Nonton Musi Triboatton

Sungai Musi bisa disebut anugerah bagi masyarakat Provinsi Sumatera Selatan. Soal lebar dan kedalamannya, sungai sepanjang 700-an kilometer dengan hulu di Kabupaten Empat Lawang ini memang tak seberapa dibanding sungai-sungai yang pernah saya arungi di Kalimantan Timur  dan Kalimantan Utara. Tapi, justru di situlah terletak berkah, apalagi di pelesiran sedang nge-hits di seluruh dunia ini. Dan, Musi Triboatton menjadi satu event yang menarik dikembangkan.

Sekayu Waterfront merupakan wajah Sekayu, ibukota Kabuupaten Musi banyuasin. Di tempat inilah peserta lomba dayung MusiTriboatton2016 yang berasal dari berbagai negara, diberangkatkan menuju Palembang. Pada hari biasa, kita bisa berwisata di sini dengan naik perahu motor dengan tarif Rp 10 ribu per orang.

Sekayu Waterfront merupakan wajah Sekayu, ibukota Kabuupaten Musi banyuasin. Di tempat inilah peserta lomba dayung MusiTriboatton2016 yang berasal dari berbagai negara, diberangkatkan menuju Palembang. Pada hari biasa, kita bisa berwisata di sini dengan naik perahu motor dengan tarif Rp 10 ribu per orang.

Karena sungainya hanya sedalam enam hingga delapan meter, maka tak memungkinkan kapal-kapal besar memasuki pedalaman. Dengan demikian, bisa menjadi rem alamiah atas kerakusan manusia mengeksploitasi alam secara massif, yang lantas membawanya ke luar. Dengan eksplorasi skala sedang, maka masih memungkinkan terlibatnya masyarakat lokal (dengan modal kecil hingga sedang) dalam setiap mata rantai pengelolaan kekayaan alam.

Sisi menarik lainnya, tak seperti di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang tepian sungainya sepi penduduk, di Sumatera Selatan justru terdapat banyak konsentrasi penduduk. Oleh karena itu, gelaran olahraga air berskala regional/internasional perlu dikelola untuk mendatangkan berkah ikutan alias multiplier effects, khususnya dari segi ekonomi.

Kehadiran peserta lomba (dan para pendukungnya) dari daerah atau negara lain bisa diproyeksikan menjadi penutur potensi wisata, baik alam, seni-budaya, maupun sejarahnya. Apalagi jika dirunut ke belakang, Kerajaan Sriwijaya termasyhur hingga India, China, Persia, Arab, Kamboja dan sebagian negara ASEAN lainnya, akibat hubungan ekonomi dan budaya. Continue reading

Jalan-jalan ke Bumi Sriwijaya

Menyongsong Asian Games 2018, Palembang tampak terus berbenah. Kotanya tambah rapi, pembangunan infrastrukturnya  pun dipacu.  Taman pun terus dibangun sehingga bisa dijumpai di mana-mana. Sungguh perkembangan yang menggembirakan, menjadi jauh lebih indah dibanding 2013, ketika saya sempat tinggal di kota ini selama hampir dua bulan lamanya.

Pagoda di Pulau Kemaro, Palembang. Tiang listrik (dan kabelnya) merusak kenyamanan orang yang ingin menikmati indahnya pemandangan.

Pagoda di Pulau Kemaro, Palembang. Tiang listrik (dan kabelnya) merusak kenyamanan orang yang ingin menikmati indahnya pemandangan.

Palembang benar-benar tumbuh menjadi kota wisata. Daerah yang kaya ragam kulinernya, tempat-tempat bersejarah, hingga keragaman budayanya, termasuk produk-produknya. Sungguh memesona. (Terima kasih Kementerian Pariwisata yang telah memberi fasilitas jalan-jalan dan makan-makan gratis selama lima hari kepada sejumlah teman, termasuk saya).

Dulu, tiga tahun lalu, saya nyaris tidak sempat mencicipi kelebihan Kota Palembang. Jembatan Ampera pun hanya sekali saya nikmati pada malam hari, meski beberapa kali melintasi. Maka, giranglah saya ketika ditawari ikut jalan-jalan ke Palembang, apalagi mendengar ada rencana menikmati Sungai Musi, dalam arti berperahu di atasnya. Ternyata, saya baru tahu, Musi merupakan kali lebar yang sangat sibuk, dan menjadi urat nadi penentu kelangsungan kehidupan masyarakat, tidak hanya Palembang, namun juga kota/kabupaten lain di Sumatera Selatan, juga provinsi-provinsi lain. Continue reading

Kejelian Baca Peluang Pasar

Meski tulisan ini masuk kategori sponsored content, tapi saya ingin berbagi fakta mengenai pilihan METRO Department Store membuka cabang di Solo Raya. Ya, saya menyebutnya Solo Raya, sebab secara administratif, The Park Mall –dimana gerai METRO berada, masuk wilayah Kabupaten Sukoharjo, namun secara psikologis merupakan bagian dari kultur Solo. Itulah kenapa, kawasan itu pun dinamai dengan Solo Baru.

1.metro_2013_11_15_17_54_17_HDR

Sebagai pusat belanja yang membidik pasar kelas menengah ke atas Kota Solo dan sekitarnya, bisa disebut kehadiran department store yang satu ini akan memenuhi hasrat pemenuhan kebutuhan akan kelengkapan gaya hidup mereka. Asal tahu saja, kalangan atas Solo dan sekitarnya, lebih suka belanja produk-produk branded di Jakarta atau, bahkan Singapura!

Solo-Singapura memang terasa dekat bagi sebagian warga Solo Raya. Tingkat okupansi Silk Air, misalnya, selalu tinggi. Dan, ya itu tadi. Kenapa mereka lebih suka belanja di Jakarta atau Singapura, sebab saya yakin di Solo belum ada tempat belanja, baik gerai maupun pusat perbelanjaan yang benar-benar menopang prestise mereka.

Antusiasme belanja tampak pada antrian panjang di depan kasir.

Antusiasme belanja tampak pada antrian panjang di depan kasir.

Saya menyimak betul, sejak dua tahun terakhir, kian banyak saja mobil Alphard dan Mercy S-500 berplat nomor AD berseliweran di jalan raya Kota Solo. Beberapa perusahaan otomotif yang bukan ‘pasaran’ pun banyak yang membuka cabang di Solo dan sekitar. Tentu, mereka tidak terlalu nyaman kalau berbelanja ke sejumlah mal yang sudah ada sebelumnya.

Jadi, saya pribadi mendukung dan respek terhadap METRO Department Store yang jeli membaca potensi pasar kelas atas di Solo. Keberadaan pemasar gaya hidup yang dikenal eksis sebagai simbol belanja eksklusif di Pondok Indah, Jakarta, itu, saya yakin turut mendongkrak prestise The Park Mall. Dengan demikian, saya yakin mal tersebut kelak akan kian ramai. Dan, keramaian yang ditimbulkan oleh perputaran kapital kelas atas, pastilah memberi dampak ikutan (multiplier effects) bagi warga sekitar, baik warga kebanyakan maupun pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Berkerumun menanti pintu gerai dibuka.

Berkerumun menanti pintu gerai dibuka.

Contoh sederhana, di sekitar mal akan muncul warung-warung makan atau tempat usaha baru dari warga sekitar yang jeli membaca peluang. Pasarnya? Jelas ada! Para karyawan mal dan gerai di sana, para sopir dan sebagainya, tak bakal membelanjakan duit mereka di restoran atau coffee shop papan atas yang ada di sana, kecuali sesekali saja. Di situlah letak kemunculan dampak ikutan bagi warga sekitar, termasuk persewaan kamar kost atau rumah kontrakan.

Bagaimana dengan produk UMKM dan pengusaha lokal? Saya kira masih ada kesempatan bagi mereka untuk memajang di METRO. Buktinya, di METRO Solo Baru, saya temukan brand sepatu yang saya yakini produk lokal, namun harganya cukup tinggi untuk ukuran kebanyakan. Dan kenapa dibanderol tinggi, sebab model dan bahannya, pun sangat masuk akal. Sulit mengenali Gino Mariani adalah local brand jika kita hanya melihat dari sisi METRO yang merupakan showroom produk-produk kelas atas dan barang-barang impor dan branded.

Sebagai orang Jawa, saya curiga Gino Mariani adalah nama pasangan, satu keluarga, atau satu kongsi usaha antara Tugino dengan Maryani, dua nama yang kental ‘aroma’ Jawanya. Dengan ‘modifikasi’ nama, maka lantas seolah-olah berbau Itali. Dan, kalau sudah ‘berbau Itali’, maka sah sudah sebagai brand sepatu ‘kelas dunia’.

Brand lokal beraroma dunia.

Brand lokal beraroma dunia.

Itu hanya satu contoh. Bukan tak mungkin, kelak akan hadir produk-produk lokal, termasuk dari Solo dan sekitarnya, di METRO Department Store, sehingga yang lokal ikut terangkat dan tidak selalu diasosiasikan sebagai produk murahan atau kalahan dibanding merek-merek dunia.

Saya kira, di situlah kontribusi kehadiran METRO Department Store di Solo Raya. Selain, tentu saja, kehadiran gerai yang satu ini, akan punya kontribusi signifikan mengalihkan penumpukan keramaian di pusat kota, Kota Solo!

Simak juga METRO Dept. Store di Facebook.

Mahakarya Tenun Indonesia

“Memintal Benang” karya Aris Daeng,  pemenang Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. (Sumber: www.djisamsoe.com)

“Memintal Benang” karya Aris Daeng, pemenang Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. (Sumber: www.djisamsoe.com)

Menyimak foto “Memintal Benang” karya Aris Daeng, saya jadi teringat akan kekayaan bangsa Indonesia akan produk-produk lokalnya. Yang ditunjukkan melalui foto pemenang Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia tentang pemintal benang di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan, hanyalah salah satu locus dimana tangan-tangan piawai berada. Kerajinan serupa hampir ada di setiap suku atau rumpun budaya Indonesia.

Di Palembang (Sumatera Selatan), Lombok (Nusa Tenggara Barat), Jepara dan Pedan (Jawa Tengah) dan banyak daerah lagi, masih bisa dijumpai jejaknya, hingga kini. Aneka ragam bahan, seperti benang kapas dan sutera yang tersedia di seluruh Nusantara, terbukti melahirkan aneka motif dan corak kain, untuk aneka keperluan.

Di antara sekian banyak sentra perajin pemintalan benang dan pembuat kain tradisional, saya kira hanya di Palembang yang bisa disebut ‘kurang berkembang’. Maksudnya, sentranya sudah ada, regenerasi perajinnya masih berlangsung, namun varian produk relatif terbatas. Kebanyakan produk tenun Palembang masih berorientasi untuk pemenuhan kebutuhan upacara adat seperti upacara pernikahan dan ritual lainnya, belum merambah ke produk-produk terapan yang kian dibutuhkan untuk menopang penampilan  keseharian (fesyen atau fashion).

lurik pedan

Kerajinan tenun Lurik Pedan, Klaten, Jawa Tengah, kembali menggeliat seiring dengan mulai ramainya pemakaian kain batik untuk beragam keperluan. Varian lurik, kini sudah mulai dipadu dengan teknik batik, juga pengembangan sistem pewarnaan berbahan kimia alam. Sentra lurik, pun kian meluas, tak hanya di Kecamatan Pedan, namun hingga Kecamatan Cawas. Banyak lembaga sosial dan lembaga swadaya masyarakat turut melakukan bimbingan teknis produksi, desain motif dan strategi pemasaran kepada perajin, terutama sejak wilayah itu dilanda gempa dahsyat pada 2006.

Berbeda dengan kain sutra Bugis yang varian penggunaannya sudah merambah pada tas, dompet, syal, dan untuk pakaian sehari-hari, kain songket Palembang ibarat masih jalan di tempat. Sama-sama berbahan baku sutera, produk tenun Bugis sudah banyak digunakan untuk pakaian harian, seperti halnya pemakaian batik dan lurik (Jawa Tengah). Sayang, orientasi produksi songket Palembang masih terbatas untuk penopang keperluan upacara adat.

Dengan orientasi pada upacara adat, maka motifnya pun menjadi terbatas. Pasarnya menjadi sempit, eksklusif. Akibat lainnya, harga jual menjadi sangat mahal, tidak terjangkau oleh masyarakat kebanyakan, sehingga laju produksi pun tidak bisa massif. Andai para perajin songket Palembang mau ‘mempublikkan’ produknya, saya yakin geliat industri rakyat di sana akan cepat meningkat pesat.

Geliat pembangunan Provinsi Sumatera Selatan sejak menjelang pelaksanaan SEA Games 2011 tidak pernah surut, bahkan terus meningkat hingga kini. Sektor-sektor usaha modern tumbuh pesat dan memiliki kontribusi sangat signifikan terhadap perekonomian wilayah, karena memiliki multiplier effects yang panjang.

Hingga pertengahan 2013, misalnya, lalulintas keluar/masuk penumpang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II mencapai 2,5 juta orang setiap tahunnya. Jika 10 persen dari mereka adalah para traveler, potensi belanja produk-produk masyarakat Sumatera Selatan (selain krupuk dan pempek) pun terbuka lebar. Dampaknya, pasti akan bisa dirasakan 600-an pelaku industri kecil dan menengah (IKM) seperti produsen tenun songket, blongsong, jumputan, dan sebagainya.

songket-palembang-WP_20130527_021

Kerajinan songket Palembang relatif kurang berkembang, sebab kebanyakan pelakunya masih berorientasi untuk pemenuhan kebutuhan upacara adat. Varian produk turunannya, pun masih sangat terbatas, tidak seperti halnya tenun sutra Bugis, Lurik Pedan atau kain batik, yang sudah merambah ke aneka jenis perlengkapan fesyen, seperti dompet, aneka tas, juga pakaian keseharian.

Entah terwujud atau belum, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pernah merancang pendirian Graha Songket, yang konon akan dijadikan showroom terpadu untuk aneka produk rakyat, seperti songket, produk kerajinan, pempek dan krupuk khas Palembang untuk memudahkan pelancong mendapatkan oleh-oleh khas Sumatera Selatan.

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari 4,5 persen pada 2008 menjadi 6,5 persen pada 2012, kehadiran fasilitas-fasilitas moderen seperti hotel yang menunjang industri meeting, incentive travel, convention and exhibition (MICE) di Kota Palembang dan kabupaten/kota sekitar, serta kuatnya geliat usaha sektor riil, merupakan petunjuk nyata adanya kemajuan yang signifikan Sumatera Selatan, bersaing dengan kota-kota di Pulau Sumatera seperti Medan dan Padang.

Saya kira, yang diperlukan kemudian adalah intervensi pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten/kota sekitar dalam rangka mengembangkan potensi industri rakyatnya. Dalam hal tenun/songket, misalnya, dirangsang lewat lomba desain produk songket, memfasilitasi perajin melakukan pameran di luar provinsi/negara, pelatihan/workshop desain dan motif, dan sebagainya, sehingga 12 motif utama bisa dikembangkan ke lebih banyak varian atau motif baru.

Jika Jl. Somba Opu, Makassar bisa menjadi pusat oleh-oleh khas Sulawesi Selatan, sudah semestinya Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga bisa membangun kawasan wisata belanja khas produk Wong Kito. Tak hanya makanan tradisional, produk lokal lainnya seperti minyak tawon, minyak kayu putih, kopi, aneka cinderamata serta aneka varian produk seperti aneka tas dan dompet berbahan sutra Bugis sangat mudah dijumpai di banyak toko di Jl. Somba Opu.

Palembang, yang hanya berjarak satu jam penerbangan dari Jakarta dan kaya obyek wisata sejarah, bahari dan alam, mestinya bisa belajar dari kota-kota lain. Ketika industri kecilnya maju, serapan tenaga kerjanya pun akan tinggi, tak terbatas di bagian produksi, namun hingga jalur pemasok bahan baku dan distribusi. Jika rakyat sejahtera, maka masyarakat dalam satu wilayah akan tenteram, dan pemerintah bisa fokus menata pembangunan.

Tulisan ini dibuat sekaligus sebagai apresiasi program Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia, yang dengan sengaja diniatkan untuk menggali potensi kekayaan Nusantara. Ini program menarik, menurut saya. Sebab, dampaknya pasti akan sangat panjang dan bisa dinikmati sebanyak mungkin orang, semua lapisan, dan di semua penjuru Nusantara.

Sudah saatnya publikasi tentang Indonesia diperbanyak supaya sesama bangsa bisa saling tahu kekayaan dan keragamannya, syukur-syukur merangsang minta orang mancanegara datang menjelajah Indonesia. Saatnya, kita mempromosikan kekayaan kita, bukan sebaliknya mendorong bangsa kita jalan-jalan wisata dan berbelanja ke mancanegara. 

Naik Dokar Keliling Solo

Akhir tahun kemarin, saya ikut teman-teman Blogger Bengawan keliling Kota Solo. Ceritanya, sekaligus merayakaan ulang tahun keempat komunitas blogger se-Solo Raya itu. Kami beruntung dihadiri beberapa sahabat Jamaah dari Yogyakarta dan beberapa penyimak timeline @tentangSolo sehingga lima dokar (delman atau andhong) yang berkapasitas enam orang (di luar sais/kusir) penuh terisi.

 

Molor sejam dari jadwal, rombongan konvoi dokar berangkat dari depan RBI

Saya hanya ikut-ikut, karena tidak numpak andhong, melainkan naik sepeda motor kesayangan. Urusan jalan-jalan dikomandoi Dony Alfan, Hendri, Ketua Bengawan Hassan dan Mursid Sekjen. Kata teman-teman sih, seru walaupun berasa kelamaan. Mungkin lantaran terganggu gerimis, sehingga keasyikan yang seharusnya didapat agak menyusut kwalitasnya.

(Dari kiri ke kanan) @argamoja, @jasoet, @si_enthon9 dan @iwnjw

Alhamdulillah, Arga, Jasoet, Enthong, Iqbal Rasarab, Iwan Jewe, Anto Lele (dan mbak-mbaknya, maaf lupa nama) pada suka, meski di kota mereka tinggal, delman tak selangka di Kota Solo, yang dulunya termasuk negerinya andhong.

Sekelumit tentang Delman Solo

Seingat saya, delman sudah tak populer, setidaknya sejak saya menetap di Solo pada akhir 1987. Beberapa memang masih ada yang ‘beroperasi’ di Pasar Legi, untuk sarana angkut kulakan para pedagang. Tapi, sebagai angkutan komersil yang bisa diakses masyarakat kebanyakan, sudah tak ada. Belakangan, delman-delman di Solo kerap disewa oleh berbagai pemerintah daerah atau event organizer, seperti Semarang, Cilacap, Jakarta, hingga Banyuwangi, Jawa Timur.

Bahkan, menurut penuturan Pak Bejo, tetangga saya, ia pernah diundang keluarga Presiden Yudhoyono ketika mantu Eddy Baskoro alias Ibas. Ia menjadi sais kereta untuk pengantin, yang juga didatangkan dari Solo, yakni kereta kencana milik Pemerintah Kota Surakarta. Kereta itulah yang kerap digunakan untuk mengangkut tamu-tamu khusus yang datang ke Solo, baik menteri, pejabat atau delegasi dari luar negeri.

Pak Bejo, termasuk juragan delman. Kini, ia memiliki beberapa kereta wisata berukuran kecil (populer dengan sebutan bèndi), hanya hanya muat dua orang. Ia juga memiliki banyak delman berkapasitas empat hingga enam orang dan merawat 23 ekor kuda di bagian belakang rumahnya!

Kak Mursid jadi asisten kusir...

Meski tak seperti tiga puluh tahun silam, kini ia merasa beruntung dengan banyaknya wisatawan yang datang ke Solo. Ia mengaku, delmannya sering disewa untuk turis keliling Kota Solo, selain pada menikmati bus tingkat Werkudara atau kereta uap Sepur Kluthuk Jaladara. Di luar kereta lama, bèndi lebih bisa dijadikan penopang ekonomi karena setiap akhir pekan selalu ramai disewa orang untuk mengeliling kota atau sekitar Stadion Manahan, tempat mereka mangkal.

Jumlah delman di Solo, kini tinggal 40-an. Tapi jika ada permintaan, ia bisa mendatangkan dari kota sekitar, seperti Karanganyar atau Boyolali. Sewanya pun tak mahal, antara Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu per hari, tergantung jarak/jumlah lokasi yang hendak dikunjungi.

Melongok Bunker Laweyan

Dalam acara jalan-jalan dalam rangka ulang tahun Bengawan, kemarin, kami hanya murni jalan-jalan, hendak mencari sensasi wisata dengan kereta tenaga kuda. Hanya empat lokasi utama yang dikunjungi: bunker di Kampung Laweyan, Solo Techno Park, Urban Forest di tepi Sungai Bengawan Solo dan hutan kota Taman Balaikambang.

Arga keluar dari bunker.....

Di Laweyan, Arga, Iwan Jewe dan Iqbal Rasarab kelihatan happy. Rasarab diwawancarai oleh Iwan dan direkam secara audiovisual dengan menggunakan gadget andalan. Mereka, juga sebagian besar peserta jalan-jalan, baru tahu kalau bunker di Laweyan itu, dulunya terhubung antarrumah. Bangunan yang kini terbuka untuk wisatawan adalah sebuah rumah berusia 525 tahun, peninggalan jaman Sultan Pajang. Bangunan itu pun baru dipugar pemerintah pusat dan dinyatakan sebagai benda cagar budaya.

Saya menduga, bunker itu dulu digunakan untuk sembunyi para pejuang, sekaligus tempat menghilang seusai menyergap dan merampas harta/senjata orang Belanda yang melintas di sekitar Laweyan. Kita tahu, Laweyan merupakan kampung pejuang, di mana kaum pergerakan kemudian yang mengorganisir diri dalam organisasi bernama Syarikat Islam (SI).

Mengunjungi Solo Techno Park

Dari Laweyan, rombongan berkeliling kota lagi, melewati Alun-alun Selatan Kraton Surakarta menuju Solo Techno Park (STP). Sesuai namanya, merupakan pusat ‘pemberdayaan’ publik milik Pemerintah Kota Surakarta. Di sanalah ada pusat inkubasi bisnis, kawasan perakitan mobil Esemka, hingga pusat pelatihan calon teknisi perawatan pesawat terbang, hasil kerja sama Pemkot Surakarta dengan Garuda Maintenance Facilities (GMF), yakni perusahaan satu payung dengan Garuda Indonesia. Asal tahu saja, GMF termasuk salah satu ‘bengkel’ pesawat terkemuka milik Indonesia, yang reputasinya diakui dunia penerbangan Internasional.

Mas Aam Enthong dan Arga, dua mekanik magang di PT Esemka Indonesia... :p

Menurut Pak Darsono, Direktur Umum STP, kelak di kompleks Solo Techno Park akan dibangun pusat pameran (exhibiton centre) dengan sejumlah fasilitas pendukung, seperti hotel dan showroom produk-produk Solo dan sekitarnya.

Singgah di Urban Forest

Dari Solo Techno Park, rombongan wisatawan delman singgah sebentar di Urban Forest, di pinggir Sungai Bengawan Solo. Tepatnya di Kampung Pucangsawit, tak jauh dari Taman Jurug.

Seperti namanya, Urban Forest dirancang sebagai hutan kota di pinggir Bengawan. Memang, jika terjadi banjir besar, kawasan itu akan tertutup luapan air. Tapi dalam situasi normal, kelak dipastikan bakal menjadi kawasan nongkrong paling nyaman di pinggiran Kota Solo, selain Taman Balekambang di tengah kota.

Kabarnya, kawasan yang dulunya kumuh itu, kelak akan dibangun taman bunga, dan jogging track dan lapangan futsal di ruang terbuka. Arena bermain untuk anak-anak sudah rampung dibuat, taman labirin sudah ditanami pepohonan. Semoga, Pemerintah Kota Surakarta juga segera merealisir kawasan itu sebagai taman wisata air, dengan memanfaatkan melimpahnya air Bengawan Solo yang tak pernah kering.

Cerita terkait ada di Suara Merdeka.