Pertimbangan Memilih Maskapai Penerbangan

Berita pembatalan sanksi kepada Lion Air (dan Air Asia) akibat kesalahan membawa penumpang terminal kedatangan luar negeri ke jalur domestik, sudah saya duga sebelumnya. Mau dibilang prasangka atau pendapat mengada-ada, silakan. Silakan pula menyimak ‘kemesraan’ Direktorat Perhubungan Udara dengan Lion Air, yang berulang kali menyodorkan fakta, tak pernah ada sanksi yang membuat Lioan Air jera lalu berbenah memanjakan konsumennya.

Jika Anda mengeluh tidak bisa melihat foto di atas dengan jelas, percayalah, permasalahan bukan pada mata Anda. Lion Air memang susah dilihat dengan mata telanjang semata.

Jika Anda mengeluh tidak bisa melihat foto di atas dengan jelas, percayalah, permasalahan bukan pada mata Anda. Lion Air memang susah dilihat dengan mata telanjang semata.

Semula, saya mengira di bawah Ignasius Jonan, Kementerian Perhubungan akan tegas seperti citra yang dibuatnya selama ini. Juga, harapan kepada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk bersikap keras (termasuk melakukan upaya hukum) menekan manajemen Lion Air memenuhi ‘hak dasar’ konsumen atas jasa penerbangan akan ketepatan jadwal keberangkatan. Tapi, ya saya maklum. Jonan dan orang YLKI hanya bisa bersuara keras melawan rokok. Itulah ‘spesialisasi’ mereka.

Tulisan di bawah ini sudah disiapkan dua hari sebelum pernyataan resmi pembatalan sanksi terhadap Lion Air (dan Air Asia) oleh Kementerian Perhubungan. Continue reading

Manfaat Inflight Magazine dalam Promosi Wisata

Puas jalan-jalan selama lima hari di Palembang dan Musi Banyuasin, saya pulang ke Solo naik Nam Air ke Jakarta, lalu disambung dengan Sriwijaya Air turun Yogyakarta. Ya, saya tidak memilih penerbangan ke Solo karena masih ingn berbarengan dengan idola kaum muda Indonesia, Agus Mulyadi alias Gus Mul. Jalan-jalan yang asik: dolan, mangan, turu, dolan maneh! Jalan-jalan, makan, tidur, jalan-jalan lagi.

Sayang sekali ii majalah Sriwijaya Air edisi Mei 2016 ini tak ada informasi mengenai event Musi Triboatton 2016. Event-event lain pun kurang memperoleh ulasan memadai. Sebaiknya sih, minimal diberi ruang minimal dua halaman agar informasi wisata benar-benar menggelitik orang untuk datang berkunjung.

Sayang sekali ii majalah Sriwijaya Air edisi Mei 2016 ini tak ada informasi mengenai event Musi Triboatton 2016. Event-event lain pun kurang memperoleh ulasan memadai. Sebaiknya sih, minimal diberi ruang minimal dua halaman agar informasi wisata benar-benar menggelitik orang untuk datang berkunjung.

Kapan lagi bisa piknik seenak itu kalau tidak mencicipi duit APBN… Ya, benar-benar duit APBN karena kami memang di-hire Kementerian Pariwisata untuk membantu promosi wisata Indonesia (terima kasih Kemenpar…). Kebetulan, daerah tujuan wisatanya Palembang dan Musi Banyuasin, sengaja di-match-kan dengan Musi Triboatton 2016, yakni ajang lomba dayung tiga jenis tantangan berbeda, yakni rafting, kano dan perahu naga (dragon boat).

Memang kami tidak mengikuti seluruh rangkaian ajang lomba olahraga air yang digelar tahunan itu. Karena itulah, kami lebih banyak mengunjungi sejumlah lokasi wisata di Sumatera Selatan. Dengan berperahu di Sungai Musi, kami mengunjungi Pulau Kemaro dan kampung Arab Al Munawwar di Palembang kota. Kami juga mengunjungi Museum Sriwijaya, taman kota Kambang Iwan, sentra songket dan sejumlah tempat makan yang enak-enak.

Satu yang agak mengagetkan saya, justru ketika dalam penerbangan pulang. Di inflight magazine-nya Sriwijaya Air, event Musi Triboatton tidak terdapat di dalam agenda wisatanya. Yang terpampang di sana justru Solo Keroncong Festival, Gelar Budaya Wanurejo (Magelang, Jawa Tengah), Festival Sanrobengi (Takalar, Sulawesi Selatan), Festival Manggis (Badung, Bali) dan Bandung Laoetan Onthel (Bandung, Jawa Barat). Kok bisa???

Bisa saja… Ini kan Indonesia. Sudah lumrah kalau di Indonesia, banyak pihak meski secara ideal punya kepentingan yang sama, belum tentu bisa ‘bekerja sama’.

Mungkin, manajemen inflight magazine, termasuk perusahaan penerbangan yang dimiliki pengusaha asal Provinsi Bangka Belitung itu, tidak menganggap Musi Triboatton sebagai bagian dari mereka, yang menggunakan nama ‘Sriwijaya’ yang tidak lain merujuk pada satu kesatuan kultur dan geografis, yakni sesama warga bekas Kerajaan Sriwijaya yang masyhur hingga ke menembus luasan tak sekadar ASEAN saja. Continue reading

Andai Punya Dermawan

Jika kita punya beberapa orang dermawan yang mau memperhatikan dunia olahraga, Indonesia pasti kian terkenal di dunia. Kita juga tak akan pernah mendengar bekas petinju jadi penjaga klab malam, atau mantan atlet menjual emas medalinya untuk makan atau perpanjangan rumah kontrakan. Bulutangkis yang pernah berjaya hingga 1990an pun kian meredup.

Jika banyak atlet dengan anggauta badan lengkap sempurna saja begitu mengenaskan pada masa tuanya, bisa ditebak bagaimana nasib atlet yang berkebutuhan khusus lantaran kekurangan oleh aneka sebab? Membandingkan atlet paralympic dengan mereka yang tak punya kendala fisik memang seperti melihat langit dan bumi.

Dt. Zaenal Abidin, salah satu tokoh penting pembinaan tenis kursi roda Malaysia. Ia yang memobilisasi dana untuk pembinaan atlet. Sejumlah atlet dan pelatih Indonesia pernah diundangnya untuk melatih atlet-atlet Malaysia, juga mengajaknya keliling beberapa negara atas tanggungan biaya olehnya. Pak Yasin Osmani menjadi orang Indonesia yang kerap diajaknya ke beberapa lawatan olahraga dunia, termasuk tinggal di rumahnya di London. Indonesia butuh orang seperti dia.

Negara (dan penyelenggara pemerintahan) sudah seharusnya memberi perhatian lebih kepada kaum difabel (atau penyadang disabilitas. Terserah, Anda lebih nyaman menggunakan istilah yang mana). Ibaratnya, mereka yang tak memiliki kendala mobilitas akan lebih mudah mengakses banyak hal untuk keperluan hidup kesehariannya. Merancang masa depan, pun pasti tak sesulit saudara-saudara kita yang terkendala fisiknya.

Sepekan menyaksikan dan mengikuti sejumlah cabang olahraga yang dipertandingkan pada ASEAN Paragames 2011, saya kian cemas terhadap atlet-atlet kita. Bonus yang timpang bagi atlet Paragames yang memperoleh medali emas karena ‘cuma’ seperempat jumlah yang diterima atlet-atlet SEA Games Palembang/Jakarta, memang jadi catatan tersendiri buat saya.

Sama-sama mengharumkan nama bangsa, benderanya juga sama-sama dikibarkan penuh setinggi tiang dengan iringan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kenapa bonusnya beda?

Saya teringat kata-kata Mas Inung, seorang jurnalis radio yang juga seorang difabel. Atlet, artis, seniman, atau orang-orang berprestasi di bidang sains, teknologi dan bidang apapun, sepanjang mengharumkan nama bangsa, seharusnya diperlakukan sama, tanpa membedakan ciri-ciri lahiriahnya. Yang ‘sempurna’ dengan yang (maaf) cacat, semua memiliki kontribusi yang sama, sehingga mereka berhak mendapat penghargaan yang sama.

Ada satu hal penting yang saya catat dari obrolan singkat di tepi lapangan tenis Manahan seusai pertandingan tenis kursi roda, Minggu (18/12) siang, bahwa mereka-mereka itu (termasuk para atlet paragames) adalah aset bangsa. Oleh karenanya, negara berkewajiban merawat mereka, agar prestasinya kian moncer dan memberi insiprasi dan motivasi bagi yang lain.

Nilai-nilai bela negara (dan bangsa) menjadi penting ditanamkan, baik kepada para atlet maupun seluruh komponen bangsa, terutama para penyelenggara negara. Cara pandang mengenai kecacatan harus dihilangkan, sehingga aneka bentuk diskriminasi sirna dari Indonesia.

Saya menyaksikan sendiri, Pak Simon Sirait minta tolong seorang liaison officer untuk membawa raket tenisnya ke tukang pasang senar. senar raketnya putus saat bertanding, sehingga ia meminjam raket cadangan pasangan mainnya, Pak Ahmad Ade. Sesuatu yang tak seharusnya boleh terjadi di tengah pertandingan.

Sedih jika saya mendengar bagaimana atlet-atlet tenis kursi roda Thailand bisa melanglang buana ikut turnamen ini-itu dengan kemudahan fasilitas penerbangan dari Thai Airways, dan semua biaya muhibahnya bisa di-reimburse ke pemerintahnya, entah kalah atau menang. Itu insentif yang luar biasa bagi atlet-atlet difabel, sehingga wajar mereka bisa sangat percaya diri di lapangan.

Begitu pun Malaysia. Dato Zaenal Abidin, adik ipar mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad, mau tampil menjadi pembina sekaligus promotor atlet-atlet tenis kursi roda. Ia bisa memobilisasi dana lewat donasi atau sponsorship perusahaan-perusahaan di Malaysia sehingga menopang prestasi atlet-atlet difabel.

Pemerintah Indonesia yang memiliki saham utama Garuda Indonesia, mestinya bisa menjadi fasilitator, agar perusahaan penerbangan itu mau menjadi sponsor. Australia Open, Japan Open, Taiwan Open dan Thailand Open masih memungkinkan menjadi ajang turnamen untuk mematangkan kemampuan dan reputasi atlet-atlet kita. Toh, menurut Yasin Osmani, manajer tenis kursi roda kita, saingan terberat di ASEAN ‘hanya’ Thailand.

Toh, kalau dihitung-hitung, hampir tak mungkin semua seat pada penerbangan Garuda Indonesia ke kota-kota di negara yang saya sebut di atas penuh terisi. Artinya, bisa memanfaatkan kursi kosongnya, toh biaya pokok untuk bahan bakar, sewa landasan serta transit dan parkirnya sama saja. Bahkan, untuk akomodasi atletnya pun bisa menggunakan jaringan hotel yang biasanya menjadi langganan awak Garuda Indonesia.

Kursi roda untuk tenis lapangan ini buatan China. Harganya cuma Rp 15 juta. Jauh lebih murah dibanding kursi roda serupa bikinan Jepang.

Di luar itu, memang masih ada kendala peralatan. Raket dan bola, anggap saja menjadi tanggungan atlet. Tapi mengenai kursi roda yang berkwalitas memadai, sebaiknya disediakan oleh negara. Bisa dihibahkan kepada atlet, namun bisa juga tetap dikelola negara atau organisasi induk olahraga difabel seperti National Paralympic Committee (NPC), di mana jika atlet meminjam jika hendak bertanding.

Sebut saja, andai Kementerian Pemuda dan Olahraga membeli 10 kursi roda berkwalitas sedang. Buatan China mulai Rp 15 juta, sedang yang bagus bikinan Jepang dari harga Rp 50 juta hingga Rp 100 jutaan. Begitu pun untuk cabang atletik, yang kursi roda untuk sprint berharga relatif sama dengan kursi roda untuk tenis. Andai total punya 20 kursi roda untuk atletik, tenis meja dan tenis lapangan, toh maksimalnya hanya Rp 2 milyar. Angka yang tak seberapa besar, apalagi jika membandingkan dengan jumlah uang menguap yang diduga ditilap Nazaruddin.

Intinya, Menteri Pemuda dan Olahraga masih bisa mengupayakan gathering, mengundang pengusaha dan orang kaya untuk diajak dermawan. Juga, bisa mendorong BUMN-BUMN yang gemilang mencetak laba, untuk mengalokasikan sebagian dananya untuk menghidupkan olahraga. Dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang tak kecil, misalnya, bisa jadi salah satu sasarannya. Pola anak angkat perusahaan juga menarik dipertimbangkan.

Maskapai penerbangan milik pemerintah ini mestinya bisa menjadi salah satu sponsor penerbangan gratis untuk atlet-atlet paralympic Indonesia untuk lawatan-lawatannya, baik domestik maupun internasional.

Negara, melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga bisa lebih proaktif memperjuangkan dana pembinaan, baik lewat anggaran negara (APBN) maupun melakukan mobilisasi dadi sektor usaha, baik swasta maupun BUMN. Dengan begitu, kejayaan Indonesia bisa dirasakan bersama seluruh bangsa Indonesia melalui cabang olahraga, termasuk para penyandang difabilitas (atau disabilitas).

Para dermawan, bangkitlah memajukan Indonesia lewat olahraga. Bela negara dan bangsa bisa dilakukan dengan pola sedekah, entah lewat dana CSR maupun biaya promosi dan kehumasan….

Kicauan tentang Garuda

Andai Alvin Lie tidak berkicau, mungkin Garuda Indonesia tidak jadi bahan perbincangan, sore ini. Ada yang memaki, memuji, ada pula yang mencoba kritis dan mengambil jarak pada pokok persoalan: seorang Wakil Ketua DPR meminta Garuda yang telanjur terbang berbalik arah, demi menjemput politisi yang akan buka bersama Presiden di Cikeas.

Awalnya, sekira pukul 15.00, Alvin mengabarkan via Twitter:

GA239 SRG CGK siang ini airborne SRG normal dipaksa balik ke SRG olh KanPus GA krn ada pax yg hrs ke JKT dipanggil Pres.

Lalu, ramailah karena banyak yang terpancing untuk meneruskan pesan itu.

Pesan itu menyita perhatian sebab tak lazim sebuah penerbangan harus kembali mendarat di bandara keberangkatan, kecuali ada masalah teknis pesawat, gangguan cuaca atau hal-hal darurat lainnya. Andai menyangkut orang-perorang untuk ‘dijemput’ kembali, maka secara aturan, hanyalah mereka yang masuk kategori VVIP alias orang yang sangaaaat penting: seperti presiden, wakil presiden atau menteri.

Di dalam kicauannya, Alvin menyebut rekan separtainya, sebagai ‘pembajak’ yang mencoreng nama baik partainya karena arogansi dan penyalahgunaan kekuasaan. Maka, pesan itu menjadi tampak meyakinkan. Apalagi, Alvin menceritakan adanya permintaan kantor pusat Garuda Indonesia kepada pilot, bahkan hingga memberi petunjuk adanya pemakaian frekwensi khusus untuk itu.

Persoalan lantas ‘muter-muter’, menjadi pukulan balik kepada Alvin sang pekicau, sebab ia dianggap lebay, sebab pernyataannya menyiratkan seolah-olah pesawat berbalik arah menjemput Taufik Kurniawan, legislator yang berkedudukan sebagai Wakil Ketua DPR. Hingga ramai hampir dua jam, Alvin tak kunjung mengonfirmasi perihal pernyataannya.

Dan, nasihat bijak lalu muncul: bahwa me-retweet tak boleh sembarangan. Perlu pengecekan silang seperti laiknya sebuah manajemen berita: cover both sides.

Bagi saya, se-lebay-lebay-nya Alvin, dia tak sembarangan melempar persoalan ke alam bebas semacam Twitter. Maka, saya menyebutnya sebagai ‘petunjuk awal’. Apalagi, beberapa kicauannya memberi gambaran cukup detil mengenai permintaan Taufik Kurniawan agar ‘dijemput kembali’ oleh GA-239 akibat keterlambatannya untuk check in.

Rupanya, pernyataan (petunjuk) Alvin terkonfirmasi. Vice President Corporate Communications PT Garuda Indonesia, menyatakan kepada detikcom sebagai berikut:

“GA 239 harus terbang pukul 12.50 dan check in sudah ditutup 30 menit sebelumnya. Pak Taufik meminta kita menunggu,” kata Vice President Corporate Communication Garuda Indonesia, Pujobroto.

Jadi, usaha untuk melakukan apa yang disebut Alvin Lie sebagai pembajakan sudah terjadi. Tentu, ini mengacu pada pernyataan resmi Garuda seperti dikutip detikcom.

Dan, citra Garuda Indonesia tidak luruh karena sang pilot memilih untuk tidak memenuhi permintaan atasannya agar mendarat kembali. Ia tahu, reputasi dan profesionalisme Garuda sebagai maskapai terbaik di Indonesia harus dijaga. Apalagi, Garuda Indonesia baru saja ‘pulih citranya’ setelah dilarang terbang ke Eropa akibat penilaian buruk dari otoritas penerbangan Eropa.

Lagi pula, bagaimana manajemen lalu lintas Bandara Soekarno-Hatta tak terganggu andai penerbangan terjadwal masih bisa dipengaruhi oleh keterlambatan yang bukan karena faktor-faktor alam dan keadaan darurat lainnya? Yang passti, perilaku Taufik Kurniawan tak boleh dicontoh. Tindakan asal retweet juga mesti diubah. Supaya tidak ada lagi perkara karena retweet rusak susu sebandara.

Tentu jangan lupa pula, bahwa berkicau pun perlu pertanggungjawaban. Akurasi menjadi penting, agar tak banyak orang tersesat. Apalagi orang-orang seperti saya, yang karena lemahnya iman, masih mudah jatuh benci dan marah kepada isyarat ketidakadilan.

Mas Alvin, kali ini sampeyan baik, menyampaikan ketegasan sikap, walau kepada teman separtai. Walau ada kekurangan, seperti kata teman-teman di twitterland, sampeyan tak meminta maaf ‘hanya’ karena  kronologi perkara tak sampeyan ceritakan secara detil ketika jagad maya jadi ramai, oleh sebab kicauan sampeyan.

Kalimat berikut sangat saya suka:

walau se partai jika salahgunakan kekuasaan harus tetap ditabrak. Bahkan hrs lebih keras. Memalukan partai sih

Catatan:

Buat teman-teman yang ketinggalan isu, silakan gunakan hastag #GA239 untuk menyimak perkara Garuda ini.

Silakan simak pula, keterlambatan penerbangan lantaran menunggu  Ibas, anak Presiden SBY, yang terlambat datang. Sayang berita ini tak menjelaskan tujuan penerbangan. (updated: 07082010 14:34)


http://www.detiknews.com/read/2010/09/05/153813/1435363/10/pesawat-garuda-ngaret-3-menit-akibat-ulah-taufik-kurniawan

Kisah Pahlawati Devisa dan Garuda

Namanya Sumiati, usianya belum separuh baya. Lahir di Pacitan, besar di Jakarta, dan melalui masa dewasanya di Hongkong. Hampir tujuh belas tahun, Mia -begitu sapaan akrabnya, menggeluti profesi sebagai kanca wingking, alias orang yang selalu berada di ‘belakang’. Berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong pada sebuah keluarga asal Kanada, Mia menjalani hidupnya penuh gairah. Hari-hari liburnya selalu ‘hidup’, jauh lebih intelek dibanding saat di rumah walau sang majikan seorang dosen Bahasa Inggris di Hongkong.

Mbak Sumiati

Ia dan kawan-kawan, biasa nongkrong di Shelter, semacam flat yang dijadikan sebagai pos pertemuan para buruh migran, atau kerap disebut sebagai TKI. Di sana, ia tak hanya melahap majalah Tempo yang dia beli (seharga HK$35) pada setiap Kamis, tapi sibuk mengurus teman seperantauan yang kebetulan bermasalah dengan majikan. “Saya selalu menganjurkan teman-teman untuk melarikan diri ke Shelter. Sambil dicarikan upaya penyelesaiannya, mereka kami tampung di sana,” ujar Mia kepada blontypix di sela-sela Intenational Peoples Forum di Batam, 17 September petang.

Mia, memang tampak cerdas. Bahasa Inggrisnya bagus, pronounciation-nya oke. Bahasa Kanton juga jago. Di perantauan, ia tampak sangat berdaya, tidak seperti ketika awal-awal hijrah, yang dibayar kurang dari separuh standar gaji pembantu rumah di sana. (Asal tahu saja, Hongkong termasuk sedikit dari banyak negara yang menghargai hak-hak pembantu rumah tangga setara dengan profesi lainnya. Bahkan, pemerintah di sana sudah menetapkan upah minimal untuk pembantu rumah tangga sebesar HK$ 3.620 per bulan, dengan hak cuti dua pekan per tahun plus off pada hari setiap libur)

Bukti betapa berdayanya Sumiati dan 7.000-an temannya sesama pembantu rumah tangga asal Indonesia di Hongkong, adalah ketika mereka mampu menunjukkan bargaining power dengan Garuda Indonesia. Rupanya, kawan-kawan Mia mulai ogah naik maskapai penerbangan nasional lantaran awak pesawat itu terlalu sering meremehkan mereka. “Mungkin para awak Garuda Indonesia terbiasa memperlakukan pembantu rumah mereka sebagai warga kelas bawah, sehingga mereka jengah melayani kami-kami,” tuturnya. Lalu, mereka pun ramai-ramai beralih ke Cathay Pacific atau China Airlines, bahkan Singapore Airlines setiap kali mudik atau hendak balik.

Aksi unjuk rasa perwakilan buruh migran di Batam

Akibat ‘boikot’ itu, manajemen Garuda Indonesia kelabakan, sebab semangat nasionalisme kaum pekerja migran itu tak beroleh respon sepadan. Lantas, kata Mia, dimulailah program ‘rekonsiliasi’ antara Garuda Indonesia dengan mereka. Para pengurus organisasi kaum migran (ada tujuh di Hongkong) mulai didekati, dan diundang ke beberapa acara yang diselenggarakan oleh Garuda Indonesia, plus bantuan sponsorship setiap kali organisasi mereka punya hajatan. Juga, pemberian diskon tiket penerbangan bagi para aktivis buruh migran yang memang kerap diundang pada pertemuan-pertemuan organisasi serupa di berbagai negara.

Hasilnya memuaskan. Sejak setahun terakhir, kaum pekerja migran sudah kembali menggunakan Garuda Indonesia. Apalagi, perusahaan milik negara yang sedang dibelit utang itu, mulai rajin memberi diskon hingga 50 persen untuk tamu-tamu buruh migran di Hongkong, termasuk ketika mengundang Sheila on 7 bersama rombongan untuk menghibur mereka. “Kami diberi satu tiket gratis setiap ada pembelian 10 tiket. Dan tiket itu bisa dipakai teman-teman ketika harus menghadiri pertemuan pekerja migran,” ujarnya.

Harapan Mia dan kawan-kawan terhadap Garuda Indonesia tinggal satu: yakni perusahaan itu mau membuka rute penerbangan langsung Hongkong -Surabaya. Sebab, provinsi Jawa Timur merupakan penyumbang devisa dolar Hongkong terbanyak kepada Indonesia.