Motret itu Tidak Mudah

Motret memang mudah. Kamera handphone saja kian canggih, menyaingi kamera saku digital. Kamera  SLR apalagi. Jenis/seri untuk pelancong saja sudah sedemikian rupa, apalagi yang masuk kategori kamera untuk profesional. Sayang, peralatan yang kian canggih dengan harga terjangkau tak diimbangi pemahaman akan etika memotret.

Fotografer itu asik kalau sesantai bapak-bapak ini...

Etika atau tata krama dalam memotret memang seharusnya dipegang teguh dan dilaksakan siapapun, baik fotografer profesional maupun amatir. Apalagi jika menghadapi peristiwa besar seperti Solo Batik Carnival (SBC) 2011 yang berlangsung 25 Juni lalu. Semua pemotret menginginkan hasil terbaiknya, baik yang profesional seperti jurnalis, yang amatir, maupun super amatir seperti saya, yang memotret hanya menggunakan kamera ponsel.

Repotnya, demi mendapatkan hasil foto terbaik, pemotret mengabaikan hak orang lain. Seperti saat SBC kemarin, peserta karnaval bahkan harus menghindari fotografer yang kukuh memotret, mematung di depan peserta sehingga mereka memilih mengalah. Banyak yang berebut mendekat, lantas mengabaikan hak penonton, juga fotografer lain yang datang karena alasan tugas, yakni para pewarta foto.

Berkaca pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, di mana pewarta foto merasa terganggu dengan kehadiran fotografer ‘amatir’ yang kerap suka nyelonong masuk ke tengah area karnaval, Dinas Pariwisata berupaya mengatur sedemikian rupa. Bahkan membuat panggung/area khusus untuk pewarta foto. Tapi, lagi-lagi, kejadian fotografer (amatir) yang suka tiba-tiba mengerubuti peserta karnaval membuat marah. Apalagi, ada beberapa pihak yang merasa menjadi bagian dari ‘tim dokumentasi resmi’ ikut-ikutan merangsek. Aturanpun tinggal cerita. Bahkan, Kepala Dinas Pariwisata merasa kewalahan.

Foto ini diambil dengan menggunakan Blackberry dari pinggir sambil jongkok. Tidak mengganggu peserta karnaval, meski hasilnya ya cuma apa adanya.

Saya memaklumi teman-teman pewarta foto yang merasa terganggu dengan ulah pemotret, yang sebagian (sayangnya besar) adalah fotografer hobi atau amatir. Paling tinggi, cita-cita mereka hanya agar menang jika diikutkan lomba, atau pamer kepada sesama, narsis-narsisan di situs-situs social network seperti Facebook, Flickr, dan sejenisnya.

Repotnya, walau (maaf) hanya untuk pamer di Facebook atau koleksi agar kelak bisa diikutkan lomba, tapi mereka juga merasa turut memberi kontribusi signifikan terhadap publikasi peristiwa. Dan, di situlah pangkal perkaranya. Para pewarta foto juga merasa mereka yang telah turut mengawal kesuksesan publikasi sebuah peristiwa, baik sejak pra maupun pascanya.

Andai fotografer setertib saat seperti ini, pasti motretnya bakal asyik. Sayangnya, begitu acara dimulai, pada merangsek seenaknya sendiri.

Memang seolah sulit untuk menuding mana yang paling bersalah. Tapi, secara pribadi, saya cenderung menyalahkan teman-teman amatir. Mereka saya anggap cenderung mengagungkan hasil akhir, produk sebuah tindakan pemotretan namun mengabaikan proses. Jika saya berposisi sebagai jurnalis foto, maka saya akan menghindari target bidikan jika lensa saya terhalang oleh orang lain, yang biasanya adalah fotografer amatir, atau satu-dua teman pewarta yang nyelonong pula.

Jika sama-sama menghormati sebuah peristiwa, yang dibuat dengan perencanaan panjang dan rumit serta berbiaya besar, mestinya sama-sama bisa nglengganani, tahu diri. Memilih memotret dari sisi kanan atau kiri jalan raya yang menjadi panggung utama, demi mendapatkan hasil yang ‘bersih’, dalam arti ya hanya peserta karnaval semata yang ada di sana, bukan tubuh-tubuh petentang-petenteng dengan kamera dan perlengkapannya.

Foto ini diambil dengan menggunakan Blackberry dari pinggir sambil jongkok. Tidak mengganggu peserta karnaval, meski hasilnya ya cuma apa adanya.

Jika ada fotografer yang merasa tak akan memperoleh rekaman bagus dalam posisi demikian, maaf saja, saya akan menganggap mereka FOTOGRAFER BODOH! Fotografer sejati tak pernah risau dengan posisinya terhadap obyek sasaran. Kalau pingin hasil maksimal dan bagus seperti yang diangankan, ya silakan saja melakukan reka ulang, atau membawa talent ke studio!

Hanya fotografer cengeng dan pemalas yang untuk memperoleh foto terbaik mesti menuntut fasilitas ini-itu, apalagi jika harus melakukan dengan berbagai cara agar seolah-olah punya hak eksklusif dalam melakukan pemotretan, entah itu ‘menyusup’ atau berkedok official photographer dan sebagainya. Pewarta foto (yang profesional) sekalipun juga saya sebut MANJA jika menuntut beraneka fasilitas demi kemudahan.

Bagi saya, kepuasan memotret adalah ketika merasa berhasil menaklukkan tantangan. Syukur-syukur, dengan posisi dan situasi memotret yang ‘tidak menguntungkan’ namun  bisa sukses mendapatkan hasil memuaskan, minimal bagi diri sendiri.

Foto ini diambil dengan menggunakan Blackberry dari pinggir sambil jongkok. Tidak mengganggu peserta karnaval, meski hasilnya ya cuma apa adanya.

***

Pada era semaju kini, ketika teknologi publikasi tak sebatas media tradisional (seperti koran, majalah dan televisi), kehadiran new media seperti internet memang tak bisa diabaikan perannya. Jurnalis profesional bersaing dengan publik, siapapun mereka, yang menggunakan Internet sebagai basis utama penyebaran informasi.

Dari kamera handphone, misalnya, orang bisa mengunggah foto atau video jauh lebih cepat dibanding fotografer media yang mesti memilih, menimbang, mengedit lantas mempublikasikannya. Flickr, Twitter, Facebook, maupun blog telah mengancam keberadaan media tradisional, meski ‘hanya’ baru pada satu sisi, yakni kecepatan.

Apakah dengan kecepatan menyebarluaskan gambar (foto/video) di Internet lantas pewarta warga boleh merasa lebih hebat dan lebih punya peran dibanding pewarta profesional? Rasanya tidak juga. Saya yang hidup di dua jenis media itu, merasa biasa-biasa saja. Tak ada yang lebih hebat, dan sebaliknya. Keduanya bisa sama-sama bermanfaat justru ketika terjadi sinergi keduanya.

Repotnya, pemahaman penyelenggara terhadap ‘aspek publikasi’ kerap sering menjadi kunci silang sengkarut munculnya perselisihan, antara yang profesional maupun yang amatir. Fotografer/videografer amatir merasa berperan menciptakan kesuksesan, pun sebaliknya.

Andai saya menjadi penyelenggara, di tengah rumitnya menghadapi perkembangan jaman, di mana setiap orang bisa memotret, maka yang akan saya siapkan adalah membuat aturan yang tegas. Pada peristiwa Solo Batik Carnival, misalnya, akan saya desain supaya Jalan Slamet Riyadi yang menjadi panggung utama karnaval, akan saya sterilkan dari pihak nonpeserta. Saya cukup akan menunjuk satu fotografer dan videografer sebagai dokumentator resmi, yang hasilnya bisa diakses media dengan sistem pool.

Lainnya, saya persilakan merekam peristiwa dengan caranya sendiri. Asumsinya, semua fotografer atau vediografer pasti seorang profesional dalam arti yang sesungguhnya. Kalaupun perlu menyiapkan tempat-tempat khusus keperluan publikasi, ya hanya pewarta foto dan kameraman televisi terdaftar yang akan dibolehkan. Bagi para amatir, ya silakan mencari tempat sendiri-sendiri, sebab hingga kini, publik masih mengandalkan saluran resmi untuk memperoleh informasi, yakni institusi media atau pers. Dan, asal tahu saja, adalah HAK bagi publik untuk memperoleh informasi (tulisan, ilustrasi, foto/video) yang apa adanya.

Produk kaum amatir, maaf saja, masih menjadi pelengkap, walau tak bisa dipungkiri juga tak bisa dianggap remeh atau lebih buruk secara hasil/output.

Tulisan ini juga sekaligus sebagai tanggapan terhadap gegeran menjelang pelaksanaan Solo International Performing Arts Festival (SIPA).  Di Facebook, misalnya, muncul Gerakan 1.000.000 Fotografer Boikot SIPA 2011. Pangkalnya, ketidaktegasan panitia penyelenggara membuat aturan main terkait potret-memotret. Sejumlah forografer amatir merasa sudah memberi kontribusi memadai saat dilibatkan dalam proses pendokumentasian pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, kini merasa dilupakan karena adanya pembatasan jumlah, cara lokasi pemotretan.

Sementara, pewarta foto profesional, merasa ‘dikalahkan’ lantaran berdasar pengalaman, kaum amatir seperti dimanjakan, lantaran masuk dalam kepanitiaan sehingga memiliki banyak keleluasaan.

Jika saya panitia penyelenggara, hanya jurnalislah yang saya utamakan dan disediakan tempat melakukan pemotretan dengan harapan terbantu secara publikasi. Tanpa ada dukungan media, maka event semacam SIPA juga akan hambar rasanya.

Foto ini diambil dengan menggunakan Blackberry dari pinggir sambil jongkok. Tidak mengganggu peserta karnaval, meski hasilnya ya cuma apa adanya.

Di mana para amatir ditempatkan? Ya di luar arena yang dinyatakan steril, seperti arena menonton yang disediakan dengan kursi, karena semua diasumsikan sebagai undangan. Dan, bagi penonton yang duduk di kursi undangan, hanya boleh memotret tanpa lampu kilat dari tempat duduknya dengan posisi tetap duduk. Jika ketahuan berdiri, sehingga mengganggu orang lain, maka panitia berhak mengeluarkan mereka dari barisan. Selama aturan main itu disosialisasikan terlebih dahulu dan diumumkan sebelum acara berlangsung, maka sah sudah ‘hukum’ penyelenggara.

Para amatir, ya silakan saja memilih tempat sesuka hatinya. Pewarta foto diberi fasilitas karena memang kontribusinya lebih jelas dan terukur, dan jumlahnya hanya sedikit, sangat jauh jika dibandingkan dengan kaum amatir. Kalau masih saja ada yang mengeluh kesulitan memotret, anggap saja mereka bukan fotografer yang menyukai tantangan dan memiliki motivasi menaklukkan kesulitan.

Jika masih ngeyel juga, ya sudah, kelompokkan saja fotografer abal-abal semacam itu sebagai kaum Bibit. Hanya orang tahu diri yang mau menenggang rasa dan rela berbagi, dan tidak mencari menangnya sendiri. Ini serius!

Karnaval Minim Lampu

Hanya dalam hitungan menit usai barisan terakhir meninggalkan lokasi pemberangkatan, Solo Batik Carnival 2011 sudah menuai protes. Banyak keluhan terpampang pada linimasa Twitter. Ada yang mengeluhkan tata cahaya yang kurang memadai, soal kemacetan di mana-mana akibat penutupan jalur, dan masih banyak lagi.

Persiapan menjelang karnaval

Mengenai minimnya tata cahaya, saya sudah memprediksi lewat catatan saya sebelum ini. Daya listrik besar untuk menyalakan lampu membutuhkan pembiayaan besar. Satu lampu berdaya 1.000 watt hanya cukup untuk menerangi beberapa belas meter bidang, sementara karnaval menempuh rute sejauh tiga kilometer. Berapa banyak lampu diperlukan di kedua sisi jalan, selain kebutuhan filter dan penyangganya?

Semua memang soal angka. Niat bisa melahirkan kreativitas mencari solusi sumber dana, demi memecahkan kebutuhan akan angka. Beberapa panggung yang diinisiasi swasta memang membuat nyaman pengunjung yang membeli tempat duduk yang dijual penggagasnya. Kenyamanan menuntut konsekwensi yang logis. Memang, itu pertanda baik. Swasta mau menyukseskan acara, sebagian dari masyarakat bersedia membayarnya.


Akankah karnaval batik yang menjadi ikon wisata nasional itu juga memberi ruang apresiasi bagi publik yang lebih luas, masyarakat kebanyakan itu? Sepertinya masih ada jarak. Kesenjangan akses tepatnya.

Tapi, apakah lantaran nonton karnaval secara gratisan, publik harus nrima, mengalah dengan cara rela berdesakan dan menyaksikan penampilan para peragawan/peragawati dengan pencahayaan lampu merkuri semata, yang tiap beberapa menit butuh ‘istirahat’ alias mati dulu beberapa saat supaya tak lekas aus?


Tentu saja tak bisa dijawab dengan argumentasi diplomatis yang dibuat logis, bahwa karena publik cuma bayar pajak penerangan jalan umum (PPJU) sekali setiap bulan, lantas ‘haknya’ dibuat sepadan dengan bea yang dikeluarkan. Jer basuki mawa beya tak berlaku di sini.

Solo Batik Carnival digagas dan didesain untuk memberi kemanfaatan kepada semua pihak. Bukan asal bisa menghibur.

Karnaval hanyalah cara mewujudkan upaya Pemerintah Kota Surakarta mengangkat pamor industri batik. Jika batik dan industrinya maju, maka identitas kultural masyarakatnya kian menonjol, dikenal hingga belahan dunia lain. Aspek ekonominya bukan terentang di seputar lokasi produksi batik. Tengkulak, pengecer dan tukang becak pun bakal menikmati gurihnya dampak kuatnya mata rantai industri batik.

Peserta karnaval diseleksi panitia, dibagi ke dalam beberapa kelompok, selebihnya mmproduksi dengan biaya sendiri. Murni partisipasi...

Jadi, jika karnaval tahunan itu hendak digelar pada malam hari tahun-tahun mendatang, maka tata cahaya menjadi faktor penting. Event organizer yang berpengalaman perlu digandeng agar Dinas Pariwisata tidak kedodoran mengurus pwehwlatan sebesar itu sendirian.saa akin ada banyak event organizer yang mampu membawa sponsor untuk menutup pembiayaan.

***

Sejujurnya, saya mendapat pemberitahuan seorang teman melalui telepon. Dia bercerita, di lobi hotel tempatna menginap, banang orang memperbincangkan karnaval batik itu. Bagus, tapi sayang, kata sang teman. Tata cahaya adalah satu pokok soal yang paling sering dikeluhkan banyak orang. Mereka datang dari Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, bahkan luar negeri, demi menyaksikan sensasi karnaval. Mereka keluar banyak dana untuk melunaskan rasa ingin tahunya.

Soal lain, semrawutnya pelaksanaan, sehingga ribuan penonton merangsek ke tengah jalan sepanjang rute karnaval. Rumput dan tanaman penghijau kota rusak seketika terinjak-injak massa tanpa mau tahu,bahwa untuk menanam dan merawatnya pun butuh biaya. Publik memang ingin melepaskan rasa penasaran. Antisipasinya saja yang masih kurang.

Abdi dalem QWERTY

Belum kemacetan di berbagai ruas jalan yang diakibatkan berjubelnya kendaraan, baik yang mau menyaksikan karnaval maupun sekadar melintas, akibat penutupan ruas jalan dan pengalihan rute jalan. Tak sedikit yang mengeluh lewat Twitter, mempertanyakan keberadaan polisi lalu lintas di sejumlah kawasan, termasuk macetnya Manahan yang dekat dengan kantor pusatnya polisi di Solo.

Di mana petugas DLLAJ atau polisi lalu lintas? Semoga itu menjadi catatan untuk perbaikan kelak. Banyak orang berharap karnaval pada malam hari digelar kembali, karena memang lebih memberi kelebihan nilai sensasi, selain tidak membuat peserta karnaval kegerahan seperti jika digelar sore hari.

***

Satu hal penting lainnya, adalah melakukan edukasi kepada publik, para calon penonton. Nyaris di antara sepuluh orang, satu penonton di antaranya membawa kamera, entah kamera yang menyatu dengan telepon seluler maupun kamera saku. Mereka ingin merekam segala ragam dan pernik-pernik karnaval sebaik mungkin. Maka, merangseklah mereka ke tengan catwalk panjang… Jalanan pun riuh, crowded.

Semua foto ilustrasi di postingan ini, dibikin pakai BlackBerry Gemini yang tanpa lampu flash itu...

Upaya memang sudah dilakukan sebagai antisipasi agar tak ada pihak yang merugi. Termasuk, dibuatkanlah sejumlah kartu identitas untuk wartawan foto dan televisi. Itu menjadi solusi setelah para pewarta mengeluhkan sulitnya memperoleh gambar memadai untuk keperluan penyebaran informasi.

Banyak wartawan merasa terganggu dengan ulah kebanyakan penggemar fotografi, yang demi mengejar hasil foto bagus, mereka tak jarang menodai keindahan itu sendiri. Dengan lensa sudut lebar demi mengejar detil, mereka menempel peserta karnaval. Jumlahnya tak satu-dua orang atau belasan. Mereka bisa puluhan!

Pada karnaval kemarin, malah para fotografer amatir itu membuat identitas sendiri, setengah resmi alias berlisensi. Alhasil, para pewarta foto kembali ngamuk-ngamuk, baik spontan secara lisan maupun di jejaring sosial lewat tulisan bernada kemarahan, hingga wacana boikot. Mereka merasa tak berdaya, identitas khususnya pun tak berguna.

Yang berkaos merah (kiri) itu wartawan. Selebihnya, pemburu gambar yang kerap bikin kotor obyek bidikan kamera pewarta foto dan televisi

Jika pemburu gambar indah saja tak tahu memaknai dan mengupayakan terwujudnya rekaman indah, bagaimana penonton kebanyakan tak terdorong untuk ikut-ikutan? Singkat cerita, jalanan menyempit, peserta karnaval pun tak leluasa berjalan. Keindahan, pun tinggal kenangan.

Siapa yang rugi ketika situasi berubah seperti demikian?

Semua rugi. Jerih payah peserta, yang menyiapkan diri secara swadana hingga memakan dana jutaan rupiah seperti sia-sia. Promosi wisata yang dirintis pun kembali sia-sia karena terlalu banyak catatan kekurangan tertanam di benak khalayak. Publik harus introspeksi atas perilakunya, begitu juga pemerintah sebagai penyelenggara mesti lebih tegas membuat aturan main.

Bagaimana peserta karnaval nyaman mewujudkan amal kebaikannya, penonton bisa menikmati jalannya acara, dan tanaman di sepanjang pembatas jalan tak rusak karena terinjak-injak ribuan pasang kaki yang tak peduli. Itu merupakan pekerjaan rumah yan tak sederhana, terutama bagi Dinas Pariwisata.

Bahwa secara animo khalayak bisa diprediksi, mestinya pemerintah gencar melakukan sosialisasi dan edukasi, sehingga semua target pemangku kepentingan bisa terpenuhi. Sukses sudah pasti ada pada sejumlah sisi. Hanya perlu penyempurnaan di kemudian hari. Empat kali penyelenggaraan sudah cukup jadi bekal evaluasi, lantas jadi bahan untuk memperbaiki.

Semoga, Solo Batik Carnival 2012 lebih bisa dinikmati. Selamat kepada Pemerintah Kota Surakarta yang sudah berhasil mencetak ikon wisata baru Indonesia.

Lihat pula koleksi foto Solo Batik Carnival 2011