Kelompok Payung Hitam

Teman-teman di Bandung lebih suka menyebut Ka Pé Ha (KPH), akronim dari Kelompok Payung Hitam. Pertama kali saya jatuh hati pada grup ini ketika mereka mementaskan naskah Peter Handke (Jerman) berjudul Kaspar di Taman Budaya Surakarta, 1995. Saat itu, seniman se-Indonesia kumpul dalam hajatan besar merayakan Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka.

Puisi Tubuh yang Runtuh

Puisi Tubuh yang Runtuh

Pertunjukan yang tata artistiknya ditangani perupa Tisna Sanjaya, dengan iringan musik kaleng Harry Roesli itu sungguh mencengangkan banyak kalangan. Meski sama-sama fenomenal ketika itu, Ka Pé Ha sempat ‘menggusur’ Teater SAE-nya Boedi S Otong dan Afrizal Malna dari perbincangan teater modern Indonesia. Keduanya sama-sama menonjolkan kekuatan tubuh aktor sebagai inti eksplorasi, juga sama-sama minim dialog.

Rupanya, Kaspar menjadi masterpiece Kelompok Payung Hitam. Dan, foto yang saya buat atas pertunjukan itu pun akhirnya saya anggap sebagai karya masterpiece saya pula. Baru dua tahun belajar motret, saya sanggup membekukan peristiwa panggung itu dengan shutter speed 4 detik, dengan FujiFilm ISO 1600. Tanpa tripod, hanya mengandalkan pernafasan mulut agar tangan tak bergerak mengikuti tarikan atau hembusan nafas.

Kaspar (solo, 1995)

Kaspar (Solo, 1995)

Itulah sebabnya, kenapa sebagian dari koleksi saya atas foto Kaspar saya jadikan banner resmi di blog yang sedang Anda baca ini. Kaspar-lah gerbang yang saya lalui ketika memasuki Bandung, juga dunia seni pertunjukan Indonesia.

Sejak itu, saya menjadi dekat dengan kerabat Ka Pé Ha: Kang Rahman, Rusli Keleeng, Tony Broer, Yadi Bagong, Alit, Tatang Pahat, dan banyak lagi. Dari perkenalan itu, saya menjadi senang ke Bandung, apalagi bila Ka Pé Ha mau mementaskan. Beberapa karya mereka, pun saya dokumentasikan. Harus saya katakan di sini, saya merupakan salah satu fans beratnya.

Tubuh adalah kekuatan inspirasi dan sumber eksplorasi

Tubuh adalah kekuatan inspirasi dan sumber eksplorasi

Dari mereka, saya berkenalan dengan banyak teman seniman Bandung. Dengan aktor-aktor Studiklub Teater Bandung (STB) seperti Mohamad Sunjaya, Iman Soleh, Wawan Sofwan, dan banyak lagi. Kang Tisna Sanjaya dan Mbak Molly termasuk pasangan yang baik hati, yang selalu menampung saya setiap berkunjung ke Bandung, karena tanpa pemberitahuan, tiba-tiba saya mengetuk pintu rumahnya pagi-pagi sekali, ketika Zico dan Ayang belum pergi sekolah.

Pertunjukan Puisi Tubuh yang Runtuh karya/sutradara Kang Rahman Sabur yang dipentaskan di Taman Budaya Surakarta, 29 Oktober malam ini, seolah menjadi pengingat. Salah satunya, kepada almarhum Pak Suyatna Anirun yang perannya sangat besar sehingga saya mencintai pendokumentasian peristiwa seni pertunjukan sebagai proyek pribadi, setidaknya hingga kini.

Puisi Tubuh yang Runtuh masih memukau saya, juga ratusan penonton yang datang dari berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kekuatiran saya akan redupnya Ka Pé Ha, ternyata tak terbukti. Apalagi, semenjak Kang Rahman menderita stroke cukup parah.

“Saya justru merasakan bisa sembuh total ketika berguling-guling dan berporses kembali bersama anak-anak,” cerita Kang Rahman kepadaku, sesaat sebelum kami menyaksikan Mainteater mempertunjukkan karya terbarunya, Ladang Perminus di tempat yang sama.

Pertemuan saya dengan urang-urang Bandung kali ini seperti menjadi kado ulang tahun termewah untuk saya. Setidaknya, saya merasa diingatkan untuk tak melewatkan peristiwa seni pertunjukan, meski tak sanggup ke luar kota sepekan sekali seperti dulu. Jaman sudah berubah, tanggung jawab sebagai suami juga tak bisa dilepas.

Seniman-seniman Bandung, bagi saya adalah orang-orang terhormat, yang semua memiliki jasa besar terhadap perjalanan hidup saya. Tak terkecuali, Edy Purnawady, orang terpenting di balik terciptanya persahabatan saya dengan orang-orang Bandung, selain Nandang Gawe yang paling sering saya paksa menemani jalan-jalan. Tanpa mereka, mungkin saya bukan siapa-siapa.

Kehadiran KPH selalu memukau

Kehadiran KPH selalu memukau

Kalau tulisan ini kuat aroma romantisme masa silam, ya begitulah kenyataannya. Belu sempat saya ke Bandung menengok Kang Rahman, beliau sudah hadir di Solo. Saya sengaja tak pernah menelepon, karena ingin datang dadakan sebagai kejutan seorang fans kepada orang yang dikaguminya.

Sakitnya mengingatkan saya pada stroke yang juga diderita bapak saya. Saya memetik hikmah dari perbincangan kami yang tak seberapa lama, padahal sebelumnya sudah terpisah sangat lama.

Kang Rahman, semoga sehat selalu. Saya, juga banyak teman pencinta seni drama di Indonesia, masih dan akan selalu menanti karya-karya baru Kang Rahman… Sukses selalu untuk Kang Rahman, keluarga besar Ka Pé Ha, teman-teman di Buah Batu 212, juga para seniman-seniman merdeka di Bandung.

Dua Drama Teror

Dua pertunjukan drama yang kusaksikan pada Rabu (28/10) malam sungguh merupakan teror buatku. Secara pemanggungan, keduanya sama-sama bagus. Sayang, penampilan Teater Studio Indonesia kelewat meneror penontonnya, dalam arti yang sesungguhnya. Pada sajian Perempuan Gerabah, beberapa penonton nyaris cedera wajah.

Pementasan "Perempuan Gerabah" oleh Teater Studio Indonesia, Serang

Pementasan "Perempuan Gerabah" oleh Teater Studio Indonesia, Serang

Grup teater asal Serang, Banten ini, sejatinya sudah memukau publik teater Solo sejak beberapa hari sebelum pementasan. Sebuah instalasi bambu menyerupai arena sabung ayam bediameter delapam meter dibangun di atas pelataran parkir. Ada dua tingkat untuk tempat duduk penonton, mengitari stage area berbentuk lingkaran yang tak seberapa luas, namun bisa berputar layaknya papan rolet.

Di atas lingkaran itulah, enam pemain menabuh aneka bentuk gerabah, yang sekaligus menjadi properti pertunjukan. Hasil eksplorasi yang sejatinya unik, dengan capaian artistik yang bisa dibilang bagus. Ada tawaran baru menurut istilah nyeni-nya. Sayang, sutradara Nandang Aradea tidak memperhatikan aspek kenyamanan dan keselamatan penonton, yang dalam konteks pertunjukan itu justru ditempatkan sebagai bagian dari pertunjukan.

Gerabah yang dikibar-kibaskan salah satu aktornya terlempar keluar. Untung beberapa penonton memiliki refleks yang bagus sehingga gerabah yang mengarah ke wajah dapat ditepis mereka. Seorang penonton bereaksi, meninggalkan arena sembari menyatakan takut terkena lemparan.

Penampilan yang bagus, tapi sadis

Penampilan yang bagus, tapi sadis

Pada sisi yang lain, banyak penonton terbatuk-batuk terkena debu yang dihasilkan dari tumpukan jerami sebagai alas pentas. Hentakan kaki enam pemain dengan tempo cepat menghamburkan debu-debu kotor yang membuat perih mata dan hidung. Penonton terteror luar-dalam. Puncaknya, banyak wajah penonton ‘tompel-tompel’ karena ‘adonan’ tanah sebagai properti pentas yang dilemparkan para aktor/aktrisnya kian tak terkontrol.

Sadis, memang. Apalagi, jarak stage area dengan penonton hanya satu setengah meter saja! Sebelum pertunjukan berakhir, penonton pada ngacir, menyaksikan dari kejauhan.

***

Teror kedua, justru mengancam keluarga, tetangga, teman-teman bahkan sosok-sosok terkenal yang hanya dikenal penonton lewat media massa. Sebuah potret kejahatan korupsi, yang dilakukan secara terang-terangan lewat sajian Ladang Perminus oleh Mainteater, Bandung.

Mainteater, Bandung menyajikan "Ladang Perminus"

Mainteater, Bandung menyajikan "Ladang Perminus"

Naskah drama besutan FX Rudy Gunawan yang mengadaptasi novel Ramadhan KH dengan judul sama itu menceritakan pat-gulipat usaha menggerogoti uang rakyat melalui persekongkolan pejabat perusahaan minyak milik negara dengan para cukong di Singapura.

Pusat cerita ada pada Hidayat (diperankan Wawan Sofwan), seorang pegawai menengah PT Perminus (Perusahaan Minyak Nusantara) yang relatif jujur, yang ogah menerima suap kelewat besar. Hadiah mobil mewah dari rekanan perusahaan misalnya, ia serahkan kepada atasannya. Namun gratifikasi receh yang dianggap ‘biasa’ dalam sebuah bisnis,ia coba menerapkan prinsip pemerataan.

Sebagian ia berikan kepada rekan-rekan sekantornya, sebagian yang lain digunakannya untuk bersenang-senang dengan kekasih gelapnya di luar negeri. Hidayat ditampilkan sebagai orang yang bersih seutuhnya, yang oleh Rudy Gunawan dikatakan sebagai bentuk-bentuk sisi manusiawinya. Sebaik apapun, seseorang tak mungkin bisa hidup tanpa cacat atau noda, apalagi di dalam sebuah perusahaan yang budaya korupsinya sudah mengakar kuat seperti Per….. itu.

Hanya nurani yang sanggup menahan nafsu korupsi

Hanya nurani yang sanggup menahan nafsu korupsi

Kahar (Fajar Emmillianus) yang berada di posisi atasan memetik keuntungan pribadi dari Hidayat yang jujur dan suka berterus terang. Sogokan mobil yang akan dikembalikan lagi oleh Hidayat dicegah Kahar dengan dalih berpotensi merusak ‘hubungan baik’ dengan mitra usaha. Lebih baik dimasukkan sebagai tambahan aset perusahaan lewat dirinya daripada si pemberi kecewa, meski kemudian beralih ke istri simpanan.

Pada kali lain, Hidayat diminta melakukan negosiasi ulang atas sebuah kontrak kerja sama baru dengan peusahaan asing. Ia berhasil menurunkan nilai kontrak, namun di-mark up kembali oleh Kahar demi memetik keuntungan. Konflik pun meruyak ketika Hidayat tahu, hasil renegosiasi dinaikkan kembali dalam kontrak resmi.

Korupsi, bisa hadir dalam bentuknya yang manis, seperti tawaran uang saku pada sebuah kunjungan atau lawatan sebagaimana diterima Hidayat dari suruhan cukong. Namun ia bisa mewujud dalam praktek yang terang benderang liciknya seperti dimainkan oleh Kahar.

Sama dengan keseharian kita, ketika nomor-nomor seri kertas parkir atau retribusi –yang  nominalnya hanya antara berhisar antara Rp 200 hingga Rp 1.000 – tak berguna. Dinas Pendapatan Daerah yang menjadi institusi pengelola resminya, sanggup ditarget untuk memasukkan kas (berapapun besarnya) ke dalam pos pendapatan asli daerah (PAD). Nomor seri hanyalah deretang angka, yang tidak mesti masuk dalam hitungan rinci jumlah uang yang terkumpul dari publik.

Pelakunya bisa siapa saja, mungkin teman atau bahkan keluarga kita. Pemanggungan Ladang Perminus, bukan saja menarik ditonton. Lewat teater, pesan antikorupsi bisa dihayati lebih halus dan menancap di benak. Apalagi, di tengah situasi dimana minta baca karya satra masih rendah di tengah-tengah kita.

Wawan Sofwan yang tampil sebagai pemeran utama, kelihatan sangat piawai menjalani perannya sebagai sutradara. Pertunjukan berdurasi hampir dua jam terasa tak lama. Artistiknya sempurna, jeda pergantian adegannya juga tak terasa. Sebuah kerja seni yang mengagumkan, ketika stage crew juga bisa menunjukkan kerapiannya bekerja.

Atasan yang korup potensial menjangkiti bawahan yang jujur

Atasan yang korup potensial menjangkiti bawahan yang jujur

Korupsi, terlalu banyak di sekitar kita. Tak perlu jauh-jauh memelototi kasus skandal Bank Century atau perseteruan Cicak dengan Buaya. Bagi kita, mungkin cukup menoleh pada penarikan (dan setoran) retribusi. Di Solo, misalnya, kita bisa mengendus potensi praktek korupsi yang begini. Pelaksana, biasa menaikkan tarif parkir dua kali lipat dari harga yang tertera di zona padat..…

Konon, ada target setoran yang tinggi dari bagi penguasa lahan kepada para juru parkir. Alhasil, publiklah yang dirugikan…

Korupsi, sesungguhnya merupakan teror yang nyata, yang mengancam masa depan negara dan rakyatnya.

Hampir Gagal Visa Amerika

lungid-visa_6312Urusan mencari visa untuk bisa menginjakkan kaki di Amerika adalah urusan njlimet, verifikasi yang ekstrahati-hati, bahkan dengan semangat prasangka berlebihan. Apalagi di Kedutaan Amerika di Jakarta, yang dari arah Stasiun Gambir bisa kita saksikan sehari-hari seperti zona perang: kawat berduri, panser dan polisi Indonesia bersenjatakan senapan serbu.

Indonesia bagi Amerika adalah salah satu sarang teroris dunia, musuh utama Amerika sejak Bush berkuasa dan merasa tak punya musuh lagi setelah isu komunis dianggap usang. Apalagi, secara (mungkin) kebetulan, Amerika dan Indonesia telah ‘dipersatukan’ oleh kehadiran musuh yang sama: teroris beraroma Islam. Runtuhnya menara kembar WTC dan lelehan besi beton tempat hiburan di Legian adalah potret betapa sekelompok teroris Islam adalah musuh bersama.

Dan, ruwetnya birokrasi pengurusan visa adalah imbas. Amerika harus hati-hati, jangan sampai kemasukan orang Indonesia, apalagi berdalih kunjungan wisata. Mencegah lebih baik daripada mengobati, walau upaya pencegahan itu dilakukan dengan ketakutan dan prasangka teramat sangat. Dan itu pula yang mengilhami Goenawan Mohamad menulis Visa, sebuah naskah drama, yang berpijak pada perubahan sikap staf kedutaan Amerika terhadap calon tamu negaranya.

Maka yang terbayang di benak saya seusai membaca Visa, adalah ruang antrian yang bersih, teratur, dan suasana hening menegangkan. Hal yang sekurang-kurangnya bisa dibaca dari luar tembok pembatas kompleks: antrian panjang, di bawah sengatan sinar mentari, diawasi petugas pengamanan khusus yang disewa kedutaan serta polisi Indonesia bersenjata laras panjang!

***

Namun, bayangan tetaplah bayangan dan harapan akan kebenaran atas suasana serba tegang dan menyeramkan di Kedutaan Amerika, lenyap begitu menyaksikan pementasan Visa oleh Teater Lungid di Taman Budaya Surakarta, 21 Juni, malam. Bangku panjang untuk antri pemohon visa, mestinya jenis statis. Karenanya, sangat mengganggu ketika para aktor memindah kursi-kursi murahan (dan bertolak belakang dengan citra Amerika yang kaya dan moderen) seenaknya, demi blocking yang tampak semaunya.

lungid-visa_6597Ruang tunggu menjadi gaduh oleh dialog antar-pengantri visa, yang keseluruhannya tampak mencitrakan sebagai kelas pekerja rendahan, buruh murah yang diidentikkan dengan TKI. Ya, Tenaga Kerja Indonesia! Padahal, di sana ada pengusaha berdarah Cina dan memiliki stereotip kaya. Juga ibu-ibu yang ingin berkunjung sekadar ingin menengok cucu setelah empat tahun tak bertemu.

Calon pengunjung Amerika, umumnya berbeda dengan calon pendatang ke Malaysia. Kalau tak untuk bekerja, urusan bisnis atau misi kesenian, pakansi, ya itu tadi: menengok cucu atau sanak-kerabat. Berbeda dengan rata-rata orang Indonesia yang datang ke Malaysia dengan kepentingan nyaris seragam: berharap hujan emas lantaran tak sanggup menghadapi hujan batu di negeri sendiri.

Dalam satu hal, eksplorasi Lungid cukup berhasil, terutama saat menghadirkan monitor besar sebagai pengganti desk staf verifikasi kelengkapan data formulir yang sudah harus diisi sebelumnya oleh para pemohon visa. Tapi sayangnya, ya baru pada sisi itulah tampak kepiawaian Djarot BD sebagai sutradaranya. Dialog pun masih tampak kedodoran, apalagi menilik pada salah satu aktor utama, yang mendominasi suasana, namun dengan intonasi yang selalu keras, dan monoton.

Catatan lain yang menurut saya perlu dilekatkan pada penggarapan Visa, adalah adaptasi naskah dari bahasa Indonesia ke Jawa. Dialog dan sejumlah persoalan yang ingin disampaikan Goenawan Mohamad seperti kehilangan ruh, kurang menyentuh. Bisa jadi, banyaknya pernyataan-pernyataan filosofis dan yang berasosiasi dengan problem-problem kotemporer menyangkut hubungan Barat-Timur terlalu di awang-awang bagi Trisno Santosa sebagai penerjemah dan Djarot yang mengadaptasinya kemudian.

Boleh jadi juga, oleh sebab ketelanjuran persepsi saya terhadap aktor/aktris Lungid, yang tak lain dan tak bukan adalah penerus spirit Teater Gapit, yang lebih akrab dengan problem-problem sosial kaum kelas bawah, kaum urban yang terdesak oleh modernitas. Dan baru kali ini, mereka bertemu dengan naskah yang mewakili dunia kelas atas, yang selama ini telanjur dilawan karena menjadi momor, terutama lewat kerja kreatif mereka memanggungkan naskah-naskah Bambang Widoyo SP yang berpihak pada kaum kalah dan tertindas itu.

Rasanya, bedah naskah dan mencocokkannya dengan situasi yang sesungguhnya dengan kerumitan mengurus visa di Kedutaan Amerika bisa menjadi jalan tengah untuk lebih membumikan naskah Goenawan Mohamad. Apalagi cukup banyak seniman-seniman asal Solo yang beberapa saat terakhir pernah berhubungan dengan Kedutaan Amerika. Juga, orang yang terbiasa berurusan dengan mereka, baik sebelum dan sesudah sejumlah peristiwa yang memupuk paranoia bangsa dan penguasa Amerika. Prinsipnya, menempatkan riset dan observasi sebagai hal penting, apalagi untuk bentuk garapan realis.

Dua bulan masih cukup untuk membuat perubahan-perubahan, sebelum pementasan Visa yang sesungguhnya dilangsungkan di Salihara, di kompleks ‘kerajaan’ baru Goenawan Mohamad dan teman-teman dalam menggiatkan kegiatan-kegiatan kultural dan humaniora di Jakarta. Untuk pementasan kali ini, bolehlah kita terima (seperti yang mereka niatkan), sebagai ajang uji coba.

Semoga, masih ada perbaikan sehingga proses penggarapan yang telah berlangsung tiga bulan sebelumnya, tidak menguap sia-sia…..

Teater Gapit Ganti Nama

Penggemar drama modern berbahasa Jawa, kini bisa menarik nafas lega. Pementasan TUK di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta, 26-28 Juni lalu, sekaligus menandai era baru kelanjutan Teater Gapit yang sempat mati suri, dengan nama baru: Teater Lungid. Beberapa aktor muda bergabung, namun personil lama masih mendominasi sehingga ruh Gapit nyaris tak berubah.

Pemakaian nama baru, kata aktor kawakan Jarot Budi Dharsono, semata-mata untuk membebaskan paguyuban seniman itu dalam mengembangkan kreatifitas mereka. “Kami tidak ingin berhenti pada pemanggungan naskah-naskah almarhum Kentut (Bambang Widoyo SP, sutradara dan penulis naskah Gapit, Pen.) saja. Kami akan terbuka terhadap lakon-lakon baru, sepanjang spiritnya masih sama,” ujar Jarot.

Lungid adalah kosa kata Jawa yang berpadanan dengan landhep, tajam. Kepekaan rasa dan ketajaman indera itu pula yang selama ini menjadi ciri khusus naskah-naskah Kentut. Problem-problem sosial, termasuk benturan budaya akibat kuatnya pengaruh modernisasi, selalu menjadi fokus bahasan lewat tujuh naskah yang telah dibuatnya: BRUG (1982), STUP atawa Suk-suk Peng (1983), ROL (1983), LENG (1985), REH (1986/1987), TUK (1989) dan DOM (1990).

TUK yang dipentaskan akhir bulan lalu, misalnya, merupakan potret keresahan di perkampungan padat, kumuh, yang sebagian besar dari mereka adalah orang-orang desa yang mengadu nasib di kota. Di perantauan itu, mereka hidup secara magersari alias hidup menumpang pada Den Darsa, seorang duda kaya nan dermawan. Di pekarangan itulah, mereka lantas beranak-pinak, hidup turun-temurun.

Harmoni dan solidaritas sosial yang telah lama mapan mulai terkoyak. Isu kedatangan investor properti yang kompleks itu merebak melalui Menik (diperankan Yasinta). Menik, pengganti sang ibu sebagai penarik uang sewa ‘rumah’ warga magersaren, yang tak segan mengancam mengusir para penunggak.

Sikap galak Menik lantas berbuah gugatan dan omelan. Menik diragukan keabsahannya sebagai keturunan langsung Den Darsa lewat hubungan gelap dengan sang ibu. Sementara sang ibu, sejatinya juga warga magersaren, bekas ledhek jalanan yang hamil entah dengan siapa, namun berhasil memaksa Den Darsa menikahinya. Alhasil, Menik merasa sebagai pewaris yang sah atas tanah peninggalan Den Darsa, yang mati ngenes saat ia baru berusia tujuh bulan.

Hasil othak-athik gathuk, ilmu yang menghubung-hubungkan terkaan dan prasangka seolah memperoleh pembenaran saat menjumpai bahwa Soleman (Jarot BD) –seorang makelar yang juga tinggal di sana, ikut-ikutan menawarkan ganti rugi kepada para tetangganya.

Adalah Mbah Kawit (Wahyu ‘Inong’ Widayati), penghuni tertua di kawasan itu yang selalu mengingatkan kebaikan-kebaikan semasa hidup Den Darsa kepada tetangganya. Mbah Kawit pula yang pertama kali merasa bakal terjadi sesuatu di antara mereka. Dengan bekal ilmu klenik Jawa yang kental, ia menghubungkan banyak kejadian-kejadian tak normal sebagai pertanda akan datangnya disharmoni.

Ingatan pun tertuju pada tindakan Soleman yang mengencingi sumur, sesaat setelah ia mengetahui ayam jago kesayangannya mati akibat kecebur di sumur satu-satunya itu. Sumur, adalah tuk, sumber air, yang berarti pula simbol sumber kehidupan. Di sekitar sumur, kebersamaan terbangun, persaudaraan erat terikat. Semua bergantung dan bermuara pada tuk.

Ketika simbol rejeki dan harmoni kehidupan ternoda, maka petakalah yang muncul. Mbah Kawit berteriak histeris. Ia melihat api mulai menjalar dari rumah-rumah kumuh mereka. Air yang diminta untuk menyiram tak kunjung datang. Penghuni gaduh, saling menyalahkan. Harapan pun sia-sia, kawasan ludes karena lonceng Udan Arum tak kuasa menghadirkan hujan, sementara pusaka Singkir Geni tak bisa serta merta mematikan api.

***

TUK adalah empati dan advokasi Kentut pada kaum pendatang tak berdaya, yang selalu digusur oleh beragam kepentingan dan kedigdayaan kuasa uang. Kebakaran atau pembakaran nyaris sama dengan penggempuran dengan buldozer, yang sering ditayangkan di televisi. Hasilnya sama: semua rata dengan tanah, semua meratap kehilangan harap.

Dan TUK yang disutradarai Pelog Trisno Santoso kali ini, nyaris sama dengan apa yang dilakukan mendiang Kentut. Suasana bebrayan mereka masih terasa, semangat meneruskan obsesi Kentut lewat Gapit pun masih membara. Kalaupun harus menggunakan nama Lungid, bukan Teater Gapit Jilid Dua, semata-mata karena mereka ingin lebih leluasa mengembangkan budaya Jawa lewat drama, dan karya sastra.

Dunia Dalam Kardus

Teater Ruang, Solo mempertunjukkan lakon Dudak alias Dunia Dalam Kardus di Taman Budaya Surakarta, pertengahan Desember 2005. Menurut penulis naskah sekaligus sutradara pertunjukan itu, Joko ‘Bibit’ Santosa, Dudak diilhami oleh pleidoi Soekarno yang dikenal dengan buku ’supertebalnya’ (?), Indonesia Menggugat. Naskah saduran itu sesungguhnya menarik dan relevan dengan situasi penindasan sosial-ekonomi-politik yang terjadi di Indonesia kini.

Sayang, kelompok ini gagal mengkomunikasikan gagasan itu. Seandainya eksplorasi artistiknya matang, kardus-kardus yang dijadikan properti utama itu akan menguatkan visualisasi simbol penjajahan ekonomi. Penonton pun, akan menjadi dimudahkan mengikuti alur cerita yang disajikan dalam dialog-dialognya yang sangat panjang dan cenderung menyesatkan.