Ingatan tentang Pancasila

Hari ini, bangsa Indonesia diingatkan kembali tentang perlunya menghayati dan mengamalkan lima sila dalam Pancasila sebagai dasar negara. Dan, kita mesti berterima kasih kepada orang-orang seperti Rizieq Shihab, Bachtiar Nasir, Alfian Tanjung, Munarman, Eggi Sudjana, Kivlan Zein, Wiranto dan sederet nama populer di Republik Indonesia.

http://suarapesantren.net/2017/06/01/pesan-pancasila-era-walisongo/

http://suarapesantren.net/2017/06/01/pesan-pancasila-era-walisongo/

Tanpa mereka, saya jamin tak pernah ada gerakan pamer tagar #SayaIndonesia #SayaPancasila dan kampanye sejenisnya. Mereka yang usianya sudah melewati remaja pada 1998, pasti ingat hubungan Jenderal Purnawirawan Wiranto dengan orang-orang Rizieq Shihab, juga pasti mengerti apa itu Pam Swakarsa.

Dan, orang-orang yang sudah dewasa secara akal dan referensi politiknya pada menjelang reformasi, pasti paham bagaimana tokoh-tokoh Islam pada masa Orde Baru sangat diawasi, dikontrol, ditekan oleh ABRI (terutama Angkatan Darat). Bahkan bagi kelompok Islam yang dianggap ‘ngelunjak’, tak jarang segera dibereskan seperti ditunjukkan melalui peristiwa Priok (Jakarta), Talangsari (Lampung) atau operasi dukun santet di wilayah tapal kuda di Pulau Jawa.   *Alhamdulillah banget, kan, Islam dan tentara bisa bersahabat sedemikian rupa sejak Pam Swakarsa, padahal sebelumnya lebih mirip hubungan Tom & Jerry???* Continue reading

Peng-GusDur-an Jokowi yang Gagal

Insiden rusuh politik menyusul ‘Aksi Damai’, Jumat (4/11) malam bukanlah semata-mata demi menuntut keadilan (meski samar) terhadap tuduhan penistaan agama terhadap Ahok. Lebih dari itu, target utamanya adalah penurunan Jokowi dari kursi kepresidenan. Hingga detik ini, tak ada satupun alasan yang bisa diterima akal manusia waras, alasan penjatuhan Jokowi. Adakah pelanggaran konstitusi yang dilakukan Jokowi?

Jika pokok soalnya adalah tidak terimanya sebagian orang yang merasa sebagai tokoh Islam dan panutan muslim atas tuduhan bahwa Ahok melecehkan firman Tuhan pada Surat Al Maidah ayat 51, kenapa mereka tidak merunut kebenaran ucapan Ahok? Simak baik-baik, reaksi keras bermunculan setelah beredar video editan dan transkrip tak utuh yang diunggah Buni Yani di laman Facebook-nya.

Jika tidak ada udang di balik rempeyek, politisasi murahan semacam itu tak akan terjadi. Bahkan seorang doktor lulusan IPB, yang sidang promosinya dilakukaan saat yang bersangkutan menjabat Presiden, pun menampakkan rasa gerahnya dan geramnya lewat sebuah konperensi pers di kediamannya. Maaf jika saya harus berburuk sangka kepada sang doktor, yang menurut hemat saya bukanlah orang berotak cetek. Continue reading

Siapa Rindu Pamantyo?

Senin, 17 Oktober, merupakan hari yang menggembirakan bagi saya.  Bersama Kang Lantip, saya sengaja mampir ke kantor Beritagar untuk menjumpai senior dan tokoh yang dikagumi para blogger Indonesia, Pamantyo! Ya, hari itu, kami sengaja ke ibukota republik dalam rangka rapat penjurian lomba blogging KitaIndonesia, di mana Kang Lantip merupakan salah satu anggota dewan juri.

(kiri-kanan) Iqbal Gembul Prakasa, Lantip, Pamantyo, saya, Mas Didi Nugrahadi. Difoto oleh Cho-Ro pakai kamera Lumia saya :)

(kiri-kanan) Iqbal Gembul Prakasa, Lantip, Pamantyo, saya, Mas Didi Nugrahadi. Difoto oleh Cho-Ro pakai kamera Lumia saya 🙂

Kami senang karena Pamantyo terlihat sangat bugar dan gembira bertemu kami, teman lama yang suka bercanda dan ngobrol dengan bahasa Jawa semaunya. Dan itu merupakan kesukaan Sang Paman, ketemu kami-kami, orang desa. Sayang sekali, kami tidak membawa oleh-oleh kesukaan Pamantyo, semisal singkong, pepaya, kelapa muda dan buah-buahan lain yang bisa didapat di kebun kami, di desa. Bukan apa-apa. Oleh XL, sponsor  lomba blogging, kami dipaksa naik Garuda sehingga kami agak gengsi membawanya (sebab maunya masuk kabin, biar tidak rusak terbentur-bentur jika ditaruh di lambung pesawat). Continue reading

Juri Boleh Iri

Meski belum pernah bisa nulis bagus, saya punya banyak pengalaman penjurian lomba blogging. Di antaranya, beberapa kali menjadi anggota dewan juri Internet Sehat Blogging Award (ISBA) untuk memilih sejumlah blog terbaik Indonesia. Lalu, penjurian bertema antikorupsi yang diselenggarakan Transparency International Indonesia semasa dipimpin Kang Teten Masduki, dan beberapa lainnya.

Dalam setahun terakhir, sudah tiga lomba (dan akan menjadi lima hingga akhir tahun) dimana saya ikut serta sebagai tim yang membuat penilaian. Rasanya makin iri saja melihat kian banyak tulisan bagus bertebaran, dengan penulis beragam latar belakang. Ada pelajar (bahkan masih SMP), pengusaha, ibu rumah tangga, blogger kawakan, guru, petani, dan masih banyak lagi.

Tak hanya tema wisata yang kebanjiran peminat, pada tema-tema serius (antikorupsi, difabilitas) pun berjubelan pendaftar. Dan, satu hal yang menurut saya unik, blogger yang sudah lama malang-melintang dalam berbagai kopdar dan komunitas, malah sangat sedikit saya jumpai. Saya tidak tahu lagi ke mana mereka, meski sebagian masih sering ‘berjumpa’ karena sama-sama ‘aktivis’ linimasa media sosial seperti Twitter atau Instagram. Continue reading

Catatan Sebuah Lomba Blog

Pertengahan Oktober 2016 merupakan masa menggembirakan. Lomba blog yang kami selenggarakan kebanjiran peserta, hingga tiga juri (Wisnu Nugroho, Donny BU dan Rony Lantip) pening kepala. Hingga sepekan menjelang penutupan, sudah ada 150 postingan yang harus dinilai. Semula, kami mengira hanya akan ada 200 peserta hingga lomba ditutup. Dan, itu merupakan target optimis kami, dengan asumsi orang sudah pada meninggalkan blogging karena ada Twitter, Facebook dan sejenisnya.

kitaindonesia_logoSebagai penyelenggara, saya terbelalak ketika jumlah yang masuk melebihi 420, meski setelah disortir tinggal 369 postingan yang harus dinilai! Rupanya saya terburu-buru membuat prediksi. Blogging masih ramai. Tak hanya di Jawa. Bahkan, dari berbagai penjuru negeri, yang konon kecepatan akses internetnya terbatas dan lebih mahal, tulisan-tulisan bagus didaftarkan. Dari Papua, Ogan Komering di Sumatera Selatan, dari pedalaman Riau, Sulawesi, dan masih banyak lagi. Continue reading