Karnaval Minim Lampu

Hanya dalam hitungan menit usai barisan terakhir meninggalkan lokasi pemberangkatan, Solo Batik Carnival 2011 sudah menuai protes. Banyak keluhan terpampang pada linimasa Twitter. Ada yang mengeluhkan tata cahaya yang kurang memadai, soal kemacetan di mana-mana akibat penutupan jalur, dan masih banyak lagi.

Persiapan menjelang karnaval

Mengenai minimnya tata cahaya, saya sudah memprediksi lewat catatan saya sebelum ini. Daya listrik besar untuk menyalakan lampu membutuhkan pembiayaan besar. Satu lampu berdaya 1.000 watt hanya cukup untuk menerangi beberapa belas meter bidang, sementara karnaval menempuh rute sejauh tiga kilometer. Berapa banyak lampu diperlukan di kedua sisi jalan, selain kebutuhan filter dan penyangganya?

Semua memang soal angka. Niat bisa melahirkan kreativitas mencari solusi sumber dana, demi memecahkan kebutuhan akan angka. Beberapa panggung yang diinisiasi swasta memang membuat nyaman pengunjung yang membeli tempat duduk yang dijual penggagasnya. Kenyamanan menuntut konsekwensi yang logis. Memang, itu pertanda baik. Swasta mau menyukseskan acara, sebagian dari masyarakat bersedia membayarnya.


Akankah karnaval batik yang menjadi ikon wisata nasional itu juga memberi ruang apresiasi bagi publik yang lebih luas, masyarakat kebanyakan itu? Sepertinya masih ada jarak. Kesenjangan akses tepatnya.

Tapi, apakah lantaran nonton karnaval secara gratisan, publik harus nrima, mengalah dengan cara rela berdesakan dan menyaksikan penampilan para peragawan/peragawati dengan pencahayaan lampu merkuri semata, yang tiap beberapa menit butuh ‘istirahat’ alias mati dulu beberapa saat supaya tak lekas aus?


Tentu saja tak bisa dijawab dengan argumentasi diplomatis yang dibuat logis, bahwa karena publik cuma bayar pajak penerangan jalan umum (PPJU) sekali setiap bulan, lantas ‘haknya’ dibuat sepadan dengan bea yang dikeluarkan. Jer basuki mawa beya tak berlaku di sini.

Solo Batik Carnival digagas dan didesain untuk memberi kemanfaatan kepada semua pihak. Bukan asal bisa menghibur.

Karnaval hanyalah cara mewujudkan upaya Pemerintah Kota Surakarta mengangkat pamor industri batik. Jika batik dan industrinya maju, maka identitas kultural masyarakatnya kian menonjol, dikenal hingga belahan dunia lain. Aspek ekonominya bukan terentang di seputar lokasi produksi batik. Tengkulak, pengecer dan tukang becak pun bakal menikmati gurihnya dampak kuatnya mata rantai industri batik.

Peserta karnaval diseleksi panitia, dibagi ke dalam beberapa kelompok, selebihnya mmproduksi dengan biaya sendiri. Murni partisipasi...

Jadi, jika karnaval tahunan itu hendak digelar pada malam hari tahun-tahun mendatang, maka tata cahaya menjadi faktor penting. Event organizer yang berpengalaman perlu digandeng agar Dinas Pariwisata tidak kedodoran mengurus pwehwlatan sebesar itu sendirian.saa akin ada banyak event organizer yang mampu membawa sponsor untuk menutup pembiayaan.

***

Sejujurnya, saya mendapat pemberitahuan seorang teman melalui telepon. Dia bercerita, di lobi hotel tempatna menginap, banang orang memperbincangkan karnaval batik itu. Bagus, tapi sayang, kata sang teman. Tata cahaya adalah satu pokok soal yang paling sering dikeluhkan banyak orang. Mereka datang dari Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, bahkan luar negeri, demi menyaksikan sensasi karnaval. Mereka keluar banyak dana untuk melunaskan rasa ingin tahunya.

Soal lain, semrawutnya pelaksanaan, sehingga ribuan penonton merangsek ke tengah jalan sepanjang rute karnaval. Rumput dan tanaman penghijau kota rusak seketika terinjak-injak massa tanpa mau tahu,bahwa untuk menanam dan merawatnya pun butuh biaya. Publik memang ingin melepaskan rasa penasaran. Antisipasinya saja yang masih kurang.

Abdi dalem QWERTY

Belum kemacetan di berbagai ruas jalan yang diakibatkan berjubelnya kendaraan, baik yang mau menyaksikan karnaval maupun sekadar melintas, akibat penutupan ruas jalan dan pengalihan rute jalan. Tak sedikit yang mengeluh lewat Twitter, mempertanyakan keberadaan polisi lalu lintas di sejumlah kawasan, termasuk macetnya Manahan yang dekat dengan kantor pusatnya polisi di Solo.

Di mana petugas DLLAJ atau polisi lalu lintas? Semoga itu menjadi catatan untuk perbaikan kelak. Banyak orang berharap karnaval pada malam hari digelar kembali, karena memang lebih memberi kelebihan nilai sensasi, selain tidak membuat peserta karnaval kegerahan seperti jika digelar sore hari.

***

Satu hal penting lainnya, adalah melakukan edukasi kepada publik, para calon penonton. Nyaris di antara sepuluh orang, satu penonton di antaranya membawa kamera, entah kamera yang menyatu dengan telepon seluler maupun kamera saku. Mereka ingin merekam segala ragam dan pernik-pernik karnaval sebaik mungkin. Maka, merangseklah mereka ke tengan catwalk panjang… Jalanan pun riuh, crowded.

Semua foto ilustrasi di postingan ini, dibikin pakai BlackBerry Gemini yang tanpa lampu flash itu...

Upaya memang sudah dilakukan sebagai antisipasi agar tak ada pihak yang merugi. Termasuk, dibuatkanlah sejumlah kartu identitas untuk wartawan foto dan televisi. Itu menjadi solusi setelah para pewarta mengeluhkan sulitnya memperoleh gambar memadai untuk keperluan penyebaran informasi.

Banyak wartawan merasa terganggu dengan ulah kebanyakan penggemar fotografi, yang demi mengejar hasil foto bagus, mereka tak jarang menodai keindahan itu sendiri. Dengan lensa sudut lebar demi mengejar detil, mereka menempel peserta karnaval. Jumlahnya tak satu-dua orang atau belasan. Mereka bisa puluhan!

Pada karnaval kemarin, malah para fotografer amatir itu membuat identitas sendiri, setengah resmi alias berlisensi. Alhasil, para pewarta foto kembali ngamuk-ngamuk, baik spontan secara lisan maupun di jejaring sosial lewat tulisan bernada kemarahan, hingga wacana boikot. Mereka merasa tak berdaya, identitas khususnya pun tak berguna.

Yang berkaos merah (kiri) itu wartawan. Selebihnya, pemburu gambar yang kerap bikin kotor obyek bidikan kamera pewarta foto dan televisi

Jika pemburu gambar indah saja tak tahu memaknai dan mengupayakan terwujudnya rekaman indah, bagaimana penonton kebanyakan tak terdorong untuk ikut-ikutan? Singkat cerita, jalanan menyempit, peserta karnaval pun tak leluasa berjalan. Keindahan, pun tinggal kenangan.

Siapa yang rugi ketika situasi berubah seperti demikian?

Semua rugi. Jerih payah peserta, yang menyiapkan diri secara swadana hingga memakan dana jutaan rupiah seperti sia-sia. Promosi wisata yang dirintis pun kembali sia-sia karena terlalu banyak catatan kekurangan tertanam di benak khalayak. Publik harus introspeksi atas perilakunya, begitu juga pemerintah sebagai penyelenggara mesti lebih tegas membuat aturan main.

Bagaimana peserta karnaval nyaman mewujudkan amal kebaikannya, penonton bisa menikmati jalannya acara, dan tanaman di sepanjang pembatas jalan tak rusak karena terinjak-injak ribuan pasang kaki yang tak peduli. Itu merupakan pekerjaan rumah yan tak sederhana, terutama bagi Dinas Pariwisata.

Bahwa secara animo khalayak bisa diprediksi, mestinya pemerintah gencar melakukan sosialisasi dan edukasi, sehingga semua target pemangku kepentingan bisa terpenuhi. Sukses sudah pasti ada pada sejumlah sisi. Hanya perlu penyempurnaan di kemudian hari. Empat kali penyelenggaraan sudah cukup jadi bekal evaluasi, lantas jadi bahan untuk memperbaiki.

Semoga, Solo Batik Carnival 2012 lebih bisa dinikmati. Selamat kepada Pemerintah Kota Surakarta yang sudah berhasil mencetak ikon wisata baru Indonesia.

Lihat pula koleksi foto Solo Batik Carnival 2011

Mengatur Adegan Foto

Ketika foto yang saya ambil secara candid itu diunggah ke Facebook, sang fotografer yang saya tampilkan di foto itu mencak-mencak. Apalagi, dia sudah mewanti-wanti agar saya tidak meng-upload foto yang satu itu, saat saya tunjukkan kepadanya. Andai petang itu terjadi deal, entah disogok apa, mungkin saya rela menghapus file-nya. Hahaha…..

Aksi fotografer ini menarik diabadikan. Orangnya serius, maka tak aneh karyanya masuk nominasi dalam lomba foto Pesta Blogger 2009

Aksi fotografer ini menarik diabadikan. Orangnya serius, maka tak aneh karyanya masuk nominasi dalam lomba foto Pesta Blogger 2009

Rupanya, lelaki muda yang blog dan salah satu karya fotonya masuk nominasi pada ajang lomba foto Pesta Blogger 2009, itu risih, setengah malu. Dia protes, sambil membawa-bawa istilah semiotika gambar segala, sebab orang yang melihat foto itu bisa saja menafsir sang fotografer sedang nginceng daleman seorang perempuan yang melintas di depannya.

Memang, gaya memotretnya tak lazim, meski harus dipahami itu sebagai upaya kreatif sang fotografer untuk memperoleh gambar yang bagus, meski yang sedang dia bidik adalah bangunan tua, yang tak bakal beringsut kemana-mana, yakni Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama, Semarang.

Namun, justru cara memotretnya yang tak lazim itulah yang menggelitik saya untuk mengabadikannya. Kebetulan, saya sudah memperhatikan gayanya memotret belasan menit lamanya. Pinginnya, bidikan terfokus pada dia, dengan foreground roda kendaraan bermotor yang melintas di depannya. Dalam benak saya, citra blur atau panning pada latar depan akan dramatik.

Dasar memang tolol dan amatiran, beberapa frame hasil rekaman masuk kategori layak hapus. Tiba-tiba, saya melihat seorang perempuan mengayuh sepeda secara melawan arus. Sang fotografer yang memicingkan mata di balik kamera terlalu memfokuskan perhatiannya pada bidikannya, hingga tak sadar ada yang hendak melintas di depannya. Maka, dari seberang jalan kutekan tombol pelepas rana kamera saya yang selalu pada status continuous mode.

Seperti saya sebutkan pada awal cerita, sang fotografer yang gagal nego dengan saya, mencoba mengajukan jurus yang diyakininya bakal jitu. Katanya, orang akan menuduh foto itu sebagai hasil setting-an, atau adegan yang diatur, dipersiapkan demi hasil yang bagus, sesuai keinginan sang pemotret. Dia tahu, nyetting termasuk perbuatan hina, karena itu akan menjadi aib bagi yang melakukannya.

Kalau ini foto setting-an. Mas Goen tiba-tiba bilang menarik kalau difoto buat stok ganti profil Facebook

Kalau ini foto setting-an. Mas Goen tiba-tiba bilang menarik kalau difoto buat stok ganti profil Facebook

Karena memang ndableg, saya tak peduli dengan bujukannya. Orang mau bilang apa kepada saya, tak bakal ada pengaruhnya buat saya. Bisanya juga cuma pertunjukan yang menggunakan penerangan lampu sangat terang. Lagi pula, hasilnya juga untuk menghibur harddisk komputer, supaya keberadaannya di rumah saya menjadi lebih berarti. Itu saja.

*****

Bahwa nyetting itu aib, apalagi bagi foto jurnalis, toh masih ada saja yang melakukannya. Demi gambar bagus, dramatik, menyentuh perasaan, dan entah apalagi alasannya, ada saja yang rela melakukannya. Posisi sebagai fotografer pun dilengkapi dengan kemampuan menjadi sutradara.

Di beberapa tempat, malah saya sering mendengar seorang fotografer meminta demonstran bergaya, berteriak sembari mengepalkan tangan agar didapat hasil foto yang ‘berbicara’, seolah-olah spotnews sungguhan. Pada bentuk lebih halus, meski sejatinya sadis, fotografer sengaja ngompori polisi agar mau merazia atau menghardik orang berpacaran di taman, sementara dari kejauhan ia mengarahkan lensa tele-nya sambil menebak-nebak seperti apa reaksi targetnya.

Apakah peran demikian itu hanya menjadi monopoli fotografer? Tidak! Kameraperson televisi pun banyak yang melakukan hal serupa. Penyutradaraan malah sering lebih terencana, sehingga hasilnya bisa disebut sempurna. Memang agak panjang cerita, semoga Anda tak bosan membacanya.

Suatu ketika, jurnalis televisi mendatangi sebuah pertemuan sekelompok orang di sebuah gedung. Ia sudah selesai mengambil stockshots, baik berupa jalannya acara beserta pernik-perniknya hingga wawancara tokohnya. Merasa kurang hot, ia pun menelepon sekelompok orang yang memusuhi kelompok pertama, untuk mereaksi atas kegiatan yang baru saja diliputnya.

Tak lama berselang, sekelompok orang datang, berteriak-teriak mengecam pertemuan dan menuntut pembubaran dengan segera. Sang kameraperson pun memperoleh gambar dramatik, ekspresi orang kesetanan karena bernafsu menyerang musuhnya, juga suasana kekacauan di ruang pertemuan, serta bumbu reaksi masyarakat awam yang menghentikan perjalanan atau berbondong-bondong menyaksikan ‘keributan’.

Tukang setting kebanyakan peka dalam selera, meski sejatinya mati rasa.