Kartini Tak Harus Perempuan

Dulu, saya punya teman SMA bernama Temu Sudarsih. Ia lelaki tulen. Orangnya kocak, suka melucu, dan suka menolong dan peduli terhadap teman, tak sebatas pada satu kelas. Kartini, bagi saya, pun bukan monopoli milik kaum perempuan. Di kelas saya, ada pula perempuan bernama Kartini. Ia baik, tapi manja kepada siapa saja, baik lelaki maupun perempuan.

Kita tak boleh silau, lantas membuat kesimpulan hanya berdasar pada sebuah nama, entah itu Temu Sudarsih atau Kartini, atau siapa saja. Ia akan berproses, merespon atau beradaptasi terhadap lingkungan. Kartini putri Sang Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat tak akan menjadi sosok pemberdaya perempuan, feminis, atau apapun sebutannya, jika ia tak merasakan susahnya sebagai gadis pingitan.

Situasi budaya dan sosial yang dinilainya timpang dan membelenggu kaum perempuanlah yang lantas membuat Kartini ingin menjadi perempuan terakhir yang ttinggal dalam kerangkeng sosial. Andai bukan bangsawan, belum tentu Kartini bisa belajar di sekolah bangsawan, Europese Legere School sehingga fasih berbahasa Belanda, yang lantas memperkenalkannya pada bacaan-bacaan penting, baik surat kabar maupun buku-buku penting.

Jika mengalogikan dengan perempuan masa kini, maka dengan bermodal kecakapan bahasa, Kartini memanfaatkan situasi keterpingitannya untuk mengakrabi search engines, lantas berselancar memburu referensi. Ya, semacam ‘hama benwit’ namun selalu berorientasi akan kegunaan dan kemanfaatan, seperti halnya berprinsip teguh pada InternetSehat.

Siapakah Kartini-Kartini masa kini? Apakah ia sosok manusia (apalagi) perempuan yang mengajak orang lain agar hidup konsumtif, mengajak relaksasi secara hedonistik? Siapakah Kartini yang dicari kini: yang menyerahkan anaknya kepada sapi karena kuatir jika menyusui akan merusak ‘keindahan’ payudaranya? Ataukah peremuan-perempuan yang selalu sibuk melawan kaum lelaki karena merasa sudah jadi korban ‘penindasan struktural’ karena menganggap lelaki selalu hegemonik?

Sepanjang yang saya pahami, Kartini melakukan perlawanan kultural secara strategis dan sistematis. Ia menularkan ilmu membaca teks lewat sekolah yang didirikannya, sehingga murid-muridnya berkembang sesuai keinginan dan bakatnya masing-masing. Budaya patrimonial diresponnya dengan pemberdayaan, bukan perlawanan frontal-seremonial. Dan ia memperoleh lahan subur menyemai kebaikan lantaran sang suami menjadi utama pendukung cita-citanya.

Kartini yang terobsesi menyebar virus emansipasi bertemu dengan suami yang tidak merasa terancam ketika perempuan menjadi mandiri, berdaya dan berdaulat akan sikap dan pilihan hidup. Tanpa sinergi keduanya, mungkin apa yang dilakukan Kartini bisa menghasilkan cerita yang berbeda dengan kita warisi sekarang.

Saya yakin, ketika hendak mendirikan sekolahan, Kartini tidak bermaksud membuat template sehingga peserta didiknya didesain sedemikian rupa. Lebih dari itu, ia hanya ingin menularkan pengetahuan dan berbagi pengalaman, sehingga seseorang bisa bebas dan mandiri menentukan pilihan jalan hidup.

Kini, Indonesia kian butuh sosok Kartini, perempuan yang membebaskan orang lain, namun tak sebatas kaumnya belaka. Perempuan adalah tiang penting penyangga kokohnya bangunan keluarga dan sosial. Seperkasa apapun lelaki, ia akan gagal mendidik generasi baru yang bermartabat dan unggul jika beristrikan perempuan yang berdaulat atas dirinya sendiri. Dan sebaliknya, lelaki  bejat sekalipun, masih punya harapan akan lahirnya generasi bermoral, jika ia berpasangan dengan perempuan yang memiliki wawasan memadai. Dari sana, adab akan terbangun kuat.

Pada jaman semaju kini, memang sudah lahir banyak penerus Kartini. Tapi, ketika dunia bisa hadir dalam genggaman, seberapa banyak lahir Kartini-Kartini yang benar-benar mampu melahirkan ‘murid-murid’ mandiri dan berdaulat atas dirinya? Kita sering lupa, ketika kesenjangan desa-kota belum sepenuhnya terhapus dari catatan statistik, sudah muncul ancaman kesenjangan digital, bahkan di kota sekalipun.

Bagaimana nasib para perempuan yang tinggal di pelosok desa, di tengah hutan atau di lereng-lereng gunung dan perbukitan, yang tak pernah terkena terpaan teknologi komunikasi dan informasi? Pernahkah kita memikirkan bagaimana nasib ibu-ibu perajin sandal kulit di Solo hanya sanggup menjual Rp 22.000 sepasang kepada tengkulak, sementara di pedagang kakilima Malioboro, Yogyakarta ditawarkan Rp 75.000 dan di Jakarta dibanderol Rp 175.000?

Terlalu banyak ‘Kartini Digital’, juga ‘Kartono-Kartono Digital’ yang sanggup menjual produk yang sama dengan keuntungan berlipat-lipat, namun abai terhadap pemberdayaan para ‘perempuan mandiri’, ya para perajin itu. Seberapa banyak Kartini-Kartini masa kini, yang lebih senang memperdagangkan produk-produk kreatif mereka, tapi enggan mengajari mereka cara berdagang, membantu branding dan strategi-strategi promosi dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi?

Teknologi sangat memungkinkan mereka menggali informasi untuk membuat inovasi dan menentukan strategi. Perbandingan desain, nilai pasar, dan sebagainya, bisa diperoleh lewat Internet. Yang jadi kendala, tak ada yang membukakan mata mereka mengenai manfaat kehadiran sebuah teknologi komunikasi.

Andai teknologi informasi dan komunikasi bisa menjangkau pelosok Indonesia, dan ada Kartini-Kartini yang mendampingi mereka mengakrabi dunia digital, saya yakin, petugas penyuluh kesehatan yang terbatas jumlahnya bisa digantikan oleh informasi yang disediakan oleh website/blog, atau situs-situs kesehatan. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, ilmu gizi, dan banyak lagi informasi bisa didapatkan secara murah.

Kehadiran teknologi selalu membawa dampak, positif dan negatif. Karena itu, dibutuhkan guru-guru yang mau berbagi ilmu seperti Kartini untuk mendampingi, sehingga kehadiran teknologi tak membunuh masa depan mereka sendiri. Di sinilah, Kartini adalah spirit, yang bisa dilakukan oleh lelaki atau perempuan, seperti Temu Sudarsih atau Kartini, untuk sekadar meminjam nama sambil mengenang masa-masa SMA.

Yang jelas, Kartini tak bisa berjuang sendirian. Ia harus mengerjakannya bersama-sama dengan orang-orang yang seterbuka wawasan dan setoleran suaminya, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Setidaknya, itu bisa membantu mempercepat Kartini mewujudkan cita-citanya, membuat perempuan Indonesia lebih mandiri dan berdaulat atas dirinya.

Keterangan: Foto merupakan hasil pencarian di Google