Petasan, Granat dan Bom

Ketika sebuah mention di Twitter meminta konfirmasi benar-tidaknya ada insiden pelemparan bom ke Pos Polisi Gladag, pertama yang muncul di kepala adalah: siapa lagi hendak bermain di Solo? Langkah pertama, karena tak sedang di Solo, saya mengontak teman-teman wartawan yang saya yakini sedang meliput ‘insiden’ itu.

Jawaban yang saya dapat sangat melegakan. Kata teman, yang dilempar hanya petasan besar, yang bunyinya menggelegar, lantas diasosiasikan sebagai bom. Sekitar pukul 02.00 pada Minggu, 19 Agustus, saya memperoleh update, bahwa petasan dibuat dengan medium sejenis pipa paralon, bukan kertas seperti lazimnya petasan.

Ditambahkan sang teman: tak ada indikasi penggunaan unsur bahan peledak yang lazim digunakan dalam merakit bom.

Pagi, usai shalat Ied, kaget baca berita, di mana Kapolres Solo menyebut ledakan di malam takbiran sekira pukul 23.30 itu, berasal dari granat berdaya ledak rendah (low explosive). Sejujurnya, saya bingung. Ketika seorang Kapolres menyebut demikian, saya jadi bertanya-tanya, mungkinkah seorang perwira menengah tidak tahu beda granat dan bom (dan petasan)???

Mungkin lantaran kepicikan saya saja, sebab belum pernah mendengar sebuah granat merupakan produk handmade alias rakitan. Kalau bom, saya sudah sering dengar, apalagi sejak bom Bali pertama, hingga bom-bom seterusnya.

Yang kian membingungkan adalah ketika baca berita, Presiden Yudhoyono minta penuntasan kasus ‘bom Solo’. Presiden, tentu tak boleh gegabah asal berujar. Karena SBY posisinya seperti saya, di mana sama-sama tidak di Solo, tentu dasar pernyataannya pasti atas sebuah laporan. Bedanya, saya tanya teman, SBY memperoleh laporan resmi, termasuk hasil analisis intelijen.

Jika demikian adanya, bahwa yang terjadi di Solo adalah pelemparan bom, maka orang seperti saya boleh berspekulasi dalam membuat interpretasi. Yakni, apa yang terjadi di Solo pada malam takbiran itu, bukan peristiwa biasa.

Entah siapa yang melakukan, pasti tindakan tersebut bermuatan sebuah PESAN penting. Terlalu dini jika pesan itu dikaitkan dengan kotanya Jokowi yang sedang berlaga jadi calon gubernur ibukota. Namun, agak berlebihan pula jika mengaitkan dengan ‘jaringan teroris Solo’, yakni sebutan untuk Islamis garis keras di sekitar Kota Bengawan.

Untuk menyebut insiden tersebut sebagai eksperimen keamanan, atau proyek keamanan, tentu akan dibolehkan, mengingat tidak jelasnya informasi. Apalagi, selama ini, saya kerap mencium ada gelagat sebagian kecil oknum aparat bereksperimen agak giat.

Pada perkara bom bunuh diri di Gereja Kepunton, beberapa bulan silam, pun tidak terlalu gamblang penjelasannya. Saya sendiri, cenderung mudah berprasangka lantaran rajin pula mengira-ira sebuah pola pada sejumlah perkara.

Secara pribadi (tentu sangat sumir karena tak mampu tunjukkan argumen memadai, apalagi bukti petunjuk), saya menganggap apa yang terjadi di Gladag, pada malam takbiran itu, bersumber dari sebuah petasan yang dilempar. Entah siapa pelemparnya, dan untuk tujuan apa, hanya pelaku, dalang, dan Tuhan yang tahu persisnya.

Saya menduga, hingga sekian bulan ke depan, tak akan ada kejelasan penyelesaiannya. Yang standar: kesulitan mencari barang bukti dan identitas pelaku karena peristiwa berlangsung sangat cepat. Itu juga berlaku untuk perkara penembakan oleh seseorang pemegang senjata yang diduga berjenis FN ke arah petuas jaga di posko mudik polisi di Gemblegan, Sabtu dinihari (sekira pukul 01.30?) yang mengakibatkan dua petugas terluka.

Apakah makna pesan yang dikirim pelakunya (apalagi jika pelakunya sama) sejatinya ingin mengatakan ‘Solo tak aman’? Kita tidak tahu juga. Kita pun tak mudah menghubungkan peristiwa itu dengan menafsirkan secara sembarangan atas pernyataan Fauzi Bowo, yang menyatakan ‘Jakarta aman selama perayaan lebaran’.

Saya, dan kita semua, tidak boleh mengembangkan pola tak ilmiah, yakni othak-athik gathuk alias menghubung-hubungkan satu dengan lain peristiwa saling berhubungan.

Tapi, penyebutan petasan oleh orang yang melihat di lapangan, lantas penyebutan granat berdaya ledak rendah hingga penyebutan sebagai bom oleh presiden, harus segera dijelaskan. Kita tak boleh membiarkan rumor, sebab itu berpotensi fitnah, yang merugikan orang/pihak lain.

Selamat merayakan Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin, jika tulisan di atas ngacau…

Updated, 21 Agt, pk 06.41:

Dalam pelaporan peristiwa seperti di atas, penulis selalu mendasarkan petunjuk di lapangan sebagai acuan utama, dilengkapi data-data yang dihimpun dari saksi (mata) yang relevan.

Satu hal yang membuat saya sering merasa terganggu adalah kecenderungan wartawan sekarang menerima begiu saja keterangan resmi. Kurang kritis menyodorkan petunjuk dari lapangan, dan meminta konfirmasi untuk menguji temuan.

Karena kelemahan itu pula, siapapun yang igij bereksperimen menjadi mudah mengarahkan agenda atau isu tertentu, sesuai kepentingan mereka. Demikian.

Bom Solo Siapa Punya

Saya sedang santai di rumah ketika BBM dan Twitter terdapat beberapa mention menanyakan kabar bom bunuh diri di Solo. Saya masih belum percaya ada bom, apalagi kejadian bom bunuh diri di Solo. Saya buka inbox SMS, imfonya lebih heboh: ada bom bunuh diri di gereja, lima tewas dan banyak yang terluka. Saya terdiam, cari informasi, dan menyatakan tak akan ngetwit jika belum melihat sendiri apa yang terjadi.

Dan benar feeling saya, yang sesungguhnya terjadi tak seheboh seperti bunyi banyak pesan yang dikirimkan kepada saya. Beberapa teman mengungkapkan kekecewaan karena ketiadaan update lewat Twitter, bahkan dengan nada sinis, pun saya diamkan. Saya bukan siapa-siapa, tapi takut ngetwit hal-hal yang saya tak tahu, atau me-retweet informasi yang belum saya verifikasi. Informasi mengenai insiden bom, apalagi di gereja, bukan perkara sederhana.

Dua jam setelah peristiwa yang terjadi pada Minggu (25/9) pukul 10.55 WIB itu, saya baru bisa mendekati lokasi. Barikade ada di mana-mana, semua penjuru menuju Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton. Polisi bersenjata berjaga, begitu pula anggota Linmas (dulu bernama Hansip) dan tentara. Sekilas tampak mencekam, walau saya paham sejatinya tak seseram yang dipertontonkan.

Saya memutuskan ke RS dr. Oen, tempat sebagian besar korban dirawat. Hingga menjelang sore saya di sana, dan (maaf) tak melihat ‘apa-apa’. Maksudnya, tak seheboh informasi yang beredar dari mulut ke mulut, perangkat telepon bergerak, hingga internet.

Dari belasan korban yang saya lihat dari bilik ke bilik ruang gawat darurat, lukanya memang, sekali lagi MAAF, ‘tak seberapa’. Dari situ saya menyimpulkan, pelaku pemboman adalah seorang ERRORIST. Tukang bikin error jelas beda dengan teroris. Cara bisa sama, tapi targetnya bisa beda.

Menurut saya, bom di Solo itu hanya untuk pengalihan isu. Saya menghubungkannya dengan banyaknya perkara serius di Jakarta, yang menyita perhatian siapa saja, dan mendominasi semua halaman dan jam tayang media massa, juga Internet. Prasangka saya, si ERRORIST tak mau bangsa Indonesia kian senewen membaca berita media massa, sehingga ia melakukan kebiadaban baru, walau alasannya tak bisa dibenarkan dari kacamata apa saja. Setan itu ya begitu: biadab, keji!

Sejak 2002, saya telah mengikuti isu-isu terorisme. Ya liputan, ya pernah juga bantu riset baik untuk penelitian ilmiah maupun untuk perencanaan bikin film semidokumenter seorang sutradara kontroversial asal Australia. Sejak 2002, peta kelompok garis keras kian banyak. Ada yang steril, ada yang terkontaminasi.

Ketika orang mengarahkan perhatian dan tuduhan ke Ngruki, saya melihat yang lain. Ada sempalan, ada yang ‘bermusuhan’ dengan mereka. Saya pun mendapat jawaban, walau cuma berupa semacam isyarat, dari Ustad Ba’asyir bahwa memang ada ‘anak-anak muda’ yang berpikiran sempit, emosional karena terlalu bersemangat, hingga memasukkan Indonesia dalam kategori ‘zona perang’ sehingga orang bisa berbuat apa saja, menggunakan ‘hukum’ yang diyakini sendiri atau bersama kelompoknya.

Kadang saya ngeri dengan sikap pengelola media massa yang lebih suka memandang persoalan dari sisi keramaiannya saja. Bukan saja hal itu akan membuat persoalan bias ke mana-mana, tapi lebih dari itu, publik dibuat bingung olehnya. Alhasil, orang lantas mengembangkan imajinasinya, bukan menganalisa dengan berbekal data, petunjuk dan fakta.

Jika media massa sudah turut (sengaja atau tanpa sengaja) memperkeruh suasana, apakah onliner harus mengikuti jejak mereka? Pada sisi itulah saya mengambil sikap berbeda. Tak mau buru-buru mengabarkan sesuatu tanpa ada bekal yang saya merasa tidak tahu. Coba kita berkaca, apa yang sudah dihasilkan dari riuh kicauan asal-asalan?

Jurnalisme damai, pemberitaan tentang konflik, bukan perkara sederhana. Kita masih ingat, bagaimana akibat kecerobohan jurnalisnya, TV One pernah dilarang meliput peristiwa terkait keluarga tersangka teroris. Kita tak bisa menyalahkan pihak yang beperkara, atau jurnalis lantas tersinggung dan ‘menyerang’ pihak lain dengan menggunakan pasal menghalang-halangi kerja jurnalistik seperti diatur dalam UU tentang Pers.

Baik di dunia jurnalistik maupun media sosial, semua orang harus mengedepankan hak orang lain untuk mendapatkan informasi yang jujur, berimbang, dan akurat. (Sementara berhenti di sini dulu, ah… Nanti dilanjut lagi)

Bersambung ke Bom Solo Siapa Punya (2)