Payahnya Jurnalis Televisi

Hari-hari ini, emosi publik diaduk-aduk oleh hasil kerja jurnalis televisi. Bukan saja karena praktek berbahasa mereka yang payah, namun juga akibat meskinnya empati. Pada pemberitaan atau laporan mengenai proses pencarian korban penerbangan Air Asia QZ8501 nahas, publik disuguhi adegan-adegan menggeramkan. Bagaimana tidak, seorang Rifai Pamone, reporter MetroTV terkesan memaksa seorang perempuan yang sedang menangis sesenggukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan panjangnya. Aksinya itu sempat ditegur oleh GM Angkasa Pura I dan tersiar live pula.

Skrinsut tweet pada 28 esember 2014 pukul 11.29 WIB.

Skrinsut tweet pada 28 esember 2014 pukul 11.29 WIB.

Bukannya meminta maaf, ia justru berbalik meminta sang kepala pengelola bandar udara itu untuk meneruskan wawancara, sebagai pengganti keluarga korban. Ditolak, tetapi tetap tidak menunjukkan tanda-tanda malu. Dasar jurnalis payah!

Melihat kinerja reporter yang demikian miskin empati, saya hanya bisa mengumpat dalam hati. Namun, rasa dongkol tak kunjung sirna melihat praktek jurnalisme nir-rasa itu. Ratusan Retweet dan komentar beragam saya dapat ketika ketika saya sindir lewat akun Twitter. Ternyata, banyak yang tak suka dengan ‘pertunjukan’ demikian.

Yang bikin saya tidak paham, apakah perusahaan sekaliber MetroTV tak pernah mengajari awak redaksinya untuk punya sikap berhati-hati dalam menyajikan laporan?

Saya jadi ingat pada pertengahan 1990-an, ketika banyak program pelatihan jurnalisme damai atau workshop liputan konflik (tercakup di dalamnya liputan bencana), di mana wartawan televisi merupakan kelompok yang paling susah dilibatkan, meski pelatihan diselenggarakan secara gratis, bahkan difasilitasi menginap di hotel dan ditanggung seluruh biaya perjalanan hingga makan-minum selama pelatihan/workshop berlangsung.

Payahnya jurnalis televisi kian nyata memprihatinkan jika menelusuri kiprah koresponden atau stringer stasiun televisi di daerah. Persoalan kian rumit karena mereka tak punya hubungan industrial dan hubungan profesional yang jelas. Jangankan diangkat karyawan atau koresponden resmi. Kebanyakan mereka hanya dibekali kartu pers, baju/kaos berlogo perusahaan, dan dbayar jika hasil kerja jurnalistiknya ditayangkan! Biaya operasional sudah termasuk dalam honor jika ditayangkan. Konsekwensinya, jika tidak tayang, si stringer ya harus rela nombok. Semahal apapun ongkos liputan, itu risiko kerja mereka.

Presenter ini meminta reporter di lapangan untuk menyebutkan jumlah jenazah yang sudah dibawa dari Pangke lokasikalan Bun ke Surabaya untuk diidentifikasi.

Presenter ini meminta reporter di lapangan untuk menyebutkan jumlah jenazah yang sudah dibawa dari Pangke lokasikalan Bun ke Surabaya untuk diidentifikasi.

Dari ratusan stringer itu, hanya sedikit yang ‘beruntung’ sempat mengenyam pendidikan/pelatihan jurnalisme dan etika jurnalistik, baik oleh perusahaan di mana mereka setor hasil liputan, maupun yang diselenggarakan pihak lain. Maka, bukan cerita baru jika tak sedikit para stringer lantas mengandalkan isi amplop dari narasumber sebagai solusi menutup ongkos liputan. Sebab stringer juga manusia, maka dapur harus tetap mengebul, bukan? :p

Pokoknya, jangan heran kalau reporter bahkan presenter/host stasiun televisi pun masih belepotan ketika siaran. Mayat, sekalipun, dianggap hidup, sehingga bisa beraktifitas seperti yang disebut oleh salah seorang presenter. Jenazah, disebutnya hadir di rumah sakit. Padahal, yang dimaksud adalah diangkut atau dibawa dari  lokasi ditemukan ke tempat para ahli identifikasi.

Ruvita ‘Korban’ TV One

Menyaksikan siaran live di TV One, Sabtu (28/1) malam, semula saya hanya tertarik alasan Ruvita pergi meninggalkan orangtuanya. Remaja perempuan yang (katanya) ngetop lewat iklan (saya tak tahu produk apa) itu lebih memilih tinggal bersama ibu angkat. Yang menyebalkan, justru cara TV One yang, menurut hemat saya, justru memperkeruh suasana, dan berpotensi merusak mental anak berusia 13 tahun itu.

Tak hanya Ruvita, ibu angkatnya yang bernama Maya serta ibu kandung Ruvita (Lili?) pun pasti sama-sama terluka lantaran diadu secara terbuka, disaksikan jutaan pasang mata. Tak terbayang di benak saya, apa yang bakal terjadi seusai perbincangan itu, yang melibatkan ketiganya. Lili pun, saya yakin merasa ditampar lewat siaran itu, karena sesampai di rumah, bisa jadi ia akan memiliki beban mental dengan para tetangganya.

(Dari kiri ke kanan) psikolog, Lili, Ruvita, Maya, pemandu dialog

 

Fakta siaran:

Diawal perbincangan, ditampilkan seorang psikolog, Ruvita dan Maya, sang ibu angkat.

Dalam perbincangan itu, Ruvita mengaku hanya bersekolah hingga kelas 4 sekolah dasar. Ia pun bertutur tak tahan menerima perlakuan kasar ibu kandungnya. Meski demikian, ketika pemandu acara menanyakan apakah Ruvita dendam terhadap ibunya, dengan spontan dijawab tak pernah mendendam. Ia justru mengaku sayang dan bercita-cita meringankan beban orang tuanya.

Dalam penuturannya yang spontan, Ruvita mengaku pergi ke Sorong mengikuti Maya karena ingin konsentrasi sekolah di sana. Di Jakarta, ia mengaku sering disibukkan oleh jadwal syuting (iklan), padahal sangat ingin meneruskan sekolahnya yang terhenti. Ia meminta kepada ibu kandungnya untuk meneruskan sekolah, tapi tak kunjung dikabulkan. Karena itu, Ruvita berujar, jika bersekolah di Sorong, ia bisa konsentrasi penuh.

Ruvita tampil spontan. Ia remaja periang, banyak mengumbar senyum selama wawancara berlangsung. Air matanya meleleh deras ketika bercerita keadaan keluarganya, dan mengisahkan pelariannya. Berkali-kali ia menuturkan betapa ia tak dendam dengan ibu kandungnya, dan menunjukkan niatnya untuk membantu perekonomian keluarga yang masih tinggal di rumah kontrakan.

Usai mengorek banyak keterangan dari Ruvita dan ibu angkatnya, sang pembawa acara menyatakan akan menghadirkan tamu rahasia sebagai kejutan. Disebutnya, siapa tahu kehadiran sang tamu bisa menjernihkan persoalan dan membuat perasaan Ruvita senang dan kembali tenteram.

Lili, ibu kandung Ruvita berjalan menuju panggung utama. Tampak Ruvita sambil duduk mencium tangan ibunya. Maya juga ikut mencium tangan Lili setelah giliran Ruvita.

Duduk bersebelahan dengan Ruvita, sang ibu kandung mencium dan berusaha memeluk anaknya. Dengan halus, Ruvita berusaha menghindar. Wajahnya tampak kurang happy seperti pada awal perbincangan.

Pembawa acara lantas menanyakan perasaan Ruvita atas kehadiran ibunya di studio itu. Kepada psikolog pun dimintai pendapatnya mengenai pertemuan itu, apa dan bagaimana sebaiknya menyelesaikan konfllik antara  ibu kandung-Ruvita-ibu angkat. Dijawab psikolog: ia tak bisa memberi solusi segera, sebab baru saja bertemu mereka. Ia membutuhkan informasi yang memadai, dan itu butuh waktu.

Opini saya:

Menyimak jalannya perbincangan, bahasa tubuh dan mimik semua narasumber, saya justru mellihat ada kesalahan fatal yang dilakukan TV One, terutama pembawa acara. Tampak ia berpretensi bisa menyelesaikan persoalan saat itu juga, sehingga dengan menghadirkan ibu kandung Ruvita, diharap persoalan akan kelar seketika.

Menurut hemat saya, Ruvita justru dibawa pada persoalan baru, yang bisa jadi justru berpotensi memunculkan trauma berpanjangan. Setelah bercerita keinginannya bersekolah terhalang sikap ibunya, juga pengakuannya tentang perlakuan kasar ibu kandung terhadap dirinya, tiba-tiba ia dipaksa menghadapi langsung orang yang baru saja dibahasnya.

Lili, sang ibu kandung, pun tampak ofensif terhadap Maya, ibu angkat yang dipilih Ruvita dan dikenalnya di lokasi syuting.

Bahasa tubuh Ruvita menunjukkan ia cenderung nyaman dengan Maya. Tangan Ruvita menggenggam kuat dan tak mau melepaskannya dari telapak tangan Maya.  Pada situasi demikian pun sang pembaca acara masih terus mencecar Lili, Ruvita dan Maya dengan aneka pertanyaan dan pernyataan.

Melihat adegan itu, istri saya mengomentari sikap dan cara pembawa acara yang menggiring pada solusi instan. Istri saya membayangkan kesulitannya menempatkan diri jika berada, baik dalam posisi ibu kandung, ibu angkat maupun Ruvita. Sama-sama tak enak, dan perasaannya pasti campur aduk.

“Bahkan, ibu kandung pun tak berhak lagi mengasuh jika selama ini sudah tak sanggup memberikan kepada seorang anak akan hak-haknya, seperti kasih sayang, pendidikan, kecukupan bermain, dan sebagainya. Tapi itu juga harus diverifikasi lagi, didalami pokok persoalan mereka,” komentar istri saya.

Saya pun menduga, usai siaran, yang ada di belakang panggung adalah adegan Lili memarahi Maya karena dianggap ‘meracuni’ Ruvita. Kalimat kuncinya sudah diucapkan Lili saat wawancara, kurang-lebihnya begini: “Saya ingin Ruvita sekarang adalah Ruvita yang dulu…. Hanya tujuh belas hari, ia sudah berubah…

Juga, ada kalimat Lili, yang menurut saya bakal menyudutkan Maya, yakni “..Ruvita itu cantik….kenapa Maya tidak membantu perempuan lainnya juga…

Dari hampir satu jam mengamati jalannya perbincangan, saya tak melihat tanda-tanda adanya motif jahat pada diri Ruvita dan Maya. Kalimat-kalimatnya yang spontan tampak tulus dan jujur, betapa ia sesungguhnya menyayangi ibu kandungnya, namun pada saat ini belum sanggup tinggal bersama ibunya. Satu-satunya keinginan Ruvita hanya bisa bersekolah lagi dengan tenang, namun tak mau kembali ke sekolah lamanya, sebab ia malu karena teman-temannya sudah tiga tahun lebih maju.

Apapun persoalan sesungguhnya di dalam keluarga Ruvita sehingga ia tak betah tinggal bersama ibu kandungnya, menurut saya perlu didalami lagi. TV One mestinya harus melakukan riset awal memadai, sehingga tidak gegabah membuat keputusan mempertemukan tiga pihak yang sedang bermasalah dalam sebuah forum publik.

Baik Ruvita, Lili sebagai ibu kandung dan Maya sebagai ibu angkat yang dipilih sendiri oleh Ruvita, saya yakini berada pada posisi yang sama dalam acara itu, sebagai korban TV One!

Saya sebut sebagai korban, sebab jika mennyimak jalannya acara, saya tak yakin Maya,  Ruvita dan psikolog yang diharapkan sebagai penengah, tidak diberitahu sebelumnya akan kemungkinan menghadirkan Lili, lalu dikonfrontasikan dalam acara yang disaksikan jutaan orang itu.

Selain memunculkan beban dan persoalan baru bagi semua pihak, tayangan itu menurut saya, tidak mendidik. Terlebih bagi Ruvita, dan anak-anak seusianya. Baik yang memiliki persoalan yang sama, maupun yang tidak dalam kesulitan yang setara.

 

Olok-olok Tak Etis

Saya sedih menyaksikan tayangan ProvocativeProactive di Metro TV, Kamis (11/8). Saya bisa mengapresiasi semangat Pandji dan kawan-kawan ingin membuat Indonesia lebih baik dengan ‘cara anak muda’. Tapi, membawa foto Marzuki Alie ke panggung utama lantas dipertontonkan adegan Raditya Dika melakban ‘mulut’ Ketua DPR, itu sungguh tak etis.

Jujur, awalnya saya mendukung tayangan tersebut. Saya sempat menyukainya karena berharap ‘anak-anak gaul’ yang selama ini saya persepsikan cengeng, hanya suka hura-hura dan semacamnya, ternyata bisa kritis, dengan gaya dan caranya sendiri. Ini menarik, pikir saya saat itu.

Ramai-ramai menertawakan foto Marzuki Alie setelah adegan Raditya Dika melakban 'mulut' Ketua DPR.

Di tengah maraknya sinetron-sinetron penuh kepalsuan, yang memandang dunia secara hitam-putih, saya berpikir ProvocativeProactive di Metro TV bisa memprovokasi stasiun-stasiun televisi lainnya berlomba membuat tayangan bermutu, cerdas, dan menarik. Sekali, dua, tiga, empat kali menyimak, saya mulai bosan.

Bahkan, saya sempat berprasangka Pandji hanya menyukai ‘bahasa positif’ dengan bumbu-bumbu sok-sok kritis. Mirip dengan prasangka saya terhadap AA Gym dulu, yang karena melihat hal serba positif dan enggan menyebut yang negatif sebagai pembanding, lantas menggeneralisir dan menganggap ringan sebuah persoalan.

Aa Gym misalnya, hampir selalu menyelipkan pesan ‘lupakan (keburukan) masa lalu, kita songsong masa depan lebih baik’.  Ketika itu, almarhum KH Zainuddin MZ surut pamor (dan kurang disukai rezim Orde Baru), situasi reformasi dan politik kacau balau, segera terdongkraklah pamor Aa Gym yang serba santun, halus tutur katanya. Dan, sampai detik ini pun saya masih berprasangka, ajakan melupakan masa lalu bisa menguntungkan siapa saja, terutama individu dan lembaga, yang terkait dengan praktek otoritarianisme Orde Baru.

Walau agak berbeda ukuran penilaiannya, ProvocativeProactive pun saya anggap terlalu naif. Banyak narasumber yang ‘kurang pantas’ karena masa lalunya yang tidak properubahan dan prodemokrasi, justru dihadirkan dan dikasih panggung. Pertanyaan-pertanyaannya pun nyaris tak kritis, sehingga mudah disetir si narasumber.

ProvocativeProactive lantas menjadi seperti koran kuning atau tontonan infotainmen, yang mengutamakan sensasi (isu dan tokoh) dibanding substansi yang ditawarkan. Mestinya, ProvocativeProactive bisa belajar pada Mata Najwa, yang walau temanya tak hangat atau sedang dibicarakan banyak orang, namun mampu memberikan tawaran wacana yang mencerahkan.

Mengolok-olok Menteri Komunikasi dan Informatika dengan cara menghadirkan seseorang yang mengenakan topeng Tifatul Sembiring, lalu menganugerahinya dengan predikat narasumber yang tak pernah mau memenuhi undangan ProvocativeProactive, pun tak ada asik-asiknya. Adalah hak Sang Menteri untuk merespon positif atau negatif sebuah undangan. Ajakan untuk teriakkan “blokir..blokir…blokir…” kepada ‘Tifatul’ saat turun dari panggung utama, pun tak mendidik.

Saya kira, Komisi Penyiaran Indonesia perlu mempertimbangkan untuk menegur penanggung jawab Metro TV. Saluran frekwensi milik publik, telah dipergunakan secara semena-mena, untuk menghakimi seseorang. Sehebat dan sepopuler apapun ProvocativeProactive dan Metro TV di benak khalayak pemirsa, tetap tak pantas jika mempertontonkan tindakan kekanak-kanakan demikian.

Saya justru melihat ada arogansi yang ditunjukkan secara terang-terangan oleh Pandji, Raditya Dika, dan kawan-kawannya itu. Mereka salah menyikapi media sehingga begitu enteng memanipulasi media massa untuk kepentingannya sendiri, termasuk ‘mengadvokasi’ kekecewaan mereka, lantaran gagal mendatangkan narasumber yang diinginkannya.

Tak semua orang harus turun ke jalan, berdemonstrasi melawan ketidakadilan. Setiap orang berhak menentukan pilihan dan caranya merespon keadaan.

Andai mau adil, akankah ProvocativeProactive mewawancarai Surya Paloh yang memanfaatkan Metro TV untuk selalu memberi durasi sangat panjang kepada Nasional Demokrat, Surya Paloh dan Partai Nasional Demokrat? Ingat, frekwensi yang digunakan Metro TV itu milik publik, bukan kepunyaan moyang satu-dua orang saja.

Kalau boleh usul, saya berharap ProvocativeProactive coba bikin tema, ke mana sumbangan pemirsa dan pembaca koran untuk korban bencana, bagaimana mekanisme penyalurannya, dan cara mempertanggungjawabkan secara transparan kepada publik yang menyumbangnya. Juga, kenapa sumbangan pemirsa, pembaca dan pendengar, selalu berubah nama penyumbangnya saat di lokasi penyaluran.

Kalau itu terwujud, barulah saya angkat jempol jika Pandji menyuarakan: nasional is me! Only you, bukan yang lain, not the other(s)!

Jangan salah paham, dalam banyak hal saya tak suka dengan Pak Marzuki Alie dan Pak Tifatul Sembiring. Anda bisa cari di arsip kicauan saya terhadap keduanya. Tapi saya sangat menolak cara-cara melecehkan orang dengan cara berlebihan.

Masih banyak pilihan dan cara untuk mengolok-olok kedunguan.

Breidel dan Jurnalisme Warga

21 Juni 1994 bukan saja membuat saya sedih lantaran bakal kehilangan pendapatan, namun lebih dari itu, Selasa itu menjadi petaka bagi bangsa Indonesia. Tiga media utama, Tempo, DeTIK dan Editor di-breidel $oeharto.

Tiga tahun menggantungkan hidup dari jualan tiga media yang memberi kuntungan besar bagi saya itu, mungkin belum seberapa dibanding kerugian bangsa Indonesia, berupa hilangnya hak untuk memperoleh informasi. Yang benar, berimbang dan bermanfaat. Asal tahu saja, banyak penerbitan memilih ‘kompromi’ dengan penguasa Orde Baru, memilih melintir berita daripada ditegur aparat.

Teguran lisan, ketika itu dikenal dengan sebutan budaya telepon. Siapapun, asal mewakili kekuasaan –Departemen Penerangan, Kodam hingga level Kodim sekalipun, ‘berhak’ meminta sebuah informasi untuk harus atau tidak diberitakan, bahkan hanya melalui saluran telepon. Bagi yang berani alias nekad, hukumannya beragam: dibentak, dimaki-maki, hingga ancaman pencabutan SIUPP atau Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers.

Hukuman paling konyol, misalnya, pernah dialami seorang teman sebab berita yang dibuatnya tidak ‘berkenan’ bagi penguasa. Ia dipanggil ke Kodim, dan sesampainya di sana didiamkan cukup lama, lantas dipaksa hormat bendera dengan posisi wajah menghadap arah sinar mentari datang. Intinya, karena kekuasaan nyaris mutlak, maka si pemilik kuasa boleh berbuat dan menentukan jenis hukuman sesukanya.

Tapi, itu cerita masa lalu, ketika menjadi jurnalis tidak gampang, dalam arti harus rela hati disetir oleh kanan-kiri, baik dari perusahaannya sendiri, maupun dari sumber-sumber resmi. Ya, namanya saja hidup pada masa politik sebagai panglima dan presiden berkuasa atas segala-galanya, maka mengutip nonhumas atau kepala penerangan menjadi haram. Dan sumber-sumber resmi, pernyataannya serba normatif. Garing kata orang sekarang.

‘Untungnya’, bagi wartawan atau media penurut, maka akan sering dapat hadiah: entah iklan, pujian atau penghargaan. Khusus bagi wartawan, amplop menjadi menu wajib yang disiapkan pejabat humas atau bagian penerangan, demi kemudahan mengarahkan dan menciptakan ketergantungan. Jangan heran, wartawan pada masa lalu gampang kaya raya, sebab bagi yang ‘rela jadi penurut’ akan segera tampil powerful di mana-mana: ditakuti masyarakat, difasilitasi pejabat.

Usai insiden breidel, hanya sedikit jurnalis yang mau berjuang demi kebebasan berpendapat, memperoleh dan menyebarluaskan informasi dalam rangka memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi. Mereka lantas mendeklarasikan berdirinya Aliansi Iurnalis Independen (AJI), yakni organisasi baru sebagai tandingan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang dianggap telah terkooptasi oleh kepentingan pemilik kekuasaan.

Kini, ketika kebebasan pers sudah dicapai, bahkan jurnalisme warga kian tumbuh pesat, masih saja ada segelintir orang yang merasa sudah jadi wartawan, meski hasil pekerjaannya tak berkaitan dengan kebutuhan publik akan informasi. Pekerja infotainmen, misalnya, menganggap ranah privat seorang artis/selebritis termasuk bagian dari informasi yang harus diketahui publik.

Seorang pejabat yang berselingkuh dengan artis (entah sinetron atau penyanyi dangdut), misalnya, digempur ramai-ramai, seolah Indonesia akan ambruk lantaran ulah mereka. Padahal, yang mestinya disorot hanyalah ketika (misalnya) demi selingkuhannya, si pejabat lantas melakukan korupsi atau menggunakan fasilitas negara/publik untuk kepentingan personalnya.

Hal demikian yang tak dimengerti oleh ‘jurnalis abal-abal’ model pekerja infotainmen itu, juga perilaku orang berstatus wartawan sungguhan, namun selalu membebankan biaya perjalanan dan uang sakunya kepada narasumber.

Bagi saya, pekerja infotainmen dan wartawan peminta-minta merupakan potret pelacuran profesi jurnalistik, yang mestinya independen, memiliki jarak yang sama dengan semua pihak, namun berprinsip menyuarakan kelompok atau individu yang voiceless.

Kendati demikian, pekerja infotainmen masih bisa dipahami sebagai pihak yang tak tahu apa-apa karena ketika bekerja, mereka selalu berangkat dari rumor pribadi murahan dan pada dasarnya tak pernah belajar jurnalistik, sehingga bisa dimaklumi ketika mereka tak mengerti kode etik jurnalistik atau tata krama proses produksi sebuah berita.

Justru yang disayangkan adalah ketika media punya kredibilitas tinggi, dengan pekerja yang terdidik dan sangat paham kode etik, namun tiba-tiba diam atau tak kritis menelisik (apalagi melakukan investigasi), dalam kasus skandal bailout Bank Century, misalnya.

Bagi saya, media demikian lebih rendah derajadnya dibanding jurnalisme kuning, penjual gosip murahan, seperti halnya perilaku jurnalis televisi dan pekerja infotainmen yang menganggap proses bercinta beberapa artis lebih penting dibanding penyebar rekaman video privat ke ranah publik.

Breidel, rupanya hanya peristiwa masa lalu yang tak pantas diingat, apalagi dijadikan pelajaran untuk turut membuat Indonesia menjadi jauh lebih baik. Wartawan kian malas melakukan investigasi, atau mungkin justru sengaja menyembunyikan informasi karena terlibat dalam sebuah kongsi atau konspirasi.

Lihat saja peran media yang tak menghasilkan apa-apa, selain sensasi belaka: soal Gayus dan manipulasi pajak, heboh Susno Duadji yang tak ada akhir berarti, dan masih banyak lagi.

Semoga, peristiwa breidel masih diingat para jurnalis warga, yang memproduksi dan menyiarkan informasi lewat medianya sendiri-sendiri. Walau kebanyakan mereka adalah generasi belia yang tak mengalami masa-masa susah ketika pers dikendalikan penguasa, semoga mereka mau bertanya dan menggali data, entah melalui pihak ke berapa, atau rujukan data-data yang tersedia. Sudah saatnya pekerja media tak menganggap jurnalis warga dengan sebelah mata.

Blogger Press Tour

Mengumpulkan ratusan blogger dalam satu event bukan persoalan mudah. Tak hanya menyangkut konsekwensi pembiayaan, namun pengorganisasian peserta merupakan persoalan paling rumit. Andai cuma belasan orang, mungkin masih bisa dianggap gampang. Bagaimana kalau sudah mencapai ratusan orang? Di situlah letak tantangan.

Nopy van TPC siap memimpin piknik jurnalis warga alias blogger

Amprokan Blogger yang digelar 6-7 Maret lalu, merupakan bukti kesuksesan BeBlogger. Dari sisi pembiayaan, mungkin tak ada soal. Walikota Bekasi Mochtar Mohamad terbilang jor-joran memanjakan blogger yang datang dari berbagai kota di Jawa, serta sejumlah utusan dari Pekanbaru, Pontianak, Padang dan Banjarmasin. Sedikitnya 310 peserta tercatat sebagai peserta, sehingga lima bus harus dikerahkan untuk keliling kota secara konvoi.

Pesta penyambutan blogger luar kota dimeriahkan dengan hiburan grup band empat perempuan enerjik Delilah serta Iyeth Bustami, pelantun tembang Laksmana Raja di Laut. Penampilan artis-artis papan atas –yang tentu tak murah kontraknya itu, seperti menjadi puncak kemewahan pesta.

Malam ramah-tamah itu bagai pelemas syaraf yang tegang dan melelahkan setelah seharian para blogger diajak berkeliling kota. Dari mengunjungi monumen perjuangan yang berdekatan dengan Taman Pramuka, kampung perajin boneka, TPA Sumur Batu di Bantar Gebang (yang berhasil mengolah sampah menjadi energi listrik), serta meninjau kawasan industri Jababeka yang di tengah-tengahnya terdapat Botanical Garden, sebuah taman botani yang (tampaknya) belum terwujud seperti yang diangankan pengembang kawasan.

Interaksi total: blogger, tumpukan boneka dan kambing

Sungguh pertemuan blogger yang (menurut saya) sangat mewah. Apalagi, pada hari kedua, digelar sarasehan bertema dunia daring, yang menghadirkan tokoh-tokoh di bidangnya. Pakar telematika dan blogger kawakan Romi Satria Wibowo, Content Editor Yahoo! Indonesia, Budi Putra, staf khusus Depkominfo yang mewakilik Menteri Tifatul Sembiring yang urung hadir, pakar online marketing Nukman Lutfi, serta Kepala Pusat Data Elektronik Kabupaten Sragen yang datang mewakili Pak Bupati.

Acara pada hari kedua, rupanya justru lebih memunculkan antusiasme peserta dibanding gelaran hari pertama. Romi yang menyampaikan materi dengan riang dan asyik, juga Nukman yang bergaya cengengesan alias slengekan, justru berhasil menancapkan kesan mendalam pada benak peserta. Begitu pula paparan Budi Putra, bisa menjadi oleh-oleh yang sangat berharga.

Dari keseluruhan materi sharing gagasan para pembicara pada hari kedua, tertinggal satu hal yang mengganjal, kalau tak bisa disebut sebagai sebuah alpa panitia. Benang merah dari pernyataan para pembicara, semua menempatkan konten sebagai kritik utama. E-government, cybercity dan istilah-istilah berbau ‘kemajuan’, disorot masih menjadi semacam euforia. Sebuah daerah terkesan kuno dan tertinggal bila tak menyematkan unsur e- atau cyber yang berdekatan dengan nama sebuah kabupaten/kota.

Kita tahu, teknologi sangat mudah dipelajari atau diakrabi, dan tak terlalu mahal untuk dibeli. Yang justru mahal adalah persoalan akselerasi ketika masuk wilayah aplikasi atau penerapan teknologi. Blog atau website, misalnya, tak bermakna apa-apa sepanjang tak berisi informasi yang berarti.

Dan, bila sudah memasuki pada wilayah materi atau isi, di situlah persoalan sesungguhnya sudah menanti. Sebuah website resmi pemerintah kabupaten/kota, kadang berisi hal-hal yang membosankan. Baik dari sisi bahasa maupun sajian, yang sesungguhnya tak pernah jauh beda dengan buku-buku ‘pakem’ mereka, yakni (Nama Kota) Dalam Angka. Data jarang terbarukan, sehingga tak cukup ‘layak’ dijadikan rujukan (baik untuk keperluan riset akademis atau bahan perencanaan sebuah investasi), bahkan sekadar untuk panduan jalan-jalan.

Isi atau konten menjadi penting, sehingga seseorang yang membutuhkan informasi tertentu tak kecewa saat sudah susah-susah buang waktu untuk berkonsultasi dengan Mbah Gugel, atau mesin pencari yang memiliki banyak ragam kemampuan menemukan sesuatu berdasar kata kunci, frasa atau istilah-istilah populer tertentu.

Di balik rumah kumuh tersembunyi misteri: sampah plastik senilai Rp 3 miliar per hari, juga jual-beli karbon lewat duar ulang energi dari gas metana

Pada sisi inilah, saya (maaf) terpaksa harus menyampaikan kritik terbuka kepada BeBlogger, agar bisa menjadi masukan bagi komunitas blogger, lembaga swasta atau pemerintah. Strategi komunikasi yang bertumpu pada postingan blogger, baik melalui blog atau mikroblog, sangat dipengaruhi oleh penguasaan materi atas sesuatu hal bagi sang blogger.

Apa yang ter-indeks di mesin-mesin pencari seperti Google atau Yahoo! menjadi tak bermakna, bila materi sebuah postingan tak berisi apa-apa. Puja-puji, kritik dan (mungkin) cacian sama derajatnya di mesin pencari. Google, Altavista, Yahoo! atau apapun namanya, sama-sama tak punya perasaan, sehingga tak bisa memilah sebuah pujian harus ditempatkan pada posisi paling atas di halaman pertama sebuah hasil pencarian. Tidak! Mesin pencari tak bisa disuap atau diintimidasi!

Satu-satunya cara ‘mendikte’ mesin pencari adalah dengan memperbayak sajian positif. Pendekatan press tour seperti yang sering dilakukan sebuah public relations agency untuk banyak blogger, bisa jadi sia-sia atau kurang mengena. Seperti saat ratusan blogger mengunjungi perajin boneka, peninjauan lapangan di Bantar Gebang dan sebagainya, proses komunikasi menjadi kurang efektif.

Andai peserta dibagi ke dalam empat bus dan diarahkan ke lokasi-lokasi yang berbeda (Jababeka, Bantar Gebang, Taman Kota dan kawasan lain), mungkin proses pengenalan dan pengamatan sebuah perkara atau lokasi menjadi lebih intens. Dengan demikian, seseorang akan memiliki cukup banyak informasi untuk dijadikan bahan posting di blog masing-masing, sehingga pada gilirannya, akan diperoleh manfaat bagi Bekasi, sebagai obyek yang ingin lebih diperkenalkan potensi dan geliat perubahannya kepada publik dunia.

Janjinya sih industri rumahan, tapi sentuhan moderen tak boleh disalahkan, bukan?

Kita tahu, penguasaan materi sangat perlu sebelum seseorang mempublikasikan sesuatu, baik lewat gambar/foto maupun tulisan. Untuk mencapai itu, diperlukan suasana yang santai, dan bebas alias tanpa beban. Syukur, sebelumnya diberikan semacam panduan atau informasi awal mengenai apa dan bagaimana  Bekasi, dulu, kini dan apa yang diangankan pada masa depan. Satu yang terlupa, peserta Amprokan Blogger tak semua mengenal Bekasi dengan baik, termasuk saya.

Bekasi Bersih yang seperti apa, peserta tak punya pembanding dengan masa-masa sebelumnya, meski banyak komentar yang menyatakan, bahwa dulu dan kini sudah sangat jauh berbeda. Partisipasi Blogger untuk mempromosikan Kota Bekasi di ‘mesin pencari’ pun bakal sia-sia belaka, bila hanya karena ketidakahuannya, lantas membuat materi postingan seperti sekadar memenuhi tugas mengarang.

Teringat saya akan ungkapan Nopy, yang meski dimaksudkan sebagai canda semata, namun justru menemukan konteksnya. “Blogger, kok diatur…,” begitu kata Si Gendut asal Surabaya itu. Ratusan blogger yang ‘digiring’ pada satu lokasi sehingga berdesak-desakan bukan hanya berbuntut gaduh, namun juga berbuah komunikasi yang sia-sia. Satu hal yang membedakan blogger dengan jurnalis kebanyakan, adalah sisi kerelaan (liputan) dan proses penyuntingan hingga penyiarannya.

(Bila pers konvensional menggunakan pertimbangan-pertimbangan redaksional seperti skala prioritas, penentuan halaman dan luas ruang pemberitaan, dan sebagainya, maka blogger yang kerap mengidentifikasi diri sebagai pengembang jurnalisme warga cenderung mencatat dan mempublikasikan banyak hal tanpa banyak pertimbangan. Baik atau buruk, akan ditulis dalam kacamata sangat subyektif, sehingga memperoleh sebutan sebagai laporan testimonial.)

Penjelasan proses produksi kerajinan boneka atau proses daur ulang sampah yang mengandung metana (CH4) menjadi energi listrik sebesar 1.200 KVA dan 500 KVA di TPA Sumur Batu, mungkin tak tertangkap jelas. Apalagi menjelaskan hubungan Pemerintah Kota Bekasi yang memperoleh bagian 10 persen dari ‘kompensasi’ pembelian karbon oleh Pemerintah Belanda melalui pengelola sampah organik itu, padahal tak keluar dana sepeser pun.

Mungkin Anda paham, dan sebaliknya saya justru menjadi bingung menghubungkan cerita ‘rebutan’ sampah antara Bantar Gebang milik Kota Bekasi dengan Bantar Gebang yang disewa Pemda DKI dengan keberadaan Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (United Nations Framework Conventions on Climate Change/UNFCC) dan lain-lain.

Tanpa mbak-mbak Delilah ini, entah apa jadinya kami saat di Bekasi

Setahu saya, karbon itu ya hanya sejenis kertas berwarna gelap yang diletakkan di antara dua atau lebih kertas putih, sehingga sekali ketik, dua-tiga halaman ‘terlampaui’ seperti saat dulu coba-coba bikin skripsi. Kalau sekarang, sih, ingatan akan kata ‘karbon’ hanya  sebatas pada penempatan tembusan saat mengirim e-mail, baik yang terbuka (cccopy carbon) maupun sembunyi-sembunyi, yakni blind copy carbon, bcc!

Bagaimana menurut Anda? Semoga, nasib teman-teman tak seburuk yang saya rasakan, yakni bingung ketika hendak bikin postingan sebagai bagian dari catatan perjalanan. Namun demikian, terima kasih kepada teman-teman BeBlogger yang telah memanjakan kami. Semoga, pertemuan mendatang jauh lebih asyik lagi… Proficiat Blogger Bekasi!