Rasan-rasan Cawapres

Sebagai orang polos dalam melihat dunia perpolitikan, saya selalu menyimak ‘persaingan’ Cak Imin dan Gus Rommy. Keduanya bagai dua peritel Indomaret dan Alfamart, yang gerainya terus merangsek ke kota-kota kecil, yang oleh sebagian orang dianggap telah mematikan usaha warung-warung kelontong. Di mana ada Indomaret, di situ pasti ada Alfamart. Begitu pun di jalan-jalan stratagis, asal ada billboard Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, tak jauh darinya terpampang wajah Romahurmuziy, Ketua Umum PPP.

Seperti halnya peritel, Cak Imin dan Gus Rommy pun sama-sama menjajakan diri, mewakili brand partai masing-masing, agar laku dibeli rakyat, dalam bentuk dukungan suara coblosan. Yang membedakan keduanya, Cak Imin menawarkan diri sebagai calon wakil presiden, dan belakangan terlihat ngebet banget  dipinang Pak Jokowi sebagai cawapres-nya dalam Pemilu 2019 mendatang. Sedang Gus Rommy, menilik pesan di balihonya, tidak mau menyebut diri sebagai calon wapres. Tak hanya itu, dalam beragam kesempatan wawancara pers (termasuk televisi), ia tak pernah mau disebut (apalagi menyebut diri) ingin jadi cawapres. Continue reading

Jangan Biarkan Indonesia Bubar

Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi

Sugeng dalu, selamat malam, Pak Jokowi.

Saya mau matur, saat ini saya sangat lelah mengikuti perdebatan sekolah lima hari yang digagas dan dibuatkan peraturannya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi. Hampir seluruh elemen Nahdlatul Ulama, apalagi para pengasuh pondok-pondok pesantren, pun menyuarakan penolakan. Madrasah diniyyah yang sudah ada sejak jauh sebelum Indonesia merdeka, tiba-tiba akan kena imbas kebijakan tersebut.

Jika kebijakan tersebut dalam rangka pembentukan karakter bangsa, kira-kira karakter seperti apa yang bakal muncul, jika kita dapati anak-anak PAUD dan TK ‘Islam moderen’ sudah fasih bicara ‘merokok itu haram’?

Ini bukan karena saya perokok dan mayoritas orang NU, santri dan kiai-kiainya banyak yang merokok. Bukan! Tak sedikit, kok, kiai dan santri NU yang meyakini merokok itu hukumnya makruh. Meski Allah dengan kun fayakun-Nya bisa membuat anak-anak PAUD dan TK kita menjadi cerdas secara nalar dan emosional secara mendadak, tapi saya lebih percaya kalimat ‘merokok itu haram’ adalah buah pendidikan guru-guru di sekolahnya, entah dia guru agama atau bukan. Continue reading

Budi Waseso

Sengkuni. Tutur katanya halus, tetapi budi-nya buruk. Suka mengadu domba, bikin gaduh.  Sumber gambar: corojowo.blospot.com

Sengkuni. Tutur katanya halus, tetapi budi-nya buruk. Suka mengadu domba, bikin gaduh.
Sumber gambar: corojowo.blospot.com

Waseso (penulisan yang benar: wasesa), dalam bahasa Jawa berarti wewenang; kekuasaan. Sedang budi seacara etimologi berarti nalar; pikiran; atau watak. Sehingga, secara sederhana, budi wasesa bisa dimaknai sebagai nalar kekuasaan, watak kekuasaan, dan sebagainya. Anda bisa merangkai kombinasi dari padanan masing-masing kata, suka-suka.

Sekadar diketahui, bagi orang Jawa, berlaku ujaran asma kinarya japa. Sebuah nama diciptakan sebagai pengharapan atau doa. Setiap penciptaan/pemberian nama, pastilah terkandung maksud-maksud baik atau positip. Menjadi anomali jika seseorang memberi nama pada anak atau bahkan binatang peliharaan dengan nama berkonotasi buruk atau jelek. Begitulah, pada setiap nama, selalu terkandung harapan mulia.

Jika orang tua menamai anaknya dengan Budi Waseso, pastilah mengandung harapan munculnya watak kekuasaan atau nalar kekuasaan baiklah yang kelak ditunjukkan sang anak. Andai watak buruk kekuasaan yang justru menonjol pada sang anak, kecewalah orang tua. Juga sanak saudara dan kerabat. Adalah ganjil jika ada orang tua atau sanak saudara tidak merasa ikut menanggung malu jika sang anak, misalnya, ternyata justru buas dalam menjalani hidup di rimba kekuasaan, menerkam kiri-kanan secara membabi-buta. Continue reading

Surat Curhat untuk Pak Jokowi

Sugeng dalu, selamat malam, Pak Jokowi. Semoga lawatan panjenengan ke Malaysia, Brunei dan Philipina berlangsung sukses dan membawa kebaikan bagi bangsa Indonesia khususnya, dan masyarakat ASEAN pada umumnya.

Pak Joko, saya yakin, hari-hari ini pasti menjadi saat yang menegangkan bagi panjenengan, karena dihadapkan pada situasi dilematis, terutama sejak panjenengan ‘terpaksa’ menyodorkan Komjen Budi Gunawan menjadi calon tunggal Kapolri kepada DPR melalui Komisi III. Saya membayangkan, betapa sulitnya posisi panjenengan untuk menyatakan secara terbuka, mengenai situasi yang sesungguhnya, termasuk tekanan-tekanan elit partai yang belakangan dipahami publik sebagai kehendak Bu Megawati sebagai petinggi PDI Perjuangan, yang diamini Surya Paloh (Partai Nasdem) dan Jusuf Kalla, Wakil Presiden panjenengan.

Sebagai pendukung panjenengan, saya sangat kerepotan menjawab pertanyaan satu-dua teman, yang dulu ikut mengkampanyekan pencalonan panjenengan, mengenai sikap panjenengan, terutama terkait dengan sejumlah menteri yang mereka anggap kurang memiliki kapasitas memadai, dan terutama, mengenai nasib Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang belakangan digempur habis-habisan oleh hampir mayoritas elit partai lewat legislator dan dengan memanfaatkan sejumlah elit Polri. Continue reading

Kekalahan Sepele PDIP

Hampir sebulan, PDI Perjuangan menunjukkan letoy-nya. Megawati yang sanggup survive melawan penindasan politik Soeharto, ternyata tak sanggup melawan nafsunya sendiri mendudukkan Komjen Budi Gunawan menjadi Kapolri. Budi, yang diragukan kekayaannya karena transaksi 50-an milyar rupiahnya terendus aparat Pusat Pelaporan dan Anlisis Transaksi Keuangan (PPATK), dan dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK, terus saja dibela. Malah, Presiden Jokowi yang diusungnya seperti sengaja diblondrokkan alias dicelakakan. Revolusi Mental pun menguap tak berbekas.

Anak-anak muda, terutama pemilih pemula, yang tak pernah tahu represifnya mesin politik Orde Baru (termasuk kepada PDI bentukan Megawati), bahkan bisa mencibir partai yang mengaku penerus ajaran Soekarno itu. Jokowi yang sejatinya hanya ‘dipinjam’ PDIP untuk mendongkrak kemenangan pada pemilu 2014, kini dibiarkan kelimpungan sendirian. Dari sana-sini, bahkan para relawan sejati yang kemarin mengorganisir diri memenangkan Jokowi dalam pemilihan presiden, kini kian ilfil, hilang feeling, bahkan balik badan mengancam menarik dukungan.

Elit dan politikus PDIP rupanya lupa, tanpa Jokowi, magnet pilpres tak segempita kemarin. Bahkan, demi mengusung Jokowi, mereka rela memilih partai bentukan Megawati Soekarnoputri di bilik-bilik tempat pemungutan suara, kendati sebelumnya apolitis alias cuek terhadap proses politik bernama pemilu. Sungguh tragis, elit partai nasionalis itu gagal mengelola animo berpolitik kaum muda, dari Sabang hingga Merauke. Continue reading