Kicauan tentang Garuda

Andai Alvin Lie tidak berkicau, mungkin Garuda Indonesia tidak jadi bahan perbincangan, sore ini. Ada yang memaki, memuji, ada pula yang mencoba kritis dan mengambil jarak pada pokok persoalan: seorang Wakil Ketua DPR meminta Garuda yang telanjur terbang berbalik arah, demi menjemput politisi yang akan buka bersama Presiden di Cikeas.

Awalnya, sekira pukul 15.00, Alvin mengabarkan via Twitter:

GA239 SRG CGK siang ini airborne SRG normal dipaksa balik ke SRG olh KanPus GA krn ada pax yg hrs ke JKT dipanggil Pres.

Lalu, ramailah karena banyak yang terpancing untuk meneruskan pesan itu.

Pesan itu menyita perhatian sebab tak lazim sebuah penerbangan harus kembali mendarat di bandara keberangkatan, kecuali ada masalah teknis pesawat, gangguan cuaca atau hal-hal darurat lainnya. Andai menyangkut orang-perorang untuk ‘dijemput’ kembali, maka secara aturan, hanyalah mereka yang masuk kategori VVIP alias orang yang sangaaaat penting: seperti presiden, wakil presiden atau menteri.

Di dalam kicauannya, Alvin menyebut rekan separtainya, sebagai ‘pembajak’ yang mencoreng nama baik partainya karena arogansi dan penyalahgunaan kekuasaan. Maka, pesan itu menjadi tampak meyakinkan. Apalagi, Alvin menceritakan adanya permintaan kantor pusat Garuda Indonesia kepada pilot, bahkan hingga memberi petunjuk adanya pemakaian frekwensi khusus untuk itu.

Persoalan lantas ‘muter-muter’, menjadi pukulan balik kepada Alvin sang pekicau, sebab ia dianggap lebay, sebab pernyataannya menyiratkan seolah-olah pesawat berbalik arah menjemput Taufik Kurniawan, legislator yang berkedudukan sebagai Wakil Ketua DPR. Hingga ramai hampir dua jam, Alvin tak kunjung mengonfirmasi perihal pernyataannya.

Dan, nasihat bijak lalu muncul: bahwa me-retweet tak boleh sembarangan. Perlu pengecekan silang seperti laiknya sebuah manajemen berita: cover both sides.

Bagi saya, se-lebay-lebay-nya Alvin, dia tak sembarangan melempar persoalan ke alam bebas semacam Twitter. Maka, saya menyebutnya sebagai ‘petunjuk awal’. Apalagi, beberapa kicauannya memberi gambaran cukup detil mengenai permintaan Taufik Kurniawan agar ‘dijemput kembali’ oleh GA-239 akibat keterlambatannya untuk check in.

Rupanya, pernyataan (petunjuk) Alvin terkonfirmasi. Vice President Corporate Communications PT Garuda Indonesia, menyatakan kepada detikcom sebagai berikut:

“GA 239 harus terbang pukul 12.50 dan check in sudah ditutup 30 menit sebelumnya. Pak Taufik meminta kita menunggu,” kata Vice President Corporate Communication Garuda Indonesia, Pujobroto.

Jadi, usaha untuk melakukan apa yang disebut Alvin Lie sebagai pembajakan sudah terjadi. Tentu, ini mengacu pada pernyataan resmi Garuda seperti dikutip detikcom.

Dan, citra Garuda Indonesia tidak luruh karena sang pilot memilih untuk tidak memenuhi permintaan atasannya agar mendarat kembali. Ia tahu, reputasi dan profesionalisme Garuda sebagai maskapai terbaik di Indonesia harus dijaga. Apalagi, Garuda Indonesia baru saja ‘pulih citranya’ setelah dilarang terbang ke Eropa akibat penilaian buruk dari otoritas penerbangan Eropa.

Lagi pula, bagaimana manajemen lalu lintas Bandara Soekarno-Hatta tak terganggu andai penerbangan terjadwal masih bisa dipengaruhi oleh keterlambatan yang bukan karena faktor-faktor alam dan keadaan darurat lainnya? Yang passti, perilaku Taufik Kurniawan tak boleh dicontoh. Tindakan asal retweet juga mesti diubah. Supaya tidak ada lagi perkara karena retweet rusak susu sebandara.

Tentu jangan lupa pula, bahwa berkicau pun perlu pertanggungjawaban. Akurasi menjadi penting, agar tak banyak orang tersesat. Apalagi orang-orang seperti saya, yang karena lemahnya iman, masih mudah jatuh benci dan marah kepada isyarat ketidakadilan.

Mas Alvin, kali ini sampeyan baik, menyampaikan ketegasan sikap, walau kepada teman separtai. Walau ada kekurangan, seperti kata teman-teman di twitterland, sampeyan tak meminta maaf ‘hanya’ karena  kronologi perkara tak sampeyan ceritakan secara detil ketika jagad maya jadi ramai, oleh sebab kicauan sampeyan.

Kalimat berikut sangat saya suka:

walau se partai jika salahgunakan kekuasaan harus tetap ditabrak. Bahkan hrs lebih keras. Memalukan partai sih

Catatan:

Buat teman-teman yang ketinggalan isu, silakan gunakan hastag #GA239 untuk menyimak perkara Garuda ini.

Silakan simak pula, keterlambatan penerbangan lantaran menunggu  Ibas, anak Presiden SBY, yang terlambat datang. Sayang berita ini tak menjelaskan tujuan penerbangan. (updated: 07082010 14:34)


http://www.detiknews.com/read/2010/09/05/153813/1435363/10/pesawat-garuda-ngaret-3-menit-akibat-ulah-taufik-kurniawan

Santri Belajar nge-Blog

Selasa (23/3) menjadi hari celaka buat saya. Diminta turut mem-provokasi blogging, sejatinya sungguh menyenangkan. Sayang, kali ini saya kesandung: ngajarin 100 guru (ustad) yang berasal dari seluruh perwakilan Pondok Modern Gontor, plus sejumlah pondok di Ponorogo. Soal salah kostum yang saya sengaja sejak mula, namun kikuk juga buntutnya. Apalagi, materinya cukup berat, seputar berinternet secara sehat dan etika di dunia maya.

El Nino, èlèk-èlèk ning nongol!

Ada beberapa pengalaman menarik yang bisa dipetik. Seorang ustad bercerita, akses internet sudah lama masuk di pondoknya. Hanya saja, masih sebatas kirim-terima surat elektronik (e-mail) plus baca-baca berita. Facebook masih ‘diharamkan’ sehingga diblok, agar tak bisa diakses.

Citra negatif, rupanya masih menempel di benak pengelola pondok atas media jejaring sosial yang satu ini. Tak bisa disalahkan, meski tak sepenuhnya bisa saya terima alasannya. Adanya sejumlah perempuan remaja yang ditipu sehingga terampas kehormatannya lantaran kurang hati-hati ber-Facebook dan maraknya pornografi yang disebarluaskan oleh sebagian orang, masih menjadi pertimbangan kebijakan demikian.

Teknologi bagai belati. Dua sisinya tak bisa saling ditiadakan. Bagi tentara di medan perang, belati menjadi penentu hidup-mati ketika peluru tak lagi tersisa di kotak magasin. Tapi bagi pencuri, ia akan menggunakan senjata itu untuk menakut-nakuti, bahkan membunuh siapapun yang memergoki aksi kriminal mereka.

Mau berlaku sebagai tentara atau kriminal, bisa situasional, meski tak jarang pula yang menjadikannya sebagai sikap. Cukup berbekal sedikit niat, seseorang bisa membuat kiamat atau mencatatkan manfaat.

Dalam kasus persebaran pornografi, misalnya, tak melulu dijumpai di website atau blog. Lewat mailing list atau surat elektronik, pun bisa disebarluaskan secara massal. Bahkan dalam waktu sekelebat, menembus batas ruang dan waktu. Komputer yang kasat mata dan teknologi internet yang ghoib, bisa menghadirkan fakta apa saja: teks, media dengar atau media pandang-dengar ke hadapan siapa saja. Dengan mengunduh lalu menyimpan berkasnya, ia bisa beredar sedemikian rupa.

Sudah diniati bohemian, tapi sempat ngeper juga ketika menjadi satu-satunya pembicara berkaos, sementara peserta rapi jali, bahkan tak sedikit yang berdasi...

Ketakutan akan penyalahgunaan informasi tentang seks misalnya, sejatinya bisa diantisipasi sedemikian rupa. Orang tua atau yang lebih dewasa tak cuma harus mengawasi penggunaan teknologi oleh yang lebih muda, atau kanak-kanak, namun sebaliknya harus memperkenalkannya sejak dini. Ketidaktahuan akibat kurang pengajaran justru memancing rasa ingin tahu. Dan, secara naluriah, seseorang akan  mencari jawaban terhadap berbagai hal yang dilarang. Kita tahu, salah satu ciri pokok manusia terdapat pada hasrat ingin tahunya.

Kembali pada persoalan santri nge-blog, peristiwa pelatihan di Gontor, kemarin, sungguh menggembirakan saya. Apalagi, dari 100 peserta, baru tujuh orang yang mengaku punya blog. Kegembiraan itu dipicu oleh spirit mereka, yakni ingin syi’ar atau berdakwah melalui media online. Tentu, dakwah tak bisa dimaknai sebatas soal-soal teks agama belaka. Mengabarkan kebaikan, berbagi ilmu pengetahuan dan saling tukar gagasan atau pengalaman merupakan bentuk syi’ar pula.

Kerja Mbah Google dan kerabatnya (sesama mesin pencari), misalnya, membutuhkan kata kunci-kata kunci yang diproduksi oleh narablog (blogger, pengguna media online). Semakin sedikit kata kunci kebaikan yang bisa ‘diingat’ Mbah Google, maka pada saat yang sama, informasi-informasi buruk, penuh mudharat, akan mendominasi.

Satu-satunya cara mengurangi angka kemunculan (probabilitas) kata kunci ‘jelek’, ya itu tadi, tergantung sejauhmana pertumbuhan jumlah narablog, dan dari mereka, seberapa banyak yang mau memproduksi hal-hal berbau ‘syi’ar’ tadi, agar Si Google tidak menyodorkan referensi tak baik yang dimilikinya.

Satu hal yang harus diingat, Mbah Google, Pakdhe Yahoo, Tante Altavista dan lain-lainnya, punya kesamaan tak terbantahkan: tak beragama, tak punya moralitas. Mereka adalah ‘sosok-sosok’ bebas nilai, seperti balita yang punya daya ingat namun belum punya kepekaan rasa dan kekuatan penalaran.

Ketika kita memasukkan kata kunci seperti Islam, ustad atau pesantren, di mesin pencari Google atau Yahoo! misalnya, bisa jadi yang disodorkan selalu informasi yang tak kita suka, yang menyesakkan dada karena si mesin selalu menyodorkan hasil pencarian pada Islam dan/atau muslim yang terafiliasi dengan Bom Bali, terorisme, dan cap-cap buruk lainnya.

Semoga kekurangan saya melahirkan hikmah bagi mereka, sehingga bisa menghasilkan blog yang jauh lebih baik dari yang saya punya

Asal tahu saja, mesin pencari selalu meng-indeks setiap kata kunci yang dicari siapapun, dan dari mana saja. Semakin sering diminta atau ditanyakan, semakin besar peluang sebuah tautan (link) ditempatkan di halaman awal dan posisi atas. Padahal, pemberitaan tentang teroris, misalnya, selalu diulang-ulang oleh banyak media, baik media massa yang meng-online­-kan isinya, maupun ‘penerbit-penerbit’ independen yang disebut blogger.

Relakah kita bila Mbah Google dan kerabatnya hanya mengingat sisi buruk dari agama kita? Jika jawaban kita ya, maka pilihannya hanya dua: tobat atau terpaksa masuk neraka. Selamanya!

(Selamat nge-blog, saudara-saudara. Silakan manfaatkan budi baik Republika dan Telkom yang menyelenggarakan pelatihan bertajuk Santri Indigo. Syi’ar merupakan kewajiban, karena itu, Gusti Allah menawarkan ganjaran)

*** Foto-foto dibuat oleh Dony Alfan

Berlayar di Music Room

Pada pagi di penghujung Pebruari, dua puluhan pemuda meriung di sebuah ruang bawah tanah. Suasana lengang saat kami berdatangan. Tak tampak sisa ratusan orang yang berjejalan pada malam sebelumnya, ketika peluh mengucur dari tubuh-tubuh mereka yang menikmati gemuruh musik yang menghentak ritmis, pada malam sebelumnya.

Desain oleh http://mursid.web.id

Music Room atau Musro, pagi itu tampak bersih. Teh dan kopi tersaji di atas menja bartender, ditemani aneka kue dan cemilan, yang tentu beda menu dengan malam Minggu. Begitulah, pagi hingga lewat tengah hari, para blogger Bengawan dan beberapa tamu dari Yogyakarta, Depok dan Jakarta turut meramaikan Berlayar di Bengawan bersama Margareta.

Musro yang selalu berpenerangan temaram, pagi itu terasa benderang. Margareta Astaman yang rela ‘diculik’ di tengah acara liburan keluarganya, datang dengan membawa sinar terang: berbagi pengalamannya yang sungguh kaya! Dua bukunya, Have a Sip of Margaritta yang terbit pertengahan tahun lalu, seolah menggenapi launching buku keduanya, Cruise on You yang diselenggarakan Bengawan dengan dukungan penuh The Sunan Hotel.

Sejatinya, novel fiksi Cruise on You yang ‘remaja banget’ sudah di-launching di Jakarta menandai Valentine’s Day sekaligus perayaan tahun Imlek. Novel perdana bercita rasa ciklit itu memang berkisah seputar dunia percintaan kaum muda. Hanya saja, pelajaran moralnya kental terasa, halus merasuki jiwa pembacanya.

Pada cara menggali ide cerita lalu mengembangkannya menjadi tulisan panjang itulah yang menjadi pokok bahasan. Sharing pengalaman, istilahnya. Sebab, dari seringnya mendengar pengalaman dari orang lain itulah, orang yang lain lagi bisa memperoleh motivasi. Mungkin bisa menggerakkan untuk turut menulis, namun setidaknya memberi ruang memperkaya wawasan. Tentang apa saja.

Pertemuan Bengawan dengan Margie, sapaan akrab Margareta, hari itu merupakan kali kedua, setelah pertengahan Desember lalu kami berbincang soal esai-esainya yang ditulis di blog-nya, lantas diterbitkan menjadi buku dengan judul Have a Sip of Margaritta. Semangat menulisnya sungguh luar biasa. Sikap hidupnya pun bisa dibaca dengan jelas lewat tulisan-tulisannya, sehingga menurut kami, Margie layak diajak berbagi.

Kita tahu, cukup banyak ide yang bisa kita ambil dari pengalaman sehari-hari. Tak perlu muluk-muluk, sebab, bahkan kita bisa memperolehnya dari keseharian kita di rumah: dari siaran televisi yang kita tonton, tentang ban sepeda yang kempes, banyaknya polisi tidur di gang-gang bahkan jalan umum. Hanya, banyak orang merasa kesulitan ketika hendak menceritakan pengalaman dan pandangannya melalui sebuah tulisan.

Banyak orang enggan menulis karena takut atau malu dikatakan jelek atau tak bagus. Mereka lupa, membuat tulisan bagus juga perlu latihan, dan harus dikerjakan berulang-ulang. Dari tanggapan orang lainlah, seseorang kian paham di mana letak kekurangan dan kelebihannya. Seperti saat ketemu orang lain yang berbeda bahasa dan tak saling mengerti, sebuah proses komunikasi bisa berlangsung efektif. Dengan bahasa Tarzan alias sepatah dua kata, selebihnya diperkuat dengan bahasa tubuh, aba-aba dan isyarat.

Blogger dari berbagai kota sedang kumpul-kumpul di Wonosobo dalam rangka Wisata Blogger, memeriahkan HUT Wonosobo, Juli 2009

Begitu juga sebuah gagasan melalui tulisan. Banyak orang mengabaikan susunan kalimat atau tata bahasa. Ide atau gagasan yang menarik cukup menggerakkan orang untuk maklum, mengerti dan memahami.

Beruntung, orang-orang jaman kini sudah mengalami masa serba enak dan mudah. Untuk berbagi pengalaman atau gagasan, tersedia banyak pilihan media, termasuk blog. Gratis dan mudah. Yang dibutuhkan cuma biaya akses internet, dan…. tentu saja: kemauan! Tak lebih. Padahal, hingga sepuluh tahun silam, untuk berbagi pengalaman saja tak gampang, kecuali bertatap muka atau telpon-telponan. Menulis di koran? Jangan harap, itu masih dimonopoli kaum ‘bernama’, sebab tak semua orang beruntung gagasannya akan lolos seleksi dewan redaksi.

Kini, dengan kemajuan teknologi, kita bisa memperoleh apa saja di blog. Tak hanya teman, tapi juga aneka macam pengetahuan. Terlalu banyak orang berbagi pengalaman melalui blog-blog pribadi. Ada yang bercerita soal gempa, resep masakan, pamer foto, tutorial belajar-mengajar atau karya sastra, dan sebagainya.

Tanpa kemurahan teknologi, mungkin banyak tak ada yang mengenal ide-ide bernas seorang Margie, perempuan muda peranakan Cina, yang dulu dianggap ‘bukan siapa-siapa’. Kita bisa juga mengenal Tongki, seorang pelajar SMA keturunan Jawa di Jakarta, yang fasih menggunakan bahasa ibu lantaran akrab dengan pedagang bakso dan penjual sayuran di sekitar rumahnya.

Juga Pak Sawali, seorang guru yang rajin berbagi karya sastra dan cerita-cerita tentang pendidikan. Kita, mungkin juga tak mengenal Sang Bayang, yang bertahun-tahun melakukan update blog hanya lewat telepon genggam sederhana, tanpa pernah sekali pun menggunakan komputer.

Ada pula Tyovan, seorang remaja di Wonosobo yang tak semula tak melanjutkan kuliah, padahal dia mendesain dan mengisi konten blog tentang daerahnya dengan caranya yang unik: mengikuti perjalanan pegawai Humas pemerintah setempat, lalu melaporkannya untuk kepentingan banyak orang. Asal tahu saja, ia belajar komputer secara otodidak, membaca buku seadanya, yang sering dilakukannya di perpustakaan daerah. Pada saat yang sama, ia sanggup menjalankan perintah Bupati Wonosobo untuk berceramah dan memberi pelatihan ketika bagi pejabat-pejabat di daerahnya, bahkan mengawal sistem komunikasi dan informasi KPU setempat pada pemilu lalu.

Kalau banyak orang bisa melakukan apa saja dan berbuat baik bagi sesamanya, kenapa kita tak bisa? Begitulah kira-kira maksud teman-teman Bengawan ketika mengajak Margareta Astaman Berlayar di Bengawan.

Tombok Puyuh Karena IM2

Gara-gara gagal top up IM2 Truff Mobile, saya tombok puyuh bakar sebuah. Gara-garanya cuma karena perubahan pergantian setting username dan password pada modem yang disarankan, ketika saya hendak melakukan pengisian ulang. Sampai kini, genap lima hari sudah saya ke warung internet. Seperti dipaksa kaya, karena belanja akses kian menggerogori jatah beli garam, bayam dan cabe.

Indosat juga termasuk kapitalis dahsyat, yang tega memiskinkan konsumennya dengan cara sangat sistematis. Untuk komplain, hanya ada opsi mengeluarkan biaya telepon SLJJ. Tapi, saya kapok karena dengan menelpon ke (021) 7854-6900, jelas saya menjadi tak bijak terhadap lidah, juga kesehatan. Boros pulsa, tak ada penjelasan memuaskan, sama saja saya menyiapkan diri tak makan esok hari.

Menghubungi lewat email ke e-service@indosatm2.com juga merugikan. Saya mesti ke warnet, beli akses dan bensin, sementara jawaban juga akan saya terima keesokan harinya. Pengalaman membuktikan, telpon boros biaya, kirim email juga begitu, ditambah bonus pahala karena dengan demikian, pelanggan akan menjadi sabar.

Tapi baiklah, bonus tak saya ambil. Saya memilih membuat testimoni di sini, siapa tahu bonusnya saya jadi terkenal. Lho, kok? Ya, siapa tahu, dengan komplain terbuka begini, Indosat M2 marah lalu menggugatkau dengan pasal-pasal pencemaran nama baik, dan UU ITE.

Penderitaan tak kunjung berakhir. Akses internet lewat XL mobile pun ngadat sejak kemarin. Seorang teman yang barus mengisi pulsa, malah tak bisa menelpon ke luar. Ada pesan otomatis yang menyebutkan nomor teman saya sedang dalam masa tenggang. Saya pun tak bisa cek pulsa, apalagi mengakses internet. Berkali-kali diulang, saya malah diledek oleh XL. Dibalasnya dengan bahasa Inggris, sehingga saya harus baca kamus. Unable connect….., katanya.

Soal nombok daging puyuh bakar seharga Rp 5.000, ceritanya ya gara-gara ngadatnya IM2 Truff dan XL itu. Terpaksa ke warnet karena domain saya expired, sepulang wedangan pada dinihari, saya meninggalkan motor di parkiran untuk mencatat nomor rekening IDWebhost, di mana hosting dan domain saya beli di sana. Dua daging puyuh bakar saya tinggalkan di sepeda motor.

Cuma setengah jam, sebenarnya. Tapi di warnet dekat Poltabes Surakarta, ada kucing kriminal. Sama sekali tak takut kalau tertangkap basah oleh polisi yang sedang melakukan patroli, si kucing ngembat sebiji. Ya, mau gimana lagi. Sisa sebiji pun tetap saya bawa pulang, lalu kugoreng ulang. Tujuannya ada dua: pertama, agar kuman-kuman dari kucing mati pada minyak mendidih. Dan yang kedua namun utama: untuk mengurangi kerugian.

Dua puyuh bakar kubeli Rp 10 ribu, biaya warnet Rp 2.000. Semua gara-gara si brengsek kapitalis: baik Indosat M2 maupun XL yang memaksa saya tak bisa mengakses internet.

Baik to Work

Baik to Work memang plesetan asal-asalan atas istilah Bike to Work, bersepeda ke tempat kerja, yang kini menjadi tren di Jakarta dan beberapa kota di Indonesia. Baik ya baik. Apik, kata orang Jawa. To Work berpadanan dengan bekerja, sehingga memang baik kalau seseorang benar-benar mau bekerja. Silakan menyimak pengalaman spiritual dan sosial saya.

Di Jepang, konon sepeda ini tunggangan resmi para suster Katholik, sebelum akhirnya saya beli di sebuah pasar di dekat Pelabuhan Tanjung Priok, tiga tahun silam. Aneh, semua orisinil-nil...

Mengawali hari (Rabu, 24 Pebruari), saya harus membeli ban dalam dua buah, hanya dalam satu jam. Karena bocor, saya mencari tukang tambal ban. Waktu sudah jam 1 lewat, sehingga saya baru menjumpai tukang tambal ban setelah menyusuri jalan-jalan sepanjang dua kilometeran. Singkat kata, saya harus mengganti ban dalam dengan yang baru.

Beres terpasang, pergilah saya. Duit Rp 25 ribu ‘melayang’ untuk ongkos dan pembelian. Mungkin, itulah cara Tuhan mengingatkan saya untuk berbagi rejeki, sehingga saya harus membangunkan tukang tambal yang tidur di atas dhingklik, bangku panjang semalaman, di pinggir Jalan Slamet Riyadi. Tuhan pasti tahu, sudah lama saya ogah bersedekah.

Baru dua kilometer meninggalkan lokasi tambal ban di Sriwedari, stang mulai goyang-goyang. Kempes ban lagi, sehingga saya harus menuntunnya. Lumayan, seribu meter jaraknya. Unik, sebab jenis bocor sama. Dop (yang benar, istilahnya apa, ya?) terlepas dari tempatnya. Maka, saya pun meminta diganti ban baru saja. Mereknya beda, tapi sama-sama asing bagi saya. Sama-sama bukan barang branded.

Terhadap jenis bocor yang beginian, saya selalu memilih menggantinya saja. Seolah sederhana, tapi penanganannya lebih rumit dibanding bocor biasa. Harus menggunting ban dalam (yang tak terpakai tentunya) sebagai penyangga, juga mesti menambal untuk memasang kembali dop-nya. Dua kali kerja. Belum lagi kalau harus menambal beberapa bagian yang bocor lainnya, sebagai akibat terlalu jauh dipaksa berjalan tanpa angin di dalamnya.

Sebaiknya jangan protes, semasa SMP-SMA, saya pernah menjalani profesi sebagai asisten tambal ban di bengkel milik tetangga, di kompleks pasar tak jauh dari tempat tinggal saya. Sepulang sekolah, saya biasa nongkrong di bengkel itu, tentu tanpa sepengetahuan orang tuaku. Harapannya cuma satu: dapat makan dan es teh gratis. Dan, saya menyukai sensasi merokok dalam kondisi tangan kotor kena oli, yang lantas mengotori kertas pembungkus tembakau yang kuisap.

Sambil menunggu penggantian ban dalam, beruntung saya bisa sejenak merenung. Apa karena beberapa hari ini saya iyik atau berisik terhadap Menteri Tifatul Sembiring yang saya anggap bersalah membiarkan Rancangan Peraturan Menteri tentang Konten Multimedia, lantas Gusti Allah marah kepada saya?

Ah, tak mungkin. Pikir saya, Tuhan akan berpihak kepada saya dan orang banyak yang telah beramai-ramai menentang pemberlakuan RPM Konten (dan UU ITE) karena kedua peraturan itu ingkar sunnah. Melawan fitrah yang dikaruniakan Allah kepada manusia, yang disebutkan dalam kitab-Nya sebagai khalifah di dunia. Pengertian ideal khalifah, tentu saja yang mendatangkan berkah bagi alam semesta.

Bukan seperti yang diyakini sebagian orang penganut paham khilafah, yang ditafsir sebagai kemutlakan wewenang di dunia: serba mengatur, selalu merasa benar. Negara dipersonifikasi pada satu orang semata, yang tidak pernah bisa diduga maksud dan tujuan hidupnya. Hahaha…

Lalu, untuk menghibur diri, saya pun berandai-andai. Lalu, terlintas di benak saya, kalau ban yang baru dibeli bocor lagi, mungkin itu sinyal agar saya segera membeli Mercy atau Cherokee, yang di dalamnya terdapat Macbook dengan akses internet bergerak. Dengan mobil jenis itu, lebih pantas saya memiliki ban tubeless yang jika bocor pun masih bisa digeber, tanpa harus repot menuntut. Di dalam mobil dengan fasilitas itu pula, saya masih bisa ikut (setidaknya) meramaikan penolakan pemberlakuan RPM Konten dan mendesakkan revisi pasal-pasal intimidatif di dalam UU ITE.

Tapi, usai membayar ban kedua, duit tinggal tersisa beberapa ribu saja. Saya berharap tak bocor lagi (dan mengganti ban baru lagi). Andai sampai begitu, berarti saya harus kemana-mana menaiki sepeda Bridgestone antik yang diimpor dari Jepang dengan status used bike itu. Walau antik, saya merasa tak sanggup kalau menggenjotnya hingga puluhan kilometer saban hari.

Belum lagi rasa was-was yang bakal terus menggelayuti. Belum tentu, di Solo ada orang yang memiliki sepeda antik seperti punya saya itu, sehingga akan menggoda orang untuk ganti memiliki. Masih mending kalau menanyakan harga pengganti. Bagaimana kalau  antiknya sepeda itu mendorong orang untuk mencuri karena bakal mahal jika dijual kembali? Bukankah itu artinya saya memberi kesempatan orang berbuat jahat, sehingga saya berdosa karenanya?

Apapun, sepeda 3 Speed itu selalu memancing tanya setiap kubawa. Lampu yang akan menyala otomatis bila tak ada cahaya matahari atau karena mendung sering mengundang tanya. Begitu pula dengan indikator cukup-kurangnya tekanan udara di dalam ban sehingga mudah untuk mengontrolnya, tanpa harus menekan dengan jempol dan telunjuk.

Tapi, sungguh banyak hikmah yang kupetik dari ‘tragedi dua kali beli’, dinihari tadi. Menuntun jelas memalukan, meski juga menyehatkan. Sepertinya, lebih sehat kalau saya juga sering menggenjot sepeda kesayangan saya, tanpa rasa was-was ada yang bakal mencurinya. Harta hanya titipan, dengan sedekah dan derma menjadi pupuk kesadaran: bahwa Tuhan selalu sayang dengan hamba-NYA, termasuk orang-orang seperti saya (yang menolak RPM Konten Multimedia).

Pak Tifatul, apa sampeyan juga punya sepeda seperti punya saya? (Kalau tak punya, saya maklum saja. Makanya sampeyan berseberangan dengan saya dalam memaknai kebebasan berekspresi, yang pasti setiap manusia punya ukurannya sendiri, dan akan selalu terikat dengan norma dan etika lingkungannya).

Baik to Work, Pak Menteri. Sebaiknya, sampeyan segera bekerja…..

Seperti penggiat Bike to Work yang bertujuan mulia menjaga udara tetap bersih, sehat dan layak hirup demi kelangsungan kehidupan seluruh makhluk hidup, hasil kerja sampeyan untuk membatalkan RPM Konten dan merevisi UU ITE juga akan mendatangkan berkah bagi alam raya. Indonesia jadi damai, maju dan lebih bermartabat. Asli. Saya tidak bohong…..