Belut dan Langgi Mas Kuwat

Mas Kuwat memang dahsyat. Di angkringan tempat dia buka lapak wedangan, ada belut goreng unggulan yang dijajakan. Belut goreng, asli hasil tangkapan sawah, bukan belut piaraan seperti banyak diperdagangkan. Belut goreng Mas Kuwat menjadi pelengkap kita menyantap nasi langgi, nasi bungkusan yang tak pantas disejajarkan dengan sega kucing, yaitu nasi bungkus dengan sambal dan bandeng seuprit.

Angkringannya masih angsli, beda dengan kebanyakan wedanganBelut sawah goreng dan nasi langgi termasuk dua dagangan unggulan Mas Kuwat. Meski angkringan baru dibuka jam 17.30, jangan harap Anda masih kebagian keduanya pada jam 19-an. Walau berdagang di Delanggu –tepatnya utara traffic light sebelah barat jalan, banyak orang Solo menjadi pelanggan setianya.

Saya baru mengenal angkringan Mas Kuwat sekitar empat tahun silam, atas rekomendasi seorang teman di Solo. Menurut promosi sang teman, teh Mas Kuwat enak tenan! Dia memprovokasi begitu karena tahu saya penyuka teh. Daaannn…. ternyata selera teman saya agak kacau. Teh bikinan Mas Kuwat sedang-sedang saja sebenarna. Kalau wedang jahenya, OK-lah, kalau mau dibilang enak, maka saya masih rela mengamininya.

Cuma belut dan nasi langgi sajakah yang enak? Ternyata tidak. Tempe dan tahu bacemnya enak, begitu pula peyekcrispy. Pisang gorengnya juga top markotop. Berbahan pisang raja, ’bedak’ tepungnya tak setebal bantal. Karena banyaknya kelebihan itulah, saya berani merekomendasikannya untuk Anda. kacang tanahnya yang empuk dan

Bagi Anda yang suka ngumbah mata, selepas magrib adalah waktu yang tepat untuk merapat. Banyak perempuan muda yang datang memborong belut, nasi langgi atau nasi oseng. Sedang orang-orang Solo yang suka singgah sepulang bepergian, biasanya memborong nasi langgi dan aneka bacem.

Bagi sebagian pembeli asal Solo yang lain, konon suka datang menjelang tengah malam. Mungkin mereka mencari suasana yang tak terlalu bising sebab hingga selepas petang, masih banyak bus yang menaik-turunkan penumpang di dekat angkringan Mas Kuwat. Anda pasti sudah bisa membayangkan suara bising knalpot saat bis-bis besar itu melakukan angkatan atau start jalan.

Anda ingin mencobanya? Sebaiknya jangan datang kelewat malam kalau ingin menikmati aneka sajian. Kecuali, memang Anda cuma butuh nge-teh dan berbincang-bincang.

Oh, iya. Ada satu ciri yang membedakan angkringan Mas Kuwat dengan penjaja yang lain. Dia masih menggunakan angkringan asli. Dulunya, dengan angkring seperti itulah pedangan wedangan berkeliling keluar-masuk kampung menjajakan dengan cara memikul angkring. Penjual akan berhenti, melayani pembeli hingga puas sebelum ia meneruskan perjalanan dengan rute sama setiap harinya.

Kini, penjaja model angkringan sudah sulit dijumpai. Kabarnya, di Solo pun masih ada satu penjaja keliling. Tapi, saya belum menyaksikan dengan mata sendiri.

Lambat Merayap Kereta Uap

Tak lama lagi, kita akan menjumpai kereta uap merayap, membelah Kota Solo. Menyusuri jalur protokol Jl. Slamet Riyadi dari Purwosari, di Stasiun Sangkrah kereta itu akan berhenti, lantas berbalik arah. Kembali ke Purwosari. Ujicoba sudah dilakukan, perbaikan rel juga hampir kelar. Tuutt…tuttt…. Siapa hendak turut….?

Kereta Uap bakal membelah Kota Solo (Foto: Anjas W)

Kereta Uap bakal membelah Kota Solo (Foto: Anjas W)

Ya, itulah kereta wisata yang bakal dioperasikan Pemerintah Kota Surakarta bekerja sama dengan PT Kereta Api Daop VI/Yogyakarta. Sesuai namanya, kereta itu digerakkan dengan tenaga uap, yang dihasilkan dari ‘tungku berjalan’ berbahan bakar kayu. Hitam legam lokonya, berbahan kayu gerbongnya.

Sayang, pada liburan lebaran ini, kereta buatan 1896 yang dulunya dioperasikan di Cepu itu belum bisa dinikmati wisatawan tahunan alias pemudik. Setelah sukses ujicoba pertama 13 September lalu, kereta uap akan dijalankan kembali pada Minggu sore, 27 September mendatang. Sekadar meyakinkan, perbaikan rel sudah sempurna, dan aman terhadap pengguna jalan raya.

Perbaikan rel dan penggantian bantalan rel (Foto: Blontank Poer)

Perbaikan rel dan penggantian bantalan rel (Foto: Blontank Poer)

Menurut Kepala PT KA Daop VI/Yogyakarta, Rustam Harahap, sekali jalan pergi-pulang memerlukan biaya operasional sekitar Rp 3,2 juta. Dua gerbong dengan kapasitas total 76 orang, berarti harga satu tempat duduk mendekati Rp 50 ribu. Mahal? Tentu masih bisa disebut murah lantaran itu buka kereta reguler, dan tujuannya semata-mata untuk rekreasi yang sifatnya memang untuk bersuka cita. So? Tak asyik menyoal harga tiket.

Sisi menarik berwisata dengan kereta itu, menurut saya, adalah kita akan singgah beberapa saat di beberapa tempat perhentian dalam satu trip pergi-pulang. Di antaranya di sekitar Loji Gandrung, Ngapeman, Pasar Pon, dan Gladak. Foto-foto pasti mengasyikkan, bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan, demi melengkapi cerita menyusur Kota Solo sepanjang 5,6 kilometer itu. Di Pasar Pon, misalnya, Anda bisa mengunjung pasar antik Triwindu yang kini berubah nama mejadi Windu Jenar serta pasar malam Ngarsopura, yang tak lain merupakan ‘reinkarnasi’ Pasar Yaik di masa lalu.

Sejatinya, ada potensi cerita masa lalu, yang bisa disertakan dalam brosur atau dituturkan pemandu wisata. Dulu, kalau tak salah pada akhir abad ke-19, pernah terdapat jalur kereta (api) yang mengitari Kota Solo, yakni rute Purwosari-Jebres-Sangkrah-Purwosari. Sebagai stasiun tua, Jebres bahkan memiliki ruang tunggu khusus untuk keluarga Raja Kasunanan Surakarta.

Gerbong khusus keluarga kerajaan, pun hingga kini masih bisa kita saksikan di alun-alun kidul, meski (jangan kaget) kalau kondisinya tampak kusam tak terawat. Lalu dimana jalur rel yang dulu pernah ada? Argumentasi klasik yang bakal kita dapat, bisa jadi tak bakal lebih dari pernyataan demikian: sudah dijadikan kawasan hunian demi tuntutan perkembangan kota.

Dan mesti dicatat pula, Solo termasuk kota bersejarah dalam urusan perkeretaapian di Indonesia. Adalah penguasa Pura Mangkunegaran, Mangkunegara IV (1811-1881)  yang menjadi salah satu pemrakarsa bersama Gubernur Jenderal Belanda L.A.J. Baron Sloet Van De Beele, yang pada 17 Juni 1864 meresmikan pembukaan jalur kereta api Semarang-Solo dan Semarang-Yogyakarta. Pembangunan Stasiun Balapan, pun tak lepas dari peran penguasa yang juga dikenal sebagai sastrawan mumpuni itu.

Melewati rel bengkong, memotong Jl. Slamet Riyadi (Foto: Anjas W)

Melewati rel bengkong, memotong Jl. Slamet Riyadi (Foto: Anjas W)

Sebelum lupa, sekadar catatan saja. Kereta uap yang bakal dioperasikan di Kota Solo itu diperoleh dari museum kereta api Ambarawa. Dan, Solo menjadi kota kedua yang membuat gebrakan wisata dengan mengoperasikan kereta uap setelah Sawahlunto, Sumatra Barat, pada awal 2009. Di museum itulah, kereta-kereta uap tua itu diperbaiki.

Anda tertarik mencoba? Nantikan kabarnya setelah ujicoba terakhir, 27 September mendatang.

Tarian Serba Tradisi di Malem Nemlikuran

Bila Anda menyukai tari-tarian tradisi, SMKI (kini SMK Negeri 8 ) Surakarta adalah tempat yang tepat dikunjungi. Pada tanggal 26 malam setiap bulannya, beragam jenis tari dipanggungkan di pendapa sekolah itu. Mbak Retno Maruti, penari istana semasa Bung Karno, juga pernah mengisi forum bulanan ini.

golek_montro

Selain Mbak Utik, sapaan akrab Retno Maruti, puluhan artis pernah nguri-uri keberadaan forum itu. Mulai para maestro, mantan penari bedaya Kraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran hingga mahasiswa/mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan murid-murid SMK Negeri 8 sendiri.

Biasanya, dalam satu peristiwa ditampilkan dua-tiga tarian dari generasi berbeda. Karena itu, penonton dan penikmat dimudahkan dalam mengapresiasi. Kendati bukan pertandingan, tapi boleh-boleh saja membandingkan. Beda orang, beda jam terbang, maka beda pula kemampuan.

Semula, forum bernama resmi Beksan Malem Nemlikuran itu dimaksudkan sebagai ajang kumpul-kumpul para alumnus sekolah seni yang dulunya bernama Konservatori tersebut. Diprakarsai sejumlah penari yang kini di mengajar di Sala, seperti Mas Daryo, Mas Wahyu, Mas Bambang dan lain-lain, forum reun tersebut akan merayakan ulang tahunnya yang keempat, Maret mendatang.

lengger

Semula (lagi), pemilihan artis penampil hanya dikhususkan kepada mereka yang concern pada tari-tarian Jawa, khususnya gaya Surakarta. Tak ada sistem kuratorial yang kaku, bukan pula menggunakan pola undian arisan. Siapa yang siap karya bisa saja mengajukan diri dan memilih bulan tampilnya sendiri.

Syaratnya gampang saja, artis mesti siap menanggung biaya sendiri. Panitia tidak menyumbang, apalagi honor. Hanya panggung berikut tata suara dan tata cahaya plus kursi bagi pengunjung yang disediakan. Konsumsi pun diadakan dengan pola saweran atau serkileran menurut kosakata seniman Sala. Guyub. Kompak.

Karena forum itu ‘hidup’, para pemrakarsa lantas meluaskan coverage area-nya. Tak cuma yang berbau Jawa (Surakarta dan Yogyakarta),  beragam tarian khas atau tradisi daerah atau suku apapun mulai diperkenalkan.

“Kami ingin forum ini menjadi ajang apresiasi kekayaan khazanah tari tradisi dari seluruh Indonesia,” ujar Bambang Suhendro, salah satu pengampu jurusan tari SMK itu.

ludiraMADU

Niat mulia para ‘penari tua’ itu, tentu tak bijak diabaikan. Kabarkan kepada teman, kerabat dan kolega Anda, agar menyempatkan menonton ke kompleks sekolahan yang terletak di Kampung Kepatihan itu. Kira-kira 400 meter dari Pasar Gede arah Jebres, Anda akan menjumpai kantor Bank BCA di kiri jalan. Nah, SMK 8 berada 100 meter di belakang bank itu. Sekadar mengingatkan, khusus bulan ini, forum terpaksa ditiadakan.

Menurut Mas Daryo, ketua forum itu, “Para seniman sedang sibuk dengan tugas-tugas profesinya di kampus. ” Sayang.

Koes Plus Tak Lagi Ngak-ngik-ngok

Ada forum klangenan yang, mungkin, tidak dapat dijumpai di tempat lain. Ya, di Sala, tepatnya di THR Sriwedari, ada pentas musik bertajuk Koes Plus-an, setiap Kamis malam. Tak ada libur kecuali pada hari-hari besar keagamaan.

koesplus1 

Sesuai namanya, sepanjang durasi pergelaran pukul 19.30 – 22.30, hanya dilantunkan tembang-tembang jadul karya-karya Koes Plus, yang oleh Bung Karno disebut kelompok musik ngak-ngik-ngok. Sudah lebih dari empat tahun, Nusantara Band yang menjadi home band, tampil di sana. 

Penonton tumpah ruah. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam pula, mulai tukang tambal ban hingga pejabat pemerintahan. Bahkan, banyak preman menghabiskan sebagian malamnya di sana. Tapi, pada malam-malam begitu, wajah mereka penuh damai. Tak ada sangar-sangarnya sama sekali. Peace! 

Seribuan pengunjung selalu setia hadir. Tak hanya dari tlatah Surakarta, sebagian malah jauh-jauh datang dari Ngawi, Jawa Timur. Biasanya, mereka datang berombongan. 

Anda jangan coba-coba menggeneralisir, bahwa fans Koes Plus hanya mereka yang berusia 40-an. Sejak awal kehadiran forum Koes Plus-an, tua-muda berbaur. Malah, banyak rombongan datang dengan tiga generasi sekaligus: ayah/ibu-anak-nenek! 

koesplus2 

Keakraban ala Sala juga sangat terasa. Keramahan yang saya yakin tak bakal Anda jumpai di tempat-tempat lain. Bukan hanya bertegur sapa, saat datang atau beranjak pun mereka saling tegur dan bersalaman. Koes Plus-an sungguh pantas disebut sebagai ajang kangen-kangenan. Tak jarang, saya melakukan janji ketemuan di sana. Bisa ngobrol panjang, kadang disela nyanyi bareng mengikuti lantunan vokalis. 

Percaya atau tidak, tiga tahun lampau saya hanya membayar Rp 2.000 untuk masuk. Lama absen, tiket masuk sudah naik seribu rupiah. Kata teman-teman, kenaikan itu justru akibat desakan pengunjung. Bukan sok-sokan. Rupanya, komunitas penonton yang merasa puas terhibur perlu menuntut kenaikan harga tiket supaya honor Nusantara Band meningkat. 

Kini, tanda masuk sudah menjadi Rp 5.000 per orang. Tak ada beda untuk anak atau orang tua. Solidaritas terbangun seiring naluri empati. 

Kalau Anda ingin mencoba suasana baru, percayalah, bukan hanya terhibur, sepulang dari sana akan segera hilang penat-lelah. Puluhan ibu-ibu suka berjoget di belakang. Kadang bisa dijumpai seorang pemuda mabuk, bergoyang bebas di depan pengeras suara.