Festival Seni untuk Solo

*Sebuah catatan tentang SIPA

Selintas membaca kekecewaan orang terhadap pelaksanaan Solo International Performing Arts Festival (SIPA), saya jadi teringat obrolan dengan Pak Jokowi pada awal 2009. Kala itu, kami ngobrol mengenai penyelenggaraan festival seni (pertunjukan) yang berbobot, namun hemat biaya. Intinya, bagaimana pengeluaran dana APBD untuk penyelenggaraan tak perlu berjumlah besar, namun mengalihkan pembiayaannya dengan format kerja sama antarbangsa.

blog-GM_jokowi_sadra_etc

Obrolan santai antara alm. I Wayan Sadra, Mas Goenawan Mohammad, Kang Sitok Srengenge, Triyanto Triwikromo, Kang Bambang Paningron, Pak Jokowi dan teman-teman lain, seperti Mbak Sari Madjid di Pendapa Loji Gandrung, 15 Maret 2009.

Kira-kira, saya menyampaikan begini: dengan membuat festival seni pertunjukan (performing arts) bergengsi, maka akan mudah mencari sponsor. Minimal, pusat-pusat kebudayaan asing yang memiliki kantor cabang di Indonesia, seperti The Japan Foundation, British Council, Goethe Institut, Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Perancis, dan sebagainya, bisa diajak kerja sama mendatangkan artis-artis terbaik dari negeri mereka.

Rupanya, Pak Jokowi tertarik dengan gagasan itu. Maka, kami pun diskusi kecil, merancang sebuah pembahasan serius untuk menyiapkan sebuah kelembagaan festival. Artinya, sebuah festival dirancang serius dengan melibatkan para ahli di bidangnya. Prinsipnya, Solo sebagai kota dengan segudang maestro dan seniman musik dan tari bisa jadi alasan kuat menggelar festival, dan festival tersebut bisa menjadi aikon kota, yang memiliki dampak tak hanya penguatan kebudayaan, namun juga aspek sosial-ekonominya. Dengan banyak event bergengsi, maka akan banyak kelompok masyarakat yang turut menikmati.

Dengan festival, arus kunjungan orang dari berbagai daerah akan berimbas pada lakunya kamar hotel, mobil sewaan, pusat oleh-oleh (termasuk kerajinan batik), penjaja makanan dan warung-warung kuliner, dan seterusnya. Hal semacam itu sudah menjadi ciri Pak Jokowi. Mungkin karena latar belakangnya sebagai pengusaha, dia menjadi paham aspek monetizing sebuah event.

blog-kontrabass_goethe_9maret2004_0947

Pertunjukan Teter berjudul “KontraBass” oleh Wawan Sofwan (Bandung) di Goethe Institut ini hanya cocok dipentaskan di ruang pertunjukan mini, dengan dukungan akustik memadai.

Hasilnya, pada 14-15 Maret 2009, saya mengundang Mas Goenawan Mohamad, Sitok Srengenge, Bambang Paningron, Triyanto Triwikromo, Mbak Sari Madjid dan almarhum I Wayan Sadra untuk berbincang secara santai dengaan Pak Jokowi. Selain mereka, hadir juga Kepala Dinas Pariwisata Pak Purnomo Subagyo yang mengajak Mbak Irawati “Iil Kusumorasri.

Dimulai Sabtu (14/3) malam, sebagai moderator saya memulai dengan mempersilakan Pak Jokowi menyampaikan keinginannya. Pak Jokowi menjawab singkat, “Saya tak tahu kesenian, maka sebaiknya Pak Goen, Mbak Sari Madjid dan teman-teman saja yang berbagi bercerita. Nanti, kalau tidak tahu, saya akan bertanya,” ujarnya. Di tangannya, tergenggam buku catatan dan pulpen. Ia mencatat apa yang dianggapnya penting.

Esoknya, obrolan dilanjutkan di pendopo Loji Gandrung. Kami ngobrol santai, namun akhirnya direkomendasikan beberapa hal, seperti:

Menyiapkan yayasan sebagai lembaga pengelola festival. Lembaga demikian diperlukan, supaya aneka festival bisa berlangsung dalam jangka waktu lama, dan tidak terpengaruh pergantian rezim, baik walikota maupun kepala dinas pariwisata. Hal seperti itu dianggap penting, supaya ada keleluasaan mencari dana dari pihak ketiga, sehingga tidak memberatkan anggaran pemerintah.

Menyusun dewan kurator, supaya materi dan konsep festival menjadi kuat, kredibel dan dibutuhkan keberadaannya oleh banyak pihak. Tidak hanya oleh senimannya, namun juga warga kota, publik dalam arti luas, dan pemerintahnya. Intinya, manfaat festival benar-benar dirasakan oleh banyak kalangan.

Dari dua poin penting itu, sempat disepakati rancangan awal, berupa launching gagasan festival. Ketika itu, Pak Purnomo sebagai Kepala Dinas Pariwisata menyatakan masih punya alokasi dana sekitar Rp 140-an juta. Dana itu bisa dipakai untuk membuat festival.

blog_sapuan_langkah_panjang_13agt2005-0259

Pergelaran tari “Sapuan Langkah Panjang”-nya Mbak Wied Senjajani di Teater Arena Tamab Budaya Surakarta, 13 Agustus 2005 ini, pasti tak akan mudah dinikmati penonton jika dipentaskan di tempat terbuka.

Oleh Mbak Sari Madjid yang dikenal sebagai manager handal festival, diusulkan dana itu untuk launching saja. Jadi, cukup memilih sejumlah seniman penampil dengan pertimbangan kuratorial tertentu, untuk dipresentasikan pada sebuah gelaran sederhana. Rencananya, Pemerintah Kota Surakarta  akan mengundang semua direktur pusat kebudayaan asing di Jakarta, serta duta besar dari sejumlah negara.

Pertimbangannya, peristiwa seni pertunjukan juga bisa menjadi sarana pelaksanaan soft diplomacy, untuk merajut kerja sama antarbangsa melalui kebudayaan. Toh nyatanya, selama ini Kementerian Luar Negeri kerap menghadirkan wakil-wakil bangsa dari berbagai negara untuk belajar kesenian Indonesia. Kementerian Pendidikan pun juga punya program dharmasiswa, yakni semacam beasiswa untuk mahasiswa asing yang belajar di berbagai perguruan tinggi seni di Indonesia.

blog-takiko_iwabuchi_16juli2004-035

Koreografi Takiko Iwabuchi (Jepang) yang dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 16 Juli 2004 ini merupakan salah satu bentuk kerjasama kebudayaan antarbangsa. Pertunjukan semacam ini, pun akan kehilangan ruhnya jika digelar di tengah lapangan.

Kelak, melalui forum tersebut, bisa dikemukakan agar pemerintah asing yang memiliki perwakilan di Indonesia, bisa memfasilitasi kehadiran seniman-seniman dari negara mereka untuk tampil di sebuah festival di Solo, sementara Pemerintah Kota Surakarta, melalui sebuah yayasan festival, tinggal menanggung biaya akomodasi dan transpor lokal untuk delegasi seni mereka.

Menanggapi itu, Pak Jokowi setuju, hingga Pak Purnomo menawari saya menjadi ketua panitia penyelenggara. Saya jawab begini, “Pak, saya ngerti sedikit-sedikit soal begituan. Tapi, karena saya tak punya track record sebagai organizer, posisi saya malah akan mengundang banyak pertanyaan. Kalaupun dipaksakan, saya minta ijin diberi keleluasaan menunjuk pelaksana yang saya anggap lebih paham dan memiliki jam terbang tinggi.”

Usai pertemuan, hingga beberapa saat tak ada jawaban atau respon tegas. Hingga, tiba-tiba saya kaget, ketika ada publikasi rencana menggelar Solo International Performing Arts Festival (SIPA). Kecewa sih iya. Selain terburu-buru, saya mendapati banyak kejanggalan di kemudian hari. Mbak Iil, bahkan meminta kontak sejumlah seniman tari dan teater dari saya.

Mbak Iil, misalnya, lupa nama koreografer Bali, namun ingat karyanya. Begitu juga, ia meminta kontak Kang Rahman Sabur, pendiri Kelompok Payung Hitam, Bandung. Peristiwanya, kira-kira setengah bulan sebelum pelaksanaan acara.

Saya bingung. Karya koreografi I Nyoman Sura berjudul Bulan Mati yang ingin ditampilkan di SIPA pertama di panggung terbuka di Pamedan, Pura Mangkunegaran membutuhkan ruang tertutup dengan kwalitas akustik gedung memadai untuk bisa menangkap karya itu dengan segenap indera, yang tak cukup mata dan telinga saja. Sementara, untuk  karya teater khas Kelompok Payung Hitam, setengah bulan bukan waktu masuk akal untuk mempersiapkan karya mereka. Selain kuat pada eksplorasi fisik yang membutuhkan latihan hingga berbulan-bulan, gagasan-gagasan artistik sejumlah karya Kelompok Payung Hitam juga belum tentu cocok dipentaskan di tempat terbuka.

Bagi saya, hal itu menjadi kunci penilaian saya, betapa sangat serampangannya Mbak Iil dalam mengelola SIPA-nya. Dari tahun ke tahun, SIPA juga tak kunjung menunjukkan kekuatan konsep pemanggungannya, sehingga saya merasa tak perlu lagi menontonnya, termasuk gelaran tiga malam, 19-21 September 2013 ini. Seringkali terjadi, beberapa penampil yang dipublikasikan sebagai representasi sebuah negara, sejatinya ‘belum seniman’. Mungkin mereka penari di negaranya. Namun, lantaran sedang bersekolah di ISI Surakarta, misalnya, lantas dilabeli sebagai seniman dan mewakili negara mereka.

blog_hartati_ritus_diri_GKJ_15sep04_003

“Ritus Diri” karya Hartati ini dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, 15 September 2004. Meski secara visual cukup kuat dan mudah dinikmati, namun iringan musiknya tak akan bisa membawa penonton memasuki ruang dialog yang disodorkan koreografernya.

Jika mengingat peristiwa itu, saya jadi kian sedih saja. Ketika menjabat Walikota, Pak Jokowi sangat gelisah dengan obsesinya membangun Kota Solo. Aneka festival lahir pada masa kepemimpinannya, berduet dengan FX Hadi Rudyatmo sebagai wakil walikotanya. Saya ingat betul bagaimana di awal terpilihnya, saya tanya mengenai konsepnya tentang memajukan kebudayaan di kotanya. Kala itu, dia menjawab singkat: saya baru akan meminta dilakukan pendataan cabang seni dan potensinya, baru dibuat strateginya.

Pernyataan itu hampir selalu saya tagih setiap tahun, hingga pada tahun kedua masa baktinya, sudah bisa menyatakan dengan detil: jumlah sanggar seni, cabang seni dan jumlah seniman, termasuk para maestronya. Singkat kata, dia melakukan pekerjaan dengan terukur dan punya dasar. Maka, pada masa kepemimpinannya, di Solo lahir aneka festival seperti SIEM, SIPA, Solo Kroncong Festival (SKF), Solo Jazz Festival, dan banyak lagi, termasuk Solo Batik Carnival.

Keinginan Pak Jokowi menghadirkan aneka festival bergengsi dan tepercaya, rupanya kian sia-sia saja. Semoga, Pak Widhi sebagai Kepala Dinas Pariwisata bisa membenahi sistemnya. Paling tidak, supaya gelaran festival tak sekadar dapat ramainya saja, namun juga bisa memberi makna bagi kejayaan seni pertunjukan di Indonesia. Selain itu, Solo bisa menjadi kota alternatif untuk peristiwa budaya yang bengengsi, yang tidak hanya terpusat di Jakarta sebagai ibukota negara.

Bukan bermaksud mengecilkan jerih payah Mbak Iil, tulisan ini saya tujukan untuk seluruh seniman, pemikir budaya dan seluruh pemangku kepentingan, termasuk Dinas Pariwisata Kota Surakarta sebagai salah satu sponsor utama SIPA daan festival-festival lainnya.

Panggung Spektakuler Matah Ati

Tulisan ini sudah dipublikasikan di majalah Rolling Stone Indonesia, edisi Oktober 2012

Untuk pergelaran tari tradisi (Jawa), pemanggungan Matah Ati di Pamedan, Mangkunegaran, Solo, 8-10 September, boleh disebut paling spektakuler di Indonesia. Ia menjadi produk eksperimentasi pemanggungan unik, yang berhasil memadukan unsur-unsur artistik pop dengan tradisionalitas.

Secara umum, pertunjukan itu juga layak dicatat sebagai keberhasilan manajemen pemanggungan karya tradisi, baik dari sisi ‘penaklukan’ ruang hingga kehebohan event. Hari-hari itu, Solo dibanjiri pendatang dari luar kota, bahkan semua penerbangan dari Jakarta dipenuhi calon penonton, yang sebagiannya adalah pesohor dan selebritas industri pop, selain kelas menengah perkotaan.

Adalah Matah Ati, kisah percintaan pendiri Pura Mangkunegaran, Raden Mas Said (1725-1795) dengan gadis kebanyakan dari desa, Rubiyem, yang dipadukan dengan heroisme perlawanan terhadap Belanda di tanah Jawa pada pertengahan abad XVIII. Rubiyem adalah spirit sekaligus pelaku gerilya melawan Perserikatan Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oost-Indische Compagnie/VOC), cikal bakal penjajahan Belanda.

Dikisahkan, putra Pangeran Arya Mangkunegara dari Kraton Kartasura itu gemar olah fisik dan kebatinan, yang dalam pengembaraannya di pegunungan kapur selatan Wonogiri bertemu dengan gadis desa di Nglaroh, Selogiri. Dari perjumpaan dengan gadis desa itulah, hati Raden Mas Said tertambat dan lantas memperoleh sokongan moral luar biasa untuk gigih memberontak dominasi asing, yang turut merongrong kerajaan Kartasura melalui pemberontakan Raden Mas Garendi, hingga seluruh keluarga kraton menyingkir ke Surakarta.

Tak hanya mendukung moral perlawanan, Rubiyah yang kelak berjejuluk Bandara Raden Ayu Matah Ati, pun turut berperang dengan memimpin kaum perempuan petani. Maka, lengkaplah sudah semangat Raden Mas Said dan Rubiyah untuk melakukan perlawanan pantang menyerah. Jika harus berkalang tanah, maka semua harus rela menghadapi. Pun, begitu sebaliknya jika menang, maka kemuliaan menjadi milik semua.

Tiji tibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh. Tiji Tibeh, mati satu mati semua, mukti satu mukti semua. Begitu ‘wangsit’, semacam bisikan halus yang diterima lewat mimpi Raden Mas Said, sebagai jawaban atas pengembaraan laku batinnya yang panjang, sebagai respon atas penderitaan akibat penjajahan bangsa asing. Sebuah dendam bersama terhadap penindas, yang dirasakan pemimpin dan rakyatnya, yang dikelola dengan baik oleh Pangeran Sambernyawa.

***

Semangat kebersamaan –dalam suka atau duka, yang kian meredup dalam relasi sosial belakangan, itulah yang hendak diingatkan kembali oleh Atilah Soeryadjaya, melalui Matah Ati. Atilah kebetulan merupakan salah satu trah Pura Mangkunegaran, yang merasa ingin nguri-uri ajaran moyangnya.

Menggandeng Jay Subyakto sebagai Direktur Artistik, yang mengomandoi 250 penari, dan puluhan pengrawit dan kru panggung, Atilah dan kawann-kawan sukses menghadirkan pertunjukan menarik, yang tak hanya menghibur, namun juga meninggalkan pelajaran berharga bagi banyak orang, terutama seniman pertunjukan dan penyelenggara pertunjukan di Solo.

Kehadiran kembang api untuk menghadirkan efek dramatis adegan-adegan tertentu pada pentas langendriyan (semacam opera) cukup mengejutkan. Begitu pula penggunaan efek visual yang diarahkan ke tembok gedung Kavallerie-Artillerie, sehingga menghadirkan citra baru mampu menghadirkan panggung baru, cukup memukau penonton, sehingga repertoar sepanjang dua jam tak terasa panjang.

Satu sukses Matah Ati adalah kemampuan Jay menaklukkan ruang. Tak mudah menyulap lapangan terbuka menjadi panggung baru yang membuat penonton serasa menikmati sajian di dalam gedung pertunjukan beratap langit gemintang. Untuk menghadirkan suasana itu, Jay menutup sisi yang menghadap jalan raya dengan kain hitam setinggi lima meter, dan penutupan jalan menciptakan keheningan lantaran tak ada deru mesin mobil/motor terdengar.

Jay Subyakto memang tak sembarangan melakukan persiapan. Hampir sebulan sebelum pergelaran, kerangka panggung sudah didirikan, sekaligus untuk uji coba sistem panggung hidrolis. Meski pemanggungan sebelumnya di Esplanade, Singapura dan  Jakarta sudah terbukti sukses, Jay pun ingin mengulangnya kali ini. Balutan kain hitam pada kerangka panggung seperti menggenapkan capaian artistik lelaki kelahiran Ankara, Turki ini.

“Saya ingin menyajikan konsep pemanggungan dan pertunjukan yang tak hanya spektakuler, tapi mengena secara artistik. Dan, menggabungkan unsur moderen pada seni tradisi itu sangat menantang,” ujar Jay, beberapa hari menjelang pentas.

Dan, ucapan Jay terbukti. Rata-rata enam ribuan pengunjung memadati areal Pamedan, Mangkunegaran, setiap malam selama tiga hari berturut-turut. Bahkan, sebagian di antaranya berdatangan dari berbagai kota: Yogya, Semarang, Surabaya, Jakarta hingga luar Pulau Jawa.

Tata musik yang digarap Blasius Subono, dan koreografi yang ditangani trio koreografer Sudaryo-Kembul Nuryadi-Eko Supendi sanggup mengawal penampilan Fajar Satriadi (sebagai Raden Mas Said) dan Rambat Yulianingsih (Rubiyem).

Antusiasme penonton di luar area pertunjukan. Sebuah layar lebar dipasang untuk publik yang tidak kebagian tiket/undangan.

Kalaupun harus disertakan catatan, vokal Fajar dan Rambat kurang terjaga pada pemanggungan malam terakhir. Boleh jadi, mereka terkena imbas angin malam yang kencang menyapu lapangan. Kekurangpaduan gerak tari dengan musik iringan, meski tak terlalu mengganggu di beberapa adegan, menjadi alihkan oleh tata panggung dan tawaran artistik yang memukau. Kekurangan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang terbiasa menyaksikan pertunjukan tari di panggung-panggung kesenian.

 Satu lagi ‘keuntungan’ Jay dan penyelenggara, jarak panggung yang jauh dari penonton (jarak terjauh sekitar 70 meter) akan menjadikan orang terlena pada detil. Padahal, pada satu hal itulah, kekurangan Jay dan koreografer bisa dijumpai.

Catatan:

Harus diakui, pementasan Matah Ati cukup sempurna untuk media belajar manajemen penyelenggaraan sebuah pementasan. Selain detil artistik yang dipersiapkan, aspek promosinya pun luar biasa. Saya belum pernah menjumpai seniman-seniman Solo dan sekitar menggarap sebuah pertunjukan dengan perencanaan yang komprehensif. Memang, orang bisa saja berkomentar, “Wajar, Matah Ati bisa digarap seperti itu, wong dananya kuat.”

Meski aspek pendanaan menjadi faktor dominan, namun bukan mustahil untuk menirunya dengan cara membuat perencanaan yang matang. Dari sisi tata panggung, misalnya, Jay dan kawan-kawan sudah menyiapkan sejak sebulan sebelumnya. Mungkin itu sekaligus digunakan untuk ujicoba sistem hidrolis dan memastikannya bisa digunakan tanpa kendala. Dari aspek publikasi pun cukup mencengangkan. Semua orang seperti diiming-imingi sajian yang lain daripada yang lain.  Secara subyektif, saya bisa mengatakan memang akan jelas perbedaannya pementasan Matah Ati di Solo dengan di Jakarta dan Singapura yang digelar di area tertutup (indoor).

Yang sering terlewat, adalah mempertimbangkan potensi wisata dari sebuah gelaran event. Hotel-hotel di Solo penuh hari-hari itu untuk menampung penonton yang berasal dari luar kota. Tempat-tempat wisata kuliner, batik, kerajinan pun kebanjiran rejeki, begitu pula dengan taksi, usaha carter mobil, hingga pengayuh becak.

 

Festival dan Branding Kota

Seorang teman mengolok-olok saya ketika tahu ‘keterlibatan’ saya pada SIEM 2010. Apalagi, keterlibatan itu cukup strategis, sebab bentuknya siaran langsung melalui saluran internet (live streaming) selama lima hari festival berlangsung. Sang teman tak salah, meski tak lantas bisa dikatakan benar sepenuhnya.

Pada SIEM pertama pada 2007, saya merasa (sok) tahu betul akan seperti apa jadinya festival itu dengan menyimak sebagian orang yang terlibat, termasuk sistem kuratorialnya. Dan terbukti, prediksi saya tak jauh meleset. Pada festival kedua (2008), saya mulai melihat adanya koreksi dari penyelenggaraan pertama, sehingga hasilnya lebih baik meski secara venue, kurang greng.

Pada SIEM ketiga, 7-11 Juli lalu, pengorganisasiannya terasa jauh berbeda dibanding sebelum-sebelumnya. Lebih tertata, rapi dan venue-nya membuat nyaman semua orang: ya penampil, ya penonton. Bahwa kekurangan masih ada, itu hal biasa. Lumrah-lumrah saja.

Lolosnya Sonofa dari kurasi yang diawaki duet etnomusikolog Rahayu Supanggah dan Dwiki Dharmawan, misalnya, cukup mengagetkan. Tapi ya sudah, toh secara pemanggungan cukup atraktif, karenanya penampilan mereka juga memperoleh apresiasi memadai dari penonton. Soal warna musik techno jauh dari kesan etnik, biarlah itu menjadi urusan para kurator.

Penampilan Bandanaira yang dimotori duet Lea Simandjuntak (vokal) dan Irsa Destiwi (keyboardist), pun memperoleh applaus penonton, meski sama sekali tak terasa etniknya.

Bisa jadi, masuknya Sonofa atau Bandanaira pada Festival Musik Etnik yang kini disisipi kata contemporary, sebagai bagian dari strategi menggaet penonton. Orang mafhum, sebuah festival berlabel ethnic music cenderung diasosiasikan sebagai irama yang ‘asing’ dan ‘tak enak didengar’ (apalagi berhari-hari), sehingga berpotensi menjemukan.

Anehnya, penonton begitu cair. Semua irama dan warna diembat tanpa peduli lagi dengan istilah kontemporer atau bukan dan etnik atau tidak etinik. Jenis instrumen sebagai sumber bunyi tak disoal, apalagi jauh-jauh mikir aliran. Maka, alunan jazz (seperti ditunjukkan Dwiki Dharmawan dan Krakatau-nya), Kroncong Tenggara dengan Dian HP dan Ubiet pun dilahap semuanya.

Ibarat orang makan, penonton mengunyah semua makanan: entah calungnya Darno, gamelan Pak Subono, hingga tetabuhan perkusi ala Dol dari Bengkulu.

Dalam bahasa ekonomi, pasar musik di Solo tak pilih-pilih. Nyatanya, penonton tak pernah meninggalkan ribuan kursi yang disediakan panitia sebelum pertunjukan diumumkan berakhir. Tentu, mereka bukan asal menikmati keramaian, apalagi nyucukaké gratisan.

Bahwa penonton yang nrima tak bisa dijadikan alasan melonggarkan kriteria kuratorial, saya akan mengatakan YA. Tapi pada sebuah proses, apalagi dari festival satu ke festival yang lain sudah menampakkan perubahan, juga harus diapresiasi sepadan. Apalagi, menyiapkan festival tak melulu pada urusan penampil, namun juga soal pembiayaan yang tak ringan.

Lalu, di mana posisi saya?

Saya bukan pengikut model FPI yang hanya bisa bilang ‘kalau tidak ini, tidak!’. Bukan. ‘Keterlibatan’ saya dalam SIEM 2010 adalah bersama-sama teman Blogger Bengawan, sebuah kumpulan cair dengan beragam latar belakang, namun memiliki misi turut menyebarluaskan kebaikan dan berbagi pengalaman.

Kebetulan, Pemerintah Kota Surakarta bekerjasama dengan PT XL Axiata Tbk., sebuah provider internet berkedudukan di Jakarta, mendukung event dua tahunan tersebut, dan menggandeng kami, para blogger, untuk terlibat di dalamnya.

Berpedoman pada misi komunitas, maka kami mewujudkan apresiasi atas langkah-langkah baik Pemerintah Kota Surakarta, di mana menggelar festival dalam rangka branding kota, agar Solo (tepatnya Sala, atau Surakarta) menjadi kawasan yang nyaman untuk pelesiran, menggelar aneka pertemuan dan bisnis serta pameran-pameran (MICE), seperti halnya Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau Bali.

Kami yakin, kemajuan kota akan sia-sia belaka manakala rakyatnya tak sejahtera. Nah, event seperti SIEM dan peristiwa budaya lainnya yang lantas mendukung Solo sebagai kota pertemuan penting, seperti ditunjukkan lewat konferensi dunia untuk kota-kota bersejarah (World Heritage Cities) atau Konferensi Menteri-menteri Perumahan dan Perkotaan (APMCHUD).

Tak cuma itu, ketika Kementrian Luar Negeri menggandeng Komunitas Blogger Bengawan untuk menggelar seminar tentang capaian-capaian kerjasama di tingkat ASEAN, pun muncul komitmen-komitmen menarik. Saat Indonesia memimpin Sekretariat ASEAN pada 2011-2013 mendatang, misalnya, dijanjikan bakal ada pertemuan-pertemuan regional di Solo. Juga, bakal ada potensi kesempatan bagi produsen kerajinan, industri manufaktur dan pelaku seni-budaya, untuk melakukan lawatan ‘diplomatis’ ke mancanegara.

Semua event, pasti bakal mendatangkan potensi lain. Multiplier effects sebuah peristiwa atau capaian juga kian terbuka. Dari sanalah, pintu pemerataan kesejahteraan akan terbuka. Ya pedagang makanan, tukang pijat, sopir taksi hingga pelaku usaha, entah produsen batik, pedagangnya, juga para buruh-buruhnya. Itu saja nalar sederhananya.

Opera Jawa Versi Dua

Garin Nugroho seperti kesengsem pada dua hal: kisah Ramayana dan penyutradaraan tari. Setidaknya, itulah yang saya perhatikan dalam empat tahun terakhir.

Pada kisah Ramayana yang berintikan peperangan Rama (sebagai simbol kebaikan) versus Rahwana yang berkonotasi jahat dengan bumbu pesona kecantikan Sinta, itulah Garin mengeksplorasi habis-habisan. Lewat film Opera Jawa (2006), ia bahkan menyabet pujian publik film tingkat dunia.

Dari film itu, ia lantas mengembangkan pada bakat keduanya, sebagai sutradara tari. Dengan melibatkan koreografer Eko Supriyanto (Solo) dan Martinus Miroto (Yogya), Garin melahirkan The Iron Bed (2008). Hasil pernyutradaraan dengan pendekatan filmis itu bahkan memukau seniman dari beragam cabang dan aliran yang berkumpul di Swiss dalam forum Zurcher Theater Spektakel, pada pertengahan 2008.

Sukses di festival seni yang melibatkan puluhan seniman dari 40 negara di Asia, Amerika Latin dan Afrika itu, The Iron Bed lantas diminta tampil dalam Indonesian Dance Festival di Jakarta, tahun lalu. Sebuah apresiasi yang menarik, mengingat Garin ‘hanya’ pendatang baru di dunia seni pertunjukan, meski ia pernah menyutradarai pertunjukan drama semasa SMA di Semarang dulu.

Oh, ya, hampir saya lupa. Kata Garin, sepulang dari Swiss, resensi The Iron Bed yang saya buat dan dipublikasikan di The Jakarta Post, katanya memperoleh pujian dari Robert Wilson, art director kelas dunia yang menjadi penggagas acara di Swiss itu. Aha!! Senangnya hati saya…..

Saat diberitahu soal itu, pun saya berlagak merendah dengan mengatakan tak mungkin ada resensi yang bagus kalau materi yang diresensi jelek.

Tapi, sungguh menarik mengamati metamorfosa Garin. Semula, saya mengenalnya sebagai penulis yang kritis. Ketika itu, akhir 1980-an hingga pertengahn 1990-an, karya-karya tulisnya kerap mejeng di halaman opini harian Kompas. Dia masih menyebutkan identitasnya sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Beberapa teman kuliah saya yang kagum padanya, sudah dua orang yang meniru jejaknya, menekuni dunia tulis-menulis dan menjadi sineas andal. Keduanya pernah meraih penghargaan kelas dunia pula.

Kembali ke soal penyutradaraan tari, harus diakui dia memang piawai. Talentanya kuat, bahkan garapannya lebih detil dari koreografer pada umumnya.

Tapi, yang selalu menggelitik saya hanya satu: soal penampilan sosok perempuan sebagai tokoh sentral. Baik pada film Surat untuk Bidadari, Bulan Tertusuk Ilalang, Daun Di Atas Bantal, hingga Opera Jawa, Garin menempatkannya sedemikian rupa. Simbol-simbol feminin juga kuat pada semua karyanya, termasuk pada karya tari The Iron Bed dan yang kedua, yang diberi judul sama dengan filmnya: Opera Jawa.

Semoga, Opera Jawa yang menonjolkan ciri Langendriyan atau operet versi Jawa menuai sukses dipentaskan di Belanda, paruh kedua tahun ini. Melihat pertunjukan ‘perdana’ di ISI Surakarta, tiga hari lalu, saya optimis Garin sanggup mempertanggungjawabkan orisinalitas garapannya, meski koreografinya ditangani Eko Supriyanto.

Bukan Musik Biasa

Banyak komponis dan musisi menjadikan forum Bukan Musik Biasa sebagai ajang nètèr kadigdayan (menjajal kemampuan). Juga, sekaligus sebagai tempat promosi dan memperkenalkan komposisi hasil kerja kreatifnya. Bukan Musik Biasa memang dirancang sebagai forumnya orang-orang di luar yang mainstream. Mau coba? Gratis!!!

Kalau Anda bertanya gratisnya di mana, jawabannya adalah gratis segala-galanya. Nonton tak keluar duit (malah dapat suguhan minum), yang tampil tak dibayar, pekerjanya tak diberi honor, bahkan panitianya pun bekerja sukarela. Kalaupun ada perkecualian, hanya untuk satu jenis kontribusi, yakni pembicara. Dialah narasumber yang sengaja dihadirkan untuk membahas atau mengomentari penampilan.

Dalam sekali penyelenggaraan, beberapa grup tampil bergantian. Dan usai pentas, dilakukan diskusi bebas. Si seniman menyampaikan gagasan dan argumentasi atas karya yang baru saja dipentaskan, narasumber ikut membahas, dan pengunjung pun bisa (bahkan diharapkan) menyampaikan apresiasinya. Terbuka, dan yang penting konstruktif.

Meski serba gratisan, forum yang digelar setiap akhir bulan ganjil, ini nyatanya langgeng hingga tiga tahun. Sabtu, 30 Januari, malam nanti merupakan penyelenggaraan yang ke-17 kalinya. Bertempat di pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (terkenal dengan sebutan TBS, Taman Budaya Surakarta), forum ini sudah dikenal di kalangan komponis/musisi kontemporer se-Indonesia.

Komponis/musisi dari Padang, Makassar, Jakarta, Surabaya, Bandung dan berbagai pelosok negeri lainnya, juga datang sukarela. Ada yang berbiaya sendiri, ada pula yang disponsori. Panitia, hanya bisa membantu rekomendasi untuk keperluan artis, dan menanggung penginapan serta kebutuhan makan selama di Solo.

Inisiatornya adalah I Wayan Sadra, komponis asal Bali yang kini mengajar di ISI Surakarta. Ia enggan disponsori dengan alasan takut terkontaminasi politik uang. “Spiritnya adalah kebersamaan dalam sebuah proses pencarian. Uang kerap mengganggu karena prasangka bisa bermula dari sana,” ujarnya, suatu ketika.

Sejauh ini, Taman Budaya Surakartalah yang memberi fasilitas bagi seniman. Intinya, agar komponis dan musisi bisa berkreasi dan mengekspresikannya dengan leluasa. Soal pilihan sumber bunyi, tak ada batasan. Mau pakai kaleng, instrumen musik tradisional hingga combo band pun tak jadi soal. Diatonis, pentatonis atau campuran keduanya pun bukan jadi batasan. Pokoknya, eksplorasi bunyi yang berujung pada sajian musikal.

Bila Anda tertarik, salah satu penampil malam ini adalah Purwa Askanta. Seorang musisi biola, yang kesehariannya adalah pengajar musik di Jurusan Karawitan, ISI Surakarta. Ia juga sudah melanglang buana, baik sebagai salah satu musisi Twilite Orchestra, maupun dengan kelompok-kelompok lain, termasuk dari kampusnya.

Siapkan diri Anda menemukan ‘keanehan-keanehan’ di dalamnya. Dimulai pukul 20.00 dan bisa berakhir kapan saja, sampai pengunjung ‘bosan’ berdiskusi atau si seniman kehabisan argumentasi. Hehehe… Karena Bukan Musik Biasa, maka siap-siap saja kalau ternyata warna musikalnya masih asing di telinga Anda, atau sebaliknya bentuk penyajiannya yang tak biasa. Ya, sesuai namanya lah…..