Jangan Biarkan Indonesia Bubar

Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi

Sugeng dalu, selamat malam, Pak Jokowi.

Saya mau matur, saat ini saya sangat lelah mengikuti perdebatan sekolah lima hari yang digagas dan dibuatkan peraturannya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi. Hampir seluruh elemen Nahdlatul Ulama, apalagi para pengasuh pondok-pondok pesantren, pun menyuarakan penolakan. Madrasah diniyyah yang sudah ada sejak jauh sebelum Indonesia merdeka, tiba-tiba akan kena imbas kebijakan tersebut.

Jika kebijakan tersebut dalam rangka pembentukan karakter bangsa, kira-kira karakter seperti apa yang bakal muncul, jika kita dapati anak-anak PAUD dan TK ‘Islam moderen’ sudah fasih bicara ‘merokok itu haram’?

Ini bukan karena saya perokok dan mayoritas orang NU, santri dan kiai-kiainya banyak yang merokok. Bukan! Tak sedikit, kok, kiai dan santri NU yang meyakini merokok itu hukumnya makruh. Meski Allah dengan kun fayakun-Nya bisa membuat anak-anak PAUD dan TK kita menjadi cerdas secara nalar dan emosional secara mendadak, tapi saya lebih percaya kalimat ‘merokok itu haram’ adalah buah pendidikan guru-guru di sekolahnya, entah dia guru agama atau bukan. Continue reading

Menyoal Full Day School

Seorang keponakan baru lulus sekolah dasar. Ketika mendengar orangtuanya akan menyekolahkan lelaki sulungnya ke pondok pesantren, yang saya pesankan hanya satu: carikan pondok yang masih mengajari santrinya dengan sholawatan, tahlilan, yasinan dan sejenisnya. “Supaya setelah mondok, anakmu tidak melupakan orangtuanya!” pesan saya.

Dalam keyakinan saya, selama masih ada tahlilan dan sejenisnya, keponakanku pasti akan mencintai negeri ini. Nilai-nilai Pancasila pasti akan mewujud dalam perilaku kesehariannya, dan bisa dipastikan pula akan terjauhkan dari radikalisme dan pandangan sempit yang merasa diri dan kelompoknyalah yang paling benar.

Ya, sifat dan sikap merasa benar itulah yang belakangan sangat menghantui pikiran saya, juga jutaan bangsa Indonesia. Sungguh menyedihkan ketika teman-teman saya yang tinggal di kota, apalagi kota besar, mengeluhkan kian banyaknya anak-anak TK dan SD sudah fasih mengafir-kafirkan temannya sendiri karena berbeda agama. Lebih miris lagi, ketika beredar video, sebuah pawai anak-anak di Jakarta, yang meneriakkan kalimat-kalimat ‘bunuh Ahok’ dengan lantang berulang-ulang. Continue reading

ABU 96

Sumber: Infografis Tirto.id

Sumber: Infografis Tirto.id

Kalah jadi abu, menang jadi arang. Begitu peribahasa yang saya dapat sejak duduk di bangku sekolah dasar, yang maknanya kurang-lebih tidak ada gunanya bertarung, berperang atau bermusuhan satu sama lain.

Tapi, makna peribahasa itu bisa saja dimaknai berbeda dengan Rizieq Shihab dan para pengikutnya, yang hobi banget mengobarkan permusuhan kepada siapapun. Semua hal bisa dijadikan musabab. Entah orang hendak membangun gereja, bisnis tempat hiburan hingga warung makan buka siang hari di bulan Ramadhan.

Atas nama penegakan ketertiban dan menjaga keimanan sebagian orang, FPI dan kawan-kawan tak segan menggasak warung, tak peduli pemiliknya tua renta dan bermodal pas-pasan. Apalagi diskotik atau tempat hiburan malam yang dikelola dengan modal berlebih, tentu jauh lebih menggoda syahwat mereka dalam membentengi moral umat.

***

Saya sungguh gembira ketika Aksi Bela Ulama 9 Juni berakhir sepi. Jangankan 500 ribu seperti yang mereka teriakkan sebelumnya, bahkan seribu pun tak sampai. Continue reading

Antara Afi, Amien, dan Anies…

(tulisan ini sejatinya untuk status di Facebook)

afi-detikcom

https://news.detik.com/berita/d-3519093/afi-nihaya-im-sorry-im-not-perfect

Andai kontroversi tulisan berjudul “Warisan” pada status Fesbuk Afi terjadi kira-kira sepekan menjelang putaran kedua Pemilihan Gubernur DKI, saya menduga Zara Zettira, Fahira Idris, Marissa Haque, hingga Anies Baswedan dan Profesor Amien Rais kok bakal ikut-ikutan berkomentar.

Tak hanya penulis-penulis blog dan media sosial, wartawan media mainstream pun seperti tak jemu-jemunya memberitakan Afi, pendukung dan penentangnya.

Terlepas dari perdebatan setuju atau menentang orisinalitas pikiran yang ditulis sebagai status perempuan muda bernama Asa Firda Inayah itu, kita bisa ‘menakar’ kelebihannya jika kita menyimak jawaban-jawaban yang dilontarkannya saat wawancara sejumlah stasiun televisi (seperti KompasTV dan MetroTV) yang disiarkan secara langsung. Continue reading

Ingatan tentang Pancasila

Hari ini, bangsa Indonesia diingatkan kembali tentang perlunya menghayati dan mengamalkan lima sila dalam Pancasila sebagai dasar negara. Dan, kita mesti berterima kasih kepada orang-orang seperti Rizieq Shihab, Bachtiar Nasir, Alfian Tanjung, Munarman, Eggi Sudjana, Kivlan Zein, Wiranto dan sederet nama populer di Republik Indonesia.

http://suarapesantren.net/2017/06/01/pesan-pancasila-era-walisongo/

http://suarapesantren.net/2017/06/01/pesan-pancasila-era-walisongo/

Tanpa mereka, saya jamin tak pernah ada gerakan pamer tagar #SayaIndonesia #SayaPancasila dan kampanye sejenisnya. Mereka yang usianya sudah melewati remaja pada 1998, pasti ingat hubungan Jenderal Purnawirawan Wiranto dengan orang-orang Rizieq Shihab, juga pasti mengerti apa itu Pam Swakarsa.

Dan, orang-orang yang sudah dewasa secara akal dan referensi politiknya pada menjelang reformasi, pasti paham bagaimana tokoh-tokoh Islam pada masa Orde Baru sangat diawasi, dikontrol, ditekan oleh ABRI (terutama Angkatan Darat). Bahkan bagi kelompok Islam yang dianggap ‘ngelunjak’, tak jarang segera dibereskan seperti ditunjukkan melalui peristiwa Priok (Jakarta), Talangsari (Lampung) atau operasi dukun santet di wilayah tapal kuda di Pulau Jawa.   *Alhamdulillah banget, kan, Islam dan tentara bisa bersahabat sedemikian rupa sejak Pam Swakarsa, padahal sebelumnya lebih mirip hubungan Tom & Jerry???* Continue reading