P-S-I

Sebuah sedan mewah bercat hitam mengkilat merapat pada gubuk usaha jasa tambal ban. Berhenti sekonyong-konyong membuat MaryoBros kaget. Tegap badan dengan potongan rambut brosnya telah membuat sang sopir agak gemetaran saat ia dekati. “Ada apa?” sapa Maryo dengan itonasi meninggi. Ia jengkel karena kedatangan mobil itu membuyarkan kekhusyukannya membaca koran.

“Ehm… Maaf, mau minta angin, Pak. Yang depan kiri…,” jawab sopir.

“Berapa p-s-i?” tukas Maryo.

“Mmm….berapa, ya….,” sang sopir kebingungan menjawab, “berapa aja, terserah. Saya juga tak tahu. Pokoknya, asal gak bikin berat saja bawanya. Bikin pegel di lengan kalau tekanannya gak imbang kiri-kanan.”

“Lha, iya… Kalau itu, saya juga tahu! Tapi berapa psi? Saya tak biasa ngisi angin ban mobil sedan. Kalau truk, bis atau sepeda motor, saya tahu!” Intonasi MaryoBros masih saja terasa tinggi bagi sopir.

“Pak, ini diisi berapa psi?” tanya sopir kepada majikan yang duduk sambil membaca novel di kursi belakang.

Majikan juga kaget karena kenikmatannya membaca dibuyarkan oleh pertanyaan sopir. “P-S-I… P-S-I…. Kenapa nanya-nanya begituan! Tidak akan pernah mobil ini diisi PSI!” ujar majikan, emosional.

Si sopir bingung. Ia belum lama bekerja sebagai sopir pribadi orang penting seperti majikannya kini. Belasan tahun ia mengemudikan taksi, tak pernah berurusan dengan psi, apalagi bertanya langsung pada majikan. Ia tinggal menginjak pedal gas, melesat keluar pool. Urusan mesin dan tetek bengek kendaraan sudah ada yang mengurusnya, sehingga ia tak perlu paham apa itu psi, bar, dan sejenisnya. Asal nyaman di balik kemudi, ia tak menghiraukan kondisi ban. Lagi pula, selama mengemudikan taksi di Jakarta, ia jarang mengalami kempes atau bocor ban.

“Terserah lah, Mas. Saya tak tahu psi-psi-an. Diisi saja, yang penting sama dengan yang kanan,” ujar sopir kepada Maryo, yang ternyata sudah berinisiatif memompa dengan selang terhubung pada sebuah tangki besar warna oranye.

***

Melesat meninggalkan gubuk Maryo, sang majikan terus ngomel, memarahi sopir. “Buat apa nanya-nanya soal PSI? Cuma tukang tambal ban saja, sok mau tahu urusan politik segala. Sudah negara kacau balau, usaha lagi susah, masih saja bertanya soal PSI!

Memang, orang PSI itu pintar-pintar, jagoan menyusup ke sana-sini. Tapi apa perlunya tukang tambal ban sampai nanya-nanya berapa orang PSI yang akan masuk ke dalam mobil ini?”

Si sopir bingung. Di kepalanya berkecamuk pertanyaan tentang apa itu PSI. Kenapa majikan jadi senewen mendengar rangkaian huruf itu, dan apa hubungannya dengan pertanyaan Maryo sing tukang tambal ban tadi. Ia merasa benar-benar gagal paham. Siapa sejatinya sang majikan, pun belum dikenalnya dengan benar karena belum sebulan ia diterima mengabdi kepadanya. Yang ia yakini, majikan pasti orang penting karena hampir tiap hari, yang dibicarakan hanya meeting ke meeting dengan orang-orang penting. Selama di dalam mobil, telepon selalu kerap berdering, lantas percakapannya selalu menyangkut urusan penting.

Pada setiap penantian usainya pertemuan sang majikan, ia lebih banyak diam. Dari obrolan dengan sesama sopir pengantar yang didengarnya, tak pernah bisa memberi petunjuk untuk menguak jatidiri sang majikan. Tapi dari percakapan telepon selama perjalanan, ia menangkap kesan sang majikan adalah sosok yang sering didengar pendapatnya, mulai soal politik, tata negara, dan kadang-kadang obrolan tentang sebuah proyek, walau tak terkait bisnis jual-beli mobil seperti ditekuni majikannya.

Pernah ia mendengar percakapan agar Si A ditempatkan sebagai direktur utama sebuah perusahaan negara, pernah pula ia mendengar ucapannya agar Si C tidak perlu diberi peran kunci di kantornya. Majikannya juga pernah menyuruh agar orang lain lagi ditempatkan dalam struktur jabatan kepartaian, dan banyak lagi, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan nama negara dan lembaga, seperti Amerika, Bank Dunia, dan sebagainya.

Yang pasti, ia masih tetap merasa gagal paham tentang sosok sang majikan. Ia pun masih bingung ketika diminta menunjukkan kartu keluarganya melengkapi fotokopi KTP yang diminta saat ia dinyatakan diterima bekerja kepadanya. Ia juga heran ketika tiba-tiba diberi sejumlah uang untuk membuka rekening di sebuah bank. Katanya, gajinya akan dibayar setiap akhir bulan melalui sistem transfer.

Sumanto, lulusan sebuah SMA swasta di Klaten itu, tetap tak mengerti kaitan tiga huruf: p-s-i, seperti yang diucapkan tukang tambal ban dan yang keluar dari mulut majikannya, yang sama-sama dengan intonasi tak mengenakkan hati. Selidik punya selidik, termasuk ketika menanyakan peristiwa mengisi angin ban mobil kepada anaknya yang sudah kuliah, ia hanya diberi tahu, bahwa p-s-i itu satuan tekanan. Pounds-force per square inch.

Ya, akhirnya ia hanya bisa mengira-ira, dengan menempatkan ‘tekanan’ sebagai kata kunci, seperti dijelaskan anaknya, maka p-s-i yang dimaksud majikannya juga berarti sebuah tekanan pula. Nyatanya, seperti biasa didengarnya, sang majikan sering mengucapkan perlunya ada kelompok penekan pada berbagi pembicaraan.

Sumanto, pun selalu ingat kepada MaryoBros setiap menatap majikannya. Intonasi meninggi tukang tambal ban itu ketika menanyakan ‘berapa p-s-i’ ketika mendekat ban depan sebelah kiri mobil, dan jawaban majikan yang terkesan marah saat merespon pertanyaannya tentang p-s-i.

 

 

 

 

 

Welcome to ASEAN Blogger

Hari ini, saya menghadiri undangan pengurus Pondok Pesantren Al Muayyad, Solo, menyambut kunjungan Duta Besar Amerika Scot Alan Marciel. Walau terlambat, saya tetap datang mewakili Komunitas Blogger Bengawan karena kunjungan itu menarik dan memiliki arti penting bagi sebuah kerjasama antarbangsa, juga mengenai upaya peningkatan saling pengertian mengenai pendidikan Islam.

Pengamanan kunjungan diplomatik Dubes Amerika Scot Marciel di Ponpes Al Muayyad Solo

Islam menjadi kata kunci dalam kunjungan itu. Amerika yang diidentikkan dengan ‘negeri Kristen’ sering dianggap sedang memusuhi ‘dunia Islam’ terkait dengan tata keseimbangan global yang baru pasca perang dingin, yang hanya mengenal blok barat yang dianggap sebagai representasi demokrasi dan blok timur yang sosialis-komunis.

Sebagian komunitas Islam dunia pun memusuhi Amerika, apalagi bagi mereka yang bersimpati atau bahkan mendukung perlawanan Osama bin Ladin terhadap barat. Pada sisi lain, sebagian dari bangsa dan Pemerintah Amerika pun belum tuntas memahami dinamika masyarakat Islam. Pada situasi semacam itulah lantas dibutuhkan dialog, saling sapa, agar sama-sama mengerti dunia yang berbeda.

Satu hal menarik selain pernyataan Dubes Marciel bahwa pihaknya bukan memusuhi Islam, adalah cara rombongan orang-orang penting Amerika itu menjalankan sebuah etika depilomatik. Dubes dan seluruh stafnya mengenakan baju batik, bukan jas. Pasukan pengamanan yang dibawanya pun berpakaian batik dan kostum sipil lainnya. Tidak tampak garang, tidak menunjukkan ketegangan.

Sebaliknya, justru aparat keamanan dari Polda Jateng yang tampak berlebihan, walau sebenarnya bisa disebut wajar. Duta besar dan korps diplomatik adalah representasi negara yang menugaskannya. Keselamatannya harus dijaga, sehingga dengan demikian bisa menimbulkan dampak berlebihan.

Ketika aparat Polda hendak membawa anjing pelacak ke dalam kompleks pondok pesantren untuk misi pengamanan, petugas Kedutaan Amerika yang justru melarangnya. Padahal, pengelola pondok sudah mengijinkan, asal anjing pelacak tidak mendekati masjid. Ini menarik karena menunjukkan betapa mereka yang sering ‘dikafirkan’ oleh sebagian umat muslim, pun mengerti bahwa anjing merupakan binatang yang air liurnya diharamkan dalam hukum Islam.

***

Dua hari sebelum menghadiri kunjungan Dubes Amerika ke pondok pesantren di Solo itu, saya diundang Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, Kementrian Luar Negeri Indonesia, untuk turut serta dalam deklarasi Blogger ASEAN di Jakarta. Bersama sejumlah individu blogger yang berasal dari sejumlah komunitas di Jabodetabek, hadir pula Cak Gempur, blogger senior dari Surabaya, yang merupakan anggota komunitas blogger Tugu Pahlawan, Surabaya.

Dirjen Kerjasama ASEAN Kemlu RI, Djauhari Oratmangun sedang menceritakan perlunya menggunakan jejaring sosial untuk membangun saling pengertian antarbangsa, khususnya kawasan ASEAN

Ada wacana menarik di forum deklarasi yang dilanjutkan dengan bincang-bincang mengenai perlu (tidaknya) blogger berhimpun dalam komunitas yang lebih besar, dalam ruang lingkup ASEAN, misalnya. Ada juga pertanyaan, apakah komunitas itu kelak harus menjadi kepanjangan tangan Kementerian Luar Negeri alias komunitas blogger pelat merah.

Bagi saya, berkomunitas seperti dalam ASEAN Blogger Community pun bakal memberi manfaat. Mungkin kita bisa menjadi penutur yang baik akan kekayaan budaya, wisata dan potensi industri kreatif dari sekitar kita, karena informasi semacam itu pun dibutuhkan warga dari bangsa-bangsa tetangga. Melalui postingan, entah berupa tulisan maupun gabungan dengan foto, media audio atau audiovisual, mungkin kita bisa mendatangkan wisatawan asing ke Indonesia, perdagangan antarbangsa, dan sebagainya.

Penandatanganan naskah deklarasi ASEAN Blogger Community chapter Indonesia

Pada sisi lain, blogger juga bisa melakukan kerja-kerja advokasi bagi sekitarnya melalui postingan serupa, bilamana negara, dalam hal ini para diplomat di Kementrian Luar Negeri, kurang maksimal atau bahkan abai terhadap berbagai persoalan bersama, apalagi terkait dengan warga negara kita yang berada di luar negeri.

Jika saya bersedia menjadi deklarator Blogger ASEAN chapter Indonesia, semata-mata karena alasan ideal, bahwa sebagai blogger pun saya bisa memberi kontribusi terhadap perbaikan negeri ini. Menceritakan korupsi aparatur birokrasi atau hamba hukum sekalipun, saya yakini mampu membuat jera pelakunya, walau tidak seketika.

Siapapun yang ingin berhimpun dalam ASEAN Blogger Community,  saya harap berangkat dari kesadaran dan niat tulus untuk menyumbang gagasan bagi perbaikan negeri dan kesetaraan berbangsa.

Kalangan Islam di Indonesia, misalnya, bisa bercerita tentang anatomi Islam yang sesungguhnya, sehingga bermanfaat bagi sebagian umat Islam di Pattani, Thailand Selatan atau warga Mindanau di Filipina Selatan yang masing-masing merasa masih bermasalah, kurang diperlakukan secara adil oleh pemerintah pusat di Bangkok dan Manila.

Pemerataan kesejahteraan ekonomi dan politik, penghormatan terhadap kultur lokal  dan hak-hak dasar warga negara lainnya, bisa menjadi solusi bagi upaya menurunkan kadar radikalisme di Pattani maupun Mindanau. Mirip dengan gejala radikalisasi sebagian warga Aceh atau Papua, yang merasa kurang diperlakukan adil oleh Jakarta.

Blogger bisa turut mengabarkan bentuk-bentuk ketimpangan, atau menyuarakan isi hati warga bangsa yang masih merasa ditindas oleh negara, seperti mewujud pada kurangnya kesejahteraan mereka, padahal wilayahnya sangat kaya sumberdaya, baik yang hayati maupun yang terkandung di dalam perut bumi.

Blogger adalah pewarta warga. Yang semestinya tak bisa diam saja jika melihat kekurangan di sekitarnya. Sebaliknya, banyak hal-hal baik, capaian-capaian bagus dari sebuah kinerja pemerintahan, atau inisiatif warga negara, yang perlu dijembatani sehingga kian banyak orang yang bisa mengetahui dan memetik manfaat dari sana.

Sungguh, saya tak kuatir terkooptasi dengan keterlibatan saya dalam ASEAN Blogger Community yang baru saja dideklarasikan. Saya masih dan akan tetap otonom terhadap diri saya, begitu juga dengan kemampuan nalar yang saya miliki. Saya kelewat mencintai negeri ini, betapapun masih banyak keburukan yang ditunjukkan oleh para legislator dan aparat pemerintah, yang keberlangsungan hidupnya ditopang oleh pajak rakyat dan kekayaan alam Indonesia.

Jika menyimpang dari misi awal sebagai jembatan warga negara Indonesia dengan Kementerian Luar Negeri serta upaya menciptaan tata regional baru yang setara dan bermartabat, seketika itu juga saya akan memutuskan keluar dari komunitas dan mencabut status saya sebagai deklarator.

Mubarika Damayanti dari IdBlogNetwork sedang menandatangani naskah Deklarasi Blogger ASEAN

Saya yakin terhadap niat baik Mas Aris Heru Utomo dan Pak Hazairin Pohan sebagai dua inisiator lahirnya ASEAN Blogger Community. Keduanya juga blogger, yang rajin update blog masing-masing di tengah kesibukan menjalani rutinitas kerja-kerja diplomatik. Soal komunitas ini mau dibawa ke mana, saya yakin sangat butuh masukan dan keterlibatan lebih banyak blogger, baik secara individual maupun institusional yang mewakili komunitas blogger.

Sebagai komunitas, tentu dibutuhkan syarat penting berupa kelenturan dan kemerdekaan untuk mengawal keberhasilan dan eksistensinya. Semoga IdBlogNetwork sebagai organizer peristiwa deklarasi  dan mitra utama Kementerian Luar Negeri, bisa menerjemahkan misi suci ini. Saya masih menangkap ketulusan Mbak Rika, Mas Kukuh TW dan kawan-kawan IdBlogNetwork untuk turut membesarkan komunitas baru ini. Karena itu, saya berharap kedua lembaga ini bisa menjembatani banyak individu dan komunitas blogger di Indonesia, yang masih memiliki perbedaan sikap dan orientasi berhimpun dalam sebuah kerja sama secara nasional.

Selamat datang ASEAN Blogger Community

Jika Mesir Tiru Indonesia

Seperti Indonesia, Mesir merupakan negara penting bagi Amerika dan sekutunya. Meski mayoritas penduduknya muslim, negaranya sama-sama sekuler, sehingga cocok untuk eksperimentasi demokrasi. Pemilu langsung yang akan segera digelar, bisa dipastikan bakal menuai banyak pujian. Apalagi, jika berlangsung damai.

Badan-badan dunia, utamanya yang merasa sebagai pengawal demokrasi sejati, pasti sudah berancang-ancang mengirim tim ahli. Mitra lokal segera dicari, tentu saja dari kalangan prodemokrasi. Tingkat partisipasi menjadi kata kunci. Siapa pemenang adalah soal nanti, walau pada prakteknya yang potensial bekerja sama amankan kepentingan yang akan disokong.

Terserah Anda mau menyebut saya sedang berhalusinasi atau mementingkan teori konspirasi. Dalam politik, pertarungan kepentingan selalu terjadi. Para ahli dan opinion leaders sudah terbiasa meneriakkan teori konspirasi sebagai teori usang. Mereka suka mengaplikasikannya secara diam-diam, tidak terang-terangan. Intinya, tak rela kalau orang lain memikirkan teori itu.

Mesir merupakan sekutu penting Amerika di Timur Tengah, sepenting posisi Indonesia di Asia Tenggara. Bedanya, Mesir sebagai kawasan basis intelektual regional bisa diharapkan turut menjaga kepentingan lewat kaum terpelajarnya yang terbuka, namun masih beraroma Islam sehingga menopang strategi.

Sementara Indonesia, selain dijadikan sekutu untuk menyebarkan virus demokratisasi, kepentingan industri dan pasar menjadi pertimbangan lebih utama. Sumberdaya alam, seperti dimaksud oleh pasal 33 UUD 1945, semua ada di Indonesia dan kawasan sekitarnya. Industriawan besar, yang butuh bahan baku apa saja, nyaris ‘hanya’ bisa leluasa mendapatkannya di Indonesia dan kawasan Asia lainnya.

Demikian pula potensi pasarnya yang luar biasa. Aneka produk massal dari perusahaan-perusahaan multinasional perlu pasar. Internasionalisasi kultur juga dianggap penting, meski lokalitas tetap akan dijadikan bahan jualan juga. Setidaknya, buat kepentingan pariwisata.

Pada strategisnya kepentingan-kepentingan itulah, maka ‘kerja sama’ dengan rezim dan kekuatan politik suatu negara menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan. Rezim otoriter sekalipun akan disebut mitra, seperti halnya Soeharto dan Hosni Mubarak, yang kebetulan, keduanya mengandalkan angkatan bersenjata. Amerika dan sekutunya akan tutup mata terhadap apa yang sering disebut ‘pelanggaran HAM’, sepanjang itu tak menjadi sorotan dunia dan menggoyahkan eksistensi hegemonik mereka.

***

Mubarak telah ‘tumbang’. ‘Kejatuhannya’ mirip dengan Soeharto. Perlu ada unjuk rasa massa secara besar-besaran supaya tampak ‘aspiratif’ dan ‘sesuai kehendak rakyat’. Kalau di Indonesia estafet diserahkan kepada Habibie sang wakil, di Mesir diarahkan kepada militer, yang notabene penyokong Mubarak selama 30 tahun. Soeharto dan Mubarak merupakan tokoh kunci, yang kedudukannya tak pernah goyah, lantaran sikap manis keduanya terhadap (kepentingan) barat.

Seburuk-buruknya Ikhwanul Muslimin, saya yakin ia dibutuhkan (minimal untuk penyeimbang dan keperluan pencitraan), seperti halnya keberadaan laskar-laskar Islamis di Indonesia. Ujung-ujungnya, toh akan menuju pada tahapan kompromi dan berbagi kue semata pula.

Kelak, pemilu Mesir akan membuktikan, apakah Ikhwanul Muslimin akan memiliki perolehan suara yang sama dengan partai-partai Islam di Indonesia. Siapa tahu ia bisa dijadikan sebagai Poros Tengah, seperti halnya di Indonesia, untuk bikin ontran-ontran jika Presiden Mesir kelak kurang bisa diterima Barat karena sikap keras dan konsistensinya membela kedaulatan bangsanya, seperti terjadi pada Gus Dur dulu.

Walau terasa berlebihan, saya kok curiga, di Mesir kelak akan bermunculan aneka lembaga survei dan konsultan pencitraan, yang merangkap panitia pemenangan pemilihan, yang jago mengendalikan perolehan suara seorang kandidat, entah dengan menyogok, merampok data di komisi pemilihan umum, dan lain sebagainya.

Semoga, kelak Mesir tak terlalu mirip Indonesia, yang punya presiden (yang katanya terpilih secara demokratis) namun masih tetap cengeng, suka merajuk dan gemar bersolek karena memuja pencitraan yang sangat lahiriah semata sifatnya.

Wahai rakyat Mesir, jangan ikuti jejak kami…

Berisik Tahunan

Inilah penyakit tahunan: berisik menyuarakan hal, yang bagi sebagian orang, tak ada gunanya. Biar. Saya telanjur menikmati peran abnormal ini, ketika sebagian yang lainnya memilih memberi dukungan secara diam-diam. Perhelatan tahunan para blogger selalu menggoda saya untuk menyanyikan tembang sumbang, supaya kian banyak orang ikut mewarnai proses perubahan.

Perubahan? Ya!

Bangsa ini tak akan pernah beranjak dari keterpurukan bila produsen konten tak kunjung bertambah. Dari 30 jutaan pengguna internet, konon hanya ada tiga juta blog. Dari sebanyak itu, boleh jadi bloggernya, yakni produsen konten, cuma sepertiganya atau kurang, sebab satu blogger aktif bisa mengelola tiga atau bahkan lima blog sekaligus.

Ngeblog yang ngeblog saja. Tak usah membeda-bedakan mana tampilan yang bagus atau buruk, begitu juga isi blognya. Tak terlalu penting bagi saya, sebab yang perlu didorong adalah agar orang mau ngeblog dulu, lalu keasyikan. Semua pakai proses, sehingga lama-lama juga akan membaik secara alamiah.

Ngeblog pun tak perlu muluk-muluk, apalagi berpretensi melahirkan perubahan segera. Tak ada baiknya sama sekali jika sebuah akibat muncul tapi hanya berklasifikasi instan.

Mari kita main tebak-tebakan, apa sebab Kedutaan Amerika di Jakarta selalu mau menjadi sponsor utama Pesta Blogger?

Menurut saya, ada banyak alasan. Pertama, Amerika berkepentingan meneguhkan hegemoninya sebagai pionir dan pengawal kebebasan berekspresi, termasuk menyuarakan pendapat. Demokrasi memerlukan yang satu ini. Dan Pesta Blogger merupakan ‘satu-satunnya’ forum paling besar di Indonesia yang mengklaim ajang pertemuan para produsen konten.

Yang kedua, Amerika ingin menakar kadar kesadaran bangsa Indonesia akan kebebasan bersuara dan partisipasi publik dalam praktik demokrasi. Blogger, menilik prasyarat yang harus dimilikinya (seperti tingkat pendidikan, kepemilikan perangkat keras dan punya akses internet), adalah kelompok kelas menengah (dan elit). Dan, saya lupa kata siapa, kaum menengahlah yang cukup berperan membuah perubahan.

Logika konspiratif? Terserah mau dinilai apa. Banyak orang pintar mencitrakan teori konspirasi sudah usang agar orang yang berpikir begitu dianggap katrok, out of date, kampungan. Padahal mereka bersekutu dengan politisi, dan menerapkannya secara diam-diam.

Sebaiknya jangan lupa, penerbitan sederhana Al Manar punya peran besar dalam mewarnai dinamika politik internasional, hingga kini. Kaum pergerakan Indonesia pun menggunakan newsletter yang kelak dilabeli sebagai cikal bakal pers nasional. Bagaimana dengan blog? Saya yakin, blog punya potensi mendorong perubahan, seperti halnya SMS pernah turut ‘menjatuhkan’ Joseph Estrada dari kursi Malacanang, juga kicauan di Twitter membuat SBY sering menggelar konperensi pers.

Tentu saja, blogging tak melulu ‘berguna’ untuk menyingkirkan rezim. Pada skala kecil-kecilan, postingan foto dan/atau tulisan di blog, terbukti cukup membantu mengenalkan potensi (wisata, kerajinan, kekayaan kuliner, dll) suatu daerah. Kesadaran menjaga lingkungan, budaya dan sebagainya pun bisa dilakukan lewat postingan.

Kenapa Amerika yang katanya penyokong kebebasan berekspresi diam saja saat ada Pasal 27 ayat 3 UU ITE yang memasung kebebasan berekspresi, diam saja?

Kalau soal itu, ya jangan tanya saya. Seingat saya, ada yang namanya tata krama diplomatik, di mana haram hukumnya suatu negara turut campur urusan rumah tangga negara lain. Bisanya, ya nyrempet-nyrempet begitu, mau masuk kawasan blogosphere Indonesia, lalu membonceng momentum seperti Pesta Blogger itu. Ya, mirip-mirip cara Kapiten Mallaby dulu itu, lo…(Kalau ke organisasi-organisasi masyarakat sipil kan sudah lama…)

Lagi pula, itu kan urusan internal kaum netizen di Indonesia. Soal peduli atau tidak pada kebebasan berekspresi, ya itu kembali kepada masing-masing Individunya. Gampangannya, bagi yang suka kapitalisme, maka sikapnya jelas: ada itung-itungan nilai pasarnya. Bagi yang ultra kiri, maunya ngeblog bisa mengubah keadaan, bahkan revolusi. Ilusi, selalu membayangi kelompok kedua ini.

Terus, enaknya gimana? Ya, terserah Anda. Ngeblog itu suka-suka, kok. Yang penting rajin update. Titik.

Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV

Pada masa kepemimpinannya, Gus Dur pernah memperoleh julukan Presiden Wisata. Seringnya melakukan kunjungan luar negerilah yang berujung pada munculnya sinisme demikian, yang sudah pasti dilontarkan oleh politisi-politisi yang berseberangan dengannya. Boros anggaran, tak bermanfaat dan sebagainya adalah peluru ‘faktual’-nya.

Dalam matematika awam, biaya perjalanan dinas tentu mencengangkan sebab nilainya selalu dalam satuan M, milyar! Bila uang semilyar disandingkan dengan upah buruh, nilai itu bisa dinikmati oleh seribu lebih buruh dan keluarganya, yang selama sebulan penuh memeras tenaga. Padahal, sekali kunjungan bisa lima milyar ‘menguap’.

Awam tak pernah berhitung, keuntungan apa yang diperoleh dari sebuah kunjungan kenegaraan seorang presiden. Ketika ke Brasil, misalnya, bisa tercapai kesepakatan jual-beli kedelai antara kedua negara. Padahal, sebelumnya Indonesia mesti mengimpor komoditi yang sama melalui Amerika. Berapa keuntungan Indonesia?

Tapi, bagi saya, itu hanya soal kecil. Remeh jika dibanding dengan gagasan besar dan gerakan yang sedang dilancarkan almarhum. Yang tak tertangkap radar awam, adalah upaya Gus Dur menggalang kebersamaan negara-negara Nonblok untuk memperjuangkan penghapusan utang luar negeri, yang selama tiga dekade dimiskinkan oleh Barat, kelompok Utara, yang dimotori Amerika.

Negara-negara Nonblok yang tersebar di Asia, Afrika, dan Amerika bagian Selatan yang memiliki sumberdaya alam berlimpah, telah dijajah oleh kepentingan industri negara-negara maju. Utang digelontorkan dengan konsekwensi yang menguntungkan barat, sumberdaya alam disedot, dan bangsanya dijadikan pasar. Kelompok Utara kian kaya, yang di Selatan terus menderita. Tak jarang, konflik diciptakan di suatu negara yang dijadikan target, lalu back up ekonomi dan senjata diberikan oleh Barat kepada rezim yang berkuasa di sebuah negara.

Indonesia adalah contoh nyata. Ketika perang dingin masih berkecamuk, Amerika dan sekutunya mensponsori gerakan antikomunis di Asia (Tenggara) dengan Indonesia sebagai basisnya. Bekerjasama dengan militer yang dikomandani Soeharto, penumpasan komunis dilakukan dengan pijakan isu penculikan Dewan Jenderal yang lantas dikenal sebagai Gerakan 30 September 1965.

Kesuksesan Soeharto berbuah ‘manis’. Ekonomi Indonesia dimajukan, lewat model hibah dan utang. Hibah dimaksudkan sebagai hadiah atas prestasi menumpas komunisme, yang lantas dilegitimasi dengan terbitnya Ketetapan MPRS No. XXV pada 1966. Sejak itu, pelan tapi pasti, investasi demi investasi ditanamkan. Listrik dibutuhkan, pupuk diperlukan, irigasi juga dinanti petani.

Dengan dalih membantu ‘mewujudkan kemakmuran’ rakyat Indonesia, utang terus-menerus digelontorkan. Industri dibangun, waduk dibuat –baik untuk irigasi maupun pembangkit litrik, hingga atas nama pembangunan, represi demi represi dilancarkan. Pembebasan lahan (untuk waduk misalnya), diwarnai intimidasi. Singkat kata, pembangunan demi kesejahteraan hanya menjadi slogan, karena faktanya banyak rakyat menderita. Hak-hak mereka dirampas, sementara Amerika dan sekutunya sebagai pemberi utang yang selama ini mengklaim peduli hak asasi, memilih tutup mata.

Daftar pelanggaran HAM pun memanjang. Versi resmi menyebut 500 ribu lebih (versi lain menyebut lebih dari 2 juta) orang yang diidentifikasi sebagai komunis mati terbunuh, dan keluarga/keturunannya kehilangan hak untuk bekerja akibat kebijakan ‘bersih diri bersih lingkungan’ dan model litsus, penelitian khusus.

Aktivis pembela HAM dan pengusung kebebasan berserikat/bersuara ditangkap dan dipenjarakan tanpa proses peradilan, sedang korban pembebasan lahan dengan harga tak adil, turut diintimidasi dengan kekerasan. Amerika, negara adidaya yang menggembar-gemborkan hak-hak asasi dan kedaulatan sipil, masih pura-pura tak tahu.

Hal-hal demikianlah yang membuat gemas Gus Dur, sehingga ketika menjabat presiden, ia kembali menyuarakan perlunya Konferensi Tingkat Tinggi Negara-negara Nonblok, seraya menyambangi negara-negara yang semua bernasib sama dengan Indonesia: dililit utang luar negeri!

Indonesia, seperti yang digagas Gus Dur, akan memerankan diri menjadi pelopor gerakan penghapusan utang, sebab limpahan ekonomi dan banjir investasi pada masa Soeharto telah memakan banyak korban kejahatan kemanusiaan. Intinya, Amerika dan negara-negara Barat harus bertanggung jawab atas kemiskinan yang terjadi di sini, sebab utang luar negeri juga banyak dikorupsi, disalahgunakan untuk mengintimidasi, dan menyengsarakan.

Secara moral, Amerika dan sekutunya harus ikut menanggung kerugian, dengan asumsi mereka telah melakukan pembiaran praktek penyimpangan. Bentuknya: menghapus seluruh utang luar negeri Indonesia!

Karena semua petaka, tindak kekerasan negara dan kemiskinan yang diderita rakyat bermula dari peristiwa satu sembilan enam lima dan Tap MPRS Nomor dua lima yang berisi larangan ajaran komunisme, Marxisme dan Leninisme, maka satu-satunya cara hanya melalui pencabutan ketetapan MPRS tersebut. Tanpa pencabutan Tap itu, negara-negara Barat akan mudah menyatakan: Gus Dur, bangsamu masih menginginkan komunisme hilang dari bumimu!

Karena bahayanya gerakan Gus Dur, saya menduga, dimulailah rekayasa baru berupa mobilisasi kelompok-kelompok Islam agar menentang penghapusan Tap MPRS No. XXV itu. Pola lama dijalankan kembali, seperti pada pertengahan 1965, dimana umat Islam (terutama Banser NU) didorong menjadi ‘pembunuh’ sesama bangsanya sendiri dengan dalih ‘antikomunisme’.

Jadi, kalau pada saat-saat menjelang kejatuhan Gus Dur banyak tokoh Islam bersuara lantang menentang, boleh jadi karena ketidaktahuannya saja sedang dimainkan oleh kekuatan mahadahsyat dari luar. Dan bila kini sebagian besar orang-orang yang mengaku ‘paling Islam’ dan berseru lantang dan membuat barisan anti-Amerika dan sekutunya, bagi saya, itu hanya guyonan semata.

Sama dengan sebagian besar politisi kita, ‘iman’ mereka masih pada uang. Merebut kekuasaan demi uang, karena itu mereka menggadaikan nasionalisme dan harga dirinya kepada pihak yang sanggup memberi uang.

Mereka tutup mata, bahwa komunisme, Marxisme dan Leninisme hanya sebatas ilmu sehingga boleh dipelajari (karena dengan begitu akan tahu kelemahan kapitalisme), sementara yang tak dikehendaki Gus Dur adalah keberadaan komunisme sebagai ideologi politik, yang mewujud ke dalam sebuah partai.

Partai Komunis Indonesia, apapun sudah cacat eksistensinya, karena sudah berusaha menggantikan ideologi negara lewat cara dua kali melakukan upaya pemberontakan. Sama dengan DI/TII yang pernah ditumpas karena berupaya mendirikan negara Islam.

Negara komunis atau negara Islam, bukan solusi bagi perbaikan negeri ini. Kebersamaan, bahu-membahu antaretnis, agama dan apapun namanya dalam ikatan ke-Indonesia-an merupakan satu-satunya jalan untuk mewujudkan kesejahteraan. Gus Dur sudah memperjuangkan itu, meski harus membayar mahal: dijatuhkan dan dihinakan oleh lawan-lawan politiknya, yang menurut saya adalah kaum koppig!