Berburu Barang Antik di Triwindu

triwindu_6408.jpg

Kalau Juni mendatang Anda menjumpai Pasar Triwindu yang lengang, jangan buru-buru menuduh pemerintah sedang menggusur pedagang. Atau menganggap para pedagang sedang melakukan aksi boikot. Mungkin, mereka sudah bergeser ke utara, menempati kios sementara di lapangan kompleks Pura Mangkunegaran.

Ya, di sanalah para pedagang akan ‘hinggap’ sejenak lantaran pasar benda-benda antik itu sedang dibongkar. Rencananya, akan dibuat bangunan baru terdiri dua lantai dengan sejumlah sarana pendukung kenyamanan wisata belanja. Di tengah pasar, nantinya akan ada ruang terbuka, sehingga pengunjung tak lekas berlalu begitu saja.

Menimbang apa yang sudah dilihat, perlu dilakukan dalam suasana rileks. Memilih barang mesti teliti, tak bisa asal comot. Kualitas sama bisa saja ditawarkan dengan harga berbeda di masing-masing kios. Nah, rasa penat yang bakal muncul setelah menyusuri kios-kios itulah yang direspon pemerintah dengan rencana penyediaan tempat istirahat. Menarik, bukan?

Asal tahu saja, kualitas barang apalagi yang termasuk kategori antik, tak bisa dilihat serampangan. Bagus secara visual bisa mengecoh Anda. Terlalu banyak ahli repro(duksi) di sekitar Surakarta. Bahkan, citra visual bisa dikelabuhi dengan aneka cara. Ada yang menggunakan bahan kimia. Ada pula yang memakai cara ‘klasik’ agar barang tampak jadul, yakni dengan merendam di sungai lalu menjemurnya dalam waktu lama, atau sengaja mengubur ke dalam tanah.

triwindu_6402.jpg

Oh, ya. Hampir saya terlupa. Di Triwindu, Anda bisa berbelanja aneka rupa. Berbagai jenis kaca warna-warni, cocok diborong untuk menghias ruangan. Barangkali saja, cocok untuk bar kecil-kecilan di rumah. Lukisan kaca, dari yang benar-benar kuno dan repro yang tampak jadul pun tersedia di sana. Hanya saja, selisih harga bisa beratus-ratus kali lipat.

Berbagai jenis dan ukuran gagang pintu, engsel, paku payung berusia ratusan tahun pun bisa diperoleh di sana. Mata uang rupiah semasa awal republik pun bisa diperoleh, bahkan hingga pecahan rupiah terkecil. Biasanya, pecahan rupiah ini diburu para calon pengantin yang menginginkan maskawin kombinasi nominal rupiah.

Karena pasar barang antik, soal harga tentu sangat bervariasi. Walau ngebet, sebaiknya jangan tampak pada ekspresi wajah. Melik nggendhong lali, hasrat membawa lupa (daratan)! Kalau sampai ketahuan, maka bola di tangan pedagang. Anda bisa menyesal merasa kemahalan. Hati-hati, teliti sebelum membeli!  Begitu petuah lama, yang bahkan pernah dipopulerkan oleh TVRI semasa masih berjaya dengan sesi iklannya pada kurun 1980-an.

Kendati begitu, jangan buru-buru menganggap pedagang barang antik sebagai penipu. Anggap saja, para pedagang sedang menjalankan tugas kenabian mereka: menakar kadar kegigihan usaha, sekaligus menguji tingkat kehati-hatian Anda.

triwindu_6413.jpg

Meski ada satu-dua pedagang yang kuatir bangunan baru tak senyaman dahulu, mayoritas masih menyambut baik gagasan penataan pasar tradisional yang kini dinamai Pasar Windu Jenar itu. Entah bakal populer atau tidak, nama baru itu memang terasa susah diucap dan diingat.

Mungkin, karena Triwindu sudah berusia 76 tahun, sehingga namanya sudah menghunjam dalam hati hingga dua-tiga generasi. Tepat seabad tonggak perjuangan terorganisir ditancapkan dr. Wahidin dan kawan-kawan ramai diperingati, Triwindu pun dibenahi.

Sekadar mengingatkan saja, nama Triwindu diabadikan untuk mengenang pertemuan para tokoh pergerakan nasional di Surakarta pada 1938, atau tiga windu gerakan Boedi Oetomo. Tak cuma Pasar Triwindu, kenangan pergerakan itu juga diabadikan dengan keberadaan Tugu Lilin atau Monumen Kebangkitan Nasional di Penumping.

Berburu Buku dan Piringan Hitam Jadul, yuukk…

Apa yang melintas di benak panjenengan semua saat mendengar kata Gladag? Pusat kacamata murah atau pasar keris dan cinderamata? Semoga Anda tidak melewatkan pusat buku bekasnya. Album-album jadul dalam bentuk piringan hitam dan pita suara juga terserak di lapak puluhan kios di sana.

  bukuloak

Buku langka banyak terdapat di pasar loak ini. Hanya saja, butuh ketelatenan untuk membalik-balik tumpukan. Koleksi akan bertambah bila sedang beruntung.  

Tak hanya buku-buku terbitan sebelum 1970-an, buku terbitan super jadul seperti 1930-an pun masih ada di sana. Ada yang berbahasa Jawa, Belanda, Inggris, meski tak sedikit pula yang berbahasa Indonesia.  

Karya-karya penulis legendaris seperti Lenin, Pramoedya Ananta Toer, Slamet Muljono masih mudah dijumpai. Juga, karya-karya penulis anonim yang umumnya pujangga-pujangga Kraton Surakarta. 

Hanya buku-buku berat? Tidak juga. Komik-komik Jepang terbitan Elex Media pun berserakan bersama buku-buku Ian Fleming dan Karl May. Harganya, cuma pada kisaran Rp 2.500-an hingga ceban.  

Yang mahal pun tak kalah banyak. Buku iklan terbitan masa kolonial, pun tersedia. Harganya ‘cuma’ Rp 1,5 juta. Buku koleksi filateli masa pendudukan Jepang dulu, pun tak sulit ditemukan. Untuk jenis beginian, biasanya tidak dipajang. 

Perlakuan yang sama terjadi pada buku atau majalah tentang etiket rokok dan cerutu –lokal maupun impor pada masa kolonial dan awal-awal berdirinya republik.loakPH 

Kalau Anda penikmat piringan hitam, Anda bisa memperpanjang daftar koleksi dengan harga Rp 20.000 per keping. Baik piringan hitam yang besar maupun yang berukuran lebih kecil. Untuk kaset berpita, harganya bervariasi antara Rp 3.500 hingga Rp 10.000 saja. Kata seorang pemilik kios yang mengkhususkan pada koleksi langka, seorang yang mengaku utusan majalah Rolling Stones memborong ratusan piringan hitam, khusus artis-artis Indonesia. 

Satu-satunya pengalaman yang menyebalkan, yakni ada saat saya ‘browsing’ ke pasar itu, sebulan lalu. Usai membalik-balik katalog peristiwa seni di beberapa kios, saya mendapati buku hitam yang menyebalkan. Judulnya: Ketika Kita Disapa. 

Katalog pameran fotografi dokumentasi seni pertunjukan itu dijual Rp 5.000-an. Jumlahnya banyak. Mungkin sekitar seratusan, karena setiap kios memiliki stok rata-rata 20-an buah. 

Ketika saya kehabisan buku katalog pameran saya sembilan tahun silam, saya justru menjumpainya di pasar loak. Padahal, saya membutuhkannya untuk lampiran proposal (rencana) pameran kedua saya. Kata seorang pemilik kios, mereka mendapatkannya dari pemulung yang menjualnya secara kiloan. Edan!

Tawaran Ciamik dari Amik

Tak hanya lidah, mata pun perlu dimanja. Syukur, sense of art Anda turut terjaga, meski harus dalam merogoh kocek untuk mengkoleksi beberapa. Tapi, tak ada salahnya bila selera seni yang Anda miliki justru memberi sinyal aksi borong. Bagai saham, tak menutup kemungkinan nilai barang yang saya hadirkan di sini akan terus meningkat. Bukankah harga tembaga di pasar internasional juga terus meningkat?

Ya, ijinkanlah kali ini, saya menceritakan perkenalan saya dengan Amik, seorang seniman tembaga. Dia muda, tapi sudah kenyang pengalaman. Selera seninya juga oke. Setidaknya, bila dilihat dari ketidaksukaannya pada konservatisme dalam berbisnis. Saat ratusan tetangganya menyukai produk massal dan hampir sama, ia memilih bereksperimen dengan menciptakan produk-produk yang berbeda.

tembaga_tumang1 

Saat jalan-jalan mencari bahan tulisan dan foto di sentra kerajinan tembaga, Desa Tumang, Kecamatan Cepogo di kaki Gunung Merbabu, saya hampir putus asa. Tak ada aktivitas produksi. Sejumlah ‘galeri’ juga tak memajang produk yang menarik hati. Keputusan pulang pun sudah nyaris bulat sebelum istri saya mengajak singgah di sebuah rumah yang memajang dagangan agak ‘beda’. 

Saya sebut beda, karena galeri yang satu ini, meski berdebu tapi penataannya cukup rapi meski terkesan waton cemanthel, asal bisa memenuhi rak dan dinding.  

Oleh penjaga showroom, kami dibawa ke ‘galeri’ yang lebih besar, sekitar 50 meter dari tempat pertama. Di tempat kedua, saya disambut oleh beraneka benda yang terasa hidup. Vas bunga menyapa saya dari kejauhan. Beberapa tempat lilin juga menggoda, seolah mengedipkan mata berulang-ulang.

tembaga_tumang2 

Mengamati beberapa produk yang dipajang, saya penasaran. Feeling saya menuntun pada kecurigaan. Tak mungkin kap lampu, tempat lilin, penjepit tisu dan lampu-lampu taman itu bisa sedemikian hidup. “Pastilah Amik seorang pematung,” kata saya dalam hati. 

Baru sehari kemudian saya beroleh jawaban. Dari gagang telepon di seberang, Amik mengaku hanya setahun mengenyam pendidikan sekolah menengah seni rupa di Sala. Ia lalu bekerja sekaligus nyantrik pada seniman patung di Yogyakarta sebelum melakukan hal serupa di Kudus. “Saya belajar seni patung dari mereka,” ujar Amik. Ia menyebut dua nama, tapi saya lupa. Maklum, daya ingat menurun seturut usia yang kian menua. 

Di galeri milik Amik, saya jamin Anda tak bakal kecewa. Dengan duit Rp 50 ribu saja, asbak unik bisa dibawa. Sedang vas bunga dibanderol pada kisaran seratusan ribu saja. Paling mahal, bahkan cuma dua jutaan. Itu pun bisa berupa benda bernilai tinggi, baik untuk menghias taman atau ruangan di rumah Anda. Yang pasti, Anda tak sanggup mengangkat sendirian untuk benda seharga dua jutaan tadi. 

Beberapa ragam bentuk vas bunga, misalnya, bisa dibeli satu set sekalian. Biasanya terdiri tiga barang yang sama dengan ukuran berbeda-beda. Nah, terhadap vas-vas bunga itu, Anda bisa memperlakukannya sebagai patung pojok ruang tamu. Dengan menata berjajar tanpa bunga di atasnya, jadilah ia patung sungguhan. Kalau bosan, tinggal memisahkannya ke beberapa sudut atau lokasi berbeda. Tinggal memasukkan bunga ke dalamnya, bereslah persoalan. 

Saran saya, kunjungi galeri itu bila Anda sedang travelling ke Sala. Hanya sekitar 40 menit perjalanan dengan mobil, Desa Tumang sudah dijelang. Dengan nambah waktu 30 menit saja, bisa dinikmati panorama gunung Merapi dan lembah-lembahnya yang hijau dari Selo Pass. Di Selo, ada jadah bakar yang enak. Juga sate kambing empuk dan lezat, kira-kira 100 meter arah barat Polsek Selo.