Jokowi Layak (di)Lengser(kan)

Jika kini kian riuh suara #2019GantiPresiden, menurut saya wajar belaka. Sikap dan tindakan Pak Jokowi memang memenuhi syarat untuk segera dihentikan. Jika Jokowi kembali terpilih jadi Presiden periode 2019-2024, itu berarti petaka sudah di depan mata orang-orang yang memusuhinya. Kuncinya ada pada 40 orang yang yang pada 2017 tercatat memiliki kekayaan US$119 milyar atau setara Rp.1.725 trilyun (dengan kurs Rp 14.500 per dolar).

Kita tahu, APBN 2019 ‘hanya’ Rp 2.400 trilyun. Sementara jika menilik postur anggaran pada 2018, target pendapatan negara hanya Rp 1.894,7 trilyun.  Hanya terpaut sedikit dengan total kekayaan mereka. Serem!

Bisa kita bayangkan, di tengah ketatnya rezim Jokowi-JK mengontrol anggaran lewat sistem serba-e seperti e-budgeting, e-procurement dan e- lainnya lagi, kekayaan 40 orang tadi bisa meningkat sedemikian pesat, dari hanya US$22 milyar pada 2006 menjadi US$119 hanya dalam waktu 11 tahun. Jangan-jangan, angka itu baru ketahuan saat menyusun rencana penerbitan kebijakan tax amnesty. Apa jadikan jika Pak Jokowi bersikap sekompromis seperti rezim-rezim sebelumnya?!? Continue reading

Jokowi dan MICE Indonesia

Kalau nyimak ramainya pertemuan (tiga) tahunan IMF-Bank Dunia gini, yang kebayang di kepalaku adalah kegembiraan Pak Jokowi. Gelaran-gelaran seperti inilah salah satu concern dan yang disukainya. Solo sebagai salah satu Kota MICE di Indonesia termasuk salah satu impiannya. Itulah kenapa beliau membuat Solo Batik Carnival dan beraneka festival seni-budaya selama menjabat Walikota Solo.

Untuk soal ini, aku merasa tahu banget. Selain lingkungan pergaulanku dulu adalah para seniman, saya pun suka membuat esai dan tulisan-tulisan ringan mengenai seni, budaya, dan pariwisata. Selain untuk The Jakarta Post dan Suara Merdeka (untuk beberapa waktu), juga reportase khusus untuk VENUE, majalah yang mengkhususkan dunia Meeting, Incentive Tourism and Exhibition.

Tak hanya untuk keperluan tulisan, saya sering terlibat obrolan berdua mengenai MICE dengan Pak Jokowi. Dua pebisnis MICE besar di Jakarta pernah bernegosiasi dengan Pak Walikota Jokowi untuk mewujudkan mimpi beliau memiliki kompleks dengan fasilitas seperti JICC (Jakarta) atau JEC (Yogya). Pembicaraan dengan kedua pemodal besar Jakarta itu mentok. Begitu juga kandasnya rencana kerjasama dengan konglomerat lokal yang tertarik menyulap kawasan Pedaringan (di belakang kampus Universitas Sebelas Maret) menjadi ruang pertunjukan, pameran lengkap dengan hotelnya. Continue reading

Si Tua Sahabat Pertamina

Usia tua tetap prima karena bersahabat dengan Pertamax Turbo-nya Pertamina.

Sepuluh tahun silam, saya jualan akselerator. Fungsinya untuk mengolah sedemikian rupa supaya komposisi senyawa kimia bahan bakar minyak jadi seimbang sehingga terjadi pembakaran sempurna. Tujuannya agar mesin menghasilkan tenaga yang optimal dan efisien. Efeknya, konsumsi BBM jadi irit. Untuk mobil berukuran silinder sedang (2000 cc) yang biasanya mengonsumsi seliter premium untuk 11 kilometer, bisa meningkat menjadi 13 kilometer dengan akselerator.

Satu faktor yang membuat orang yang semula tidak percaya hingga yakin membeli, adalah penggunaan alat yang pada akhirnya terbukti menghasilkan emisi gas buang yang ramah lingkungan. Saya berani jamin, ujung knalpot langsung mengeluarkan air hanya dalam waktu dua menit sejak mesin dihidupkan! Dan bisa dicek, saat menghirup hasil pembuangan di knalpot, mata tidak terasa pedih dan tidak menimbulkan bau emisi yang menyengat. Continue reading

Kewajiban Revolusi Mental Pendukung Jokowi

Tulisan ini dibuat dua bulan sebelum dipublikasikan. Saya unggah setelah melihat konsistensi seorang Jokowi dalam memaknai kekuasaan, dan memanfaatkannya untuk melakukan perubahan. Desakralisasi upacara peringatan hari kemerdekaan adalah contoh nyata, selain sikap dan perilaku kesehariannya.

Pada penghujung ramadan 2017, linimasa semua media sosial diramaikan dengan pamer pamer pujian, baik oleh para pendukung militan dan simpatisan Presiden Jokowi. Sebagian mengungkapkan tidak adanya aksi sweeping terhadap restoran dan rumah makan hingga tempat-tempat hiburan, oleh kelompok yang mengatasnamakan umat Islam. Sebagian lainnya menyebut kelancaran arus mudik, dengan bumbu sindiran kepada para ‘pembenci’ Jokowi yang kehabisan amunisi untuk mem-bully.

Sebagai pendukung Jokowi, saya risih dengan narasi-narasi sinikal yang sangat mudah kita dapati di layar gawai pribadi. Meski bisa mengerti kenapa itu bisa terjadi, namun yang demikian sejatinya menjadi bukti bahwa banyak di antara kita sudah kehilangan sikap rendah hati. Continue reading

Menyoal Full Day School

Seorang keponakan baru lulus sekolah dasar. Ketika mendengar orangtuanya akan menyekolahkan lelaki sulungnya ke pondok pesantren, yang saya pesankan hanya satu: carikan pondok yang masih mengajari santrinya dengan sholawatan, tahlilan, yasinan dan sejenisnya. “Supaya setelah mondok, anakmu tidak melupakan orangtuanya!” pesan saya.

Dalam keyakinan saya, selama masih ada tahlilan dan sejenisnya, keponakanku pasti akan mencintai negeri ini. Nilai-nilai Pancasila pasti akan mewujud dalam perilaku kesehariannya, dan bisa dipastikan pula akan terjauhkan dari radikalisme dan pandangan sempit yang merasa diri dan kelompoknyalah yang paling benar.

Ya, sifat dan sikap merasa benar itulah yang belakangan sangat menghantui pikiran saya, juga jutaan bangsa Indonesia. Sungguh menyedihkan ketika teman-teman saya yang tinggal di kota, apalagi kota besar, mengeluhkan kian banyaknya anak-anak TK dan SD sudah fasih mengafir-kafirkan temannya sendiri karena berbeda agama. Lebih miris lagi, ketika beredar video, sebuah pawai anak-anak di Jakarta, yang meneriakkan kalimat-kalimat ‘bunuh Ahok’ dengan lantang berulang-ulang. Continue reading