Panggung Spektakuler Matah Ati

Tulisan ini sudah dipublikasikan di majalah Rolling Stone Indonesia, edisi Oktober 2012

Untuk pergelaran tari tradisi (Jawa), pemanggungan Matah Ati di Pamedan, Mangkunegaran, Solo, 8-10 September, boleh disebut paling spektakuler di Indonesia. Ia menjadi produk eksperimentasi pemanggungan unik, yang berhasil memadukan unsur-unsur artistik pop dengan tradisionalitas.

Secara umum, pertunjukan itu juga layak dicatat sebagai keberhasilan manajemen pemanggungan karya tradisi, baik dari sisi ‘penaklukan’ ruang hingga kehebohan event. Hari-hari itu, Solo dibanjiri pendatang dari luar kota, bahkan semua penerbangan dari Jakarta dipenuhi calon penonton, yang sebagiannya adalah pesohor dan selebritas industri pop, selain kelas menengah perkotaan.

Adalah Matah Ati, kisah percintaan pendiri Pura Mangkunegaran, Raden Mas Said (1725-1795) dengan gadis kebanyakan dari desa, Rubiyem, yang dipadukan dengan heroisme perlawanan terhadap Belanda di tanah Jawa pada pertengahan abad XVIII. Rubiyem adalah spirit sekaligus pelaku gerilya melawan Perserikatan Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oost-Indische Compagnie/VOC), cikal bakal penjajahan Belanda.

Dikisahkan, putra Pangeran Arya Mangkunegara dari Kraton Kartasura itu gemar olah fisik dan kebatinan, yang dalam pengembaraannya di pegunungan kapur selatan Wonogiri bertemu dengan gadis desa di Nglaroh, Selogiri. Dari perjumpaan dengan gadis desa itulah, hati Raden Mas Said tertambat dan lantas memperoleh sokongan moral luar biasa untuk gigih memberontak dominasi asing, yang turut merongrong kerajaan Kartasura melalui pemberontakan Raden Mas Garendi, hingga seluruh keluarga kraton menyingkir ke Surakarta.

Tak hanya mendukung moral perlawanan, Rubiyah yang kelak berjejuluk Bandara Raden Ayu Matah Ati, pun turut berperang dengan memimpin kaum perempuan petani. Maka, lengkaplah sudah semangat Raden Mas Said dan Rubiyah untuk melakukan perlawanan pantang menyerah. Jika harus berkalang tanah, maka semua harus rela menghadapi. Pun, begitu sebaliknya jika menang, maka kemuliaan menjadi milik semua.

Tiji tibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh. Tiji Tibeh, mati satu mati semua, mukti satu mukti semua. Begitu ‘wangsit’, semacam bisikan halus yang diterima lewat mimpi Raden Mas Said, sebagai jawaban atas pengembaraan laku batinnya yang panjang, sebagai respon atas penderitaan akibat penjajahan bangsa asing. Sebuah dendam bersama terhadap penindas, yang dirasakan pemimpin dan rakyatnya, yang dikelola dengan baik oleh Pangeran Sambernyawa.

***

Semangat kebersamaan –dalam suka atau duka, yang kian meredup dalam relasi sosial belakangan, itulah yang hendak diingatkan kembali oleh Atilah Soeryadjaya, melalui Matah Ati. Atilah kebetulan merupakan salah satu trah Pura Mangkunegaran, yang merasa ingin nguri-uri ajaran moyangnya.

Menggandeng Jay Subyakto sebagai Direktur Artistik, yang mengomandoi 250 penari, dan puluhan pengrawit dan kru panggung, Atilah dan kawann-kawan sukses menghadirkan pertunjukan menarik, yang tak hanya menghibur, namun juga meninggalkan pelajaran berharga bagi banyak orang, terutama seniman pertunjukan dan penyelenggara pertunjukan di Solo.

Kehadiran kembang api untuk menghadirkan efek dramatis adegan-adegan tertentu pada pentas langendriyan (semacam opera) cukup mengejutkan. Begitu pula penggunaan efek visual yang diarahkan ke tembok gedung Kavallerie-Artillerie, sehingga menghadirkan citra baru mampu menghadirkan panggung baru, cukup memukau penonton, sehingga repertoar sepanjang dua jam tak terasa panjang.

Satu sukses Matah Ati adalah kemampuan Jay menaklukkan ruang. Tak mudah menyulap lapangan terbuka menjadi panggung baru yang membuat penonton serasa menikmati sajian di dalam gedung pertunjukan beratap langit gemintang. Untuk menghadirkan suasana itu, Jay menutup sisi yang menghadap jalan raya dengan kain hitam setinggi lima meter, dan penutupan jalan menciptakan keheningan lantaran tak ada deru mesin mobil/motor terdengar.

Jay Subyakto memang tak sembarangan melakukan persiapan. Hampir sebulan sebelum pergelaran, kerangka panggung sudah didirikan, sekaligus untuk uji coba sistem panggung hidrolis. Meski pemanggungan sebelumnya di Esplanade, Singapura dan  Jakarta sudah terbukti sukses, Jay pun ingin mengulangnya kali ini. Balutan kain hitam pada kerangka panggung seperti menggenapkan capaian artistik lelaki kelahiran Ankara, Turki ini.

“Saya ingin menyajikan konsep pemanggungan dan pertunjukan yang tak hanya spektakuler, tapi mengena secara artistik. Dan, menggabungkan unsur moderen pada seni tradisi itu sangat menantang,” ujar Jay, beberapa hari menjelang pentas.

Dan, ucapan Jay terbukti. Rata-rata enam ribuan pengunjung memadati areal Pamedan, Mangkunegaran, setiap malam selama tiga hari berturut-turut. Bahkan, sebagian di antaranya berdatangan dari berbagai kota: Yogya, Semarang, Surabaya, Jakarta hingga luar Pulau Jawa.

Tata musik yang digarap Blasius Subono, dan koreografi yang ditangani trio koreografer Sudaryo-Kembul Nuryadi-Eko Supendi sanggup mengawal penampilan Fajar Satriadi (sebagai Raden Mas Said) dan Rambat Yulianingsih (Rubiyem).

Antusiasme penonton di luar area pertunjukan. Sebuah layar lebar dipasang untuk publik yang tidak kebagian tiket/undangan.

Kalaupun harus disertakan catatan, vokal Fajar dan Rambat kurang terjaga pada pemanggungan malam terakhir. Boleh jadi, mereka terkena imbas angin malam yang kencang menyapu lapangan. Kekurangpaduan gerak tari dengan musik iringan, meski tak terlalu mengganggu di beberapa adegan, menjadi alihkan oleh tata panggung dan tawaran artistik yang memukau. Kekurangan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang terbiasa menyaksikan pertunjukan tari di panggung-panggung kesenian.

 Satu lagi ‘keuntungan’ Jay dan penyelenggara, jarak panggung yang jauh dari penonton (jarak terjauh sekitar 70 meter) akan menjadikan orang terlena pada detil. Padahal, pada satu hal itulah, kekurangan Jay dan koreografer bisa dijumpai.

Catatan:

Harus diakui, pementasan Matah Ati cukup sempurna untuk media belajar manajemen penyelenggaraan sebuah pementasan. Selain detil artistik yang dipersiapkan, aspek promosinya pun luar biasa. Saya belum pernah menjumpai seniman-seniman Solo dan sekitar menggarap sebuah pertunjukan dengan perencanaan yang komprehensif. Memang, orang bisa saja berkomentar, “Wajar, Matah Ati bisa digarap seperti itu, wong dananya kuat.”

Meski aspek pendanaan menjadi faktor dominan, namun bukan mustahil untuk menirunya dengan cara membuat perencanaan yang matang. Dari sisi tata panggung, misalnya, Jay dan kawan-kawan sudah menyiapkan sejak sebulan sebelumnya. Mungkin itu sekaligus digunakan untuk ujicoba sistem hidrolis dan memastikannya bisa digunakan tanpa kendala. Dari aspek publikasi pun cukup mencengangkan. Semua orang seperti diiming-imingi sajian yang lain daripada yang lain.  Secara subyektif, saya bisa mengatakan memang akan jelas perbedaannya pementasan Matah Ati di Solo dengan di Jakarta dan Singapura yang digelar di area tertutup (indoor).

Yang sering terlewat, adalah mempertimbangkan potensi wisata dari sebuah gelaran event. Hotel-hotel di Solo penuh hari-hari itu untuk menampung penonton yang berasal dari luar kota. Tempat-tempat wisata kuliner, batik, kerajinan pun kebanjiran rejeki, begitu pula dengan taksi, usaha carter mobil, hingga pengayuh becak.

 

Opera Jawa Versi Dua

Garin Nugroho seperti kesengsem pada dua hal: kisah Ramayana dan penyutradaraan tari. Setidaknya, itulah yang saya perhatikan dalam empat tahun terakhir.

Pada kisah Ramayana yang berintikan peperangan Rama (sebagai simbol kebaikan) versus Rahwana yang berkonotasi jahat dengan bumbu pesona kecantikan Sinta, itulah Garin mengeksplorasi habis-habisan. Lewat film Opera Jawa (2006), ia bahkan menyabet pujian publik film tingkat dunia.

Dari film itu, ia lantas mengembangkan pada bakat keduanya, sebagai sutradara tari. Dengan melibatkan koreografer Eko Supriyanto (Solo) dan Martinus Miroto (Yogya), Garin melahirkan The Iron Bed (2008). Hasil pernyutradaraan dengan pendekatan filmis itu bahkan memukau seniman dari beragam cabang dan aliran yang berkumpul di Swiss dalam forum Zurcher Theater Spektakel, pada pertengahan 2008.

Sukses di festival seni yang melibatkan puluhan seniman dari 40 negara di Asia, Amerika Latin dan Afrika itu, The Iron Bed lantas diminta tampil dalam Indonesian Dance Festival di Jakarta, tahun lalu. Sebuah apresiasi yang menarik, mengingat Garin ‘hanya’ pendatang baru di dunia seni pertunjukan, meski ia pernah menyutradarai pertunjukan drama semasa SMA di Semarang dulu.

Oh, ya, hampir saya lupa. Kata Garin, sepulang dari Swiss, resensi The Iron Bed yang saya buat dan dipublikasikan di The Jakarta Post, katanya memperoleh pujian dari Robert Wilson, art director kelas dunia yang menjadi penggagas acara di Swiss itu. Aha!! Senangnya hati saya…..

Saat diberitahu soal itu, pun saya berlagak merendah dengan mengatakan tak mungkin ada resensi yang bagus kalau materi yang diresensi jelek.

Tapi, sungguh menarik mengamati metamorfosa Garin. Semula, saya mengenalnya sebagai penulis yang kritis. Ketika itu, akhir 1980-an hingga pertengahn 1990-an, karya-karya tulisnya kerap mejeng di halaman opini harian Kompas. Dia masih menyebutkan identitasnya sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Beberapa teman kuliah saya yang kagum padanya, sudah dua orang yang meniru jejaknya, menekuni dunia tulis-menulis dan menjadi sineas andal. Keduanya pernah meraih penghargaan kelas dunia pula.

Kembali ke soal penyutradaraan tari, harus diakui dia memang piawai. Talentanya kuat, bahkan garapannya lebih detil dari koreografer pada umumnya.

Tapi, yang selalu menggelitik saya hanya satu: soal penampilan sosok perempuan sebagai tokoh sentral. Baik pada film Surat untuk Bidadari, Bulan Tertusuk Ilalang, Daun Di Atas Bantal, hingga Opera Jawa, Garin menempatkannya sedemikian rupa. Simbol-simbol feminin juga kuat pada semua karyanya, termasuk pada karya tari The Iron Bed dan yang kedua, yang diberi judul sama dengan filmnya: Opera Jawa.

Semoga, Opera Jawa yang menonjolkan ciri Langendriyan atau operet versi Jawa menuai sukses dipentaskan di Belanda, paruh kedua tahun ini. Melihat pertunjukan ‘perdana’ di ISI Surakarta, tiga hari lalu, saya optimis Garin sanggup mempertanggungjawabkan orisinalitas garapannya, meski koreografinya ditangani Eko Supriyanto.

JIPA, SIPA dan Seterusnya

Meski baru bisa menyaksikan hari kedua Jogja International Performing Arts Festival (JIPA), saya sudah merasa senang. Kebagian empat penampil, dua dari Jepang dan masing-masing seorang koreografer Indonesia dan Perancis, pun sudah cukup melegakan. Salut atas kerja keras Mas Bambang Paningron dan teman-teman Jaran Productions menggelar festival tari selama dua malam itu.

Koreografi Bimo Wiwohatmo (Yogyakarta) dalam JIPA 2009

Koreografi Bimo Wiwohatmo (Yogyakarta) dalam JIPA 2009

Hari pertama, festival diisi dengan penampilan seniman dari Austria, Korea dan Jepang. Dari negara yang disebut terakhir, dua kelompok datang atas biaya sendiri, satu grup lagi dibiayai sepenuhnya oleh The Japan Foundation. Selebihnya, nyaris dengan pembiayaan sendiri-sendiri.

Itulah uniknya dunia kesenian. Ibarat dengan modal cekak, pun masih bisa membuat event bermutu, dengan sajian karya-karya bermutu. Yang demikian, tentu tak lepas dari komitmen pertemanan yang lantas melembaga menjadi sebuah network. Sulit bagi awam untuk membayangkan penyelenggara mampu menyediakan dana sedikitnya Rp 1 miliar, bila seluruh keperluan biaya transportasi, akomodasi serta honor artis menjadi tanggung jawabnya.

Penampilan Veronique Delarche, koreografer Perancis

Penampilan Veronique Delarche, koreografer Perancis

Ketika dukungan pemerintah nyaris nihil dan sponsor enggan berderma, maka artis seperti didatangkan secara cuma-cuma. Panitia, bisa dikata menjadi pihak paling ‘menderita’ kalau penilaiannya menggunakan ukuran-ukuran material. Siapa bertugas sebagai apa dengan honor berapa menjadi tidak relevan dibahas. Dedikasi dan komitmen mereka pada kerja-kerja kebudayaanlah yang menggerakkan mereka rela bersusah payah.

Siapa yang diuntungkan? Jawabannya jelas: masyarakat dan pemerintah!

Masyarakat diuntungkan lantaran memperoleh wahana apresiasi sehingga memperkaya pengalaman rohaniahnya. Kesenian tak bisa mengenyangkan, juga tak mungkin mendongkrak status sosial-ekonomi seseorang, termasuk penyelenggaranya. Pada ruang tak seberapa luas, concert hall Gedung Societet paling hanya menampung seribuan apresian selama dua hari. Artinya, dengan tiket masuk seharga Rp 20.000, total pendapatannya tak cukup untuk membiayai dua artis yang datang dan harus pulang kembali ke Perancis.

Dimana pemerintah memperoleh imbas positif dari peristiwa demikian? Citra kota meningkat, karena warganya dianggap beradab, memiliki tingkat apresiasi seni memadai sehingga pantas dipuji.

Butoh Sha Tenkei, Jepang

Butoh Sha Tenkei, Jepang

Keberadaan Dinas Pariwisata dan Budaya, misalnya, seperti tak berarti manakala kegiatan-kegiatan seni bermunculan, justru karena warga yang menginisiasi. Dimana-mana di Indonesia, sungguh sulit meyakinkan aparatur Dinas Pariwisata dan Budaya bahwa kerja-kerja kebudayaan tak bisa semata-mata dengan kalkulasi ekonomis-matematis.

Pengeluaran akan bisa dianggap sangat besar dan boros -karena itu harus dihindari, jika yang dijadikan ukuran adalah banyaknya penonton yang bisa dihadirkan. Gelaran teater atau tari tak bisa disamakan dengan penyelenggaraan konser Nidji atau Kenny G. Keramaian publik jenis ini, toh masih sangat jauh melampaui pengunjung pertunjukan orkestra atau konser piano, bahkan mereka yang bergelar maestro.

Jujur, penyelenggaraan event serupa di Solo yang bertajuk Solo International Performing Arts Festival (SIPA), awal Agustus lalu, merupakan potret kekeliruan penyikapan atas sebuah peristiwa kebudayaan yang menampilkan kerja-kerja kesenian yang ‘serius’ alias bukan pop, bukan budaya massa.

Bisa jadi, pelaksana juga kesulitan membuat pilihan ketika disodorkan ketentuan ‘harus’ menghadirkan banyak orang yang bisa diklasifikasikan sebagai ‘massa’. Namun, hal sebaliknya juga bisa terjadi, ketika pemerintah sebagai pemilik gagasan dan merasa tidak menguasai bidang demikian, sang pelaksana tak punya cukup referensi karena kegagalan membuat definisi dan menerjemahkannya ke dalam produk event seni.

Sajian "Tribut to Michael" oleh Broadway Dance Center, Jepang

Sajian "Tribut to Michael" oleh Broadway Dance Center, Jepang

Tak semua cabang seni bisa ditampilkan di tempat terbuka, apalagi di antara riuh dan hiruk pikuk penonton. Begitu sebaliknya, tak sembarang bentuk ekspresi seni cocok dipanggungkan di dalam ruang tertutup. Beberapa jenis tari atau teater, mungkin baru bisa diapresiasi bila lingkungan mendukung sehingga kelima panca indera bisa bekerja bersama-sama dengan olah rasa dan aktivitas pikir.

Sungguh menarik ketika beberapa waktu lalu, mantan Direktur Jenderal Kebudayaan Edi Sedyawati mengusulkan keberadaan kebudayaan diurus oleh departemen tersendiri. Bergabung dengan bidang pendidikan pada masa lampau, menimbulkan kerancuan sebab kebudayaan hanyalah subpendidikan. Sementara digabungkannya dengan urusan kepariwisataan hanya melahirkan kebijakan dengan pendidikan turistik, sehingga mudah terjerumus pada misi mendongkrak devisa semata.

Kebudayaan, tentu saja tak sebatas urusan ‘pentas seni’ semata. Ia mencakup semua aspek kehidupan, berpijak pada yang lampau demi menghadapi masa depan. Kerusakan lingkungan, maraknya bentuk-bentuk baru kemiskinan hingga praktek korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, itu semua berawal dari abainya sebuah bangsa terhadap pentingnya sebuah sikap sehingga menuntun kita pada penyusunan strategi kebudayaan.

Butoh Sha Tenkei, Jepang

Butoh Sha Tenkei, Jepang

Kesenian hanya noktah kecil dalam cakupan kebudayaan yang maha luas. Namun, sikap bangsa yang meremehkan terhadap cabang kebudayaan yang satu ini, sudah cukup untuk menjuluki sebuah bangsa sebagai tak berbudaya.

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan? Saya bukan siapa-siapa dan tak punya referensi (apalagi kompetensi) untuk menjawabnya. Serahkan saja pada ahlinya, yang sejatinya sangat banyak kita miliki. Dari pemikir hingga orang-orang yang tak pernah kenal lelah menjalaninya sebagai pelaku, bahkan tanpa support pemerintah sama sekali.

Kalaupun ada yang harus saya diusulkan (supaya tampak bertanggung jawab kerna sudah membuat posting ini), rasanya cukup sederhana: sebaiknya pemerintah mengalokasikan sebagian dana yang dihimpun dari berbagai jenis pugutan pajak pada warganya,untuk mendukung kegiatan-kegiatan atau misi-misi kebudayaan.

Sajian Bimo Wiwohatmo

Sajian Bimo Wiwohatmo

Syukur membuat regulasi, dimana badan-badan usaha negara dan swasta yang telah menjadikan rakyat sebagai ‘pasar’ produk-produk mereka, dipaksa untuk mengalokasikan sebagian keuntunannya ke sana pula. Jangan lagi dana corporate social responsibility (CSR) mereka kelola sendiri, lalu membuat laporan resmi demi mendapat beragam fasilitas dan dispensasi. Sebab jika itu yang terjadi, baik badan usaha maupun pemerintahnya, bisa dikategorikan keji. Atau, setidaknya tumpul nurani.

Tali Kutang yang Terabaikan

Drama atau teater, entah kenapa masih menjadi cabang seni seni pertunjukan yang menurut saya masih memperhatikan detil, baik artistik, properti maupun pemeran (aktor).  Setidaknya, begitulah yang saya rasakan ketika menyaksikan beberapa pertunjukan tari di Jakarta dan Solo dalam beberapa tahun terakhir.

Di Solo, misalnya, masih sering kita jumpai beberapa koreografer yang lengah dalam hal detil, yang biasanya mudah kita temukan pada kostum atau performa penari.

Pernah, pada malam usai general rehearsal, saya ditanya seorang koreografer. Intinya, dia minta pendapat mengenai impresi saya terhadap persiapan pertunjukan untuk keesokan malamnya. Karena tak paham dan tak mau masuk ke proses sebuah penciptaan, saya hanya menanyakan dua hal.

Pertama, saya bertanya soal warna tali kutang. Yang berikutnya mengenai perhiasan berupa cincin dan kalung yang dikenakan penari. Ada satu penari yang mengenakan tali kutang berwarna gelap, sementara kira-kira enam penari perempuan lainnya mengenakan tali kutang berwana putih, sebagian malah berbahan plastik bening.

“Apakah warna gelap tali kutang itu disengaja, mungkin si penari itu mendapat peran khusus dalam jalinan sebuah koreografi?” tanya saya. “Cincin dan kalung yang dikenakan beberapa penari, apakah itu juga menjadi bagian dari konsep artistik atas cerita yang hendak dibangun?”

Si koreografer menggeleng. Ia mengakui hal itu sebagai sesuatu yang terlewat, tak ada unsur kesengajaan. Apalagi dimaksudkan untuk mendukung atau memperkuat sebuah pesan atau gagasan yang hendak disodorkan kepada penonton sebagai lawan dialognya.

Sebagai tukang foto, saya mudah terganggu dengan kejanggalan di atas panggung, yang mungkin oleh orang lain atau bahkan koreografernya sendiri dimasukkan pada kategori ‘bisa diabaikan’. Sementara lewat lensa (mata atau kamera), pantulan cahaya sebuah lampu panggung bisa datang dari cincin, kalung atau tali kutang berbahan plastik yang bening.

Detil lain yang kerap ‘diabaikan’ adalah tata rambut. Pada teater, panjang-pendek rambut, model sisiran, perlu dibalur jelly atau tidaknya, sangat berpengaruh karena seorang actor/aktris memerankan sebuah karakter. Belum lagi kostum, model pakaian, hingga aksesori yang dikenakan, semua menjadi sesuatu yang tak bisa dilewatkan begitu saja.

Contoh dengan kontras paling kentara adalah make up dan desain kostum sinetron-sinetron kita dengan film-film layar lebar, terutama besutan sutradara-sutradara tertentu. Pada sinetron, kita sangat mudah menemukan penampilan pengemis, namun mengenakan pakaian yang masih tampak baru dibeli. Pada karya-karya film layar lebar, kostum dan properti akan selalu nyambung, kontekstual. Maka tak aneh, riset menjadi keharusan dalam satu kesatuan perencanaan produksi.

Yang masih saya rasakan hingga kini, masih banyak koreografer yang abai pada soal-soal ‘remeh’ demikian. Contohnya, ada satu-dua penari –kebetulan keduanya laki-laki, yang penampilannya tak pernah berbeda, baik dalam keseharian maupun di atas panggung. Yang satu selalu mengenakan kalung berbahan kulit, satu lagi mengenakan anting-anting besar. Keduanya mencolok secara visual.

Kebetulan, keduanya kerap tampil dalam sejumlah karya beberapa koreografer. Tata rambut dan penampilannya nyaris sama, baik selagi nongkrong maupun ketika berada di atas panggung. Satu-satunya yang membedakan, sepertinya hanya terletak pada kostum yang dikenakan.

Kalau sudah begitu, maka pertanyaan yang mesti dijawab hanyalah soal definisi kata profesional. Rasanya, jawabannya tak jauh berbeda, baik penari maupun koreografer.

Bacaan terkait: Problem Seniman dan Manajemen Seni; Kisah Ranjang Garin Nugroho; Mendokumentasi Peristiwa Panggung

Kisah Ranjang Garin Nugroho

Tak cuma piawai menyutradarai film cerita, Garin Nugroho juga pintar bersandiwara soal kisah ranjang. Siapa Siti, perempuan cantik yang diajaknya ke Swiss pada pertengahan Agustus lalu? Menurut penuturan Kang Gareng, eh, Garin kepada saya, Siti itu adalah sosok yang dikenalnya sebagai perempuan anggun. Namun dalam urusan seks, bisa mendua. Bahkan, praktek perselingkuhan pernah dilakukannya di samping suaminya, yang tertidur pulas di ranjang.

Dua wajah Siti yang bertolak-belakang itu, rupanya hanyalah sebutir zarah, debu dunia. Bukan monopoli masyarakat perkotaan, namun sudah menyelusup ke pedalaman. Lelaki atau perempuan, sama saja. Sama-sama memiliki potensi menunjukkan wajah gandanya: baik-buruk bisa saja ditampilkan pada saat hampir bersamaan.

Kembali ke soal Siti, jangan buru-buru berprasangka kalau Siti adalah perempuan selingkuhan Kang Gareng. Kisah seputar ranjang Siti adalah rekaan Mas Garin untuk menandai debutnya sebagai sutradara tari. Dalam karya ini, ia dibantu dua koreografer alumnus UCLA, Martinus Miroto dan Eko Supriyanto.

Sebagai penikmat seni pertunjukan, karya Mas Garin berjudul The Iron Bed -menurut saya- itu sangat bagus. Meski lama tak sempat menyaksikan pertunjukan tari di Jakarta dan Bandung, saya sangat yakin The Iron Bed akan menyita perhatian media massa dan para kritikus tari. Apalagi, karya perdana seorang sutradara film itu sampai diundang untuk tampil dalam kategori penampilan khusus dalam Indonesian Dance Festival (IDF) 2008, 28 Oktober mendatang.

Bukan hanya karena Garin lebih dikenal sebagai sutradara film dan tidak memiliki catatan perjalanan seni sebagai koreografer sehingga karyanya bakal disorot banyak pihak. Lebih dari itu, karena bagusnya garapanlah yang menurut prediksi saya, bakal menyentak dunia tari di Indonesia.

Sepanjang pengamatan saya, The Iron Bed sangat enak ditonton. Kisahnya mengalir, mudah dicerna, sehingga penonton mudah memahami pesan yang hendak disampaikan Garin. Bahkan, saya berani menyebut The Iron Bed lebih bagus dibanding versi filmnya, Opera Jawa, yan menjadi induk cerita. Maka, tak aneh pula kalau The Iron Bed memukai publik Swiss saat dipertunjukkan dalam Zurcher Theater Spektakel 2008, sebuah festival seni yang melibatkan puluhan seniman dari 40 negara di Asia, Amerika Latin dan Afrika.

Mungkin karena tak terlalu banyak pretensi, sehingga Garin tidak terbebani dalam proses penyusunan karya. Sehingga, dari dirinya lahir karya tari yang nyaris sempurna. Padahal, tiga bulan latihan –tiga hari setiap pekan, bukanlah waktu yang memadai untuk menyusun sebuah karya sarat pesan. Enam bulan pun belumlah layak disebut sebagai waktu yang cukup untuk berproses.

Uniknya, tiga pekan sebelum mereka terbang ke Swiss, The Iron Bed belum matang betul. Saat menyaksikan presentasi pertama karya itu di ISI Surakarta, target 70 menit belum kesampaian. Malah, durasinya molor hingga hampir setengah jam. Yang terbayang saat itu, Mas Garin kesulitan memenggal adegan yang tak perlu. Ia larut dalam visualisasi yang memang indah. Bahkan, saat ia meminta komentar, saya menjawabnya secara sinis.

”Saya paham apa yang mau sampeyan sampaikan!” ujar saya.

”Asem! Bagaimana menurutmu? Aku serius,” tukas Kang Garin.

”Saya juga serius, kok. Intinya, saya wis mudheng,” jawab saya.

Dua pekan kemudian, undangan kembali datang. Dengan pembenahan di sana-sini dan memotong adegan yang semula panjang, akhirnya jadilah The Iron Bed sebagai karya tari yang bagus, enak ditonton dan perlu. Saya pun tercengang! Padahal saya tahu, menyutradarai Mas Miroto itu bukan soal gampang.

Melalui tulisan ini, saya sarankan Anda untuk menontonnya. Siapa tahu Anda sependapat dengan saya, bahwa The Iron Bed cukup bisa mengisi keringnya karya-karya tari bagus, yang diciptakan oleh seniman-seniman tari Indonesia, setidaknya sejak lima tahun terakhir.

Update :

Menyaksikan The Iron Bed ini, kita seperti sedang berada di dalam sebuah gedung bioskop. Mata benar-benar dimanjakan oleh visual-visual yang cantik, eksotis, seperti film-film Garin sebelumnya. Rasa ‘Jawa’-nya menjadi kabur, tidak seperti dalam Bulan Tertusuk Ilalang yang sarat unsur bedaya Surakarta (yang dimainkan oleh Mbak Hadawiyah) dan tembang-tembang klasik lantunan almarhum Ki Sutarman.

Jejak Garin sebagai sineas sangat terasa pada penyusunan koreografi The Iron Bed ini. Pendekatan editing pada film layar lebar sangat mendominasi model penyutradaraan. Alhasil, bagi yang tak memiliki referensi langendriyan, maka seseorang seperti dibawa ke alam teater-tari gaya Surakarta itu. Untuk yang film minded, bolehlah Anda mengasosiasikannya dengan film bisu, meski sebagian adegan ada ‘insert‘ tetembangan oleh pengrawit, yang juga masuk ke tengah arena pertunjukan.

Tak tahulah, saya seperti terlalu bernafsu menceritakan The Iron Bed kepada Anda. Habis, baru kali ini saya terpuaskan oleh sebuah pertunjukan tari karya orang Indonesia. Beberapa kali nonton pertunjukan pada event sekaliber Indonesian Dance Festival (IDF) dan Art Summit Indonesia sekalipun, saya baru terpuaskan oleh penampilan Yin Mei, Takiko Iwabuchi, dan Min Tanaka.

[Sejatinya, ada beberapa koreografer Indonesia yang berbakat. Tapi, ya begitulah dunia kesenian kita. Ada beberapa anak muda yang memiliki karya-karya bagus, kadang cuma diikutsertakan dalam showcase atau dimasukkan kategori emerging, sementara yang tua-tua sudah pada kehabisan ide, sehingga karyanya cuma begitu-begitu saja. Kalau kuratornya dibuat variatif antargenerasi, kira-kira kok bakal lebih bagus dinamika kesenian kita. Hehehe…..] Updated: 16 Okt 2008 12:49 PM