Jalan-Tutup-Surga Soegija

Selain karena Garin Nugroho yang sudah saya kenal, saya merasa butuh tahu sosok Soegijapranata, sehingga bersama istri, saya menyempatkan nonton film Soegija. Selama ini, saya hanya mengenal uskup pribumi pertama di Indonesia, yang namanya diabadikan sebagai nama Universitas Katholik di Semarang. Selain juga penasaran dengan kemampuan akting Nirwan Dewanto, kritikus sastra yang saya kenali sebagai sosok serius itu.

Gambar diambil dari infobuku.net

Saya selalu terpesona dengan kwalitas gambar ‘cantik’ pada film-film Garin. Juga, dikejar menuntaskan rasa penasaran terhadap duet Armantono-Garin menyusun skenario, seperti pada beberapa film karya alumnus SMA Loyola Semarang itu.

Dan benar, secara gambar, baik sudut dan lebar lensa untuk proses pengambilan, pilihan lokasi, benar-benar semuanya indah, seperti syair lagu anak Kebunku. Detilnya kena, sehingga benar-benar sanggup menghadirkan suasana awal 1940-an, tanpa harus menghadirkan set dan properti buatan. Dan, soal gambar, kita pasti maklum sebab pengarah fotografinya adalah Teoh Gay Hian, yang selama ini karya-karya iklan produk-produk kecantikan hampir setiap saat ditayangkan televisi.

Secara umum, saya memperoleh gambaran mengenai Soegijapranata (diperankan oleh Nirwan Dewanto) sebagai sosok uskup yang rendah hati, ajur ajèr, menyatu dengan rakyat kebanyakan. Dan memang seperti itulah seharusnya bagi seorang rohaniwan, yang harus sanggup merasakan setiap desah dan tarikan napas umat.

Soal gaya bercanda pastur dengan orang-orang dekatnya (seperti Pak Min, diperankan oleh Butet Kartaredjasa), bagi saya, itu lumrah-lumrah saja. Apalagi bagi seorang pastur dari ordo Sarekat Jesuit, yang memang biasa menggeluti masalah-masalah sosial-budaya, menyatu dengan orang kebanyakan, apalagi yang marginal.

Guyonan Soegija melarang Pak Min menembang di dekat telinganya ketika sedang bercukur, merupakan isyarat akan kebiasaan patur-pastur Jesuit mendengar irama dan tembang berkwalitas bagus, bukan yang seadanya seperti kemampuan Pak Min.

Secara keseluruhan, akting Nirwan tak seberapa bagus. Di awal adegan, Garin kecolongan menyunting, sebab Nirwan tampak kurang luwes memandang kamera, ketika ia sedang bersepeda menyusuri jalan berbatu di sebuah desa. Dialognya, pun terasa kurang nJawani. Ruh atau rasa bahasa Jawa-nya agak luput.

Soal rasa bahasa Jawa yang terasa mengganggu, misalnya, ditunjukkan oleh Olga Lidya ketika melafalkan kata tutup sebagai totop (seharusnya: tu-top, seperti o pada toko). Tutup yang dilafalkan Olga adalah dialek Jawa Timuran, bukan Jawa Tengahan. Selain itu, pelafalan kata surga dalam nyanyian berbahasa Jawa melalui koor ibu-ibu di tengah perkampungan, terasa dipaksakan untuk diindonesiakan, sehingga kurang pas. Dalam bahasa Jawa, lazimnya swarga bukan surga.

Sebagai karya film berlatar perjuangan dengan nuansa Jawa yang hendak dibuat kental, saya kira Garin kecolongan dalam satu hal ini. Satu lagi yang membuat film ini terasa kian kecolongan adalah adanya cat putih sebagai pembatas lajur dua arah sebuah jalan aspal yang dilalui komandan pasukan Belanda saat memboncengkan wartawan Belanda menyusuri jalan di pegunungan. Sepanjang yang saya pahami (bisa jadi salah), pada masa itu belum lazim adanya marka jalan, kendati dunia transportasi Belanda lebih maju dibanding Indonesia atau  Hindia Belanda.

Soal meramu adegan romantis, saya selalu acung jempol kepada Garin. Dia jagoan soal beginian, termasuk dalam memilih wajah-wajah ‘arkais’ sebagai bumbu sebuah menu yang disajikan untuk publik yang random.

Sebagai film bernuansa perjuangan kemerdekaan dari sisi peran gereja dan Katholik, yang diwakili Soegija, saya anggap cukup fair dan memadai. Kalaupun harus menyebut kekurangan, adalah representasi tokoh-tokoh nasionalis dari kelompok lain, seperti kaum muslim.

Bukan hendak mengada-ada saya berpendapat demikian. Seorang Jesuit yang saya pahami, selalu membangun relasi sosial yang baik dengan berbagai macam kelompok, apalagi dalam konteks menghadapi invasi dari seberang, Belanda dan Jepang. Bisa jadi, representasi ‘yang lain’ bisa lewat warga kampung di mana Soegijapranata berinteraksi, dan sebagainya, jika seandainya tak ada tokoh Islam ikut membangun barisan perjuangan. Atau, bisa pula lewat interaksi antarbarisan pemuda, yang ketika itu ada Hisbul Wathan dan organisasi-organisasi kepanduan lainnya.

Jujur, ini bukan bergenit-genit. Tapi justru supaya tak mereduksi peran Soegijapranata sebagai sosok nasionalis pejuang, yang terbuka dan membangun interaksi yang luas. Dan itu sesuai dengan apa yang digelisahkan, seperti gambaran kerap dituliskannya di kertas bergaris.

Padahal, kehadiran Pak Besut sebagai jurnalis sudah kuat mengantar Soegija sebagai pahlawan nasional, yang turut mengambil peran dalan perjuangan memerdekakan Indonesia dari penjajahan.

Tusuk Konde

Rama membunuh Sinta dengan tusuk konde...

Judul Tusuk Konde membuat saya kaget. Hingga gladi kotor beberapa hari menjelang keberangkatan rombongan ke Tropenmuseum, Amsterdam, seingat saya belum diumumkan judulnya. Kebetulan, saya beberapa kali nungguin latihan, sekadar menonton. Rupanya, judul itu diambil dari adegan terakhir, ketika Rama membunuh Sinta dengan menghunjamkan tusuk konde.

Adegan membunuh Sinta dengan tusuk konde, pun saya kira datang kemudian. Sebab pada latihan-latihan sebelumnya, ending cerita tak sekalipun menyinggung ‘kunci’ gelungan rambut itu sebagai properti yang bisa dipakai untuk menikam hingga membuat Sinta mati. Ujungnya yang lancip dan bahan yang lazimnya tanduk kerbau memang kuat dan tajam. Masuk akal dijadikan senjata.

Tapi, ya di situ itulah kelebihan, sekaligus keunikan dan keanehan seorang Garin Nugroho. Improvisasinya kuat, imajinasinya tak pernah mati. Ia dikenal biasa menabrak naskah, skenario atau plot yang sudah dirancang. Keliarannya menjadi kata kunci dalam mewujudkan gagasan menjadi ekspresi, visual, auditif, maupun gabungan keduanya. Orang-orang yang pernah terlibat bersamanya dalam sebuah produksi pasti sangat hafal dengan ‘kelakuan’ seperti itu.

Terhadap cerita sendiri, Garin mengabaikan persepsi kebanyakan orang Jawa (dan Indonesia) yang menempatkan Sinta sebagai sosok suci. Rama yang halus-lembut pun dijadikan sosok gamang, lelaki yang tak tegas, bahkan yang bisa memahami what woman want. Sehingga, kehadiran Rahwana yang liar, ekspresif dan pemberani bisa mengisi kekosongan yang dihadapi Sinta sebagai istri dan perempuan.

Terhadap keberanian Garin menyodorkan tafsir baru terhadap cinta segitiga Rama-Sinta-Rahwana, saya angkat topi. Ia menampilkan ketiganya secara manusiawi dalam pengertian denotatif.

Beberapa catatan yang saya punya, yang paling mengganggu hanya penempatan kain putih yang difungsikan sebagai layar lebar untuk menembakkan gambar-gambar patung karya Heri Dono dan menampilkan visualisasi ‘hati yang terbakar’. Andai layar itu hingga menyentuh lantai panggung di bagian belakang, rasanya akan lebih menyempurnakan gagasan yang hendak diusungnya.

Simak foto-foto yang saya buat. Andai kamera saya sejajar dengan lantai panggung, pun tak akan banyak membantu. Aktor dan properti pemanggungan tak mampu tampil menonjol lantaran terganggu oleh garis gelap-terang yang diakibatkan oleh penempatan layar yang kurang jeli. Mungkin itu kesalahan Iskandar K. Loedin sebagai desainer artistik dan tata cahaya.

Pada sisi itulah saya kecewa. Seorang Garin yang biasa menggeluti detil-detil artistik seperti terlena dengan adegan demi adegan cantik dari tata gerak yang disusun Eko Supriyanto. Ekspresi sensualitasnya memang memukau dan menggoda. Begitu juga pemanfaatan kukusan sebagai simbol organ-organ vital perempuan.

Sisi lain yang menurut saya masih kurang, adalah masih kuatnya unsur filmis pada ‘langendriyan multimedia’ ini. Adegan perang antara Rama dan Rahwana misalnya, ditampilkan ala slow motion. Alurnya juga terasa linear dan cenderung lambat, bisa menjemukan jika seseorang tak terbiasa menonton film drama.

Saya kira, cukup segitu saja catatan saya untuk Anda. Mumpung masih ada kesempatan, silakan menyaksikan pentas terakhirnya di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, malam nanti. Tusuk Konde masih layak dinikmati, meski menurut saya, tak sekuat Opera Jawa seri pertama, The Iron Bed.

Oh, iya, sebelum saya lupa. Tusuk Konde disebut sebagai bagian yang kedua dari Trilogi Opera Jawa. Walau pemeran Sinta bukan penari yang sama, jangan dianggap mengurangi bobot karya. Sooal judul yang semula berbahasa Inggris lalu berganti bahasa Indonesia, juga tak usah disoal. Mungkin sulit dicarikan padanannya dalam bahasa Inggris karena tak ada orang barat yang berkonde.

Tapi asli, Anda akan menjadi orang yang merugi bila tak menyaksikan pertunjukan ini. Layak apresiasi, dan banyak bahan renungan yang bisa didapat.

Yang penting, jangan tanya saya soal embel-embel Dua dari Trilogi Opera Jawa. Soal itu, saya menyebutnya sebagai improvisasi khas Garin. Setidaknya, begitulah pemahaman saya terhadap sosok berpendidikan ilmu hukum, yang sebelumnya lebih lama malang-melintang sebagai penulis opini itu di sejumlah media massa, sebelum akhirnya banting setir menjadi sineas itu.

Soal ‘improvisasi’ embel-embel, biarlah itu menjadi bahan ledek-ledekan saya dengan sang sutradara saja. Selamat dan sukses ya, Mas Garin…..

Daktunggu sing kaping telu….

Catatan Kecil Opera Jawa

Karena pernah nonton The Iron Bed, menyaksikan Opera Jawa kali ini, saya merasa kurang nyaman. Terasa betul, Garin Nugroho ingin menumpahkan semua kegelisahan artistiknya ke dalam satu karya. Sekilas, karya ini bakal berat. Penuh beban.

Adegan Rama dan Sinta

Tapi, itu cuma kesan subyektif saya. Ke depan, sebelum karya itu dipentaskan perdana di Tropen Museum, pasti akan dilakukan banyak pembenahan. Apalagi kalau menyimak proses kreatif seorang Garin, yang menurut saya, termasuk rajin dan berani bereksperimen untuk menemukan bentuk garapan yang permanen, dan paten.

Perselingkuhan Sinta dengan Rahwana?

Ya. Paten dan keren seperti The Iron Bed, dua tahun lalu, yang konon bahkan membuat iri sejumlah koreografer yang sama-sama tampil di Indonesian Dance Festival 2008. Namun, itu tak berarti ia terbebas dari prasangka para kritikus (yang sejatinya jarang nonton karya-karya tari, apalagi koreografer muda), tentang kemampuan Garin menyutradarai sebuah karya tari.

Karya rupa Heri Dono dalam Opera Jawa versi kedua

Sepanjang yang saya tahu, Garin sangat longgar dalam penyutradaraan. Maksudnya, ‘improvisasi’ sering dilakukan ketika capaian artistik tak memuaskan, atau ketika ia tergelitik mencoba hal-hal yang baru saja melintas di benaknya. Proses Bulan Tertusuk Ilalang menunjukkan itu. Juga karya-karya sesudahnya.

Kini, Opera Jawa versi dua mencoba memasukkan karya rupa Heri Dono. Pada satu-dua boneka (mirip angkrok, menurut orang Solo), bisa memberi kesan kuat surealisme yang dibangunnya. Tapi, ketika boneka-boneka itu tampil ‘kolosal’, maka yang terasa kemudian adalah, para penari (berikut peran-perannya) tengelam. Silep, kata orang Jawa.

Masih ada sepekan efektif sisa waktu latihan sebelum semua terbang ke Amsterdam. Sebagai penikmat, saya berharap masih menjumpai perubahan-perubahan yang signifikan, supaya 90 menit durasi pertunjukan tak terasa menbosankan. Tulus, saya rindu alur yang lurus-halus seperti pada The Iron Bed, yang merasa getun, kecewa, karena tiba-tiba pertunjukan sudah berakhir.

Dan, begitulah saya. Sering tak bisa menerima ending hanya karena nyaman menyaksikan, dan rasa telanjur disandera lewat jalinan ceritera. Pada pertunjukan yang bagus, tentu saja.

Opera Jawa Versi Dua

Garin Nugroho seperti kesengsem pada dua hal: kisah Ramayana dan penyutradaraan tari. Setidaknya, itulah yang saya perhatikan dalam empat tahun terakhir.

Pada kisah Ramayana yang berintikan peperangan Rama (sebagai simbol kebaikan) versus Rahwana yang berkonotasi jahat dengan bumbu pesona kecantikan Sinta, itulah Garin mengeksplorasi habis-habisan. Lewat film Opera Jawa (2006), ia bahkan menyabet pujian publik film tingkat dunia.

Dari film itu, ia lantas mengembangkan pada bakat keduanya, sebagai sutradara tari. Dengan melibatkan koreografer Eko Supriyanto (Solo) dan Martinus Miroto (Yogya), Garin melahirkan The Iron Bed (2008). Hasil pernyutradaraan dengan pendekatan filmis itu bahkan memukau seniman dari beragam cabang dan aliran yang berkumpul di Swiss dalam forum Zurcher Theater Spektakel, pada pertengahan 2008.

Sukses di festival seni yang melibatkan puluhan seniman dari 40 negara di Asia, Amerika Latin dan Afrika itu, The Iron Bed lantas diminta tampil dalam Indonesian Dance Festival di Jakarta, tahun lalu. Sebuah apresiasi yang menarik, mengingat Garin ‘hanya’ pendatang baru di dunia seni pertunjukan, meski ia pernah menyutradarai pertunjukan drama semasa SMA di Semarang dulu.

Oh, ya, hampir saya lupa. Kata Garin, sepulang dari Swiss, resensi The Iron Bed yang saya buat dan dipublikasikan di The Jakarta Post, katanya memperoleh pujian dari Robert Wilson, art director kelas dunia yang menjadi penggagas acara di Swiss itu. Aha!! Senangnya hati saya…..

Saat diberitahu soal itu, pun saya berlagak merendah dengan mengatakan tak mungkin ada resensi yang bagus kalau materi yang diresensi jelek.

Tapi, sungguh menarik mengamati metamorfosa Garin. Semula, saya mengenalnya sebagai penulis yang kritis. Ketika itu, akhir 1980-an hingga pertengahn 1990-an, karya-karya tulisnya kerap mejeng di halaman opini harian Kompas. Dia masih menyebutkan identitasnya sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Beberapa teman kuliah saya yang kagum padanya, sudah dua orang yang meniru jejaknya, menekuni dunia tulis-menulis dan menjadi sineas andal. Keduanya pernah meraih penghargaan kelas dunia pula.

Kembali ke soal penyutradaraan tari, harus diakui dia memang piawai. Talentanya kuat, bahkan garapannya lebih detil dari koreografer pada umumnya.

Tapi, yang selalu menggelitik saya hanya satu: soal penampilan sosok perempuan sebagai tokoh sentral. Baik pada film Surat untuk Bidadari, Bulan Tertusuk Ilalang, Daun Di Atas Bantal, hingga Opera Jawa, Garin menempatkannya sedemikian rupa. Simbol-simbol feminin juga kuat pada semua karyanya, termasuk pada karya tari The Iron Bed dan yang kedua, yang diberi judul sama dengan filmnya: Opera Jawa.

Semoga, Opera Jawa yang menonjolkan ciri Langendriyan atau operet versi Jawa menuai sukses dipentaskan di Belanda, paruh kedua tahun ini. Melihat pertunjukan ‘perdana’ di ISI Surakarta, tiga hari lalu, saya optimis Garin sanggup mempertanggungjawabkan orisinalitas garapannya, meski koreografinya ditangani Eko Supriyanto.

Tali Kutang yang Terabaikan

Drama atau teater, entah kenapa masih menjadi cabang seni seni pertunjukan yang menurut saya masih memperhatikan detil, baik artistik, properti maupun pemeran (aktor).  Setidaknya, begitulah yang saya rasakan ketika menyaksikan beberapa pertunjukan tari di Jakarta dan Solo dalam beberapa tahun terakhir.

Di Solo, misalnya, masih sering kita jumpai beberapa koreografer yang lengah dalam hal detil, yang biasanya mudah kita temukan pada kostum atau performa penari.

Pernah, pada malam usai general rehearsal, saya ditanya seorang koreografer. Intinya, dia minta pendapat mengenai impresi saya terhadap persiapan pertunjukan untuk keesokan malamnya. Karena tak paham dan tak mau masuk ke proses sebuah penciptaan, saya hanya menanyakan dua hal.

Pertama, saya bertanya soal warna tali kutang. Yang berikutnya mengenai perhiasan berupa cincin dan kalung yang dikenakan penari. Ada satu penari yang mengenakan tali kutang berwarna gelap, sementara kira-kira enam penari perempuan lainnya mengenakan tali kutang berwana putih, sebagian malah berbahan plastik bening.

“Apakah warna gelap tali kutang itu disengaja, mungkin si penari itu mendapat peran khusus dalam jalinan sebuah koreografi?” tanya saya. “Cincin dan kalung yang dikenakan beberapa penari, apakah itu juga menjadi bagian dari konsep artistik atas cerita yang hendak dibangun?”

Si koreografer menggeleng. Ia mengakui hal itu sebagai sesuatu yang terlewat, tak ada unsur kesengajaan. Apalagi dimaksudkan untuk mendukung atau memperkuat sebuah pesan atau gagasan yang hendak disodorkan kepada penonton sebagai lawan dialognya.

Sebagai tukang foto, saya mudah terganggu dengan kejanggalan di atas panggung, yang mungkin oleh orang lain atau bahkan koreografernya sendiri dimasukkan pada kategori ‘bisa diabaikan’. Sementara lewat lensa (mata atau kamera), pantulan cahaya sebuah lampu panggung bisa datang dari cincin, kalung atau tali kutang berbahan plastik yang bening.

Detil lain yang kerap ‘diabaikan’ adalah tata rambut. Pada teater, panjang-pendek rambut, model sisiran, perlu dibalur jelly atau tidaknya, sangat berpengaruh karena seorang actor/aktris memerankan sebuah karakter. Belum lagi kostum, model pakaian, hingga aksesori yang dikenakan, semua menjadi sesuatu yang tak bisa dilewatkan begitu saja.

Contoh dengan kontras paling kentara adalah make up dan desain kostum sinetron-sinetron kita dengan film-film layar lebar, terutama besutan sutradara-sutradara tertentu. Pada sinetron, kita sangat mudah menemukan penampilan pengemis, namun mengenakan pakaian yang masih tampak baru dibeli. Pada karya-karya film layar lebar, kostum dan properti akan selalu nyambung, kontekstual. Maka tak aneh, riset menjadi keharusan dalam satu kesatuan perencanaan produksi.

Yang masih saya rasakan hingga kini, masih banyak koreografer yang abai pada soal-soal ‘remeh’ demikian. Contohnya, ada satu-dua penari –kebetulan keduanya laki-laki, yang penampilannya tak pernah berbeda, baik dalam keseharian maupun di atas panggung. Yang satu selalu mengenakan kalung berbahan kulit, satu lagi mengenakan anting-anting besar. Keduanya mencolok secara visual.

Kebetulan, keduanya kerap tampil dalam sejumlah karya beberapa koreografer. Tata rambut dan penampilannya nyaris sama, baik selagi nongkrong maupun ketika berada di atas panggung. Satu-satunya yang membedakan, sepertinya hanya terletak pada kostum yang dikenakan.

Kalau sudah begitu, maka pertanyaan yang mesti dijawab hanyalah soal definisi kata profesional. Rasanya, jawabannya tak jauh berbeda, baik penari maupun koreografer.

Bacaan terkait: Problem Seniman dan Manajemen Seni; Kisah Ranjang Garin Nugroho; Mendokumentasi Peristiwa Panggung