Jangan Biarkan Indonesia Bubar

Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi

Sugeng dalu, selamat malam, Pak Jokowi.

Saya mau matur, saat ini saya sangat lelah mengikuti perdebatan sekolah lima hari yang digagas dan dibuatkan peraturannya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi. Hampir seluruh elemen Nahdlatul Ulama, apalagi para pengasuh pondok-pondok pesantren, pun menyuarakan penolakan. Madrasah diniyyah yang sudah ada sejak jauh sebelum Indonesia merdeka, tiba-tiba akan kena imbas kebijakan tersebut.

Jika kebijakan tersebut dalam rangka pembentukan karakter bangsa, kira-kira karakter seperti apa yang bakal muncul, jika kita dapati anak-anak PAUD dan TK ‘Islam moderen’ sudah fasih bicara ‘merokok itu haram’?

Ini bukan karena saya perokok dan mayoritas orang NU, santri dan kiai-kiainya banyak yang merokok. Bukan! Tak sedikit, kok, kiai dan santri NU yang meyakini merokok itu hukumnya makruh. Meski Allah dengan kun fayakun-Nya bisa membuat anak-anak PAUD dan TK kita menjadi cerdas secara nalar dan emosional secara mendadak, tapi saya lebih percaya kalimat ‘merokok itu haram’ adalah buah pendidikan guru-guru di sekolahnya, entah dia guru agama atau bukan. Continue reading

Budi Waseso

Sengkuni. Tutur katanya halus, tetapi budi-nya buruk. Suka mengadu domba, bikin gaduh.  Sumber gambar: corojowo.blospot.com

Sengkuni. Tutur katanya halus, tetapi budi-nya buruk. Suka mengadu domba, bikin gaduh.
Sumber gambar: corojowo.blospot.com

Waseso (penulisan yang benar: wasesa), dalam bahasa Jawa berarti wewenang; kekuasaan. Sedang budi seacara etimologi berarti nalar; pikiran; atau watak. Sehingga, secara sederhana, budi wasesa bisa dimaknai sebagai nalar kekuasaan, watak kekuasaan, dan sebagainya. Anda bisa merangkai kombinasi dari padanan masing-masing kata, suka-suka.

Sekadar diketahui, bagi orang Jawa, berlaku ujaran asma kinarya japa. Sebuah nama diciptakan sebagai pengharapan atau doa. Setiap penciptaan/pemberian nama, pastilah terkandung maksud-maksud baik atau positip. Menjadi anomali jika seseorang memberi nama pada anak atau bahkan binatang peliharaan dengan nama berkonotasi buruk atau jelek. Begitulah, pada setiap nama, selalu terkandung harapan mulia.

Jika orang tua menamai anaknya dengan Budi Waseso, pastilah mengandung harapan munculnya watak kekuasaan atau nalar kekuasaan baiklah yang kelak ditunjukkan sang anak. Andai watak buruk kekuasaan yang justru menonjol pada sang anak, kecewalah orang tua. Juga sanak saudara dan kerabat. Adalah ganjil jika ada orang tua atau sanak saudara tidak merasa ikut menanggung malu jika sang anak, misalnya, ternyata justru buas dalam menjalani hidup di rimba kekuasaan, menerkam kiri-kanan secara membabi-buta. Continue reading

Surat Curhat untuk Pak Jokowi

Sugeng dalu, selamat malam, Pak Jokowi. Semoga lawatan panjenengan ke Malaysia, Brunei dan Philipina berlangsung sukses dan membawa kebaikan bagi bangsa Indonesia khususnya, dan masyarakat ASEAN pada umumnya.

Pak Joko, saya yakin, hari-hari ini pasti menjadi saat yang menegangkan bagi panjenengan, karena dihadapkan pada situasi dilematis, terutama sejak panjenengan ‘terpaksa’ menyodorkan Komjen Budi Gunawan menjadi calon tunggal Kapolri kepada DPR melalui Komisi III. Saya membayangkan, betapa sulitnya posisi panjenengan untuk menyatakan secara terbuka, mengenai situasi yang sesungguhnya, termasuk tekanan-tekanan elit partai yang belakangan dipahami publik sebagai kehendak Bu Megawati sebagai petinggi PDI Perjuangan, yang diamini Surya Paloh (Partai Nasdem) dan Jusuf Kalla, Wakil Presiden panjenengan.

Sebagai pendukung panjenengan, saya sangat kerepotan menjawab pertanyaan satu-dua teman, yang dulu ikut mengkampanyekan pencalonan panjenengan, mengenai sikap panjenengan, terutama terkait dengan sejumlah menteri yang mereka anggap kurang memiliki kapasitas memadai, dan terutama, mengenai nasib Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang belakangan digempur habis-habisan oleh hampir mayoritas elit partai lewat legislator dan dengan memanfaatkan sejumlah elit Polri. Continue reading

Kekalahan Sepele PDIP

Hampir sebulan, PDI Perjuangan menunjukkan letoy-nya. Megawati yang sanggup survive melawan penindasan politik Soeharto, ternyata tak sanggup melawan nafsunya sendiri mendudukkan Komjen Budi Gunawan menjadi Kapolri. Budi, yang diragukan kekayaannya karena transaksi 50-an milyar rupiahnya terendus aparat Pusat Pelaporan dan Anlisis Transaksi Keuangan (PPATK), dan dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK, terus saja dibela. Malah, Presiden Jokowi yang diusungnya seperti sengaja diblondrokkan alias dicelakakan. Revolusi Mental pun menguap tak berbekas.

Anak-anak muda, terutama pemilih pemula, yang tak pernah tahu represifnya mesin politik Orde Baru (termasuk kepada PDI bentukan Megawati), bahkan bisa mencibir partai yang mengaku penerus ajaran Soekarno itu. Jokowi yang sejatinya hanya ‘dipinjam’ PDIP untuk mendongkrak kemenangan pada pemilu 2014, kini dibiarkan kelimpungan sendirian. Dari sana-sini, bahkan para relawan sejati yang kemarin mengorganisir diri memenangkan Jokowi dalam pemilihan presiden, kini kian ilfil, hilang feeling, bahkan balik badan mengancam menarik dukungan.

Elit dan politikus PDIP rupanya lupa, tanpa Jokowi, magnet pilpres tak segempita kemarin. Bahkan, demi mengusung Jokowi, mereka rela memilih partai bentukan Megawati Soekarnoputri di bilik-bilik tempat pemungutan suara, kendati sebelumnya apolitis alias cuek terhadap proses politik bernama pemilu. Sungguh tragis, elit partai nasionalis itu gagal mengelola animo berpolitik kaum muda, dari Sabang hingga Merauke. Continue reading

Tentang Jalan Berlubang

Jalannya rusak, Brooo...

Jalannya rusak, Brooo…

Munyukk numpak kebo, dalane rusak, Bro… (Monyet naik kerbau, jalannya rusak, Bro..).

Ungkapan semacam pantun demikian merupakan ungkapan sehari-hari warga Solo dan sekitarnya. Biasa digunakan untuk onrolan biasa, bisa pula untuk bahasan akan hal-hal serius, semacam protes warga Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, kepada pemerintah setempat yang tak kunjung melakukan perbaikan jalan. Dalam pengamatan saya, hingga saya mengabadikan dengan kamera telepon seluler pada 11 Maret 2014, sudah ada sekitar tiga bulan lamanya jalan aspal itu berlubang. Kian menganga, tak kunjung ada perbaikan.

Herannya, protes panjang dari warga itu baru direspon Pemerintah Kabupaten Karanganyar pada 10 Maret. Itu pun dalam bentuk pemasangan tanda yang menyatakan bahwa jalan tersebut sedang dalam perbaikan. Ya, hanya berupa pengumuman. Tak ada aktifitas pekerjaan perbaikan. Padahal, sudah banyak pengguna jalan terpesosok ke dalam lubang sedalam antara 10 cm hingga 30 cm itu.

Jalan tersebut, tiap hari selama 24 jam selalu dilewati ribuan truk pengangkut pasir dari Gunung Merapi dengan beraneka tujuan. Akibat dilindas truk-truk sarat muatan dan diyakini melebihi batas tonase yang diijinkan (untuk tipe kendaraan dan kelas jalan) itulah, lubang jalan kian dalam dan melebar.

 

Bendera Partai Golongan Karya sengaja disematkan pada pohon pisang yang ditanam warga di tengah jalan, tepat pada aspal yang berlobang. Mungkin itu sebagai pengingat, bahwa Bupati Karanganyar kini berasal dari partai warisan Orde Baru itu.

Bendera Partai Golongan Karya sengaja disematkan pada pohon pisang yang ditanam warga di tengah jalan, tepat pada aspal yang berlobang. Mungkin itu sebagai pengingat, bahwa Bupati Karanganyar kini berasal dari partai warisan Orde Baru itu.

Banyak orang mafhum akan protes demikian. Setiap warga negara Indonesia selalu berhadapan dengan rezim pajak. Pemilik kendaraan bermotor pasti harus membayar pajak agar bisa leluasa melenggang ke mana suka. Truk-truk pasir pun wajib bayar retribusi lantaran menggunakan fasilitas jalan raya. Tak ada dosa bagi penuntut pelayanan negara dan aparaturnya, yang gajinya dibayar dari pajak dan keringat rakyat.

Hati-hati!!! Jalan dalam Perbaikan

Hati-hati!!! Jalan dalam Perbaikan

Peringatan demikian, saya yakin justru membuat siapapun yang membacanya kian geram. Di sepanjang Jl. Adi Sumarmo, Colomadu itu, tak bisa dijumpai petunjuk akan adanya proses perbaikan. Alat-alat untuk perbaikan tak ada, demikian pula pekerjanya. Sebuah kebohongan yang nyata, menurut saya.

Sekali lagi saya berikan penegasan kesaksian: sudah dua hari saya lihat papan itu dipasang, namun tak seorang pekerja pun terlihat memperbaiki jalan!

Dan saya yakin, lima titik penanaman pohon pisang, tak akan digeser selain oleh aktifitas perbaikan. Aparat desa atau kecamatan terdekat pun, saya yakin tak akan berani menyingkirkan. Apalagi, dengan keberadaan pohon-pohon itu, pengguna jalan yang tak biasa lewat di sana, bisa lebih berhati-hati menghindari celaka yang ditimbulkan oleh kerusakan jalannya.

Jangankan pelintas yang berasal dari luar kota. Warga sekitar pun kerap lengah dan celakan dibuatnya. Demi menghindari lobang, mereka dihadapkan pada bahaya dari pengendara yang datang dari arah berlawanan.

Kemana duit pajak dan hasil retribusi digunakan? Hanya aparat pemerintah setempat yang tahu.

Pak Bupati atau Kepala Dinas Pekerjaan Umum, mungkin jarang lewat situ lantaran posisi Kecamatan Colomadu ada di sisi barat ibukota kabupaten, yang jaraknya sekitar 20 kilometer. Tapi, meski jarang lewat, mestinya mereka punya sistem dan aparat untuk memonitor situasi daerahnya.

Kadang saya berharap ada wakil rakyat dari daerah pemilihan Colomadu yang melakukan advokasi, melakukan protes kepada eksekutif atas peristiwa penelantaran sebagian wilayahnya. Setidaknya, itulah bentuk pertanggungjawaban atas mandat yang diberikan rakyat kepada dirinya. Bukan sebaliknya, diam dan tutup ata atas keadaan di daerah yang diwakilinya.

Jalannya gimana ini, Njing?

Jalannya gimana ini, Njing?

Lihat saja gambar di atas, ketika protes warga diungkapkan dengan bahasa yang relatif kasar. Itu terjadi bulan lalu, ketika lobang jalan belum sedalam dan selebar sekarang.

Maka, tak heran  juga ketika situasi demikian digunakan oleh calon legislator dari partai lain untuk melakukan kampanye, dengan cara menyindir pemerintahan sekarang. Dipasanglah sebuah poster kecil yang berisikan informasi lokasi bengkel tak jauh dari titik kerusakan, sebagai pengingat jika kendaraan pengguna yang celaka di sana butuh perbaikan akibat rusak disebabkan terperosok jalan berlubang maut.

Kira-kira, siapkah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Karaganyar dan Bupati dituntut secara perdata oleh pengguna jalan yang celaka di sana?

Petunjuk bengkel

Petunjuk bengkel

 

Update (11 /3/2014 23.54 WIB)

Saya kaget ketika melintas jalan tersebut sekitar pukul 17.30-an, mendapati sejumlah gundukan batu di samping pohon-pohon pisang yang ditanam di lima titik jalan berlubang. Foto berikut diambil pukul 20.03 WIB, sesaat setelah respon Gubernur Ganjar Pranowo menjawab lewat aku Twitter-nya.

 

Meski saya menjumpai tumpukan batu itu menjelang waktu magrib, saya yakin itu bukan lantaran saya tulis di blog ini. Hehehehe...

Meski saya menjumpai tumpukan batu itu menjelang waktu magrib, saya yakin itu bukan lantaran saya tulis di blog ini. Hehehehe…