Dongeng Tino, Produksi Film Dokumenter

tino_1Kenal Tino Saroengalo adalah keberuntungan tersendiri. Adalah teman kuliah bernama Gunawan Rahardja, yang memperkenalkan saya kepada tokoh perfilman Indonesia yang hebat itu. Sosok yang asik diajak ngobrol, juga teman bertanya yang baik untuk beragam hal. Mau sosial, budaya, hingga politik, dia sangat ‘melek’. Serba asik pokoknya…

Saya ingin memulai cerita tentang Tino melalui buku terbarunya: DOKUMENTER, Dongeng Produksi Film (Asing) di Indonesia dari Sudut Pandang Manajer Produksi. Asli, buku itu sangat bernilai manfaat luar biasa bagi siapa saja. Mulai dari awam, peminat dan pelaku film, hingga pejabat pemerintah, dari level terendah hingga pusat.

Tak ada niat lebay di sini. Tapi memang saya sungguh tersentak usai menuntaskan baca buku terbitan FFTV-IKJ Press, Jakarta (2015) itu. Orang awam seperti saya seperti diingatkan, betapa pelaku produksi film dokumenter, secara tidak kita sadari, merupakan salah satu ujung tombak ‘promosi’ wilayah dalam arti yang sangat luas. Mereka adalah public relations officer andal, namun tanpa embel-embel status/jabatan profesional.

Dari Dongeng Produksi Film (selanjutnya akan saya sebut demikian), saya kian paham betapa sebuah produksi film dokumenter merupakan pekerjaan rumit dan kompleks. Penangkapan dua orang pembuat film dokumenter di Selat Malaka oleh TNI AL baru-baru ini, menurut hemat saya, pasti disebabkan oleh kegagalan awal melakukan riset. Terhadap peristiwa penangkapan dua kontributor National Geographic itu, kita bisa nyimak penuturan Tino di halaman 27, 33, atau di bab khusus Apakah Pemerintah Republik Indonesia Siap? (hal 147-152).

Menurut Tino, persepsi aparatur negara terhadap pembuat film dokumenter masih sama seperti halnya pada wartawan asing. Film dianggap alat propaganda, wartawan adalah mata-mata. Sehingga, ijin syuting film dokumenter oleh kru asing harus mendapat restu dari jejaring intelijen nasional lintas departemen. Apalagi, mereka sudah sangat terlatih dalam pengawasan terhadap orang asing sejak jaman Orde Baru!

Soal kultur birokrasi, tentang persepsi aparat terhadap kerja produksi film dokumenter dan sebagainya, adalah beberapa hal pokok yang harus dikenali pekerja film dokumenter, terutama sebagai seorang fixer atau manajer produksi. Dan, untuk contoh Indonesia, Tino adalah satu dari sedikit orang yang mumpuni kapasitas dan kredibilitasnya. Setidaknya, itu yang saya ketahui dari cerita sejumlah orang, baik teman maupun kenalan. Continue reading

Indonesia Tanah Surga

Halloo apa kabar….bila  berkesempatan (harus) nonton film  TANAH SURGA…KATANYA utk membangkitkan  rasa nasionalisme kita…..

Hampir lupa saya menunaikan janji hati untuk menonton film itu. Pesan pendek dari Herwin Novianto yang dikirim pada 17 Agustus 2012 pukul 10.59 WIB itu, memang sengaja tidak saya jawab. Rencananya, saya akan menjawab setelah selesai membuat resensi atas film itu yang saya yakini menarik itu.

Dan, ternyata benar. Film Tanah Surga… Katanya benar-benar mengaduk-aduk emosi, rasa nasionalisme saya (kita) sebagai Bangsa Indonesia. Anak-anak sekolah di perbatasan Kalimantan Barat dengan Entikong, Malaysia itu, tak kenal lagu Indonesia Raya. Mereka lebih fasih lagu Kolam Susu-nya Koes Plus yang didengarnya dari siara radio. Keseharian penduduk di sana, pun lebih menghargai mata uang Ringgit dibanding Rupiah.

Asal tahu saja, meski itu film fiksi, namun sebagiannya adalah fakta. Kenyataannya, mereka tak ‘menghargai’ Rupiah dan tak bisa menyanyikan lagi Indonesia Raya. Beruntung saya bisa menggali sebagian cerita tentang proses pembuatan film tersebut, dari co-director-nya, teman kuliah saya yang bernama Gunawan Raharja.

 

***

Singkat cerita, film itu berkisah tentang kehidupan sebuah desa terpencil, yang dikeliling rawa dan sungai. Adalah keluarga Hasyim (diperankan Fuad Idris), yang tinggal bersama dua cucunya, kakak beradik Salina (Tissa Biani Azzahra) dan Salman (Aji Santosa). Sedang Harris (Ence Bagus), ayah Salina-Salman, memilih menetap di wilayah Malaysia dan mengawini penduduk setempat agar mudah berdagang, mengumpulkan uang.

Di desa itu hanya ada satu sekolah dasar dengan satu guru, Astuti (Astri Nurdin) dan, untungnya ada seorang dokter dropping pemerintah yang datang dari Bandung, bernama Anwar (Ringgo Agus Rahman). Sang dokter harus menggantikan tugas mengajar jika Astuti pergi ke kota, mengambil gaji. Sang dokter pun harus bisa mengobati hewan yang sakit manakala dibutuhkan oleh penduduk setempat.

Konfliknya berserakan di mana-mana. Dari Hasyim, veteran perang Operasi Dwikora yang mencintai Indonesia dalam keadaan apapun jua, hingga sang anak yang ingin membawa cucu-cucunya hijrah ke tanah harapan, di Malaysia. Juga, kecintaan Salman kepada sang kakek, yang tak mau mengikuti adiknya hijrah bersama sang ayah ke ‘negeri surga’, bahkan rela meninggalkan bangku sekolah untuk mengumpulkan duit 400 Ringgit demi biaya pengobatan sang kakek.

Transaksi barter sarung dengan bendera merah-putih antara Salman dengan pedagang Malaysia (Foto: Blontank Poer)

Ketika Salman mengais rejeki dengan menjadi buruh menjualkan produk-produk kerajinan warga sekitar desa ke wilayah Malaysia yang bertetangga, misalnya, ia marah ketika menjumpai bendera merah-putih jadi alas dagangan di pasar (Malaysia). Padahal, Salman juga baru bisa menggambar bendera Indonesia setelah diajari Bu Guru Astuti yang datang dari Pontianak. Ia hanya ingat nasihat sang kakek, veteran perang konfrontasi Malaysia-nya Soekarno, agar mencintai Indonesia, dalam situasi apapun juga.

Dari Ringgit demi Ringgit yang dikumpulkan dengan susah payah untuk biaya pengobatan sang kakek, Salman sempat menyisihkan untuk membeli dua sarung. Satu untuk sang kakek yang selalu shalat dengan membalut kaki dengan sprei, dan satunya lagi untuk ditukarnya dengan bendera sangsaka, yang di pasar Malaysia digunakan untuk alas dagangan.

***

Secara visual, apa yang disajikan Herwin Novianto dan kawan-kawan tidaklah gambaran negeri yang indah seperti pada Laskar Pelangi. Pada Tanah Surga… Katanya, kita justru disodori fakta-fakta sosial, budaya dan lingkungan seperti film-film dokumenter. Anggi Frisca sebagai director of photography yang masih muda, sanggup menahan godaan untuk tidak terjebak royal menyajikan gambar, meski kekuatannya menentukan angle dan pilihan setting lokasi cukup menjanjikan. 

Padahal, lingkungan lokasi syuting Tanah Surga… Katanya sudah sangat dikenalinya, lantaran ia pernah membuat film dokumenter di sana. Di film itu, Anggi Frisca justru terbilang sukses menggabungkan pendekatan dokumenter yang serius dengan film cerita yang kerap dituntut untuk kompromi dengan selera penonton.

***

Tanah Surga… Katanya, film kedua Herwin, setelah Jagad X-Code, bisa disebut kado ulang tahun  ke-67 Republik Indonesia. Tanah Surga… Katanya merupakan film tragi-komedi yang mengingatkan betapa Pemerintah di Jakarta masih lalai menjalankan mandat konstitusi, bukan hanya untuk menyejahterakan rakyatnya, namun juga untuk menjaga eksistensi kebangsaan dalam bingkai negara kesatuan.

Kegembiraan Salman, kebanggan kita sebagai bangsa (Foto: Blontank Poer)

Selain kita, film ini sejatinya lebih pantas ditonton oleh para penyelenggara negara, menteri hingga presiden, para gubernur, bupati dan sebagainya. Juga menarik dijadikan bekal bagi legislator sebelum terbang jauh ke Brazil, Australia atau negara-negara lainnya, hanya untuk studi banding, sehingga di sana, mereka punya bekal untuk bertanya di sela-sela wisata belanjanya.

Film itu juga mengingatkan saya akan Pacitan, kota kelahiran Pak Susilo Bambang Yudhoyono, yang belum lama ini saya datangi. Jika melihat alangkah ndeso-nya Pacitan yang masih di Pulau Jawa, maka saya jadi paham betapa buruknya perhatian pemerintah pusat kepada warga dan wilayah-wilayah pedalaman, dan perbatasan.

Film bermutu yang dikemas secara jenaka untuk semua umur itu, menurut saya juga wajib ditonton oleh Menteri Percepatan Daerah Tertinggal dan staf-stafnya, supaya tak keliru membuat kebijakan. Syukur Presiden SBY pun mau menontonnya.

Yang jelas, adegan-adegannya cukup natural, dengan kemampuan akting pemain yang sepadan dan merata membuat film ini enak ditonton, mudah dinikmati, banyak adegan yang membikin kita tertawa, meski perih di dada. Tontonlah sendiri, biar saya tak terbukti ngibul. Sebanyak 90 kopi film telah beredar sehingga bisa ditonton secara serempak oleh masyarakat di banyak kota di Indonesia.

Semoga, dari film itu kita juga makin tahu, apakah Indonesia masih merupakan tanah surga seperti diceritakan Koes Plus atau surga yang (masih) katanya, hingga 67 tahun merdeka.

Ambilkan Bulan dan Dua Kata

Buru-buru berkicau di Twitter lantaran kagum dengan film Ambilkan Bulan-nya Ifa Isfansyah, saya jadi keliru, mengira skenario film yang dibikin Jujur Prananto ‘modifikasi’ atas cerpen Pelajaran Mengarang-nya Seno Gumira Ajidarma. Hampir saja saya melakukan kesalahan fatal. (Terima kasih kepada @itikkecil yang nyamber).

Gambar dari 21cineplex.comKebetulan, kedua penulis itu sama-sama nakal dalam mengangkat tema cerita. Saya mengagumi mereka yang sama-sama mampu menyuguhkan cerita cerdas, liar, dan menggelitik kita pada sebuah perenungan terhadap apa yang terjadi di sekitar kehidupan kita. Setara dengan rasa kagum saya terhadap Utuy Tatang Sontani.

Kembali ke Ambilkan Bulan. Ini film yang nyaris sempurna, menurut saya. Secara sinematografi, saya tak mau banyak cakap, sebab tak paham ilmu sinematografi. Tahunya, hasilnya top-markotop: enak ditonton, sangat menghibur sekaligus mendidik bagi anak-anak dan tidak muter-muter. Alurnya enak diikuti.

Satu hal lagi, Ifa cukup rapi dan piawai menempatkan lukisan dan gambar-gambar kartun sebagai ‘jembatan’ untuk menyingkat jalan penceritaan, sehingga penonton terhindar dari rasa bosan. Selain itu, jika peristiwa meninggalnya Joko (diperankan Agus Kuncoro), ayah Amelia (Lana Nitibaskara) dimasukkan sebagai cerita, salah-salah justru membebani penonton karena ikut larut pada kesedihan Amelia yang kehilangan papanya.

Ambilkan Bulan, bagi saya, menjadi hadiah bagi jagad perfilman Indonesia. Ada banyak muatan mendidik di dalamnya, namun tanpa pretensi mendikte atau menjejalkan pada kehidupan bocah. Mencintai alam cukup digambarkan dengan indahnya lansekap hutan dan lereng Gunung Lawu, tempat ‘anak kota’ terpesona. Amelia yang hidup dikungkung tembok apartemen dan gedung sekolah, yang hanya bisa bersosialisasi dengan dunia luar melalui Internet, berusaha mencari bukti nyata dari imajinasi dan mimpi-mimpinya tentang pesona alam Nusantara, dan itu terjawab lewat komunikasi dengan Ambar, sepupunya.

‘Dunia kini’ orang kota, bertemu dengan ‘dunia kini’ orang ‘udik’ dengan jembatan berupa produk kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga memungkinkan yang imajiner menjadi nyata. Lihatlah sopir truk yang menggunakan telepon seluler produk terkini, yang tak seberapa timpang dengan fungsi multimedia seperti gadget milik Amelia dan ibunya, Ratna (Astri Nurdin).

Problem Ratna yang membesarkan Amelia sendirian tak ditonjolkan, sehingga tidak menjual kesedihan. Begitu pula ketika ada gugatan Amelia lantaran ibunya tak pernah membawa anaknya kepada kakek-neneknya lantaran kesibukan, cukup distilisasi dengan permakluman dan permaafan sedemikian rupa. Sangat halus, tapi jleb juga efeknya bagi pemirsanya.

Sumber gambar: filmambilkanbulan.com

Pendidikan kecintaan terhadap alam dan lingkungan, pun demikian halus disampaikan, seolah-olah hanya menjadi terkesan selintas saja. Padahal, potret kemunafikan nyata-nyata menohok situasi riil Indonesia kontemporer, seperti digambarkan melalui sosok Pak Selo (Marwoto), yang ternyata menjadi dalang pencurian kayu hutan padahal statusnya penanggung jawab keamanan desa, yang juga merupakan orang kepercayaan Pak Lurah.

 Proses penyuntingan gambar yang dipadukan dengan teknologi tiga dimensi, sungguh luar biasa. Semula, saya mengira itu kupu-kupu sungguhan, sebab konon, tak jauh dari lokasi syuting, di antara Candi Sukuh dan Grojogan Sewu, Tawangmangu terdapat hutan aneka bunga, yang dalam imajinasi saya, pun pasti banyak kupu-kupunya. Ternyata, itu olahan di sebuah laboratorium post production di kawasan Kemang, Jakarta.

Sebagai orang Klaten yang lama tinggal di Solo dan merasa mengenal kawasan lereng Gunung Lawu, saya bangga terhadap film Ambilkan Bulan yang lokasi syutingnya di sekitar kebun teh Kemuning, mampu dihadirkan secara menakjubkan. Saya yakin, banyak orang akan penasaran datang, sebagaimana dulu orang berbondong-bondong ke Belitong setelah film Laskar Pelangi meledak di pasaran. Saya berharap, Ambilkan Bulan mampu memberi imbas pada petumbuhan dunia wisata di Solo dan sekitarnya.

Lagu-lagu gubahan almarhum A.T. Mahmud, pun saya yakin akan memacu banyak orang untuk menoleh kembali ke dunia anak-anak. Gambaran sosok Amelia, seorang bocah yang mampu menggunakan sarana dan prasarana komunikasi secara positif dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya, tentu saja akan meringankan beban pemerintah dan aktivis/pemerhati teknologi dalam menangkal dampak buruk penggunaan perangkat komunikasi. Sekaligus, mengingatkan kepada para orangtua, agar tak abai terhadap penggunaan teknologi komunikasi bagi anak-anak.

Sebab dunia anak-anak adalah dunia bermain dan happy-happy, maka tak salah Ifa Isfansyah menghadirkan aneka permainan anak-anak di desa, yang tak hanya memberi dampak pesona bagi orang kota, tapi justru mengingatkan kita akan kenyataan, bahhwa selama ini para orang tua terlalu asyik menjejali pengalaman masa kecil anak-anak mereka dengan jenis-jenis permainan impor.

Jika di depan, saya menyebut film ini ‘nyaris’ sempurna, itu hanya lantaran dua kata. Bagi orang yang berlatar belakang kultur non-Jawa, mungkin tak seberapa mengganggu. Tapi bagi orang Solo dan sekitarnya, kata amèh dan nggarai jelas mengganjal. Amèh (Jw. akan) dan nggarai (Jw. menyebabkan) merupakan kosakata yang biasa dilisankan orang Jawa di Semarang.

Amèh bagi orang Solo dan sekitarnya, termasuk Karanganyar seperti jelas terlihat di gapura desa, selalu diucapkan arep. Dan nggarai berpadanan dengan marakké atau marai, yang sama-sama dipakai dalam percakapan sehari-hari. Meskipun saya memaklumi, sebab saya menduga Ifa sama saja dengan kebanyakan orang Solo kini, sudah kesulitan untuk bertutur Jawa dengan dialek lokal yang pas, tapi untuk karya film, saya menganggapnya sebagai cacat, meski masih bisa, sekali lagi, dimaklumi.

Selebihnya, saya mengajak siapa saja agar menontonnya, beramai-ramai bersama keluarga. Tak cukup menyaksikan di bioskop, bahkan kelak, jika habis masa edar dan dipindah ke media digital seperti DVD dan sejenisnya, film ini layak dikoleksi. Selain ada karya-karya AT Mahmud yang wajib dilestarikan, hampir keseluruhan materi film memiliki nilai kesejarahan, yang menjembatani kemarin dan esok.

Salah kicauan, rancu Seno Gumira Ajidarma dengan Jujur Prananto

Akting para pemainnya, jujur saja, menjadi tak penting dibahas, sebab bagi saya, terasa begitu natural, tak tampak dibuat-buat. Bahkan dialog-dialog Kuncung (Bramantyo Suryo Kusumo) dan teman-teman sepermainannya yang polos, medok Jawa-nya, serta akting mereka yang benar-benar seperti sedang menikmati permainan sehari-hari, kian memberi bobot bagusnya film ini.

Kemampuan menghayati peran sebagai Mbah Gondrong aliah Ki Jogowono (jogo=jaga dan wono=hutan) oleh Mas Landung Simatupang, jelas tak bisa dibantah lagi. Pun Marwoto, menjadikan adegan-adegan di dalam film ini enak betul dinikmati.

Salut untuk Ifa Isfansyah, dan terima kasih kepada @itikkecil yang sudah mengingatkan kekeliruan saya.

Jalan-Tutup-Surga Soegija

Selain karena Garin Nugroho yang sudah saya kenal, saya merasa butuh tahu sosok Soegijapranata, sehingga bersama istri, saya menyempatkan nonton film Soegija. Selama ini, saya hanya mengenal uskup pribumi pertama di Indonesia, yang namanya diabadikan sebagai nama Universitas Katholik di Semarang. Selain juga penasaran dengan kemampuan akting Nirwan Dewanto, kritikus sastra yang saya kenali sebagai sosok serius itu.

Gambar diambil dari infobuku.net

Saya selalu terpesona dengan kwalitas gambar ‘cantik’ pada film-film Garin. Juga, dikejar menuntaskan rasa penasaran terhadap duet Armantono-Garin menyusun skenario, seperti pada beberapa film karya alumnus SMA Loyola Semarang itu.

Dan benar, secara gambar, baik sudut dan lebar lensa untuk proses pengambilan, pilihan lokasi, benar-benar semuanya indah, seperti syair lagu anak Kebunku. Detilnya kena, sehingga benar-benar sanggup menghadirkan suasana awal 1940-an, tanpa harus menghadirkan set dan properti buatan. Dan, soal gambar, kita pasti maklum sebab pengarah fotografinya adalah Teoh Gay Hian, yang selama ini karya-karya iklan produk-produk kecantikan hampir setiap saat ditayangkan televisi.

Secara umum, saya memperoleh gambaran mengenai Soegijapranata (diperankan oleh Nirwan Dewanto) sebagai sosok uskup yang rendah hati, ajur ajèr, menyatu dengan rakyat kebanyakan. Dan memang seperti itulah seharusnya bagi seorang rohaniwan, yang harus sanggup merasakan setiap desah dan tarikan napas umat.

Soal gaya bercanda pastur dengan orang-orang dekatnya (seperti Pak Min, diperankan oleh Butet Kartaredjasa), bagi saya, itu lumrah-lumrah saja. Apalagi bagi seorang pastur dari ordo Sarekat Jesuit, yang memang biasa menggeluti masalah-masalah sosial-budaya, menyatu dengan orang kebanyakan, apalagi yang marginal.

Guyonan Soegija melarang Pak Min menembang di dekat telinganya ketika sedang bercukur, merupakan isyarat akan kebiasaan patur-pastur Jesuit mendengar irama dan tembang berkwalitas bagus, bukan yang seadanya seperti kemampuan Pak Min.

Secara keseluruhan, akting Nirwan tak seberapa bagus. Di awal adegan, Garin kecolongan menyunting, sebab Nirwan tampak kurang luwes memandang kamera, ketika ia sedang bersepeda menyusuri jalan berbatu di sebuah desa. Dialognya, pun terasa kurang nJawani. Ruh atau rasa bahasa Jawa-nya agak luput.

Soal rasa bahasa Jawa yang terasa mengganggu, misalnya, ditunjukkan oleh Olga Lidya ketika melafalkan kata tutup sebagai totop (seharusnya: tu-top, seperti o pada toko). Tutup yang dilafalkan Olga adalah dialek Jawa Timuran, bukan Jawa Tengahan. Selain itu, pelafalan kata surga dalam nyanyian berbahasa Jawa melalui koor ibu-ibu di tengah perkampungan, terasa dipaksakan untuk diindonesiakan, sehingga kurang pas. Dalam bahasa Jawa, lazimnya swarga bukan surga.

Sebagai karya film berlatar perjuangan dengan nuansa Jawa yang hendak dibuat kental, saya kira Garin kecolongan dalam satu hal ini. Satu lagi yang membuat film ini terasa kian kecolongan adalah adanya cat putih sebagai pembatas lajur dua arah sebuah jalan aspal yang dilalui komandan pasukan Belanda saat memboncengkan wartawan Belanda menyusuri jalan di pegunungan. Sepanjang yang saya pahami (bisa jadi salah), pada masa itu belum lazim adanya marka jalan, kendati dunia transportasi Belanda lebih maju dibanding Indonesia atau  Hindia Belanda.

Soal meramu adegan romantis, saya selalu acung jempol kepada Garin. Dia jagoan soal beginian, termasuk dalam memilih wajah-wajah ‘arkais’ sebagai bumbu sebuah menu yang disajikan untuk publik yang random.

Sebagai film bernuansa perjuangan kemerdekaan dari sisi peran gereja dan Katholik, yang diwakili Soegija, saya anggap cukup fair dan memadai. Kalaupun harus menyebut kekurangan, adalah representasi tokoh-tokoh nasionalis dari kelompok lain, seperti kaum muslim.

Bukan hendak mengada-ada saya berpendapat demikian. Seorang Jesuit yang saya pahami, selalu membangun relasi sosial yang baik dengan berbagai macam kelompok, apalagi dalam konteks menghadapi invasi dari seberang, Belanda dan Jepang. Bisa jadi, representasi ‘yang lain’ bisa lewat warga kampung di mana Soegijapranata berinteraksi, dan sebagainya, jika seandainya tak ada tokoh Islam ikut membangun barisan perjuangan. Atau, bisa pula lewat interaksi antarbarisan pemuda, yang ketika itu ada Hisbul Wathan dan organisasi-organisasi kepanduan lainnya.

Jujur, ini bukan bergenit-genit. Tapi justru supaya tak mereduksi peran Soegijapranata sebagai sosok nasionalis pejuang, yang terbuka dan membangun interaksi yang luas. Dan itu sesuai dengan apa yang digelisahkan, seperti gambaran kerap dituliskannya di kertas bergaris.

Padahal, kehadiran Pak Besut sebagai jurnalis sudah kuat mengantar Soegija sebagai pahlawan nasional, yang turut mengambil peran dalan perjuangan memerdekakan Indonesia dari penjajahan.

Srinthil Dudu Lonthé

Tumrap wong kang cupet nalaré, Srinthil kang dadi rol ana filem Sang Penari, bisa dianggep lan dipadhakaké wong nakal, lènjèh lan sapanunggalané. Semono uga tumrap wong kan semuci suci, bisa-bisa bakal nganggep Srinthil wis nalisir saka ajaran agama. Kamangka, Srinthil dudu lèdhèk geleman, utawa wong kang ora bisa ditebas wadag lan atiné kanthi ijol bandha donya.

Dudu. Srinthil dudu képlé utawa tlembuk utawa kutisan kang nyéwakaké badané kanggo sapa waé. Dhèwèké manungsa lumrah, wanodya kang mung sadrema netepi kuwajibané, nindakaké laku minangka sarana gawé kabecikan. Tiwasé wong akèh ing désané jalaran mangan témpé bongkrèk dadi jalaran ngganepi lakuné. Sanajan dudu salahé wong tuwané, nanging Srinthil gelem ngakoni luput pandakwané wong sadésa, banjur rila nglakoni ukuman kang sejatiné ora adil, kanggo atur piwales lan nyuwargakaké wong tuwané.

Srinthil èstu dadi wanita kang nrima, gelem nglakoni urip sadrema nyunggi perkarané wong sadésa, sing rumangsa nembé nampa pacoban wujud pagebluk, panandang rekasa minangka pacoban saka Sang Hyang Maha Kawasa. Srinthil ing Dhukuh Paruk mung minangka utusané Gusti Kang Murbèng Dumadi, kanggo ngluwari abot sanggané wong karang padésan, kang urip mataun-taun ora naté bisa matun.

Prasasat bisa tinanduran pari gaga, lemah kang nela, mlethèk amba-amba kaya dadi pepesthi bakal sinirik déning sakabèhing tanduran palawija. Paribasan, wit jagung lan pohung utawa bodin waé suthik urip kaya déné alesan salah mangsa, kamangka wis dadi pepesthi yèn tanduran kaya mangkono uripé pancèn trep ing mangsa ketiga.

Nggatèkaké laku uripé Srinthil ing filem Sang Penari, temen krasa banget anané wong kalap rebut kuwasa. Swasana krasa tintrim sawisé Gestok, nalika ana pirang-pirang jéndral diperjaya, olèh pidana tanpa cetha underané perkara, nganti tumekané wanci oncating nyawa.

Srinthil lan rombongan lèdhèk barangan, lènggèr kang mbarang saparan-paran, ditunggangi kanggo sarana nawakaké idhéologi utawa keyakinan politik. Dimulyakaké kanthi bayaran mentes lan pantes, dicukupi kanthi gentha swara supaya anané lènggèran lan gendhing calung kang giyak bisa keprungu saka kadohan, banjur padha gembruduk nekani pasamuwan. Kamangka, sawisé wong akèh padha nglumpuk, banjur dibujuk kanthi sesorah kang isiné ajak-ajak dandan-dandana kahanan kang dianggep wis owah, kamangka tundhané mung ngajak congkrah.

Sanajan ora cetha wéla-wéla, filem kang dianggit déning Ifa Isfansyah pancèn bisa dadi kaca benggala tumrapé sapa waé. Kahanan saiki kang sangsaya krasa ora cetha, bisa nuwuhaké rasa cilakané wong sabangsa, sanuswantara. Angèlé golèk pangan wong saiki, paribasan kaya rekasané warga Dhukuh Paruk, kang urip rekasa kanthi turun-tumurun.

Anané téroris, paribasané, bisa sinebut dadi cara cupeté wong kang ora kuwat ngadhepi kahanan, banjur nganggep rekasa kaya déné panandang. Banjur nesu, ngamuk marang panguwasa kanthi cara kang nyilakani liyan. Nèng endi waé papan, sing jenengé wong wong rekasa bisa dianggep lumrah menawa seneng ribut golèk perkara.

Srinthil jaman saiki béda banget kalawan Srinthil saka Dhukuh Paruk kaya kang sinerat déning Kang Ahmad Tohari saka Tinggarjaya, Cilacap iku. Saiki akèh Srinhtil-Srinthil anyar, kang lair kanthi wewujudan wong kalah, sing sejatiné mung butuh mamah nanging milih obah kanthi cara mlumah, jalaran iku dianggep paling gampang. Modhal pupur, celak lan sayak, paribasané, bisa cepet kanggo ngebaki cèlèngan. Tur manèh, Srinthil saiki ora mung wanodya, ananging uga para priya.

Cekaké, akèh wong saiki kang banjur nganut unèn-unèn, urip prasasat mung mampir nglonthé, tumindak nistha kanggo mulyakaké uripé ana ing donya. Wong-wong saiki, utamané politisi lan penggedhé, padha seneng ider, dodolan awak lan kapribadèné, kanthi cara colong jupuk, maling lan ngrampok darbèké liyan. Yèn perlu, macak klimis banjur lamis supaya carané mblithuk lan apus-apus katon alus.

Yèn mangkéné kahanané, sapa sejatiné sing luwih pantes sinebut lonthé?