Makam

Makam adalah tempat peziarah merenungkan banyak hal, untuk memperbaiki laku sisa hidup dan berkaca pada perilaku yang mati semasa hayat. Karena itu, orang lalu mendaras doa. Memintakan ampunan dan ruang di surga bagi yang mati. Fisik makam hanya sarana untuk memasuki ruang-ruang spiritualitas.

Tak aneh, banyak orang Jawa mengutamakan pulang dari perantauan untuk berziarah ke makam-makam kerabat sepekan menjelang ramadhan. Bahwa tradisi itu bernuansa sinkretisme kepercayaan Jawa kuno dan pengaruh Hindu tak bisa dinafikan. Namun, justru tradisi semacam itu yang dijadikan pintu masuk bagi Wali Sanga ketika mendakwahkan ajaran Islam di Jawa.

Makam atau kuburan adalah ruang kontemplasi

Pelan-pelan, Wali Sanga mengajak peziarah untuk tidak meminta sesuatu dari yang mati, namun justru mendoakan mereka, memanjat kepada Sang Maha Kuasa. Dari pendekatan semacam itulah, Islam menyebar di tanah Jawa. Sebuah cara jitu pada masa itu, dengan menonjolkan kearifan berupa penghormatan terhadap keragaman.

Kita masih ingat, Syeh Ja’far Shadiq yang lantas bergelar Sunan Kudus melarang pengikutnya menyembelih sapi, sebab hewan itu dikeramatkan umat Hindu. Jejaknya masih terasa hingga kini, di mana masakan daging kerbau lebih mudah dijumpai di Kudus. Kerbau menggantikan lembu.

Ciri arsitektur masjid dan kompleks makam yang Hindu pun dipertahankan hingga kini, sebab ruang spiritualitas berada jauh di dalam dari yang bendawi, material. Isi lebih penting daripada kulit, yang fisik. Termasuk dalam tradisi ziarah, tak bisa dinilai dari perilaku kasat mata.

Tradisi Sadranan, yakni nyekar atau ziarah massal di bekas wilayah Mataram merupakan wujud kejeniusan para wali memodifikasi tradisi lama, yang bagi sebagian kelompok yang mengklaim sebagai ‘pembaru’ Islam dianggap bid’ah, tak ada landasan hukumnya.

Mendoakan kerabat, bukan meminta kepada yang sudah mati

Tak cuma Sadranan yang tahunan, malam Jumat juga dikeramatkan. Orang Jawa akan memilih itu sebagai ‘hari baik’ untuk berziarah, meski sejatinya bisa dilakukan kapan saja. Sebagian pemakaman umum di Jepara, bahkan ramai orang datang dengan kostum gamis dan bersarung pada Kamis sore hingga petang. Mereka membaca Yaasin dan Tahlil di samping pusara.

Begitu lekatnya tradisi ziarah kubur, lantas menjadikan makam bukan sekadar gundukan penutup jasad semata. Pada makam terdapat teladan, yang bisa ditiru dan dipraktekkan ke dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Makam adalah pengikat, bukan semata bagi yang bertalian darah, namun juga tali penghubung antara murid dengan guru, antara santri dengan kiai, antara yang hidup dengan telada si mati.

Andai pejabat Pemda DKI memahami aspek kultur dan spiritualitas seperti ini, mungkin tak akan terjadi amuk massa di Koja. Andai persoalan utamanya adalah sengketa kepemilikan lahan, biarlah itu diselesaikan dengan pendekatan hukum. Namun yang tak bisa diabaikan, adalah keberadaan makam Mbah Priok, orang suci yang berjasa bagi persebaran Islam di Batavia.

Mungkin, PT Pelindo, Pemda DKI hingga Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menganggap hubungan warga dengan Mbah Priok hanyalah hubungan irasional. Mereka lupa, ada pola hubungan yang bisa diterima dengan nalar, bahwa dari makam itu, berbagai etnis merasa dipersatukan sehingga menghasilkan relasi sosial yang harmonis, dan berlangsung secara turun-temurun.

Sedikit banyak saya juga tahu, populasi masyarakat miskin di daerah itu cukup besar. Kesulitan ekonomi yang menghimpit mereka lantas memunculkan sifat/karakter keras akibat persaingan hidup yang sengit. Penghasilan pas-pasan, fasilitas umum yang minim kian menambah peliknya kompleksitas persoalan. Jangankan untuk mandi, air untuk makan, minum dan kebutuhan sanitasi sangat mahal di sana.

Persoalan-persoalan sosial yang begitu nyata, tak kunjung menemukan solusi. Pada masyarakat demikian, aspek spiritualitas lantas menjadi satu-satunya medium katarsis, sekaligus ruang kontemplasi, yang pada gilirannya mampu berperan sebagai rem bagi nafsu-nafsu emosional sesaat.

Pada situasi psikososial yang ‘buruk’ itulah, kehadiran ratusan Satpol PP yang dipersepsikan sebagai alat kekuasaan (PT Pelindo) dicurigai akan menggusur Mbak Priok atau Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad, satu-satunya suh, medium perekat relasi sosial antaretnis. Pada titik itulah mereka menemukan ruang ‘katarsis’, yang sayangnya, menjadi kelewat anarkis.

Atas dasar itulah, saya bisa memahami kemarahan mereka. Saya juga meyakini, pola dan bentuk komunikasi kedua belah pihak yang bersengketa tak mempertimbangkan aspek-aspek kultur yang hidup di tengah-tengah mereka. Bahkan, saya masih kuatir dengan pernyataan Wakil Gubernur Prijanto, yang menyebut ada pihak yang sengaja ‘ngompori’ sehingga peristiwa tragis itu terjadi.

Tak bijak seorang pemimpin membuat pernyataan yang justru berpotensi memperkeruh suasana. Yang perlu dicari adalah solusi meredam ketegangan, termasuk memilih pihak-pihak yang dilibatkan dalam proses dialog dan mediasi. Menghadirkan Habib Rizieq dalam penyelesaian sengketa, pun bakal menjadikan runyamnya suasana.

Di makam, yang hidp mendaras doa dan membacakan ayat-ayat suci

Ketokohan Rizieq dalam ‘kelompok Islam’ hanya karena FPI-nya. Sementara, dalam konteks tradisi ziarah kubur, ia termasuk kelompok orang yang menentang tradisi ‘bid’ah’ itu. Kalau gagal mengidentifikasi persoalan, nampaknya persoalan Mbah Priok bakal jadi panjang.

Salah satu harapan, justru keterlibatan Gubernur Fauzi Bowo atau Foke. Sebagai orang NU, pasti dia sangat tahu seluk-beluk ziarah dan makam orang-orang yang dianggap suci.

Pemabuk Intelek dan The Twitters

Kata twit menurut AlfaLink berpadanan dengan mengejek, menggoda. Sedang twitter dipadankan dengan cicit-cicit, kicau. Apapun padanannya, kini saya sedang tergoda dengan kicauan di situs jejaring sosial Twitter. Namanya saja kicauan, tentu ada yang merdu, tapi tak sedikit pula yang berisik dan mengganggu.

Uniknya, kicauan para tweeps bisa jadi rujukan informasi yang menarik, menggoda untuk ingin lebih (mencari) tahu. Mulai cerita macetnya jalan akibat adanya rombongan demonstran, hingga kicauan tentang konflik dua menteri, yang menurut saya mengganggu. Kenapa terganggu, sebab nalar dan feeling saya belum bisa menautkan perihal konflik dua orang berinisial ARB dan SMI dengan aliran dana bailout Bank Century, yang saya yakini bocor ke mana-mana.

Membingungkan memang. Makanya, saya tetap yakin dengan pendirian saya, bahwa skandal Bank Century bukan urusan Robert Tantular dan teman-temannya sebagai pemilik saham. Ada misteri yang belum terungkap gamblang hingga kini. Ribut menjelang berakhirnya Pansus Century dan berita tarik-ulur anggota koalisi, bagi saya, itu memberi petunjuk mengenai besaran persentase tingkat keraguan yang saya miliki.

Sungguh, ribuan kicauan yang dipancarkan oleh jutaan orang tiap hari, menyodorkan kepada kita sebuah puzzle yang bisa kita susun sendiri sehingga menemukan kebenaran subyektif. Saya termasuk jenis orang suka ngotak-atik pesan, mencermati arah dan maksud si pembuatnya, dengan berpedoman pada fakta-fakta subyektif yang sudah saya miliki sebelumnya.

Mari kita simak baik-baik. Seburuk-buruknya isi pesan atau kicauan, tampak tak banyak yang punya niat bermain-main, kecuali satu dua yang berbagi joke atau cerita-cerita ringan sebagai penghiburan bagi para followers­-nya. Boleh saja Anda menyebut pekicau itu seperti kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut seorang pemabuk.

Sebagai orang yang lama bergaul dengan pemabuk, saya justru mengapresiasi keberadaan mereka. Terlepas dari soal setuju dan tidak setuju pada perbuatan mabuk, saya justru banyak menemukan pelajaran hidup dari mereka. Tak jarang, pada posisi mabuk seseorang bisa lebih jujur mengungkapkan perasaan dan pendapatnya dibanding saat waras. Apalagi bagi orang-orang introvert.

Sewaktu kuliah dulu, saya memilih ‘belajar’ dari teman-teman pemabuk. Dari 200-an teman seangkatan, terdapat sekitar tujuh orang pemabuk yang membentuk gank. Di sini, saya ingin menyebut mereka sebagai pemabuk intelek. Saya sebut demikian, sebab keseharian mereka sangat lekat dengan buku. Akrab dengan teks.

Hampir semuanya menggemari novel dan bacaan-bacaan filsafat. Seperti berlomba, masing-masing pada kontes banyak-banyakan sumber bacaan. Banyak nama yang sering mereka sebut. Ada K. Bertens, Bertrand Russel,  Erich Fromm, F. Schumacer, Alvin Toffler, Neil Postman, Jalaludin Rahmad, Leo Tolstoy, Anton Chekov, Jujur Prananto, Sindhunata, YB Mangunwijaya, dan entah siapa lagi.

Saya tak tahu siapa nama-nama yang mereka sebut itu. Karena malas belajar saja, kadang saya melontarkan pertanyaan terkait mata perkuliahan yang saya tak paham, ketika mereka sedang berkumpul, dan sedang mabuk! Ramai diskusi antarpemabuk hanya saya dengarkan, sambil diam-diam mencari bahan untuk kemudian saya cocokkan dengan referensi seadanya yang saya punya. Aman, walau rata-rata cuma dapat nilai dua koma, namun sedikit banyak bisa mengendap di kepala.

Karena membahas satu tema sambil mabuk berjamaah secara panjang lebar, sayalah yang sangat diuntungkan. Apalagi, ketika itu mereka rajin baca Kompas Minggu, yang selain menampilkan cerpen-cerpen bermutu, juga artikel-artikel budaya yang dilontarkan pemikir-pemikir kebudayaan kontemporer di Indonesia. Dari sana, teman-teman jadi kerap berlomba, cepet-cepetan membuat artikel untuk dikirim ke berbagai media massa.

Unik dan asyik. Honor tulisan mereka yang diterbitkan lantas dibagi dua: separuh dibelikan buku dan sebagian lainnya dijadikan modal untuk beli gepengan (sebutan untuk Mansion House atau Vodka), agar lancar dan berani menyerang lawan diskusi dengan argumentasi (dari buku-buku yang mereka punya, tentunya).

Apakah orang mabuk itu hilang kesadaran sehingga pernyataannya tak memiliki makna? Sejauh pengalaman yang saya rasakan, saya harus menjawab tidak! Sama halnya dengan orang berkicau di Twitter, saya tak menganggapnya sebagai mengirim pesan tanpa makna. Tinggal bagaimana kita memilah dan menyikapi pesan-pesan yang terlontar dari mereka. Pemabuk dan pekicau, sekilas tak ada beda.

Sependapat atau tidak, ya terserah Anda. Wong di sini, saya juga cuma meracau…….

* terima kasih pada Zam yang sudah mengingatkan kekeliruan penyebutan hingga perlu ralat.

Bonek itu Bodoh

Tindakan Walikota Surabaya menjemput kedatangan bonek di Stasiun Gubeng adalah kekeliruan. Dan, janji menanggung biaya perawatan serta membiayai pemulangan jasad bonek adalah kecerobohan. Tindakan itu, berpotensi dipahami mereka sebagai apresiasi atas militansi mereka membela Persebaya. Mereka merasa jadi pahlawan.

Padahal kita tahu, bonek adalah kumpulan orang-orang bodoh, yang tak bisa berpikir dan membedakan mana perbuatan baik dan buruk. Terbukti, menjarah dan bertindak anarkis menjadi trade mark yang nyata tak ingin mereka hilangkan. Pedagang kakilima yang modalnya pas-pasan pun tega mereka zalimi.

Benar, tak semua pendukung Persebaya adalah bonek. Teman-teman saya di Surabaya, jangan Anda marah, sebab saya lebih suka menyebut Anda sebagai supporter fanatik, bukan bonek. Sebab seperti namanya, bonek itu hanya orang-orang bermodal dengkul dan kengawuran, maka dinamakan bondho nekad. Anda bukan bonek karena masih punya akal, budi dan tenggang rasa.

Saya yakin, kata bonek semula berasal dari sindiran terhadap mereka-mereka yang selalu mendatangi tempat penampilan klub pujaan mereka bertanding di berbagai kota tanpa bekal sama sekali. Awalnya, mereka ngamen, lalu ada yang berani minta-minta dan akhirnya, meminta dengan paksa. Kekerasan lantas ditempuh manakala gagal meminta belas kasih orang.

Anehnya, julukan tak bagus itu lantas diabadikan, hingga seolah-olah menjadi sebutan kebanggaan. Karena itu, aneh juga rasanya, ketika menemukan orang-orang yang memiliki akal, hati dan kepekaan rasa, justru bangga dengan sebutan seburuk itu. Saya yakin, dokter jiwa pun akan kesulitan membuat sebutan untuk sebuah gejala yang menjangkiti mereka.

Ketika ribuan orang memadati tiga stasiun di Solo, juga banyaknya orang mematikan lampu penerangan di kiri-kanan sepanjang lintasan kereta api pengangkut bonek, pada Minggu malam hingga dinihari, sejatinya saya ngeri. Anehnya, seperti orang sakit jiwa, saya bisa memahami kemarahan mereka, menyusul insiden tanpa alasan beberapa hari sebelumnya.

Jumat lalu, ketika kereta berhenti di Stasiun Purwosari, rombongan bonek yang menumpang kereta itu pada turun, menyerbu pedagang kakilima demi mengganjal perut mereka. Seperti ingin meneguhkan identitas anarkis yang mereka sandang, mereka pun menyerang jurnalis dan polisi yang berjaga. Andai bonek bukan gerombolan yang patut dicurigai, pasti tak bakal ditunggui jurnalis, apalagi dihadiri polisi.

Coba, apa jawaban kalian, wahai Walikota Surabaya, pengurus dan stakeholders Persebaya, atas kejadian itu? Sekering apakah nurani kalian sehingga masih menempatkan bonek sebagai aset kalian? Kalau memang gentle, mestinya kalian tak hanya bertanggung jawab atas pembiayaan sakit dan kematian bonek. Lebih dari itu, mengganti pula seluruh kerugian pedagang kakilima, jurnalis dan polisi yang terluka, serta kerusakan kereta api akibat ulah mereka.

Tak usahlah jauh-jauh mikir bekal agama, karena agama berada jauh di atas kepekaan rasa. Kalian lupa, sebagai stakeholders yang jelas lebih berpendidikan dan luas pergaulan, kalian tak bakal saya sebut sebagai penyandang penyakit hina bernama kebodohan. Sudah berapa kali, berapa tahun, kejadian penjarahan dan anarkisme berulang?

Bubar-tidaknya Persebaya menjadi urusan kalian. Namun di sini, saya hanya ingin menuntut tanggung jawab moral kalian. Sudah tahu bonek itu bodoh dan miskin, kenapa masih juga dibiarkan  pergi menonton Persebaya berlaga, bahkan disewakan gerbong-gerbong kereta? Kalian pasti tahu, setiap menjarah makanan atau rokok, alasan si bodoh yang selalu datang berjamaah itu juga klise: tak punya duit!

Lha kalau tak punya duit masih difasilitasi untuk pergi menonton, bukankah itu menjadi kecerobohan kalian juga?

Memang, anarkisme bonek tak bisa dilepaskan dari perilaku para politisi dan pemodal yang berwatak kriminal. Demi kepentingan (yang biasanya buruk), mereka terbiasa memobilisasi massa. Kejahatan, selama dilakukan secara komunal, seolah-olah bisa menjadi benar. Padahal, orientasinya hanya kemenangan semu, berbekal ampuhnya model intimidasi.

Sistem hukum yang lemah hanya salah satu celah. Pelaku kekerasan seperti dilakukan para bonek tak pernah berujung pada proses peradilan, sehingga membentuk pemahaman bagi orang-orang bodoh seperti mereka, bahwa apa yang dilakukannya itu sungguh-sungguh benar. Lalu, jadilah peristiwa kekerasan demi kekerasan yang berulang, dengan pola yang sama pula: intimidasi, menakut-nakuti!

Bila pemilik kios-kios di Stasiun Gubeng saja memilih menutup usahanya menjelang kedatangan para bonek, itu sudah cukup memberi bukti kepada publik Indonesia dan dunia, betapa biadabnya perilaku mereka. Merasa diri sebagai orang kecil namun tak punya solidaritas terhadap sesamanya, tentu sah-sah saja bila disebut luar biasa.

Anehnya, Walikota Surabaya seperti bangga terhadap mereka hingga perlu menyambut kedatangannya. PSSI pun, anehnya juga tak sanggup menjatuhkan sanksi luar biasa kepada anggotanya. Skorsing tak boleh bertanding 10 tahun misalnya, bisa membuat para pengelola Persebaya jera dan mau berbenah, termasuk mendisiplinkan dan mendidik pendukungnya, biar tidak menjadi bonek semata, namun pemuja dan pendukung yang lebih masuk akal.

Bahwa tindak kekerasan dan aksi balas dendam menunjukkan rendahnya tingkat kedewasaan masyarakat, itu tak terbantahkan. Aparat yang tak tegas dan hukum yang letoy adalah faktor yang perlu jadi perhatian. Namun sikap para stakeholders yang tak menunjukkan tanda-tanda kedewasaan dalam mendidik publiknya, jelas sangat disayangkan.

Rasanya, demi ketentraman bersama supaya bisa membangun Indonesia Raya, lebih baik para kriminal itu diadili. Pasal mengganggu ketertiban umum, pencurian dan perampokan dengan kekerasan bisa digunakan untuk para perusuh. Terhadap para stakeholders, bisa saja diberikan hadiah pasal pembiaran.

Kalau Anda bertanya bagaimana kalau penjara penuh? Gampang saja, ambilkan dana bencana (karena kejahatan massal bonek adalah bencana kemanusiaan) untuk membangun penjara di Nusakambangan yang masih lapang. Bikin saja sel khusus para perusuh persepakbolaan. Setahun hingga tiga tahun sudah cukup untuk memberi pelajaran. Anda sekeluar penjara jadi perampok, anggap saja kecelakaan, atau pahami saja itu sebagai kodrat orang bodoh pemuja kriminal dan kekacauan.

Jadi, saya merasa tak perlu meminta maaf kepada kalian semua, para stakeholders Persebaya. Saya berjanji pada diri sendiri dan berikrar di sini, akan selalu menyerukan boikot menghadiri laga sepakbola yang dilakukan Persebaya. Juga, menghindari menonton pertandingan Persebaya di televisi. Saya merasa, hanya tekanan massa yang luas yang bisa menyadarkan kalian. Bukan sanksi denda atau hukuman lain yang dijatuhkan oleh PSSI.

Apalagi kalau melihat banyak bukti, PSSI tak pernah punya nyali. Juga keinginan mereformasi diri.

Foke Emoh Air Keruh

Pak Foke ternyata tak suka air keruh. Walau ‘bikinan’ PAM Jaya, perusahaan punya Pemda DKI Jakarta, tetap saja dia tak suka. Buktinya, waktu disodori sebotol air dari sebuah kran di Muara Baru oleh seorang ibu, dia memilih berlalu. Mungkin dia malu.

Kejadiannya berlangsung Rabu (20/1) pagi. Usai membuka seminar tentang Pembiayaan Infrastruktur Air di Hotel Sultan, Gubernur Fauzi Bowo alias Foke segera meninggalkan acara. Bu Komariah, salah satu warga miskin yang tinggal di Muara Baru, Jakarta Utara menyerahkan sebotol air kran. Kekuningan warnanya.

Foke enggan menerima. Mungkin malu sebab botol itu merupakan menjadi cermin buram atas buruknya pelayanan air bersih di Jakarta. Bagi warga Jakarta Utara, misalnya, saluran perpipaan sudah tersedia sejak pertengahan 1990-an, jauh sebelum pengelolaan PDAM diserahkan (dijual) ke dua perusahaan swasta asing.

Malah, kata seorang anggota Badan Regulator Air Jakarta, sedikitnya 2.000 hidran dipasang di Jakarta Utara. Sayang, motifnya agak politis. Sebagai kawasan padat dan menjadi basis partai Islam (PPP), mereka perlu diakrabi, diberi gula-gula. Lumayan kalau dengan kehadiran hidran, suara mereka bisa direbut oleh partai penguasa.

Yang pasti, tak ada cerita bagus setelahnya. Hidran mati, saluran pipa PAM apa lagi. Bahkan, hingga kini, kalaupun menetes bisa dihitung dengan jari. Jangan berharap cerita kran-kran di sana sanggup memenuhi bak mandi. Karena itu, air gerobaklah yang dibeli, rata-rata Rp 15 ribu perhari. Ngeri? Begitulah potret layanan publik di ibukota negeri ini.

Janji Suez Lyonaisse (asal Prancis, menguasai sektor barat Ciliwung) dan Thames/RWE (Inggris/Jerman) sebagai pembeli hak pengolahan dan distribusi dari PAM Jaya menambah jaringan tak kunjung terpenuhi.  Jutaan warga menengah (apalagi miskin) tak kebagian. Anehnya, pemerintah diam saja. Dibilang berpihak ke pemodal juga tak suka, namun memihak pada warganya pun belum pernah nyata.

Aneh juga rasanya, kalau pemerintah tak kunjung sadar untuk memutus kontrak dengan para ‘mitra’ swastanya, seperti yang diserukan aktivis hak rakyat atas air (KRuHA). Konon, mereka takut disuruh membayar denda, yang hitung-hitungannya antara Rp 4 triliun hingga Rp 5 triliun. Padahal, kehadiran kedua mitra swasta (kini Palyja sudah beralih ke Aetra) tak kunjung member manfaat apa-apa.

Harga air mahal, padahal mereka datang tanpa modal. Semua pembiayaan juga mereka dapat dari utang setelah masuk ke Jakarta. Janji-janji yang tertuang dalam kontrak kerja sama, pun masih layak cela. Sebab keuntungan hanya ada di pihak sana, sementara tuan rumah sebagai pemilik aset sesungguhnya, justru tak memperoleh apa-apa.

Kalau sudah begitu, mau gimana coba? Memang lebih baik mereka diusir, segerakan putus kontrak kerja sama. Masih banyak celah kemenangan, sebab cukup banyak bukti kelemahan dan kekurangan pada mereka.

Pak Foke, kalau Anda tak suka air keruh, lihatlah siapa yang memproduksinya…

Kelompok Payung Hitam

Teman-teman di Bandung lebih suka menyebut Ka Pé Ha (KPH), akronim dari Kelompok Payung Hitam. Pertama kali saya jatuh hati pada grup ini ketika mereka mementaskan naskah Peter Handke (Jerman) berjudul Kaspar di Taman Budaya Surakarta, 1995. Saat itu, seniman se-Indonesia kumpul dalam hajatan besar merayakan Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka.

Puisi Tubuh yang Runtuh

Puisi Tubuh yang Runtuh

Pertunjukan yang tata artistiknya ditangani perupa Tisna Sanjaya, dengan iringan musik kaleng Harry Roesli itu sungguh mencengangkan banyak kalangan. Meski sama-sama fenomenal ketika itu, Ka Pé Ha sempat ‘menggusur’ Teater SAE-nya Boedi S Otong dan Afrizal Malna dari perbincangan teater modern Indonesia. Keduanya sama-sama menonjolkan kekuatan tubuh aktor sebagai inti eksplorasi, juga sama-sama minim dialog.

Rupanya, Kaspar menjadi masterpiece Kelompok Payung Hitam. Dan, foto yang saya buat atas pertunjukan itu pun akhirnya saya anggap sebagai karya masterpiece saya pula. Baru dua tahun belajar motret, saya sanggup membekukan peristiwa panggung itu dengan shutter speed 4 detik, dengan FujiFilm ISO 1600. Tanpa tripod, hanya mengandalkan pernafasan mulut agar tangan tak bergerak mengikuti tarikan atau hembusan nafas.

Kaspar (solo, 1995)

Kaspar (Solo, 1995)

Itulah sebabnya, kenapa sebagian dari koleksi saya atas foto Kaspar saya jadikan banner resmi di blog yang sedang Anda baca ini. Kaspar-lah gerbang yang saya lalui ketika memasuki Bandung, juga dunia seni pertunjukan Indonesia.

Sejak itu, saya menjadi dekat dengan kerabat Ka Pé Ha: Kang Rahman, Rusli Keleeng, Tony Broer, Yadi Bagong, Alit, Tatang Pahat, dan banyak lagi. Dari perkenalan itu, saya menjadi senang ke Bandung, apalagi bila Ka Pé Ha mau mementaskan. Beberapa karya mereka, pun saya dokumentasikan. Harus saya katakan di sini, saya merupakan salah satu fans beratnya.

Tubuh adalah kekuatan inspirasi dan sumber eksplorasi

Tubuh adalah kekuatan inspirasi dan sumber eksplorasi

Dari mereka, saya berkenalan dengan banyak teman seniman Bandung. Dengan aktor-aktor Studiklub Teater Bandung (STB) seperti Mohamad Sunjaya, Iman Soleh, Wawan Sofwan, dan banyak lagi. Kang Tisna Sanjaya dan Mbak Molly termasuk pasangan yang baik hati, yang selalu menampung saya setiap berkunjung ke Bandung, karena tanpa pemberitahuan, tiba-tiba saya mengetuk pintu rumahnya pagi-pagi sekali, ketika Zico dan Ayang belum pergi sekolah.

Pertunjukan Puisi Tubuh yang Runtuh karya/sutradara Kang Rahman Sabur yang dipentaskan di Taman Budaya Surakarta, 29 Oktober malam ini, seolah menjadi pengingat. Salah satunya, kepada almarhum Pak Suyatna Anirun yang perannya sangat besar sehingga saya mencintai pendokumentasian peristiwa seni pertunjukan sebagai proyek pribadi, setidaknya hingga kini.

Puisi Tubuh yang Runtuh masih memukau saya, juga ratusan penonton yang datang dari berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kekuatiran saya akan redupnya Ka Pé Ha, ternyata tak terbukti. Apalagi, semenjak Kang Rahman menderita stroke cukup parah.

“Saya justru merasakan bisa sembuh total ketika berguling-guling dan berporses kembali bersama anak-anak,” cerita Kang Rahman kepadaku, sesaat sebelum kami menyaksikan Mainteater mempertunjukkan karya terbarunya, Ladang Perminus di tempat yang sama.

Pertemuan saya dengan urang-urang Bandung kali ini seperti menjadi kado ulang tahun termewah untuk saya. Setidaknya, saya merasa diingatkan untuk tak melewatkan peristiwa seni pertunjukan, meski tak sanggup ke luar kota sepekan sekali seperti dulu. Jaman sudah berubah, tanggung jawab sebagai suami juga tak bisa dilepas.

Seniman-seniman Bandung, bagi saya adalah orang-orang terhormat, yang semua memiliki jasa besar terhadap perjalanan hidup saya. Tak terkecuali, Edy Purnawady, orang terpenting di balik terciptanya persahabatan saya dengan orang-orang Bandung, selain Nandang Gawe yang paling sering saya paksa menemani jalan-jalan. Tanpa mereka, mungkin saya bukan siapa-siapa.

Kehadiran KPH selalu memukau

Kehadiran KPH selalu memukau

Kalau tulisan ini kuat aroma romantisme masa silam, ya begitulah kenyataannya. Belu sempat saya ke Bandung menengok Kang Rahman, beliau sudah hadir di Solo. Saya sengaja tak pernah menelepon, karena ingin datang dadakan sebagai kejutan seorang fans kepada orang yang dikaguminya.

Sakitnya mengingatkan saya pada stroke yang juga diderita bapak saya. Saya memetik hikmah dari perbincangan kami yang tak seberapa lama, padahal sebelumnya sudah terpisah sangat lama.

Kang Rahman, semoga sehat selalu. Saya, juga banyak teman pencinta seni drama di Indonesia, masih dan akan selalu menanti karya-karya baru Kang Rahman… Sukses selalu untuk Kang Rahman, keluarga besar Ka Pé Ha, teman-teman di Buah Batu 212, juga para seniman-seniman merdeka di Bandung.