Good News itu Kabar Baik

Jika kalangan jurnalis menyukai bad news is good news, saya menyebut aktivitas blogging dengan istilah good news is good news, kabar baik. Saya sebut kabar baik, karena mayoritas blogger lebih banyak mengisi blog-nya dengan materi-materi opini dan testimoni positif, baik berupa tulisan, foto, audio, video, maupun gabungan di antaranya.

Kalaupun ada segelintir yang nyinyir, seperti saya, anggap saja karena masih terpengaruh gaya pelaporan dan penulisan seorang jurnalis, dengan dalih budaya industri media mengarahkan pada bad news is good news tadi. Selain itu, ada keharusan berpihak pada seorang jurnalis (dan media) untuk membantu pihak yang voiceless dalam pengertian yang sangat luas, utamanya antara hak publik dengan kewajiban (penyelenggara) negara.

Tapi soal blogging, kini kian memiliki peran penting. Hal-hal yang dianggap remeh oleh industri pers kini bisa dipublikasikan oleh siapa saja, tanpa berhitung lagi siapa (jumlah) yang akan membaca. Rating menjadi tak penting, sebab setiap orang bisa mendapatkan informasi (penting) yang dibutuhkan lewat googling, sebutan baru untuk aktivitas pencarian lewat Internet.

Blogger lambat laun menggerogoti peran jurnalis hingga dijuluki sebagai pewarta warga karena ketiadaan ikatan industrial dengan institusi bisnis media dan sifatnya yang cenderung ‘kesaksian’ dan keinginan berbagi ceritera atau informasi.

Dan, seperti layaknya penceritera pun, kredibilitas blogger sebagai pewarta akan dinilai publik secara terbuka. Yang lebay, berlebihan karena penyampaian yang berbusa-busa justru akan menurunkan kepercayaan dari penerima informasinya. Tapi penyampaian spontan, apa adanya, bisa membuahkan kecintaan dan menaikkan tingkat kepercayaan.

Penyodoran data pendukung dan kutipan pernyataan (quotation) dari pihak yang relevan dengan pokok bahasan kian mengukuhkan kualitas informasi. Soal seseorang bisa menuturkan secara runtut atau tidak, bahkan bisa dianggap bukan sebagai persoalan yang mengganggu, lantaran komunikan akan bersikap lebih toleran, bisa memaklumi sebuah keterbatasan kemampuan blogger dalam menyampaikan pesan. Intinya, publik tak terlalu banyak menuntut.

Cerita tentang sebuah obyek wisata, misalnya, bisa disampaikan dengan model laporan pandangan mata. Spontanitas penuturan terhadap obyek yang dilihat dan dirasakan sudah cukup menjelaskan dan bisa memancing rasa penasaran orang lain. Apalagi jika disertai tips-tips yang dibutuhkan, seperti cara menjangkaunya dari lokasi tertentu seperti terminal bus/kereta api, pusat kota, dan sebagainya. Foto/video bisa disertakan, bahkan kini bisa menambahkan peta dan koordinat sehingga pelancong tak mudah tersesat.

Berangkat pada prinsip good news is good news dalam kegiatan blogging itulah, saya sering menyerukan kepada teman-teman blogger untuk tak segan mengunggah pesan, lewat blog dan media jejaring sosial lainnya. Kalau perlu, ditambah review singkat, bagaimana ketersediaan akses telekomunikasi, baik yang berbasis suara maupun Internet. Tampaknya sepele, tapi hal ini penting untuk orang-orang jaman sekarang.

Hanya bercerita tentang sebuah obyek tujuan wisata, kita bisa mengembangkan cerita hingga merambah ke banyak hal. Pelancong kadang butuh angkutan umum atau sewa mobil/sepeda motor, informasi kuliner, hingga buah tangan untuk dibawa pulang. Secara tidak langsung, seorang pencerita akan memberi manfaat ekonomis kepada supir dan keluarganya, pedagang cinderamata dan pengusahanya, serta keluarga besar mereka.

Blogging, menurut saya adalah aktivitas penting dan mulia, karena ia bisa memberi manfaat kepada siapa saja, bahkan orang-orang yang tak kita kenal, beserta keluarga besar mereka. Bisa dilakukan sesuka hati, tanpa beban, tanpa pretensi muluk-muluk bisa mengubah dunia, namun akan terasa benar buahnya.

Asal tahu saja, tulisan ini pun sejatinya muncul secara spontan saja, meski kegelisahan sudah lama mendera. Sering saya mengikuti ajang kumpul-kumpul komunitas blogger di berbagai daerah, namun masih banyak yang lupa  terhadap hal-hal ringan demikian. Pernah misanya, saya bersama 250-an blogger diajak mengunjungi sebuah pabrik boneka dengan luas ruang kurang memadai. Saya merasa tak bisa mengamati secara detil lokasi dan produknya, sehingga sepulang dari sana, saya tak bisa bercerita apa-apa meski punya beberapa rekaman fotonya.

Pernah pula, dalam jumlah ribuan, kami ada di satu kota selama beberapa hari. Lantaran setiap hari kepada kami disodorkan materi-materi ‘perkuliahan’, maka hanya sebagian kecil dari kami yang bisa berinteraksi dengan lingkungan setempat. Kebanyakan dari kami tak sempat bisa merasakan banyak hal terkait dengan kekayaan materi lokalitas untuk kami ceritakan kembali kepada orang banyak. Momentum yang bagus, tapi sayang lantaran tak memperoleh tambahan bahan cerita.

Dalam konteks pertemuan komunitas blogger, hal demikian layak menjadi pertimbangan. Orang yang sudah jauh-jauh datang bertandang, punya kecenderungan bisa mendapat oleh-oleh untuk dibawa pulang, walau sekadar ceritera semata. Pembaca blog saya akan percaya jika saya bercerita banyak hal tentang Solo, lantaran tahu saya tinggal di Solo.

Tapi sebagai orang dari Solo, cerita saya tentang keindahan dan kekayaan wisata Jayapura atau Malang yang saya kunjungi, akan lebih bernilai dan menarik perhatian orang dibanding cerita-cerita tentang Solo.

Apalagi jika saya bercerita tentang maraknya pemakaian baju batik bermotif burung Cenderawasih atau tifa di kalangan masyarakat Papua (lihat foto ilustrasi). Masyarakat Jayapura, yang tak memiliki tradisi membatik pada kain katun akan menjadi cerita tersendiri. Begitu pula dengan pemakaian batik secara resmi oleh karyawan di instansi pemerintahan dan swasta di sana.

Akan kian menarik pula cerita tentang orang Jayapura yang memelopori pembuatan batik setelah belajar di Pekalongan, Jawa Tengah, lantas menularkan kepada tetangga kiri-kanan hingga pembatik tulis di jayapura mencapai jumlah hampir seratus orang banyaknya. Belum lagi dengan cerita keberhasilan sang pelopor batik Papua yang memiliki gerai bergengsi di Denpasar dan Jakarta, dengan corak dan motif ‘asli Papua’ dan sebagainya. Itulah good news is good news-nya.

Tentu hasilnya akan sedikit berbeda kalau cerita batik Papua itu diangkat ke ranah jurnalistik mainstream, yang masih berpedoman bad news is good news. Hampir bisa dipastikan, keberadaan beberapa toko batik besar milik pendatang dari Jawa akan dimasukkan juga ke dalam laporan. Termasuk, adanya industri batik di Yogyakarta yang turut membanjiri pasar batik Papua, meski corak dan motifnya tetap lokal.

Demikian…..

Ngeblog Apa Ngetwit?

Fesbukan oleh, ngetwit ya ora dadi perkara, waton isih padha gelem nganyari crita ana bloge dhewe-dhewe. Kanthi ngeblog, kita bisa nularake kawruh marang sapadha-padha titahe Gusti Allah. Bisa lumantar seratan, foto utawa gambar, swara utawa malah nganggo video. Aja nganti seneng ngetwit wae, banjur ngebloge lali.

Wis akeh contone, sing mbiyen kondhang kawentar minangka tetungguling donya blogging nanging saiki wis ora nate posting. Nanging ngetwite prasasat kaya ngising, weteng lara yen nganti telat anggone ngoceh.

Ngetwit ora ana klerune. Wong ana kana bisa uga nularake crita lan kawruh, uga piwulang-piwulang becik. Aku uga sinau marang sapa wae lumantar Twitter. Facebook wis suwe dak tinggalake, mung yen eling wae dak tiliki. Iku wae yen eling lan kober.

Nanging babagan ngeblog, sanajan wis ora bisa kerep kaya mbiyen, banging isih ana rasa ngganjel yen ora ngunggahake crita anyar, sanajan mung elek-elekan.  Isin rasane ngaku blogger yen ora tau nganyari tulisan utawa foto ana ing blog.

Nah, crita-crita blog lan blogger, aku banjur kelingan krentege kanca-kanca blogger sanuswantara, kang wiwit Jemuwah, 28 Oktober tumekane 30 Oktober padha arep lungguh sapejagong, ana kutha Sidoarjo, sawetane samodra lendhut anger utawa Lumpur Lapindo.

Perlune mung pingin padha guyub, rukun lan ijol-ijolan kawruh. Sinau antarane wong siji lan liyane. Sokur bage, ana kana banjur nemu dalan rejeki, embuh saka gawe website utawa liya-liyane. Dodolan barang lan keprigelan, nyatane bisa ditawakake lumantar blog. Embuh iku dodolan kaos, bathik, panganan lan sapanunggalane.

Bakune, kanthi blogging bisa gawe bungah ati, oleh kanca lan sedulur anyar, utawa oleh ilmu becik, saliyane nularake kabecikan uga.

Muga-muga, para kadang lan sedulur kang arep kumpul ing Sidoarjo oleh slamet karahayon saja Gusti Kang Murbeng Dumadi. Welingku, Aja padha lali ngeblog. Yen mung trima dhemen Twitteran, becik pada melu kopdar utawa kumpulan karo grombolan oceh-ocehan wae neng mBetawi kana, suk Desember, jarene.

Merenungi Indonesia

Sesungguhnya yang lebih maju disebelah Timur Indonesia itu hanyalah waktu berbuka & sahur. selain itu tertinggal semua #Merdeka #ea #fakta

Saya terdiam membaca linimasa, lalu terhenti dan diam membaca tulisan @almascatie. Hingga saya memulai menulis ini pada pukul 00, twit yang bukan kicauan asal-asalan itu hanya dipancar ulang empat kali, hampir tujuh jam. Dari kalimat Blogger Maluku yang baru sekali saya jumpa di Jakarta, Oktober lalu, itu, saya sebagai ‘orang Barat’ tersentil.

Jauh sebelum Proklamasi dikumandangkan Soekarno-Hatta di Pegangsaan, Thomas Matulessy sudah berjuang habis-habisan untuk mengusir penjajah. Ia, Kapitan Pattimura, itu bahkan berhasil menggalang kekuatan perlawanan bersama kerajaan Ternate, Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi hingga Jawa. Kebersamaan sudah ditunjukkan, jauh sebelum ada kebangkitan Boedi Oetomo, Sarikat Islam dan sebagainya di Jawa.

Bumi Nusantara yang kayalah, yang sejatinya mendorong berbagai bangsa di dunia berusaha menaklukkan ganasnya samudera. Rempah-rempah dan hasil perkebunan dari negeri subur pula yang membuat antarbangsa bersengketa, lantaran ingin memonopoli hasil bumi Nusantara. Inggris, Portugis, Belanda, Jepang, semua tergila-gila akan kekayaan kita, jauh sebelum ada nama Indonesia.

Lalu, datang suatu masa, ketika ratusan pemuda: Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Java dan banyak lagi yang mewakili suku dan etnis se-Nusantara bertemu, sebagai upaya merajut kebersamaan, lantas melawan penindas dan perampok kekayaan. Mereka tak tergerak secara tiba-tiba, namun dilandasi semangat warisan leluhur mereka, yang telah puluhan hingga ratusan tahun merasa diperlakukan tidak adil oleh bangsa pendatang.

Apa yang ‘dikicaukan’ Almascatie perlu kita renungkan bersama, ketika hari ini, kita semua merayakan 66 tahun kemerdekaan Indonesia. Sudahkan keadilan merata, bagi rakyat yang dulu juga telah melahirkan pahlawan-pahlawan di daerahnya, namun dipersembahkan untuk sebuah bangsa bernama Indonesia?

Kalau yang berada di bagian ‘Timur Indonesia’ pun belum mengecap manisnya kemerdekaan, apakah arti kita meneriakkan kebersamaan? Semaju apakah pembangunan di Timur, yang desainnya ditentukan dari Jakarta (yang Barat), selain mengirim gergaji mesin dan buldozer, untuk menumbangkan pepohonan dan  mengeruk perut bumi untuk dijual ke luar negeri? Sudahkan saudara-saudara kita di sana mengenyam pendidikan yang memadai?

Mestinya, sebagai bangsa kita sedih, ketika kemakmuran dan hasil-hasil pembangunan tak kunjung merata dan lebih banyak dinikmati mereka yang hidup di Jawa. Justru terlalu banyak orang yang menderita adalah mereka yang tinggal di lingkungan kaya, seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Sumatera dan masih banyak lagi.

Mari kita tanya kepada aparatur negara kita, seberapa banyak infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang mempermudah saudara-saudara kita di luar Jawa untuk memperbaiki nasibnya dengan cara mengelola lingkungannya?

Saya, dan banyak orang yang tinggal di Pulau Jawa, sepertinya hanya menjadi manusia-manusia cengeng, yang selalu mengeluh dan mengaduh, ketika kenikmatan hidup terganggu sedikit saja. Tidak bisa main Twitter selama satu jam seperti tersiksa puluhan tahun, padahal kebanggaan yang ditunggu-tunggunya hanya semu belaka, ketiga sebuah kata atau frasa menjadi perbincangan utama di antara pengguna Twitter sedunia.

Kita banyak yang lupa, di pedalaman Kalimantan, atau Sumatera saja, masih banyak petani yang berhari-hari termenung, kebingungan mengangkut hasil panennya untuk diuangkan di ‘kota’ lantaran buruknya sarana dan prasarana transportasi, juga komunikasi.

Tak adil rasanya, membandingkan fasilitas dan intrastruktur Jawa dengan non-Jawa yang begitu timpang, hingga puluhan tahun mengenal kata ‘merdeka’, namun sejatinya tak merasakan apa-apa. Apakah hanyan karena Jawa dihuni mayoritas bangsa Indonesia sehingga semua bentuk dan praktek pembangunan dikonsentrasikan? Saya kira, semua berhak memperoleh dan merasakan buah kemerdekaan, bukan sebaliknya, meratapi tiada henti.

Terlalu banyak teman meneriakkan optimisme semu, karena tak pernah menyuarakan ketidakadilan. Padahal kita tahu, para politisi dan penerima mandat pengelolaan pemerintahan, lebih takut dikritisi, dicerca dan diolok-olok karena kegagalan dan ketidakbecusan mereka mengelola pemerintahan, walau hanya lewat berita-berita media massa, media Internet, temasuk status Facebook dan kicauan Twitter.

Kadang saya sedih, mungkin ini pula bentuk kenaifan saya, menyimak linimasa Twitter dan percaturan teman-teman di dunia maya, selalu mengajak bertutur yang serba baik. Dengan polosnya mereka menyanjung keberhasilan yang bisa jadi cuma polesan konsultan komunikasi dan pencitraan, dan menjauhi sikap kritis, menyodorkan fakta-fakta dan petunjuk ketimpangan. Seolah-olah, yang kurang menjadi tak pantas disebut, sehingga harus disimpan rapat-rapat di almari besi.

Entahlah, mau disebut apa manusia seperti saya, yang lebih banyak bertutur nyinyir dibanding pamer optimisme. Berat bagi saya untuk berpura-pura, apalagi mengisi dan memaknai kemerdekaan hanya lewat penyebaran tagar atau hastag tertentu, semata-mata demi status masuk trending topic percakapan dunia.

 Saya ingin mengajak teman-teman onliner(s) menyimak kicauan @ipulgassing berikut:

Dear blogger, adalah lbh apik kalau kalian posting sesuatu ttg hr kemerdekaan selain ngetwit pake hashtag itu..

Dengan ngeblog, kita bisa menyodorkan petunjuk-petunjuk otentik untuk kita berbangga, atau sebaliknya, meratapi yang masih terjadi di sekitar kita. Cukup banyak berita media massa, yang bercerita tentang yang serba baik saja, atau laporan hasil reportase jarak jauh, atau hasil jurnalisme cangkem alias pernyataan-pernyataan resmi yang serba baik belaka.

Seorang blogger, mislanya, bertutur melalui postingan apa saja, tentang kekayaan dan kekurangan yang dialami atau dijumpai di sekitarnya. Twitter, bagi saya, masih hanya kicauan selewat saja, yang sudah dilupakan keesokan harinya.

Jika Anda masih optimis, tunjukkan cerita-cerita baikmu lewat blog. Begitu juga sebaliknya, supaya kita semua bisa berkaca, lalu menyusun strategi untuk mengantisipasi dan mengubahnya. Kekacauan pembangunan kita, lantaran para pengambil kebijakan asyik dengan asumsi dan ilmu kira-kira, serta laporan serba baik semata. Syukur,  selain lewat blogging juga ditunjukkan dengan tindakan nyata.

Mari, ajarilah saya yang bisanya juga masih berkata dengan berbusa-busa semata.

 

 

 

 

Sharing Keliling di Balekambang

Memang tak banyak orang mau datang dalam kegiatan semacam workshop atau pelatihan. Apalagi blogging. Tapi, saya senang dengan kehadiran enam puluhan teman-teman muda mau intens mengikuti workshop blogging yang digelar oleh SalingSilang bertajuk SharingKeliling, Sabtu (13/8) sore. Mengajak blogging bukan perkara enteng.

Jangankan tanpa imbalan atau iming-iming. Bahkan lomba blogging berhadiah mahal sekalipun, tak semeriah kuis lewat Twitter atau Facebook. Saya tak paham, walau masih menduganya sebagai gejala generasi instan. Kalau sudah begini, saya cenderung mencari kambing hitam.

Apa yang dilakukan SalingSilang, sebenarnya memberi manfaat kepada pbanyak orang, dan kelak, menyumbang perbaikan peradaban. Asal tahu saja, tak banyak orang mau berbagi pengetahuan, memotivasi orang, tanpa imbalan. Nyatanya, banyak selebritis blogging yang sebenarnya diam-diam dijadikan panutan banyak orang, juga tak gampang turun gunung berbagi ilmu, memotivasi.

Blogging, apapun kontennya, baik teks, foto, audio, video, atau gabungan di antaranya, pasti berguna bagi orang lain. Bahkan konten curhat sekalipun, tetap memiliki nilai bagi orang lain, sepanjang cara mengemasnya benar sehingga sajiannya menjadi menarik.

Satu pesan singkat masuk ke handphone saya dari seorang peserta. “Sayang waktunya cuma bentar, om…,” kata Friska, dari Komunitas Toelis, yang datang bersama tujuh temannya. Tiga ikut kelas menulis, selebihnya fotografi.

Bgi Friska dan teman-temannya, menulis adalah kesukaan. Selain puisi, juga esai. Malah, mereka bikin buletin, yang dikerjakan secara keroyokan, lantas diterbitkan secara patungan, yang diedarkan kepada teman-teman sekolahnya, juga ke kantong-kantong budaya. Agak mahal, memang. Tapi, ya itulah yang dinamakan keseriusan.

Mestinya, di era kini, ketika berbagi gagasan dan ceritera bisa sangat murah dan mudah karena nonkertas, pertumbuhan jumlah produsen konten kian banyak. Nyatanya? Silakan cek di mesin pencari.

Namun, workshop seharian sekalipun, belum tentu menghasilkan produsen konten. Masih banyak yang menanggap blogging, terutama yang berupa tulisan, terlalu berat diwujudkan. Banyak orang salah mengerti, menulis itu harus berstandar buku, karya jurnalistik, atau paper seminar. Bagi saya, itu terlalu muluk-muluk dan membuang energi.

Blogging cukup dimulai dari bercerita tentang diri sendiri, dan lingkungan sehari-hari. Sibuknya tetangga menjahit baju atau merajut kain perca menjadi alas kaki yang dipasarkan saat arisan pun sudah cukup. Atau, tetangga yang sakit tak kunjung sembuh lantaran tak punya duit untuk berobat, pun bisa diceritakan. Itu semua adalah fakta, yang bisa jadi membuat orang yang membaca tergerak hatinya untuk membeli alas kaki dari kain perca, atau menyumbang orang yang sedang terhimpit kesulitan.

Tak usah berpretensi muluk-muluk. Ketulusan sebuah penceritaan, bisa diapresiasi pembaca secara sepadan. Saling menanggapi lewat fasilitas komentar akan memperkaya perspektif dan referensi, sehingga konten yang kita produksi memiliki arti, bernilai, tak cuma buat kita, tapi siapa saja yang membaca.

Ngeblog ya ngeblog saja. Tak usah berharap dapat penghasilan dari sana supaya kita tak terjebak olehnya.

Tapi, harus diakui, yang menjadi beban seorang penulis pemula, adalah pergulatannya menentukan kata untuk dijalin menjadi kalimat pembuka. Orang sering terjebak pada penulisan berita yang kerap dijadikan rujukannya. Padahal, apa kata pertama yang keluar dari kepala, bisa segera dituliskan, lalu diotak-atik, dicarikan kata lainnya untuk dirangkai sehingga menjadi kalimat bermakna.

Abaikan saja, kelak akal ada yang membaca atau tidak. Sering terjadi, orang merasa malu atau minder duluan kalau tulisannya dibaca orang yang dianggap lebih jagoan. Padahal, dengan munculnya perasaan minder itu, energi seseorang terkuras habis-habisan. Tubuh keringatan, telapak tangan dingin tak karuan.

Ngeblog itu, ya santai saja. Kalau selagi di jalan lantas menjumpai rambu-rambu lalu lintas dirusak angan-tangan jahil berupa grafitti, misalnya, bisa dipotret pakai kamera yang ada di telepon genggam, atau kamera saku yang kita bawa. Bisa diunggah di blog, Facebook atau Twitter, agar orang lain tahu, dan bisa berkaca dari sana.

Terlalu banyak hal-hal menarik di sekitar kita, yang bisa dijadikan bahan postingan di blog. Kalau berminat mau lebih serius, ya boleh-boleh saja. Misalnya, mempromosikan kekayaan budaya, atau industri kerajinan di kampung kita. Apalagi, melihat tren pariwisata kini, di mana orang lebih suka mencari yang aneh-aneh. Makanan terbuat dari singkong bernama ‘gatot’ misalnya, bisa diceritakan proses pembuatannya, dijual di mana, dan sebagainya, bisa menarik orang menikmatinya. Apalahi, jika pada postingan ditampilkan fotonya. Apa adanya, suka-suka. Tak harus foto berkualitas bagus, karena kita memang tak perlu menjadi fotografer profesional untuk melakukannya. Dari telon genggam pun bisa, dan berguna.

Asal-usul nama kampung saja cukup menarik kok kalau diceritakan….. Apalagi Taman Balekambang, yang dijadikan tempat workshop Sharing Keliling, yang sudah pasti punya nilai sejarah, sekaligus eksotisme tersendiri sebagai sebuah ruang publik… Coba deh, cekidot di mesin pencari, ada apa dengan Balekambang? Dari hasil pencarian, bisa juga kok dijadikan inspirasi penulisan….

Ayo, siapa yang belum punya blog, atau sudah punya tapi malas update blog?

Memahami Hak

Membaca puluhan tulisan teman-teman blogger, saya optimis masa depan blogging di Indonesia akan menggembirakan. Dan yang menarik, banyak dari mereka adalah blogger independen, dalam arti bukan anggota komunitas blogger. Saya melihat ada semangat berbagi ceritera atau informasi lewat tulisan, yang biasanya dilengkapi foto atau tautan video. Tapi, beberapa kekurangan juga sempat saya ingat.

Hampir semua tulisan yang saya baca terantuk masalah bahasa. Membedakan di sebagai awalan atau kata depan saja, umumnya kebingungan. Dipukul, sebagai contoh, justru ditulis di pukul. Padahal, di sebagai awalan mestinya digabung dalam penulisannya. Sementara, di sebagai kata depan yang harusnya dipisah, seperti di rumah, di mobil malah ditulis dirumah, dimobil.

Saya terpaksa ‘toleran’ dan tak enak hati kalau harus memberi catatan pada kolom tanggapan yang tersedia. Untuk sementara, biarin aja. Saya terpaksa memaklumi karena para penulis itu menunjukkan kesungguhannya dalam menyiapkan tulisan. Referensinya memadai, dan relatif runtut dalam menulis. Banyak yang naratif, sehingga mudah dipahami dan tidak menimbulkan kebosanan bagi pembacanya. Padahal, tulisannya termasuk panjang.

Kalaupun saya harus mengatakan ‘kekurangan’ lainnya, masih ada beberapa yang kurang percaya diri, sehingga panjangnya tulisan disebabkan karena banyaknya kutipan dari sumber rujukan. Padahal, dalam blogging, akan lebih enak kalau diwakili tautan atau link. Dengan tautan, pembaca bisa merujuk sumber otentik, sehingga memungkinkan terjadinya pengembaraan intelektual. (Hahaha…. sok serius, ya?)

Terkait dengan kesamaan tema, yakni tentang kebebasan berekspresi, saya menemukan banyak blogger yang terjebak pada ketidaktahuan akan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Pada sisi inilah, teman-teman blogger banyak yang lengah. Mereka keliru dalam memandang kedudukan pemerintah dalam sebuah negara. Pada saat yang sama, mereka juga lupa, bahwa sebagai warga negara, mereka punya hak untuk menuntut kepada pemerintah agar berlaku adil untuk kemaslahatan bersama seluruh warga negara dan penghuni sebuah negara.
Dalam perkara pasal 27 ayat 3 Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), misalnya, banyak yang menganggap pemerintah memang punya kewenangan menerbitkan aturan semacam itu, bahkan dalam sebuah undang-undang yang spirit sesungguhnya lebih condong sebagai landasan hukum perdata.

Pasal itu memuat ancaman pidana tentang tindakan yang dikategorikan sebagai ‘pencemaran nama baik’. Selain antiketerbukaan dan antikritik, pasal itu cenderung disalahgunakan pemerintah sebagai penyelenggara negara, untuk berlindung dari serangan atau kritikan atas kesalahan yang diperbuatnya, baik secara sengaja maupun tidak.

Sementara, larangan serupa sudah ada di dalam KUHP, terutama pasal 310 dan 311. Uniknya, pasal itu diklasifikasikan sebagai pasal karet, atau kalangan pers menyebutnya sebagai hatzai artikelen. Itu merupakan produk hukum kolonial yang dilanggengkan penyelenggara negara, di mana misi utamanya adalah untuk menyatakan bahwa ‘pemerintah tak pernah salah’. Karena itu, sebuah kritik akan berbuah petaka.

Kita terlalu meremehkan makna ‘nama baik’ bagi seseorang atau lembaga. Seseorang yang karena jabatan dan kekuasaannya terindikasi korup, lantas dicurigai telah melakukan tindakan korupsi, merasa tersinggung, lantas menuntut orang yang menyebutnya sebagai tindakan mencemarkan nama baik.

Uniknya, aparat penegak hukum di Indonesia tak pernah mau menggunakan asas pembuktian terbalik, misalnya mencocokkan harta kekayaan yang dipertontonkan seseorang dengan sumber pendapatannya. Seorang Anas Urbaningrum yang dipojokkan oleh pengakuan sepihak Nazarudin, misalnya, bisa dirunut perolehan kekayaannya. Berapa gaji dia sebagai anggota DPR, cocokkah dengan, konon, kepemilikan sejumlah rumah dan mobil-mobil mewah senilai milyaran?

Apa sumber pendapatan legal atau wajar seorang Anas Urbaningrum, Nazarudin, para hakim, jaksa dan polisi, komisioner KPK yang menjadi penyidik perkaranya, dan seterusnya dan sebagainya. Dari sana, dengan tracking yang memadai, maka ‘nama baik’ akan menemukan pijakannya.

Demikian sedikit catatan saya, dari pembacaan puluhan tulisan yang dilombakan oleh Internet Sehat. Khusus ‘kelemahan’ berbahasa, sebaiknya jangan membuat teman-teman kendor update blog. Kian hati-hati saja, tetap menulis sambil memperlincah berbahasa. Soal gaya bertutur, suka-suka saja. Blog bukan karya akademik, juga bukan karya jurnalistik.

Referensi penting buat blogger, silakan baca tulisan Donny Verdian.