negara Islam, Adakah Konsepnya?

Bagi yang masih memelihara ilusi tentang Negara Islam, simak baik-baik pandangan Gus Dur yang dimuat di KOMPAS, 17 Mei 2002 yang dibukukan oleh penerbit Kompas berjudul GUS DUR Menjawab Kegelisahan Rakyat, ini:

Adalah pertanyaan amat menarik untuk diketahui jawabannya, apakah sebenarnya konsep Islam tentang negara? Sampai seberapa jauh hal ini dirasakan kalangan pemikir Islam sendiri? Apakah konsekuensi dari konsep ini bila memang ada? Lalu, apakah konsekuensi dari konsep itu sendiri? Rangkaian pertanyaan itu perlu diajukan di sini, karena dalam beberapa tahun terakhir ini banyak diajukan pemikiran tentang Negara Islam, yang berimplikasi pada orang yang tidak menggunakan pemikiran itu, telah meninggalkan Islam.

Jawaban-jawaban atas rangkaian pertanyaan itu   dapat disederhanakan dalam pandangan penulis dengan kata-kata: tidak ada. Penulis beranggapan, Islam sebagai jalan hidup (syari’ah) tidak memiliki konsep yang jelas tentang negara. Mengapa penulis beranggapan demikian? Karena sepanjang hidupnya, penulis telah mencari dengan sia-sia makhluk yang dinamakan Negara Islam. Sampai hari ini pun belum ditemukan.

Dasar dari jawaban itu adalah tiadanya pendapat baku dalam dunia Islam tentang dua hal. Pertama, Islam tidak mengenal pandangan yang jelas dan pasti tentang pergantian pemimpin. Rasulullah SAW digantikan Sayyidina Abu Bakar –tiga hari setelah beliau wafat. Selama masa itu masyarakat kaum mulsimin, minimal di Madinah, menunggu dengan sbaar bagaimana kelangkaan petunjuk tentang hal itu dipecahkan. Setelah tiga hari, semua bersepakat bahwa Sayyidina Abu Bakar-lah yang menggantikan Rasulullah SAW melalui bai’at/prasetia. Janji itu disampaikan para kepala suku/wakil-wakil mereka. Dengan demikian, terhindarlah kaum muslimin dari malapetaka.

Sayyidina Abu Bakar sebelum meninggal dunia, menyatakan kepada komunitas kaum muslimin, hendaknya Umar bin Khattab yang diangkat menggantikan beliau, yang berarti telah ditempuh cara penunjukan pengganti, sebelum yang digantikan wafat. Ini tentu sama dengan penunjukan seorang Wakil Presiden di masa modern ini, yang harus menyiapkan diri unutk mengisi jabatan itu jika berpindah ke tangannya.

Ketika Umar ditikam Abdurrahman bin Muljam dan di akhir masa hidupnya, ia meminta agar ditunjuk sebuah dewan pemilih/electoral college (ahl halli wa al-aqdhi), yang terdiri dari tujuh orang, termasuk anaknya, Abdullah, yang tidak boleh dipilih menjadi pengganti beliau. Lalu, bersepakatlah mereka untuk mengangkat Ustman bin Affan sebagai kepala negara/kepala pemerintahan. Untuk selanjutnya, Ustman digantikan Ali bi Abi Thalib. Lahirlah dengan demikian sistem kerajaan dengan sebuah marga yang menurunkan calon-calon raja/sultan dalam Islam. Continue reading

Memahami Pengertian Orang Lain

Setiap akhir tahun, kita selalu gaduh. Ribut perkara sepele, soal boleh-tidak mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani. Pada era media sosial mendominasi cara berkomunikasi, kegaduhan kian menjadi. Banyak ‘sosok’ yang tiba-tiba ‘ditokohkan’ oleh khalayak daring, memanfaatkan penyebaran pendapat dan sikap melalui linimasa. Lantas muncul dua kelompok besar, yang masing-masing menjadi pengikut pihak-pihak yang berseberangan.

Di satu pihak, memberi cap kafir kepada pihak yang tak sependapat semudah membalik telapak tangan. Kepada yang demikian, saya sependapat dengan Gus Dur, bahwa pemahaman kita tentang Tuhan ternyata tidak sama dan dapat berbeda sangat jauh, dari satu ke lain orang. …. Bagaimanakah kta dapat memahami agama lain, kalau tentang agama sendiri saja sudah tidak dilaksanakan? Berarti, pemahaman akan agama lain, menghendaki pemahaman akan hubungan manusia sendiri dengan Tuhan.

Saya yakin, tulisan Gus Dur di bawah ini tidak akan berpengaruh banyak pada mereka yang sengaja membutakan mata dan hatinya sendiri, sebagaimana mereka yang kemarin lebih suka menilai (bahkan memusuhi) Ahok karena latar belakang agama dan etnisnya, dibanding niat dan hasil kerjanya dalam kapasitasnya menjadi Gubernur DKI Jakarta, yang di pada hakikatnya harus menjalankan amanat konstitusi dan tanggung jawab sosial-politiknya sebagai seorang makhluk Tuhan.

Catatan: Silakan simak pernyataan ini FPI: Larangan Ucapan Natal Bukan Cermin Kebencian

Memahami Pengertian Orang Lain

Dalam satu kesempatan penulis menyampaikan makalah dalam sebuah seminar internasional yang diselenggarakan di Universitas Negeri Syarif Hidayatulah, Ciputat. Teman seminar itu adalah pendidikan perdamaian dan harmoni antarumat manusia. Penulis sengaja memilih topik asal-usul terorisme dalam Islam. Penulis memilih topik itu, karena sebelum merumuskan sesuatu yang diperlukan untuk menyiapkan pendidikan perdamaian, kita harus berusaha untuk mendudukkan permasalahannya secara tepat.

Ini berarti, kita harus melihat beberapa hal yang menjadi unsur-unsur utama pendidikan semacam itu tanpa melakukan hal ini, kita hanya akan sampai  pada hal-hal yang ideal yang tidak menyentuh bumi nyata. Tetapi, sekadar mengenal unsur-unsur tersebut saja, sudah diperlukan keberanian moral yang luar biasa karena kita telah melakukan tindakan-tindakan salah kaprah di masa lampau. Umpamanya saja, larangan sementara orang yang menganggap diri mereka lebih tahu soal-soal agama, ketimbang orang lain yang justru mereka saling tuding sebagai orang yang tidak tahu Islam. Padahal mereka hanya tahu kulit-kulitnya saja. Bukannya soal-soal agama yang diingini Nabi Muhammad SAW melalui Al Qur’an dan Hadist.

Penulis ambil contoh, ‘larangan’ mengucapkan Natal pada tanggal 24-25 Desember tiap-tiap tahun. Alasannya, karena Nabi Isa AS bukanlah putra atau anak Tuhan. Maka dalam larangan itu dipakailah ayat: “Katakan, Tuhan itu Esa. Tidak beranak dan tidak diperanakkan serta tak ada yang menyamainya” (Qul huwa Allahuahad wa Allahu Al-Shamad, lam yalid wa lamyulad wa lam yakun lahu kufuwan ahad). Memang  ini adalah selamanya menjadi pokok keimanan orang-orang Islam. Siapa yang menyimpang dari ketentuan itu, bukanlah seorang muslim. Tetapi, di manakah dalam ayat tersebut ada petunjuk bahwa orang-orang kristiani tidak merupakan orang-orang monotheisme? Mungkin, monotheisme agak berbeda dari keyakinan kaum muslimin, pengertian Bapak dan Anak mereka ambil dari perbincangan orang-orang Yunani/kaum Helenistik, yang memiliki pengertian ‘sangat dekat’. Hal ini dilakukan, karena Yesus adalah lawan satu, dan dua orang kaum Kristiani dekat dengannya.

Dari uraian di atas jelaslah, bahwa kita tidak dapat menerapkan keyakinan kaum Muslimin atas sesuatu hal kepada orang-orang Kristiani. Sama saja halnya dengan orang-orang Budha yang mengatakan, bahwa Tuhan itu tidak ada. Maksudnya Ia (baca: Tuhan) tidak dapat dirumuskan denga kata. Bukannya tidak berwujud. Karena itu tidaklah tepat jika mereka dianggap tdak beragama, sebagaimana umumnya dipahami dari ungkapan tersebut. Jelas, kaum Budha adalah orang-orang beragama dan bahwa mereka juga monotheistic/ber-Tuhan satu. Walaupun mereka menggunakan nama bermacam-macam, tidak lain itu adalah sifat/atribut-Nya. Kalau kita tidak mengerti hal ini, dan terus-terus memakainaknpengertian kita atas mereka maka tidak diperlukan lagi pendidikan perdamaian. Dan, akan penuhlah dunia ini dengan pertikaian yang tidak habis-habisnya antara para pengikut berbagai agama. Inilah yang justru harus kita hindari sedapat mungkin dalam pergaulan/dialog antaragama.

Banyak sekali hal-hal yang dapat dijadikan contoh dalam tulisan ini tetapi penulis mencukupkan dengan contoh-contoh di atas saja yang diambilkan dari penyajian penulis dalam seminar tersebut. Ada sebuah contoh dari ‘kesalah pengertian’ kaum muslim itu yaitu tentang larangan menucapkan Selamat Natal, seperti disebutkan di atas. Bukankah Kitab Suci Al Qur’an sendiri yang berfirman: “Kedamaian atas dirinya, pada hari kelahiran-Nya” (Salamun ‘Alahi Yauma Wulida). Bukankah hal ini jelas bahwa yang dimaksudkan ayat tersebut adalah Isa AS. Dan bukankah inu perkenan untuk mengucapkan selamat kepada-Nya pada hari ia dilahirkan. Tetapi tentu saja dalam pengertian bahwa Ia (baca: Yesus) adalah pelopor monotheisme bukanlah sebagai entitas polotheistik. Dengan demikian menjadi jelaslah, bahwa kita harus dapat mengubah pengertian-pengertian kita akan apa yang dipikirkan orang lain, sehingga pendidikan perdamaian yang diinginkan akan mempunyai arti dalam kehidupan ini.

Inilah yang dimaksudkan dengan studi kritis atas agama, bukannya membandingkan ‘kebenaran sendiri’ dengan ‘kesalahan orang lain’. Dengan demikian, para pengikut sebuah agama tidak lagi perlu ‘bersikap garang’ kepada para pengikut lain. Jikapun memang ada perbedaan pengertian, hal itu tidak berarti kita lalu ‘diharuskan’ memperpanjang perbingungan dalam hal into. Karena pada intinya, pendidikan perdamaian dimaksudkan untuk memperkecil friksi/pertentangan antara agama-agama. Apa yang dirumuskan Mpu Tantular dari Majapahit dengan ungkapan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda namun tetap satu adalah kenyataan hidup bangsa kita yang tidak dapat dibantah oleh siapapun. Kalau kita hanya mementingkan diri sendiri maka seharusnya kita tidak boleh mempertentangkan antara dua buah agama dalam praktek kehidupan. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tidak boleh terpecah belah. Diktum/ketentuan Al-Qur’an ini harus dilaksanakan secara tuntas.

Dalam sebuah cerita sufi, seorang muslim bepergian untuk tiga hari, guna menemui gurunya di kota lain, maksudnya adalah untuk mendapatkan berkah sang guru. Di tengah perjalanan, setelah berjam-jam dia naik kereta api, seseorang yang berasal dari kalangan pemeluk agama Kristiani langsung menegurnya. Lalu mereka pun bertengkar tentang keesaan Tuhan.

Pada hari kedua mereka berpisah jalan. Karena tujuan yang berbeda pada hari ketiga, sang sufi pun tiba di tempat gurunya. Namun, ia mendapati pintu luar untuk masuk ke halaman rumah gurunya tertutup rapat. Ia pun duduk di depan pintu, dan pintu itu tidak dibuka. Pada malam harinya, ia tidur di beranda sebuah masjid yang tidak terlalu jauh dari rumah sang gurunya itu. Keesokan paginya ia kembali duduk di hadapan pintu masuk ke halaman rumah gurunya. Ia menunggu seharian, tanpa pintu halaman itu dibuka sama sekali.

Pada hari ketiga, kembali hal yang sama terulang lagi. Pada sore harinya, ia tidak kuat lagi dan berkata dengan suara lantang dan penuh kesepian: “Oh Guru, mengapakah tak kau biarkan aku memasuki halamanrumahmu? Bukankah dengan demikian engkau tidak mau membiarkan aku masuk surge bersamamu?” Dari dalam rumah terdengar suara jawaban: “karena engkau rebut tentang sifat-sifat Tuhan, bukan tentang Tuhan itu sendiri.”

Dari cerita di atas, dapat kita simpulkan bahwa pemahaman kita tentang Tuhan ternyata tidak sama dan dapat berbeda sangat jauh, dari satu ke lain orang. Kisah-kisah seperti ini sangat banyak beredar di kalangan kaum sufi/mistik dari berbagai agama. Bahkan, banyak cerita tentang kelalaian manusia tentang hal-hal dasar bagi semua agama. Padahal di sinilah letak esensi keberagaman bagi seseorang pemeluk yang berkeyakinan teguh, ingin diterima Tuhan.

Bagaimanakah kta dapat memahami agama lain, kalau tentang agama sendiri saja sudah tidak dilaksanakan? Berarti, pemahaman akan agama lain, menghendaki pemahaman akan hubungan manusia sendiri dengan Tuhan. Karenanya, memang hal itu menuntut kepekaan dan ketulusan hati kita sendiri kesediaan memahami keyakinan dan tindakan orang lain, menghendaki pemahaman yang benar akan agama sendiri dengan kata lain, pemahaman akan hubungan manusia dan Tuhan. Karenanya, memang hal itu menuntut kepekaan dan ketulusan hati kita sendiri kesediaan memahami keyakinan dan tindakan orang lain, akan menentukan kualitas kehidupan beragama kita, baik secara kolektif maupun sendiri-sendiri. Kualitas itu tidak hanya ditujukan melalui kebersamaan dalam menjalani berbagai ritus kegamaan, tetapi lebih-lebih dalam hubungan kita dengan para pengikut agama-agama lain. Karenanya, kelapangan dada terhadap ajaran-ajaran agama yang berbeda dari keyakinan kita, akan memperlihatkan kualitas tinggi atau rendah dari hubungan antar agama yang kita kembangkan.

Sudah tentu, kualitas hubungan para pemeluk agama-agama itu sangat bergantung kepada sikap hidup kita sendiri. Kalau kita dapat mengerti apa yang dilakukan para pemeluk agama-agama lain itu, akan lebih banyak Negara yang bersangkutan mengembangkan kehidupan beragama yang jauh lebih baik secara keseluruhan. Hal inilah, yang antara lain mendasari apa yang secara umum menerapkan kehidupan serba pluralistik. Suatu hal yang sangat ironis, jika kita lalu tidak mampu menciptakan harmoni seperti itu, kalau semua hanya mementingkan agam sendiri saja, tanpa merusak kehidupan beragama kita sendiri. Ini adalah sesuatu yang sedikit banyaknya terjadi secara meluas dalam kehidupan manusia modern. Untuk memahaminya, sebenarnya dapat dilakukan dengan mudah, jika kita benar-benar tulus dalam corak kehidupan beragama yang mementingkan Tuhan. Ini adalah bagian lumrah dari sebuah proses melestarikan dan membuang yang umum terjadi dalam sejarah umat manusia, bukan?

Jakarta, 5 Februari 2005

Jaréné Pénak Jaman Soeharto…

Ora mung awujud rerasan, jaré uripé wong Indonesia iku luwih kepénak jaman Soeharto. Nanging saiki wis sumebar kanthi mloho, cetha wéla-wéla, tinulis ana bak truk, sablonan kaos oblong utawa poster. “Isih penak jamanku, ta?” Mangkono ukarané sing karaketaké karo gambar Soeharto mèsem, mèmper karo gambar Bapak Pembangunan ing dhuwit sèket ewunan jaman reformasi biyèn.

Dalan krowak ing kidul Gapura Gladag, Sala

Seminggu kepungkur, aku olèh tetembungan sepélé, nanging bener yèn dinalar. Pak Hardjito, sopir taksi sing dakséwa, ngrasani yèn pemerintahan kèri-kèri iki ora bisa ngrumat dalan utawa lurung, apa manèh nggawé dalan anyar. “Mang titèni, Mas, pundi mergi  énggal ingkang kabangun dèning presidhèn sasampunipun Pak Harto?” ujaré Pak Hardjito.

“Jaman sakniki, sing digedhèkaké mung sami nglumpukké bandha. Bupati, walikota, gubernur lan sapanunggalané niku, sedaya mung mikir awake dhéwé-dhéwé. Mboten sami purun mikir pripun supados rakyaté niku tentrem, gampang anggoné pados sandang, pangan lan papan.”

Aku trima meneng, ngrungokaké rerasané ‘wong ndalan’ kaya Pak Hardjito, sing mesthiné kulina ndhèrèkaké tamu utawa penumpang, kang warna-warna sangkan parané, drajad lan pangkaté. Mesthiné, wong kaya Pak Hardjito krungu akèh babagan Bibit Waluyo, Hadi Prabowo lan Ganjar Pranowo, yaiku pada calon gubernur sing saiki lagi padha kampanye, saperlu rebutan lungguhan ing kantor gubernuran.

Duit gambar Soeharto, Bapak Pembangunan (Gambar kaundhuh saka Internet)

Niyatku pancèn pingin weruh lan mangertèni, kaya ngapa swarané warga babagan para pinunjul kang nembé nyalon. Dak takoni babagan Bibit, jawabé nylekéthé. Jaréné, bisa waé menang manèh sanajan wong Sala ora pati rena, apa manèh tresna jalaran Pak Jokowi naté dikuya-kuya. Babagan Hadi Prabowo, bapak sopir taksi mau ngaku ora kenal priyayi iku sapa. Déné nalika aku takon Ganjar Pranowo, jawabé uga sepélé: “Pak Ganjar niku ketingal pinter, tapi dèrèng naté manggon ten Sala ta, Mas? Lha Jawa Tengah niku rak nggih béda kaliyan Jakarta utawi Indonesia.”

Cep, klakep! Lha piyé olèhku arep bisa mèlu-mèlu urun swara sanajan mung awujud wara-wara, yèn rakyat waé cara mbiji lan nitèni para calon gubernur wis jero kaya mangkono? “Paling sésuk niku sing menang golput malih kok, Mas,” ujaré Pak Hardjito.

Aku mung bisa manggut-manggut. Bibit Waluyo, sanajan kodo, yèn ngendikan clebang-clebung kaya dudu karepé dhéwé, nanging tumrapé wong ndésa lan racaké wong cilik, luwih kaanggep prasaja, apa anané. Wondéné Hadi Prabowo, yèn aku kok isih melang-melang. Yèn nitik jabatan lan blanjané, saumpama olèh-olèhané Rp 100 yuta sesasiné, mosok dhuwit lan bandhané cukup kanggo nyithak spanduk, baliho, poster lan sapanunggalané? Lha dhuwité saka ngendi asalé?

Lha yèn Ganjar Pranowo, aku yakin dhèwèké ora sugih. Jaréné, klebu sithik saka wong-wong PDIP sing kondhang resik. Cilakané, wong sing dak anggep apik mung dijagokaké PDIP. Mligi déning partai pimpinané Mégawati. Saumpama Ganjar iku didadèkaké nggoné wong akèh, sing tegesé orang dikétok-kétokaké mung nggoné wong PDIP, mbokmenawa isih bisa mènèhi pengarep-arep bakal mimpin Jawa Tengah.

Nanging ya piyé manèh, yèn wong kaya aku utawa Pak Hardjito iku pancèn bisané mung ngarep-arep tetesané endhog blorok. Apa manèh golèk pemimpin sing bisa mbangun dalan anyar tur apik, lagi golèk pemimpin sing bisa njaga supaya dalan aspal ora krowak saben mangsa rendheng waé angèlé kaya nyekel welut ana sawah.

Wong-wong politik jaman saiki, sajaké ora kepikiran, apa manèh kéngguh supayané mbésuk yèn wis padha séda, isih akèh wong tilik, nyekar lan paring donga kaya déné Bung Karno, Pak Harto lan Gus Dur, sing paribasané saben dina ora naté kendhat wong sing nyelakaké teka lan tadhah donga. Kosok balèné, para politisi saiki luwih nggethu anggoné kulak bandha lumantar drajad lan panguwasa kanthi pétungan njlimet, supaya nalikané konangan anggoné ngrayah bandhané negara banjur karangkèt, isih ana turahan kanggo nyambung urip nalika wis uwal saka kunjara lan kecukup anggoné mbayar pokrol lan juru pengadil, kayata pulisi, hakim lan jeksa.

Yèn wis mangkono, dak kira ora gampang ngélingaké kenapa mbiyèn nganti ana sing arané KontraS, yaiku Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan. Kamangka KontraS, kanthi S gedhé utawa kandel, iku mratélakaké tandha pengéling-éling marang kejemé Soeharto nalika kuwasa. Kanthi nggunakaké dayané ABRI nalika semana, Soeharto nindhes  wong-wong sing ora sarujuk marang ‘kawicaksanané’ nganakaké samubarang kan sinebut pem-ba-ngu-nan!

Nggawé Wadhuk Kedhungamba, umpamané. Rakyat sing lemahé dijaluk kanggo gawé wadhuk diwènèhi ganti rugi sakupil, kira-kira mung cukup kanggo tuku rokok sawungkus saka meteran lemahé. Kamangka, jatah pitukoné lipet pirang-pirang puluh gedhéné. Sing ora sarujuk banjur dionèkaké mbeguguk ngutha waton, dicap PKI, banjur kaniyaya déning tentara. Kaya mangkono kejemé, mula nganti ana ‘monumen’ kang diwènèhi jeneng KontraS.

Para politisi PPP lan PDI (saiki dadi PDI Perjuangan) sing mbiyèn dikuya-kuya déning Soeharto, Golkar lan ABRI, saiki malah padha kemaruk, mbalèni patrapé Soeharto nalika jaman semana.

Cilakané manèh, akèh bocah jaman saiki sing ora menangi utawa ngalami rekasané dikuya-kuya lan ditindhes déning Soeharto, nanging amarga kebacut maju lan pinter, banjur gawé alesan werna-werna kanggo éndha saka kahanan sengsara jaman semana. Apa manèh, wong-wong iku olèh bukti, yèn politisi saiki kemaruk bandha, lan kendel nyolong kanthi terang-terangan, nanging tansah lamis  lan pinter gawé ukara béla rakyat nalika ngadhepi juruwarta utawa nembé mlebu tivi. Klop!

Piyé, isih pilih urip kaya jaman Soeharto apa pingin gawé tatanan urip sing luwih nentremaké ing tembé?

Yèn aku wis kapok. Aja nganti anak turunku mbésuk menangi urip katindhes bangsané dhéwé kaya nalika Soeharto nggunakaké kuwasa.