Kenangan Sang Guru (2)

Obrolan lewat telepon selama hampir satu jam pada akhir November kemarin, rupanya menjadi pembicaraan terakhir saya dengan Pak Murtidjono. Beliau titip salam dan minta saya meminta maafkan kepada Mbak Retno Maruti, sebab tak bisa datang menyaksikan pentas toue Savitri di ISI. Pak Murti mengaku sedang jalani proses penyembuhan leukemianya dengan membatasi ketemu banyak orang.

“Secara medis saya, sebenarnya saya bisa menonton. Tapi, karena harus selalu mengenakan masker selama proses penyembuhan, saya pekewuh (sungkan) jika nanti ketemu banyak orang dan harus ngobrol tanpa membuka masker. Tolong diaturke (disampaikan) Mbak Mbuk (panggilan orang-orang dekat Retno Maruti di Solo) dan Mas Sentot, saya tak bisa datang. Mugi-mugi sukses,” begitu pesannya.

Saya tahu persis, Pak Murti selalu menonton pertunjukan siapapun, apalagi jika diundang dan waktunya tidak bertubrukan dengan kepentingan lain. Ketika menjabat Kepala Taman Budaya pun, Pak Murti selalu hadir dan paling sering bersam Bu Ning, istrinya. Jika tak ada undangan, Pak Murti meminta istrinya yang membeli tiket, apalagi jika yang pentas adalah kelompok atau seniman muda. Ia selalu konsisten mendukung dan menyemangati sebuah proses berkesenian, termasuk ‘nyumbang’ produksi dengan membeli tiket.

Soal menonton pertunjukan pun, ia memberlakukan prinsip yang sangat personal. Jika Pak Murti bertahan lebih dari lima menit, maka itu berarti dia menganggap ada sesuatu yang menarik dari garapan yang ditawarkan sang penampil, sekalipun itu kelompok teater pelajar SLTA. Sebaliknya, terhadap grup/seniman terkenal sekalipun, ia bisa meninggalkan ruangan ketika Pak Murti menganggapnya ‘biasa-biasa saja’.

Silakan simak komentar Titus berikut:

Jika meninggalkan ruang pertunjukan lebih awal, pun ia tak langsung pulang, melainkan menunggu kelar pertunjukan di wedangan, duduk-duduk sambil minum teh tawar kesukaannya. Pak Murti pun tak segan menghampiri seniman yang sedang punya hajat, menyalami untuk memberi semangat.

***

Murtidjono adalah pribadi yang unik. Tak hanya mendukung sebuah proses kesenimanan, ia pun memiliki keberpihakan yang kuat terhadap sebuah program di Taman Budaya. Pernah suatu malam, Pak Murti menelepon seorang pejabat RRI. Intinya, RRI yang bekerja sama dengan Taman Budaya diminta mencopot kurator pementasan kroncong yang rutin diselenggarakan sebulan sekali di Pendapa Ageng, TBS, yang gratis untuk umum dan disiarkan langsung di RRI Surakarta.

Pak Murti, rupanya sudah melakukan proses verifikasi tentang gosip yang lama didengarnya, bahwa grup orkes kroncong yang tampil di acara rutin itu pada membayar alias nyogok sang kurator yang ditunjuk RRI agar bisa tampil. Padahal, urusan penyelenggaraan pentas dan honor disediakan Taman Budaya Surakarta, sementara RRI yang menyiarkan dan menyediakan kurator. Pak Murti marah besar, sebab kualitas penampil cenderung menurun dari waktu ke waktu, sehingga terjadilah telepon ancaman malam itu, yang kebetulan saya sedang berada di sampingnya, nonton dari sisi barat pendapa.

Dalam hal memajukan kesenian, Pak Murti tak pernah takut berhadapan dengan siapapun. Pada masa Orde Baru yang sangat ketat mengontrol kesenian, pun dihadapinya dengan santai. Intel militer atau polisi yang kerap mondar-mandir setiap ada seniman-seniman kritis berpentas, justru didatanginya, diceramahi. Tapi di balik itu, ia sering berkomunikasi dengan pejabat militer daerah, menyatakan diri sebagai penjamin jika terjadi sesuatu yang dianggap berbahaya bagi aparat keamanan.

***

Demi kemajuan kesenian pula, Pak Murti melibatkan orang di luar staf sebagai programmer acara. Ada penyair seperti Sosiawan Leak, networker kebudayaan Halim HD, keduanya untuk seni pertunjukan dan sastra, atau perupa Hajar Satoto untuk urusan seni rupa. Stafnya yang PNS dan birokrat, diasumsikan tak ngerti dinamika kesenian yang berkembang di luar Taman Budaya.

Alhasil, Taman Budaya Surakarta (TBS) selalu memiliki program paling bagus dibanding taman budaya lain yang ada di Indonesia. TBS bahkan menjadi kiblat dinamika kesenian/kebudayaan di Indonesia, yang masa keemasannya terjadi pada dekade 1990. Pada 1995, misalnya, sanggup mengorganisir event besar bertajuk Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka, yang menghadirkan seribuan seniman dan pekerja seni dari berbagai disiplin kesenian, dari seluruh Indonesia.

Pada saat itu pula, baru sekalinya digelar upacara bendera (kalau tak salah ingat) di pendapa, pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus, yang kalau tak salah dengan inspektur upacaranya budayawan Umar Kayam. Ada parade penyair, pameran senirupa, pentas teater, termasuk Kaspar, karya masterpiece Rahman Sabur dan Kelompok Paayung Hitam bersama perupa Tisna Sanjaya dan komponis Harry Roesli, serta pentas wayang kulitnya Ki Hadi Sudjiwotedjo yang berkolaborasi dengan komponis I Wayan Sadra dan Studio Karawitan (waktu itu bernama) Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI).

Wartawan senior atau redaktur budaya dari hampir semua media massa terkemuka di Indonesia hampir kerap bertandang di Taman Budaya Surakarta. Maka, publikasi pun ada di mana-mana. Dan saya pun termasuk yang beruntung, mengenal banyak redaktur sehingga mereka pun mulai mengenal kualitas foto-foto dokumentasi peristiwa seni pertunjukan yang saya buat, lalu kerap dipesan untuk dipublikasikan di sejumlah media. Dari sana pula, saya jadi merasa mampu menulis features sederhana tentang peristiwa seni pertunjukan, sebelum lantas jadi wartawan beneran.

Taman Budaya Surakarta adalah surga bagi sebuah proses kreatif dan interaksi intelektual, baik bagi seniman maupun masyarakat di luar kesenian. Pak Murti sanggup membangun itu, yang oleh pelukis Djoko Pekik, disebut dengan istilah babat alas, menyiapkan lahan bagi persemaian benih-benih kesenian dan kebudayaan.

(bersambung)

Artikel terkait:

Kenangan Sang Guru (1)

Kenangan Sang Guru (1)

Bagi saya, almarhum Murtidjono bukanlah seniman. Tapi, perhatiannya terhadap kesenian, seniman dan kebudayaan tak pernah ada sanggup membantahnya. Ia pemikir kebudayaan yang eksentrik. Sikapnya tegas: memilih dipensiun diri jika harus pindah ke Jakarta, walau pangkat dan jabatannya naik. Ia merasa belum tuntas menjadi fasilitator bagi seniman di Jawa Tengah.

Saya beruntung pernah menjadi muridnya, terutama di Akademi Ngisor Pelem. Ya, sebuah sebutan untuk warung di bawah pohon mangga, di kompleks Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta (TBS), di mana banyak seniman, mahasiswa, aktivis, wartawan selalu mendiskusikan banyak hal, dengan cara yang kadang-kadang penuh canda, kadang pula dengan disertai tarik-ulur otot leher.

Selain di kampus Akademi Ngisor Pelem, saya menjadi kerap sopirnya. Di antara sekian banyak orang ‘penganggur’ yang kerap nongkrong di sana, sayalah yang easy going, gampang diajak bepergian karena selalu nganggur, serta bisa nyopir dan punya SIM A. Kebetulan, Pak Murti bukan tipe pejabat pada umumnya, yang mau dilayani sopir dinas ke mana ia pergi.

Kami sering pergi berdua ke berbagai kota, ketemuan dengan sesama kepala taman budaya (tingkat provinsi), atau menghadiri sebuah acara kesenian. Satu  pelajaran termahal yang saya dapat dari Pak Murti, ia hobi mencibir atau meledek seniman beserta karya-karyanya di depan orang banyak. Satu-dua membencinya, tak sedikit yang marah karena tak terima, namun tetap jauh lebih banyak yang suka.

Seperti dengan banyak orang, kepada saya yang jauh lebih muda, pun Pak Murti selalu berbahasa Jawa halus (krama inggil). Sehingga orang yang tak mengenalnya jadi sulit menebak, Pak Murti itu kasar atau seorang yang halus budi. Saya memilih yang kedua.

Pada pertengahan 1990an, saya sering diajaknya jalan-jalan ke berbagai kota, seperti Surabaya, Semarang, Yogya dan Bandung. Selain beberapa kali bertemu dengan Kepala-kepala Taman Budaya, juga ketemu seniman atau budayawan sekaliber Mbah Umar Kayam. Bersama Mbah Kayam, termasuk paling sering, terutama ketika budayawan itu di Solo, sekadar memenuhi rasa kangen wisata kuliner sambil menemui Pak Murti, sang murid kesayangan.

Kedekatan Pak Murti dengan Mbah Kayam bisa dilihat dari pilihan bahasanya. Keduanya selalu ngoko, menggunakan bahasa Jawa kasar. Dari materi obrolan di tempat-tempat makan seperti RM Centrum, Ayam Tim Bu Better Palur, dan sebagainya, saya merasa beruntung bisa mencecap ilmu langsung dari orang-orang hebat itu.

***

Pak Murti betul-betul sosok eksentrik. Ia mengelola Taman Budaya Surakarta menjadi surga bagi seniman. Pada masa kepemimpinannya (sejak masih bernama Pusat Kesenian Jawa Tengah/PKJT) hingga pensiunnya (2007), seniman selalu dimanja. Selain bisa memanfaatkan semua fasilitas untuk latihan secara gratis, pentas pun digratiskan. Malah, kadang ada subsidi biaya produksi dengan bonus uang hasil penjualan tiket menjadi hak sepenuhnya seniman.

Maka, tak mengherankan jika pada masa kepemimpinannya, Solo (dan Taman Budaya Surakarta) selalu jadi tempat pertunjukan seniman-seniman besar dari berbagai kota, yang selain jadi suguhan menarik, juga bisa menjadi ruang apresiasi dan pembelajaran bagi seniman-seniman muda.

Simak komentar perupa Djoko Pekik melalui video berikut:

 

Teater Gandrik (Yogyakarta), Teater Satu Merah Panggung, Teater SAE (Jakarta), Studiklub Teater Bandung dan Kelompok Payung Hitam (Bandung), Teater Kita (Makassar) termasuk yang sering manggung di Solo. Rendra, Putu Wijaya, Suyatna Anirun, Djoko Pekik, Butet Kartaredjasa, Emha Ainun Nadjib, Tisna Sanjaya, adalah beberapa nama beken dalam peta kesenian Indonesia, yang juga pernah singgah pentas, atau sekadar mampir jalan-jalan.

Pak Murti memang unik. Seniman yang dicibir di muka umum, selalu dipuji di belakangnya, lengkap dengan catatan-catatan kritisnya. Ini saya tahu ketika beberapa pejabat taman budaya provinsi lain meminta nasihatnya untuk diundang. Ketika banyak orang suka memuji di depan dan menjelek-jelekkan di belakangnya, Pak Murti memilih yang tak lazim. Padahal, risikonya ia dibenci dan dimusuhi.

Simak pula komentar Joko Porong yang karya musiknya pernah dikatai ‘tai!’ oleh Pak Murti:

 

Belakangan baru saya ketahui, rupanya itu merupakan cara dia menguji mental seseorang.

Sanggupkah seseorang menerima kritik untuk bergerak maju, atau sebaliknya justru menjadi nglokro atau kendor semangat, lantas menyerah. Pak Murti, rupanya hendak menyiapkan mental seseorang sebelum tampil di kancah perang sesungguhnya, di area publik dan ranah persaingan pasar seni kreatif.

Saya termasuk yang merasakan dampratannya. Walau kami sering pergi berdua dan berkomunikasi dengan krama inggil, Pak Murti tak segan-segan menggojlok dan meledek karya-karya fotografi saya. Yang lebih gila lagi, gojlokan itu disampaikannya dalam pidato resmi pembukaan, di mana Pak Murti yang saya minta membuka/meresmikan pameran tunggal saya. Padahal, dalam rangkaian pameran itu, saya beroleh pujian dan apresiasi, baik di Galeri Lontar (Jakarta) maupun di Galeri Taman Budaya Jawa Barat (Bandung). Rupanya, itulah caranya memberi bekal kepada saya.

***

Terkait dengan pameran dokumentasi foto seni pertunjukan itu, pun saya punya pengalaman unik. Pada pertengahan 1998, saya mengirim proposal lewat e-mail kepada Mbak Jennifer Lindsay¸ penanggung jawab program kebudayaan di Ford Foundation, Jakarta. Singkat cerita, Ford Foundation tidak bisa memberi grant kepada perseorangan. Karena Mbak Jenny tertarik dengan konsep yang saya tawarkan, beliau menyarankan saya mencari lembaga resmi, sehingga saya menyodorkan nama Taman Budaya Surakarta.

Saat saya menemui Pak Murti untuk meminjam nama lembaga, rupanya Pak Murti sudah ditelepon Mbak Jenny. Beliau sudah tahu dan membolehkan. Dan, selang beberapa hari kemudian, Mbak Jenny datang ke Solo untuk ngobrol lebih dalam tentang konsep yang saya tawarkan. Di Akademi Ngisor Pelem, saya ngobrol bertiga dengan Mbak Jenny dan Pak Murti.

Dan, berangkat dari tawaran konsep saya mengenai pendokumentasian peristiwa seni pertunjukan, Mbak Jenny lantas bertanya banyak hal tentang sistem dokumentasi foto, rekaman audio dan video di Taman Budaya Surakarta. Alhasil, TBS memperoleh hibah pembuatan master rekaman dan kopian (audio dan video) yang bisa dipinjamkan untuk publik, serta pembuatan dokumentasi beberapa tokoh seni tradisional di Jawa Tengah yang sudah lanjut usia. Dari ajuan proposal saya yang hanya Rp 20 juta, TBS memperoleh hibah hingga Rp 500 juta lebih.

Itulah salah satu pengalaman saya yang tak pernah terlupakan..

***

Kepergian Pak Murti pada Selasa (3/1) itu menjadi pukulan berat bagi banyak teman di Solo dan berbagai kota. Muhamad Sunjaya atau Kang Yoyon, aktor senior Studiklub Teater Bandung (STB) dan Actors Unlimited itu sangat sedih ketika saya telepon menyampaikan kabar duka itu.

Kang Yoyon, Kang Tisna Sanjaya, Kang Rahman Sabur, Iman Sholeh dan banyak seniman di Bandung, selalu menanyakan keadaan Pak Murti dan berkirim salam setiap kami berjumpa atau sekadar berkabar lewat telepon. Mereka selalu menyebut Pak Murti dengan sebutan Kepala ‘gelo’ atau sableng lantaran keberaniannya meloloskan pertunjukan teater, pentas sastra atau pameran senirupa yang di tempat-tempat lain terkendala ketatnya perijinan Orde Baru.

Pak Murti adalah sosok unik kepala taman budaya di Indonesia. Ia birokrat yang berani menentang arus, dan tak pernah mau mengadakan upacara bendera setiap Senin pagi atau tiap tanggal 17 seperti lazimnya kantor-kantor pemerintah di jaman Orde Baru. Ia pula yang justru menyuruh pegawainya ‘ngobyek’ nyari uang tambahan dari berkesenian daripada di kantor cuma baca-baca koran atau main catur.

Seluruh aset yang ada di Taman Budaya, bahkan boleh digunakan siapapun, seniman pemula atau yang sudah mapan untuk berlatih. Ia pun membebaskan jika staf-stafnya ada yang membuka kursus kesenian.

(bersambung)

Simak pula:

Kenangan Sang Guru (2)

K800Fotografia, Sebuah e-Book

Menyimak slideshow foto-foto karya Dony Alfan memang menyenangkan. Hasil fotonya bagus-bagus, jeli mengeksplorasi obyek bidik, sanggup menampilkan detil. Pada koleksi foto yang dibuatnya dengan menggunakan telepon seluler SonyEricsson K800, kita disodori rekaman-rekaman mengagumkan. Padahal, ia tak melakukan prooses digital imaging yang manipulatif.

Dony minum #blontea

Dony, sejauh yang saya kenali adalah sosok fotografer profesional, dalam pengertian, ia menekuni profesi (sementaranya) sebagai fotografer wedding (dan prewedding, tentunya). Tapi, sebagai fotografer, ia menyukai food photography. Selain menggunakan DSLR Nikon, ia juga merekamnya dengan menggunakan ponsel jadul miliknya.

Kesukaannya pada desain mengantarnya kepada keisengan yang berguna. Ia memilih sejumlah fotonya, lantas dibuat menjadi e-book yang disebarkannya secara gratisan. Dan, slideshow menjadi pilihan caranya mengumumkan kepada publik, di sekretariat blogger Bengawan, Minggu (2/10) malam.

Memotret dengan menggunakan ponsel, kata Dony, “merupakan jalan keluar mengatasi kebosanan memotret dengan kamera DSLR.”

Saya sepakat dengan pernyataan itu. Sebagai penggemar fotografi yang juga pernah membuat foto-foto berita, saya sering direpotkan dengan perubahan sikap, bahasa tubuh atau ekspresi seseorang, ketika menghadapi ‘kamera serius’ sejenis DSLR, apalagi jika disertai lensa dan flash yang kian mengesankan ‘keseriusan’.  Saya kerap kehilangan momentum yang natural gara-gara peralatan serius.

Cara pemotretan candid, misalnya, tak mudah dilakukan ketika menggunakan lensa sudut lebar. Kedekatan fisik (jarak) fotografer dengan sasaran bidik, seringkali menyulitkan proses merekam ekspresi dan mimik yang natural, kecuali pada situasi crowded atau chaos. Bahwa seorang fotografer memiliki kiat-kiat tertentu untuk menyiasatinya, tetaplah tidak mudah untuk mendapatkan ekspresi natural pada saat ingin menggunakan pendekatan portraiture photography.

Perhatikan foto lansekap Vesak Day at Borobudur yang menyodorkan detil sempurna. Angle-nya biasa saja, tapi hasilnya sudah berbicara. Amfibi Gendong Amfibi pun demikian pula adanya. Detilnya sempurna, meski kita harus memaklumi kemampuan optik lensa kamera ponselnya.

Potret menawan dan ‘told too much’ terasa betul pada Kenapa Murung, Bro?. Close up wajah seekor anjing, lengkap dengan ekspresinya, bisa menggambarkan ‘kedekatan’ Dony dengan anjing, sebuah kata yang belakangan menjadi diksi favorit untuk mengusir kegalauannya. :p

Sebagai fotografer, Dony bisa dikatakan sangat mampu mengenali kemampuan sebuah kamera, entah itu DSLR, kamera saku maupun kamera ponsel. Karena kemampuannya itu pula, ia jadi lebih mudah mengoptimalkan perlakuannya terhadap alat rekamnya. Perhatikan Bunga-bunga Liar yang direkamnya di halaman sekretariat Bengawan. Atau, Obral Celana Dalam yang mengisyaratkan keinginan kuatnya bisa segera melihat apa yang ada di balik celana dalam, secara sah dan halal….. Dony memang jagoan dalam perkara intip-mengintip, bahkan ketika ia menyambangi pasar dan menjumpai obralan.

Amati sendiri benar-tidaknya celotehan saya menilai foto-foto karya Dony. Silakan mengunduhnya dari sini, lantas komentari sesuka hati. Asal tulus dan jujur, maka Anda akan beroleh pahala. Percayalah……

Sebagai temannya, saya bangga atas karya-karyanya. Juga iri, karena saya tak kunjung mampu berbuat seperti Dony.

 

 

Gesang Sang Maestro

Gesang telah pergi. Lelaki kesepian namun murah senyum itu benar-benar meninggalkan warisan abadi kepada Bangsa Indonesia, dan warga Surakarta. Seperti ditulis dalam syairnya, Sebelum Aku Mati, Gesang benar-benar meninggalkan warisan abadi.

Sekali ku hidup sekali ku mati/Aku dibesarkan di Bumi Pertiwi/Akan kutinggalkan warisan abadi/Semasa hidupku, sebelum aku mati//Lambaian tangaku, panggilan abadi/Semasa hidupku, sebelum aku mati//

Kini, Gesang benar-benar memberikan warisan abadi. Bengawan Solo (1940) akan terus bergema, Caping Gunung dan lagu-lagunya yang lain akan terus dinyanyikan. Sejumlah penghargaan yang diterimanya, pun tak pernah menjadikannya sebagai pribadi tinggi hati.

Jumat, 21 Mei, Gesang dimakamkan di TPU Pracimalaya dengan upacara kehormatan militer. Jenazahnya diberangkatkan dari Balaikota Surakarta, dan disemayamkan sejak pagi hari, sebagai tanda penghargaan atas jasa-jasa almarhum bagi warga dan pemerintah Surakarta. Walikota Surakarta yang menjadi inspektur upacara pemberangkatan jenazah mengenang Gesang sebagai ikon Solo atau Surakarta. “Nama Pak Gesang akan abadi bagi kami, warga Surakarta,” ujar Jokowi.

Dan, alunan Bengawan Solo diperdengarkan mengiringi kepergiannya, meninggalkan balaikota dan warga Surakarta, untuk selama-lamanya. Namun, warisannya tetap akan abadi…

Gesang Martohartono (92) merupakan pribadi sederhana dan rendah hati. Terhadap siapapun, maestro bernama kecil Sutardi, itu selalu berbicara dengan bahasa Jawa halus (krama inggil), bahkan kepada orang yang jauh lebih muda. “Kepada saya yang sudah akrab puluhan tahun pun masih berbahasa halus,” ujar Sayuti (74 tahun).

Sebagai peniup flute kroncong yang aktif hingga kini, Sayuti mengaku sudah kenal Gesang sejak 1960-an. “Tapi sering mengiringi pentas beliau baru pada awal 1970-an,” tuturnya, Jumat (21/5).

Hubungan Sayuti dengan Gesang, bahkan hingga memasuki urusan kecil-kecil di kehidupan rumah tangga Gesang, seperti memperbaiki kerusakan listrik dan antena televisi. Bersama Sayuti pula, Gesang kerap melanglang buana menjumpai penggemar Gesang hingga Jepang dan Malaysia, pada kurun 1990-an.

“Pak Gesang selalu minta tidur sekamar dengan saya karena saya dianggap bisa nyratèni (mengerti) kemauannya. Karena tak bisa tidur di ruang bersuhu dingin, saya hampir selalu mencari koran untuk menutup lubang air conditioner, terutama yang sistemnya sentral,” tuturnya.

Sepanjang karirnya bermain musik kroncong, Gesang juga tak pernah melakukan tawar-menawar harga kontrak. Bahkan, bayaran manggung yang tak seberapa pun selalu diterimanya sepanjang waktunya luang dan memungkinkan. “Beliau selalu bilang iya dan iya,” paparnya.

Gesang yang berpendidikan sekolah angka loro (Sekolah Rakyat hingga kelas 2) sejatinya berasal dari keluarga berada. Orang tuanya, Martodihardjo dan Sangadah dikenal sebagai juragan batik di Solo. Kakaknya, (almarhum) Yasid, bahkan menjadi gelandang kiri luar Persis (Solo) yang tangguh pada pertengahan 1940-an dan terkenal dengan tendangan pisang atau tendangan melengkung.

Berbeda dengan keluarganya, Gesang memilih jalur hidup sebagai seniman. Berbekal seruling bambu, Gesang mencipta puluhan lagu, yang tiap lagunya baru selesai hingga berbulan-bulan. Karena kekuatan syair ciptaannya itulah, karya-karya Gesang menjadi abadi dan monumental.

Selain Bengawan Solo yang populer di seluruh jagad hingga diterjemahkan ke dalam 13 bahasa, lagu Tembok Besar-nya memperoleh penghargaan khusus di Cina. Ia bahkan kerap melakukan lawatan kebudayaan ke negeri tirai bambu itu pada awal 1960-an.

Gesang termasuk pencipta yang karya-karyanya penuh penghayatan. Lagu ciptaan pertamanya, Si Piatu (1938) diinspirasi oleh seorang anak tanpa kasih sayang karena yatim-piatu sejak kecil. Heroisme-nya juga terasa ketika mencipta Caping Gunung (1975, ciptaan terakhir) dan Dongenganku yang bertutur tentang peran masyarakat desa yang mendukung gerilyawan dengan logistik dan keramahan.

Karya Sebelum Aku Mati juga sangat kental aura perjuangannya. Judulnya pun ia ambil dari kata-kata yang paling sering diucapkan Soekarno ketika melakukan pidato-pidato dalam rapat umum.

Sisi muram dalam kehidupan pribadi Gesang melahirkan tiga lagu serangkai: Ali-ali (Cincin, red.), Pamitan dan Luntur. Seorang sumber  yang enggan diungkap jati dirinya menyebutkan, Ali-ali merupakan kisah perpisahannya dengan sang istri. Seorang sahabat mendatangi Gesang untuk melamar istrinya. Lantaran belasan tahun tak dikaruniai anak, Gesang pun menerima pinangan sang teman yang konon pejabat Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, dengan nasihat agar tidak menyia-nyiakan si perempuan, dan memperlakukan seperti Gesang menyayanginya.

Ali-ali (lengkapnya berjudul Ali-ali Ilang Matané, Cincin Hilang Batu Permatanya) menggambarkan hilangnya nilai kemuliaan, namun tetap diikhlaskan dalam balutan kekerabatan. Ia pun menulis Luntur, yang mengandaikan cinta sang istri luruh bagai sebuah kain yang luntur warnanya. Kebesaran hatinya, tampak pada lagu Pamitan, atau pamit pulang.

Satu hal yang menautkan Gesang dengan publik Jepang adalah keberadaan dirinya sebagai penghibur Heiho atau bala tentara Jepang. Pada masa Perang Dunia II itu, Gesang dan grup keroncongnya diminta menghibur pasukan kolonial dengan tembang-tembang Jawa, sekaligus untuk propaganda anti-Barat. Pada masa itu, Gesang bergabung dengan sebuah teater keliling Bintang dari Surabaya.

Sebagai pencipta, hidup Gesang kelewat sederhana. Ia baru memiliki rumah di usia 67 tahun. Sebuah rumah mungil pemberian Pemerintah Kota Surakarta Provinsi Jawa Tengah semasa Gubernur Supardjo Rustam di kawasan Palur dihuni dengan seorang pembantunya sejak 1984. Ditemani sepeda motor Honda Bebek, Gesang melakukan aktivitasnya sebagai musisi sembari memiara burung perkutut di rumahnya.

Kesederhanaan Gesang tampak nyata ketika pada awal 1990-an, ia dirampok sekeluar dari bank. Uang puluhan juta rupiah yang baru diambilnya raib. Gesang tegar, dan ketika menjawab pertanyaan penulis, ia hanya berujar singkat, “Niku sanès rejeki kula.” (Itu bukan rejeki saya). Keesokan harinya, ia kembali ke bank dan mengambil sejumlah uang untuk menutup kebutuhannya.

Prinsip Ekonomi Jokowi

Pak Joko Widodo akan maju lagi menjadi calon Walikota Surakarta untuk periode jabatan kedua, 2010-2015. Saya berharap kesuksesan berpihak sosok yang santun, rendah hati dan visioner itu. Dia layak memperoleh kepercayaan publik Surakarta atau Solo, untuk mewujudkan mimpi-mimpinya tentang kota yang menyejahterakan penghuninya.

Saya berani menyebut ‘layak’ bagi Jokowi –sapaan akrabnya,  sebab ia telah berhasil memajukan kota dengan cara yang sangat sederhana, namun tak setiap orang mau melakukan. Yakni, mengakrabi dan menyelami kehidupan dan harapan wong cilik, lalu berusaha keras memperjuangkannya.

Pedagang kakilima yang sering dianggap sampah perusak keindahan kota bagi kebanyakan penguasa kota, justru dimuliakannya. Pajak retribusi dari usaha sederhana beromset puluhan hingga ratusan ribu akan lancar ketika ada kesempatan berusaha dan menghasilkan laba.

Pada sisi itu, dia sudah mewujudkannya. Pasar-pasar direnovasi agar penjual dan pembeli nyaman bertransaksi. Dengan begitu, terjadi pemerataan rejeki. Pada sisi lain, orang seperti diingatkan untuk hati-hati membelanjakan rejeki di pasar-pasar moderen berpendingin ruangan, yang berada di balik gedung-gedung mewah menjulang tinggi.

Memenuhi kebutuhan rumah tangga tak mesti mendatangi mal dan pusat perbelanjaan mewah, yang harga jual barang-barang dan jasanya pasti lebih mahal akibat aneka pajak yang dibebankan kembali pada si pembeli. Masuk mal memang tampak bergengsi, tapi pesonanya kerap membuat orang mudah lupa memilah mana yang perlu dibeli atau dikonsumsi dan mana pula yang mesti dipertimbangkan kembali.

“Pembangunan pusat perbelanjaan moderen memang dibutuhkan karena pasarnya memungkinkan. Tapi perekonomian rakyat juga harus tumbuh, sehingga perlu strategi proteksi yang elegan. Semua pelaku usaha sama-sama punya hak untuk berkembang, namun tak boleh saling mematikan,” ujar Jokowi, suatu ketika.

Begitulah, terbukti kemudian, pasar tradisional tak begitu saja ditinggalkan masyarakat, meski pusat-pusat perbelanjaan moderen terus tumbuh signifikan. Satu-satunya ancaman yang merisaukannya, adalah menjamurnya minimarket waralaba yang membangun usaha di tengah-tengah permukiman padat penduduk, yang menggerogoti warung-warung kelontong milik perorangan.

Ia tak kuasa menghentikan bidang usaha yang ijinnya telanjur diberikan pemerintahan periode sebelum dirinya. “Saya bisa di-PTUN-kan kalau membatalkan ijin usaha mereka,” ujarnya.

Demi keindahan kota, ia pun menata pedagang kakilima. Dibuatlah shelter-shelter usaha dengan jaminan tingkat kenyamanan lebih dari sebelumnya, supaya tak berontak saat mereka harus memindahkan lokasi usaha. Pedagang tak perlu dibebani biaya, supaya tidak merasa dianiaya. Bila perlu, proses pemindahan juga dibantu, entah berupa subsidi tunai, maupun disiapkan semua sarana pengangkutannya. Promosi zona usaha, pun dilakukan untuk merangsang orang agar datang, dengan biaya ditanggung pemerintah kota. Fair.

Maka, kini bisa kita lihat wajah kota yang tak semrawut seperti masa-masa sebelumnya. Kebersihan tampak di mana-mana, sehingga sedap dipandang mata. Uniknya, ia melakukan itu bukan untuk mengejar penghargaan atau piala.

“Banyak penghargaan yang bisa diminta,” katanya, “tapi ada imbalannya. Dan, saya tak mau membeli piala atau penghargaan dari lembaga Negara, apalagi untuk sebuah kebijakan yang memang sudah seharusnya saya jalankan.”

Jokowi sangat rasional. Cara berpikirnya khas, selalu berhitung untung-rugi. Bedanya, ia tak mengejar laba demi penumpukan harta sebagai bagian dari penyelenggara negara.  Maka, tak kaget ketika saya mendengar kabar, ia menjual sebagian aset usaha miliknya, demi ongkos sosial-politik yang (tak seharusnya) ditanggungnya.

Politik memang kotor, tapi ia enggan ternoda oleh karena posisinya yang memungkinkan segalanya. Saya rasa, tak ada alasan bagi warga Kota Solo atau Surakarta untuk tak memilihnya kembali. Banyak potensi investasi yang sudah selesai dijajaki, tinggal menunggu realisasi. Dampaknya, lagi-lagi pada pemerataan kue ekonomi.

Sebuah kompleks konvensi dan eksibisi yang diperlukan untuk memajang produk-produk industri (moderen maupun tradisional) sudah dinanti segera berdiri. Kesempatan usaha rakyat di sekitar lokasi tadi, tak mungkin dihindari, sebab efek berantai pasti terjadi secara alami, seturut prinsip ekonomi: adanya penawaran karena muncul permintaan.

Ijin prinsip pendirian rumah sakit bertaraf internasional, kata Pak Jokowi, pun sudah diberikan kepada investor. Lokasinya, pun di kawasan yang selama ini terkesan terabaikan dan tertinggal dari pembangunan. Bila terealisasi, kelak, keberadaan rumah sakit itu juga membuat perekonomian warga sekitar lokasi ikut terdongkrak.

Bukan lantaran harga tanah yang jadi melonjak, namun –lagi-lagi multiplier effects, berupa kesempatan berusaha bagi warganya, dengan berjualan makanan atau kebutuhan lain sebagai contohnya. Kesempatan kerja juga kian terbuka, sehingga menurunkan jumlah pengangguran dan penduduk miskin di wilayahnya.

“Saya memang membatasi lokasi usaha di tengah kota. Warga yang tinggal di pinggiran kota tak boleh tertinggal kualitas hidupnya lantaran semua terkonsentrasi di kawasan-kawasan tertentu saja. Dalam hal begini, saya bersedia dikatakan keras kepala: pilih bekerja sama, atau tidak sama sekali!” kata Jokowi.