Rasan-rasan Sifat Prabowo dan SBY


Di luar posisi sebagai cebong, saya masih heran dengan gaya memimpinnya Prabowo dan SBY. Sampai urusan diksinya pun, sama-sama aneh. Ora nJawani menurut saya…

Kemiripan sifat keduanya adalah sama-sama menempatkan diri sebagai sosok penting, merasa arif bijaksana. 

Prabowo lebih suka mengundang orang ‘sowan’, datang kepadanya. Untuk forum kecil cukup di rumahnya di Jakarta. Kalau kolosal baru dikumpulkan di Hambalang, yang dalam imajinasi saya adalah sebuah kerajaan kecil. ada hall, ada tanah lapang, dan ada kediaman utama pribadi.

Kepada siapapun, asal jumlahnya majemuk, Prabowo lebih suka menggunakan diksi ‘kalian’. Dan jika tunggal cukup disebut dengan ‘kamu’. 

Entah saya yang kelewat feodal (sebab Jawa tulen) atau apa. 

Tapi, Prabowo selalu menempatkan siapapun selain dirinya selalu lebih kecil. Orang lain adalah kaum kebanyakan. Wartawan pun dinilainya sebagai orang miskin menderita, sehingga diibaratkannya jarang masuk mall. Mungkin Prabowo biasa jumpa wartawan pemburu isi amplop dan biasa membayarnya sehingga merasa leluasa memperlakukan mereka, termasuk mengejek dan menghardiknya.

Mungkin sifat seperti itu terbentuk karena dia sudah ‘besar’ sedari lahir. Lebih banyak hidup di luar negeri, berpendidikan dan bergaul ala barat, dan baru masuk ke Indonesia lagi ketika masuk Akabri. Sejarah pun membawanya ke posisi sebagai bagian dari kaum elit, karena menjadi menantu Presiden superkuat di kawasan Asia Tenggara. 

Lepas dinas ketentaraan, dia berbisnis dengan skala usaha yang tak bisa dibilang main-main alias recehan. Wajar jika kekayaannya trilyunan rupiah, sehingga ia berada di antara 1 persen penduduk Indonesia yang menguasai perekonomian bangsa, seperti sering diucapkannya.

***

Beda dengan Prabowo, SBY adalah orang desa, berasal dari kaum kebanyakan, yang dulunya termasuk hidup pas-pasan. Namun SBY sukses meniti karir militer, bahkan sampai diambil menantu oleh Gubernur Akabri, seorang jenderal yang cukup berpengaruh juga, sehingga menempatkannya dalam kelompok ningrat dalam strata sosial-politik Indonesia.

Karir militer SBY pun gemilang. Pernah jadi ajudan Soeharto yang maha kuasa dalan kemiliteran dan perpolitikan Indonesia, bahkan Asia.

Jika Prabowo gak pernah hidup susah, SBY saya anggap pernah mengalami hidup pas-pasan di kala remaja, lantas menjadi orang besar. Dugaan saya, ada benturan budaya pada dirinya, sehingga untuk menjaga kebesarannya, ia merintis bikin partai untuk membesarkan dirinya, dengan tanggal pendirian tepat pada hari ulang tahun kelahirannya. 

Ulang tahun SBY akan selalu ramai sepanjang Partai Demokrat masih bersifat hayat. Ini mirip perilaku raja-raja jaman dulu, yang selalu mengaitkan peristiwa besar dengan hari-hari spesialnya.

***

Tapi, kemistri Prabowo dan SBY tak bisa cocok. Di luar kisah insiden personalnya semasa di Akabri, sisi kejiwaan keduanya tidak memungkinkan hubungan personal yang setara. Prabowo merasa dirinya lebih senior dan lebih besar, sementara SBY meski yunior di militer, namun status jendralnya penuh, empat bintang, bahkan pernah menjadi panglima tertinggi militer selama satu dekade.

Menjelang persiapan debat dan kampanye pilpres, masih gak kebayang advis SBY akan mudah diterima Prabowo, jika sikap SBY tidak bisa ‘menempatkan diri’ sebagai ‘bawahan’. Prabowo yang kini calon presiden, dan partainya lebih besar dari Demokrat, cenderung membuatnya lebih besar dan lebih penting. Petunjuk banyak survei bahwa Gerindra akan jadi salah satu pemenang utama pemilu legislatif, bukan tidak mungkin akan berkontribusi signifikan bagi Prabowo menambah rasa percaya dirinya lebih besar dari SBY. 

Saya menduga, gesekan internal Prabowo-SBY akan melemahkan perjuangan kemenangan Prabowo-Sandiaga. Dalam imajinasi saya, kesalahan-kesalahan Prabowo dan Sandiaga selama ini akan disodorkan SBY, namun bakal ditolaknya dengan dalih itu semua sebagai strategi atau apapun namanya.

SBY sendiri, yang dalam hemat saya adalah tipe politikus pencari selamat, tidak akan mau total kampanye untuk kemenangan Prabowo. SBY pasti lebih berkepentingan menjadikan Demokrat sebagai partai pemenang, yang meraup banyak kursi sebagaimana didapatnya pada 2009 alias tak seredup saat ini. 

Konon, SBY masih terkesan berharap bisa diterima sebagai bagian dari faksi Jokowi. Itu ditunjukkan dengan cara membiarkan kader-kadernya di daerah melakukan deklarasi menjadi pendukung Jokowi. Sebagai jendral yang dikenal ‘baperan’, sulit untuk tidak menyebut sikap tidak reaktifnya itu sebagai sebuah standar ganda, main dua kaki. Cari aman.  

Mungkin ia berharap, sebagaimana raja-raja masa lalu, kelak bisa menitipkan putra mahkotanya, sang pangeran AHY bisa ‘magang’ di kabinet Jokowi jika kelak memimpin lagi, sehingga cukup jadi modalitas maju pilpres 2024.

Untuk soal mengarbit AHY, lupakan sang pangeran hanya pensiun diri sebagai mayor. SBY pasti sudah berhitung, karir kemiliteran sudah tak akan signifikan dalam dunia yang kian maju, dimana kwalitas seseorang bukan lagi diukur dari status kejendralan semata. Sudah basi, kata anak zaman now!

SBY pasti berhitung, 2024 adalah titik start bagi laga atletik, dimana para putra/putri mahkota elit politik akan berjajar di lintasan: Puan Maharani, Prananda Paloh, dan AHY. Sementara di lintasan lain, bisa saja muncul pelari ‘penggembira’ (saya sebut demikian karena tidak mengandalkan modalitas garis keturunan elit), seperti Muhaimin Iskandar, Romahurmuziy, Airlangga Hartarto, Ridwan Kamil, dan masih banyak lagi, termasuk Sandiaga Uno, jika pemilu depan menempatkan dia hanya jadi pecundang.

***

Pilpres dan pemilu legislatif 2019 dipastikan seru. Ini ajang pertarungan eksistensi Prabowo. Jika gagal, ia akan lewat. Pada 2024 sepertinya sudah tak layak maju lagi sebagai capres. Napasnya pasti lebih pendek dibanding pelari-pelari muda dan setengah uzur lainnya.

Makanya, mobilisasi kaum puritan dengan jualan agama akan digeber habis. Teriakan-teriakan tak punya modal (termasuk sindiran partai kolisi belum ikut aktif iuran dana kampanye), pastilah hanya modus pengalihan isu semata.

Sudah rahasia umum, pimpinan partai ibarat pengusaha angkutan carter atau bus pariwisata. dan capres/cawapres (begitu pun calon gubernur/bupati/walikota) adalah penyewa kendaraan. Justru menjadi aneh jika ada pengusaha carteran memberikan kendaraannya begitu saja tanpa imbalan.

Kita tunggu saja, kelak akan seperti apa….