Andi Kena Bom di Afghanistan

Andi in action

Andi in action

Beberapa jam sebelum bertolak ke Afghanistan, dia menelponku, pamit hendak berangkat, kembali bersaksi atas perang yang tak berkesudahan. Dua hari lalu, sebuah bom ranjau meledak, menghajar tank militer Amerika yang dia tumpangi. Dua perwira Amerika, konon tewas dalam insiden itu, Emilio Morenatti, fotografer sekantornya yang berbasis di Pakistan, satu kakinya harus diamputasi. Tiga tulang rusuk Andi patah, kakinya terluka, namun tak seberapa.

Memang, Andi Jatmiko atau populer dengan nama Andi Riccardi, termasuk yang ‘beruntung’. Ia selamat dari maut. Bagi wartawan perang sepertinya, terluka sudah biasa. Risiko meliput peperangan memang begitu. Peluru gerilyawan Afghan yang bersarang di punggungnya, sembilan tahun silam, seperti sering dia ceritakan, dianggapnya sebagai kenangan, seperti halnya preman yang menandai tubuh dengan tato ketika ‘sekolah’ di penjara.

Sehari setelah berhasil dievakuasi dari Afghanistan Selatan ke kota Kandahar, dia menelpon sanak-keluarganya. Pagi ini pun, dia menelepon ibunya dari Dubai, tempat dia memperoleh perawatan atas lukanya. “Ma, sakitnya tiga belas kali sakit waktu ketembak tahun 2000 lalu,” katanya seperti dituturkan ibunya, Ny. Ermestin.

Ditanya sang ibu bagaimana kondisi tulang rusuknya, apakah patah atau retak, dia (seperti biasa) menjawabnya dengan cengengesan. “Kiwir-kiwir, Ma…,” ujar Andi. Paham sang anak, Mama –begitu saya ikut-ikutan memanggilnya, hanya bisa merespon dengan tertawa, dan justru kian yakin, Andi tak dalam kondisi menderita.

Begitulah Andi yang saya kenal. Mbeling, bandel, dan pemberani. Irak termasuk medan perang yang sangat dikenalnya. Setidaknya, dua kali dia ke sana sejak Amerika menginvasinya pada 2003. Untuk kesempatan yang ketiga kalinya, ia sempat mengeluh kepada saya, bahwa rencana kedatangannya akan tidak asyik, kurang menantang. “Saya harus embedded dengan tentara Amerika!” ujarnya.

nyantai...

nyantai...

Bukan saja tak leluasa menentukan angle liputannya, dengan menumpang kendaraan perang tentara Amerika, itu berarti dia hanya memperoleh gambaran sepihak. Cover both sides-nya bakal tercederai. Lagi-lagi, dia tertawa ketika mendengar kabar dari kantornya, ia tak jadi dikirim ke Irak.

Ya, medan konflik merupakan area liputan yang disukainya. Adrenalinnya meningkat ketika ada kebebasan melakukan liputan. Ketika pasukan Hisbullah mengusik ketenangan Israel, lobi-lobi yang dilakukannya mengantarkannya pada keberhasilan memperoleh passed dari Hasan Nasrallah, panglima tertinggi Laskar Hisbullah. Lima hari dia ikut gerilyawan itu, hingga ke sarangnya.

Andi diperlakukan dengan sangat ramah, apalagi setelah diketahui ia seorang muslim asal Indonesia. Makan dan tidur bersama mereka, bahkan Andi leluasa mengirim sms atau beberapa kali bercakap-cakap lewat telepon dengan saya. “Hisbullah memiliki senjata yang luar biasa canggih. Kalau mau, dari tempat persembunyiannya pun mereka bisa mengirim rudah hingga Tel Aviv,” cerita Andi, ketika kami ajak nongkrong bersama Dony, Panjoel, Irfan, dan beberapa blogger Bengawan di sebuah wedangan.

Pengalamannya meliput peperangan untuk kantor berita Amerika yang berpusat di London, Associated Press Television News (APTN), sungguh mengagumkan. Bukan soal nyali, namun lebih pada hal-hal fundamental yang harus dipersiapkan oleh seorang jurnalis sebelum mendekat, bahkan memasuki wilayah perang. Cap Amerika yang dia bawa misalnya, akan tak menguntungkan saat di Afghanistan atau Irak. Karena itu, perlu antisipasi dan perhitungan yang matang.

Memilih porter, pembantu umum yang biasa merangkap fixer, juga tak sembarangan. Harus melalui serangkaian pengujian mengenai sosoknya, agar tak membahayakan di tengah liputan. Mereka harus hafal medan, kuat, serta punya akses sebagai penghubung kepada dua kelompok yang bertikai.

“Di medan perang, saya tak pernah membawa kameraperson atau reporter. Saya tak mau terganggu perasaan dan emosi saya, terutama ketika memikirkan keselamatan orang lain. Konsentrasi liputan bisa terbelah,” ujar Andi, yang biasa membawa bekal dan perangkat liputan seberat 200-300 kilogram.

Semua bawaan sangat penting: obat-obatan, bekal makanan berhari-hari, pakaian antipeluru, perangkat komunikasi satelit, kamera cadangan, mesin editing, juga generator berikut bahan bakarnya. Di luar itu, pemahaman kebudayaan kedua pihak yang bertikai menjadi bekal penting pula, agar lentur dan mudah tembus narasumber.

kalau ngedit, cepetnya ampun-ampun.....

kalau ngedit, cepetnya ampun-ampun.....

Jangan tanya negeri mana yang belum pernah dikunjungi. Asal negeri itu pernah konflik, bahkan hingga Nikaragua sekalipun, akan didatanginya. Kebetulan, ia termasuk satu di antara sedikit video journalist yang dimiliki APTN, yang memiliki kecakapan dan potensi adrenalin di atas rata-rata.

Karena itu, tak heran ketika ia kerap jadi rujukan konsultasi sejumlah stasiun televisi Indonesia, ketika hendak mengirim reporternya ke medan-medan perang. Bukan cuma membekali dengan cerita dan tips, Andi akan berbagi akses atas orang-orang yang menjadi kontak personnya di berbagai negara.

Andi Riccardi adalah sahabat sekaligus guru bagi saya Banyak cerita saya peroleh dari dia yang bisa dijadikan bekal, walau saya tak pernah bermimpi melakukan liputan di medan perang. Bagi saya, kedua pihak yang bertikai lebih pantas dimusuhi dan diperangi. Dan, satu hal yang penting, Andi tak pernah menyikapi perang sebagai ajang untuk sok-sokan, apalagi berpretensi menjadi pahlawan. Dia tak pernah sok tahu.

Kalau ‘cuma’ perang atau kericuhan di dalam negeri, dia menganggapnya masih dalam batas ‘biasa-biasa saja’. Di Irak atau Afghanistan, nyawa lebih tidak berharga, kendati sewaktu aksi bumi hangus TNI di Timor Timur, Andi nyaris kehilangan nyawa karena rumah yang dijadikan sebagai kantornya dilumat granat dan berondongan peluru. Di Solo, ketika massa mengamuk karena Ba’asyir diambil paksa polisi dari rumah sakit, ia tak bergeming. Batu dan kayu berseliweran, banyak jurnalis mengamankan diri, Andi seperti menganggap tak ada apa-apa. Dia berdiri di atas meja, shooting suasana chaos, tak hirau bahaya mengancamnya.

Sepanjang liputan kasus-kasus terorisme dan bencana Gunung Merapi, misalnya, saya hampir selalu bersamanya. Menanti saat-saat lava meleleh yang menjemukan karena tak bisa diprediksi, misalnya, ia memilih tiduran atau telpon-telponan. Agar tak terganggu perasaannya karena kasihan dengan driver yang mengantarnya, misalnya, ia memilih menyuruh pulang sang sopir. Mobil dibawanya sendiri, sebab dengan begitu ia lebih bisa konsentrasi pada pekerjaan, pada hasil yang benar-benar diharapkan publik sebagai konsumen media.

Sewaktu konflik Ambon, dia punya pengalaman menggetarkan. Ia memperingatkan seorang anggota Laskar Jihad agar berlindung karena banyak sniper di ketinggian. Orang itu tak menghiraukan, namun menyulut sebatang rokok yang disodorkan Andi. Mereka cuma berdua. Hanya beberapa menit kemudian, ketika Andi selesai mengambil gambar, ia memulai kembali dialog. Yang ditegur hanya diam. Rupanya, sebuah peluru baru saja melubangi dahinya, mengantarnya ke alam baka.

Kecepatan editingnya, pun luar biasa. Ketika wedhus gembel meluncur paling besar dari puncak Merapi, gambar yang dihasilkannyalah yang pertama kali tampil di berita pagi, nyaris semua stasiun televisi kita. Padahal, semua stasiun televisi Indonesia, dengan tim yang berjumlah sangat banyak, membawa perangkat Satellite News Gathering/SNG yang memungkinkan siaran langsung. Sementara, Andi hanya sendirian mengerjakannya.

Kang, semoga sampeyan segera pulih, sehat seperti sebelum berangkat. Dikepenakake wae neng Dubai nganti samarine. Dokter lan rumah sakite mesthine luwih apik tinimbang neng kene. Suk yen kurang piye, nembe didandakake neng RS Orthopaedi Solo.

Aku tunggu di Solo. Silakan pilih mau apa: pijat (seperti sampeyan bilang pada Mama melalui telepon tadi pagi) atau jajan sego liwet Bu Sarmi, sop kambing Sudi Mampir, burung dara goreng KottaBarat, atau Soto Gading…… Ora usah mikir oleh-oleh kaya sing dakpeseni wingi. Aku mung butuh sampeyan sehat, waras tekan Solo.

Oleh-oleh gendera kuning lambang Laskar Hisbullah-e Libanon isih kusimpan….. Kaos gambar cah cilik-cilik nakal lan rada saru saka Thailand, juga masih sering kukenakan. Kang, sanajan cekak aos, SMS-mu jam lima mau wis ngandhakake yen awakmu apik-apik wae. Wala-wala kuwata, nyuwun kekuatan lan kasarasan marang Gusti Pangeran ta’ala.

*) Foto-foto, diambil dari album profil Andi di Facebook