Manfaat Inflight Magazine dalam Promosi Wisata

Puas jalan-jalan selama lima hari di Palembang dan Musi Banyuasin, saya pulang ke Solo naik Nam Air ke Jakarta, lalu disambung dengan Sriwijaya Air turun Yogyakarta. Ya, saya tidak memilih penerbangan ke Solo karena masih ingn berbarengan dengan idola kaum muda Indonesia, Agus Mulyadi alias Gus Mul. Jalan-jalan yang asik: dolan, mangan, turu, dolan maneh! Jalan-jalan, makan, tidur, jalan-jalan lagi.

Sayang sekali ii majalah Sriwijaya Air edisi Mei 2016 ini tak ada informasi mengenai event Musi Triboatton 2016. Event-event lain pun kurang memperoleh ulasan memadai. Sebaiknya sih, minimal diberi ruang minimal dua halaman agar informasi wisata benar-benar menggelitik orang untuk datang berkunjung.

Sayang sekali ii majalah Sriwijaya Air edisi Mei 2016 ini tak ada informasi mengenai event Musi Triboatton 2016. Event-event lain pun kurang memperoleh ulasan memadai. Sebaiknya sih, minimal diberi ruang minimal dua halaman agar informasi wisata benar-benar menggelitik orang untuk datang berkunjung.

Kapan lagi bisa piknik seenak itu kalau tidak mencicipi duit APBN… Ya, benar-benar duit APBN karena kami memang di-hire Kementerian Pariwisata untuk membantu promosi wisata Indonesia (terima kasih Kemenpar…). Kebetulan, daerah tujuan wisatanya Palembang dan Musi Banyuasin, sengaja di-match-kan dengan Musi Triboatton 2016, yakni ajang lomba dayung tiga jenis tantangan berbeda, yakni rafting, kano dan perahu naga (dragon boat).

Memang kami tidak mengikuti seluruh rangkaian ajang lomba olahraga air yang digelar tahunan itu. Karena itulah, kami lebih banyak mengunjungi sejumlah lokasi wisata di Sumatera Selatan. Dengan berperahu di Sungai Musi, kami mengunjungi Pulau Kemaro dan kampung Arab Al Munawwar di Palembang kota. Kami juga mengunjungi Museum Sriwijaya, taman kota Kambang Iwan, sentra songket dan sejumlah tempat makan yang enak-enak.

Satu yang agak mengagetkan saya, justru ketika dalam penerbangan pulang. Di inflight magazine-nya Sriwijaya Air, event Musi Triboatton tidak terdapat di dalam agenda wisatanya. Yang terpampang di sana justru Solo Keroncong Festival, Gelar Budaya Wanurejo (Magelang, Jawa Tengah), Festival Sanrobengi (Takalar, Sulawesi Selatan), Festival Manggis (Badung, Bali) dan Bandung Laoetan Onthel (Bandung, Jawa Barat). Kok bisa???

Bisa saja… Ini kan Indonesia. Sudah lumrah kalau di Indonesia, banyak pihak meski secara ideal punya kepentingan yang sama, belum tentu bisa ‘bekerja sama’.

Mungkin, manajemen inflight magazine, termasuk perusahaan penerbangan yang dimiliki pengusaha asal Provinsi Bangka Belitung itu, tidak menganggap Musi Triboatton sebagai bagian dari mereka, yang menggunakan nama ‘Sriwijaya’ yang tidak lain merujuk pada satu kesatuan kultur dan geografis, yakni sesama warga bekas Kerajaan Sriwijaya yang masyhur hingga ke menembus luasan tak sekadar ASEAN saja. Continue reading

Lancar Berkabar dari Zona Bencana

Hidup saya sepertinya tak pernah lepas dari dunia (tele)komunikasi. Saya menggunakan beragam perangkat dan teknologi, mulai faksimili berlangganan di kantor Telkom Solo, pager (STARKO), telepon AMPS (Metrosel) hingga ketika teknologi GSM mulai diperkenalkan di Indonesia. Saya juga pernah berlangganan hampir semua operator telekomunikasi, baik yang GSM maupun CDMA. Koneksi Internet pun pernah saya jalani sejak modem Robotics 56K merajai pasar Indonesia.

Dari kilasan pengalaman berteknologi itu, satu yang memberi kepuasan lebih kepada saya, jujur harus saya sampaikan di sini, hanya XL. Ketika ‘mampir’ semalam di Singapura (setelah sepekan ikut pusing mengurus ijin kepolisian pertemuan aktivis NGO internasional di Batam, 2006), di ujung selatan Negeri Singa, saya masih dapat sinyal dari BTS dari Batam, sehingga tidak terkena biaya roaming. Baru ketika masuk pusat kota seperti di Orchard Road, saya memilih mengganti dengan kartu setempat. Biar irit.

Modem BandLuxe berkecepatan maksimum 7,2 mbps (Foto: tweaktown.com)

Modem BandLuxe berkecepatan maksimum 7,2 mbps (Foto: tweaktown.com)

Tapi bukan soal itu yang membuat saya terkesan. Justru pada akhir 2007,   sangat dimudahkan karena pada saat itu memiliki BandLuxe, perangkat modem bundling dari XL. Dari lokasi musibah bukit longsor di Dukuh Ledoksari, Tawangmangu (Jawa Tengah), saya bisa terus melakukan update perkembangan proses pencarian dan evakuasi korban, yang memakan korban sedikitnya 37 orang tewas tertimbun dan ratusan rumah rata dengan tanah atau tertimbun.

Hingga beberapa hari bolak-balik ke lokasi, saya bisa terus mengirimkan foto untuk sebuah kantor berita (asing) dan melaporkan perkembangan. Tanpa modem dan koneksi XL, mungkin saya kehilangan banyak momen. Kala itu, sebagian besar koresponden masih harus ke Solo untuk mengirim foto lewat warung internet. Hanya beberapa yang berbekal modem, mengingat kala itu masih termasuk barang ‘mewah’. Mewah bukan lantaran harga modem masih mahal, melainkan tidak semua BTS dari beberapa operator memiliki koneksi HSDPA atau WCDMA yang lebih kencang.

Beberapa teman yang menggunakan modem independen dengan koneksi operator lain, banyak mengeluhkan lambatnya download/upload. Apalagi, bagi fotografer yang biasanya mengirim minimal empat foto berukuran masing-masing 500 KB hingga kisaran 1 Megabytes. Dengan kecepatan koneksi Internet 3G, 70 menit waktu kirim file foto sebesar 2MB sudah termasuk ‘cepat’ dan menguntungkan. Jika harus turun ke Solo, saya akan kehilangan waktu 90 menit hanya untuk perjalanan bolak-balik, di luar proses mengirim dari waret yang juga memerlukan minimal 30 menit untuk besaran attachment file yang sama. Maklum, rata-rata warnet di Solo juga belum memiliki koneksi secepat sekarang.

Sambil menunggu selesai proses upload selama 70 menit itu, saya bisa meninggalkan netbook yang terkoneksi Internet untuk mengamati perkembangan proses evakuasi oleh tim pencari (SAR), sekaligus bisa memotretnya jika ada yang menarik. Yang sudah pasti, saya tidak perlu capek-capek pergi ke Solo lalu balik lagi. Continue reading

Jika Saya Kaya…

Jika saya kaya, kelak, maka akan kubeli banyak orang, masing-masing saya siapkan satu kandang. Mereka akan saya gantung di teras rumah buat tontonan. Jenis manusia yang akan saya beli antara lain:

1. Intelektual tukang.

Ciri intelektual tukang adalah orang yang mau belajar sungguh-sungguh, riset dan sebagainya, bahkan hingga bergelar profesor, namun tidak digunakannya untuk kebaikan. Mereka itulah yang pendapatnya lebih banyak digunakan untuk memberi pembenaran kejahatan aparat, pejabat atau penguasa.

Jika mereka ingin memenuhi kegelisahan akademiknya seperti ikut seminar, di manapun tempatnya, akan saya fasilitasi. Kalau perlu, saya sediakan kursi kelas bisnis atau yang first class, tapi tetap berada dalam kurungan/sangkar. Jadi, saya tetap akan berusaha bersikap manusiawi, tidak mematikan bakat intelektualnya. Continue reading

Welcome Jokowi-Kalla Wisdom (JKW)

Saya sengaja mencantumkan kata ‘wisdom’ pada judul tulisan, sebab saya paham karena selalu menyimak dan mencatat teladan Pak Jokowi. Ya, Pak Jokowi calon presiden, yang berpasangan dengan Jusuf Kalla. Siapa tokoh politik sekarang yang (maaf) latah pakai baju putih kemana-mana?

Banyak politikus yang mengenakan baju putih (tapi bukan baju koko) semata-mata didorong oleh niat pencitraan, membangun kesan dengan mengambil filosofi kesucian dan kebersihan atas putih. Tentu, amat disayangkan jika kesan suci dan serba baik datang dari konsultan komunikasi atau pakar fesyen yang dibayar untuk itu.

Masih bagus juga sih, mereka masih mengakui putih sebagai simbol positif, daripada abai sama sekali. Tapi, dalam konteks kompetisi merebut kursi presiden/wakil presiden, publik justru diuntungkan dengan kesamaan pilihan warna pakaian pasangan saat deklarasi pencapresan, baik Jokowi-Kalla maupun Prabowo-Hatta.

Jika sama-sama putih secara fisik, maka publik diajak menelisik lebih dalam, agar menemukan pembeda, diferensiasi atas dua pasangan capres/cawapres.

Pak Jokowi sudah biasa mengenakan kemeja putih sejak menjabat Walikota Surakarta. Ciri khasnya, ia menggulung hingga lengan, tanpa pernah memasukkan kemeja,dalam,celana. Santai, tak terlalu formil.

Dengan pilihan gaya berpakaian seperti itu, warga bantaran kali sekalipun tidak canggung menyapa, menghampiri dan menyalami. Dan, sambutan Pak Jokowi juga sangat natural, selalu ada kontak mata ketika berjabat tangan, dan ada sapaan/dialog (yang panjang-pendeknya tergantung ketersediaan waktu). Ada rasa kedekatan pada setiap kesempatan berinteraksi, dan tidak dibuat-buat.

Pilihan kemeja putih juga menunjukkan netralitas pada berbagai hal dan momentum. Di acara partai apapun, dimana warna bisa jadi perkara sensitif, kemeja putih membawa isyarat netralitas. Pun di acara-acara resmi lainnya.

Pada pilihan warna kostum itulah wisdom Jokowi mewujud. Identitas tidak perlu dikedepankan, ditonjol-tonjolkan. Dengan demikian orang lain seperti dibiarkan menilai dengan referensi dan pengalaman masing-masing. Meski hadir di acara-acara PDI Perjuangan, misalnya, Pak Jokowi hampir selalu mengenakan kemeja kesayangannya itu. Pada situasi seperti itu, saya melihatnya sebagai bentuk kearifan. Dia tak takut diragukan ke-PDIP-annya, karena pada saat yang sama, jabatan sebagai walikota melekat pada dirinya. Ia menempatkan diri sebagai milik semua orang, sehingga tidak mau terbatasi oleh sekat-sekat politik, meski dalam tataran persepsi atas sebuah simbol.

Bargain Jokowi kepada Amerika

Situs online Kontan memberitakan pertemuan Gubernur DKI dengan Duta Besar Amerika Serikat Robert O Blake pada Senin (14/4) malam. Bukan tak mungkin, berita itu akan disambar lawan-lawan politiknya, terutama kelompok Islamis untuk membangun sentimen negatif terhadap juga calon presiden yang diusung PDI Perjuangan itu.

Tak banyak orang mencatat, apalagi mau mengakui tindakan Jokowi terkait hal-hal strategis beginian. Amerika, suka-tak suka adalah simbol keperkasaan dunia. Kebijakan luar negeri Amerika selalu membawa dampak signifikan pada banyak negara, tak terkecuali Indonesia. Maka, kunjungan duta besar Amerika ke suatu daerah di sebuah negara pasti ada hitung-hitungannya, tak terkecuali kedatangan Cameron Hume ke Solo, 26 April 2009 silam.

Tempo mencatat, tak ada pengamanan mencolok terhadap acara jalan-jalan Cameron yang didampingi Jokowi di sejumlah tempat wisata kota, seperti Pasar Triwindu (Ngarsapura) atau Gladag Langen Bogan (Galabo). Tidak tampak aparat Polri maupun pengawal khusus Dubes Amerika berada di dekat tamu penting itu, meski dalam kunjungan tidak resmi.

Dalam perbincangan santai dengan Pak Jokowi beberapa hari setelah kunjungan Cameron, ia bercerita, sengaja mengajukan syarat khusus kepada Dubes Amerika sebelum bertolak ke Solo. “Saya minta beliau tidak dikawal secara mencolok dan berlebihan. Saya pun menyampaikan, nanti akan meminta kepolisian di Solo untuk melakukan pengamanan tertutup. Rupanya, beliau setuju,” ujar Pak Joko.

Memang diakui Pak Jokowi, semula pihak kedutaan Amerika keberatan dengan syarat itu. Tapi, Walikota Surakarta itu ngotot dan menyediakan diri sebagai penjamin, yang akan ditunjukkan dengan cara mendampingi ke manapun Cameron Hume jalan-jalan di Solo.

Tak hanya itu, kepolisian setempat pun awalnya keberatan jika pengamanan bagi Dubes Amerika itu tidak maksimal. Tak hanya personil yang diterjunkan, kepolisian pun berencana menyiapkan kendaraan antihuru-hara di lokasi-lokasi yang hendak disambangi Hume. Lagi-lagi, Pak Jokowi meminta Kapolresta Surakarta untuk mengurungkan rencananya. Dia meminta model pengamanaan tertutup, dengan jaminan diri dan jabatannya, dimana polisi yang diterjunkan hanya berpakaian preman dan mengamati dari kejauhan. Alhasil, deal!

Maka, jadilah Cameron Hume, duta besar dari sebuah negara adidaya, jalan-jalan bebas layaknya turis mancanegara yang suka blusukan ke pasar barang antik di Triwindu ‘tanpa pengamanan’. Dan, sukses! Tak seorang pun mengganggu kunjungan itu. Mungkin, orang kebanyakan mengira Pak Jokowi sedang mengantar buyer mebel untuk berwisata di Solo. Toh, belum tentu satu dari sepuluh orang di sekitar lokasi itu tahu, bahwa yang dikawal Pak Jokowi adalah Cameron Hume, sang duta besar negara superbesar.

Kata Pak Jokowi, “Dengan cara seperti itu, pasti Pak Cameron Hume akan bercerita kepada teman-temannya sesama duta besar di Jakarta, kepada staf-staf dan petinggi keamanan di Amerika sana, bahwa jalan-jalan di Solo itu aman seaman-amannya. Itu yang penting bagi kita, bukan hanya masyarakat Kota Solo, tapi juga Indonesia.”

Benar. Saat kunjungan Cameron Hume itu, aparat Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri masih gencar-gencarnya memburu terduga teroris dimana-mana. Keamanan Poso masih kerap ‘bermasalah’, pun juga di daerah-daerah lain di Indonesia. Kelompok Kudus, kelompok Cirebon dan sebagainya pun masih diwaspadai pergerakannya. Dengan demikian, citra Solo sebagai ‘Kota Teroris’ belum hilang, apalagi beberapa saat sebelumnya, Indonesia masuk dalam daftar travel warning di negara adikuasa tersebut. Dan, tindakan Pak Jokowi bisa disebut sebagai langkah taktis dan strategis.

Dampak dari pernyataan Solo sebagai kota yang aman dikunjungi dari seorang Duta Besar Amerika, tentu saja bermuara kemana-mana. Nama baik Indonesia terbawa, multiplier effects-nya juga bisa dirasakan siapa saja, dimana saja, di Indonesia. Lalu lintas kunjungan wisatawan (lokal dan internasional) menjadi normal, sehingga pedagang makanan, para sopir taksi dan angkutan umum lainnya, produsen batik dan cinderamata, tak perlu kuatir berkurang pemasukannya.

Begitulah sikap cermat dan ide bernas seorang Jokowi menyelesaikan sebuah perkara. Tak perlu banyak keributan, namun persoalan bisa dibereskan. Sebuah langkah diplomasi gemilang seorang politisi muda, yang selalu menggunakan kearifan lokal Jawanya dalam bertindak. Dalam hal ini, tamu merasa dimuliakan, dihormati dengan jaminan keamanan dan perlakuan selayaknya tamu bermartabat, namun juga tak perlu digembar-gemborkan karena hal demikian juga belum tentu berbuah kebaikan.