Lomba Blogging Bertema Difabilitas

Kami, keluarga besar RBI, Rumah Blogger Indonesia, sedang merancang kampanye dalam rangka turut memeriahkan perayaan Hari Disabilitas Sedunia (World Disability Day) 2015. Tahun ini, tema peringatannya Inclusion matters: access and empowerment of people of all abilities. Bentuknya beragam: ada lomba blogging, kampanye lewat pembuatan kaos yang dibagikan kepada publik, juga beragam acara seperti bazar dan pentas musik di area car free day.

Searah jarum jam: tuna daksa, tuna grahita, tuna netra, tuna rungu wicara

Searah jarum jam: tuna daksa, tuna grahita, tuna netra, tuna rungu wicara

Melalui kampanye itu, kami ingin mengajak sebanyak mungkin orang untuk bersama-sama membangkitkan solidaritas dan keberpihakan kepada kaum difabel, khususnya di Indonesia. Semakin banyak orang memiliki empati dan solidaritas, maka hak-hak difabel juga akan setara dengan mereka yang memiliki ‘kesempurnaan’ secara fisik.

Jika kesadaran demikian dimiliki semua orang, kelak akan banyak dijumpai tempat-tempat umum seperti mal, hotel, terminal, stasiun, bandara, perkantoran, sekolahan dan sebagainya, yang bisa diakses siapa saja, termasuk kaum tuna netra, tuna daksa, dan lain sebagainya. Jika itu terwujud, dunia menjadi lebih indah, bukan?

Dasarnya sih ‘sederhana’ saja: semua orang berpotensi difabel. Kelalaian orang berkendara di jalan raya, misalnya, bisa mengakibatkan diri dan/atau orang lain celaka. Bisa saja ia lumpuh permanen, buta, atau kondisi-kondisi fatal lainnya. Belum lagi kalau kita mengingat fakta bumi kita, di mana Indonesia termasuk wilayah yang rawan bencana. Ada gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, tanah longsor dan banyak lagi. Continue reading

Pelajaran bersama Komunitas

Akhir pekan lalu merupakan hari-hari melelahkan. Tapi, cita-cita hore-hore bersama teman-teman komunitas, terbayar lunas. Teman-teman muda RBI menunjukkan kerja yang sungguh keren!

Papan informasi yang didesain Tommy Rizaldy

Papan informasi yang didesain Tommy Rizaldy

Mereka adalah Allan Bona Sukarno (@allanbona), Nico Kurniawan (@ncko), Tommy Rizaldy (@tommyrizaldy), Ardian Pratomo (@rdianpratomo), Raffi (@RAFFIHELPUS), Itok (@lum_hee), Isyaknewton (@isyaknewton), Kobar Nendrodewo (@Escobarzz), Abi, Adjie (@apadjie), Benu Tri Rahargo (@trirahargo_), Reza JeBe (@namareza), Bona Cilik (@barcelonabryan), Akid (@bokisabis), Feri (@ealah), Wawan Ridwan (@r1d_1), Ryan, Mas Pono, Doni Junianta, Jaka Ballung, Fajar, Jawir, Adis (@safinanadisa), Said, dan banyak lagi… (maaf, nulis saat kecapekan bikin banyak hal terlewat).

Kerja tiga hari, siang-malam, mengerjakan dua event sekaligus: membantu suksesnya Urban Social Forum serta gelaran pentas seni, pameran produk difabel serta workshop dalam rangka peringatan World Disability Day bersama teman-teman difabel Solo Raya, yang disponsori oleh PT Mandiri Securitas dan didukung Bursa Efek Indonesia.

Kedua acara diapresiasi berlebihan: salut, membanggakan teman-teman, dll. Kelewat banyak pujian, padahal kami merasa kedodoran. Pengalaman pertama bagi sebagian besar teman-teman komunitas. Kali itu merupakan pertama kali ‘kerja’ berbau social activism! Semangat voluntary yang sudah lama mereka miliki, terbukti menjadi modal kesuksesan kerja teman-teman.

Saya pribadi, sangat berterima kasih kepada Rifai, John dan Zakaria serta kawan-kawan Yayasan Solo Kita Kita, yang memercayai kami mengurus pelaksanaan Urban Social Forum kedua, yang terselenggara pada 20 Desember, siang-malam. Urban Social Forum pertama, digelar di sanggar kami: RBI, Rumah Blogger Indonesia, setahun silam!

Diskusi tematik di Urban Social Forum 2014

Diskusi tematik di Urban Social Forum 2014

Asik. Secara pribadi, saya sangat bersyukur, bertemu dan kenal anak-anak muda penuh talenta. Mereka kaum muda, yang (meski) omongannya suka ngaco, tapi matang berorganisasi. Mereka antara lain Komunitas StandUp Comedy Solo, kawan-kawan Komunitas Soundcloud Solo, Komunitas CeKopi, selain tentu saja Rumah Blogger Indonesia di mana terdiri dari Komunitas Difabel Talenta dan Blogger Bengawan.

Masing-masing individu punya inisiatif dan kemampuan improvisasi kerja yang…hebat! Tak cuma angkat-junjung meja-kursi, memasang banner dan merapikan panggung, tapi juga nyinom atau laden, yakni melakukan pekerjaan laiknya waiter/waitress di restoran. Tak hanya itu. Sebagian juga berganti peran jadi MC atau pemandu acara, bermain musik dan menyanyi sebagai penghibur tamu, juga nyopir, mengantar-jemput tamu pada dua acara sekaligus! Ngabèhi, kata orang Sala.

Sekadar catatan subyektif saya, teman-teman yang kemarin terlibat adalah mereka yang melebur diri menjadi komunitas wedangan. Sebagiannya adalah anak-anak muda yang lupa pulang. Datang sore atau malam, dan baru meninggalkan wedangan esok pagi, siang, sore, atau bahkan melompati hari esoknya. Ada mahasiswa, pekerja freelance, karyawan perusahaan swasta, ada pengusaha clothing, dan sebagainya. Yang pasti, sebagian mereka pun sudah membuat organisasi baru, yang dinamai #sahabatGetRich. Ya, mereka adalah orang-orang yang sedang berjuang menjadi kaya raya, jadi milyarder, meski lewat permainan online semacam Monopoli.

Tapi, ya begitu. Apapun itu, siapapun mereka, tetaplah anak-anak muda pekerja keras (dan sekaligus tukang kongkow garis keras). Para orang tua, pasti tak sanggup mengimbangi kerja keras dan gagasan-gagasan bernas mereka.

Produk kerajinan tangan seorang difabel (tuna daksa). DIpajang di halaman Gelanggang Remaja Bung Karno, Manahan, dalam rangka (maunya) ikut mempromosikan produk kreatif.

Produk kerajinan tangan seorang difabel (tuna daksa). DIpajang di halaman Gelanggang Remaja Bung Karno, Manahan, dalam rangka (maunya) ikut mempromosikan produk kreatif.

 

Tenda untuk menyiasati keterbatasan ruang.

Tenda untuk menyiasati keterbatasan ruang.

Para narasumber Urban Social Forum sedang menikmati wedangan dengan teh enak... :p

Para narasumber Urban Social Forum sedang menikmati wedangan dengan teh enak… :p

Para kru acara berfoto bareng Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo.

Para kru acara berfoto bareng Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo.

Sekadar temu wajah, saling jabat tangan seusai acara yang dianggap sukses.

Sekadar temu wajah, saling jabat tangan seusai acara yang dianggap sukses.

Karya kreatif difabel: bebek pun dibikin difabel... Hehehe...

Karya kreatif difabel: bebek pun dibikin difabel… Hehehe…

Pentas musik dalam rangkaian World Disability Day 2014. Tuna daksa, tuna grahita dari YPAC sebagai awak kreatifnya...

Pentas musik dalam rangkaian World Disability Day 2014. Tuna daksa, tuna grahita dari YPAC sebagai awak kreatifnya…

Mbak Febriati Nadira (Mandiri Securitas) sedang demo mainan reksadana untuk kelompok difabel.

Mbak Febriati Nadira (Mandiri Securitas) sedang demo mainan reksadana untuk kelompok difabel.

Abi (vokal), Adjie, Nico (vokal) dan Kobar menghibur peserta workshop yang sedang menikmati makan siang. Sebelum naik ke panggung, mereka meladeni makanan dan minuman untuk semua peserta.

Abi (vokal), Adjie, Nico (vokal) dan Kobar menghibur peserta workshop yang sedang menikmati makan siang. Sebelum naik ke panggung, mereka meladeni makanan dan minuman untuk semua peserta.

 

 

 

 

 

 

 

Bukan Event Cacat

Kota Solo kembali dipilih menjadi tuan rumah event besar olahraga bagi kaum difabel. ASEAN Paragames 2011 bakal digelar di Solo, 12-22 Desember mendatang. Ribuan atlet dan ofisial dari 11 negara ASEAN menyemarakkan Kota Rehabilitasi dengan adu prestasi dari 11 cabang olahraga.

Event itu seperti mengukuhkan Surakarta atau Solo sebagai kota yang banyak melahirkan atlet-atlet dan usahawan dari kelompok masyarakat difabel atau memiliki cacat fisik, sehingga kemampuannya berbeda dengan kebanyakan orang. Event berskala besar serupa pernah juga berlangsung di Solo pada 31 Agustua-7 September 1986,  di mana 834 atlet dari 19 negara di Timur Jauh dan Pasifik Selatan berlaga. Kala itu, 4th FESPIC (Far East and South Pacific Games for Persons with Disability) Games, digelar.

Zebra cross di perempatan Fajar Indah, Jl. Adi Sucipto ini bisa menyulitkan para tuna netra karena memungkinkan penyeberang menabrak pembatas jalan.

Solo memang pantas menjadi tuan rumah penyelenggaraan event bagi kaum difabel. Prof. DR. Soeharso telah merintis pusat rehabilitasi berskala nasional sejak awal kemerdekaan, meski awalnya diperuntukkan bagi korban perang yang mengalami kecacatan permanen. Tapi, di kemudian hari, toh memberi manfaat bagi banyak orang yang mengalami perubahan pola hidup yang drastis, akibat kecelakaan, bencana alam dan sebagainya.

Wajar pula Paragames 2011 digelar di Solo, hitung-hitung sebagai apresiasi atau hadiah bagi pemerintahan di daerah yang menjadi pionir akan lahirnya Peraturan Daerah tentang Kesetaraan Difabel nomor 2 tahun 2008. Itu termasuk maju jika disimak dari perjalanan panjang para aktivis yang memperjuangkan hak-hak dan kesetaraan difabel di seluruh dunia, termasuk Solo.

Perserikatan Bangsa-bangsa saja baru menyepakati adanya Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitasvpada 13 Desember 2006, dan Indonesia menjadi negara ke-107 ketika meratifikasi konvensi tersebut pada Maret 2007. Uniknya, Solo menjadi pemerintah daerah pertama di Indonesia yang memiliki Perda, dan hanya berselang setahun sejak Indonesia melakukan ratifikasi.

Asal tahu saja, seketariat nasional organisasi olahraga difabel juga berada di Solo, termasuk pusat latihan nasionalnya (Pelatnas). Kini, induk organisasiny bernama National Paralympic Committee (NPC), menggantikan yang lama, Badan Pembina Olahraga Cacat/BPOC. Sebelumnya, olahraga ini dinaungi oleh sebuah yayasan, yakni Yayasan Pelaksana Olahraga Cacat (YPOC).

Atlet cabang atletik Indonesia sedang menjalani latihan di Stadion Manahan. Kursi roda yang mereka gunakan, konon bukan yang berkwalitas bagus.

Nah, bagaimana kesiapan Kota Solo terkait dengan penyelenggaraan ASEAN Paragames 2011, apalagi jika dikaitkan dengan adanya Perda Kesetaraan Difabel? Untuk venue atau tempat digelarnya 11 cabang olahraga, memang sudah tak masalah. Tapi, mengenai fasilitas umum, terpaksa saya harus menyebutnya sebagai cukup menggemaskan.

Sebuah hotel yang belum genap setahun beroperasi, misalnya, sok-sok ramah atau peduli dengan difabel. Ram atau akses jalan untuk pengguna kursi roda atau pejalan kaki berpenyangga (kruk), memang sudah dibuat. Tapi, karena tak ngerti (arsiteknya pasti payah secara ilmu dan tak punya rasa solider), ramp dibuat sangat curam, hampir 45 derajat! Jangankan pengguna kursi roda, orang tanpa handicap saja enggan melewatinya, lantaran berisiko.

Anggap saja, hotel memang bukan ‘tempat layak’ untuk difabel (walau ino sadis juga) karena dianggap bukan merupakan ruang publik (walau tak demikian seharusnya), lantas bagaimana dengan fasilitas umum seperti halte bus??? Ndilalah (saya tak tahu padanan bahasa Indonesia yang tepat), hampir semua halte tidak ramah untuk difabel. Kalau tak terlalu curam, lebar ram pun cuma pas buat kursi roda. Kalaupun ada selieih, paling kurang dari sepuluh sentimeter. Seorang teman pengguna kursi roda yang pernah mencobanya, mengaku aksesnya tak layak untuk diri dan teman-teman sesama pengguna kursi roda.

Ram di sebuah hotel di Solo ini berpotensi mencelakakan pengguna, khususnya penyandang difabilitas.

Yang demikian, tentu kabar tak enak dibaca. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Ini fakta pahit, yang harus diketahui banyak orang, supaya semua pihak mau berbenah. Kesetiakawanan bukan ungkapan lisan semata, dan tanggung jawab penyelenggara negara kian nyata. Tidak hanya sekadar formalitas belaka, sebagai siasat memenuhi unsur yang diamanatkan oleh perda, undang-undang, konvensi atau apapun namanya.

Jujur, saya sedih melihat atlet-atlet nasional kita yang sudah berbulan-bulan masuk Pelatnas di Solo, namun hanya diinapkan di hotel-hotel yang menurut saya, kelas melati pun belum! Salah satu hotel (kecil, nyaris melati) tempat mereka menginal selama berbulan-bulanpun, meski dua lantai, tak ada lift atau akses ramp.

Mungkin, perlakuan semacam itulah yang lantas memberi gambaran kepada kita (saya, tepatnya), bahwa seperti itulah perhatian negara kepada merwka, kaum difabel. Jika atlet yang memiliki prestasi saja diperlakukan seperti warga negara kelas dua, bagaimana mereka yang ‘tak berprestasi’?

Halte yang baru dibangun di dekat RS Kasih Ibu, Jl. Slamet Riyadi ini sudah jauh lebih manusiawi karena memenuhi syarat aksesibilitas untuk difabel.

Maka, saya pun makljm adanya, jika seluruh atlet dari berbagai negara ditempatkan di Asrama Haji Donohudan, yang kini sedang diperbaiki di sana-sini supaya memenuhi unsur aksesibel bagi semua delegasi. Hotel-hotel, dari yang melati hingga berbintang, masih belum banyak yang ramah terhadap difabel. Menyedihkan, memang…..

Semoga ASEAN Paragames 2011 tak menjadi event yang cacat. Entah cacat definisi maupun cacat pelaksanaan. Repot jika pesimisme dan prasangka saya terbukti benar adanya…..

Atlet Bersarung Tangan Butut

Rabu (10/8) sore, saya dan Andre menunggui Donny latihan sprint. Kerabat kami, Blogger Bengawan ini adalah atlet Pelatnas, peraih beberapa medali emas dan perak, dan menjadi andalan Jawa Tengah. Ia jagoan di kelas sprint lari (pakai kursi roda). Pertengahan Desember nanti, ia mewakili Indonesia, bertanding di ASEAN Paragames di Solo.

Donny, atlet Paragames yang selalu optimis...

Saat ngobrol santai di Sekretariat Bengawan (sejatinya kami nebeng di Yayasan Talenta, organisasi yang mengkhususkan pada advokasi hak-hak kaum difabel), Donny selalu optimis, mampu mengalahkan rival tangguhnya dari Thailand. “Kita cuma kalah alat,” ujarnya.

Alat dimaksud adalah kursi roda yang harus dipacunya di lintasan ‘lari’. Di Thailand, konon atlet-atlet Paragames atau Paralympic benar-benar dipelihara raja. Kursi rodanya dibelikan oleh kerajaan, dan dipilihkan yang terbaik. “Kita cuma punya yang kelas dua. Itu sudah yang terbaik, dan yang punya hanya Jawa Tengah, dan adanya ya cuma di Solo,” ujar Donny sambil terkekeh.

Gigih berlatih di Stadion Manahan demi medali emas dalam ASEAN Paragames di Solo, Desember mendatang...

Kini, ia banyak berlatih di lintasan lari karena harus mempersiapkan diri untuk memperoleh posisi terbaik dalam ajang ASEAN Games-nya kaum difabel yang dipusatkan di Solo, pertengahann Desember nanti. Sebelum masuk pemusatan latihan, ia saban hari nge-net di Sekretariat Talenta/Bengawan. Kini, hanya dilakukannya di sela-sela latihan.

Saat latihan Rabu sore itu, ia bersama sepuluh temannya, empat di antaranya perempuan. Sepintas, memang Donny tampak paling menonjol dibanding rekan-rekannya. Tak nampak kelelahan, dan mereka sungguh-sungguh memacu kursi rodanya, walau tanpa pelatih yang menungguinya. Kata Donny, sang pelatih sedang ada kesibukan lain.

Sejujurnya, saya miris melihat fasilitas yang digunakannya. Kursi roda balap yang dikendarai Donny sudah yang terbaik dibanding yang digunakan rekan-rekannya. Katanya, kursi rodanya itu seharusnya berbobot hanya lima kilogram, tapi menjadi tujuh kilogram karena roda asli yang lebih ringan disimpan, untuk digunakan saat bertanding sungguhan, kelak.

Saya lihat sarung tangan yang digunakannya lusuh, bahkan sudah compang-camping. Padahal, sarung tangan itu memiliki fungsi penting untuk menggerakkan roda supaya bisa dipacu kencang. “Tanpa sarung tangan, telapak akan berdarah-darah…,” ujarnya.

Ring warna hitam merupakan tempat atlet lari para atlet Paragames mendaratkan telapak tangan agar bisa dipacu kencang. Dibutuhkan pelindung tangan memadai agar tak melukai diri atlet...

Seharusnya, sarung tangan yang digunakan berbahan kulit dan agak keras. Pasalnya, sistem kerjanya hanya menekan dan mendorong, bukan mencengkeram.

***

Saya kira, tak banyak teman-teman yang tahu, bahwa Solo merupakan kota rehabilitasi sehingga ada rumah sakit rujukan nasional, RS Orthopedi Prof. DR. Soeharso. Nama inisiator pusat rehabilitasi (dulu bernama rehabilitasi centrum, sehingga orang menyebutnya RC) itu diabadikan sebagai nama rumah sakit. Konon, dr. Tundjung, putra Soeharso, termasuk kampiun, ahli bedah tulang berkaliber internasional, yang mewarisi ilmu serupa dari ayahnya.

Walau bersarung tangan butut, semangat Donny tak pernah berkerut. Ia tetap mampu mengoleksi aneka medali tingkat nasional...

Dulu, RC didirikan untuk membantu mengembalikan rasa percaya diri para korban perang yang mengalami kecacatan permanen. Maka, aneka ketrampilan pun diajarkan dan lantas dibakukan menjadi bahan pembekalan orang-orang yang mengalami kecacatan. Termasuk di dalamnya adalah penanggulangan trauma akibat perang (juga kecelakaan dan sebagainya).

Bahwa pada perkembangannya, kebijakan pemerintah kurang tepat bagi orang-orang yang lantas disebut memiliki perbedaan kemampuan dengan sesamanya, seperti hadirnya sekolah-sekolah luar biasa (SLB), dan sebagainya, itu soal lain lagi. (Akan saya tulis terpisah di kemudian hari). 

Satu yang pasti, ironi dunia olahraga kaum difabel sama ironisnya dengan penanganan orang-orang yang mengalami aneka kecacatan di Solo, dan kota-kota lain di Indonesia. Padahal, Kota Solo termasuk pionir, lebih maju dibanding pemerintah daerah lain, yang memiliki Peraturan Daerah tentang Kesetaraan Difabel, yang salah satu inisiatornya adalah Sapto Nugroho, induk semang kami di sekretariat. Dialah yang memberi ruang kepada Komunitas Blogger Bengawan untuk beraktivitas bersama.

Tempat umum, termasuk sebuah hotel baru di Solo, masih menempatkan ramp sebagai asesoris pemanis. Tak mengerti fungsi, sehingga tak membantu kaum difabel mengakses gedung. Saya yakin, saat Bu Shinta Nuriyah singgah di hotel, Selasa (9/8) sore menggunakan fasilitas itu. Siapapun pasti celaka jika melintasi fasilitas asesoris itu...

Apakah kantor-kantor pemerintah, tempat-tempat fasilitas umum di Solo dan kota-kota lain di Indonesia, sudah ramah untuk difabel? Mohon sabar menanti postingan saya, atau teman-teman Bengawan, esok hari…..

Fasilitas aksesibilitas untuk difabel yang pernah ada semasa Gus Dur jadi presiden saja, kini tak nampak lagi di mana-mana. Apalagi bagi atlet paragames seperti Donny dan kawan-kawannya…

Referensi tambahan, silakan simak tulisan sedulur lanang saya ini

Menggenapkan Keramahan

Keramahan Solo paling bisa dirasakan banyak orang (apalagi pendatang) ketika tersesat atau sedang mencari alamat. Hampir setiap orang ditanya, akan menunjukkan arah dengan detil, kalau perlu bahkan diantar. Tanpa upah. Tapi sayang, masih ada yang terlewat. Pengguna jalan raya bisa celaka, orang berkursi roda tak mudah naik bus kota yang baru akan diluncurkan.

Perempatan SPBU Manahan, pertigaan Kerten dan depan Stasiun Purwosari merupakan tiga titik berpotensi membuat orang tambah celaka. Di tiga lokasi itu, demi menyelamatkan tanaman di taman pembatas jalan, dipasang kawat berduri. Kalau tak hati-hati, pejalan bisa tergores di kaki.

Rasanya, menekan potensi celaka belum jadi pertimbangan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota. Mari berandai-andai saja, sebab celaka selalu tak bisa diduga, begitu pula penyebabnya. Andai seorang pengendara sepeda motor terlanggar mobil atau sesamanya, lalu terpelanting dan ‘nyangkut’ di pagar kawat kawat berduri, apa yang terjadi? Cukuplah kalau ‘cuma’ melukai tangan. Kalau wajah?

Ya, mungkin saja para perencana taman terlalu semagat menghemat anggaran, atau ultracinta pada tetumbuhan. Lagi pula, mungkin ia terbiasa naik mobil, jadi terhindar dari risiko yang (nyatanya) masih sebatas potensi. Belum nyata!

Ketidakramahan kedua, terdapat pada puluhan shelter, tempat perhentian bus baru, yang dirancang meniru konsep pengoperasian TransJakarta di ibukota. Tak ada aksesibilitas bagi kaum difabel, yang karena keterbatasan kemampuan fisiknya, harus menggunakan kursi roda ke mana-mana.

Mas Pono, seorang penderita kelumpuhan akibat kecelakaan mengaku sudah mengecek semua shelter untuk perhentian Batik Solo Transport (BST), nama bis baru itu. Selain sempit, di beberapa shelter yang ada fasilitas untuk aksesibilitas kaum cacat, jauh dari ramah. “Terlalu curam! Anda kuat tenaganya, pun seseorang yang mengakses bisa jatuh terbalik,” katanya.

Khusus soal aksesibilitas di shelter bis kota itu, bisa dibilang sangat memprihatinkan. Ironis, bahkan.

Solo yang dikenal sebagai Pusat Rehabilitasi Cacat terbesar di Indonesia, ternyata tak mampu menjadi inspirasi, apalagi menjadi pusat percontohan, pembangunan fasilitas-fasilitas publik yang ramah untuk siapapun, tanpa diskriminasi. Jangan tanya kantor-kantor pelayanan publik, hampir semua masih memprihatinkan.

Padahal, MAAF, hampir setiap hari nyaris selalu ‘datang’ orang cacat baru, terutama akibat kecelakaan lalu lintas. RS Orthopaedi, RS Kustati, dan belakangan ada satu rumah sakit swasta baru khusus bedah tulang, bahkan termasuk ‘laris’ karena  menjadi pusat rujukan terbaik.

Belum lagi keberadaan kantor resmi yang dikelola negara dengan tugas khusus untuk merehabilitasi mental dan fisik penderita cacat, juga ada di Solo. Di kantor itu, orang normal yang tiba-tiba harus menderita cacat permanen ‘dibentuk’ mentalnya, agar kelak tak merasa rendah diri di tengah pergaulan sosial.

Pembekalan ketrampilan aneka macam bidang juga dilakukan sebagai bekal, sebab para kaum difabel diyakini tak mudah mengakses pekerjaan seperti kebanyakan orang.

Ya, itu memang persoalan. Bagi saya, juga Anda. Sayangnya, persoalan yang ada di depan mata itu tak menggugah para pembuat kebijakan. Ya kepala-kepala dinasnya, anggota dewan yang mengawasi kebijakan dan punya hak menginisiasi peraturan, juga masyarakatnya, yang tak mengontrol pemerintahnya.


Kapan keramahan masyarakat Solo itu digenapkan? Tepa salira, tenggang rasa rupanya kian asing saja…