Jakarta Centris

Beberapa pekan silam, beberapa teman gerah dengan istilah atau sebutan Jakarta centris. Saya pun bingung, ketika mendapati istilah itu ternyata hanya menunjuk pada person. Semangat anti-Jakarta yang menurut pemahaman saya, dulu, lebih merujuk pada ‘budaya’ instan dan klaim, rupanya digeser, dipersonifikasi.

Jakarta, bagi saya, adalah ruang yang dihuni oleh banyak orang yang berasal dari berbagai wilayah kultur berbeda-beda. Bahwa dalam ranah budaya dikenal ada yang ‘menang’ atau mendominasi (menghegemoni?), pun merupakan hal yang lumrah adanya.

Jika kini kita sering menjumpai istilah budaya massa, pun bukan sebuah keanehan. Itu merupakan konsekwensi logis dari sebuah kontestasi produk kultur, yang ditopang kemajuan teknologi komunikasi. Televisi merupakan salah satu media terpenting dalam menopang kemenangan itu, seperti yang sejak jauh-jauh hari sudah diramalkan Alvin Toffler.

Kenapa dulu ada istilah Generasi MTV untuk penampilan anak-anak muda dan remaja, atau hingga kini Milan dan Paris masih menjadi rujukan produk-produk (budaya) fashion, ya memang seperti itulah istilah kiblat mengemuka. Jika sebuah produk kultur yang ‘dikampanyekan’ diterima dan dipraktekkan oleh banyak orang, ya itulah kemenangan.

Tapi, soal kontestasi produk kultur tentu beda dengan ambasador, sang duta. Ia hanyalah manekin, sebuah alat peraga, untuk memotivasi orang lain melakukan proses reproduksi, atau sekadar imitasi.

Jika pada sisi yang lain terdapat sekelompok (biasanya minoritas) yang menggugat sebuah dominasi atau hegemoni, pun wajar pula adanya. Memang, yang kerap disasar adalah para duta atau ambasador yang biasanya sengaja disewa untuk melakukan percepatan proses penyebarluasan atau masifikasi. Yang jadi soal, sering terjadi adalah perlawanan secara membabi buta, sehingga epigon (sejatinya korban budaya massa) pun ikut dijadikan sasaran tembak.

Jika hasilnya luput atau tak sesuai harapan, menurut saya, ya cukup ditertawakan saja. Melakukan perlawanan secara membabi buta ibarat berteriak mencerca pilihan ribuan orang yang tengah menonton konser musik rock, dan menganggap mereka bodoh lantaran tak mau menyaksikan pentas wayang orang atau mencintai tari Saman.

Dalam hal perlawanan terhadap (anggapan adanya) dominasi oleh pihak yang disebut ‘Jakarta’ terhadap lokalitas-lokalitas (yang jika jumlahnya sangat banyak dan berbeda-beda sering diistilahkan dengan nusantara), rasanya perlu ditimbang ulang bentuk dan cara penyikapannya. Saya akan menyebutnya membabi buta dan tidak strategis jika diberlakukan prinsip gebyah uyah atau penyamarataan.

Orang yang secara sosiokultural berada di tempat yang diasosiasikan sebagai ‘Jakarta’ lantas disimpulkan sebagai pengikut/pihak yang mengamini sebuah dominasi atau hegemoni, jelas tak bisa dibenarkan.

Apalagi, jika ada pihak yang mewakili identitas kelokalan yang berinteraksi dengan ‘orang Jakarta’ lantas diharamkan dan bahkan kemudian dijuluki ‘Jakarta Centris’, tentu saja berlebihan. Orang Kalimantan atau orang Jawa yang di Jakarta, bisa saja berpihak atau punya perhatian khusus sehingga memiliki referensi memadai tentang banyak hal atas suku Madura, masyarakat Tengger dan sebagainya.

Dengan demikian, tak ada salahnya orang Madura bergaul dengan orang Jakarta dalam aneka rupa. Tak ada salahnya pula, semua yang berbau Jakarta diharamkan, sebab terlalu banyak berserak perkecualian.

Kita, juga siapa saja, tak bisa mendikte siapapun atas persepsi atau keyakinan yang dimilikinya. Yang bijak adalah menawarkan komunikasi dua arah, sebab pada hakekatnya, pilihan dan keberpihakan tak bisa dipaksakan. Sikap keberpihakan hanya bisa ditawarkan, sebab setiap isi kepala harus diasumsikan tetap merdeka, independen terhadap apa dan siapa saja yang berasal dari luarnya.

Harap dipahami, istilah centris itu berasosiasi dengan keyakinan terhadap pilihan kiblat. Setiap orang berhak atas kemerdekaan memilih dan menentukan cara dan ekspresi keberpihakan. Tak boleh dan tak berhak bagi orang lain mendikte, atau memaksakan kehendak.

Tak semua yang berbau Jakarta itu buruk, tak berguna. Orang bisa memilih dan memilah, mana yang berguna dan mana yang harus dibuang karena nyata-nyata sampah.

Demikian…