Cerita Rock in Solo

Obrolan Bengawan (Obeng) pada Jumat, 4 Oktober bertema tentang gelaran Rock in Solo, sebuah event rutin musik beraliran cadas di Kota Solo. Banyak hal baru saya dapat, beda dengan persepsi yang lama terbentuk: sangar, menyeramkan.

Baru gelaran tahun lalu, saya masuk arena pertunjukan, nonton Cannibal Corpse. Jujur, saya tak bisa menyimak syairnya, meski banyak penonton bisa mengikuti irama sambil nyanyi. Tapi, saya bisa menikmati penampilan grup cadas kelas dunia itu, dan lebih bisa menikmati respon penikmatnya.

Banyak yang bertato, rambut gondrong, baju serba hitam, terkesan sangar. Anehnya, tak ada keributan karena senggolan antarpenonton yang sama-sama trance. Unik!

Konon, polisi pun lebih senang menjaga pementasan pada event yang satu ini dibanding konser dangdut atau musik pop. Aneh. Begitu komentar saya ketika dikasih informasi soal itu oleh Mas Stephanus Adjie, penggagas Rock in Solo.

Ada banyak cerita menarik dari gelaran musik cadas itu. Konon, Rock in Solo tercatat sebagai event bergengsi di level Asia-Pasifik. Praktek soft diplomacy, diam-diam sudah dijalankan oleh para inisiator festival ini.

Ada contoh menarik di sini. Banyak permintaan disampaikan oleh calon penonton kepada panitia, satu di antaranya ada fasilitas untuk shalat! Asli, ini mengherankan. Saya mengira, mereka yang bertampang sangar itu jauh dari persoalan privat, apalagi aktifitasnya berurusan langsung dengan Tuhan!

Masih terkait dengan urusan ketuhanan, ada pengalaman menarik diceritakan panitia. Yakni, ketika penampil utama dari mancanegara diminta berhenti cek tata suara saat azan berkumandang.

~update: Sabtu, 5 Okt 2013 pk. 17.20 WIB ~

Personil band bertanya, kenapa harus berhenti cek tata suara hanya lantaran azan berkumandang. Dijawab panitia, tindakan semacam itu sebagai bentuk penghormatan panggilan shalat dari masjid kepada umat Islam. Singkat cerita, mereka memahami dan menerima alasan tersebut.

Padahal, di banyak negara yang kultur individualismenya kuat, hal-hal berbau ketuhanan atau ritual agama tidaklah menjadi prioritas hidup sebagian masyarakatnya. Bahkan, perlawanan terhadap dogma agama cenderung kuat, seperti ditunjukkan lewat syair maupun simbol-simbol identitas mereka. Pada sisi inilah, telah terjadi dialog multikultural yang unik, dan bisa jadi merupakan pengalaman khusus bagi mereka.

Di luar kejadian ‘remeh nan unik’, menurut saya,  Rock in Solo merupakan potret pengorganisasian pertunjukan menarik yang layak ditiru oleh penyelenggara event sejenis lainnya. Jika kebanyakan orang menggantungkan dukungan finansial dari Pemerintah Kota Surakarta, Rock in Solo justru bersikap sebaliknya. Mereka mengupayakan sendiri pendanaan kegiatan, bahkan kerap defisit anggaran, sebelum akhirnya dilirik pemerintah setempat sebagai event penting sehingga masuk dalam calendar of cultural events, sebuah kegiatan yang dijadwalkan secara resmi dan permanan oleh pemerintah.

Hingga gelaran ketujuh, tahun ini, panitia Rock in Solo tidak memperoleh dana dari Pemkot Surakarta. Dukungannya, pun masih sebatas kemudahan fasilitas, meski bisa dibilang minim. Padahal, dari tahun ke tahun, jumlah pengunjung terus meningkat, hingga panitia berani pasang target minimal 10 ribu penonton pada penyelenggaraan bulan depan. Andai 5.000 penonton dari luar kota membelanjakan rata-rata Rp 100 ribu per hari untuk makan, minum, transportasi lokal, sudah berapa banyak Wong Sala yang kebagian rejeki?

Pada hitung-hitungan demikianlah, banyak orang kerap salah membaca sebuah desain peristiwa. Bahkan, aparatur Pemerintah Kota Surakarta pun sering gagal memahami sumbangan warganya yang susah payah membangun peristiwa. Sudah semestinya, pemerintah membebaskan pajak tontonan supaya panitia tidak nombok, sekaligus sebagai apresiasi atas jerih payah mereka mempromosikan potensi kota.

Tentu, para penonton yang datang dari berbagai kota di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan tak akan melewatkan kunjungannya begitu saja. Mereka pasti perlu oleh-oleh berupa cerita kepada sahabat dan kerabat mereka, tentang pengalaman apa yang didapatnya ketika dolan ke Solo. Publikasi gratis, testimoni yang jujur, pasti berimbas positif bagi Kota Solo.

Saya ingat cerita Mas Adjie, tentang bagaimana event serupa yang digelar di Malaysia. Karena melihat potensi masuknya wisatawan mancanegara, Pemerintah  Malaysia melakukan kontrak khusus kepada sebuah grup death metal kelas dunia. Dibayarnya sangat mahal dengan perjanjian mereka tak boleh manggung di negara sekitar dalam waktu berdekatan. Dengan didukung publikasi memadai, maka komunitas metal dari Indonesia, Singapura, Thailand dan negara-negara ASEAN lainnya berbondong-bondong ke sana. Devisanya berapa?

Andai banyak gelaran seni pertunjukan di Solo dirancang serius dan dikemas sedemikian rupa, saya yakin orang dari berbagai kota dan negara tetangga akan selalu menanti jadwal penyelenggaraannya. Tentu, selain publikasi memadai, sistem kuratorialnya harus benar dan diperhitungkan masak-masak.

Jangan sampai, banyaknya kirab (dan karnaval) di Kota Solo jadi bumerang hingga muncul olok-olok ‘Solo Kota Kirab’, lantaran penampil dan konsep penyajiannya hanya begitu-begitu saja, tanpa kejutan baru setiap tahunnya. Jika hal demikian sampai terjadi, sia-sialah pemerintah mengupayakan semuanya, dan mubazir pula uang rakyat yang dialokasikan ke sana.

Posted from WordPress for Whindos Poer

Catatan seputar Blogging

Tahun 2012 akan segera berlalu. Jagad blogging, saya yakin tak akan berlalu begitu saja, meski tak ada lagi gempita pesta seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan, komunitas-komunitas blogger di berbagai daerah terbukti masih tetap bergairah.

Perlu dicatat, penyelenggaraan kumpul-kumpul komunitas online oleh BloggerNusantara masih berlangsung di berbagai kota. 2012 merupakan tahun kedua perhelatan yang digagas IDBlogNetwork, yang dimotori Mubarika, Kukuh dan Very itu. Meski tak semeriah puncak acara pertama di Sidoarjo, Oktober 2011, silam, tapi ‘eksperimen’ acara puncak Kopdar BloggerNusantara di Maros, Sulawesi Selatan, merupakan terobosan berani, sehingga tak lagi ‘Jawa Centris‘.

Kita tahu, ada kesenjangan digital Jawa-nonJawa, dalam pengertian yang sangat luas. Kehadiran bandwidth terbukti masih berorientasi pada potensi pasar. Dua perusahaan semi plat merah seperti Indosat dan Telkom/Telkomsel, yang mestinya lebih ‘bertanggung jawab’ mengantisipasi digital gap, terbukti sampai kini masih tergiur bertempur di Jawa, sebagian Sumatera dan Bali, tiga kawasan utama perebutan rupiah.

Pemerintah, pun seperti tutup mata. Tingkat ketersambungan telepon (teledensity) terus menyusut persentasenya dari tahun ke tahun. Telkom yang memonopoli sambungan telepon kabel antarrumah (PSTN), justru sibuk menggeber produk Fleksi-nya yang wireless. Sarana-prasarana yang memungkinkan pemerataan bidang telekomunikasi tak kunjung tumbuh. Jualan koneksi internet pun lebih mengandalkan perangkat nirkabel, demi mengejar murah investasinya semata.

Kita tak pernah tahu, apakah pemerintah telah memiliki roadmap yang jelas mengenai kebijakan telekomunikasi di Indonesia. Dari waktu ke waktu, Kementerian Kominfo lebih sibuk mengurus perkara blocking dan filtering terhadap situs-situs yang dicurigai memuat konten negatif, baik berunsur pornografi maupun judi.

Sungguh beruntung pemerintah (dan Menkominfo), yang jadi ringan kerjanya karena di Indonesia ada banyak kelompok masyarakat yang berinisiatif mengorganisir diri, menumbuhkan virus-virus positif kepada publik. InternetSehat yang diinisiasi Donny BU dan kawan-kawan, misalnya, terus konsisten melakukan pelatihan dan pencerahan berperilaku di ranah Internet kepada masyarakat di seantero negeri, dari Aceh hingga Papua.

Dalam bentuknya yang lain, Akademi Berbagi yang dimotori Ainun Chomsun juga terus menyemai partisipasi masyarakat dalam beragam bentuk kegiatan. Juga gerakan kemanusiaan donor darah yang digagas Mbak Silly dan kawan-kawan.

***

Di antara sekian banyak pilihan dan penyikapan terhadap media Internet, orientasi penggiat komunitas blogger/onliner pun kian beragam. Popularitas jejaring Twitter, misalnya, sempat menggoda banyak blogger untuk lupa memperbarui konten blog-blog mereka. Ada yang beralasan pragmatis lantaran mudah dan cepat menuai tanggapan, namun tak sedikit yang menjadikan Twitter sebagai lahan baru perbaikan/peningkatan perekonomian seiring maraknya bisnis iklan dan dinamika buzzing. Sah, dan memang bukan dosa, serta menyangkut pilihan penyikapan.

Yang justru menarik bagi saya adalah masih banyaknya teman-teman blogger di berbagai daerah yang terus menggalakkan kampanye konten positif melalui Twitter, Facebook maupun blog. Di luar kegiatan online, mereka pun masih menjalankan aktivitas offline berupa workshop atau pelatihan bagi publik, termasuk pelaku usaha dengan mendorong pemanfaatan Internet untuk mendukung usaha mereka.

PANDI misalnya, ikut terlibat membantu pembiayaan utama bagi penyelengaraan workshop UKM di lima kota/kabupaten di Jawa dan tiga lagi, masing-masing di Riau, Sulawesi Selatan dan Maluku. Ia menggandeng Google Indonesia untuk berpatungan membiayai workshop bisnis lokal agar go online.

Sekali lagi, berkomunitas adalah pilihan. Ada konsekwensi moral yang melekat pada setiap keikutsertaan. Dan, seperti lazimnya organisasi berwatak paguyuban, tak ada keuntungan material yang bisa didapat langsung dari sebuah keterlibatan kegiatan/aktivitas. Jika lantas dihadapkan pada pertanyaan: memangnya berkomunitas tak boleh mendapat untung?

Tak ada yang melarang orang mengambil/memperoleh keuntungan dari sebuah aktivitas komunitas. Pun, tak ada ketentuan atau hukum yang mengatur hal demikian. Adanya cuma etika, yang batasnya bisa dinalar dan dirasa masing-masing anggota.

Tapi, satu hal yang masih memprihatinkan, menurut saya, adalah keberadaan komunitas online di berbagai daerah masih dianggap sebagai kumpulan orang tak berguna oleh masyarakat dan pemerintah daerah.

Kenapa pemerintah dibawa serta? Ya, mari kita simak saja ‘tren’ pemerintahan daerah kita. Kebanyakan dari mereka masih memahami Internet sebatas website. Jika Pemda/Pemkot sudah punya website, maka itu sudah dianggap sebagai capaian penting. Perkara ada-tidaknya kebaruan isi, tak banyak yang mau tahu. Tak jarang dijumpai, website pemerintah tak bisa diakses lantaran domain dan hostingnya kedaluwarsa sehingga suspended.

Isi website pun cenderung searah, dengan bahasa yang sangat formal, khas bahasa birokrasi, sehingga pembaca harus garuk-garuk kepala dibuatnya.

Andai tak ada individu-individu yang punya concern tinggi ke daerahnya, mungkin tak banyak informasi tentang potensi daerah, apapun itu, yang tersedia di Internet. Selama ini, banyak informasi peristiwa atau kekayaan daerah yang terdapat di Internet merupakan produk individu blogger atau komunitas onliner. Dan, kita tahu, informasi tersebut sungguh bermanfaat sebagai panduan bagi banyak orang, dari mana saja.

Coba simak, berapa banyak media memuat cerita mengenai kekayaan Pulau Raja Ampat di Papua sebelum ramai dikabarkan oleh individu-individu yang mengunggah cerita mengenainya lewat blog, Twitter, Facebook dan YouTube? Tak cuma Raja Ampat, masih banyak kota-kota kecil di Jawa, Sumatera dan pulau-pulau lain yang terjamah media.

***

Sungguh, secara pribadi saya merasa senang, sepanjang 2012 masih ada banyak teman, guru dan sahabat yang bersedia berbagi ilmu dan menuturkan banyak pengalaman mereka dalam beraktivitas secara online, hingga berbisnis dengan tumpuan utama pada kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Teman-teman Komunitas Blogger Bengawan juga masih eksis hingga usia keempatnya, dan terus meningkatkan jejaring pertemanan dari beragam altar belakang komunitas, baik secara offline maupun online.  Terbukti, awal 2012 masih bisa kumpul bareng dengan wakil-wakil komunitas dari berbagai kota, dalam sebuah workshop tiga hari mengenai pengorganisasian komunitas dan penguatan kapasitas blogger.

Terima kasih kepada Mbak Shita Laksmi dan HIVOS yang menyambut gagasan workshop dan membiayai workshop. Begitu juga dengan Mbak Hera Laxmi Devi yang selain ikut memberi pencerahan peserta workshop, juga ikut nyawer pembiayaan bersama XL Axiata.  Begitu juga PANDI dan Sigit Widodo yang ikut urunan, sehingga Bengawan bisa melakukan investasi berupa LCD Projector, perangkat soundsystem dan memiliki perangkat video mini, sehingga hal itu sangat membantu meringankan penyelenggaraan beragam kegiatan tanpa harus keluar biaya sewa.

Banyak sahabat dan guru, para orang-orang baik yang mengisi workshop kala itu, seperti Anto Motulz dan Mas Didi Nugrahadi (SalingSilang), Gus Nukman Lutfie (Virtual Consulting), Donny BU (InternetSehat), Ibu Maryam S Barata (Kemkominfo) dan masih banyak lagi.

Saya yakin, apa yang telah kami lakukan bersama teman-teman lintas komunitas akan membawa manfaat bagi sangat banyak orang di berbagai penjuru negeri. Semoga, kebijakan Internet dan telekomunikasi Indonesia kian jelas di masa kendatang. Dengan demikian, masyarakat di seluruh Indonesia memperoleh manfaat dari kehadiran teknologi dan komunitas/individu penggiat, dan bukan sebaliknya, malah mempercuram jurang kesenjangan.

Mari kita sambut tahun 2013 dengan lebih semangat, kian optimis…

Workshop untuk Blogger

 

Kak Nukman berbagi cerita

Komunitas Blogger Bengawan menggelar workshop sumberdaya komunitas blogger, 14-16 April kemarin. Pesertanya memang terbatas, dalam arti tidak melibatkan banyak orang dari banyak komunitas. Workshop biasa saja sebenarnya. Sebab peserta yang diundang hanya mereka yang diasumsikan senasib dengan kami: kemampuan terbatas, referensi dikit, dan minim jejaring.

Memang disinggung juga tentang pengorganisasian event atau program komunitas. Tapi, semua materinya masih pada klasifikasi elementer alias kulitnya saja. Oleh karena itu, kami memerlukan seorang fasilitator workshop, yang tak lain dan tak bukan adalah Om Agus Gunawan Wibisono, yang sejak beberapa tahun terakhir intens mengawal perjalanan Bengawan.

Dari Om Gun, kami banyak dibimbing mengenali potensi komunitas (blogger) terkait lingkungan sekitarnya. Selalu ada banyak pemangku kepentingan (stakeholders) dalam sebuah sistem sosial, tak terkecuali komunitas blogger yang bisa pula disebut civil society organization/CSO.

Peserta serius menyimak...

Sebagai organisasi masyarakat sipil, individu-individu yang terorganisir diasumsikan bisa turut mewarnai dinamika sosial-budaya (juga ekonomi dan politik) sebuah wilayah. Terorganisir yang dimaksud adalah memiliki pengetahuan dan referensi memadai mengenai lingkungan di mana mereka tinggal, sehingga dengan bekal itu bisa lebih mampu berkiprah, sekecil apapun dampak bagi di luar dirinya.

 

Cak Teddy Bara Iskandar, paling bersemangat dalam berbagi...

Apakah seorang blogger harus menjadi aktivis, pebisnis, politisi atau apapun namanya, semua kembali ke individunya. Tapi dalam konteks berorganisasi, cukup banyak peluang yang bisa diperankan oleh individu-individu dalam sebuah komunitas untuk turut melakukan proses dinamisasi, terutama ketika menghadapi beragam kepentingan.

Pemerintah, korporasi, partai politik, publik, kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan (minoritas) dari sebuah sistem, merupakan pemangku kepentingan dalam konteks pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Demikian pula komunitas blogger, yang bergelut dengan TIK dan media baru, termasuk di dalamnya social media.

Ada sejumlah problem klasik yang dihadapi kebanyakan komunitas blogger. Ada yang tak memiliki sumber dana (tetap maupun temporer), tak memiliki tempat kumpul yang menetap (apalagi sekretariat), juga keterbatasan jejaring. Soal resources dalam arti manusia, nyaris semua anggota komunitas blogger memiliki passion berbagi kepada sesama dan lingkungan sekitarnya, bahkan ‘kelewatan’ pada beberapa hal.

Mbak Devi cerita posisi XL dalam jagad Internet Indonesia

Diundang kopdar atau menghadiri sebuah gelaran acara komunitas blogger lain, misalnya, orang suka berbondong-bondongg meramaikan, dengan biaya masing-masing. Pokoknya demi kopdar, bisa bertegur sapa dan berbagi pengalaman antarteman, sudah melegakan dan membahagiakan. Begitu watak asli para anggota komunitas blogger.

 

cinderamata, kaos untuk peserta...

Intinya, saling meramaikan dan memeriahkan gelaran kopdar atau acara apapun yang diselenggarakan komunitas lainnya. Soal ongkos transpor, urusan belakangan. Yang penting budhal begitu memperoleh undangan ketemuan, kopdar atau (apalagi) sebuah event komunitas.

Tapi, ada hal yang menggelisahkan saya dan sejumlah teman, baik di Bengawan maupun dari daerah-daerah lain. Yakni, adanya kecenderungan sebagian teman untuk merangkul banyak kawan dengan dalih aneka macam, namun sejatinya adalah bentuk ‘penunggangan’. Maksudnya, punya agenda tersendiri dengan pihak ketiga, namun tak mau terbuka.

Mbak Shita Laksmi memaparkan tema hak asasi manusia dalam workshop blogger. Dialah yang pertama kali berminat mewujudkan terselenggaranya workshop penting ini... Sila follow @slaksmi

Hanya satu-dua, memang. Tapi itu merupakan gejala tak baik sehingga mengancam kerukunan antarblogger. Persaudaraan yang semula happy-happy bergeser menjadi berhitung untung-rugi lantaran ada kecurigaan/kekuatiran dikapitalisasi. Padahal, yang demikian belum tentu mudah terjadi, dan tak mudah menemukan jejak sebagai bukti (sebuah prasangka).

Tentu, yang membahayakan adalah jika prasangka dibiarkan berkeliaran dan berkembang di benak masing-masing orang. Belum tentu mudah menemukan bukti, tapi keretakan silaturahmi kian melebar menjadi-jadi.

Mas @didinu menceritakan proses SocMedFest 2011 didampingi @motulz, sesama SalingSilang

Atas dorongan keprihatinan akan munculnya ancaman keretakan ukhuwah onliniyyah itulah, saya berdiskusi dengan sejumlah teman dan tokoh Internet di Indonesia. Beruntung, Mbak Shita Laksmi dari HIVOS menyambut baik dan menawarkan fasilitas pembiayaan gelaran workshop. Lalu, ada Kang Nukman Luthfie (Virtual Consulting) yang rela berbagi gagasan dan mau memotivasi kami, juga Mas Didi Nugrahadi dari SalingSilang, juga Donny BU dari InternetSehat, sama-sama berkenan meluangkan waktu untuk berbagi ilmu.

Mbak Hera Laxmi Devi dan Kang Teddy Bara dari XL Axiata, pun demikian pula. Selain ikut membantu pendanaan kegiatan sehingga kami sanggup menambah aset komunitas berupa LCD Projector, alat perekam video dan seperangkat soundsystem, juga mau membagi tips kerja sama sponsorship.

Bu Mariam Barata, dari Kemkominfo yang baik hati, mau datang ke workshop Solo, sambil mempromosikan program Relawan TIK.

Tak hanya itu, Suwarjono dari AJI Indonesia bersedia hadir bercerita tentang dunia pewarta warga dan membuka potensi kerja sama pelatihan dengan komunitas blogger, juga ada Kang Akhmad Nasir dari Combine RI yang menawarkan aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) untuk digunakan bersama-sama demi kemaslahatan publik.

Wakil pemerintah pun hadir, yakni Bu Maryam Barata, Direktur Pemberdayaan Telematika Kementerian Kominfo yang berbagi mengenai gagasan institusinya menginisiasi Relawak TIK di seluruh negeri, untuk memajukan Indonesia, bersama-sama dengan semua pengguna TIK.

Sigit Widodo (@sigitwid, tengah) lagi memperhatikan siapa itu... :p

Sebagai ruang pertemuan dengan beragam latar belakang, workshop kemarin cukup melegakan karena bisa mempertemukan beragam kepentingan. Soal follow up dalam bentuk kerja sama, bisa saja terjadi kapan saja. Tapi, antarpihak harus saling mengenal terlebih dahulu sebelum meretas kerja sama yang bisa saling memberi manfaat bagi sebanyak mungkin pihak. Kuncinya ada di sini: ruang interaksi dan pola komunikasi.

Kepada teman-teman peserta workshop, saya menyampaikan satu hal yang saya anggap penting: berbeda pendapat tak harus disikapi dengan permusuhan. Tak perlu putus silaturahmi atau komunikasi hanya karena beda persepsi atau kekurangan alat bukti untuk saling memahami masing-masing pribadi maupun institusi.

Suasana santai di Rumah Blogger Indonesia/Bengawan

Kepada Mbak Shita Laksmi yang kemarin berbagi cerita mengenai tema hak asasi manusia, kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Begitu pula kepada semua pembicara, orang-orang baik yang rela berbagi dan memotivasi kami, tak ada kalimat yang pantas disampaikan kecuali ucapan terima kasih yang tak terhingga pula. Begitu pula kepada Sigit Widodo dari PANDI, yang rela jauh-jauh datang dari Jakarta untuk bagi-bagi domain gratis untuk teman-teman dan komunitas, juga ilmu bermanfaat mengenai jatidiri keIndonesiaan bagi kami semua.

Orkes Kroncong Swastika yang selalu menemani saat-saat seriusnya acara Bengawan.

Kepada teman-teman yang datang dari Ambon, Pekanbaru, Ponorogo, Malang, Surabaya, Magelang, Yogyakarta, Semarang, Wonosobo, Jakarta, Bumiayu, dan Purwokerto, kami ucapkan terima kasih tak terhingga. Semoga pertemuan kemarin ada manfaatnya buat kita semua, juga kepada lingkungan sekitar kita, syukur untuk Indonesia.

Catatan: foto-foto merupakan dokumentasi panitia, termasuk sumbangan para peserta.

Jagongan Media Rakyat

Senang saya ketika diajak terlibat dalam kepanitiaan Jagongan Media Rakyat 2012. Apalagi, Kang Akhmad Nasir, salah satu dedengkot Combine Resource Institution (CRI), telah saya kenal aktif dalam upaya pemberdayaan masyarakat, terutama dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). JalinMerapi adalah contoh nyata jenis kerja sosial yang sangat bermanfaat bagi publik, terutama warga lereng Gunung Merapi yang dua tahun silam terancam dan telah menjadi korban dampak erupsi.

Jauh sebelum mengatur lalu lintas informasi kebencanaan dan arus bantuan relawan dan barang melalui jejaring sosial (blog, Twitter dan Facebook) dan radio komunitas, CRI sudah mengawali dengan membangun jaringan pewarta warga lewat radio dan media komunitas. Sebagian keluarga dampingan CRI itulah yang pada 23-25 Pebruari ini, akan berkumpul di Yogyakarta untuk berbagi ceritera dan pengalaman pemanfaatan TIK untuk kebaikan bersama.

Lewat gelaran kedua Jagongan Media Rakyat (yang pertama pada 2010), misalnya, para kepala desa dan warga pelosok di Tasikmalaya, Kebumen dan Bantul akan berkisah tentang kesuksesan mereka dalam mengelola aneka informasi yang berkenaan dengan beragam persoalan keseharian warga, yang kerap luput dari sorotan media massa arus utama. Simak saja aktivitas warga Desa Mandala Mekar, Kecamatan Jatiwangi, Tasikmalaya melalui website mereka, http://mandalamekar.or.id, atau ikuti linimasa akun Twitter @mandalamekar.

Sistem informasi desa (SID) yang dikembangkan Combine, misalnya, memungkinkan warga mengelola aneka isu lokal untuk kepentingan mereka. Saya, yang baru beberapa bulan tahu SID, terheran-heran ketika menyimak presentasi Kang Nasir dan Kang Joyo di hadapan seratusan petani dan warga pelosok pedesaan dan lereng Dieng, Wonosobo.

Prinsip kerja SID, semua pengguna telepon seluler bisa menyetor data dan mengakses kembali kumpulan data yang tersimpan pusat data, baik melalui website maupun via pesan singkat (SMS) secara nyaris realtime. Dari genggaman, seorang warga bisa memasok data mengenai apa saja, yang nantinya akan berguna untuk alat analisis.

Contohnya, dari sebuah desa dengan areal persawahan ribuan hektar bisa dilaporkan berapa luasan lahan yang ditanami padi C4, Pandanwangi, Rojolele dan sebagainya, termasuk siapa saja yang masih memiliki stok gabah atau beras, lengkap dengan jumlahnya ketersediaan. Oleh sistem, data tersebut akan diolah secara otomatis, sehingga petani bisa mengetahui berapa banyak stok yang ada dari satu kawasan, serta bisa melakukan prakiraan jumlah stok pada musim panen. Manfaat data, petani bisa menerapkan prinsip supply and demand, sehingga mampu mengontrol harga dan tak mudah dipermainkan tengkulak. Apalagi jika dilengkapi dengan data harga pasaran di sejumlah pasar utama di kota.

Tak hanya itu, sistem informasi desa (SID) yang mereka kelola bisa digunakan untuk aneka keperluan, termasuk pendataan ternak, luas lahan persawahan, permukiman dan sebagainya. Intinya, dengan mengelola data sendiri, maka warga akan berdaulat di wilayah masing-masing.

Bukan cuma itu, Combine juga dikenal dengan aneka produk terapannya, seperti mengembangkan investasi dengan pendekatan model penggaduhan. Contohnya, orang di Jakarta atau di Amerika bisa menginvestasikan sejumlah uangnya ke Pasar Komunitas, di mana uang tersebut akan dibelikan ternak atau produk-produk lain untuk diserahkan kepada publik dengan sistem bagi hasil, yang keuntungannya akan diserahkan kepada investor. Uniknya, investor bisa turut memantau perkembangan investasinya melalui website.

Kembali ke gelaran Jagongan Media Rakyat, intinya siapa saja bisa turut berpartisipasi sebagai pengisi acara atau peserta tanpa dipungut biaya. Sementara panitia yang dikoordinir oleh Combine dengan melibatkan STPMD “APMD”, ICT Watch, Rumah Blogger Indonesia/Bengawan, Joglo Abang dan JogjaUpdate, kali ini berhasil menghimpun banyak pihak untuk berpartisipasi.

Pada JMR 2012 ini, akan terdapat sedikitnya 40 lokakarya dan diskusi dengan aneka bahasan, sebuah seminar nasional mengenai sistem informasi desa, workshop Open BTS oleh pakar teknologi informatika Onno W Purbo. Juga akan ada pelatihan investigasi oleh jurnalis senior Farid Gaban, pewartaan lewat media fotografi dengan kamera saku dan kamera ponsel oleh blogger/jurnalis Antyo Rentjoko atau yang terkenal dengan panggilan Pamantyo.

Yanuar Nugroho, peneliti di Manchester University, Inggris, juga akan memaparkan hasil riset terbarunya, yakni Peta Penguasaan Industri Media di Indonesia. Pada sesi ini, diperkirakan akan muncul tanggapan beragam, terkait dengan maraknya penggunaan media sosial sebagai saluran atau media alternatif, yang perannya kian menguat mengimbangi informasi yang disebarluaskan oleh media arus utama atau mainstream.

Tak ketinggalan, aneka atraksi seni tradisional juga akan meramaikan acara JMR 2012, seperti ketoprak, wayang dan sebagainya. Sedikitnya 40 stan disediakan untuk publik dan komunitas. Akan digelar pula 34 lokakarya, sebuah seminar nasional, 10 dialog, lima diskusi dan pemutaran film, dan masih banyak lagi.

TIK untuk perempuan akan digelar oleh tim ICT Watch/InternetSehat, sementara workshop TIK untuk difabel akan ditangani oleh Yayasan Air Putih, Jakarta. Air Putih dan Combine, dikenal luas sebagai dua lembaga pionir yang selalu hadir dini di zona bencana di seluruh wilayah Indonesia.

Sedikitnya 2.000 orang ditargetkan akan menghadiri gelaran, baik dari kalangan pelajar/mahasiswa di Yogyakarta, masyarakat umum, blogger dan praktisi online serta para penggiat radio/media komunitas dari berbagai penjuru Indonesia. Informasi selengkapnya, silakan simak melalui website JMR 2012.

Galau Si Pandi

Suatu hari, Si PANDI meminta pesuruhnya untuk mewakili curhatnya dengan saya. Intinya, Si PANDI galau sebenar-benarnya lantaran melihat gejala, banyak orang Indonesia tak lagi bangga dengan identitasnya. Jangankan pada tataran rakyat, lha wong pemerintahnya saja banyak yang tak memiliki nasionalisme memadai. “Terlalu bangga menjadi warga global, tapi menanggalkan identitas kulturalnya,” kata Si PANDI seperti ditirukan suruhannya.

“Hari gini masih ngomongin nasionalisme ?” sergah saya.

Sigit Widodo, orang yang jadi suruhan Si PANDI itu langsung membalas kalimat saya dengan sengit. “Sampeyan ini gimana, ta? Sebagai bangsa merdeka, sejak dalam pikiran hingga perbuatan, kita harus menunjukkan kepada dunia, bahwa kita itu ada. Eksis. Supaya mereka tak berasosiasi buruk, setiap ada kata Indonesia disebut, gambaran yang muncul di benak manusia sedunia hanya korupsi saja,” katanya.

Saya manggut-manggut. Pura-pura paham, supaya Sigit lega dan ketika kembali menghadap Si PANDI, bosnya, bisa melaporkan bahwa saya sudah sepenuh hati memahami maksudnya. Apalagi, Sigit mencontohkan, bagaimana orang Jepang, Malaysia, India, Inggris, Korea, China, Arab Saudi, Iran dan masih banyak lagi yang membanggakan identitas kultural dan kebangsaannya.

“Jangan niru Amerika, deh. Mereka tak punya kejelasan identintas, tapi maunya merangkum dunia, lantas menghegemoni di segala aspek kehidupan. Kita mestinya bangga dengan identitas dan produk kita sendiri, seperti orang Jepang bangga memakai Toyota atau Honda, padahal harganya mahal luar biasa di dalam negerinya. Orang Korea juga begitu, makanya tak salah jika kita meniru mereka,” ujar Sigit, kian berapi-api.

“Eh, ngomong-ngomong, apa perlunya juga kamu menawarkan identitas dot ai di (.id) kepada saya yang masih pakai dot com? Bukankah saya, walau pakai dot com, saya juga mengelola blog dengan menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa? Dan itu sudah menunjukkan identitas saya kepada dunia???”

Halah! Sampeyan begitu, kan karena tak bisa bahasa Inggris. Jangan cari alasan, deh!” Sigit mulai gusar.

Okay… Eh, baiklah. Kenapa harus saya yang memulai. Kapan kamu mengganti dot net-mu ke dot ai di? Mosok berani ngajak-ngajak tapi tak mau memberi teladan. Kaya pejabat saja kamu itu, bisanya Cuma nyuruh tapi tak mau memberi contoh tindakan lebih dulu…”

“Sedang diproses, Mas. Aku juga akan pakai dot ai di segera. Saya malu kalau sampai disebut sebagai orang tak tahu diri, disamakan dengan petinggi-petinggi negeri ini yang juga hobi korupsi dan kolusi. Percayalah, saya orang baik-baik,” sahut Sigit.

Sigit lantas menyodorkan banyak data ironi tentang identitas kebangsaan.  Jumlah nama domain dot ai di untuk komersil, misalnya, hanya 30.932. Jauh lebih kecil dibanding yang menggonakan dot com yang ada sebanyak 179.333 alias seperlima lebih sedikit. Beruntung, tidak ada dot mil karena sebagai institusi berslogan “NKRI Harga Mati”, TNI sudah mencatatkan 176 nama domain mil dot ai di (.mil.id), walaupun TNI cuma punya tiga angkatan: darat, laut, dan udara. Begitu pula dengan institusi pemerintahan, di buku besar Si PANDI sudah tercatat ada 2.625 domain.

Lalu, kepada Sigit saya sarankan agar melapor ke Si PANDI, agar setiap komunitas blogger diberi kemudahan memperoleh domain dot o èr dot ai di (.or.id) tanpa kerumitan syarat ini-itu, alias semudah membeli domain .org atau .com. Yang penting ada lembaganya, ada kegiatannya, ada pengurus/penanggung jawabnya. Apalagi, semua komunitas blogger berciri sama, yakni lembaga nirlaba, dan lantaran dibentuk oleh kesamaan hobi blogging dan kumpul-kumpul, maka mereka tidak menjadikan komunitasnya sebagai lembaga formal seperti lembaga swadaya masyarakat atau civil society organization (CSO) yang perlu berbadan hukum.

Mewakili Si PANDI, Sigit pun mengiyakan. Ia pun berharap komunitas blogger dan bloggernya mau membantu menyebarluaskan perlunya pemakaian identitas kebangsaan melalui pemakaian nama domain untuk blog pribadi, badan usaha, sekolah dan aneka rupa jenis lembaganya. Secara formal, Sigit mencontohkan, sudah memberi dua nama domain untuk Komunitas Blogger Bengawan (bengawan.or.id) dan Yayasan Talenta (talenta.or.id), organisasi nirlaba untuk advokasi kaum difabel, yang kebetulan menjadi ‘induk semang’ Bengawan karena sudah merelakan sekretariatnya digunakan bersama-sama.

Sigit pun menceritakan, Si PANDI menjanjikan akan memberi nama domain gratis bagi para blogger yang tergabung dalam sebuah komunitas, walaupun hanya untuk setahun pertama, yakni dot web dot ai di (.web.id). “Tolong jangan dilihat harga beli domainnya yang murah, tapi komitmen PANDI untuk mewarnai Indonesia. Supaya dunia juga memandang eksistensi kita di ranah Internet,” ujar Sigit.

Saya senang dengan jawaban Sigit dan PANDI. Saya pun teringat dengan kata-kata Mas Onno W Purbo yang pingin turut mendorong majunya konten lokal, termasuk dengan penggunaan server lokal. Kabarnya, Asosiasi Perusahaan Jasa Internet Indonesia (APJII) dan ICT Watch (InternetSehat) bersama sejumlah lembaga nirlaba, sudah menyediakan server untuk hosting web dari komunitas-komunitas nirlaba di Indonesia.

Kata Mas Onno, ada banyak keuntungan dengan menggunakan server lokal untuk aneka ragam postingan. “Jika traffic-nya sangat tinggi, penggunaan server di dalam negeri akan menghemat banyak devisa, sebab pengakses dari Indonesia tidak perlu menggunakan jalur internasional yang harus dibayar oleh setiap pengguna. Jumlahnya bisa mencapai trilyunan rupiah per tahun, lho….,” ujar Mas Onno, dua tahun silam.

Saya pun menganggung-angguk, pura-pura paham, mendengar ucapan Mas Onno, dalam sebuah perjalanan mengantarnya pulang dari kantor ICT Watch/InternetSehat, beberapa tahun silam. Penggunaan identitas lokal ini pun nyambung dengan banyak program besar negara, seperti yang diupayakan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) dengan melakukan kampanye dan membangun jejaring dengan Relawan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (Relawan TIK).

Kian menarik pula ketika banyak pihak, termasuk sejumlah operator seluler dan penyedia (jasa) bandwidth di Indonesia terus mendorong majunya konten-konten lokal lewat serangkaian kegiatan, termasuk pelatihan-pelatihan di sekolah dan masyarakat. Seperti XL (ini sudah pakai dot ai di) misalnya, yang telah mendukung sejumlah kegiatan Bengawan, dan terakhir di acara ulang tahun BloggerNgalam, lewat #OblogMerahMuda, 7-8 Januari silam.

Nah, jika kian banyak pihak menyadari perlunya konten lokal dan identitas lokal, kapan saya (blontankpoer.com), Sigit Widodo (widodo.net), Relawan TIK (relawan-tik.org), BloggerNgalam (bloggerngalam.com), dan banyak pelaku (telkomsel.com, indosat.com, dan lain-lain) dan penggiat Internet di Indonesia beralih menggunakan nama domain dot ai di???  🙂