Freelance

Saya dan mungkin banyak orang menerjemahkannya dengan lepas, tidak terikat. Seperti pada sebutan freelance photographer/writer/journalist, maka fotografer/penulis/pewarta tersebut tidak terikat dalam sebuah hubungan industrial. Tidak gampang untuk mencapainya, karena seseorang akan dituntut bagusnya rekam jejak. Portofolio menjadi penting.

Saya memiliki banyak teman yang bekerja secara freelance. Kesehariannya sering membingungkan orang lain, terutama jika seseorang itu hidup di lingkungan tradisional atau feodal, yang melihat jenis pekerjaan sebagai status. Waktu keluar rumahnya tak menentu, bisa berlama-lama di rumah atau sebaliknya pergi lama sekali, seperti Bang Toyib dalam sebuah tembang.

Sebut saja Si Ganteng, teman saya yang berprofesi sebagai fotografer jurnalistik. Setahu saya, ia hanya memperoleh satu-dua assignment dari media asing dalam sebulan, kadang tidak satu pun. Namun dari pekerjaan itu, ia bisa memperoleh pendapatan bersih hingga ribuan dollar Amerika. Kebutuhan harian selama waktu pengerjaan sebuah proyek cukup mahal: hotel bintang empat, penerbangan dengan Garuda, fasilitas mobil.

Di luar waktunya bekerja, ia mempekerjakan dirinya sendiri. Ia menyisihkan pendapatannya untuk membuat proyek-proyek pribadi, dalam arti melakukan kerja jurnalistik untuk disimpan di harddisk. Berbagai tema dipilihnya dengan seleksi ketat, namun memperhitungkan news value dan rentang waktu kebaruan alias timeless.

Sebagai contoh, sebuah informasi mengenai adanya dugaan flu burung di suatu daerah, akan diverifikasi sedemikian rupa, seperti menelisik gejalanya, dampak hingga penelusuran apakah daerah tersebut termasuk endemi, ada/tidaknya korban dan seterusnya.

Tapi perlu dicermati, ia menjadi freelancer tidak secara tiba-tiba. Ia membangun portofolio dengan banyak cara. Ia pernah menjadi fotografer kantor berita foto inteernasional. Selama di sana, karya-karyanya terpublikasi mendunia sehingga dunia internasional mengenal namanya, tentu lewat karyanya. Ia pun sesekali menggelar pameran foto atas karya-karyanya sendiri, yang dikerjakannya sebagai sebuah proyek pribadi.

Di dunia fotografi, karya-karyanya punya ciri. Dan itu yang membedakan karya Si Ganteng dengan fotografer lainnya. Kesadaran akan kualitas karya dan keyakinan fotonya memiliki diferensiasi itulah yang membuat ia percaya diri memilih jalan hidup sebagai freelancer, apalagi memiliki kemampuan menawarkan diri ke berbagai media (internasional).

Tak berbeda jauh dengan fotografer lepas, kini banyak teman saya memilih menjadi jurnalis lepas (freelance journalist). Umumnya, mereka pernah bekerja di media-media mapan dan membangun reputasi (serta jaringan) dari sana. Asal tahu saja, jalur pertemanan (tepatnya networking) yang sejatinya banyak mempengaruhi kesuksesan seorang freelancer setelah portofolio dimiliki seseorang. Pada portofolio, tentu saja melekat reputasi yang lantas memunculkan trust.

Pada bidang terkait jurnalisme, saya pernah pula mengalami nikmatnya jadi pemandu freelance. Pasca-Bom Bali I, puluhan jurnalis asing datang berbondong-bondong ke Ngruki, untuk bisa membuat reportase utuh karena beberapa pelaku terkait dengan pondok pesantren yang didirikan Abu Bakar Ba’asyir itu. Hampir tiga bulan lamanya, nyaris tiada henti saya menemani para jurnalis asing dengan honor bersih ‘hanya’ US$50 per hari.

Tugas saya hanya memastikan jadwal wawancara atau si jurnalis bisa melakukan reportase di dalam pondok. Kebetulan, tidak semua orang bisa mengakses dan dipercaya manajemen pondok, dan saya beruntung berhasil membangun trust itu. Andai saya memiliki kecakapan bahasa asing, pendapatan minimal saya bisa empat kali lipatnya karena si jurnalis tak perlu membawa penerjemah (yang rata-rata juga seorang freelancer).

Keuntungan lainnya, saya juga bisa mendapatkan informasi untuk dibuat berita, juga foto-foto yang bisa saya jual pula secara umumnya freelancer.

Terkait dengan dunia freelance ini, saya pernah ‘sakit hati’ ketika membantu media terkemuka asal Amerika. Selama setengah bulan lebih, saya memperoleh jatah menginap di  Hotel Hyatt Yogyakarta yang tarifnya lebih mahal dari honor harian saya. Makan pun demikian. Saya bisa order apa saja dengan bill masuk rekening kamar, termasuk mengonsumsi isi minibar. Padahal, menu paling murah Rp 200 ribu sekali makan. Coba kalau saya dikasih mentahan, pasti dapat banyak sisa uang makan. Hehehe…

Oh iya, di media asing, semua anggota tim reportase mendapat jatah kamar sendiri-sendiri. Tidak seperti kebanyakan media lokal, yang bahkan perusahaannya tidak memberi bujet memadai untuk sebuah reportase. Bisa dibayangkan, liputan seperti apa yang dihasilkan ketika dukungan dana tak memadai? Bandingkan saja dengan tim dari Amerika itu, yang terdiri tujuh orang, masing-masing berhak satu kamar dengan standar yang sama, selain produser. Bahkan, satu mobil hanya untuk maksimal tiga orang, dan sopir pun disewakan kamar hotel melati, tak jauh dari kami menginap.

Kembali ke soal pilihan profesi sebagai freelancer, saya kira ke depan kian menantang saja. Apalagi di dunia digital. Seorang developer website, programmer dan desainer pun bisa bekerja secara mandiri, tanpa terikat waktu dan status kepegawaian. Namun, harap dibedakan dengan freelancer yang mengandalkan hidup dari twit berbayar. Untuk jenis pekerjaan yang satu ini, saya malas berkomentar.

Saya pun sampai sekarang masih menyukai jalan hidup sebagai seorang pekerja freelance. Memang hasilnya tak menentu. Kadang ada sedikit, kadang lumayan banyak. Dan saya menerimanya dengan sukacita. Nikmat kok, sebagai freelancer. Soal bidangnya apa, anggap saja ‘Palugada’, apa yang lu mau, gua ada. Hahahaha….

Selama saya masih mau menulis, dan kebetulan dikit-dikit bisa motret (malah pernah beberapa kali pameran tunggal, termasuk di Amsterdam),  saya  yakin bisa hidup bahagia dan nyaman dengan istri saya. Apalagi, saya punya cadangan pendapatan dari berjualan teh oplosan bernama #blontea atau #tehpokil. Pokoknya, jangan pernah takut jadi freelancer.

 

Motret itu Tidak Mudah

Motret memang mudah. Kamera handphone saja kian canggih, menyaingi kamera saku digital. Kamera  SLR apalagi. Jenis/seri untuk pelancong saja sudah sedemikian rupa, apalagi yang masuk kategori kamera untuk profesional. Sayang, peralatan yang kian canggih dengan harga terjangkau tak diimbangi pemahaman akan etika memotret.

Fotografer itu asik kalau sesantai bapak-bapak ini...

Etika atau tata krama dalam memotret memang seharusnya dipegang teguh dan dilaksakan siapapun, baik fotografer profesional maupun amatir. Apalagi jika menghadapi peristiwa besar seperti Solo Batik Carnival (SBC) 2011 yang berlangsung 25 Juni lalu. Semua pemotret menginginkan hasil terbaiknya, baik yang profesional seperti jurnalis, yang amatir, maupun super amatir seperti saya, yang memotret hanya menggunakan kamera ponsel.

Repotnya, demi mendapatkan hasil foto terbaik, pemotret mengabaikan hak orang lain. Seperti saat SBC kemarin, peserta karnaval bahkan harus menghindari fotografer yang kukuh memotret, mematung di depan peserta sehingga mereka memilih mengalah. Banyak yang berebut mendekat, lantas mengabaikan hak penonton, juga fotografer lain yang datang karena alasan tugas, yakni para pewarta foto.

Berkaca pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, di mana pewarta foto merasa terganggu dengan kehadiran fotografer ‘amatir’ yang kerap suka nyelonong masuk ke tengah area karnaval, Dinas Pariwisata berupaya mengatur sedemikian rupa. Bahkan membuat panggung/area khusus untuk pewarta foto. Tapi, lagi-lagi, kejadian fotografer (amatir) yang suka tiba-tiba mengerubuti peserta karnaval membuat marah. Apalagi, ada beberapa pihak yang merasa menjadi bagian dari ‘tim dokumentasi resmi’ ikut-ikutan merangsek. Aturanpun tinggal cerita. Bahkan, Kepala Dinas Pariwisata merasa kewalahan.

Foto ini diambil dengan menggunakan Blackberry dari pinggir sambil jongkok. Tidak mengganggu peserta karnaval, meski hasilnya ya cuma apa adanya.

Saya memaklumi teman-teman pewarta foto yang merasa terganggu dengan ulah pemotret, yang sebagian (sayangnya besar) adalah fotografer hobi atau amatir. Paling tinggi, cita-cita mereka hanya agar menang jika diikutkan lomba, atau pamer kepada sesama, narsis-narsisan di situs-situs social network seperti Facebook, Flickr, dan sejenisnya.

Repotnya, walau (maaf) hanya untuk pamer di Facebook atau koleksi agar kelak bisa diikutkan lomba, tapi mereka juga merasa turut memberi kontribusi signifikan terhadap publikasi peristiwa. Dan, di situlah pangkal perkaranya. Para pewarta foto juga merasa mereka yang telah turut mengawal kesuksesan publikasi sebuah peristiwa, baik sejak pra maupun pascanya.

Andai fotografer setertib saat seperti ini, pasti motretnya bakal asyik. Sayangnya, begitu acara dimulai, pada merangsek seenaknya sendiri.

Memang seolah sulit untuk menuding mana yang paling bersalah. Tapi, secara pribadi, saya cenderung menyalahkan teman-teman amatir. Mereka saya anggap cenderung mengagungkan hasil akhir, produk sebuah tindakan pemotretan namun mengabaikan proses. Jika saya berposisi sebagai jurnalis foto, maka saya akan menghindari target bidikan jika lensa saya terhalang oleh orang lain, yang biasanya adalah fotografer amatir, atau satu-dua teman pewarta yang nyelonong pula.

Jika sama-sama menghormati sebuah peristiwa, yang dibuat dengan perencanaan panjang dan rumit serta berbiaya besar, mestinya sama-sama bisa nglengganani, tahu diri. Memilih memotret dari sisi kanan atau kiri jalan raya yang menjadi panggung utama, demi mendapatkan hasil yang ‘bersih’, dalam arti ya hanya peserta karnaval semata yang ada di sana, bukan tubuh-tubuh petentang-petenteng dengan kamera dan perlengkapannya.

Foto ini diambil dengan menggunakan Blackberry dari pinggir sambil jongkok. Tidak mengganggu peserta karnaval, meski hasilnya ya cuma apa adanya.

Jika ada fotografer yang merasa tak akan memperoleh rekaman bagus dalam posisi demikian, maaf saja, saya akan menganggap mereka FOTOGRAFER BODOH! Fotografer sejati tak pernah risau dengan posisinya terhadap obyek sasaran. Kalau pingin hasil maksimal dan bagus seperti yang diangankan, ya silakan saja melakukan reka ulang, atau membawa talent ke studio!

Hanya fotografer cengeng dan pemalas yang untuk memperoleh foto terbaik mesti menuntut fasilitas ini-itu, apalagi jika harus melakukan dengan berbagai cara agar seolah-olah punya hak eksklusif dalam melakukan pemotretan, entah itu ‘menyusup’ atau berkedok official photographer dan sebagainya. Pewarta foto (yang profesional) sekalipun juga saya sebut MANJA jika menuntut beraneka fasilitas demi kemudahan.

Bagi saya, kepuasan memotret adalah ketika merasa berhasil menaklukkan tantangan. Syukur-syukur, dengan posisi dan situasi memotret yang ‘tidak menguntungkan’ namun  bisa sukses mendapatkan hasil memuaskan, minimal bagi diri sendiri.

Foto ini diambil dengan menggunakan Blackberry dari pinggir sambil jongkok. Tidak mengganggu peserta karnaval, meski hasilnya ya cuma apa adanya.

***

Pada era semaju kini, ketika teknologi publikasi tak sebatas media tradisional (seperti koran, majalah dan televisi), kehadiran new media seperti internet memang tak bisa diabaikan perannya. Jurnalis profesional bersaing dengan publik, siapapun mereka, yang menggunakan Internet sebagai basis utama penyebaran informasi.

Dari kamera handphone, misalnya, orang bisa mengunggah foto atau video jauh lebih cepat dibanding fotografer media yang mesti memilih, menimbang, mengedit lantas mempublikasikannya. Flickr, Twitter, Facebook, maupun blog telah mengancam keberadaan media tradisional, meski ‘hanya’ baru pada satu sisi, yakni kecepatan.

Apakah dengan kecepatan menyebarluaskan gambar (foto/video) di Internet lantas pewarta warga boleh merasa lebih hebat dan lebih punya peran dibanding pewarta profesional? Rasanya tidak juga. Saya yang hidup di dua jenis media itu, merasa biasa-biasa saja. Tak ada yang lebih hebat, dan sebaliknya. Keduanya bisa sama-sama bermanfaat justru ketika terjadi sinergi keduanya.

Repotnya, pemahaman penyelenggara terhadap ‘aspek publikasi’ kerap sering menjadi kunci silang sengkarut munculnya perselisihan, antara yang profesional maupun yang amatir. Fotografer/videografer amatir merasa berperan menciptakan kesuksesan, pun sebaliknya.

Andai saya menjadi penyelenggara, di tengah rumitnya menghadapi perkembangan jaman, di mana setiap orang bisa memotret, maka yang akan saya siapkan adalah membuat aturan yang tegas. Pada peristiwa Solo Batik Carnival, misalnya, akan saya desain supaya Jalan Slamet Riyadi yang menjadi panggung utama karnaval, akan saya sterilkan dari pihak nonpeserta. Saya cukup akan menunjuk satu fotografer dan videografer sebagai dokumentator resmi, yang hasilnya bisa diakses media dengan sistem pool.

Lainnya, saya persilakan merekam peristiwa dengan caranya sendiri. Asumsinya, semua fotografer atau vediografer pasti seorang profesional dalam arti yang sesungguhnya. Kalaupun perlu menyiapkan tempat-tempat khusus keperluan publikasi, ya hanya pewarta foto dan kameraman televisi terdaftar yang akan dibolehkan. Bagi para amatir, ya silakan mencari tempat sendiri-sendiri, sebab hingga kini, publik masih mengandalkan saluran resmi untuk memperoleh informasi, yakni institusi media atau pers. Dan, asal tahu saja, adalah HAK bagi publik untuk memperoleh informasi (tulisan, ilustrasi, foto/video) yang apa adanya.

Produk kaum amatir, maaf saja, masih menjadi pelengkap, walau tak bisa dipungkiri juga tak bisa dianggap remeh atau lebih buruk secara hasil/output.

Tulisan ini juga sekaligus sebagai tanggapan terhadap gegeran menjelang pelaksanaan Solo International Performing Arts Festival (SIPA).  Di Facebook, misalnya, muncul Gerakan 1.000.000 Fotografer Boikot SIPA 2011. Pangkalnya, ketidaktegasan panitia penyelenggara membuat aturan main terkait potret-memotret. Sejumlah forografer amatir merasa sudah memberi kontribusi memadai saat dilibatkan dalam proses pendokumentasian pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, kini merasa dilupakan karena adanya pembatasan jumlah, cara lokasi pemotretan.

Sementara, pewarta foto profesional, merasa ‘dikalahkan’ lantaran berdasar pengalaman, kaum amatir seperti dimanjakan, lantaran masuk dalam kepanitiaan sehingga memiliki banyak keleluasaan.

Jika saya panitia penyelenggara, hanya jurnalislah yang saya utamakan dan disediakan tempat melakukan pemotretan dengan harapan terbantu secara publikasi. Tanpa ada dukungan media, maka event semacam SIPA juga akan hambar rasanya.

Foto ini diambil dengan menggunakan Blackberry dari pinggir sambil jongkok. Tidak mengganggu peserta karnaval, meski hasilnya ya cuma apa adanya.

Di mana para amatir ditempatkan? Ya di luar arena yang dinyatakan steril, seperti arena menonton yang disediakan dengan kursi, karena semua diasumsikan sebagai undangan. Dan, bagi penonton yang duduk di kursi undangan, hanya boleh memotret tanpa lampu kilat dari tempat duduknya dengan posisi tetap duduk. Jika ketahuan berdiri, sehingga mengganggu orang lain, maka panitia berhak mengeluarkan mereka dari barisan. Selama aturan main itu disosialisasikan terlebih dahulu dan diumumkan sebelum acara berlangsung, maka sah sudah ‘hukum’ penyelenggara.

Para amatir, ya silakan saja memilih tempat sesuka hatinya. Pewarta foto diberi fasilitas karena memang kontribusinya lebih jelas dan terukur, dan jumlahnya hanya sedikit, sangat jauh jika dibandingkan dengan kaum amatir. Kalau masih saja ada yang mengeluh kesulitan memotret, anggap saja mereka bukan fotografer yang menyukai tantangan dan memiliki motivasi menaklukkan kesulitan.

Jika masih ngeyel juga, ya sudah, kelompokkan saja fotografer abal-abal semacam itu sebagai kaum Bibit. Hanya orang tahu diri yang mau menenggang rasa dan rela berbagi, dan tidak mencari menangnya sendiri. Ini serius!

Karnaval Minim Lampu

Hanya dalam hitungan menit usai barisan terakhir meninggalkan lokasi pemberangkatan, Solo Batik Carnival 2011 sudah menuai protes. Banyak keluhan terpampang pada linimasa Twitter. Ada yang mengeluhkan tata cahaya yang kurang memadai, soal kemacetan di mana-mana akibat penutupan jalur, dan masih banyak lagi.

Persiapan menjelang karnaval

Mengenai minimnya tata cahaya, saya sudah memprediksi lewat catatan saya sebelum ini. Daya listrik besar untuk menyalakan lampu membutuhkan pembiayaan besar. Satu lampu berdaya 1.000 watt hanya cukup untuk menerangi beberapa belas meter bidang, sementara karnaval menempuh rute sejauh tiga kilometer. Berapa banyak lampu diperlukan di kedua sisi jalan, selain kebutuhan filter dan penyangganya?

Semua memang soal angka. Niat bisa melahirkan kreativitas mencari solusi sumber dana, demi memecahkan kebutuhan akan angka. Beberapa panggung yang diinisiasi swasta memang membuat nyaman pengunjung yang membeli tempat duduk yang dijual penggagasnya. Kenyamanan menuntut konsekwensi yang logis. Memang, itu pertanda baik. Swasta mau menyukseskan acara, sebagian dari masyarakat bersedia membayarnya.


Akankah karnaval batik yang menjadi ikon wisata nasional itu juga memberi ruang apresiasi bagi publik yang lebih luas, masyarakat kebanyakan itu? Sepertinya masih ada jarak. Kesenjangan akses tepatnya.

Tapi, apakah lantaran nonton karnaval secara gratisan, publik harus nrima, mengalah dengan cara rela berdesakan dan menyaksikan penampilan para peragawan/peragawati dengan pencahayaan lampu merkuri semata, yang tiap beberapa menit butuh ‘istirahat’ alias mati dulu beberapa saat supaya tak lekas aus?


Tentu saja tak bisa dijawab dengan argumentasi diplomatis yang dibuat logis, bahwa karena publik cuma bayar pajak penerangan jalan umum (PPJU) sekali setiap bulan, lantas ‘haknya’ dibuat sepadan dengan bea yang dikeluarkan. Jer basuki mawa beya tak berlaku di sini.

Solo Batik Carnival digagas dan didesain untuk memberi kemanfaatan kepada semua pihak. Bukan asal bisa menghibur.

Karnaval hanyalah cara mewujudkan upaya Pemerintah Kota Surakarta mengangkat pamor industri batik. Jika batik dan industrinya maju, maka identitas kultural masyarakatnya kian menonjol, dikenal hingga belahan dunia lain. Aspek ekonominya bukan terentang di seputar lokasi produksi batik. Tengkulak, pengecer dan tukang becak pun bakal menikmati gurihnya dampak kuatnya mata rantai industri batik.

Peserta karnaval diseleksi panitia, dibagi ke dalam beberapa kelompok, selebihnya mmproduksi dengan biaya sendiri. Murni partisipasi...

Jadi, jika karnaval tahunan itu hendak digelar pada malam hari tahun-tahun mendatang, maka tata cahaya menjadi faktor penting. Event organizer yang berpengalaman perlu digandeng agar Dinas Pariwisata tidak kedodoran mengurus pwehwlatan sebesar itu sendirian.saa akin ada banyak event organizer yang mampu membawa sponsor untuk menutup pembiayaan.

***

Sejujurnya, saya mendapat pemberitahuan seorang teman melalui telepon. Dia bercerita, di lobi hotel tempatna menginap, banang orang memperbincangkan karnaval batik itu. Bagus, tapi sayang, kata sang teman. Tata cahaya adalah satu pokok soal yang paling sering dikeluhkan banyak orang. Mereka datang dari Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, bahkan luar negeri, demi menyaksikan sensasi karnaval. Mereka keluar banyak dana untuk melunaskan rasa ingin tahunya.

Soal lain, semrawutnya pelaksanaan, sehingga ribuan penonton merangsek ke tengah jalan sepanjang rute karnaval. Rumput dan tanaman penghijau kota rusak seketika terinjak-injak massa tanpa mau tahu,bahwa untuk menanam dan merawatnya pun butuh biaya. Publik memang ingin melepaskan rasa penasaran. Antisipasinya saja yang masih kurang.

Abdi dalem QWERTY

Belum kemacetan di berbagai ruas jalan yang diakibatkan berjubelnya kendaraan, baik yang mau menyaksikan karnaval maupun sekadar melintas, akibat penutupan ruas jalan dan pengalihan rute jalan. Tak sedikit yang mengeluh lewat Twitter, mempertanyakan keberadaan polisi lalu lintas di sejumlah kawasan, termasuk macetnya Manahan yang dekat dengan kantor pusatnya polisi di Solo.

Di mana petugas DLLAJ atau polisi lalu lintas? Semoga itu menjadi catatan untuk perbaikan kelak. Banyak orang berharap karnaval pada malam hari digelar kembali, karena memang lebih memberi kelebihan nilai sensasi, selain tidak membuat peserta karnaval kegerahan seperti jika digelar sore hari.

***

Satu hal penting lainnya, adalah melakukan edukasi kepada publik, para calon penonton. Nyaris di antara sepuluh orang, satu penonton di antaranya membawa kamera, entah kamera yang menyatu dengan telepon seluler maupun kamera saku. Mereka ingin merekam segala ragam dan pernik-pernik karnaval sebaik mungkin. Maka, merangseklah mereka ke tengan catwalk panjang… Jalanan pun riuh, crowded.

Semua foto ilustrasi di postingan ini, dibikin pakai BlackBerry Gemini yang tanpa lampu flash itu...

Upaya memang sudah dilakukan sebagai antisipasi agar tak ada pihak yang merugi. Termasuk, dibuatkanlah sejumlah kartu identitas untuk wartawan foto dan televisi. Itu menjadi solusi setelah para pewarta mengeluhkan sulitnya memperoleh gambar memadai untuk keperluan penyebaran informasi.

Banyak wartawan merasa terganggu dengan ulah kebanyakan penggemar fotografi, yang demi mengejar hasil foto bagus, mereka tak jarang menodai keindahan itu sendiri. Dengan lensa sudut lebar demi mengejar detil, mereka menempel peserta karnaval. Jumlahnya tak satu-dua orang atau belasan. Mereka bisa puluhan!

Pada karnaval kemarin, malah para fotografer amatir itu membuat identitas sendiri, setengah resmi alias berlisensi. Alhasil, para pewarta foto kembali ngamuk-ngamuk, baik spontan secara lisan maupun di jejaring sosial lewat tulisan bernada kemarahan, hingga wacana boikot. Mereka merasa tak berdaya, identitas khususnya pun tak berguna.

Yang berkaos merah (kiri) itu wartawan. Selebihnya, pemburu gambar yang kerap bikin kotor obyek bidikan kamera pewarta foto dan televisi

Jika pemburu gambar indah saja tak tahu memaknai dan mengupayakan terwujudnya rekaman indah, bagaimana penonton kebanyakan tak terdorong untuk ikut-ikutan? Singkat cerita, jalanan menyempit, peserta karnaval pun tak leluasa berjalan. Keindahan, pun tinggal kenangan.

Siapa yang rugi ketika situasi berubah seperti demikian?

Semua rugi. Jerih payah peserta, yang menyiapkan diri secara swadana hingga memakan dana jutaan rupiah seperti sia-sia. Promosi wisata yang dirintis pun kembali sia-sia karena terlalu banyak catatan kekurangan tertanam di benak khalayak. Publik harus introspeksi atas perilakunya, begitu juga pemerintah sebagai penyelenggara mesti lebih tegas membuat aturan main.

Bagaimana peserta karnaval nyaman mewujudkan amal kebaikannya, penonton bisa menikmati jalannya acara, dan tanaman di sepanjang pembatas jalan tak rusak karena terinjak-injak ribuan pasang kaki yang tak peduli. Itu merupakan pekerjaan rumah yan tak sederhana, terutama bagi Dinas Pariwisata.

Bahwa secara animo khalayak bisa diprediksi, mestinya pemerintah gencar melakukan sosialisasi dan edukasi, sehingga semua target pemangku kepentingan bisa terpenuhi. Sukses sudah pasti ada pada sejumlah sisi. Hanya perlu penyempurnaan di kemudian hari. Empat kali penyelenggaraan sudah cukup jadi bekal evaluasi, lantas jadi bahan untuk memperbaiki.

Semoga, Solo Batik Carnival 2012 lebih bisa dinikmati. Selamat kepada Pemerintah Kota Surakarta yang sudah berhasil mencetak ikon wisata baru Indonesia.

Lihat pula koleksi foto Solo Batik Carnival 2011

Irfan dan Arifinto

Kalau tak hati-hati, rencana pemanggilan jurnalis foto Media Indonesia, Mohamad Irfan bisa jadi salah arah. Hukum dan politik Indonesia yang sudah biasa dicampur aduk, bisa-bisa menjerumuskan Irfan ke posisi sulit. Apalagi, dari awal, legislator Partai Keadilan Sejahtera Arifinto, sudah melontarkan tuduhan adanya konspirasi untuk menjatuhkan diri dan organisasinya.

Hasil foto M. Irfan yang tersebar di Internet, terutama Twitter.

Saya kuatir keinginan polisi memanggil Irfan sebagai saksi perkara Arifinto karena polisi tak mau repot dalam mencari alat bukti. Padahal, terkait jurnalisme, pemberitaan pers sudah cukup menunjukkan adanya ‘kesaksian’ seorang jurnalis, ya melalui produk-produk jurnalistiknya. Sejatinya, saya kuatir jika pemanggilan Irfan sebagai saksi justru akan membelokkan arah, misalnya, menanyakan motivasinya merekam Arifinto yang saat itu, ternyata, sedang membuka-buka gambar porno.

Di sini, saya ingin bercerita, tentang posisi seorang jurnalis foto dalam sebuah alur kerja industri pers.

Pada industri pers (cetak), jumlah fotografer jauh lebih sedikit dibanding reporter tulis. Sebuah media besar yang memiliki awak redaksi 100-an orang, paling banyak hanya memiliki sepuluh orang yang mengurusi fotografi. Yang stand by di kantor umumnya terdiri redaktur dan periset foto, dan sisanya bekerja di lapangan sebagai pencari berita foto.

Karena jumlah fotografer atau jurnalis foto tak sebanding dengan jumlah bidang/desk, maka seorang fotografer bisa bekerja rangkap bidang, dalam arti mencari berita foto untuk sejumlah bidang. Hampir mustahil menempatkan seorang fotografer pada pos atau tempat tertentu dalam jangka waktu lama. Singkatnya, Irfan yang memotret insiden ‘tablet bokep’ belum tentu ia ngepos di gedung DPR. Berjaga seharian pun, belum tentu.

Karena sedikitnya jumlah fotografer, bisa jadi ia harus setor beberapa peristiwa dari tempat/bidang berbeda dalam sehari. Jumlahnya bisa banyak, sebab nantinya akan dipilih sebagiannya oleh redaktur foto untuk dibawa dalam rapat perencanaan. Artinya, pada Jumat itu, Irfan harus menyetor berita foto Sidang Paripurna DPR, foto lepas, dan harus mengabadikan beberapa peristiwa lainnya.

Oleh karena itu, gugur sudah asumsi atau tuduhan bahwa Irfan terlibat dalam sebuah kerja konspiratif. Apalagi, sepengetahuan saya, banyak jurnalis foto itu asal jepret, mencari momen yang paling bermakna dan memiliki nilai berita. Soal data apa dan siapa untuk keterangan (caption) menjadi urusan kemudian. Naluri akan mendahului pertimbangan lain-lain. Itu pun andai sempat mikir. Makanya, kebanyakan jurnalis foto memiliki kemampuan lebih dalam membuat foto candid.

Asal tahu saja, tak mudah bagi seorang fotografer main konspirasi-konspirasian, apalagi untuk menjatuhkan nama baik seorang Arifianto. Saya yakin, Irfan bahkan tak mengenali siapa Arifianto. Ia bukan sosok legislator yang popularitasnya setara dengan Anis Matta, Fahrihamzah, Pramono Anung, Ruhut Sitompul, Roy Suryo dan sejumlah kecil nama lainnya. Kalau asal fraksinya, bisa jadi ia ketahui dari pengelompokan meja dan nomor keanggotaan di DPR.

Kabarnya, tak cuma Arifianto yang tertangkap basah kamera Irfan. Legislator yang sedang main catur lewat tablet dan legislator yang asyik buka-buka tabloid bergambar seronok pun sempat direkamnya pada peristiwa yang sama, saat sidang paripurna. Sebagai orang yang tahu jurnalistik (walau sedikit) dan bisa motret (juga ala kadarnya), saya juga akan enggan merekam peristiwa legislator tidur saat sidang, atau bangku kosong.

Dua bad news itu sudah bukan good news. Politisi adu jotos saja sudah tak menarik untuk ditampilkan karena terlalu sering dipertontonkan. Apalagi, cacai maki ala Ruhut Sitompul di forum sidang. Paling banter, cuma saya rekam lalu menyimpan untuk bahan tertawaan. Tapi ketika untuk disajikan kepada publik, pemilik hak untuk memperoleh informasi yang benar dan berimbang sekaligus berhak mengontrol mereka yang mengatasnamakan wakil rakyat, ya saya akan menampilkan keganjilan-keganjilan atau sesuatu yang menyimpang dari yang seharusnya.

Andai saya seorang Irfan pun, saya pasti akan memilih foto-foto human interest sebagai tambahan ‘foto wajib’, terkait dengan penugasan merekam peristiwa sidang paripurna. Hampir pasti, foto-foto seremonial ‘yang begitu-begitu saja’ pun pasti dimilikikan, meskipuan ‘Cuma’ adegan Ketua DPR Marzuki Alie sedang mengetukkan palu, misalnya.

Kenapa saya (andai bertindak sebagai Irfan) lebih memilih orang-orang bertablet dibanding yang menggunakan perangkat lain seperti iPhone atau BlackBerry? Sebab secara gambar, akan lebih enak dilihat. Ketika sebagian orang memilih tidur atau meninggalkan ruang sidang, dugaan saya, pasti akan ada yang asyik bermain gadget, utamanya jenis-jenis tablet yang lebih memberi banyak pilihan, baik bekerja (baca/tulis e-mail) hingga refreshing seperti bermain game, nonton live streaming, YouTube-an, atau buka-buka koleksi apa saja di foldernya.

Tablet, entah itu iPad atau Galaxi Tab dan sejenisnya, untuk ukuran masa kini masih pantas disebut sebagai paduan perangkat penunjang kerja yang penting sekaligus memiliki simbol gaya hidup. Lihat saja, Presiden Yudhoyono sering tampil dalam pidato resmi dengan menempatkan iPad mencolok di podium, walau kemudian simbol apel digigit-nya ditutup stiker burung Garuda.

Bisa jadi, Irfan tak menduga jika yang sedang dibuka-buka Arifinto ternyata mengandung unsur pornografi. Bisa jadi, bokep-bokepan itu baru ketahuan ketika ia melakukan zoom in hasil jepretannya. Sementara yang membuat peristiwa itu jadi gempar, lantaran ternyata si pembuka adalah legislator wakil partai yang mengklaim diri sebagai paling bersih dan religius.

Buktinya jelas. UU tentang Pornografi dimotori oleh kader-kader dan teman separtai Arifinto. UU ITE yang menyerempet konten porno, pun diusung oleh kementrian yang dipimpin oleh kader partai yang sama. Bumbu tambahan tentu lebih seru ketika kemudian diketahui, Arifinto merupakan tokoh penting di balik majalah Sabili yang dinilai publik sebagai majalah Islam keras.

Klop! Hasil kerja jurnalistik Irfan menemukan momentum yang pas. Partai itu sedang digoyang dari dalam, juga dari koalisi besar. Sementara sebagian publik banyak yang geram dan bahkan menyimpan bara dendam, lantaran partai itu dianggap selalu mengusung ideologi dan garis perjuangan Islam yang ‘tak ramah’ terhadap perbedaan latar belakang dan sikap keagamaan.

Karena kontroversi politiknya terlalu banyak, maka saya kuatir jika pemanggilan Irfan oleh polisi, dengan dalih apapun, justru akan menjadi preseden kurang baik. Foto yang dipublikasikan oleh media di mana Irfan bekerja, sudah cukup mewakili kesaksiannya. Saya tak bisa membayangkan, jika apapun jawaban Irfan atas pertanyaan penyidik (yang mungkin-mungkin saja muncul) mengenai motivasi Irfan memotret Arifinto justru akan melahirkan cerita baru di luar substansi persoalan sesungguhnya.
Catatan: foto diambil dari sini

Mengatur Adegan Foto

Ketika foto yang saya ambil secara candid itu diunggah ke Facebook, sang fotografer yang saya tampilkan di foto itu mencak-mencak. Apalagi, dia sudah mewanti-wanti agar saya tidak meng-upload foto yang satu itu, saat saya tunjukkan kepadanya. Andai petang itu terjadi deal, entah disogok apa, mungkin saya rela menghapus file-nya. Hahaha…..

Aksi fotografer ini menarik diabadikan. Orangnya serius, maka tak aneh karyanya masuk nominasi dalam lomba foto Pesta Blogger 2009

Aksi fotografer ini menarik diabadikan. Orangnya serius, maka tak aneh karyanya masuk nominasi dalam lomba foto Pesta Blogger 2009

Rupanya, lelaki muda yang blog dan salah satu karya fotonya masuk nominasi pada ajang lomba foto Pesta Blogger 2009, itu risih, setengah malu. Dia protes, sambil membawa-bawa istilah semiotika gambar segala, sebab orang yang melihat foto itu bisa saja menafsir sang fotografer sedang nginceng daleman seorang perempuan yang melintas di depannya.

Memang, gaya memotretnya tak lazim, meski harus dipahami itu sebagai upaya kreatif sang fotografer untuk memperoleh gambar yang bagus, meski yang sedang dia bidik adalah bangunan tua, yang tak bakal beringsut kemana-mana, yakni Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama, Semarang.

Namun, justru cara memotretnya yang tak lazim itulah yang menggelitik saya untuk mengabadikannya. Kebetulan, saya sudah memperhatikan gayanya memotret belasan menit lamanya. Pinginnya, bidikan terfokus pada dia, dengan foreground roda kendaraan bermotor yang melintas di depannya. Dalam benak saya, citra blur atau panning pada latar depan akan dramatik.

Dasar memang tolol dan amatiran, beberapa frame hasil rekaman masuk kategori layak hapus. Tiba-tiba, saya melihat seorang perempuan mengayuh sepeda secara melawan arus. Sang fotografer yang memicingkan mata di balik kamera terlalu memfokuskan perhatiannya pada bidikannya, hingga tak sadar ada yang hendak melintas di depannya. Maka, dari seberang jalan kutekan tombol pelepas rana kamera saya yang selalu pada status continuous mode.

Seperti saya sebutkan pada awal cerita, sang fotografer yang gagal nego dengan saya, mencoba mengajukan jurus yang diyakininya bakal jitu. Katanya, orang akan menuduh foto itu sebagai hasil setting-an, atau adegan yang diatur, dipersiapkan demi hasil yang bagus, sesuai keinginan sang pemotret. Dia tahu, nyetting termasuk perbuatan hina, karena itu akan menjadi aib bagi yang melakukannya.

Kalau ini foto setting-an. Mas Goen tiba-tiba bilang menarik kalau difoto buat stok ganti profil Facebook

Kalau ini foto setting-an. Mas Goen tiba-tiba bilang menarik kalau difoto buat stok ganti profil Facebook

Karena memang ndableg, saya tak peduli dengan bujukannya. Orang mau bilang apa kepada saya, tak bakal ada pengaruhnya buat saya. Bisanya juga cuma pertunjukan yang menggunakan penerangan lampu sangat terang. Lagi pula, hasilnya juga untuk menghibur harddisk komputer, supaya keberadaannya di rumah saya menjadi lebih berarti. Itu saja.

*****

Bahwa nyetting itu aib, apalagi bagi foto jurnalis, toh masih ada saja yang melakukannya. Demi gambar bagus, dramatik, menyentuh perasaan, dan entah apalagi alasannya, ada saja yang rela melakukannya. Posisi sebagai fotografer pun dilengkapi dengan kemampuan menjadi sutradara.

Di beberapa tempat, malah saya sering mendengar seorang fotografer meminta demonstran bergaya, berteriak sembari mengepalkan tangan agar didapat hasil foto yang ‘berbicara’, seolah-olah spotnews sungguhan. Pada bentuk lebih halus, meski sejatinya sadis, fotografer sengaja ngompori polisi agar mau merazia atau menghardik orang berpacaran di taman, sementara dari kejauhan ia mengarahkan lensa tele-nya sambil menebak-nebak seperti apa reaksi targetnya.

Apakah peran demikian itu hanya menjadi monopoli fotografer? Tidak! Kameraperson televisi pun banyak yang melakukan hal serupa. Penyutradaraan malah sering lebih terencana, sehingga hasilnya bisa disebut sempurna. Memang agak panjang cerita, semoga Anda tak bosan membacanya.

Suatu ketika, jurnalis televisi mendatangi sebuah pertemuan sekelompok orang di sebuah gedung. Ia sudah selesai mengambil stockshots, baik berupa jalannya acara beserta pernik-perniknya hingga wawancara tokohnya. Merasa kurang hot, ia pun menelepon sekelompok orang yang memusuhi kelompok pertama, untuk mereaksi atas kegiatan yang baru saja diliputnya.

Tak lama berselang, sekelompok orang datang, berteriak-teriak mengecam pertemuan dan menuntut pembubaran dengan segera. Sang kameraperson pun memperoleh gambar dramatik, ekspresi orang kesetanan karena bernafsu menyerang musuhnya, juga suasana kekacauan di ruang pertemuan, serta bumbu reaksi masyarakat awam yang menghentikan perjalanan atau berbondong-bondong menyaksikan ‘keributan’.

Tukang setting kebanyakan peka dalam selera, meski sejatinya mati rasa.