Laboratorium Kroncong

  Saya menyebut OK Swastika sebagai salah satu laboratorium kroncong yang hidup di Kota Solo. Berlatih rutin setiap Rabu, publik pun bisa ikut berlatih bersama mereka. Seperti tadi malam, seorang remaja yang baru duduk di bangku SMP turut menjajal kemampuannya memetik cello bersama seniornya, termasuk Mbah Sayuti atau Eyang Yuti, peniup flute berusia 70an tahun.

Biasanya, ada seorang warga sekitar turut meniup seruling di pelataran, atau juga tetamu yang ikut berlatih dengan cara menirukan nada-nada yang sedang dimainkan. Tempat latihan selalu tetap, di rumah Kang Nyapto, yang merupakan salah satu dedengkot kelompok ini. Beberapa anggota tetapnya, antara lain Danis Sugiyanto, Doel Sumbing, Mas Dwi dan beberapa lainnya.

 Orang yang datang menonton, pun ditawari ikut memainkan salah satu instrumen atau menyanyikan lagu apa saja, tidak harus langgam atau lagu kroncong, untuk mereka iringi. Yang jelas, semua alat musiknya adalah instrumen kroncong klasik, meski yang dilantunkan tembang pop barat atau lagu dangdut sekalipun.

Sekadar informasi saja, hampir setiap kampung di Solo memiliki grup kroncong amatiran, meski tak sedikit yang kerap memperoleh undangan pentas lantaran dinilai memiliki kecakapan dan standar kelayakan menurut khalayak. Dan uniknya, ada model dangan istilah pethilan atau ngebon, yakni meminjam pemain flute, biola atau vokalis dari grup (kampung) lain, lantaran satu dengan grup lain membentuk semacam jejaring.

Apakah Anda tertarik dengan musik kroncong, atau penikmat lagu-lagu kroncong?

Reklame Norak

Cat itu berguna untuk membuat benda yang dilapisinya menjadi lebih indah. Warna-warninya menghadirkan pesona. Sesuatu yang semula biasa bisa jadi luar biasa. Cat tak ubahnya kosmetik, berfungsi mempercantik. Dan, hal yang serba cantik dan menarik, sering bikin kerut kening praktisi periklanan dan konsultan pencitraan.

Karena ingin membuat kota cantik menawan pula, Pemerintah Kota Solo yang terus berbenah. Tempat-tempat yang semula kotor terus dibersihkan, taman dibuat di mana-mana, dan bangunan kusam dipermak supaya melahirkan pesona. Intinya, supaya warga kota dan pendatang merasa nyaman. Intinya, ya harus memanjakan mata. Dan rasa.

Silakan simak keindahan Tugu Jam di depan Pasar Gede ini...

Persoalan ada sebagian warganya yang tak tahu cara memelihara dan menunjukkan keindahan hasil kerja keras pemerintah setempat, anggaplah itu sebagai kecelakaan saja. Maklumi pula, jika tidak semua orang bisa mengimbangi visi Walikota Jokowi dalam menata kota, meskipun itu sebuah lembaga usaha, apapun namanya.

Seperti Indaco, misalnya, yang pingin memamerkan hasil kerjanya dalam rangka ikut mempercantik kota. Di tugu jam, seberang Pasar Gede, ia memasang materi reklame, dengan menonjolkan pesan bahwa indahnya tugu itu adalah hasil dari ‘kerja’ merek cat untuk melapisi. Bahwa indahnya tugu tertutup materi reklame, ya sekali lagi, itu perkara yang berbeda. Toh, semua yang melihatnya masih punya kemampuan mengira-ira keindahannya. Setidaknya, itulah yang ada di benak pemasang reklame. Manusiawi, bukan?

***

Entah siapa pemilik Indaco dan apa pula perannya dalam proses permak wajah kota. Beberapa bulan silam, saya jumpai beberapa gapura kampung, terutama sekitar Turisari, digantungi tulisan Indaco dengan ukuran besar dan mencolok. Bahkan, ukurannya ada yang menenggelamkan identitas jalan atau gang, sehingga orang bisa salah duga bahwa ia sedang memasuki Jl. Indaco atau Gg. Indaco.

Reklame pamer peran, yang menurut saya, justru mengganggu, bahkan menjatuhkan nama baik pemasangnya.

Sejatinya, saya risih dengan gaya Indaco main nebeng beken di kampung-kampung itu. Syukur, kali ini bisa kesampaian menuliskan catatan atas kerisauan saya. Lazimnya, jika Indaco merupakan kontraktor yang memperoleh pekerjaan perbaikan gapura dan sejenisnya, cukup membuat pengumuman nama proyek dan jumlah biayanya. Dan, andai gratisan sekalipun, reklame dengan cara semacam itu, menurut saya, tetaplah norak.

Bahasa halusnya, sih, kurang pantas. Apalagi, seperti yang saya lihat di tugu dekat Pasar Gede itu, Indaco membawa brand cat. Gratisan atau sumbangan pun tak pantas, apalagi jika dibiayai dengan dana pemerintah. Asli, payah!!!

Asal tahu saja, reklame norak itu ada di beberapa tempat. Di atas jembatan, tepat di belakang Pura Mangkunegaran, juga terpasang reklame serupa, bermedia akrilik sepanjang 2 meter dengan lebar hampir semeter, hanya dikerangkai bilah bambu. Reklame yang sama pun dipasang di atas jembatan samping RRI, seberang Stasiun Balapan. Disebutkan di reklame itu, jembatan telah dicat dengan Envitex/Envolux!

Penempatan reklame yang asal-asalan semacam itu, menunjukkan sang pemasang sama sekali tak memiliki selera estetika memadai. Jangan jauh-jauh membicarakan soal filosofi keindahan, saya kuatir mereka tak nyambung. Apalagi kalau sampai disodori konsep-konsep komunikasi……kasihan mereka nanti.

Dua Bus Baru di Solo

Menandai peringatan ulang tahun ke-266 berdirinya kota, Pemerintah Surakarta meluncurkan dua bus sekaligus: bus tingkat (doubledecker) dan bus yang berjalan di atas rel, sejenis kereta api (railbus). Keduanya merupakan fasilitas penunjang bagi hidup dan berkembangnya pariwisata. Jadi, bukan bus umum atau angkutan massal untuk publik.

Bus Tingkat (doubledecker) baru, akan segera menghiasai jalanan utama Kota Solo. Berbeda dengan bus tingkat yang dioperasikan Perum Damri beberapa tahu silam, bus ini hanya untuk keperluan turisme, sehingga rute-rute yang dipilih pun akan menghubungkan satu dengan lain obyek wisata kota.

Keduanya hadir melengkapi pilihan sarana plesiran bagi pelancong, setelah sebelumnya ada sepur kluthuk Jaladara atau kereta tua bertenaga uap. Begitulah, pelancong memang tamu. Mereka harus diperlakukan mulia selayaknya raja. Mereka datang ke Surakarta atau Solo karena pesona kota, yang meliputi apa saja: kuliner, atraksi dan warisan budaya, serta keramahan dan halus budi warganya.

Kian nyaman plesiran di Solo, kian banyak harta  yang dibelanjakan. Untuk menginap, urusan memanjakan lidah dan mengurus perut, hingga tanda mata yang mereka pikir harus dibawa sekembalinya ke tempat asal mereka.

Semua tahu, orang berkelana juga mengejar sensasi dan pengalaman rohaniah. Itulah yang kelak akan dituturkan kepada sanak, kerabat, teman dan kolega. Efeknya, bisa jadi akan banyak orang yang perlu membuktikan kebenaran sebuah cerita, testimoni orang-orang yang telah berkeliling Kota Surakarta.

Seperti bus, angkutan wisata ini kelak akan dioperasikan untuk wisata dalam kota juga. Pemerintah Kota Surakarta sedang merancang rel baru yang menghubungkan Stasiun Sangkrah dengan Stasiun Jebres, yang dulunya terhubung, namun bekas jalurnya sudah jadi kawasan permukiman. Kelak, jika itu terwujud, maka railbus bisa mengitari dalam kota, menghubungkan empat stasiun, termasuk Balapan dan Purwosari.

Jadi, andai masih ada yang menganggap pembelian/pengadaan ketiga sarana transportasi wisata sebagai kemewahan dan menghambur-hamburkan uang rakyat, saya  kok kurang sependapat. Alasan mahalnya tiket alias tingginya biaya untuk menikmati yang tak terjangkau rakyatnya, rasanya juga kelewat mengada-ada. Ketiganya, sekali lagi, bukanlah angkutan umum massal untuk publik.

Soal banyak warga ingin merasakannya namun ada keterbatasan biaya, saya kira masih bisa dicarikan jalan keluarnya. Bisa saja Dinas Pariwisata atau Pemerintah Kota menyediakan paket wisata khusus, dengan beban pembiayaan ditanggung pemerintah. Semua itu hanya soal cara dan strategi mengkomunikasikan dengan pihak-pihak terkait, sehingga warga kebanyakan bisa mengaksesnya, tidak cuma mèlèt atau ngiler karena ingin pula menikmati keindahan kota dari ketiga sarana wisata tadi.

Kehadiran wisatawan, lokal maupun asing, sudah pasti membawa berkah bagi warga Kota Solo. Ada multiplier effects yang bisa dinikmati banyak orang, seberapapun kecilnya. Mereka butuh makan, perlu jalan-jalan sehingga butuh becak, taksi, atau mobil sewaan, dan sebagainya. Oleh-oleh pun perlu mereka bawa pulang.

Siapa yang untung?

Kutha Sala lan Jokowi

Dina iki, jangkep 265 taun umuré Kutha Sala. Wong sakutha padha ngadani pèngetan tanggap warsa. Pemerintahé mèngeti kanthi upacara nganggo adat Jawa. Sing kakung beskapan, sing putri ngagem busana Jawi sapengadeg: jarikan, kebayak lan rikmané disanggul sasak.

 

Upacara pèngetan tanggap warsa kanthi busana Jawa, 17 Pebruari 2008.

Dina iki uga, bakal dianakaké kirab Boyong Kedhaton, rékané napak tilas, éthok-éthok mènèhi gambaran pindhah-boyongané kulawarga kraton, saka Kartasura menyang Dhésa Sala ing tlatah Surakarta. Sadurungé, kraton trah Mataram Islam pancèn dumunung ana Kartasura, nanging kudu énggal dipindhahaké ana papan sing aman sawisé grombolan Sunan Kuning bisa ngraman lan kasil mbobol bètèng Kartasura.

Ngancik 265 taun umuré, wis ora kaya biyèn, Kutha Sala pancèn krasa sansaya katon tumata lan krasa tentrem. Wit-witané ngrembuyung ana sakiwa-tengené dalan-dalan ing tengah kutha. Paribasan wong saiki kangèlan maido marang éndahé kutha, utamané saploké Pak Joko Widodo utawa Jokowi jumeneng nata, mréntah kutha kang aran walikutha.

 

Sanajan nganggo busana warna béda, pegawé siji iki klebu priyayi pinunjul. Muda tur trengginas. (17 Pèbruari 2010)

Pancen kutha kudu katon resik lan éndah, supaya para priyayi sing tindak Sala bisa luwih betah. Mula, regedan kudu disingkiri, sing marakaké reged ya kudu disingkiraké. Sanajan mung bakul oprokan paribasané, nanging uga ora kena disepèlèkaké. Saumpama isih ana sing nganggep wong cilik kuwi paribasan mung regedan, sajaké bakal béda karep marang Pak Jokowi.

Miturut Pak Jokowi, wong cilik kudu dimulyakaké, diwènèhi papan kanggo golèk pangan. Kosok balèné, supaya adil, kabèh kudu gelem lan diajak nata kutha bebarengan. Wong cilik lan wong gedhé padha waé, butuh golèk pangan kanggo urip. Sing gedhé kudu bisa ngayomi sing cilik, lan sapanunggalané.

Ora ateges ngilangaké bekti lan pakaryané para walikutha sing jumeneng nata sadurungé Pak Joko Widodo, nanging kudu diakoni yèn saiki pancèn béda tenan. Wargané guyub lan rumangsa kudu gumrégah bebarengan nata kutha, jalaran padha naté ngalami urip mung dadi rakyat sing dipréntah, dudu wong sing sejatiné bisa meksa lan njaluk hak-é marang pemerintah.

Marang Pak Jokowi, sajaké rakyat malah isin nuntut hak jalaran padha ngrumangsani yèn walikutha sing siji iki luwih cekatan lan akèh athikan. Ngélingaké rakyat marang hak kanthi cara nuduhaké hak-hak lan kuwajibané rakyat. Contoné: para pedagang klithikan dicukupi haké kanggo golèk sandhang-pangan, nanging uga diélingaké kuwajibané supaya njaga tentremé kutha, mbayar pajek marang negara, lan sapanunggalané.

Tumrapé pada pedagang ing pasar-pasar tradhisional, Pak Jokowi ngelingaké kuwajibané supaya njaga pasar tetep resik, dagangan sarwa apik lan ngladèni wong tuku kanthi becik supaya mbésuké padha seneng balik, blanja manèh menyang pasar. Ijin kanggo mal lan pasar swalayan diwènèhaké supaya kutha munggah kelas lan pamoré, supaya ana modhal utawa investasi sing teka. Supaya pedagang cilik ora ditinggal wong blanja menyang pasar swalayan, banjur diiming-imingi kupon hadhiah saben gelem blanja menyang pasar tradhisional.

Crita-crita babagan investasi, aku naté wawancara ana sajroné mobil dhinesé Pak Jokowi. Wektu iku, setaun kepungkur, aku ngaturaké pitakonan. Mangkéné jangkepé lan cara ngokoné (asline basa alus campur basa Melayu):

Supaya Sala tambah maju, kuthané moncèr nanging rakyaté ora pating klèlèr jalaran bisa gampang anggoné padha golèk pangan, mesthiné mbutuhaké investasi sing ora sethithik. Kira-kira perlu pirang taun?

 

Jawabé Pak Jokowi rada dawa. Bakuné, yèn ana sing duwé modhal gedhé banjur ngedegaké rumah sakit internasional ana cedhak Mojosongo, umpamané, bakal gawé majuné wong-wong sing mapan ing sakiwa-tengené. Wis mesthiné, papan sing ramé bakal nuwuhaké gampangé golèk sandhang-pangan. Contoné, buka warung mangan lan sapanunggalané. Tukang bécak, sopir taksi lan liya-liyané uga bakal kecipratan rejekiné.

 

Pinggir Kali Anyar, Pedaringan sisih kidul digawé taman supaya bisa dadi papan reja lan bisa kanggo ngisis, dn sing sisih lor digawé tanggul semèn supaya bayuné ora nggogos. Sawangané ya dadi tambah padhang.

Saliyané kuwi, ana uga kawicaksanan sing katoné sepelé, nanging bakal gedhé banget pikolèhé. Kali Anyar lor Terminal Tirtonadi diresiki, banjur digawèkaké taman. Semono uga kali cedhak Kandang Sapi tumekané Pedaringan, dikeruk, diapikaké lan diwènèhi taman. Ngendikané Pak Jokowi:

Yèn kaliné resik, warga dadi gelem njaga supaya ora katon reged. Mula, kudu disadharaké, diajak malik omahé supaya madhep kali. Yèn kali disingkur, dungkuri, mesthi waé padha sakepénaké nguncalaké regedan menyang kali jalaran kali dianggep papan sing cocok kanggo ngèlèkaké regedan. Padha ora nggatèkaké yèn regedan lan uwuh njalari mampeté kali, tundhané bisa nyilakani, bisa ngendhek banyu banjur dadi banjir.

Aku mbacutaké pitakonan.

Kinten-kinten betah modhal pinten supados Sala tambah maju, lan pinten kinten-kinten bakal wonten investasi ingkang tinandur déning investor?

 

 

Pak Walikota Jokowi ngaturaké piagam penghargaan marang priyayi sing kaanggep wis majokaké donya olah raga ing Sala ing satengahé upacara pèngetan tanggap warsa Kutha Sala, Rebo, 17 Pebruari 2010.

Wektu kuwi, Pak Jokowi sumaur yèn kanggo mbangun kutha Sala dadi éndah kaya sing diimpèkaké panjenengané, kira-kira perlu wektu sepuluh taun. Sasuwéné kuwi, pemerintah kudu udhu kira-kira Rp 650 milyat (ateges Rp 65 milyat saben taun). Nanging saka modhal semono kuwi bakal bisa nekakaké investasi nganti sangang trilyun rupiah akèhé.

Gandhèng butuh sepuluh taun kanggo mujudaké angen-angené, mula mèmper yèn saiki Pak Jokowi ancang-ancang njago manèh. Muga-muga, priyayi sing andhap asor nanging napas uripé padha karo wong cilik iku olèh palilah saka Gusti Sing Murbèng Dumadi. Muga-muga dadi, lan bisa slamet salawasé. Kaya sing wis padha dimangertèni, nyatané Pak Jokowi adoh saka gosip korupsi.

Wilujeng tanggap warsa Kuta Sala. Wilujeng nyalon malih, Pak Jokowi. Mugi-mugi saged mujudaken kersa panjenengan: nata kutha sesarengan warga kanthi sesanti Berseri Tanpa Korupsi.

*****

Kota Surakarta dan Jokowi

 

Hari ini, genap 265 tahun usia Kota Surakarta. Seluruh warga memperingati hari jadi. Pemerintahnya melakukannya dengan upacara bendera dengan adat Jawa. Yang lelaki mengenakan beskap, dan perempuannya berkebaya dengan rambut disanggul.

Hari ini juga, akan digelar kirab Boyong Kedhaton, maksudnya napak tilas perpindahan keluarga kerajaan, dari Kartasura ke Desa Sala di Surakarta. Sebelumnya, keluarga trah Mataram Islam memang berada di Kratton Kartasura, tetapi harus segera dipindah ke tempat yang lebih aman setelah gerombolan Sunan Kuning berhasil menjebol benteng.

Menginjak usia 265 tahun, sudah tak seperti dulu, Kota Sala memang terasa lebih tertata dan tenteram. Pepohonan yang kian rindang ada di sisi kanan-kiri jalan-jalan di tengah kota. Ibaratnya, orang sekarang sulit memungkiri terhadap kian indahnya kota, terutama sejak Pak Joko Widodo atau Jokowi memimpin, menjadi walikota.

Memang kota harus bersih dan indah, supaya orang yang berkunjung ke Solo lebih betah. Maka, kotoran harus dihindari, yang bikin kotor kota harus disingkirkan. Meski cuma pedagang oprokan, tak boleh disepelekan. Seumpama masih ada yang menganggap wong cilik itu cuma sampah, sepertinya akan beda sikap dengan Pak Jokowi.

Menurut Pak Jokowi, wong cilik harus dimuliakan,  diberi tempat untuk mencari makan. Sebaliknya, supaya adil, semua harus mau dan diajak membangun kota bersama-sama. Wong cilik dan yang berdaya sama saja, butuh ikhtiar untuk keberlangsungan hidup. Yang mampu harus mampu mengayomi yang kecil, dan sebagainya.

Bukan berarti menghilangkan jasa dan karya walikota-walikota sebelum Pak Joko Widodo, tapi harus diakui, kalau sekarang nyata bedanya. Warganya kian kompak dan merasa harus bangkit bersama membangun kota, sebab sama-sama pernah merasakan hidup hanya diperintah, bukan orang yang bisa meminta dan menagih haknya kepada pemerintah.

Terhadap Pak Jokowi, sepertinya orang pada malu menuntut hak, sebab walikota yang satu ini lebih cekatan dan punya banyak akal. Mengingatkan rakyat akan hak dengan cara menunjukkan hak-hak  dan kewajiban mereka pula. Contohnya, para pedagang Klithikan dipenuhi haknya untuk mencari sandang pangan, tetapi juga diingatkan akan kewajiban mereka supaya menjaga ketenteraman kota, membayar pajak/retribusi kepada negara, dan seterusnya.

Bagi pedagang di pasar-pasar tradisional, Pak Jokowi mengingatkan kewajiban mereka supaya menjaga kondisi pasar tetap bersih, dagangan serba bermutu dan meladeni pembeli dengan baik supaya kelak kembali lagi, mau berbelanja ke pasar. Ijin untuk mal dan pasar swalayan diwujudkan supaya menaikkan pamor kota,  supaya ada investasi datang. Supaya pasar tradisional tak ditinggal pelanggan, lantas diiming-imingi hadiah *) supaya setia belanja ke pasar tradisional.

Cerita tentang investasi, saya pernah wawancara dengan Pak Jokowi di dalam mobil dinasnya. Setahun silam (2009), saya mengajukan pertanyaan, kira-kira begini:

Supaya Solo kian maju, kotanya terkenal namun warganya tidak keleleran karena gampang mencari makan, pasti butuh investasi tak sedikit. Kira-kira berapa lama menyiapkan pondasinya?

Jawabannya agak panjang. Intinya, kalau ada modal masuk untuk membangun rumah sakit internasional di sekitar Mojosongo, misalnya, maka itu akan meemajukan perekonomian warga sekitar. Sudah pasti, keramaian sebuah kawasan akan memunculkan kemudahan berusaha. Contohnya, orang bisa membuat warung makan. Tukang becak, sopir taksi dan sebagainya, akan terkena imbasnya.

Selain itu, ada kebijakan yang tampaknya sepele, namun bersar manfaatnya. Kali Anyar di utara Terminal Tirtonadi ditata dan dibersihkan, lantas dibangun taman. Begitu pula terusan sungai tersebut di Kandang Sapi hingga Pedaringan, dikeruk, diperbaiki dan dibangun taman.

Kata Pak Jokowi, “Kalau kalinya bersih, maka warga akan tergerak menjaga kebersihannya. Maka harus dibangun kesadarannya, diajak menata rumahnya agar menghadap sungai. Kalau kali hanya dianggap ‘bagian belakang’, tempat membuang kotoran, ya celaka. Kotoran itu yang membuat kali mampet dan menimbulkan banjir.”

Saya melanjutkan pertanyaan: kira-kira, butuh modal/investasi seberapa besar supaya Solo kian maju seperti yang Anda angankan?

Kala itu, Pak Jokowi menjawab, kalau untuk membangun kota yang bagus, maju dan nyaman, perlu waktu sepuluh tahun. Selama itu, pemerintah (kota) harus mengeluarkan Rp 650 milyar (Rp 65 milyar per tahun). Tapi, dengan modal itu, bisa mendatangkan investasi hingga Rp 9 trilyun besarnya.

Karena butuh sepuluh tahun untuk mewujudkan impiannya menata Solo, maka wajar jika Pak Jokowi kini seperti bersiap-siap maju kembali. Semoga, sosok yang rendah hati dengan napas keberpihakan untuk orang kecil itu, direstui Tuhan Yang Maha Kuasa. Semoga jadi, dan selamat selamanya. Seperti semua orang tahu, Pak Jokowi terbukti terjauhkan dari godaan korupsi.

Selamat ulang tahun, Kota Surakarta. Selamat mencalonkan kembali Pak Jokowi. Semoga berhasil menata kota bersama warga dengan slogan Berseri Tanpa Korupsi.

 

Catatan:

*) Pak Jokowi pernah menggagas hadiah berupa mobil, motor dan sebagainya bagi pengunjung pasar. Caranya, tiap pembelian jumlah tertentu, seorang pedagang berhak memberikan kupon undian tahunan. Pedagang tidak perlu menaikkan harga jual, namun belanja hadiah diambilkan dari hasil retribusi pasar, sementara tarif retribusi tidak perlu dinaikkan.

Pernah saya tanya, apakah pembelian hadiah tidak mengurangi nilai pendapatan asli daerah, Pak Jokowi menjawab (kurang lebih) begini: Dinas Pasar itu, mau ditarget berapapun bisa memenuhi. Makanya, aneh jika target kepada mereka hanya rendah. Tiap tahun dinaikkan, sementara nilai retribusi dan obyek retribusinya nyaris sama, kok ya bisa menaikkan target setoran ke kas daerah?

Sayangnya, kebijakan itu tak bisa diwujudkan karena terkendala aturan. Pemerintah (daerah) tidak boleh mengeluarkan anggaran belanja barang untuk hadiah.

(updated: 12 Juni 2012 pk 20.00)


Belut dan Langgi Mas Kuwat

Mas Kuwat memang dahsyat. Di angkringan tempat dia buka lapak wedangan, ada belut goreng unggulan yang dijajakan. Belut goreng, asli hasil tangkapan sawah, bukan belut piaraan seperti banyak diperdagangkan. Belut goreng Mas Kuwat menjadi pelengkap kita menyantap nasi langgi, nasi bungkusan yang tak pantas disejajarkan dengan sega kucing, yaitu nasi bungkus dengan sambal dan bandeng seuprit.

Angkringannya masih angsli, beda dengan kebanyakan wedanganBelut sawah goreng dan nasi langgi termasuk dua dagangan unggulan Mas Kuwat. Meski angkringan baru dibuka jam 17.30, jangan harap Anda masih kebagian keduanya pada jam 19-an. Walau berdagang di Delanggu –tepatnya utara traffic light sebelah barat jalan, banyak orang Solo menjadi pelanggan setianya.

Saya baru mengenal angkringan Mas Kuwat sekitar empat tahun silam, atas rekomendasi seorang teman di Solo. Menurut promosi sang teman, teh Mas Kuwat enak tenan! Dia memprovokasi begitu karena tahu saya penyuka teh. Daaannn…. ternyata selera teman saya agak kacau. Teh bikinan Mas Kuwat sedang-sedang saja sebenarna. Kalau wedang jahenya, OK-lah, kalau mau dibilang enak, maka saya masih rela mengamininya.

Cuma belut dan nasi langgi sajakah yang enak? Ternyata tidak. Tempe dan tahu bacemnya enak, begitu pula peyekcrispy. Pisang gorengnya juga top markotop. Berbahan pisang raja, ’bedak’ tepungnya tak setebal bantal. Karena banyaknya kelebihan itulah, saya berani merekomendasikannya untuk Anda. kacang tanahnya yang empuk dan

Bagi Anda yang suka ngumbah mata, selepas magrib adalah waktu yang tepat untuk merapat. Banyak perempuan muda yang datang memborong belut, nasi langgi atau nasi oseng. Sedang orang-orang Solo yang suka singgah sepulang bepergian, biasanya memborong nasi langgi dan aneka bacem.

Bagi sebagian pembeli asal Solo yang lain, konon suka datang menjelang tengah malam. Mungkin mereka mencari suasana yang tak terlalu bising sebab hingga selepas petang, masih banyak bus yang menaik-turunkan penumpang di dekat angkringan Mas Kuwat. Anda pasti sudah bisa membayangkan suara bising knalpot saat bis-bis besar itu melakukan angkatan atau start jalan.

Anda ingin mencobanya? Sebaiknya jangan datang kelewat malam kalau ingin menikmati aneka sajian. Kecuali, memang Anda cuma butuh nge-teh dan berbincang-bincang.

Oh, iya. Ada satu ciri yang membedakan angkringan Mas Kuwat dengan penjaja yang lain. Dia masih menggunakan angkringan asli. Dulunya, dengan angkring seperti itulah pedangan wedangan berkeliling keluar-masuk kampung menjajakan dengan cara memikul angkring. Penjual akan berhenti, melayani pembeli hingga puas sebelum ia meneruskan perjalanan dengan rute sama setiap harinya.

Kini, penjaja model angkringan sudah sulit dijumpai. Kabarnya, di Solo pun masih ada satu penjaja keliling. Tapi, saya belum menyaksikan dengan mata sendiri.