Namaku Roy Trie GP

Kenalkan, namaku Roy Trie GP. Semula, ayah-ibuku memberi nama Rai. Ya, Rai Surya lengkapnya, yang diumumkan pada hari kelima, setelah aku lahir ke dunia. Nama Roy kubikin sendiri, sedikit memodifikasi dari nama asli. Ketika itu, aku baru duduk di semester tujuh, di sebuah jurusan dari universitas yang terkenal dengan Kampus Biru.

Mungkin, kata biru itu pula yang membawa kemujuran bagiku. Ketika itu, ayah memberiku oleh-oleh sebuah komputer jinjing sepulang melawat ke Amerika dalam rangka tugas negara. Memang bukan komputer baru, tapi sudah mewah bagiku. Juga, bagi kebanyakan teman-teman kuliahku saat itu.

Karena komputer jinjing pemberian ayahku, aku jadi menyukai seluk-beluk komputer. Aku lantas banyak belajar, dan mencoba menekuni dasar-dasar bahasa pemrograman. Karena tak punya daya ingat yang kuat, aku beralih minat. Aku cari yang praktis-praktis saja, seperti menyunting gambar, baik foto hasil scan maupun film hasil transferan dari format beta dan VHS yang masih banyak saat itu.

Beruntung, aku memperoleh oleh-oleh dari sepupuku, sebuah handycam digital terbaik saat itu. Satu kotak berisi enam kaset enam puluh menitan itu tak kusia-siakan. Aku banyak mencoba merekam lalu mentransfernya. Memang masih trial and error istilahnya. Tapi tak apa, toh nyatanya, dari sanalah semua pintu terbuka lebar. Dunia menjadi terkuak sebegitu rupa.

Tak cuma proses produksi dan post-produksi, aku mempelajari karakter gambar. Komponen-komponen digital kupelajari, melalui buku-buku tutorial yang bisa kubeli secara online dari luar negeri. Tak banyak teman yang tahu, karena sengaja aku melakukannya diam-diam. Jujur saja, aku malas kalau kalau harus menjelaskan pertanyaan-pertanyaan standar mereka: tentang apa itu Amazon dot com, bagaimana cara bayarnya, apa itu kartu kredit dan sebagainya.

Ya, Kampus Biru memang sangat membekas di hatiku. Ia sungguh membukakan pintu, hingga luas betul ilmuku. Ketika film biru sedang populer sebagai tontonan bagi teman-teman kuliahku, aku sudah sampai menyimak kualitas gambar dan metode perekamannya. Dari sana, aku mencari tahu, program apa yang digunakannya.

Film pada cakram padat, entah itu jenis saru atau kisah pendekar dungu, bagiku sama saja. Aku selalu memperhatikannya, hingga detil jenis efek suara yang digunakannya. Industri audio-visual dari Amerika, jelas jauh lebih maju dari yang kita punya. Karena itu, soal ilmu yang satu itu, mau tak mau harus berkiblat pula ke sana.

Oh, ya. Hampir aku lupa. Nama Trie GP yang kusandingkan dengan kata Roy hanyalah caraku mengenang olok-olok teman-teman kuliahku. Supaya abadi. Juga agar tampak update, mengikuti perkembangan jaman.

Memang, banyak temanku yang belum tahu, bahwa ada format penyimpanan file digital lebih baru, yang belum dikenal di Indonesia ketika itu. Ketika orang-orang baru mengenal istilah avi, dat, dan mp3, aku sudah mempelajari wmv dan mp4. Bahkan, format 3gp yang sedang diuji coba untuk telepon genggam pun kuikuti sejak dini.

Lalu, tibalah kesempatan bagus buatku. Ketika seorang artis marah-marah karena rekaman adegan ranjangnya beredar luas di internet, aku mampu menjelaskannya. Kebetulan, sebelumnya aku sudah berhasil memastikan keaslian foto bugil, juga milik artis, yang diributkan media massa.

Rupanya, bukan hanya Kampus Biru yang mendongkrak namaku. Film biru yang beberapa kali memicu keributan karena ada yang merasa dipermalukan, pun memberi kontribusi pada kebesaran namaku. Oh… betapa beruntungnya aku. Berbekal banyak ilmu, melambunglah namaku.

Tak hanya kepada teman-teman di Kampus Biru kuucapkan terima kasihku. Tapi juga wartawan, artis, politisi dan produsen telepon genggam yang memproduksi jenis-jenis terbaru, lengkap dengan video yang bisa dimasukkan ke dalam saku. Tanpa semua itu, pasti aku tak seberuntung kini. Bisa ke sana ke mari lantaran kemampuan beradaptasi dengan teknologi.

Tri-ji-pi, terima kasih sekali lagi. Juga kalian para penemu program format perekaman video yang memberi keberuntungan tiada tara bagiku. Maka, ijinkan aku, bila namamu kumodifikasi pula, untuk memperpanjang namaku. Biarlah Rai Surya atau si muka matahari menjadi kenangan sekaligus kebanggan bagi kedua orang tuaku, karena dari nama pemberian mereka, aku benar-benar mewujudkan harapannya, mampu menyinari dunia.

Mulai saat ini, kuperkenalkan namaku, Roy Trie GP. Bukan Rai Surya yang tak trendi, tapi Roy, Roy Tri Ji Pi!

Dan, tahukah kamu apa warna favoritku? Biru! Bukan karena terpengaruh warna yang menjadi identitas sebuah partai, tapi lebih karena film saru yang melambungkan namaku. Di negeri kita, kalian tahu, film saru lebih dikenal dengan sebutan film biru. Jadi, biru-lah pembuka jalanku!

Melacak Jejak Bengawan

Ulang Tahun Pertama Komunitas Blogger Bengawan

Ulang Tahun Pertama Komunitas Blogger Bengawan

Bengawan, seperti organisasi komunitas-komunitas online di berbagai daerah, merupakan ruang srawung, tempat di mana tegur-sapa dimungkinkan. Tak sekadar ajang kumpul hura-hura, namun telah mewujud menjadi ruang berbagi: informasi, pengetahuan, juga tetek-bengek persoalan. Medianya sederhana: theng-theng crit atau thenguk-thenguk lan crita. Bercengkerama dan saling bercerita. Kadang tentang game terbaru, perkembangan program-program komputer, meski tak jarang pula membahas the hottest 3gp movies yang sedang muncul di ranah maya.

Aku yang tak paham seluk-beluk online, misalnya, jadi tahu apa itu nge-Plurk, Facebook-an, lalu nWitter. Juga, jadi punya tambahan banyak teman gara-gara blogging, sehingga ketika nyasar di Bandung, misalnya, bisa kopdar dadakan dengan Kang Mahendra Itempoeti, yang sebelumnya hanya kukenal secara imajiner. Ke Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta dan kota-kota lain, jadi aman. Setidaknya, kalau tak bersua teman lama, bisa bertemu sahabat-sahabat baru.

Dari banyak komunitas, aku bisa belajar. Begitu pula dengan teman-teman di Bengawan, bisa turut belajar dari berbagai hal yang telah dilakukan teman-teman komunitas blogger di berbagai kota. Gerakan wedhus yang digagas Kang Saiful, misalnya, membuat kami iri, lalu ingin meniru cara teman-teman BHI berbagi, menginisiasi sebuah gerakan yang sekilas tampak sederhana, tapi mulia dan berguna.

Prinsipnya, belajar itu penting. Maka, kepada semua teman yang kami kenal, kami ingin belajar. Meniru yang baik (seperti ditunjukkan keluarga besar BHI), dan menentang yang tidak baik, seperti pemidanaan Prita Mulyasari, sehingga kami mencoba mengangkat isu bahayanya UU ITE melalui sebuah seminar. Kami ingin memberi kontribusi kepada perbaikan kualitas kehidupan dalam rangka tugas-tugas kemanusiaan.

Bahwa kami masih manusia, yang kadang nampak suka hura-hura, namun kami berusaha bersikap secara dewasa. Kami memang tak suka aneka bentuk pesta, meski kami juga menghargai pilihan teman-teman penyuka pesta. Namun, kami pernah dan masih berharap, walau ada banyak teman yang masih suka meneruskan tradisi pesta, ada baiknya untuk memaknai pesta untuk bukan menjadi sekadar ajang hura-hura semata.

Seperti pada peristiwa hajatan khitanan, misalnya, sebuah pesta memiliki pijakan yang jelas. Khitanan merupakan simbol ‘gerbang menuju kedewasaan’, sehingga ada baiknya diumumkan. Bahwa kemudian tamu yang diundang berkenan datang dan membawa kado atau oleh-oleh, itu semua dilatari oleh semangat untuk mengenang yang dilatari oleh sebuah nilai kebersamaan. Dengan demikian, kemeriahan pesta tak semata-mata hura-hura, namun ada selipan misi dan menjadikan peristiwa lebih bermakna.

Pada peringatan setahun Bengawan, kami sedang berusaha membangun sebuah kebersamaan. Kami ingin menutup tahun ini dengan mendorong berdirinya sebuah perpustakaan kecil-kecilan. Walau sederhana, semoga buku-buku yang sudah dikumpulkan teman-teman bisa berguna bagi saudara-saudara kami, yang dalam kesehariannya masih dihadapkan pada dua pilihan sulit: mencerdaskan anak-anak (sebagai sandaran masa depan), atau mengurus perut semata, sebab untuk bertahan hidup saja, mesti membanting tulang siang dan malam mengais rupiah.

Kami senang, walau belum bisa berbuat baik untuk banyak orang, pertemuan individu-individu yang lantas berbuah munculnya nama Bengawan, setahun silam, sudah mulai menemukan arah. Semoga, menapaki tahun kedua usia kami, Komunitas Bengawan sanggup meniru Bengawan Solo, yang hadir dan mengular hingga jauh. Air terus mengalir dengan dinamika seturut perubahan situasi alam, keberadaan kami pun diharapkan terus berguna. Sepanjang masa, sepanjang aliran Bengawan Solo.

Kalau dulu banyak kaum pedagang naik itu perahu, hingga kapan pun, kami terus ingin menjadi perahu: bagi siapa saja, hendak kemana saja… Selamat ulang tahun Bengawan, semoga kita terus (iku) mengalir. Sampai jauh….