Lomba Blogging Masih Diminati

Lomba blogging, ternyata belum sepi peminat, sehingga hoax saja pendapat seorang pakar telematika (spesialis metadata?!?) bahwa ngeblog hanyalah tren sesaat. Buktinya, lomba bertema tentang disabilitas/difabilitas yang digelar KitaSetara, akhir tahun lalu, diikuti blogger dengan 99 postingan didaftarkan.  Tema itu, menurut pendapat banyak orang, termasuk tema berat.

Beda dengan tema asik semacam wisata dan sejenisnya. Pengalaman lomba bertema fun yang kami selenggarakan tiga tahun silam, diikuti lebih dari 500 peserta, dengan 565 judul postingan. Padahal, kurun waktu lombanya hampir sama, sekitar satu bulanan saja, dan nilai hadiahnya pun setara.

Mungkin terlalu terburu-buru saya menyimpulkan seperti itu. Apalagi, sebagai blogger, saya termasuk malas memperbarui postingan, apalagi blogwalking. Beda dengan blogger super, Donny Verdian, yang rutin update isi blognya, setiap Senin dan Kamis. Eh, kini malah lebih rajin. Update blog setiap hari… Continue reading

Workshop untuk Blogger

 

Kak Nukman berbagi cerita

Komunitas Blogger Bengawan menggelar workshop sumberdaya komunitas blogger, 14-16 April kemarin. Pesertanya memang terbatas, dalam arti tidak melibatkan banyak orang dari banyak komunitas. Workshop biasa saja sebenarnya. Sebab peserta yang diundang hanya mereka yang diasumsikan senasib dengan kami: kemampuan terbatas, referensi dikit, dan minim jejaring.

Memang disinggung juga tentang pengorganisasian event atau program komunitas. Tapi, semua materinya masih pada klasifikasi elementer alias kulitnya saja. Oleh karena itu, kami memerlukan seorang fasilitator workshop, yang tak lain dan tak bukan adalah Om Agus Gunawan Wibisono, yang sejak beberapa tahun terakhir intens mengawal perjalanan Bengawan.

Dari Om Gun, kami banyak dibimbing mengenali potensi komunitas (blogger) terkait lingkungan sekitarnya. Selalu ada banyak pemangku kepentingan (stakeholders) dalam sebuah sistem sosial, tak terkecuali komunitas blogger yang bisa pula disebut civil society organization/CSO.

Peserta serius menyimak...

Sebagai organisasi masyarakat sipil, individu-individu yang terorganisir diasumsikan bisa turut mewarnai dinamika sosial-budaya (juga ekonomi dan politik) sebuah wilayah. Terorganisir yang dimaksud adalah memiliki pengetahuan dan referensi memadai mengenai lingkungan di mana mereka tinggal, sehingga dengan bekal itu bisa lebih mampu berkiprah, sekecil apapun dampak bagi di luar dirinya.

 

Cak Teddy Bara Iskandar, paling bersemangat dalam berbagi...

Apakah seorang blogger harus menjadi aktivis, pebisnis, politisi atau apapun namanya, semua kembali ke individunya. Tapi dalam konteks berorganisasi, cukup banyak peluang yang bisa diperankan oleh individu-individu dalam sebuah komunitas untuk turut melakukan proses dinamisasi, terutama ketika menghadapi beragam kepentingan.

Pemerintah, korporasi, partai politik, publik, kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan (minoritas) dari sebuah sistem, merupakan pemangku kepentingan dalam konteks pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Demikian pula komunitas blogger, yang bergelut dengan TIK dan media baru, termasuk di dalamnya social media.

Ada sejumlah problem klasik yang dihadapi kebanyakan komunitas blogger. Ada yang tak memiliki sumber dana (tetap maupun temporer), tak memiliki tempat kumpul yang menetap (apalagi sekretariat), juga keterbatasan jejaring. Soal resources dalam arti manusia, nyaris semua anggota komunitas blogger memiliki passion berbagi kepada sesama dan lingkungan sekitarnya, bahkan ‘kelewatan’ pada beberapa hal.

Mbak Devi cerita posisi XL dalam jagad Internet Indonesia

Diundang kopdar atau menghadiri sebuah gelaran acara komunitas blogger lain, misalnya, orang suka berbondong-bondongg meramaikan, dengan biaya masing-masing. Pokoknya demi kopdar, bisa bertegur sapa dan berbagi pengalaman antarteman, sudah melegakan dan membahagiakan. Begitu watak asli para anggota komunitas blogger.

 

cinderamata, kaos untuk peserta...

Intinya, saling meramaikan dan memeriahkan gelaran kopdar atau acara apapun yang diselenggarakan komunitas lainnya. Soal ongkos transpor, urusan belakangan. Yang penting budhal begitu memperoleh undangan ketemuan, kopdar atau (apalagi) sebuah event komunitas.

Tapi, ada hal yang menggelisahkan saya dan sejumlah teman, baik di Bengawan maupun dari daerah-daerah lain. Yakni, adanya kecenderungan sebagian teman untuk merangkul banyak kawan dengan dalih aneka macam, namun sejatinya adalah bentuk ‘penunggangan’. Maksudnya, punya agenda tersendiri dengan pihak ketiga, namun tak mau terbuka.

Mbak Shita Laksmi memaparkan tema hak asasi manusia dalam workshop blogger. Dialah yang pertama kali berminat mewujudkan terselenggaranya workshop penting ini... Sila follow @slaksmi

Hanya satu-dua, memang. Tapi itu merupakan gejala tak baik sehingga mengancam kerukunan antarblogger. Persaudaraan yang semula happy-happy bergeser menjadi berhitung untung-rugi lantaran ada kecurigaan/kekuatiran dikapitalisasi. Padahal, yang demikian belum tentu mudah terjadi, dan tak mudah menemukan jejak sebagai bukti (sebuah prasangka).

Tentu, yang membahayakan adalah jika prasangka dibiarkan berkeliaran dan berkembang di benak masing-masing orang. Belum tentu mudah menemukan bukti, tapi keretakan silaturahmi kian melebar menjadi-jadi.

Mas @didinu menceritakan proses SocMedFest 2011 didampingi @motulz, sesama SalingSilang

Atas dorongan keprihatinan akan munculnya ancaman keretakan ukhuwah onliniyyah itulah, saya berdiskusi dengan sejumlah teman dan tokoh Internet di Indonesia. Beruntung, Mbak Shita Laksmi dari HIVOS menyambut baik dan menawarkan fasilitas pembiayaan gelaran workshop. Lalu, ada Kang Nukman Luthfie (Virtual Consulting) yang rela berbagi gagasan dan mau memotivasi kami, juga Mas Didi Nugrahadi dari SalingSilang, juga Donny BU dari InternetSehat, sama-sama berkenan meluangkan waktu untuk berbagi ilmu.

Mbak Hera Laxmi Devi dan Kang Teddy Bara dari XL Axiata, pun demikian pula. Selain ikut membantu pendanaan kegiatan sehingga kami sanggup menambah aset komunitas berupa LCD Projector, alat perekam video dan seperangkat soundsystem, juga mau membagi tips kerja sama sponsorship.

Bu Mariam Barata, dari Kemkominfo yang baik hati, mau datang ke workshop Solo, sambil mempromosikan program Relawan TIK.

Tak hanya itu, Suwarjono dari AJI Indonesia bersedia hadir bercerita tentang dunia pewarta warga dan membuka potensi kerja sama pelatihan dengan komunitas blogger, juga ada Kang Akhmad Nasir dari Combine RI yang menawarkan aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) untuk digunakan bersama-sama demi kemaslahatan publik.

Wakil pemerintah pun hadir, yakni Bu Maryam Barata, Direktur Pemberdayaan Telematika Kementerian Kominfo yang berbagi mengenai gagasan institusinya menginisiasi Relawak TIK di seluruh negeri, untuk memajukan Indonesia, bersama-sama dengan semua pengguna TIK.

Sigit Widodo (@sigitwid, tengah) lagi memperhatikan siapa itu... :p

Sebagai ruang pertemuan dengan beragam latar belakang, workshop kemarin cukup melegakan karena bisa mempertemukan beragam kepentingan. Soal follow up dalam bentuk kerja sama, bisa saja terjadi kapan saja. Tapi, antarpihak harus saling mengenal terlebih dahulu sebelum meretas kerja sama yang bisa saling memberi manfaat bagi sebanyak mungkin pihak. Kuncinya ada di sini: ruang interaksi dan pola komunikasi.

Kepada teman-teman peserta workshop, saya menyampaikan satu hal yang saya anggap penting: berbeda pendapat tak harus disikapi dengan permusuhan. Tak perlu putus silaturahmi atau komunikasi hanya karena beda persepsi atau kekurangan alat bukti untuk saling memahami masing-masing pribadi maupun institusi.

Suasana santai di Rumah Blogger Indonesia/Bengawan

Kepada Mbak Shita Laksmi yang kemarin berbagi cerita mengenai tema hak asasi manusia, kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Begitu pula kepada semua pembicara, orang-orang baik yang rela berbagi dan memotivasi kami, tak ada kalimat yang pantas disampaikan kecuali ucapan terima kasih yang tak terhingga pula. Begitu pula kepada Sigit Widodo dari PANDI, yang rela jauh-jauh datang dari Jakarta untuk bagi-bagi domain gratis untuk teman-teman dan komunitas, juga ilmu bermanfaat mengenai jatidiri keIndonesiaan bagi kami semua.

Orkes Kroncong Swastika yang selalu menemani saat-saat seriusnya acara Bengawan.

Kepada teman-teman yang datang dari Ambon, Pekanbaru, Ponorogo, Malang, Surabaya, Magelang, Yogyakarta, Semarang, Wonosobo, Jakarta, Bumiayu, dan Purwokerto, kami ucapkan terima kasih tak terhingga. Semoga pertemuan kemarin ada manfaatnya buat kita semua, juga kepada lingkungan sekitar kita, syukur untuk Indonesia.

Catatan: foto-foto merupakan dokumentasi panitia, termasuk sumbangan para peserta.

Good News itu Kabar Baik

Jika kalangan jurnalis menyukai bad news is good news, saya menyebut aktivitas blogging dengan istilah good news is good news, kabar baik. Saya sebut kabar baik, karena mayoritas blogger lebih banyak mengisi blog-nya dengan materi-materi opini dan testimoni positif, baik berupa tulisan, foto, audio, video, maupun gabungan di antaranya.

Kalaupun ada segelintir yang nyinyir, seperti saya, anggap saja karena masih terpengaruh gaya pelaporan dan penulisan seorang jurnalis, dengan dalih budaya industri media mengarahkan pada bad news is good news tadi. Selain itu, ada keharusan berpihak pada seorang jurnalis (dan media) untuk membantu pihak yang voiceless dalam pengertian yang sangat luas, utamanya antara hak publik dengan kewajiban (penyelenggara) negara.

Tapi soal blogging, kini kian memiliki peran penting. Hal-hal yang dianggap remeh oleh industri pers kini bisa dipublikasikan oleh siapa saja, tanpa berhitung lagi siapa (jumlah) yang akan membaca. Rating menjadi tak penting, sebab setiap orang bisa mendapatkan informasi (penting) yang dibutuhkan lewat googling, sebutan baru untuk aktivitas pencarian lewat Internet.

Blogger lambat laun menggerogoti peran jurnalis hingga dijuluki sebagai pewarta warga karena ketiadaan ikatan industrial dengan institusi bisnis media dan sifatnya yang cenderung ‘kesaksian’ dan keinginan berbagi ceritera atau informasi.

Dan, seperti layaknya penceritera pun, kredibilitas blogger sebagai pewarta akan dinilai publik secara terbuka. Yang lebay, berlebihan karena penyampaian yang berbusa-busa justru akan menurunkan kepercayaan dari penerima informasinya. Tapi penyampaian spontan, apa adanya, bisa membuahkan kecintaan dan menaikkan tingkat kepercayaan.

Penyodoran data pendukung dan kutipan pernyataan (quotation) dari pihak yang relevan dengan pokok bahasan kian mengukuhkan kualitas informasi. Soal seseorang bisa menuturkan secara runtut atau tidak, bahkan bisa dianggap bukan sebagai persoalan yang mengganggu, lantaran komunikan akan bersikap lebih toleran, bisa memaklumi sebuah keterbatasan kemampuan blogger dalam menyampaikan pesan. Intinya, publik tak terlalu banyak menuntut.

Cerita tentang sebuah obyek wisata, misalnya, bisa disampaikan dengan model laporan pandangan mata. Spontanitas penuturan terhadap obyek yang dilihat dan dirasakan sudah cukup menjelaskan dan bisa memancing rasa penasaran orang lain. Apalagi jika disertai tips-tips yang dibutuhkan, seperti cara menjangkaunya dari lokasi tertentu seperti terminal bus/kereta api, pusat kota, dan sebagainya. Foto/video bisa disertakan, bahkan kini bisa menambahkan peta dan koordinat sehingga pelancong tak mudah tersesat.

Berangkat pada prinsip good news is good news dalam kegiatan blogging itulah, saya sering menyerukan kepada teman-teman blogger untuk tak segan mengunggah pesan, lewat blog dan media jejaring sosial lainnya. Kalau perlu, ditambah review singkat, bagaimana ketersediaan akses telekomunikasi, baik yang berbasis suara maupun Internet. Tampaknya sepele, tapi hal ini penting untuk orang-orang jaman sekarang.

Hanya bercerita tentang sebuah obyek tujuan wisata, kita bisa mengembangkan cerita hingga merambah ke banyak hal. Pelancong kadang butuh angkutan umum atau sewa mobil/sepeda motor, informasi kuliner, hingga buah tangan untuk dibawa pulang. Secara tidak langsung, seorang pencerita akan memberi manfaat ekonomis kepada supir dan keluarganya, pedagang cinderamata dan pengusahanya, serta keluarga besar mereka.

Blogging, menurut saya adalah aktivitas penting dan mulia, karena ia bisa memberi manfaat kepada siapa saja, bahkan orang-orang yang tak kita kenal, beserta keluarga besar mereka. Bisa dilakukan sesuka hati, tanpa beban, tanpa pretensi muluk-muluk bisa mengubah dunia, namun akan terasa benar buahnya.

Asal tahu saja, tulisan ini pun sejatinya muncul secara spontan saja, meski kegelisahan sudah lama mendera. Sering saya mengikuti ajang kumpul-kumpul komunitas blogger di berbagai daerah, namun masih banyak yang lupa  terhadap hal-hal ringan demikian. Pernah misanya, saya bersama 250-an blogger diajak mengunjungi sebuah pabrik boneka dengan luas ruang kurang memadai. Saya merasa tak bisa mengamati secara detil lokasi dan produknya, sehingga sepulang dari sana, saya tak bisa bercerita apa-apa meski punya beberapa rekaman fotonya.

Pernah pula, dalam jumlah ribuan, kami ada di satu kota selama beberapa hari. Lantaran setiap hari kepada kami disodorkan materi-materi ‘perkuliahan’, maka hanya sebagian kecil dari kami yang bisa berinteraksi dengan lingkungan setempat. Kebanyakan dari kami tak sempat bisa merasakan banyak hal terkait dengan kekayaan materi lokalitas untuk kami ceritakan kembali kepada orang banyak. Momentum yang bagus, tapi sayang lantaran tak memperoleh tambahan bahan cerita.

Dalam konteks pertemuan komunitas blogger, hal demikian layak menjadi pertimbangan. Orang yang sudah jauh-jauh datang bertandang, punya kecenderungan bisa mendapat oleh-oleh untuk dibawa pulang, walau sekadar ceritera semata. Pembaca blog saya akan percaya jika saya bercerita banyak hal tentang Solo, lantaran tahu saya tinggal di Solo.

Tapi sebagai orang dari Solo, cerita saya tentang keindahan dan kekayaan wisata Jayapura atau Malang yang saya kunjungi, akan lebih bernilai dan menarik perhatian orang dibanding cerita-cerita tentang Solo.

Apalagi jika saya bercerita tentang maraknya pemakaian baju batik bermotif burung Cenderawasih atau tifa di kalangan masyarakat Papua (lihat foto ilustrasi). Masyarakat Jayapura, yang tak memiliki tradisi membatik pada kain katun akan menjadi cerita tersendiri. Begitu pula dengan pemakaian batik secara resmi oleh karyawan di instansi pemerintahan dan swasta di sana.

Akan kian menarik pula cerita tentang orang Jayapura yang memelopori pembuatan batik setelah belajar di Pekalongan, Jawa Tengah, lantas menularkan kepada tetangga kiri-kanan hingga pembatik tulis di jayapura mencapai jumlah hampir seratus orang banyaknya. Belum lagi dengan cerita keberhasilan sang pelopor batik Papua yang memiliki gerai bergengsi di Denpasar dan Jakarta, dengan corak dan motif ‘asli Papua’ dan sebagainya. Itulah good news is good news-nya.

Tentu hasilnya akan sedikit berbeda kalau cerita batik Papua itu diangkat ke ranah jurnalistik mainstream, yang masih berpedoman bad news is good news. Hampir bisa dipastikan, keberadaan beberapa toko batik besar milik pendatang dari Jawa akan dimasukkan juga ke dalam laporan. Termasuk, adanya industri batik di Yogyakarta yang turut membanjiri pasar batik Papua, meski corak dan motifnya tetap lokal.

Demikian…..

Kopdar Blogger Ndesa

Pertemuan blogger terbesar tahun ini, di Indonesia, tampaknya hanya yang berlangsung di Sidoarjo, 28-30 Oktober. Sedikitnya 1.200 orang, yang masih aktif memperbarui isi blog-nya, berkumpul bersama. Dari Medan hingga Ambon ada wakilnya.

Saling bersalaman, suasana persaudaraan penuh kehangatan

Mereka menyebut diri sebagai Blogger Nusantara, lantaran mengidamkan persaudaraan lintassuku dan sekat-sekat primordialisme demi sebuah Indonesia yang maju, rukun seperti masa lalu, jauh sebelum kerakusan menggerus persaudaraan, dan politik-ekonomi meluruhkan solidaritas.

Jong Ambon, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, dan banyak lagi organisasi pemuda dari seluruh penjuru Nusantara, yang dulu hadir dengan membawa identitas kulturalnya, kini dengan membawa ‘atribut kultur’ baru, dengan hyperlink sebagai ciri individu/komunitas.

Memang ada yang beda dengan lazimnya perhelatan blogger di Indonesia.  Utamanya, perlakuan tuan rumah terhadap tetamunya. Lapangan tenis indoor disulap menjadi kamp pengungsian.  Lantai ditutup terpal plastik, dijadikan kamar tidur raksasa. Para blogger diposisikan bak pengungsi, agar merasakan tak enaknya menggelandang, sekaligus menemukan kebersaman dalam keterbatasan.

Memperlakukan ‘tamu’ sebagai pengungsi, memang disengaja. Selain bisa jadi siasat jitu terhadap keterbatasan anggaran, juga sebagai sarana membangkitkan rasa kesetiakawanan kepada sebagian dari saudara sebangsa yang kerap harus mengungsi karena bencana, atau yang dipaksa oleh sebuah kebijakan negara sehingga mengakibatkan warganya berubah status menjadihomeless society.

Dalam konteks pemilihan tempat menginap, semua peserta bisa turut merasakan penderitaan ribuan warga Sidoarjo yang tak menentu nasibnya setelah lumpur Lapindo menenggelamkan rumah-rumah mereka. Di tempat itu pula, dulu, berbulan-bulan korban Lapindo mengungsi.

Serasa hidup di pengungsian, tidur beralaskan terpal. Membangkitkan empati...

Apakah dengan demikian berarti blogger harus hidup menderita? Tidak! Blogger sama seperti semua warga sebuah bangsa. Mereka berhak dan harus sejahtera. Tapi, latar belakang sosial/ekonomi individu blogger bukan tidak mungkin menumpulkan emosi dan solidaritas antarsesama. Apalagi jika pernah turut mencecap nikmatnya madu berkah media sosial.

Bukan saya mengharamkan seseorang cari makan lewat aktivitas penggunaan media sosial, namun lebih pada penyikapan terhadap media. Ngeblog dengan hati pasti beda dengan asal ngeblog. Orang pun beda-beda sikapnya ketika kian akrab dengan media sosial. Twitter, terutama, sungguh menggoda dan memabukkan, terbukti cukup banyak orang dibuat sakaw olehnya.

Memang, bisa saja orang mempertanyakan apakah blogging terbebas dari praktik monetize? Tidak juga. Ada adsense dan review, bisa pula iklan terselubung. Tapi ada beda karakter isi pesan di Twitter dan blog. Twitter tak banyak memberi waktu dan ruang untuk memilih, sementara sebuah pesan di blog menyediakan keleluasaan bagi pembaca untuk merespon dan mereaksinya.

***

Di Kopdar Blogger Nusantara, saya bertemu dengan Pak Arsyad Indradi dari Banjar, Kalimantan Selatan, blogger tertua yang hadir di sana. Usianya 63 tahun, tapi selalu mengaku baru 36 tahun. Sok muda kesannya, tapi kalau menyimak aktivitas bloggingnya, kita pantas iri padanya, yang mengelola 60an blog!

Pak Arsyad Indradi, blogger tertua yanng hadi di Kopdar Blogger Nusantara. Beliau seorang penyair, kini mengelola 60 blog, termasuk sastra daerah Banjar, Kalimantan Selatan. Sebelah kanan, Bagus Jatmiko (Yogya), blogger termuda dengan usia terpaut 50 tahun dengan sosok di sampingnnya.

Ada blog sastrawi, sebab ia seorang penyair, ada pula yang umum. Juga, blog tentang sastra Banjar, berbahasa lokal. Saya lupa berapa berapa banyak buku antologi puisi diterbitkannya. Pak Arsyad adalah penyair eksentrik. Ia menyebut sejumlah nama penyair Solo dan beberapa orang lagi di Jawa. Lalu, cocoklah obrolan.

Pada 1995 lalu, ia datang ke Solo, membaca puisi dalam gelaran peringatan Setengah Abad Indonesia Merdeka, bersama ratusan seniman beragam disiplin dari seluruh Indonesia. Ia masih tampak perkasa hingga usia senjanya. Bersemangat, bahkan potensial mempermalukan blogger muda, yang malas update blog, tentunya.

Tak cuma dia, blogger termuda pun datang dari Yogya, berbendera Komunitas Blogger Yogya. Bagus Jatmiko, usianya baru 13 tahun, tapi ngeblognya penuh semangat, bisa mempermalukan blogger yang mengandalkan kinerja plug in tweet old post pada blognya.

***

Yang saya rasakan, suasana Kopdar Blogger Nusantara sungguh menyenangkan. Tak kepada semuanya saya bisa bertegur sapa. Tapi semalam bersama di pengungsian, sambil menyimak mimbar bebas komunitas, saya tahu betapa pertemuan model demikian lebih meniadakan jarak, usia dan asal daerah. Semua bisa bebas menyampaikan pendapat dan nyaman melontarkan gagasan.

Seribuan orang berkumpul dan bertahan hingga tiga hari bukan peristiwa kebetulan. Kesungguhannya luar biasa....

Antara satu dengan komunitas lain bisa saling berbagi pengalaman, saling belajar pengorganisasian, dan bercanda suka-suka seperti gank #sektesaru yang lahir dari jejaring pertemanan di Plurk itu.

Materi dari sejumlah narasumber dari Penn Olson, Google, juga pembicara yang sesama blogger, cukup menyenangkan peserta kopdar. Banyak inspirasi terserak dalam sesi serius yang dikemas santai selama dua setengah hari tersebut. Ada motivasi didapat pula di sana.

Semoga, pengorganisasian Kopdar Blogger Nusantara kian matang tahun-tahun mendatang. Dan akan menarik jika dilakukan secara berkeliling dari satu kota ke kota berbeda. Selamat kepada Suryaden, Gempur dan teman-teman panitia pengarah dan pelaksana. Juga kepada Mubarika, Kukuh, dan teman-teman IdBlogNetwork yang memberikan dukungan pengorganisasian gelaran tersebut. Juga kepada XL Axiata yang bersedia menjadi sponsor, seperti kepada Bengawan dalam beberapa kali kegiatan.

Sebuah kerja sama yang bernilai dan memberi manfaat kepada banyak pihak, tak hanya blogger dan panitia, tapi juga masyarakat Indonesia pada umumnya. Satu hal yang tak kalah uniknya, adalah entah dari mana datangnya dan siapa yang memulai, ketika tiba-tiba ada semacam identifikasi baru, ketika semua blogger begitu bangga menyebut diri sebagai blogger ndesa, atau blogger udik, atau yang bukan kota.

Dan, itu bisa jadi kebetulan yang menguntungkan bagi Mbak Devi dan kawan-kawan. Soalnya, Tukul Arwana yang jadi ikon baru XL menggunakan istilah ‘ndesa’ untuk menyebut orang yang tidak melek teknologi informasi dan komunikasi.

Yang pasti, teman-teman yang hadir kemarin tidak akan lupa untuk selalu update blog, memperbarui konten. Maaf kepada teman-teman yang kemarin tak sempat bercanda dan bercengkerama bersama. Sampai jumpa tahun depan…

Catatan: postingan ini sudah ada sedikit perubahan pada penambahan hyperlink dan penambahan foto-foto serta penyebutan nama Bagus. (updated: 31 Okt 2011 pk 14.20 WIB)

Memahami Hak

Membaca puluhan tulisan teman-teman blogger, saya optimis masa depan blogging di Indonesia akan menggembirakan. Dan yang menarik, banyak dari mereka adalah blogger independen, dalam arti bukan anggota komunitas blogger. Saya melihat ada semangat berbagi ceritera atau informasi lewat tulisan, yang biasanya dilengkapi foto atau tautan video. Tapi, beberapa kekurangan juga sempat saya ingat.

Hampir semua tulisan yang saya baca terantuk masalah bahasa. Membedakan di sebagai awalan atau kata depan saja, umumnya kebingungan. Dipukul, sebagai contoh, justru ditulis di pukul. Padahal, di sebagai awalan mestinya digabung dalam penulisannya. Sementara, di sebagai kata depan yang harusnya dipisah, seperti di rumah, di mobil malah ditulis dirumah, dimobil.

Saya terpaksa ‘toleran’ dan tak enak hati kalau harus memberi catatan pada kolom tanggapan yang tersedia. Untuk sementara, biarin aja. Saya terpaksa memaklumi karena para penulis itu menunjukkan kesungguhannya dalam menyiapkan tulisan. Referensinya memadai, dan relatif runtut dalam menulis. Banyak yang naratif, sehingga mudah dipahami dan tidak menimbulkan kebosanan bagi pembacanya. Padahal, tulisannya termasuk panjang.

Kalaupun saya harus mengatakan ‘kekurangan’ lainnya, masih ada beberapa yang kurang percaya diri, sehingga panjangnya tulisan disebabkan karena banyaknya kutipan dari sumber rujukan. Padahal, dalam blogging, akan lebih enak kalau diwakili tautan atau link. Dengan tautan, pembaca bisa merujuk sumber otentik, sehingga memungkinkan terjadinya pengembaraan intelektual. (Hahaha…. sok serius, ya?)

Terkait dengan kesamaan tema, yakni tentang kebebasan berekspresi, saya menemukan banyak blogger yang terjebak pada ketidaktahuan akan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Pada sisi inilah, teman-teman blogger banyak yang lengah. Mereka keliru dalam memandang kedudukan pemerintah dalam sebuah negara. Pada saat yang sama, mereka juga lupa, bahwa sebagai warga negara, mereka punya hak untuk menuntut kepada pemerintah agar berlaku adil untuk kemaslahatan bersama seluruh warga negara dan penghuni sebuah negara.
Dalam perkara pasal 27 ayat 3 Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), misalnya, banyak yang menganggap pemerintah memang punya kewenangan menerbitkan aturan semacam itu, bahkan dalam sebuah undang-undang yang spirit sesungguhnya lebih condong sebagai landasan hukum perdata.

Pasal itu memuat ancaman pidana tentang tindakan yang dikategorikan sebagai ‘pencemaran nama baik’. Selain antiketerbukaan dan antikritik, pasal itu cenderung disalahgunakan pemerintah sebagai penyelenggara negara, untuk berlindung dari serangan atau kritikan atas kesalahan yang diperbuatnya, baik secara sengaja maupun tidak.

Sementara, larangan serupa sudah ada di dalam KUHP, terutama pasal 310 dan 311. Uniknya, pasal itu diklasifikasikan sebagai pasal karet, atau kalangan pers menyebutnya sebagai hatzai artikelen. Itu merupakan produk hukum kolonial yang dilanggengkan penyelenggara negara, di mana misi utamanya adalah untuk menyatakan bahwa ‘pemerintah tak pernah salah’. Karena itu, sebuah kritik akan berbuah petaka.

Kita terlalu meremehkan makna ‘nama baik’ bagi seseorang atau lembaga. Seseorang yang karena jabatan dan kekuasaannya terindikasi korup, lantas dicurigai telah melakukan tindakan korupsi, merasa tersinggung, lantas menuntut orang yang menyebutnya sebagai tindakan mencemarkan nama baik.

Uniknya, aparat penegak hukum di Indonesia tak pernah mau menggunakan asas pembuktian terbalik, misalnya mencocokkan harta kekayaan yang dipertontonkan seseorang dengan sumber pendapatannya. Seorang Anas Urbaningrum yang dipojokkan oleh pengakuan sepihak Nazarudin, misalnya, bisa dirunut perolehan kekayaannya. Berapa gaji dia sebagai anggota DPR, cocokkah dengan, konon, kepemilikan sejumlah rumah dan mobil-mobil mewah senilai milyaran?

Apa sumber pendapatan legal atau wajar seorang Anas Urbaningrum, Nazarudin, para hakim, jaksa dan polisi, komisioner KPK yang menjadi penyidik perkaranya, dan seterusnya dan sebagainya. Dari sana, dengan tracking yang memadai, maka ‘nama baik’ akan menemukan pijakannya.

Demikian sedikit catatan saya, dari pembacaan puluhan tulisan yang dilombakan oleh Internet Sehat. Khusus ‘kelemahan’ berbahasa, sebaiknya jangan membuat teman-teman kendor update blog. Kian hati-hati saja, tetap menulis sambil memperlincah berbahasa. Soal gaya bertutur, suka-suka saja. Blog bukan karya akademik, juga bukan karya jurnalistik.

Referensi penting buat blogger, silakan baca tulisan Donny Verdian.