Menjauhkan Polisi dari FPI

Ketika Presiden Jokowi mengajukan nama Komjen Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri mendatang, saya merasa lega. Ia seorang perwira polisi dengan karir cemerlang, pengalaman segudang dan deretan prestasi yang membuat orang tercengang. Matang di detasemen khusus antiteror dan doktor dengan kajian khusus terorisme dan radikalisasi Islam, diharapkan bisa mewujudkan Indonesia sebagai negara demokrasi dengan hukum yang tegak.

Ilustrasi: NN

Ilustrasi: NN

Saya yakin, penunjukan itu bukan tanpa alasan. Sebagai jenderal muda, justru Tito akan punya waktu panjang menjadi pengendali kepolisian. Jika diasumsikan menjabat Kapolri hingga pensiun, ia punya waktu enam tahun untuk melakukan pembenahan institusi dan personil. Asal tahu saja, banyak perwira-perwira muda di kepolisian yang prihatin dengan nama buruk korps akibat ulah segeintir oknum.

Saya pernah punya kenalan polisi (mungkin sekarang sudah brigjen), yang semasa kuliah di PTIK, konon membuat skripsi tentang praktik sogok-menyogok untuk kenaikan pangkat dan memperoleh jabatan. Data-data semacam itu, saya kira sangat banyak di lembaga pendidikan kepolisian, namun tersimpan di almari sebagai arsip karya tulis. Hanya orang-orang dengan profesionalisme seperti Tito-lah yang mau membacanya, meski ia pun tahu itu bukan rahasia lagi di kalangan mereka. Continue reading

Sniper

Setiap menjelang musim mudik lebaran, Kepolisian Negara Republik Indonesia selalu menjanjikan ketenteraman kepada rakyat pemudik. Caranya, mengumumkan keberadaan sniper alias penembak jitu, dimana-mana. Namun, usai lebaran, tak pernah ada pengumuman, sudah berapa banyak pelaku kriminal sudah ditembak secara jitu.

Yang lazim diumumkan hanyalah jumlah pemudik dan status peningkatan jumlahnya, serta persentase naik/turun angka kecelakaan dan jumlah korban. Standar memang.

Sesekali, ingin betul dapat kabar polisi pamer prestasi, terutama hasil penembakan yang jitu itu. Ya, seperti laporan para pemburu, yang bangga ketika cerita sudah berhasil membunuh sekian babi ketika memasuki rimba raya.

Kalau cuma diam saja, orang seperti saya pasti sulit mengapresiasi dan membanggakan punya lembaga penegak hukum yang hebat.

Apalagi, selama ini kelewat sering merasa dibohongi, sebab banyak penanganan kasus kriminal, tak tuntas terselesaikan. Begitu juga, ketika sebuah perkara menyangkut laskar-laskar semacam FPI atau Front Pembela Islam, yang cara berdakwahnya selalu berjamaah dan cenderung intimidatif. Bahkan, tak segan menganiaya, atau merusak semua yang dijumpainya: manusia maupun harta benda.

Sesekali, ingin juga mendengar kabar sniper itu telah berhasil menembak sekiam anggota FPI yang bertindak anarkis ketika beraksi, apalagi secara konvoi.

Sungguh tak asik, seumpama saya berjumpa teman dari mancanegara, lalu ditanya kenapa insiden salah tembak kerap terjadi, dan saya gagal menjelaskannya. Alangkah malunya saya punya institusi resmi bernama Polri.

Coba, apa jawaban Anda manakala ditanya: apa sebab sniper dipiara, sementara peluru nyasar dan salah tembak masih terjadi?

Yang jelas, saya pusing…

Merindukan Orang Alim

Di aneka jejaring sosial, orang ramai membicarakan tanggal pasti jatuhnya hari lebaran atau 1 Syawal. Kegaduhan pembicaraan yang menurut saya tak perlu, andai semua tahu, bahwa penentuan awal Ramadhan pun sejatinya sudah sama-sama beda. Ada yang menggunakan metode hisab seperti Muhammadiyah, dan rukyat yang diyakini Nahdlatul Ulama. Jangan-jangan ‘cuma’ karena liburan?

Coba kita simak linimasa Twitter atau jejaring sosial lainnya, termasuk media massa, pada menjelang hinagga awal Ramadhan. Mungkin karena hasil hisab dan rukyat kebetulan sama, di mana awal Ramadhan jatuh pada 1 Agustus, sehingga orang tak menyoal.

Kemarin, sejak siang hingga tengah malam, masih banyak orang yang mengecam Kementerian Agama, yang dianggap tak tegas memutus sebuah perkara, ya soal kapan jatuhnya 1 Syawal itu: pada 30 atau 31 Agustus?

Namun, satu hal yang menurut saya merupakan sebuah kekurangan, adalah minimnya informasi memadai mengenai prinsip dasar yang dianut oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, serta organisasi Islam lainnya.

Andai redaksi media massa memiliki referensi memadai tentang prinsip yang dianut dua organisasi keagamaan dengan pengikut sama-sama besar itu, mungkin kebingungan orang tak seperti sekarang. Pemberitaan bisa melahirkan bias, apalagi jika diproduksi oleh orang-orang yang tak memiliki referensi memadai.

Padahal, mempertemukan dua keyakinan berbeda, bukan perkara mudah, apalagi jika masing-masing berpegang pada dalil-dalil yang sama-sama kuat, sahih. Ini yang mestinya dimengerti kalangan pers, mengingat perannya yang strategis dalam penyebaran informasi. Saya yakin, para pekicau, yang kebanyakan (bisa jadi) juga awam seperti saya, mendasarkan kicauannya dari pemberitaan yang kurang referensi tadi.

Media massa, terutama televisi, misalnya sudah memberitakan (secara langsung) jamaah tarekat Naqsabandiyah di Sumatera Barat yang melakukan takbir pada Minggu (28/8) malam, namun tak tuntas, referensi hadis (dan mungkin tafsir) seperti apa yang digunakan para jamaah di sana, sehingga berbeda dengan yang dianut Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Mengapa orang tak banyak meributkan saudara-saudaranya di Sumatera Barat itu, apalagi jika dikaitkan dengan hisab dan rukyat? Sejujurnya, saya kuatir ada bias kepentingan yang bisa jadi juga disengaja, untuk mengacaukan persaudaraan umat muslim di level akar rumput. Anehnya, kaum terdidiknya pun ikut terjebak arus kuat gejala penyeragaman dalam praktek-praktek keagamaan.

Sungguh ironis dan tak masuk akal. Kemarin, orang pada ramai mengecam FPI yang berusaha ‘menyeragamkan’ aturan, di mana warung-warung makan dipaksa tutup di mana-mana, demi ‘menghormati’ orang berpuasa. Mereka terganggu ketika keindahan dan harmoni di tengah aneka perbedaan diusik segelintir orang dengan aksi-aksi pemaksaan kehendak, bahkan tak jarang dengan aksi kekerasan.

Konsistenkah kita dalam menjalankan fitrah perbedaan?

Bagi saya, sepanjang kita bisa dan mau konsisten menerima perbedaan, dan bukan menjadikannya sebagai ‘bekal bermusuhan’, Shalat Ied dua atau tiga kali, pun tak jadi soal. Seingat saya, perbedaan penentuan 1 Syawal antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sudah kerap terjadi. Dulu juga tak pernah seribut kini.

Atau, jangan-jangan karena teknologi komunikasi yang sudah berkembang sedemikian cepat sehingga memungkinkan semua orang mudah berbagi informasi, lantas keriuhan menjadi sedemikian dahsyat? Faktanya, teknologi komunikasi memungkinkan siapa saja menggalang opini. Bahkan, tanpa dimaksudkan sebagai penggalangan opini yang disengaja sekalipun, keriuhan di jejaring sosial akan memunculkan arus utama opini publik.

Repotnya, jika lantas muncul simplifikasi, penyederhanaan masalah, sehingga ketika sebuah opini didukung banyak orang lantas dianggap sebagai kebenaran. Itu yang potensial bikin repot dan persoalan menjadi kian kusut. Padahal, tak semua orang yang berpendapat di jejaring sosial dan alat komunikasi lainnya bisa disebut memilikinreferensi memadai tentang soal ini, antara metodologi hisab dan rukyat, yang sama-sama memilki ‘pendukung’.

Padahal kita tahu, kebenaran tak bisa ditentukan dengan cara musyawarah, apalagi voting. Dan, jika ‘kebenaran’ itu menyangkut sebuah keyakinan, yang mendasarkan pada hal-hal keagamaan, ya pasti kian runyam jika dipaksakan untuk disamakan. Satu-satunya jalan keluar, ya harus mendorong kebebasan kepada setiap orang untuk mengikuti metodologi mana yang diyakini, toh sam-sama bersumber pada referensi keagamaan yang sejatinya sama.

Para ulama-ulama Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang benar-benar alimlah yang harus segera tampil mendinginkan suhu perbedaan yang menghangat. Toh, Gusti Allah Maha Maklum, dan pasti akan menerima setiap amalan tulus umatnya. Gusti Allah sudah jelas tak suka jika umat ciptaanNya saling bermusuhan, lantas berbuat kerusakan di dunia.

Jadi, mau lebaran Selasa atau Rabu, silakan saja. Suka-suka, asal yakin. Tuhan hanya memberi batasan, supaya kita meninggalkan sesuatu jika ragu.

Yang pasti, saya merindukan para alim, orang-orang yang lebih mengerti agama untuk membagi ilmunya, setidaknya penjelasan tentang sejarah dan dasar Muhammadiyah meyakini metode hisab, dan Nahdlatul Ulama yang menggunakan rukyat untun menetukan awal Ramadhan dan Syawal. Biarkan publik menentukan pilihannya sendiri. Kalau memiliki referensi memadai, pasti mereka akan mudah mendasarkan pilihan keyakinan.

Toh, perbedaan adalah rahmat yang memang dikaruniakan Gusti Allah untuk manusia, yang ditunjuk sebagai khalifah di alam raya (dan dunia maya).

Prihatin

Tembung prihatin sajaké bakal rusak, kothong tanpa makna, gara-gara Presidhèn SBY kerep nganggep ènthèng. Ana wong telu jamaah Ahmadiyah Cikeusik, Pandeglang, Banten, tinggal donya jalaran dipilara FPI, dhèwèké mung ngucap prihatin. Tanpa tumindak, kajaba mrintah Kapolri lan Mentri Agama nekani papan pejagalan ing Pandéglang.

Nyawa telu ora payu, sajak durung kodal kanggo nuwuhaké perih ing atiné Pak SBY. Blaka waé, Pak, aku ora seneng nyawang caramu kaya mangkono. Aja dumèh gajimu wis nem taun ora mundhak banjur nyambut gawéné léda-lédé. Kanthi adeg-adeg presidhèn, sampéyan (ora tegel nganggo tembung kowé) duwé kuwasa negesi lan ngganti Kapolri yèn ora bisa ngrampungi perkara.

Apa gunané bengok-bengok kampanye sing ngentèkaké dhuwit trilyunan supaya tetep bisa kuwasa, yèn sawisé jumeneng nata ora bisa nata nagara. Arep njerum salawasé ana istana ora dadi perkara, waton bisa nentremaké bangsa. Nanging bakal dadi béda perkara yèn ora tegesé anggonmu nata nagara pancèn disengaja, supaya rakyat padha nesu, banjur ngamuk, ngosak-asik katentreman lan ngrusak pranatan, ngraman, lan sapanunggalané supaya énggal jumedhul sing arané Ratu Adil.

Dakkira, pikiran sampéyan ora tekan semono. Sampéyan mesthi ngerti menawa ora becik dandan-dandan negara lan bangsa kanthi cara kang ora bisa tinampa nalar lan rasa-pangrasané bangsa kita. Sampéyan mesthi ya ora seneng yèn rakyat nganti padha nesu, banjur njaluk ganti presidhèn, kamangka kursi sing sampéyan lungguhi wis kadhung ditresnani.

Blaka waé Pak SBY, apa bener sing ndèkèngi FPI kuwi pancèn para jéndral sekti mandraguna saéngga sampéyan ora wani tumindak apa-apa? Saumpama para dèkèng utawa backing iku para jendral, aku yakin kabèh klebu jéndral-jéndral bosok atiné jalaran meneng waé nalika bala-balané ngrusak tatanan, ngganggu wong manembah marang Gusti Allah, malah nganti matèni manungsa sing ora duwé salah lan ora duwé perkara sing gegayutan marang FPI.

Mbok Pak SBY éling nalika semana bisa nutup mainan utawa judi, kamangka bangsané mainan iku uga dadi sandhang-pangané para cukong lan jndral-jéndral keblinger sing nampa setoran. Kena ngapa sampéyan wani lan bisa, banjur saiki meneng waé kaya enthung?

Sanajan duwé gelar saka Batak, sampéyan isih wong Jawa, sing mesthiné ngerti yèn tembung prihatin kuwi ora sabaèné tembung. Ing kana ngemu karep becik, yaiku laku kang tulus, temen. Sampéyan mesthi éling, sepira prihatiné wong tuwa nalika nggula wenthah awakmu, banjur nyekolahaké sampéyan nganti dhuwur supaya bisa mulya mbésuké.

Prihatin yèn mung diucapaké, apa manèh kekerepen lan ora gawé owah-owahan apa-apa, kanggoku tetetp lamis, sanajan diunèkaké kanhti nangis-nangis. Mosok ora isin dadi jéndral bagus, gedhé-dhuwur nanging mung bisa ngucap prihatin nalika sedulur sabangsané nandang cilaka, kaniaya, dipilara lan diperjaya marang sapdha-padha?

Mungguh aku dadi sampéyan, Kapolri mesthi dakjèwèr nalika wani ngucap yèn FPI ora kesangkut perkara ngroyok, milara lan matèni telung wong Ahmadiyah Pandéglang, kamangka pulisi durung nangkep lan mriksa kanthi saksama lan adil marang sing dadi underané perkara.

Pak SBY, aku sangsaya ora percaya marang sampéyan!

Sang Pencerah #2

Kedua kalinya nonton Sang Pencerah, semakin saya terpukau dengan gambar-gambarnya. Angle yang beragam, padu dengan pilihan artistik yang menunjukkan keseriusan riset. Tapi soal bahasa, terasa sangat mengganggu, terutama bagi orang-orang Mataraman seperti saya. Menyimak dialog-dialog Achmad Dachlan, misalnya, ingatan saya tertuju kepada Saifullah Yusuf, keponakan Gus Dur yang kini jadi wakil gubernur.

Dalam hal dialek, misalnya, Achmad Dachlan sangat jauh dari Yogya. Bahwa ia pernah hidup di Surabaya untuk sementara waktu, rasanya sulit periode itu mampu mengubah dialek asli, yang digunakannya sehari-hari, sejak kecil hingga dewasanya.

Beberapa yang mengganggu saya antara lain penyebutan ‘Anda’ oleh seorang kiai (asal Magelang) yang ditujukan kepada Dachlan, saat berada di ruang kelas yang baru dibangun. Pertama, kiai itu lebih tua, sehingga akan lebih pas kalau menggunakan kata sampeyan.

Kedua, jika menyimak kiai tua itu jauh-jauh datang hanya untuk mempertanyakan ketidaklaziman metode pengajaran Achmad Dachlan, bisa dipastikan keduanya memiliki kedekatan hubungan. Dalam hal kedekatan, maka kata ganti ‘Anda’ itu membalik relasi: menjadi berjarak.

Seperti masih dijumpai kini, antara kiai sealiran/seorganisasi saja selalu menunjukkan kesantunan, betapapun sedang berbeda pendapat, apalagi terhadap tokoh dari institusi, organisasi atau aliran lain. Baik kiai tua maupun Achmad Dachlan, dalam adegan itu, ditunjukkan keduanya sama-sama tidak memiliki adab, tata krama yang pantas diteladani. Keduanya sama-sama emosional, gampang marah.

Yang lain, cara bertutur dan intonasi anak-anak di film itu terasa betul ‘Jakarta’-nya, seperti ditunjukkan dalam kelas sekolah bangsawan, ketika Achmad Dachlan memperkenalkan pelajaran agama Islam. Juga, cara bertutur Walidah remaja, sebelum dinikahi Darwis.

Di kelas sekolah bangsawan pun, terasa ada kejanggalan ketika para siswa tiba-tiba bisa fasih dan kompak mengucapkan alhamdulillah tanpa dituntun. Padahal, hanya berselang beberapa ‘menit’ sebelumnya, anak-anak itu bingung membalas sapaan salam sang kiai muda. Ya, dari tak tahu merespon kalimat Assalamu’alaikum… tiba-tiba bisa meneriakkan alhamdulillah, sementara yang diajarkan (maaf) ‘hanya’ aspek kesehatan dari sebuah kentut.

Ada lagi yang mengganggu saya: soal penempelan kata ‘Pak’ pada ‘kiai’. Setahu saya, seorang santri cukup menyebut gurunya dengan kiai saja, tanpa embel-embel Pak, Mas, dan seterusnya. Belum lagi soal cium tangan, yang menurut hemat saya kurang lazim di kalangan komunitas Islam pembaru.

Cium tangan hanya pas, menurut saya, dilakukan santri/pengikut ulama tradisional seperti di kalangan pondok-pondok di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Tradisi di Muhammadiyah, sebagai organisasi pembaruan Islam, mungkin lebih mirip dengan tradisi di Pondok Ngruki, Pondok Modern Gontor, yang menolak pengkhultusan guru agama. Dan cium tangan merupakan salah satu parameter (proses) pengkhultusan.

Dialog yang kian menunjukkan sutradara masih sangat berjarak dengan dunia Jawa adalah monolog kakak (ipar?) perempuan Achmad Dachlan gemremeng saat menyaksikan puing-puing Langgar Kidur yang diruntuhkan kaum tradisionalis. Perempuan itu menggunakan diksi nglakokké untuk kata yang berpadanan dengan melakukan. Padahal, kata yang lebih tepat adalah tumindaké (perbuatan) atau pokalé (ulah).  Kata nglakokké lebih tepat untuk menjalankan kereta, sepeda, organisasi, dan lain-lain…

Hmm… Apa lagi, ya? Sepertinya masih ada beberapa, sih… Penyebutan mesjid gedhémesjid agung, seperti yang terjadi hingga kini untuk menunjuk masjid-masjid utama yang terkait dengan kraton, seperti Masjid Agung Surakarta atau Masjid Agung Kauman, Yogyakarta. sepertinya lebih enak didengar bila diganti dengan

Oh, ya. Adegan sorak-sorai ‘pendemo’ yang meneriakkan Allahu Akbar… Allahu Akbar saat berbondong-bondong akan merubuhkan langgar Achmad Dachlan, kok terasa FPI banget, ya? Maksud saya, terasa ‘sangat kini’, kontemporer banget, gitu lho…. :p

Dan, kalau menyimak awal-awal adegan, sepertinya ada yang terlewat. Terutama dari mana Darwis memperoleh ‘pencerahan’ sehingga dia menolak hal-hal yang berbau bid’ah dan takhayul seperti ditunjukkan pada adegan Darwis mengambil sesaji di bawah pohon beringin.

Yang saya pahami, perubahan besar pada diri Darwis atau Achmad Dachlan justru pada periode haji pertamanya dan keberangkatan hajinya yang kedua, yang diniatkan untuk lebih banyak menimba ilmu pembaruan Islam sebagaimana diilhami oleh pemikiran-pemikiran Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan sebagainya itu.

Catatan pertama Sang Pencerah ada di sini