Cah-cah Akademis dan Sobat Ambyar

Istilah ‘munas’ itu sekadar gaya-gayaan semata, asalnya. Hingga, kemudian mereka bersepakat iseng ‘cek ombak’ lewat publikasi di akun media sosial masing-masing. Hingga kemudian kepanikan melanda Jarkiyo dan kawan-kawan, ketika banyak orang ingin datang, ikut malem mingguan sambil ‘bermunas’.

Saya ingat malam itu, Kamis malam Jumat, Jarkiyo panik. Bingung mau diisi kegiatan apa jika yang merespon postingan media sosial mereka benar-benar datang. Intinya, mau dikasih suguhan acara macam apa.

Melihat kepanikan mereka, Jumat menjelang siang, saya iseng pula menelpon Mas Didi, menanyakan kemungkinan beliau mau hadir esok malamnya. Mas Didi tidak berani menjanjikan datang, namun akan mengusahakan, sebab pada malam yang sama, Mas Didi ada job manggung di acara halal bihalal di Jawa Timur, Mas Didi tidak menyebut di mana persisnya.

Sabtu, 15 Juni 2019 jam 19.30an saya sampai #RBI. Halaman penuh kendaraan dan orang. Acara berlangsung seru, dihadiri hampir 300 orang dari berbagai kota. Dipandu Jarkiyo dan Kobar, peserta berbagi cerita pengalaman masing-masing dan mengaitkan pengalaman pribadinya dengan syair-syair Mas Didi.

Sekira pukul 22.00, ada teriakan dari luar, memberi tahu kalau ada tamu. Rupanya, Mas Didi datang. Ambyarlah suasana. Obrolan pun berlangsung seru hingga menjelang dinihari. Mas Didi happy, semua yang datang pun bahagia.

Di situlah Mas Didi kaget muncul sebutan The Godfather of Brokenheart, Sadbois, Sadgirls, dan Sobat Ambyar. Lalu, tanpa komando siapapun, saling mensyen di media sosial terjadi, lalu muncullah komunitas Sadbois Club, SobatAmbyar dan seterusnya.

Itulah sekilas catatan mengenai Munas Lara Ati, setahun lalu.

Selamat ulang tahun Sobat Ambyar. Semoga Sadbois, Sadgirls sedunia bisa membangun seduluran selawase, persaudaraan yang kekal.

One thought on “Cah-cah Akademis dan Sobat Ambyar

Leave a Reply