Catatan seputar Blogging

Tahun 2012 akan segera berlalu. Jagad blogging, saya yakin tak akan berlalu begitu saja, meski tak ada lagi gempita pesta seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan, komunitas-komunitas blogger di berbagai daerah terbukti masih tetap bergairah.

Perlu dicatat, penyelenggaraan kumpul-kumpul komunitas online oleh BloggerNusantara masih berlangsung di berbagai kota. 2012 merupakan tahun kedua perhelatan yang digagas IDBlogNetwork, yang dimotori Mubarika, Kukuh dan Very itu. Meski tak semeriah puncak acara pertama di Sidoarjo, Oktober 2011, silam, tapi ‘eksperimen’ acara puncak Kopdar BloggerNusantara di Maros, Sulawesi Selatan, merupakan terobosan berani, sehingga tak lagi ‘Jawa Centris‘.

Kita tahu, ada kesenjangan digital Jawa-nonJawa, dalam pengertian yang sangat luas. Kehadiran bandwidth terbukti masih berorientasi pada potensi pasar. Dua perusahaan semi plat merah seperti Indosat dan Telkom/Telkomsel, yang mestinya lebih ‘bertanggung jawab’ mengantisipasi digital gap, terbukti sampai kini masih tergiur bertempur di Jawa, sebagian Sumatera dan Bali, tiga kawasan utama perebutan rupiah.

Pemerintah, pun seperti tutup mata. Tingkat ketersambungan telepon (teledensity) terus menyusut persentasenya dari tahun ke tahun. Telkom yang memonopoli sambungan telepon kabel antarrumah (PSTN), justru sibuk menggeber produk Fleksi-nya yang wireless. Sarana-prasarana yang memungkinkan pemerataan bidang telekomunikasi tak kunjung tumbuh. Jualan koneksi internet pun lebih mengandalkan perangkat nirkabel, demi mengejar murah investasinya semata.

Kita tak pernah tahu, apakah pemerintah telah memiliki roadmap yang jelas mengenai kebijakan telekomunikasi di Indonesia. Dari waktu ke waktu, Kementerian Kominfo lebih sibuk mengurus perkara blocking dan filtering terhadap situs-situs yang dicurigai memuat konten negatif, baik berunsur pornografi maupun judi.

Sungguh beruntung pemerintah (dan Menkominfo), yang jadi ringan kerjanya karena di Indonesia ada banyak kelompok masyarakat yang berinisiatif mengorganisir diri, menumbuhkan virus-virus positif kepada publik. InternetSehat yang diinisiasi Donny BU dan kawan-kawan, misalnya, terus konsisten melakukan pelatihan dan pencerahan berperilaku di ranah Internet kepada masyarakat di seantero negeri, dari Aceh hingga Papua.

Dalam bentuknya yang lain, Akademi Berbagi yang dimotori Ainun Chomsun juga terus menyemai partisipasi masyarakat dalam beragam bentuk kegiatan. Juga gerakan kemanusiaan donor darah yang digagas Mbak Silly dan kawan-kawan.

***

Di antara sekian banyak pilihan dan penyikapan terhadap media Internet, orientasi penggiat komunitas blogger/onliner pun kian beragam. Popularitas jejaring Twitter, misalnya, sempat menggoda banyak blogger untuk lupa memperbarui konten blog-blog mereka. Ada yang beralasan pragmatis lantaran mudah dan cepat menuai tanggapan, namun tak sedikit yang menjadikan Twitter sebagai lahan baru perbaikan/peningkatan perekonomian seiring maraknya bisnis iklan dan dinamika buzzing. Sah, dan memang bukan dosa, serta menyangkut pilihan penyikapan.

Yang justru menarik bagi saya adalah masih banyaknya teman-teman blogger di berbagai daerah yang terus menggalakkan kampanye konten positif melalui Twitter, Facebook maupun blog. Di luar kegiatan online, mereka pun masih menjalankan aktivitas offline berupa workshop atau pelatihan bagi publik, termasuk pelaku usaha dengan mendorong pemanfaatan Internet untuk mendukung usaha mereka.

PANDI misalnya, ikut terlibat membantu pembiayaan utama bagi penyelengaraan workshop UKM di lima kota/kabupaten di Jawa dan tiga lagi, masing-masing di Riau, Sulawesi Selatan dan Maluku. Ia menggandeng Google Indonesia untuk berpatungan membiayai workshop bisnis lokal agar go online.

Sekali lagi, berkomunitas adalah pilihan. Ada konsekwensi moral yang melekat pada setiap keikutsertaan. Dan, seperti lazimnya organisasi berwatak paguyuban, tak ada keuntungan material yang bisa didapat langsung dari sebuah keterlibatan kegiatan/aktivitas. Jika lantas dihadapkan pada pertanyaan: memangnya berkomunitas tak boleh mendapat untung?

Tak ada yang melarang orang mengambil/memperoleh keuntungan dari sebuah aktivitas komunitas. Pun, tak ada ketentuan atau hukum yang mengatur hal demikian. Adanya cuma etika, yang batasnya bisa dinalar dan dirasa masing-masing anggota.

Tapi, satu hal yang masih memprihatinkan, menurut saya, adalah keberadaan komunitas online di berbagai daerah masih dianggap sebagai kumpulan orang tak berguna oleh masyarakat dan pemerintah daerah.

Kenapa pemerintah dibawa serta? Ya, mari kita simak saja ‘tren’ pemerintahan daerah kita. Kebanyakan dari mereka masih memahami Internet sebatas website. Jika Pemda/Pemkot sudah punya website, maka itu sudah dianggap sebagai capaian penting. Perkara ada-tidaknya kebaruan isi, tak banyak yang mau tahu. Tak jarang dijumpai, website pemerintah tak bisa diakses lantaran domain dan hostingnya kedaluwarsa sehingga suspended.

Isi website pun cenderung searah, dengan bahasa yang sangat formal, khas bahasa birokrasi, sehingga pembaca harus garuk-garuk kepala dibuatnya.

Andai tak ada individu-individu yang punya concern tinggi ke daerahnya, mungkin tak banyak informasi tentang potensi daerah, apapun itu, yang tersedia di Internet. Selama ini, banyak informasi peristiwa atau kekayaan daerah yang terdapat di Internet merupakan produk individu blogger atau komunitas onliner. Dan, kita tahu, informasi tersebut sungguh bermanfaat sebagai panduan bagi banyak orang, dari mana saja.

Coba simak, berapa banyak media memuat cerita mengenai kekayaan Pulau Raja Ampat di Papua sebelum ramai dikabarkan oleh individu-individu yang mengunggah cerita mengenainya lewat blog, Twitter, Facebook dan YouTube? Tak cuma Raja Ampat, masih banyak kota-kota kecil di Jawa, Sumatera dan pulau-pulau lain yang terjamah media.

***

Sungguh, secara pribadi saya merasa senang, sepanjang 2012 masih ada banyak teman, guru dan sahabat yang bersedia berbagi ilmu dan menuturkan banyak pengalaman mereka dalam beraktivitas secara online, hingga berbisnis dengan tumpuan utama pada kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Teman-teman Komunitas Blogger Bengawan juga masih eksis hingga usia keempatnya, dan terus meningkatkan jejaring pertemanan dari beragam altar belakang komunitas, baik secara offline maupun online.  Terbukti, awal 2012 masih bisa kumpul bareng dengan wakil-wakil komunitas dari berbagai kota, dalam sebuah workshop tiga hari mengenai pengorganisasian komunitas dan penguatan kapasitas blogger.

Terima kasih kepada Mbak Shita Laksmi dan HIVOS yang menyambut gagasan workshop dan membiayai workshop. Begitu juga dengan Mbak Hera Laxmi Devi yang selain ikut memberi pencerahan peserta workshop, juga ikut nyawer pembiayaan bersama XL Axiata.  Begitu juga PANDI dan Sigit Widodo yang ikut urunan, sehingga Bengawan bisa melakukan investasi berupa LCD Projector, perangkat soundsystem dan memiliki perangkat video mini, sehingga hal itu sangat membantu meringankan penyelenggaraan beragam kegiatan tanpa harus keluar biaya sewa.

Banyak sahabat dan guru, para orang-orang baik yang mengisi workshop kala itu, seperti Anto Motulz dan Mas Didi Nugrahadi (SalingSilang), Gus Nukman Lutfie (Virtual Consulting), Donny BU (InternetSehat), Ibu Maryam S Barata (Kemkominfo) dan masih banyak lagi.

Saya yakin, apa yang telah kami lakukan bersama teman-teman lintas komunitas akan membawa manfaat bagi sangat banyak orang di berbagai penjuru negeri. Semoga, kebijakan Internet dan telekomunikasi Indonesia kian jelas di masa kendatang. Dengan demikian, masyarakat di seluruh Indonesia memperoleh manfaat dari kehadiran teknologi dan komunitas/individu penggiat, dan bukan sebaliknya, malah mempercuram jurang kesenjangan.

Mari kita sambut tahun 2013 dengan lebih semangat, kian optimis…

Ngeblog Apa Ngetwit?

Fesbukan oleh, ngetwit ya ora dadi perkara, waton isih padha gelem nganyari crita ana bloge dhewe-dhewe. Kanthi ngeblog, kita bisa nularake kawruh marang sapadha-padha titahe Gusti Allah. Bisa lumantar seratan, foto utawa gambar, swara utawa malah nganggo video. Aja nganti seneng ngetwit wae, banjur ngebloge lali.

Wis akeh contone, sing mbiyen kondhang kawentar minangka tetungguling donya blogging nanging saiki wis ora nate posting. Nanging ngetwite prasasat kaya ngising, weteng lara yen nganti telat anggone ngoceh.

Ngetwit ora ana klerune. Wong ana kana bisa uga nularake crita lan kawruh, uga piwulang-piwulang becik. Aku uga sinau marang sapa wae lumantar Twitter. Facebook wis suwe dak tinggalake, mung yen eling wae dak tiliki. Iku wae yen eling lan kober.

Nanging babagan ngeblog, sanajan wis ora bisa kerep kaya mbiyen, banging isih ana rasa ngganjel yen ora ngunggahake crita anyar, sanajan mung elek-elekan.  Isin rasane ngaku blogger yen ora tau nganyari tulisan utawa foto ana ing blog.

Nah, crita-crita blog lan blogger, aku banjur kelingan krentege kanca-kanca blogger sanuswantara, kang wiwit Jemuwah, 28 Oktober tumekane 30 Oktober padha arep lungguh sapejagong, ana kutha Sidoarjo, sawetane samodra lendhut anger utawa Lumpur Lapindo.

Perlune mung pingin padha guyub, rukun lan ijol-ijolan kawruh. Sinau antarane wong siji lan liyane. Sokur bage, ana kana banjur nemu dalan rejeki, embuh saka gawe website utawa liya-liyane. Dodolan barang lan keprigelan, nyatane bisa ditawakake lumantar blog. Embuh iku dodolan kaos, bathik, panganan lan sapanunggalane.

Bakune, kanthi blogging bisa gawe bungah ati, oleh kanca lan sedulur anyar, utawa oleh ilmu becik, saliyane nularake kabecikan uga.

Muga-muga, para kadang lan sedulur kang arep kumpul ing Sidoarjo oleh slamet karahayon saja Gusti Kang Murbeng Dumadi. Welingku, Aja padha lali ngeblog. Yen mung trima dhemen Twitteran, becik pada melu kopdar utawa kumpulan karo grombolan oceh-ocehan wae neng mBetawi kana, suk Desember, jarene.

Perang-perangan Event

Ada kabar event Pesta Blogger yang dulu ‘prestisius’ diundur, dari semula akhir Oktober menjadi Desember. Saya sebut prestisius di masa lalu, sebab kini cuma jadi bagian. Blogger diperlakukan sebagai ‘a part of’ pengguna sosial media yang beragam. Adakah kaitan pengaruh dari gelaran kopdar akbar Blogger Nusantara di Sidoarjo, 28-30 Oktober?

Saya ingin menjawab pertanyaan di atas dengan kata: YA!  Meski tak serta-merta, namun titik singgungnya mudah dibaca, gampang dipetakan.  Ada banyak pihak yang tak rela, jika ngeblog dianggap kalah ‘mulia’ dibanding ngetwit, mainan Twitter dengan muatan aneka pesan. Apalagi, belakangan kian terasa komersialisasi Twitter lebih menonjol dibanding media lainnya, baik itu Facebook, Instagram, hingga blog.

Blogging, seberapapun ‘remehnya’, jelas lebih banyak menguras energi kreatif. Menyusun kalimat butuh referensi, apalagi jika pesannya harus diuraikan secara panjang-lebar. Keterbatasan ketersediaan jumlah karakter pada Twitter tak mungkin disandingkan dengan aktivitas blogging. Itu menurut saya….

Tweeting, boleh jadi memang penting, walau dilakukan sambil (maaf) ngising alias buang air besar. Penting, sebab tren komersialisasi teks bagi sebagian aktivis daring dianggap turut mewarnai perjalanan bangsa ini, sehingga masuk klasifikasi perkara genting.

Kebutuhan pencitraan, entah itu produk barang, jasa maupun lembaga dan seseorang, seperti urusan hidup-mati. Sah-sah saja menurut saya, sepanjang tidak berlebihan dan tidak menjerumuskan dengan mengecoh. Twit yang membawa kode URL bermuatan komersil, misalnya, ditandai khusus agar pembaca sadar ketika ngeklik rekomendasi. Itu sekadar contoh, ketika kesepakatan pembakuan kode twit komersil belum ada.

Bagaimana dengan postingan blog berbayar alias komersil sepeerti review? Untuk yang satu ini, ‘hukum’-nya lebih jelas: pembaca punya pilihan alasan untuk segera meninggalkan atau tidak meneruskan pembacaan. Di Twitter, satu klik bisa menjadi indikator pengunjung unik yang cukup berarti.

Lantas, apa bedanya ratusan (mungkin ribuan seperti diklaim inisiator pertemuan) Blogger Nusantara yang bakal berkumpul di Sidoarjo, Jawa Timur? Saya melihatnya sebagai sesuatu gelaran yang berbeda. Bahwa sebagian blogger ada yang berharap bisa memperoleh ‘pekerjaan’ (baca: penghasilan) dari ngeblog, ya memang begitu sebagian nyatanya. Tapi, mayoritas yang menyatakan akan hadir, saya takin lebih banyak dilatari keinginan untuk kopi darat, bertemu atau berkenalan dengan blogger dari berbagai penjuru Nusantara, lantas membangun jejaring dengan ikatan paguyuban. Bukan model patembayan yang mirip-mirip penganut paham Weberian.

Saya dan teman-teman dari beberapa komunitas blogger maupun blogger independen alias nonkomunitas, termasuk yang ingin datang dengan niat menjalin pertemanan secara lintas daerah, sekaligus menjadikannnya sebagai ajang kangen-kangenan, terutama bagi yang merasa kenal lewat media Internet atau saling komentar do blog.

Bagi saya, ini merupakan kesempatan mahal untuk dilewatkan. Soal ada ‘berkah’ dari kopdar, itu soal lain lagi. Kumpul ya kumpul, mangan-mangan ya mangan-mangan, ya berkumpul, ya makan-makan. Sesimpel itu kira-kira.

Di luar itu, ada juga kekecewaan saya terhadap event tahunan yang katanya HARUS diselenggarakn di Jakarta, sementara kali ini, yang baru akan menjadi perhelatan akbar yang kelima, nama blogger ditenggelamkan begitu rupa, turun kasta dibanding pekicau dan sebangsanya.

Kita tahu, follower sebuah akun Twitter bisa jadi hanya sosok anonim, atau individu yang percaya tanpa syarat kepada pihak yang selalu disimak linimasanya. Beda dengan blog, meski namanya pemiliknya disembunyikan atau anonim, pesan-pesan yang disampaikan lebih ‘berkarakter’ alias ‘lebih sesuatu banget’.

Semua muatan pesan dari sebuah blog, pasti sudah melalui pertimbangan tertentu sebelum dibuat hingga dipublikasikan. Capek-capek nulis, memelototi referensi atau informasi rujukan, paling banter dibayar ratusan ribu, meski itu merupakan sebuah paostingan bermutu. Orang bisa meninggalkannya segera jika postingan dianggap tak berguna, beda dengan Twitter yang sekali berkicau sudah ada mesin argo(meter).

Jujur, saya tak tertarik dengan twit komersial. Kalau sedekah retweet, asal bermanfaat bagi orang banyak, pastilah saya lakukan. Soal ada yang curiga, apalagi jika menyalahpahami dampak hanya dengan merujuk jumlah penyimak linimasa saya.di Twitter, pastilah ia terjebak pada kekeliruan mengambil kesimpulan.

Dari rencana perhelatan Kopdar Blogger Nusantara dan Pesta On/Off alias kumpul blogger alpa’ update blog, saya ingin berharap, para pemilik akun Facebook, instagram dan terutama Twitter, menjadi lebih aware sehingga kelak lebih selektif, bijak dan dewasa mengikuti linimasa, siapapun yang di-follow-nya, agar tak tersesat sia-sia di mayantara.

Bahwa ada gosip terdapat kerepotan lain untuk menyukseskan KTT ASEAN di Bali, sehingga harus memundurkan acara hingga dua bulan lamanya, anggap saja itu cuma kicauan ‘nyari’ gara-gara. Walau, sejatinya lucu juga, kula event yang biasanya didekatkan dengan tanggal peringatan ‘Hari Blogger Nasional’ harus dijauhkan. Secara ilmu public relations, agak musykil juga sebuah pengunduran kegiatan tak main-main, tanpa.mempertimbangkan ‘situasi sosial-politik’ dunia blogging Indonesia kontemporer.

Agak janggal juga, kula untuk berpartisipasi memeriahkan KTT ASEAN saja harus melibatkan institusi kedutaan negeri perkasa hingga penanggung jawab kegiatan berskala regional itu harus mengundang pengurus ASEAN Blogger Community yang telah merintis upaya-upaya membangun ‘dialog kawasan’ bersama Kementrian Luar Negeri, untuk duduk bersama dan berkompromi dan bekerja sama.

Satu pertanyaan yang masih saya cari jawabannya hingga kini, adalah apa yang sudah dilakukan para bloggerwan/bloggerwati bagi bangsa dan negeri ini? Pengguna media Internet Indonesia saat ini, menurut saya, mirip populasi yang berada pada puncak piramida manusia. Yang sedikit secara kwantitas, namun potensial menciptakan gaduh dan ketenangan. Populasi terbesar yang berada pada posisi paling bawah hanya menjadi penonton. Ada jarak, pastinya…..

Lantas, kenapa saya harus bikin postingan demikian? Ya, minimal supaya menyenangkan pembuat aplikasi plugin gratisan yang menampilkan secara acak sebuah postingan lama. Kalaupun harus nongol #oldposting, supaya waktunya tak terpaut terlalu lama dengan postingan ini.

Yang juga jadi harapan saya, adalah agar teman-teman blogger semakin tidak rela jika ada pihak Yang ingin memasukkan blog yang dikelolanya ke dalam klasifikasi heritage blog. Saya tahu persis, mandat UNESCO tidak sampai jenis arsitektur maya ini. Beda jauh dengan artefak bangsa Maya.