Sega Wiwit

Hari ini, saya berbuka puasa dengan menu arkais. Namanya, sega wiwit. Sega (Jawa) adalah nasi, dan wiwit (Jawa) berpadanan dengan awal, mulai, atau permulaan. Sega wiwit adalah menu khusus untuk sesaji kepada Dewi Padi, karena dibuat khusus hanya untuk selamatan menjelang panen padi.

Sesaji dibuat dengan aneka menu panggang/bakar tanpa bumbu. Ayam kampung, gereh (ikan asin) dan tempe bakar/panggang diarak ke sawah. Paket lengkapnya, terdiri dari aneka buah seperti mentimun, jeruk, trancam/karedok, rempeyek kedelai, juga telur rebus serta perlengkapan sesaji lainnya seperti lombok merah panjang dan bawang merah yang ditusuk dengan lidi lantas ditaruh di pojok sawah.

Beruntung, saya menemukan makanan yang saya sukai sewaktu masih kanak-kanak hingga remaja dulu. Dan, saya menemukan sebuah warung makan sederhana, tak jauh dari rumah orang tua saya di sebuah desa, di Klaten.

Saya masih ingat, ada seorang penjahit tetangga kampung, yang selalu mengolok-olok saya setiap ketemu. Om Pardi namanya. Dia selalu ingat masa kecil saya, yang suka berburu orang wiwit. Rombongan wiwit biasanya dipimpin perempuan tua, berjalan di pematang sawah dengan tungku dan kemenyan di tangan. Belasan anak-anak biasa mengikuti dari belakang.

Dari rombongan panjang dengan asal mengepul di depan, saya bisa menebaknya sebagai rombongan wiwit, walau dari kejauhan. Apalagi, rumah yang saya tinggali berada di pinggir desa, menghadap sawah dan dipisahkan jalan kampung.

Selain sega wiwit, sebenarnya ada sesaji serupa, dengan menu sama. Kalau wiwit dilakukan menjelang panen, yang satunya disebut nedhuni, yang dilakukan hanya beberapa hari setelah musim tanam padi. Bisa dikatakan, nedhuni dan wiwit merupakan pasangan. Yang satu doa meminta kesuburan dan yang satunya sebagai ungkapan syukur karena segera menuai panen.

***

Entah kenapa, saya selalu menyukai menu-menu arkais seperti sega wiwit itu. Mungkin semacam romantisme masa lalu, ketika kanak-kanak suka bermain di sawah dan sungai di pinggir desa. Tentu, kerinduan ikut nedhuni dan wiwit akan menghadapi jeda semusim, ketika padi digantikan tanaman palawija. Penantian akan menjadi lebih lama lagi jika jeda padi diisi tanam tembakau, atau tebu yang usia panennya lebih panjang.

Tak cuma sega wiwit dan nedhuni, makanan sesajian seperti upacara selamatan juga saya suka. Terakhir, saya makan nasi kenduri, untuk selamatan proses syuting FTV Pensiunan Monyet di Solo, beberapa bulan lalu. Saat syuting di kompleks PG Colomadu, beberapa pengelola bekas pabrik gula milik Pura Mangkunegaran itu menyarankan agar kru FTV menggelar kenduri. Konon, daerah itu terkenal angker.

Singkat cerita, saya ikut menikmati ingkung ayam kampung, nasih gurih dengan kedelai goreng dan urap, juga pisang raja. Nyam…nyammm…..

Siapapun And yang pernah punya masa kecil di desa-desa di Jawa, pasti pernah mengalaminya. Tentu, mereka yang kini berusia 40 tahunan. Sebab kini, tak ada lagi petani menggelar sesaji seperti wiwit dan nedhuni. Mungkin sudah rasional….

Tapi, terlepas dari semua itu, saya menyukainya. Malah, saya berencana menghadirkan menu spesial itu untuk beberapa acara yang akan saya dan teman-teman selenggarakan. Semoga Sabtu (13/8) mendatang, beberapa teman yang ke Solo akan ikut merasakannya untuk berbuka puasa. Pak Bondan, menu ini djoega lajak dipoedjiken. Asli…. :p

Belut dan Langgi Mas Kuwat

Mas Kuwat memang dahsyat. Di angkringan tempat dia buka lapak wedangan, ada belut goreng unggulan yang dijajakan. Belut goreng, asli hasil tangkapan sawah, bukan belut piaraan seperti banyak diperdagangkan. Belut goreng Mas Kuwat menjadi pelengkap kita menyantap nasi langgi, nasi bungkusan yang tak pantas disejajarkan dengan sega kucing, yaitu nasi bungkus dengan sambal dan bandeng seuprit.

Angkringannya masih angsli, beda dengan kebanyakan wedanganBelut sawah goreng dan nasi langgi termasuk dua dagangan unggulan Mas Kuwat. Meski angkringan baru dibuka jam 17.30, jangan harap Anda masih kebagian keduanya pada jam 19-an. Walau berdagang di Delanggu –tepatnya utara traffic light sebelah barat jalan, banyak orang Solo menjadi pelanggan setianya.

Saya baru mengenal angkringan Mas Kuwat sekitar empat tahun silam, atas rekomendasi seorang teman di Solo. Menurut promosi sang teman, teh Mas Kuwat enak tenan! Dia memprovokasi begitu karena tahu saya penyuka teh. Daaannn…. ternyata selera teman saya agak kacau. Teh bikinan Mas Kuwat sedang-sedang saja sebenarna. Kalau wedang jahenya, OK-lah, kalau mau dibilang enak, maka saya masih rela mengamininya.

Cuma belut dan nasi langgi sajakah yang enak? Ternyata tidak. Tempe dan tahu bacemnya enak, begitu pula peyekcrispy. Pisang gorengnya juga top markotop. Berbahan pisang raja, ’bedak’ tepungnya tak setebal bantal. Karena banyaknya kelebihan itulah, saya berani merekomendasikannya untuk Anda. kacang tanahnya yang empuk dan

Bagi Anda yang suka ngumbah mata, selepas magrib adalah waktu yang tepat untuk merapat. Banyak perempuan muda yang datang memborong belut, nasi langgi atau nasi oseng. Sedang orang-orang Solo yang suka singgah sepulang bepergian, biasanya memborong nasi langgi dan aneka bacem.

Bagi sebagian pembeli asal Solo yang lain, konon suka datang menjelang tengah malam. Mungkin mereka mencari suasana yang tak terlalu bising sebab hingga selepas petang, masih banyak bus yang menaik-turunkan penumpang di dekat angkringan Mas Kuwat. Anda pasti sudah bisa membayangkan suara bising knalpot saat bis-bis besar itu melakukan angkatan atau start jalan.

Anda ingin mencobanya? Sebaiknya jangan datang kelewat malam kalau ingin menikmati aneka sajian. Kecuali, memang Anda cuma butuh nge-teh dan berbincang-bincang.

Oh, iya. Ada satu ciri yang membedakan angkringan Mas Kuwat dengan penjaja yang lain. Dia masih menggunakan angkringan asli. Dulunya, dengan angkring seperti itulah pedangan wedangan berkeliling keluar-masuk kampung menjajakan dengan cara memikul angkring. Penjual akan berhenti, melayani pembeli hingga puas sebelum ia meneruskan perjalanan dengan rute sama setiap harinya.

Kini, penjaja model angkringan sudah sulit dijumpai. Kabarnya, di Solo pun masih ada satu penjaja keliling. Tapi, saya belum menyaksikan dengan mata sendiri.

Nikmat Teh Kombinasi

Tak usah jauh-jauh ke Slawi atau Tegal untuk menikmati seduhan teh yang mantap. Di Negeri Poci itu, lidah tak terdidik pun bisa memaksa siapapun mengucap enak, walau masuk di sembarang warung. Mengapa harus ke Tegal? Nah, untuk menjawab itulah saya ingin berbagi pengalaman dengan Anda, untuk menikmati teh sembari baca-baca di teras.

Teh Seduhan

Kombinasi teranyar baru saya temukan dua pekan silam, dari perpaduan antara teh cap Tjatoet, Gopek, Dua Tang, Dandang dan Tong Tji –semuanya produksi Slawi, Tegal. Sepet yang terasa kuat diperoleh dari unsur Tjatoet, sementara wanginya saya dapatkan dari Tong Tji. Keduanya sejenis, sama-sama jasmine tea. Aroma dari lereng Gunung Lawu pun dimasukkan, dengan menambahkan teh Kemuning.

Rasa itu mengalahkan kombinasi favorit saya sebelumnya, yakni Nyapu dan Sintren. Meski enak juga, kombinasi lama ini terasa lebih ringan, walau tak bisa disebut lamat-lamat. Banyak warung-warung wedangan di Solo menjadikan kombinasi Nyapu dan Sintren sebagai sajian favorit.

Warna seduhan kombinasi yang satu ini juga tampak lebih terang/bening dibanding kombinasi yang baru saja saya temukan. Namun, warna hasil seduhan TjatoetTong Tji-teh Kemuning bisa membuat serem bagi orang-orang yang bukan maniak teh. Orang-orang Jakarta yang terbiasa dengan teh celup model Sari Wangi, misalnya, akan jiper begitu melihat warnanya, apalagi bila disajikan dengan gelas bening.

Lidah-lidah orang kota seperti Jakarta, yang (menurut saya) sama-sama pragmatisnya dengan rata-rata prinsip hidup mereka, akan kaget atau berteriak kepahitan bila berjumpa teh model demikian. Apalagi mereka yang sejak masa kecilnya sudah didikte dengan minuman kemasan, sirup atau teh ala kadarnya. Ya, maklum saja, rata-rata orang kota hanya mengenal merek teh dari iklan media massa, lalu menyuruh pembantu membeli teh sesuai iklan yang didapatnya.

Beberapa teman di Solo lebih menyukai kombinasi tiga merek sekaligus: Nyapu, Sintren dan 999. Tapi, setelah saya coba, unsur triple-nine itu nyaris tak memiliki kontribusi apa-apa. Rasanya hampir tak jauh beda. So, malah lebih boros, kan?

Oh, iya, sebelum lupa, saya ingatkan kepada Anda. Bila menginginkan yang sedang-sedang saja, dua sendok makan teh sudah cukup untuk diguyur air secangkir. Tinggal selera Anda, mau model teh tubruk atau saring. Soal manis-tidaknya, silahkan menambah gula sesuai selera. Namun, untuk penyuka teh seperti saya, tiga sendok makan baru bisa disebut masuk hitungan.

Tapi di antara formula lama dan yang baru ditemukan, tetap saja membuat saya tergoda melakukan eksperimen-eksperimen lanjutan. Teh hijau pun saya masukkan sebagai unsur tambahan. Begitu juga teh 2 Tang yang pernah lama jadi teh tunggal favorit saya. Teh cap Dandang atau teh cap Djempol yang sudah saya cecap sedari kanak-kanak pun masuk jenis yang terus saya eksplor.

Yang pasti, hingga kini saya sudah mendapatkan empat varian, dengan resep berbeda-beda. Ada yang light untuk pemula, dengan aroma lebih wangi karena unsur melati. Yang ini dibuat karena ada beberapa masukan dari kebanyakan perempuan, yang merasa lebih suka rasa sedang, sebab terlalu sepat kadang membuat perut mulas. Lantas varian yang saya klasifikasikan sebagai reguler dengan wangi dan sepat sama-sama sedang. Yang ketika, saya namai super karena wanginya kuat dan sepatnya nendang. Dan, varian keempat merupakan racikan khusus bagi tea addicted atau maniak. Saya memberi julukan premium lantaran hanya orang-orang aneh atau luar biasa, yang menyukai jenis ini. Jumlahnya tidak banyak, tapi benar-benar penikmat teh.

Teh Celup

Khusus bagi Anda yang sering bepergian dalam waktu lama namun kesulitan memperoleh kenikmatan saat ketagihan datang, saya rekomendasikan beberapa merek. Tong Tji, 2 Tang, Sosro atau Kepala Djenggot sudah cukup. Namun saya ingatkan, khusus teh celup Sosro, pilihlah yang jenis Premium, jangan Sosro yang banyak beredar di warung-warung. Kalau yang itu, sih, cuma beda-beda tipis dengan Sari Wangi, yang hanya pas untuk lidah pemula.

Yang perlu saya ingatkan pula, jangan sekali-sekali tergiur brand asing. Lipton dan Dilmah yang banyak diandalkan restoran dan hotel-hotel berbintang itu hanya menang wah. Padahal, wah­-nya cuma di harga, bukan rasa. Cuma, ya mesti maklum. Karena menang promosi dan sukses di pencitraan, jangan kaget kalau di tempat-tempat beginian, Anda tak bakal mendapatkan teh yang mantap, enak dan bikin ketagihan.

Sayang, teh celup bikinan perusahaan swasta asing itu sudah mendominasi hotel dan restoran mewah di berbagai kota di Indonesia. Tapi, biarkan saja. Toh, yang menikmati tak seberapa, cuma itu-itu saja.

Kopi Lelet

Tempat untuk meletakkan rokok yang sudah diolesi kopi lelet

Tempat untuk meletakkan rokok yang sudah diolesi kopi lelet

Sebagai penyuka kopi, memang belum banyak yang pernah kucicipi. Tapi kopi lelet khas Rembang yang kunikmati beberapa hari lalu, sungguh beda. Di beberapa tempat, kopi lelet disajikan dengan cara pangkon, si pembeli dipangku penjaja cinta. Huff…ada-ada saja, ya……….

Kopi pangkon seperti menjadi keniscayaan, sebagai varian baru tamba ngantuk, agar para sopir pelintas jalur pantai utara Jawa tak tertidur waktu berkendara. Juga, sebagai pengganti obat masuk angin cair, atau bahkan minuman beralkohol yang biasa ditenggak, sebagai teman perjalanan.

Pahitnya kopi lelet memang masih kalah dibanding espresso, tapi efek ngantem­-nya lebih berasa. Bagi yang tak biasa ngopi, pastilah senut-senut kepala dibuatnya, hanya sesaat usai menyeruputnya. Begitu pula bagi para ahli hisap alias perokok, yang suka mengoleskan ampas kopi di luar pembungkus tembakau.

Ya, orang Rembang menyebutnya sebagai kopi lelet, meski saya lebih sreg menyebutnya sebagai kopi lèlèt. Sebab ampas halusnya biasa dijadikan sebagai obat oles agar rokok kian berat dan mantap dihisap. Saking gemarnya orang mengoles rokok dengan ampas kopi, membuat semua pemilik warung kopi menyediakan tempat khusus untuk meletakkan rokok olesan hingga kering.

Konon, kopi lelet yang menjadi ikon Rembang sudah tersebar di sepanjang pantura timur hingga Gresik lalu masuk ke Sidoarjo dan Surabaya. Orang-orang Surabaya yang dikenal sebagai pecandu kopi, pun jadi kian mengenali kopi lelet atas jasa para sopir bus dan truk, yang rajin singgah di Rembang lalu membawanya sebagai oleh-oleh.

Seperti hendak mengangkat kopi lelet sebagai ikon daerah, Kiai Mustofa Bisri alias Gus Mus, bahkan menggubahnya menjadi syair lagu yang kini seolah menjadi lagu wajib para pengamen di sana. Gus Mus juga melukis dengan lelet campur nikotin tembakau, sehingga karya-karyanya pernah singgah di galeri dan kolektor.

Seni membatik rokok dengan adonan kopi lelet dan krimer cair

Seni membatik rokok dengan adonan kopi lelet dan krimer cair

Kalau tak keliru, goyang Inul Daratista pun pernah diangkat ke atas kanvas dengan sapuan lelet-nikotin. Bersama karya-karya lainnya, goyang Inul itu bahkan disuguhkan ke hadapan sejumlah kiai, seolah-olah seperti sentilan yang menawarkan wacana ‘baru’, ketika sebagian tokoh agama ikut-ikutan mengharamkan penampilan Inul di depan publik. Kita kahu, kiai yang sudah berhenti merokok itu memang eksentrik.

Menurut penuturan beberapa teman, ada pula sebuah warung yang rajin menggelar lomba membatik pada rokok dengan bahan lelet. Acara digelar tahunan, biasanya setiap hari raya Idul Fitri, dengan hadiah beragam, di antaranya lemari es untuk pemenang pertama.

Seperangkat alat nglelet

Seperangkat alat nglelet

Uniknya lagi, kopi lelet seolah-olah produk asli Rembang, seperti halnya kopi Toraja yang merujuk asalnya. Kota di ujung timur Jawa Tengah itu, meski dikitari pegunungan, sejatinya tak memiliki kebun kopi. Entah darimana kopi-kopi itu didatangkan. Brand lelet sebagai kopi Rembang hanya terletak pada kehalusan bubuknya.

Menurut cerita yang berkembang, biji-biji kopi yang didatangkan dari luar daerah itu digiling hingga delapan kali untuk mencapai tingkat kehalusan tertentu. Di pasar-pasar tradisional, konon banyak penjual jasa penggilingan kopi jenis ini.

Dan sepanjang yang kuketahui, kehalusan kopi lelet sebanding dengan kopi cap Dua Rencong, kopi pabrikan asal Aceh yang pernah kukenali 25 tahun silam. (Kalau masih ada yang tahu dimana mendapatkan kopi Dua Rencong, kabari aku, ya?)

Dimana mendapatkan kopi-kopi itu? Jangan kuatir, warung-warung penjaja kopi terhampar di seluruh penjuru Rembang. Kalau mendapati krimer cair di meja, jangan keliru sangka. Itu bukan semata-mata untuk menghasilkan rasa berbeda, namun sejatinya berguna untuk membuat adonan lelet agar kuat melekat pada rokok. Sehingga, bila Anda membatik dengan adonan kopi lelet-krimer, hasil batikannya pun akan terlihat lebih halus dibanding yang lawaran alias residu semata.

Jangan salah, yang ini bukan mbak-mbak penjaja kopi pangkon

Jangan salah, yang ini bukan mbak-mbak penjaja kopi pangkon

Perlu saya ingatkan, hati-hati saja dengan warung-warung kopi di sepanjang jalur panturanya. Salah-salah, Anda akan marah-marah kalau tiba-tiba ditubruk penjajanya, padahal belum terucap jenis minuman apa yang akan dipesan. Beberapa warung memang sudah menuliskan kode unik, seperti tulisan bisa memijat; terima pijat dan sebagainya.

Nah, kalau ketemu yang begini, sebaiknya dicamkan baik-baik grafiti yang sering kita jumpati di bak-bak truk: ingat, anak-istri menunggu di rumah….

Ayam Tim Goreng Mbok Iyem

Dilihat dari namanya saja sudah kelihatan kerendahhatiannya. Mbok Iyem! Sebuah nama, yang karena menyertakan kata mbok bisa disalahpahami anak-anak Jakarta sebagai penuntun sebuah identifikasi yang merujuk pada eksistensi seorang pembantu. Oke lah, kita pakai saja kesalahan itu.

Mbok Iyem memang orang desa, dan hingga kini dia tinggal di sebuah desa. Rumahnya agak njlepit, tersembunyi, di kaki Gunung Lawu tepatnya.

Jangan lihat hasil jepretannya, tapi buktikan saja rasanya...

Jangan lihat hasil jepretannya, tapi buktikan saja rasanya...

Andai Mbah Umar Kayam masih sugeng, mungkin saya masih akan ditugaskan Pak Murtidjono menjemput pesinden yang berpakaian adat Jawa lengkap, dengan jarit dan kebaya plus selendang. Tidak untuk nyindhen, namun hanya menemani makan di ruang tengah rumah Mbok Iyem.

Dhahar atau bersantap di ayam tim goreng Dewi Sri alias Bu Better saja, Mbah Kayam sebagai pemilik indikator rasa terhebat yang saya kenal, pun sudah terkesima. Apalagi di rumah Mbok Iyem yang ndesa, dan khas rumah Jawa. Mr Rigen, juru masak kampiun keluarga Pak Ageng dalam serial Mangan Ora Mangan Kumpul sekali pun pasti akan iri pada Mbok Iyem.

Di ruang itulah, Mbok Iyem benar-benar melayani setiap tamu, khushushon yang hobi keplèk ilat, memanjakan lidah dengan menyantap ayam yang sebelum digoreng sudah ditim terlebih dahulu. Tidak melunakkan tulang, memang. Tapi dagingnya, luar biasa empuknya!

So, ayam goreng itu layak disebut kelewat ramah, bahkan bagi yang berumur kelewat uzur. Sang anak atau cucu tak perlu ragu gigi kakek/neneknya bakal tanggal ketika menggigit. Lebih empuk dibanding irisan mentimun yang disajikan sebagai lalapan, pelengkap sambal lombok hijau yang sedap. Nyam..nyam nyammm!!!

Mbok Iyem, sungguh ‘pelayan’ yang sempurna. Masakannya kelewat enak, dijamin tak bakal mengecewakan setiap ‘majikan’. Tak heran, kendati lokasinya njlepit dan tanpa papan nama penunjuk di pinggir jalan raya sekalipun, banyak pelanggan dari luar kota rela berbondong-bondong datang, padahal halamannya cuma cukup untuk parkir empat mobil saja.

Karena berada di kawasan berhawa dingin, warung Mbok Iyem memanjakan para ‘majikan’ agar tak kelesotan di lantai keramik putih yang membuat orang gampang kedinginan lalu kerap buang air. Di antara lantai keramik dan tikar plastik, ditaruhlah anyaman sabut kelapa setebal hampir lima sentimeter. Tamu bisa nyaman duduk dan diterpa dinginnya semilir angin sambil menikmati seduhan teh melati, yang meski tak kental, tapi sangat terasa pahit dan sepat, juga aroma wanginya.

Dimana lokasinya? Kalau dari arah Solo, rumah Mbok Iyem terletak di kiri jalan lima belas menit menjelang obyek wisata Tawangmangu. Daripada disebut nama desanya malah membuat Anda susah mengingat, paling gampang adalah penanda, ancar-ancar saja.

Bila di kiri jalan sudah terlihat bangunan kompleks pesantren dengan masjid yang megah, mulai saja mengurangi kecepatan. Tepat di tikungan jalan utama, ada belokan ke kiri satu-satunya. Silakan masuki hingga kira-kira seratus meteran, hingga Anda dapati tulisan ala kadarnya pada sebuah papan tripleks yang disandarkan pada pagar pembatas jalan: Ayam Tim Goreng Mbok Iyem.

Beloklah ke kiri beberapa meter saja, lalu arahkan mata Anda ke sebelah kanan. Melihat rumahnya sekilas saja, hanya akan membuat Anda terkecoh. Maklum, itu rumah tinggal yang disulap jadi warung.

Jika Anda pernah merasakan enaknya ayam goreng dan sambal Mbak Ning di Wonogiri atau ayam goreng Mbok Karto di Sukoharjo, jangan kuatir. Ketiganya sangat berbeda, sehingga lidah Anda punya tambahan referensi rasa. Gudhangan (urap) daun pepayanya dahsyat (makanan kok dahsyat! Abis, saya kesulitan menggambarkannya dengan kata-kata, je).

Silakan Anda coba. Ayam tim goreng Mbok Iyem disajikan kepada Anda dengan paket sayur tiga rupa: lalap, urap daun pepaya, serta sejenis trancam. Nasinya, pun pulen. Seperti dimasak pakai kendhil, baunya harum, jauh lebih sensasional dibanding matang karena magic jar, bahkan yang model tercanggih sekalipun.