Mahakarya Tenun Indonesia

“Memintal Benang” karya Aris Daeng,  pemenang Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. (Sumber: www.djisamsoe.com)

“Memintal Benang” karya Aris Daeng, pemenang Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. (Sumber: www.djisamsoe.com)

Menyimak foto “Memintal Benang” karya Aris Daeng, saya jadi teringat akan kekayaan bangsa Indonesia akan produk-produk lokalnya. Yang ditunjukkan melalui foto pemenang Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia tentang pemintal benang di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan, hanyalah salah satu locus dimana tangan-tangan piawai berada. Kerajinan serupa hampir ada di setiap suku atau rumpun budaya Indonesia.

Di Palembang (Sumatera Selatan), Lombok (Nusa Tenggara Barat), Jepara dan Pedan (Jawa Tengah) dan banyak daerah lagi, masih bisa dijumpai jejaknya, hingga kini. Aneka ragam bahan, seperti benang kapas dan sutera yang tersedia di seluruh Nusantara, terbukti melahirkan aneka motif dan corak kain, untuk aneka keperluan.

Di antara sekian banyak sentra perajin pemintalan benang dan pembuat kain tradisional, saya kira hanya di Palembang yang bisa disebut ‘kurang berkembang’. Maksudnya, sentranya sudah ada, regenerasi perajinnya masih berlangsung, namun varian produk relatif terbatas. Kebanyakan produk tenun Palembang masih berorientasi untuk pemenuhan kebutuhan upacara adat seperti upacara pernikahan dan ritual lainnya, belum merambah ke produk-produk terapan yang kian dibutuhkan untuk menopang penampilan  keseharian (fesyen atau fashion).

lurik pedan

Kerajinan tenun Lurik Pedan, Klaten, Jawa Tengah, kembali menggeliat seiring dengan mulai ramainya pemakaian kain batik untuk beragam keperluan. Varian lurik, kini sudah mulai dipadu dengan teknik batik, juga pengembangan sistem pewarnaan berbahan kimia alam. Sentra lurik, pun kian meluas, tak hanya di Kecamatan Pedan, namun hingga Kecamatan Cawas. Banyak lembaga sosial dan lembaga swadaya masyarakat turut melakukan bimbingan teknis produksi, desain motif dan strategi pemasaran kepada perajin, terutama sejak wilayah itu dilanda gempa dahsyat pada 2006.

Berbeda dengan kain sutra Bugis yang varian penggunaannya sudah merambah pada tas, dompet, syal, dan untuk pakaian sehari-hari, kain songket Palembang ibarat masih jalan di tempat. Sama-sama berbahan baku sutera, produk tenun Bugis sudah banyak digunakan untuk pakaian harian, seperti halnya pemakaian batik dan lurik (Jawa Tengah). Sayang, orientasi produksi songket Palembang masih terbatas untuk penopang keperluan upacara adat.

Dengan orientasi pada upacara adat, maka motifnya pun menjadi terbatas. Pasarnya menjadi sempit, eksklusif. Akibat lainnya, harga jual menjadi sangat mahal, tidak terjangkau oleh masyarakat kebanyakan, sehingga laju produksi pun tidak bisa massif. Andai para perajin songket Palembang mau ‘mempublikkan’ produknya, saya yakin geliat industri rakyat di sana akan cepat meningkat pesat.

Geliat pembangunan Provinsi Sumatera Selatan sejak menjelang pelaksanaan SEA Games 2011 tidak pernah surut, bahkan terus meningkat hingga kini. Sektor-sektor usaha modern tumbuh pesat dan memiliki kontribusi sangat signifikan terhadap perekonomian wilayah, karena memiliki multiplier effects yang panjang.

Hingga pertengahan 2013, misalnya, lalulintas keluar/masuk penumpang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II mencapai 2,5 juta orang setiap tahunnya. Jika 10 persen dari mereka adalah para traveler, potensi belanja produk-produk masyarakat Sumatera Selatan (selain krupuk dan pempek) pun terbuka lebar. Dampaknya, pasti akan bisa dirasakan 600-an pelaku industri kecil dan menengah (IKM) seperti produsen tenun songket, blongsong, jumputan, dan sebagainya.

songket-palembang-WP_20130527_021

Kerajinan songket Palembang relatif kurang berkembang, sebab kebanyakan pelakunya masih berorientasi untuk pemenuhan kebutuhan upacara adat. Varian produk turunannya, pun masih sangat terbatas, tidak seperti halnya tenun sutra Bugis, Lurik Pedan atau kain batik, yang sudah merambah ke aneka jenis perlengkapan fesyen, seperti dompet, aneka tas, juga pakaian keseharian.

Entah terwujud atau belum, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pernah merancang pendirian Graha Songket, yang konon akan dijadikan showroom terpadu untuk aneka produk rakyat, seperti songket, produk kerajinan, pempek dan krupuk khas Palembang untuk memudahkan pelancong mendapatkan oleh-oleh khas Sumatera Selatan.

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari 4,5 persen pada 2008 menjadi 6,5 persen pada 2012, kehadiran fasilitas-fasilitas moderen seperti hotel yang menunjang industri meeting, incentive travel, convention and exhibition (MICE) di Kota Palembang dan kabupaten/kota sekitar, serta kuatnya geliat usaha sektor riil, merupakan petunjuk nyata adanya kemajuan yang signifikan Sumatera Selatan, bersaing dengan kota-kota di Pulau Sumatera seperti Medan dan Padang.

Saya kira, yang diperlukan kemudian adalah intervensi pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten/kota sekitar dalam rangka mengembangkan potensi industri rakyatnya. Dalam hal tenun/songket, misalnya, dirangsang lewat lomba desain produk songket, memfasilitasi perajin melakukan pameran di luar provinsi/negara, pelatihan/workshop desain dan motif, dan sebagainya, sehingga 12 motif utama bisa dikembangkan ke lebih banyak varian atau motif baru.

Jika Jl. Somba Opu, Makassar bisa menjadi pusat oleh-oleh khas Sulawesi Selatan, sudah semestinya Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga bisa membangun kawasan wisata belanja khas produk Wong Kito. Tak hanya makanan tradisional, produk lokal lainnya seperti minyak tawon, minyak kayu putih, kopi, aneka cinderamata serta aneka varian produk seperti aneka tas dan dompet berbahan sutra Bugis sangat mudah dijumpai di banyak toko di Jl. Somba Opu.

Palembang, yang hanya berjarak satu jam penerbangan dari Jakarta dan kaya obyek wisata sejarah, bahari dan alam, mestinya bisa belajar dari kota-kota lain. Ketika industri kecilnya maju, serapan tenaga kerjanya pun akan tinggi, tak terbatas di bagian produksi, namun hingga jalur pemasok bahan baku dan distribusi. Jika rakyat sejahtera, maka masyarakat dalam satu wilayah akan tenteram, dan pemerintah bisa fokus menata pembangunan.

Tulisan ini dibuat sekaligus sebagai apresiasi program Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia, yang dengan sengaja diniatkan untuk menggali potensi kekayaan Nusantara. Ini program menarik, menurut saya. Sebab, dampaknya pasti akan sangat panjang dan bisa dinikmati sebanyak mungkin orang, semua lapisan, dan di semua penjuru Nusantara.

Sudah saatnya publikasi tentang Indonesia diperbanyak supaya sesama bangsa bisa saling tahu kekayaan dan keragamannya, syukur-syukur merangsang minta orang mancanegara datang menjelajah Indonesia. Saatnya, kita mempromosikan kekayaan kita, bukan sebaliknya mendorong bangsa kita jalan-jalan wisata dan berbelanja ke mancanegara. 

Hari Batik Nasional

Saya baru ingat kalau hari ini, 2 Oktober, diperingati sebagai Hari Batik Nasional setelah membaca berita di media online. Adalah Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang jadi narasumber berita tersebut. Mari, batik, Solo dan Jokowi merupakan empat kata kunci di balik hari bersejarah itu.

Kalau tak salah ingat, penentuan tanggal itu berkaitan dengan pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan budaya dunia milik bangsa Indonesia, pada 2009.

Mengapa keempatnya menjadi kata kunci, seingat saya, itu berkait erat dengan Solo Batik Carnival yang digagas Walikota Solo Joko Widodo, atau yang akrab dengan nama panggilan Jokowi. Ya, Bu Mari, ketika itu masih menjabat Menteri Perdagangan, yang kerap ‘mondar-mandir’ ke Solo.

Seingat saya pula, Bu Mari terpikat dengan gaya kepemimpinan Pak Jokowi dalam menata perekonomian kota, dengan pendekatan ‘tak lazim’, yang berpihak kepada warga miskin, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah, pariwisata dan industri kreatif.

Ada banyak jejak kontribusi Bu Mari dalam pengembangan perekonomian Kota Solo. Gladag Langen Bogan, pusat kuliner Malak yang populer dengan sebutan Galabo, lahir dari bantuannya. Puluhan hingga ratusan gerobak until pedagang kakilima di sana dan beberapa shelter lainnya, merupakan bantuannya semasa menjabat Menteri Perdagangan.

Pasar malam Ngarsopuro dan penataan kawasan pasar barang antik Triwindu, pun merupakan jejak lain yang ditinggalkan Bu Menteri yang sebelumnya dikenal sebagai ekonom CSIS itu.

Solo Batik Carnival yang melambungkan batik sebagai produk budaya bercorak khas Indonesia, pun berbuntut pada pesatnya perkembangan industri kain itu. Jika semula hanya digunakan sebagai pakaian untuk kondangan atau acara-acara resmi, kini  varian produk batik kian banyak. Tas, sepatu, kaos, dan aneka jenis cinderamata, kini banyak bermotifkan batik.

Tak aneh, jika kemudian batik menjadi pakaian ‘keseharian’, baik dipakai untuk bersantai, kerja kantoran atau keperluan lainnya. Batik lantas meluas, tak cuma milik orang Solo, Yogya, Madura, Pekalongan, Cirebon, Lasem, dan beberapa kota saja, kini banyak orang Papua memproduksi batik dengan corak lokal, yang berciri utama unsur Cenderawasih dan tifa.

Di kota-kota atau kultur masyarakat yang sebelumnya tak memiliki ajar batik, pun kini mulai menggali potensi lokalnya, terutama dalam corak dan motif. Di Kota Solo dan sekitarnya, seperti penuturan seorang pengusaha batik di Kampung Laweyan, Solo, industri batik meningkat pesat dalam lima tahun terakhir. Tak tanggung-tanggung, omzet penjualan batik diperkirakan mencapai 400 persen dari sebelumnya.

Seorang pemilik toko obat-obat/kimia batik di Solo, membenarkan pernyataan pengusaha batik itu. Pembelian lilin dan pewarna meningkat pesat. Padahal, sebagian pewarna berkualitas utama, masih diimpor dari Jerman dan Jepang, atau Cina untuk yang bermutu sedang dan biasa-biasa saja.

Seorang perajin pembuatan cap di Pajang, pun mengaku terus kebanjiran pesanan. Seperti toko bahan kimia batik, pemesan cap berbahan tembaga pun berasal dari berbagai kota, termasuk Banyuwangi, Jakarta, Kalimantan dan Papua. Tentu, selain pemesan dari kota-kota atau daerah yang selama ini dikenal sebagai penghasil batik.

Padahal, pada 1970-1990, industri batik terus meredup. Banyak pengusaha batik di Laweyan gulung tikar dan harus banting setir usaha di liar batik. Tak sedikit yang alih profesi dengan jual-beli mobil, kontraktor, atau usaha lainnya. Pun pedagang dan produsen batik di Kampung Kaufman, Solo. Penyebab utamanya, adalah hadirnya mesin-mesin tekstil, yang memproduksi batik printing, yang oleh pelaku usaha batik tradisional dianggap sebagai ‘batik palsu’ atau batik-batikan.

Menurut praktisi batik, ciri utama batik ada di proses pembuatan, yang menggunakan bahan baku utama berupa lilin (makan) dan pewarna batik. Soal teknik pembuatan, dalam batik hanya dikenal tiga jenis: batik cap, batik tulis dan kombinasi cap dan tulis. Proses pembuatannya pun mengenal beberapa hal baku, seperti dhasaran atau pembuatan pola, proses mewarnai dan menutupnya dengan lilin, dan nglorot, yakni proses meluruhkan lilin.

Jadi, pada peringatan Hari Batik Nasional ini, saya pun ingin mengingatkan kepada siapa saja, supaya tak latah cinta batik, namun hanya melihat dari sisi motif semata. Jika itu bikinan pabrik, keluaran mesin cetak, maka jangan lagi menyebutnya sebagai batik.

Kasihan para pembatik tulis halus yang kini masih banyak tersebar di Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen dan Karanganyar serta daerah-daerah lain, tidak kehilangan gairah mempertahankan warisan budaya leluhur yang sangat kreatif itu. Asal tahu saja, dua produsen batik ternama asal Solo, yang produknya mendunia dengan harga lebih dari lima juts rupiah per potong, itu sejatinya dibuat oleh nenek-nenek di perkampungan nun jauh dari Solo, dengan upah tak sampai sejuta per poring. Padahal, masa pengerjaan batik tulis bisa memakan waktu sebulan hingga tiga bulan, tergantung tingkat kerumitannya.

Kebanyakan para pembatik tulis itu, pun menggunakan pola kerja borongan, yakni dibayar per potong, bukan berhonor bulanan yangj upahnya mengacu UMR, UMK, UMP, atau apapun namanya. Ironisnya, sangat sedikit generasi muda yang menyukai profesi membuat batik tulis. Bisa jadi, tingginya pendidikan dan upah ‘tak seberapa’ yang membuat generasi muda kini memilih kerja di pabrik atau sektor lain di kota.

Jadi, percayalah. Jika Anda mengenal batik yang sesungguhnya dan mau membelinya untuk aneka macam kegunaan, maka mulialah hidup Anda, sebab ada rangkaian panjang orang-orang yang terkait dengan industri rakyat bernama batik itu. Tentu, akan dicap sebaliknya, andai batik yang Anda kenakan masih hasil produksi massal, lewat mesin-mesin raksasa yang cukup dikendalikan satu-dua orang buruh saja untuk menghasilkan ribuan meter dalam sekejap.

Mari kita cintai dan lestarikan batik Nusantara…

Karnaval Minim Lampu

Hanya dalam hitungan menit usai barisan terakhir meninggalkan lokasi pemberangkatan, Solo Batik Carnival 2011 sudah menuai protes. Banyak keluhan terpampang pada linimasa Twitter. Ada yang mengeluhkan tata cahaya yang kurang memadai, soal kemacetan di mana-mana akibat penutupan jalur, dan masih banyak lagi.

Persiapan menjelang karnaval

Mengenai minimnya tata cahaya, saya sudah memprediksi lewat catatan saya sebelum ini. Daya listrik besar untuk menyalakan lampu membutuhkan pembiayaan besar. Satu lampu berdaya 1.000 watt hanya cukup untuk menerangi beberapa belas meter bidang, sementara karnaval menempuh rute sejauh tiga kilometer. Berapa banyak lampu diperlukan di kedua sisi jalan, selain kebutuhan filter dan penyangganya?

Semua memang soal angka. Niat bisa melahirkan kreativitas mencari solusi sumber dana, demi memecahkan kebutuhan akan angka. Beberapa panggung yang diinisiasi swasta memang membuat nyaman pengunjung yang membeli tempat duduk yang dijual penggagasnya. Kenyamanan menuntut konsekwensi yang logis. Memang, itu pertanda baik. Swasta mau menyukseskan acara, sebagian dari masyarakat bersedia membayarnya.


Akankah karnaval batik yang menjadi ikon wisata nasional itu juga memberi ruang apresiasi bagi publik yang lebih luas, masyarakat kebanyakan itu? Sepertinya masih ada jarak. Kesenjangan akses tepatnya.

Tapi, apakah lantaran nonton karnaval secara gratisan, publik harus nrima, mengalah dengan cara rela berdesakan dan menyaksikan penampilan para peragawan/peragawati dengan pencahayaan lampu merkuri semata, yang tiap beberapa menit butuh ‘istirahat’ alias mati dulu beberapa saat supaya tak lekas aus?


Tentu saja tak bisa dijawab dengan argumentasi diplomatis yang dibuat logis, bahwa karena publik cuma bayar pajak penerangan jalan umum (PPJU) sekali setiap bulan, lantas ‘haknya’ dibuat sepadan dengan bea yang dikeluarkan. Jer basuki mawa beya tak berlaku di sini.

Solo Batik Carnival digagas dan didesain untuk memberi kemanfaatan kepada semua pihak. Bukan asal bisa menghibur.

Karnaval hanyalah cara mewujudkan upaya Pemerintah Kota Surakarta mengangkat pamor industri batik. Jika batik dan industrinya maju, maka identitas kultural masyarakatnya kian menonjol, dikenal hingga belahan dunia lain. Aspek ekonominya bukan terentang di seputar lokasi produksi batik. Tengkulak, pengecer dan tukang becak pun bakal menikmati gurihnya dampak kuatnya mata rantai industri batik.

Peserta karnaval diseleksi panitia, dibagi ke dalam beberapa kelompok, selebihnya mmproduksi dengan biaya sendiri. Murni partisipasi...

Jadi, jika karnaval tahunan itu hendak digelar pada malam hari tahun-tahun mendatang, maka tata cahaya menjadi faktor penting. Event organizer yang berpengalaman perlu digandeng agar Dinas Pariwisata tidak kedodoran mengurus pwehwlatan sebesar itu sendirian.saa akin ada banyak event organizer yang mampu membawa sponsor untuk menutup pembiayaan.

***

Sejujurnya, saya mendapat pemberitahuan seorang teman melalui telepon. Dia bercerita, di lobi hotel tempatna menginap, banang orang memperbincangkan karnaval batik itu. Bagus, tapi sayang, kata sang teman. Tata cahaya adalah satu pokok soal yang paling sering dikeluhkan banyak orang. Mereka datang dari Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, bahkan luar negeri, demi menyaksikan sensasi karnaval. Mereka keluar banyak dana untuk melunaskan rasa ingin tahunya.

Soal lain, semrawutnya pelaksanaan, sehingga ribuan penonton merangsek ke tengah jalan sepanjang rute karnaval. Rumput dan tanaman penghijau kota rusak seketika terinjak-injak massa tanpa mau tahu,bahwa untuk menanam dan merawatnya pun butuh biaya. Publik memang ingin melepaskan rasa penasaran. Antisipasinya saja yang masih kurang.

Abdi dalem QWERTY

Belum kemacetan di berbagai ruas jalan yang diakibatkan berjubelnya kendaraan, baik yang mau menyaksikan karnaval maupun sekadar melintas, akibat penutupan ruas jalan dan pengalihan rute jalan. Tak sedikit yang mengeluh lewat Twitter, mempertanyakan keberadaan polisi lalu lintas di sejumlah kawasan, termasuk macetnya Manahan yang dekat dengan kantor pusatnya polisi di Solo.

Di mana petugas DLLAJ atau polisi lalu lintas? Semoga itu menjadi catatan untuk perbaikan kelak. Banyak orang berharap karnaval pada malam hari digelar kembali, karena memang lebih memberi kelebihan nilai sensasi, selain tidak membuat peserta karnaval kegerahan seperti jika digelar sore hari.

***

Satu hal penting lainnya, adalah melakukan edukasi kepada publik, para calon penonton. Nyaris di antara sepuluh orang, satu penonton di antaranya membawa kamera, entah kamera yang menyatu dengan telepon seluler maupun kamera saku. Mereka ingin merekam segala ragam dan pernik-pernik karnaval sebaik mungkin. Maka, merangseklah mereka ke tengan catwalk panjang… Jalanan pun riuh, crowded.

Semua foto ilustrasi di postingan ini, dibikin pakai BlackBerry Gemini yang tanpa lampu flash itu...

Upaya memang sudah dilakukan sebagai antisipasi agar tak ada pihak yang merugi. Termasuk, dibuatkanlah sejumlah kartu identitas untuk wartawan foto dan televisi. Itu menjadi solusi setelah para pewarta mengeluhkan sulitnya memperoleh gambar memadai untuk keperluan penyebaran informasi.

Banyak wartawan merasa terganggu dengan ulah kebanyakan penggemar fotografi, yang demi mengejar hasil foto bagus, mereka tak jarang menodai keindahan itu sendiri. Dengan lensa sudut lebar demi mengejar detil, mereka menempel peserta karnaval. Jumlahnya tak satu-dua orang atau belasan. Mereka bisa puluhan!

Pada karnaval kemarin, malah para fotografer amatir itu membuat identitas sendiri, setengah resmi alias berlisensi. Alhasil, para pewarta foto kembali ngamuk-ngamuk, baik spontan secara lisan maupun di jejaring sosial lewat tulisan bernada kemarahan, hingga wacana boikot. Mereka merasa tak berdaya, identitas khususnya pun tak berguna.

Yang berkaos merah (kiri) itu wartawan. Selebihnya, pemburu gambar yang kerap bikin kotor obyek bidikan kamera pewarta foto dan televisi

Jika pemburu gambar indah saja tak tahu memaknai dan mengupayakan terwujudnya rekaman indah, bagaimana penonton kebanyakan tak terdorong untuk ikut-ikutan? Singkat cerita, jalanan menyempit, peserta karnaval pun tak leluasa berjalan. Keindahan, pun tinggal kenangan.

Siapa yang rugi ketika situasi berubah seperti demikian?

Semua rugi. Jerih payah peserta, yang menyiapkan diri secara swadana hingga memakan dana jutaan rupiah seperti sia-sia. Promosi wisata yang dirintis pun kembali sia-sia karena terlalu banyak catatan kekurangan tertanam di benak khalayak. Publik harus introspeksi atas perilakunya, begitu juga pemerintah sebagai penyelenggara mesti lebih tegas membuat aturan main.

Bagaimana peserta karnaval nyaman mewujudkan amal kebaikannya, penonton bisa menikmati jalannya acara, dan tanaman di sepanjang pembatas jalan tak rusak karena terinjak-injak ribuan pasang kaki yang tak peduli. Itu merupakan pekerjaan rumah yan tak sederhana, terutama bagi Dinas Pariwisata.

Bahwa secara animo khalayak bisa diprediksi, mestinya pemerintah gencar melakukan sosialisasi dan edukasi, sehingga semua target pemangku kepentingan bisa terpenuhi. Sukses sudah pasti ada pada sejumlah sisi. Hanya perlu penyempurnaan di kemudian hari. Empat kali penyelenggaraan sudah cukup jadi bekal evaluasi, lantas jadi bahan untuk memperbaiki.

Semoga, Solo Batik Carnival 2012 lebih bisa dinikmati. Selamat kepada Pemerintah Kota Surakarta yang sudah berhasil mencetak ikon wisata baru Indonesia.

Lihat pula koleksi foto Solo Batik Carnival 2011

Tengak-tengok di City Walk

City Walk merupakan kosakata baru bagi warga Solo. Sudah dua tahun, jalur lambat di sisi kanan jalur protokol itu ramai pejalan kaki, setelah wajah aspal diganti paving block. Di banyak tempat terdapat kursi besi beralas kayu untuk bercengkerama, atau tempat istirahat bagi penyusur. Hot spot pun ditebar di sepanjang City Walk, walau dengan speed sedang-sedang saja.

Bukan Turis Biasa - makanya masih butuh foto bersama segala

Diperkenalkan Pak Joko Widodo pada awal-awal menjabat walikota, area pejalan kaki itu memang dimaksudkan untuk menarik minat wisatawan. Di ujung jalan terdapat pusat kuliner Galabo, akronim Gladak Langen Bogan. Langen itu senang-kesenangan dan bogan itu bentuk jamak dari boga yang artinya makanan.

Di Galabo itulah, semua ikon warung makan Solo membuka cabang. Bahkan, warung-warung yang hanya buka hingga sore di tempat aslinya, kita masih bisa menikmatinya pada malam hari. Galabo memang direncanakan sebagai pemuas bagi kaum pemanja lidah, terutama bagi yang tak punya cukup kesempatan untuk menikmatinya di siang hari.

Penulis dipaksa menjalani peran sebagai pemandu wisata dadakan

City Walk memang tak sia-sia dibangun. Rimbunnya pepohonan dari Purwosari hingga Gladak tak hanya asyik untuk jalan-jalan. Kita bisa menikmati Dalem Wuryaningratan, rumah tua bekas bangsawan Kraton Surakarta yang kini dijadikan Museum Batik Danar Hadi. Di museum itu, ratusan koleksi batik kuno dipajang, dan di bagian belakang museum bisa dijumpai jari-jari terampil para pembatik, dari yang berusia muda hingga nenek-nenek.

Museum itu tak jauh dari Sriwedari, kompleks taman bekas milik keluarga kerajaan. Selain gedung wayang orang yang legendaris, Museum Radya Pustaka juga berada di sini. Koleksi pusaka, topeng-topeng kuno, buku-buku bersejarah serta arca-arca tua terdapat di museum persembahan Raja Surakarta untuk masyarakat ini.

Sriwedari dan Dalem Wuryaningratan memang lekat dengan nuansa kerajaan. Begitu pula dengan Kemlayan, kampung tua yang dulunya merupakan kompleks permukiman untuk abdi dalem kerajaan di bidang karawitan. Empu gendingnya diberi gelar kebangsawanan, dengan nama sebutan Mlaya. Kata Kemlayan memang kata bentukan dari ke + mlaya + an, yang berarti kawasan para (anggota korps) mlaya.

Hanya kotak sampah yang dikelola DKP inilah yang paling berkontribusi mempermalukan warga Kota Surakarta

Antara Galabo dengan Kemlayan, ada satu kawasan tua yang cirinya hampir sama: jalan-jalan kampungnya berupa lorong kecil yang menyulitkan pengendara sepeda motor atau sepeda angin berpapasan. Kawasan itu bernama Kampung Kauman, tempat di mana para ulama dan santri kraton bermukim. Ciri Kauman hampir sama di berbagai kota seperti Semarang, Yogyakarta, Cirebon dan kota-kota tua lainnya, yakni selalu ada masjid besar sebagai pusatnya.

Di Solo, Masjid Agung masih merupakan pusat kegiatan ritual Islam kerajaan hingga kini, meski kampungnya sendiri sudah jamak latar belakang penduduknya. Selain berkonsentrasi pada urusan syiar Islam, rata-rata penduduk kauman adalah pedagang. Hingga kini, Kauman masih menjadi sentra perdagangan kitab Al Quran, buku Yaasin dan Tahlil serta buku-buku Islam dan perlengkapan ibadah. Peci, tasbih, sajadah, mukena dan sarung banyak dijajakan di kampung ini.

Meski demikian, Batik Kauman juga relatif populer. Dulu, konon motif batik made in Kauman berbeda dengan yang dibuat di Laweyan, meski kini nyaris sama. Outlet-outlet batik dan perajin pun mulai menjamur seiring dengan naiknya pamor batik dalam beberapa tahun terakhir.

Anda tertarik jalan-jalan di City Walk juga? Kami, komunitas blogger Bengawan baru saja menyusuri kawasan itu. Minggu (7/2) sore yang cerah menjadi hari yang menyenangkan bagi kami, menjalani program WatchWhileWalk agar kami bisa bercerita banyak tentang Solo, yang hasilnya akan kami ceritakan kepada Anda. Ya, kira-kira seperti yang baru saja Anda baca ini.

Selamat datang di Solo, Kota Baik Surakarta………

Foto-foto: Dony Alfan

Batik itu, Ya Laweyan

Batik Surakarta itu, ya Laweyan. Dari tlatah Pajang, batik mengular menyesuaikan alur Kali Laweyan, masuk Bengawan Solo dan seterusnya sampai ke Laut Jawa, hingga muncullah motif batik pesisiran. Ekspor barang dari Indonesia dalam pengertian modern, konon berupa batik asal Laweyan pada awal 1930-an.

membatik lagi

Kenapa batik Surakarta harus identik dengan Laweyan, sebab di sanalah konon batik bermula, diproduksi secara turun-temurun. Kyai Ageng Henis-lah yang memperkenalkan batik kepada penduduk sekitar Pajang pada awal abad ke-16. Setidaknya, begitulah yang diyakini warga Laweyan hingga kini.

Asal tahu saja, masyarakat batik Laweyan masih bertahan pada definisi kata batik, yang tidak hanya merujuk pada sebuah motif semata. Mereka menolak produk pabrikan, yang dibuat dengan menggunakan mesin-mesin modern sebagai batik. “Disebut batik itu, ya bila dibuat dengan menggunakan malam (lilin) dan melalui proses pewarnaan tertentu,” ujar Gunawan, pengelola rumah batik Putra Laweyan.

Tak hanya Gunawan, Widhiarso juga mengatakan hal yang sama. “Jadi, batik itu bukan terbatas pada motif,” ujar pengurus harian Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan itu.

Naik-turun usaha batik Laweyan selalu beriringan dengan dinamika politik nusantara, sejak sebelum maupun setelah bernama Indonesia. Pada masa penjajahan dulu, Laweyan selalu dikontrol ketat oleh pemerintah kolonial Belanda, apalagi sejak Kyai Samanhudi membentuk organisasi perlawanan bernama Sarekat Dagang Islam. Proses pemasaran batik pun tak laluasa dilakukan.

batik_laweyan_7860.jpg

Pada masa pergerakan, batik menjadi sumber ekonomi yang juga menopang gerakan perlawanan. Soekarno, Hatta dan tokoh-tokoh politik nasional, dilaporkan kerap berkunjung ke kampung itu, untuk rapat gelap dan melakukan konsolidasi. Ironisnya, masyakarat Laweyan merasa digencet justru pada masa Orde Baru.

Soeharto dianggap sebagai orang di balik masuknya mesin-mesin tekstil modern ke Surakarta melalui Batik Keris. “Tidak mungkin mesin tekstil didatangkan kalau tidak untuk menggencet usaha batik Laweyan. Apalagi, penempatan lokasi pabrik berdekatan dengan Laweyan,” ujar Pak Yanto, juru kunci Makam Kyai Ageng Henis.

Pak Yanto bertutur, sebelum Batik Keris hadir pada awal 1970-an, usaha batik sangat maju. “Di sini banyak saudagar kaya, yang mempekerjakan setidaknya 100 orang setiap rumah,” kenang Pak Yanto. Selain para buruh, kehadiran Batik Keris juga memukul usaha-usaha pemintalan benang yang dikelola perorangan, juga sentra industri lurik di Pedan, Klaten.

“Semua gulung tikar. Orang juga tak mau lagi menjalankan usaha pembuatan benang dari kapas karena kalah murah dengan barang-barang keluaran pabrik modern. Padahal, dulu banyak orang menanam kapas di sepanjang tepian sungai,” tambah Pak Yanto.

Dawet Laweyan

Laweyan sendiri, berasal dari kata lawe, yakni serat-serat kapas halus yang merupakan bahan baku pembuatan kain mori. Kata Laweyan menunjukkan tempat dimana banyak benang lawe di sana.

Tapi, wajah Laweyan kini sudah tak semuram beberapa puluhan tahun silam. Popularitas batik yang kian meningkat, bahkan ke kalangan anak-anak baru gede dan remaja, membuat kebutuhan akan bahan batik terdongkrak pula. Dan Laweyan, kini mulai menggeliat. Bila hingga 2004 lalu hanya tersisa 11 usaha batik, kini sudah mencapai 60-an orang yang menghidupkan kembali usaha batik, khususnya batik cap dan batik tulis.

Kunjungan Blogger

Apa yang dilakukan Pak Alpha, Mas Gunawan, Mas Widhiarso dan kawan-kawan lewat Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan berbuah apresiasi. Pada 7 Januari lalu, Laweyan diganjar hadiah upakarti yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk kategori kepeloporan mereka menghidupkan Laweyan, bukan saja sebagai kampung batik, namun juga kawasan heritage.

Seberapa mahal harga batik Laweyan? Jawabannya adalah relatif. Batik cap bisa Anda beli dengan harga mulai Rp 50 ribuan hingga ratusan ribu. Namun untuk batik tulis, selain kerumitan motif harga juga ditentukan oleh jenis bahan (ada mori hingga sutera). Kalau Anda mesti merogoh kocek hingga jutaan rupiah, jangan dulu Anda menganggap mahal.

Coba Anda hitung sendiri, berapa ongkos produksinya bila untuk menghasilkan satu stel bahan batik saja, ibu-ibu di Laweyan sana harus menorehkan malam lewat canthing selama satu hingga dua bulan? Di luar harga bahan, coba tengok upah minimum regional (UMR) Surakarta yang sudah di atas Rp 700 ribu.

Maukah Anda dibayar sesuai UMR dan harus suntuk bergaul dengan malam dan canthing selama itu hanya demi mengenakan batik tulis untuk menghadiri sebuah pesta atau pertemuan bisnis?