Peng-GusDur-an Jokowi yang Gagal

Insiden rusuh politik menyusul ‘Aksi Damai’, Jumat (4/11) malam bukanlah semata-mata demi menuntut keadilan (meski samar) terhadap tuduhan penistaan agama terhadap Ahok. Lebih dari itu, target utamanya adalah penurunan Jokowi dari kursi kepresidenan. Hingga detik ini, tak ada satupun alasan yang bisa diterima akal manusia waras, alasan penjatuhan Jokowi. Adakah pelanggaran konstitusi yang dilakukan Jokowi?

Jika pokok soalnya adalah tidak terimanya sebagian orang yang merasa sebagai tokoh Islam dan panutan muslim atas tuduhan bahwa Ahok melecehkan firman Tuhan pada Surat Al Maidah ayat 51, kenapa mereka tidak merunut kebenaran ucapan Ahok? Simak baik-baik, reaksi keras bermunculan setelah beredar video editan dan transkrip tak utuh yang diunggah Buni Yani di laman Facebook-nya.

Jika tidak ada udang di balik rempeyek, politisasi murahan semacam itu tak akan terjadi. Bahkan seorang doktor lulusan IPB, yang sidang promosinya dilakukaan saat yang bersangkutan menjabat Presiden, pun menampakkan rasa gerahnya dan geramnya lewat sebuah konperensi pers di kediamannya. Maaf jika saya harus berburuk sangka kepada sang doktor, yang menurut hemat saya bukanlah orang berotak cetek. Continue reading

Uneg-uneg tentang Ahok

Pilihan kendaraan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk maju kembali dalam pemilihan Gubernur DKI menarik buat tebak-tebakan. Akan mencalonkan melalui jalur perseorangan? Atau lewat partai politik, ketika Partai Nasdem, Hanura disusul Golkar menyatakan dukungannya, di mana perolehan kursi akibat bergabungnya tiga partai itu memenuhi syarat minimal pencalonan. Di persimpangan sinilah letak pertaruhan nama baik dan masa depan Ahok.

Ilustrasi: Dzofar (dzofar.com)

Ilustrasi: Dzofar (dzofar.com)

Jika memilih jalur perseorangan, maka nilai seorang Ahok akan meninggi, mengingat sikap tanpa kompromi terhadap partai politik yang selama ini sudah ditunjukkannya, bertemu dengan kekecewaan publik terhadap banyaknya kader dan tokoh partai politik terbukti tersangkut perkara hukum yang memalukan. Ada yang video mesumnya beredar luas, ada yang tertangkap tangan karena transaksi suap, hingga vonis penjara dan denda kasus korupsi dan gratifikasi.

Apa yang dilakukan TemanAhok ‘hanyalah’ terobosan kreatif anak-anak muda yang mulai muak dengan praktik politik transaksional alias dagang sapi. Andai publik tidak mengamini, dalam arti turut merasakan kemuakannya, tak mungkin sejuta lebih warga DKI Jakarta mau menyerahkan fotokopi KTP-nya sebagai bentuk dukungan nyata. Sehebat apapun pengorganisasian TemanAhok, juga tak bakal berhasil, jika tidak dipertemukan oleh keprihatinan yang sama. Kesediaan mendukung adalah protes perlawanan politik yang nyata.

Dalam hemat saya, hanya ‘kader-kader Golkar’-lah yang memiliki kelenturan bersiasat politik. Partai NasDem yang paling awal menyatakan dukungan, didirikan dan dikontrol penuh oleh seorang Surya Paloh yang tak lain adalah kader Golkar. Begitu pula Hanura yang dikendalikan sepenuhnya oleh Jenderal (Purn.) Wiranto. Golkar? Sudah sangat jelas! Continue reading

Pak Ahok Njalari Semruweng

Wis pirang-pirang minggu, berita koran, tivi lan kabar kang sliweran lumantar Internèt mung marakké muring. Akèh wong pinter ujug-ujug dadi pekok. Ora sithik wong sing asliné longa-longo saknalika macak pinter sanajan tetep kétok bodhoné. Pak Basuki klebu sing paling kerep disilih adeg-adegé, kanggo pancatan misuh jalaran bakal keganggu panguripané.

Priyayi kang njalari wong akèh padha semruweng, yaiku priyayi kang kondhang sinapa Ahok. Gara-gara nuku lemah Rumah Sakit Sumber Waras, akèh wong sing polah tingkahé dadi kaya wong ora waras. Babar blas ora duwé isin, muni sakepénak udelé, kakèhan alesan kaya-kaya wong sakdonya bodho kabèh, dianggep ora ngerti lor-kidul, dikira mati rasa. Kaya déné Pak Ketua BPK sing wis cetha wéla-wéla konangan nyimpen bandha neng Panama isih wani sélak ngomong ora ana transaksi.

Saumpama dianggep bener ora ana transaksi awit didaftarké taun 2010, lha kira-kira apa anggoné ngedegaké perusahaan ana Panama ora nganggo setor modhal? Saumpama nganggo setor modhal, lha apa ya mung cukup sepuluh yuta utawa satus yuta? Lumrahé dhuwité milyatan. Lha yèn milyatan dhuwité sing didhelikaké ana Panama, kira-kira asal-usulé dhuwit saka ngendi? Jumbuh apa ora yèn dicocokaké karo gaji resminé, embuh nalika dadi anggota DPR, Ketua BPK lan liya’liyané??? Continue reading

Memahami Pengertian Orang Lain

Setiap akhir tahun, kita selalu gaduh. Ribut perkara sepele, soal boleh-tidak mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani. Pada era media sosial mendominasi cara berkomunikasi, kegaduhan kian menjadi. Banyak ‘sosok’ yang tiba-tiba ‘ditokohkan’ oleh khalayak daring, memanfaatkan penyebaran pendapat dan sikap melalui linimasa. Lantas muncul dua kelompok besar, yang masing-masing menjadi pengikut pihak-pihak yang berseberangan.

Di satu pihak, memberi cap kafir kepada pihak yang tak sependapat semudah membalik telapak tangan. Kepada yang demikian, saya sependapat dengan Gus Dur, bahwa pemahaman kita tentang Tuhan ternyata tidak sama dan dapat berbeda sangat jauh, dari satu ke lain orang. …. Bagaimanakah kta dapat memahami agama lain, kalau tentang agama sendiri saja sudah tidak dilaksanakan? Berarti, pemahaman akan agama lain, menghendaki pemahaman akan hubungan manusia sendiri dengan Tuhan.

Saya yakin, tulisan Gus Dur di bawah ini tidak akan berpengaruh banyak pada mereka yang sengaja membutakan mata dan hatinya sendiri, sebagaimana mereka yang kemarin lebih suka menilai (bahkan memusuhi) Ahok karena latar belakang agama dan etnisnya, dibanding niat dan hasil kerjanya dalam kapasitasnya menjadi Gubernur DKI Jakarta, yang di pada hakikatnya harus menjalankan amanat konstitusi dan tanggung jawab sosial-politiknya sebagai seorang makhluk Tuhan.

Catatan: Silakan simak pernyataan ini FPI: Larangan Ucapan Natal Bukan Cermin Kebencian

Memahami Pengertian Orang Lain

Dalam satu kesempatan penulis menyampaikan makalah dalam sebuah seminar internasional yang diselenggarakan di Universitas Negeri Syarif Hidayatulah, Ciputat. Teman seminar itu adalah pendidikan perdamaian dan harmoni antarumat manusia. Penulis sengaja memilih topik asal-usul terorisme dalam Islam. Penulis memilih topik itu, karena sebelum merumuskan sesuatu yang diperlukan untuk menyiapkan pendidikan perdamaian, kita harus berusaha untuk mendudukkan permasalahannya secara tepat.

Ini berarti, kita harus melihat beberapa hal yang menjadi unsur-unsur utama pendidikan semacam itu tanpa melakukan hal ini, kita hanya akan sampai  pada hal-hal yang ideal yang tidak menyentuh bumi nyata. Tetapi, sekadar mengenal unsur-unsur tersebut saja, sudah diperlukan keberanian moral yang luar biasa karena kita telah melakukan tindakan-tindakan salah kaprah di masa lampau. Umpamanya saja, larangan sementara orang yang menganggap diri mereka lebih tahu soal-soal agama, ketimbang orang lain yang justru mereka saling tuding sebagai orang yang tidak tahu Islam. Padahal mereka hanya tahu kulit-kulitnya saja. Bukannya soal-soal agama yang diingini Nabi Muhammad SAW melalui Al Qur’an dan Hadist.

Penulis ambil contoh, ‘larangan’ mengucapkan Natal pada tanggal 24-25 Desember tiap-tiap tahun. Alasannya, karena Nabi Isa AS bukanlah putra atau anak Tuhan. Maka dalam larangan itu dipakailah ayat: “Katakan, Tuhan itu Esa. Tidak beranak dan tidak diperanakkan serta tak ada yang menyamainya” (Qul huwa Allahuahad wa Allahu Al-Shamad, lam yalid wa lamyulad wa lam yakun lahu kufuwan ahad). Memang  ini adalah selamanya menjadi pokok keimanan orang-orang Islam. Siapa yang menyimpang dari ketentuan itu, bukanlah seorang muslim. Tetapi, di manakah dalam ayat tersebut ada petunjuk bahwa orang-orang kristiani tidak merupakan orang-orang monotheisme? Mungkin, monotheisme agak berbeda dari keyakinan kaum muslimin, pengertian Bapak dan Anak mereka ambil dari perbincangan orang-orang Yunani/kaum Helenistik, yang memiliki pengertian ‘sangat dekat’. Hal ini dilakukan, karena Yesus adalah lawan satu, dan dua orang kaum Kristiani dekat dengannya.

Dari uraian di atas jelaslah, bahwa kita tidak dapat menerapkan keyakinan kaum Muslimin atas sesuatu hal kepada orang-orang Kristiani. Sama saja halnya dengan orang-orang Budha yang mengatakan, bahwa Tuhan itu tidak ada. Maksudnya Ia (baca: Tuhan) tidak dapat dirumuskan denga kata. Bukannya tidak berwujud. Karena itu tidaklah tepat jika mereka dianggap tdak beragama, sebagaimana umumnya dipahami dari ungkapan tersebut. Jelas, kaum Budha adalah orang-orang beragama dan bahwa mereka juga monotheistic/ber-Tuhan satu. Walaupun mereka menggunakan nama bermacam-macam, tidak lain itu adalah sifat/atribut-Nya. Kalau kita tidak mengerti hal ini, dan terus-terus memakainaknpengertian kita atas mereka maka tidak diperlukan lagi pendidikan perdamaian. Dan, akan penuhlah dunia ini dengan pertikaian yang tidak habis-habisnya antara para pengikut berbagai agama. Inilah yang justru harus kita hindari sedapat mungkin dalam pergaulan/dialog antaragama.

Banyak sekali hal-hal yang dapat dijadikan contoh dalam tulisan ini tetapi penulis mencukupkan dengan contoh-contoh di atas saja yang diambilkan dari penyajian penulis dalam seminar tersebut. Ada sebuah contoh dari ‘kesalah pengertian’ kaum muslim itu yaitu tentang larangan menucapkan Selamat Natal, seperti disebutkan di atas. Bukankah Kitab Suci Al Qur’an sendiri yang berfirman: “Kedamaian atas dirinya, pada hari kelahiran-Nya” (Salamun ‘Alahi Yauma Wulida). Bukankah hal ini jelas bahwa yang dimaksudkan ayat tersebut adalah Isa AS. Dan bukankah inu perkenan untuk mengucapkan selamat kepada-Nya pada hari ia dilahirkan. Tetapi tentu saja dalam pengertian bahwa Ia (baca: Yesus) adalah pelopor monotheisme bukanlah sebagai entitas polotheistik. Dengan demikian menjadi jelaslah, bahwa kita harus dapat mengubah pengertian-pengertian kita akan apa yang dipikirkan orang lain, sehingga pendidikan perdamaian yang diinginkan akan mempunyai arti dalam kehidupan ini.

Inilah yang dimaksudkan dengan studi kritis atas agama, bukannya membandingkan ‘kebenaran sendiri’ dengan ‘kesalahan orang lain’. Dengan demikian, para pengikut sebuah agama tidak lagi perlu ‘bersikap garang’ kepada para pengikut lain. Jikapun memang ada perbedaan pengertian, hal itu tidak berarti kita lalu ‘diharuskan’ memperpanjang perbingungan dalam hal into. Karena pada intinya, pendidikan perdamaian dimaksudkan untuk memperkecil friksi/pertentangan antara agama-agama. Apa yang dirumuskan Mpu Tantular dari Majapahit dengan ungkapan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda namun tetap satu adalah kenyataan hidup bangsa kita yang tidak dapat dibantah oleh siapapun. Kalau kita hanya mementingkan diri sendiri maka seharusnya kita tidak boleh mempertentangkan antara dua buah agama dalam praktek kehidupan. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tidak boleh terpecah belah. Diktum/ketentuan Al-Qur’an ini harus dilaksanakan secara tuntas.

Dalam sebuah cerita sufi, seorang muslim bepergian untuk tiga hari, guna menemui gurunya di kota lain, maksudnya adalah untuk mendapatkan berkah sang guru. Di tengah perjalanan, setelah berjam-jam dia naik kereta api, seseorang yang berasal dari kalangan pemeluk agama Kristiani langsung menegurnya. Lalu mereka pun bertengkar tentang keesaan Tuhan.

Pada hari kedua mereka berpisah jalan. Karena tujuan yang berbeda pada hari ketiga, sang sufi pun tiba di tempat gurunya. Namun, ia mendapati pintu luar untuk masuk ke halaman rumah gurunya tertutup rapat. Ia pun duduk di depan pintu, dan pintu itu tidak dibuka. Pada malam harinya, ia tidur di beranda sebuah masjid yang tidak terlalu jauh dari rumah sang gurunya itu. Keesokan paginya ia kembali duduk di hadapan pintu masuk ke halaman rumah gurunya. Ia menunggu seharian, tanpa pintu halaman itu dibuka sama sekali.

Pada hari ketiga, kembali hal yang sama terulang lagi. Pada sore harinya, ia tidak kuat lagi dan berkata dengan suara lantang dan penuh kesepian: “Oh Guru, mengapakah tak kau biarkan aku memasuki halamanrumahmu? Bukankah dengan demikian engkau tidak mau membiarkan aku masuk surge bersamamu?” Dari dalam rumah terdengar suara jawaban: “karena engkau rebut tentang sifat-sifat Tuhan, bukan tentang Tuhan itu sendiri.”

Dari cerita di atas, dapat kita simpulkan bahwa pemahaman kita tentang Tuhan ternyata tidak sama dan dapat berbeda sangat jauh, dari satu ke lain orang. Kisah-kisah seperti ini sangat banyak beredar di kalangan kaum sufi/mistik dari berbagai agama. Bahkan, banyak cerita tentang kelalaian manusia tentang hal-hal dasar bagi semua agama. Padahal di sinilah letak esensi keberagaman bagi seseorang pemeluk yang berkeyakinan teguh, ingin diterima Tuhan.

Bagaimanakah kta dapat memahami agama lain, kalau tentang agama sendiri saja sudah tidak dilaksanakan? Berarti, pemahaman akan agama lain, menghendaki pemahaman akan hubungan manusia sendiri dengan Tuhan. Karenanya, memang hal itu menuntut kepekaan dan ketulusan hati kita sendiri kesediaan memahami keyakinan dan tindakan orang lain, menghendaki pemahaman yang benar akan agama sendiri dengan kata lain, pemahaman akan hubungan manusia dan Tuhan. Karenanya, memang hal itu menuntut kepekaan dan ketulusan hati kita sendiri kesediaan memahami keyakinan dan tindakan orang lain, akan menentukan kualitas kehidupan beragama kita, baik secara kolektif maupun sendiri-sendiri. Kualitas itu tidak hanya ditujukan melalui kebersamaan dalam menjalani berbagai ritus kegamaan, tetapi lebih-lebih dalam hubungan kita dengan para pengikut agama-agama lain. Karenanya, kelapangan dada terhadap ajaran-ajaran agama yang berbeda dari keyakinan kita, akan memperlihatkan kualitas tinggi atau rendah dari hubungan antar agama yang kita kembangkan.

Sudah tentu, kualitas hubungan para pemeluk agama-agama itu sangat bergantung kepada sikap hidup kita sendiri. Kalau kita dapat mengerti apa yang dilakukan para pemeluk agama-agama lain itu, akan lebih banyak Negara yang bersangkutan mengembangkan kehidupan beragama yang jauh lebih baik secara keseluruhan. Hal inilah, yang antara lain mendasari apa yang secara umum menerapkan kehidupan serba pluralistik. Suatu hal yang sangat ironis, jika kita lalu tidak mampu menciptakan harmoni seperti itu, kalau semua hanya mementingkan agam sendiri saja, tanpa merusak kehidupan beragama kita sendiri. Ini adalah sesuatu yang sedikit banyaknya terjadi secara meluas dalam kehidupan manusia modern. Untuk memahaminya, sebenarnya dapat dilakukan dengan mudah, jika kita benar-benar tulus dalam corak kehidupan beragama yang mementingkan Tuhan. Ini adalah bagian lumrah dari sebuah proses melestarikan dan membuang yang umum terjadi dalam sejarah umat manusia, bukan?

Jakarta, 5 Februari 2005

Jokowi dan Cak Udin

Seperti tersengat listrik tegangan tinggi, ketika mendengar kabar Pak Jokowi benar-benar maju dalam pencalonan sebagai Gubernur DKI. Masih sulit untuk percaya bahwa peristiwa itu nyata. Bimbang. Perlu mendukung, atau sebaliknya? Alhamdulillah, selain ada sejumlah alasan obyektif, ada pula yang subyektif sebagai trigger alasan untuk mendukungnya: ‘serangan’ Tempo!

Sebagai orang yang merasa punya pengalaman jurnalistik (walau tak seberapa), saya merasa gagal paham dengan substansi dan arah pemberitaan Tempo. Ada kecenderungan Tempo Grup hendak membangun opini bahwa pasangan Jokowi-Basuki itu terkait dengan beberapa kata kunci utama, yakni ‘penculikan aktivis’ dan ‘Prabowo Subianto’. Seolah-olah, Pak Jokowi harus menanggung dosa turunan atas peristiwa kelam pada akhir 1990-an, yang kebetulan bermuara ke Prabowo yang ketika itu menjabat Pangkostrad dan berada di lingkar dalam sumber kekuasaan.

Bagi saya, ‘dosa’ penculikan aktivis yang dialamatkan ke Prabowo oleh sebagian (besar) orang, tidak memiliki korelasi dengan keberangkatan Jokowi ke bursa kursi DKI-1. Andaikan Prabowo Subianto mendanai kampanye dan pemenangan pasangan Jokowi-Basuki (Tjahaja Purnama), pun sah-sah saja, terlebih dalam kapasitasnya sebagai patron dan pendiri Partai Gerindra yang mengusung pasangan ini.

Beberapa alasan yang menurut saya obyektif, di antaranya adalah bahwa Jokowi bukanlah orang yang mudah didikte dan Jokowi bukan orang yang tak mau terbebani hutang budi dalam hidupnya, kepada siapapun. Dia akan mengingat kebaikan siapa saja, dan membalas dengan caranya sendiri, yang sepantasnya saja.

Asal tahu saja, saya mengenal Pak Jokowi relatif lebih banyak dan mendalam dibanding sebagian besar pembaca tulisan ini. Karena itu, saya ingin para pembaca ikut menakar moralitas seorang Jokowi, yang dicitrakan (tepatnya dikuatirkan) bisa didikte oleh Prabowo hanya dengan segepok harta dan kursi kekuasaan. Pak Jokowi bukanlah orang yang berambisi duduk di singgasana kekuasaan.

Mulai sekarang, mungkin saya akan menuliskan beberapa hal yang saya anggap perlu saya ceritakan, tentang Pak Jokowi, sepanjang yang bisa saya kenali, supaya tak ada salah persepsi terhadap beliau, seperti opini yang (saya duga, SENGAJA) dibangun Tempo, karena (SAYA DUGA LAGI) sedang turut melakukan pendidikan politik lewat ‘eksperimen’ calon independen, yang ‘kebetulan’ dilakoni pasangan Faisal Basri-Biem Benyamin.

Beginilah ceritanya…..

Sopir dan mobil carteran yang hingga kini dipakai jasanya jika Pak Jokowi sedang berdinas di Jakarta, adalah Cak Udin. Lelaki berusia 40-an tahun itu berasal dari Surabaya, tinggal berdekatan dengan mertuanya, seorang pemilik warung tegal (warteg) di kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan.

Ceritanya begini: sekitar empat tahun silam, saya menyarankan Pak Jokowi ‘jalan-jalan’ di sela-sela perjalanan dinasnya di Jakarta, untuk mengunjungi beberapa pusat/gedung kesenian, seperti Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki dan Salihara. Kebetulan, saat itu beliau ingin Kota Solo punya opera house seperti di Sydney atau Esplanade di Singapura.

Pak Jokowi sudah meriset potensi seni sejak awal menjabat walikota, hingga terdata dua ratusan lebih sanggar seni dengan jumlah pelaku hingga empat kali lipatnya. Karena itu, ia ingin punya gedung memadai dan bergengsi bagi peristiwa kesenian. Atas ide itu, seniman/budayawan Solo protes, dianggap pemborosan lantaran biaya operasional dan perawatan akan sangat mahal dan menyerap angggaran, sementara ‘pasar’-nya belum siap.

Usulan ‘jalan-jalan’ ke pusat kesenian di Jakarta direspon positif. Janji saya mengatur pertemuan dengan sejumlah teman di Jakarta tanpa perlu saya ikut ke sana, ditolaknya. Alhasil, saya, Pak Jokowi dan ajudan sama-sama naik Garuda, duduk di bangku bisnis. Saya komplain, karena saya tak mau merepotkan.

“Demi Allah, Mas, saya jamin tak ada duit negara atau pribadi untuk keberangkatan kita. Itu bonus dari agen karena saya sudah lama berlangganan untuk keperluan perjalanan bisnis saya. Mas Blontank jangan kuatirkan soal itu,” kata Pak Jokowi.

Alhamdulillah, lega hati saya, ketika keesokan harinya saya dikasih tiket promo yang akan hangus jika tak saya gunakan pada jadwal keberangkatan yang tertera di sana. Tak ada uang untuk naik bus atau taksi, bahkan untuk bayar airport tax, apalagi uang saku untuk saya ketika Pak Jokowi pulang duluan, hari itu juga.

Saya benar-benar tersanjung dan bangga, sebab ‘dihargai’ bukan dengan materi. Kesederhanaan dan kejujuran beliaulah yang sangat mahal nilainya, dan terpatri sangat dalam hingga kini.

Turun di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Pak Jokowi perintah ajudan untuk memanggil taksi, yang akhirnya diurungkan, lantas menyewa Innova, taksi pelat hitam di sana, lantaran di belakang kami, ternyata ada dua kepala dinas yang akan berdinas pula. Di dalam Innova itulah terjadi dialog sebagai berikut:

Blontank: Kok tidak ada jemputan, sih, Pak?
Jokowi: Saya biasa naik taksi kok, Mas…

Saya terdiam.

Kalau mau, sebenarnya ada tiga orang yang menyatakan kepada saya, menyiapkan mobil dan sopir yang siap jemput dan mengantar saya ke mana saja. Tapi saya tak mau berutang budi. Risikonya berat, Mas… (Pak Jokowi menyebut nama seorang pengusaha keturunan Tionghoa dan dua orang Jawa tulen, pemilik usaha sangat besar, yang semuanya asal Solo).

Mereka orang-orang yang saya kenal baik, dan saya yakin mereka tidak meminta apapun dari saya. Tapi masalahnya adalah jabatan yang sedang menempel pada saya. Bukan tidak mungkin kelak saya akan bersinggungan dengan kepentingan usaha mereka. Jika saya berutang budi, maka pasti akan menyulitkan saya.

Saya lantas menawarkan nama Cak Udin untuk menjemput kami seusai menjalankan misi dinas di Departemen Dalam Negeri itu. Ketika Pak Jokowi mengiyakan, saya pun menelpon Cak Udin, yang memberitahu saya semua kendaraan di biro jasa sewa mobil tempatnya bekerja, sudah ‘beredar’ kecuali sebuah Kijang hitam keluaran 2002 yang dulu pernah tiga hari saya sewa untuk sebuah kegiatan riset dan pembuatan video dokumenter di Jakarta. Pak Jokowi, pun spontan menyuruh ajudan untuk menyimpan nomor Cak Udin di telepon genggam yang selalu menyertainya ke mana saja.

Mas, saya itu naik apa saja tidak masalah. Memangnya, Mas Blontank menganggap saya seperti apa, to? Kalaupun cuma ada Colt pun, tak soal bagi saya. Memangnya seorang walikota harus naik kendaraan mahal dan mewah?

Rupanya, hingga kini, Pak Jokowi masih berlangganan pada jasa Cak Udin. Kemarin sore, demi tulisan ini, saya sempatkan telepon Cak Udin untuk pura-pura titip Pak Jokowi dipilih keluarganya dalam pemilihan gubernur DKI, Juli mendatang. Setelah basa-basi, Cak Udin cerita, hingga kini masih kerap melayani perjalanan dinas Pak Jokowi.

“Yang paling sering kami pakai mobil Innova. Pernah saya tawari sedang atau Alphard, saya malah dimarahi Pak Jokowi,” ujar Cak Udin. Jika kebetulan dia sedang melayani tamu lain, sehingga Cak Udin harus mengalihkan kepada temannya pun diterima sukacita. “Tapi saya yang selalu dihubungi. Besok (Kamis, 29 Maret) Pak Jokowi juga ke sini lagi,” tuturnya.

Cerita ini, Insya Allah, akan bersambung. Sementara, silakan simpulkan sendiri (walau terlalu dini), apakah Pak Jokowi termasuk orang yang mudah berutang budi, sehingga begitu banyak orang kuatir, kelak (jika jadi Gubernur DKI) akan mudah didikte, disetir oleh “Bandar DKI-1” sebagaimana tertulis di sampul provokatif majalah Tempo, pekan ini.

Tunggu saja…..