Bargain Jokowi kepada Amerika

Situs online Kontan memberitakan pertemuan Gubernur DKI dengan Duta Besar Amerika Serikat Robert O Blake pada Senin (14/4) malam. Bukan tak mungkin, berita itu akan disambar lawan-lawan politiknya, terutama kelompok Islamis untuk membangun sentimen negatif terhadap juga calon presiden yang diusung PDI Perjuangan itu.

Tak banyak orang mencatat, apalagi mau mengakui tindakan Jokowi terkait hal-hal strategis beginian. Amerika, suka-tak suka adalah simbol keperkasaan dunia. Kebijakan luar negeri Amerika selalu membawa dampak signifikan pada banyak negara, tak terkecuali Indonesia. Maka, kunjungan duta besar Amerika ke suatu daerah di sebuah negara pasti ada hitung-hitungannya, tak terkecuali kedatangan Cameron Hume ke Solo, 26 April 2009 silam.

Tempo mencatat, tak ada pengamanan mencolok terhadap acara jalan-jalan Cameron yang didampingi Jokowi di sejumlah tempat wisata kota, seperti Pasar Triwindu (Ngarsapura) atau Gladag Langen Bogan (Galabo). Tidak tampak aparat Polri maupun pengawal khusus Dubes Amerika berada di dekat tamu penting itu, meski dalam kunjungan tidak resmi.

Dalam perbincangan santai dengan Pak Jokowi beberapa hari setelah kunjungan Cameron, ia bercerita, sengaja mengajukan syarat khusus kepada Dubes Amerika sebelum bertolak ke Solo. “Saya minta beliau tidak dikawal secara mencolok dan berlebihan. Saya pun menyampaikan, nanti akan meminta kepolisian di Solo untuk melakukan pengamanan tertutup. Rupanya, beliau setuju,” ujar Pak Joko.

Memang diakui Pak Jokowi, semula pihak kedutaan Amerika keberatan dengan syarat itu. Tapi, Walikota Surakarta itu ngotot dan menyediakan diri sebagai penjamin, yang akan ditunjukkan dengan cara mendampingi ke manapun Cameron Hume jalan-jalan di Solo.

Tak hanya itu, kepolisian setempat pun awalnya keberatan jika pengamanan bagi Dubes Amerika itu tidak maksimal. Tak hanya personil yang diterjunkan, kepolisian pun berencana menyiapkan kendaraan antihuru-hara di lokasi-lokasi yang hendak disambangi Hume. Lagi-lagi, Pak Jokowi meminta Kapolresta Surakarta untuk mengurungkan rencananya. Dia meminta model pengamanaan tertutup, dengan jaminan diri dan jabatannya, dimana polisi yang diterjunkan hanya berpakaian preman dan mengamati dari kejauhan. Alhasil, deal!

Maka, jadilah Cameron Hume, duta besar dari sebuah negara adidaya, jalan-jalan bebas layaknya turis mancanegara yang suka blusukan ke pasar barang antik di Triwindu ‘tanpa pengamanan’. Dan, sukses! Tak seorang pun mengganggu kunjungan itu. Mungkin, orang kebanyakan mengira Pak Jokowi sedang mengantar buyer mebel untuk berwisata di Solo. Toh, belum tentu satu dari sepuluh orang di sekitar lokasi itu tahu, bahwa yang dikawal Pak Jokowi adalah Cameron Hume, sang duta besar negara superbesar.

Kata Pak Jokowi, “Dengan cara seperti itu, pasti Pak Cameron Hume akan bercerita kepada teman-temannya sesama duta besar di Jakarta, kepada staf-staf dan petinggi keamanan di Amerika sana, bahwa jalan-jalan di Solo itu aman seaman-amannya. Itu yang penting bagi kita, bukan hanya masyarakat Kota Solo, tapi juga Indonesia.”

Benar. Saat kunjungan Cameron Hume itu, aparat Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri masih gencar-gencarnya memburu terduga teroris dimana-mana. Keamanan Poso masih kerap ‘bermasalah’, pun juga di daerah-daerah lain di Indonesia. Kelompok Kudus, kelompok Cirebon dan sebagainya pun masih diwaspadai pergerakannya. Dengan demikian, citra Solo sebagai ‘Kota Teroris’ belum hilang, apalagi beberapa saat sebelumnya, Indonesia masuk dalam daftar travel warning di negara adikuasa tersebut. Dan, tindakan Pak Jokowi bisa disebut sebagai langkah taktis dan strategis.

Dampak dari pernyataan Solo sebagai kota yang aman dikunjungi dari seorang Duta Besar Amerika, tentu saja bermuara kemana-mana. Nama baik Indonesia terbawa, multiplier effects-nya juga bisa dirasakan siapa saja, dimana saja, di Indonesia. Lalu lintas kunjungan wisatawan (lokal dan internasional) menjadi normal, sehingga pedagang makanan, para sopir taksi dan angkutan umum lainnya, produsen batik dan cinderamata, tak perlu kuatir berkurang pemasukannya.

Begitulah sikap cermat dan ide bernas seorang Jokowi menyelesaikan sebuah perkara. Tak perlu banyak keributan, namun persoalan bisa dibereskan. Sebuah langkah diplomasi gemilang seorang politisi muda, yang selalu menggunakan kearifan lokal Jawanya dalam bertindak. Dalam hal ini, tamu merasa dimuliakan, dihormati dengan jaminan keamanan dan perlakuan selayaknya tamu bermartabat, namun juga tak perlu digembar-gemborkan karena hal demikian juga belum tentu berbuah kebaikan.

Tengak-tengok di City Walk

City Walk merupakan kosakata baru bagi warga Solo. Sudah dua tahun, jalur lambat di sisi kanan jalur protokol itu ramai pejalan kaki, setelah wajah aspal diganti paving block. Di banyak tempat terdapat kursi besi beralas kayu untuk bercengkerama, atau tempat istirahat bagi penyusur. Hot spot pun ditebar di sepanjang City Walk, walau dengan speed sedang-sedang saja.

Bukan Turis Biasa - makanya masih butuh foto bersama segala

Diperkenalkan Pak Joko Widodo pada awal-awal menjabat walikota, area pejalan kaki itu memang dimaksudkan untuk menarik minat wisatawan. Di ujung jalan terdapat pusat kuliner Galabo, akronim Gladak Langen Bogan. Langen itu senang-kesenangan dan bogan itu bentuk jamak dari boga yang artinya makanan.

Di Galabo itulah, semua ikon warung makan Solo membuka cabang. Bahkan, warung-warung yang hanya buka hingga sore di tempat aslinya, kita masih bisa menikmatinya pada malam hari. Galabo memang direncanakan sebagai pemuas bagi kaum pemanja lidah, terutama bagi yang tak punya cukup kesempatan untuk menikmatinya di siang hari.

Penulis dipaksa menjalani peran sebagai pemandu wisata dadakan

City Walk memang tak sia-sia dibangun. Rimbunnya pepohonan dari Purwosari hingga Gladak tak hanya asyik untuk jalan-jalan. Kita bisa menikmati Dalem Wuryaningratan, rumah tua bekas bangsawan Kraton Surakarta yang kini dijadikan Museum Batik Danar Hadi. Di museum itu, ratusan koleksi batik kuno dipajang, dan di bagian belakang museum bisa dijumpai jari-jari terampil para pembatik, dari yang berusia muda hingga nenek-nenek.

Museum itu tak jauh dari Sriwedari, kompleks taman bekas milik keluarga kerajaan. Selain gedung wayang orang yang legendaris, Museum Radya Pustaka juga berada di sini. Koleksi pusaka, topeng-topeng kuno, buku-buku bersejarah serta arca-arca tua terdapat di museum persembahan Raja Surakarta untuk masyarakat ini.

Sriwedari dan Dalem Wuryaningratan memang lekat dengan nuansa kerajaan. Begitu pula dengan Kemlayan, kampung tua yang dulunya merupakan kompleks permukiman untuk abdi dalem kerajaan di bidang karawitan. Empu gendingnya diberi gelar kebangsawanan, dengan nama sebutan Mlaya. Kata Kemlayan memang kata bentukan dari ke + mlaya + an, yang berarti kawasan para (anggota korps) mlaya.

Hanya kotak sampah yang dikelola DKP inilah yang paling berkontribusi mempermalukan warga Kota Surakarta

Antara Galabo dengan Kemlayan, ada satu kawasan tua yang cirinya hampir sama: jalan-jalan kampungnya berupa lorong kecil yang menyulitkan pengendara sepeda motor atau sepeda angin berpapasan. Kawasan itu bernama Kampung Kauman, tempat di mana para ulama dan santri kraton bermukim. Ciri Kauman hampir sama di berbagai kota seperti Semarang, Yogyakarta, Cirebon dan kota-kota tua lainnya, yakni selalu ada masjid besar sebagai pusatnya.

Di Solo, Masjid Agung masih merupakan pusat kegiatan ritual Islam kerajaan hingga kini, meski kampungnya sendiri sudah jamak latar belakang penduduknya. Selain berkonsentrasi pada urusan syiar Islam, rata-rata penduduk kauman adalah pedagang. Hingga kini, Kauman masih menjadi sentra perdagangan kitab Al Quran, buku Yaasin dan Tahlil serta buku-buku Islam dan perlengkapan ibadah. Peci, tasbih, sajadah, mukena dan sarung banyak dijajakan di kampung ini.

Meski demikian, Batik Kauman juga relatif populer. Dulu, konon motif batik made in Kauman berbeda dengan yang dibuat di Laweyan, meski kini nyaris sama. Outlet-outlet batik dan perajin pun mulai menjamur seiring dengan naiknya pamor batik dalam beberapa tahun terakhir.

Anda tertarik jalan-jalan di City Walk juga? Kami, komunitas blogger Bengawan baru saja menyusuri kawasan itu. Minggu (7/2) sore yang cerah menjadi hari yang menyenangkan bagi kami, menjalani program WatchWhileWalk agar kami bisa bercerita banyak tentang Solo, yang hasilnya akan kami ceritakan kepada Anda. Ya, kira-kira seperti yang baru saja Anda baca ini.

Selamat datang di Solo, Kota Baik Surakarta………

Foto-foto: Dony Alfan