Ambyar-nya Sebuah Film

Sebelum saya menyampaikan kritik alias beberapa catatan yang saya anggap penting, yang perlu Anda catat dan lakukan adalah: tonton filmnya! Mekah, I’m Coming adalah tontonan segar. Humornya cerdas!

Sempat terkecoh dengan judulnya, yang menggiring saya pada pertanyaan: film beginian kok tidak ditayangkan di bulan ramadhan, usai lebaran, atau pada musim haji?? Rupanya, itu siasat semata.

Kemeriahan dan sukacita penyambutan orang pulang berhaji adalah potret sosial. Itulah puncak manifestasi keimanan seorang muslim, yang tidak semua orang memiliki keberuntungan. Punya uang tidak otomatis terpilih (oleh Allah) untuk datang ke rumah-Nya, baitullah. Sebaliknya, Tuhan yang memiliki hak prerogatif bisa saja memanggil siapapun untuk berhaji, dengan aneka cara yang ajaib, bahkan di luar nalar. Entah tiba-tiba diajak orang mampu untuk menemani berhaji, dapat hadiah dari kantor/perusahaan, bahkan dari undian!

Emosi kita berhasil diaduk-aduk oleh Jeihan Angga, penulis naskah merangkap sutradara. Kita diajak berefleksi, dibawa masuk ke dalam suasana kebatinan yang sangat dalam, lalu dipaksa tertawa tiba-tiba. Getir.

Kita, sebagai bangsa pelupa, mungkin sudah tak ingat lagi berapa banyak orang tertipu oleh suami-istri pemilik biro jasa umroh First Travel dan Abu Tours secara berurutan. Ratusan ribu orang ditipu dengan paket murah, sementara pengusaha yang sebelumnya orang biasa saja, bisa foya-foya dengan trilyunan uang kejahatan.

Lupakan proses hukumnya, juga siapa saja yang terlibat dalam aksi penipuan terencana seperti itu. Proses hukumnya, jika diamati detil, pastilah akan melahirkan karya film baru, sebuah dokumenter yang layak dapat penghargaan selevel Pulitzer dalam jurnalisme. Ruwet, tak jelas.

Kembali ke Mekah, I’m Coming, yang menggunakan kisah cinta dua remaja bertetangga sebagai jembatan yang membawa penonton ke arah hipokrisi manusia, yang memposisikan atribut sosial pada posisi lebih tinggi dibanding kesalehan sosial.

Soleh (Totos Rasiti) yang merasa (dan diterima lingkungannya sebagai orang) berkasta tinggi, punya anak perempuan semata wayang, yang ingin dijodohkannya dengan anak orang kaya. Sementara Eni (Michelle Ziudith), sang putri, menolak perjodohan sang ayah karena punya lelaki idamannya sendiri. Namanya Eddy (Rizky Nazar).

Eddy adalah pemuda yang berusaha hidup mandiri, berbekal ketrampilan teknik mesin, namun tak kunjung beruntung merintis usaha bengkel.

Status pemuda gagal itulah yang disoal Haji Soleh, sehingga tak merestui hubungan percintaan putrinya. Satu-satunya senjata menaklukkan hati calon mertua, adalah janji Eddy untuk pergi haji, yang diutarakannya saat Haji Soleh didatangi calon menantu yang bakal jadi saingannya.

Singkat kata, Eddy menjual bengkel dan tanahnya, untuk bekal pergi haji. Ia tak tahu sama sekali, bahwa antrian ibadah yang satu itu mencapai 10 tahun lamanya. 

Ia bingung, sebab telanjur menantang calon mertua ia akan berhaji tahun ini pula. Terbujuklah Eddy menggunakan biro jasa haji yang menjanjikan terpenuhinya niat Eddy, dengan bayaran mahal. 

Terbang ke Jakarta, Eddy gembira bertemu banyak calon haji lain di sebuah hotel transit untuk menunggu jadwal keberangkatan ke Mekah. Ia sadar tertipu keesokan harinya, ketika diberitahu petugas hotel bahwa calon-calon haji yang dijumpai sebelumnya, adalah para figuran dalam produksi film.

Meranalah Eddy dan teman sekamarnya, yang sama-sama tertipu, hingga dipertemukan orang-orang yang gagal haji dan malu pulang ke kampung halaman. Di Pasar Tanah Abang, para korban penipuan biro jasa haji menemukan banyak ironi.

Keren visualisasinya. Dan Jeihan sangat jeli memotret praktik muslihat berhaji, sehingga meyakinkan banyak orang, termasuk status haji yang disandang Pak Soleh, yang ternyata abal-abal juga. Ia korban penipuan, tidak pernah sampai Mekah, namun diakui kesahihan gelarnya oleh masyarakat di sekitarnya, yang memang tak ngerti apa-apa.

Hanya tiga kekurangan yang saya catat cukup menonjol dari film ini. Pertama, sosok Eddy kelihatan kurang ‘ndeso’. Bukan saja karena ganteng, penampilan dan glowing-nya yang metropolis, tapi logat Jawanya yang agak ‘nJakarta’. Ditambah lagi, sosok bocah vlogger yang terasa dialek ‘mBanyumasan’-nya, sehingga tidak klop jika ia menjadi bagian dari masyarakat berdialek Ngayogyakarta.

Yang kedua, dan ini cukup mengganggu. Eddy menggunakan  pilihan kata ‘kalian’ kepada kerumunan warga desa, yang kebanyakan lebih tua usianya. Itu sangat tidak sopan. Kekurangan itu mungkin bisa dimaklumi jika Eddy dikesankan sebagai milenial perkotaan, yang banyak berjarak dengan tatakrama, unggah-ungguh, dalam masyarakat Jawa, terutama di pedesaan pada umumnya.

Ketiga, yang paling mengganggu, atau bisa dibilang fatal, adalah penggunaan lagu Cidra-nya Mas Didi Kempot. Eni yang marah dibakar api cemburu melihat Eddy muncul bersama vlogger cantik, membuatnya menyusul ke Jakarta dan marah tak terkira.

Cidra (Jawa), yang bermakna ingkar janji atau khianat, tak tepat disematkan sebagai ilustrasi remuknya perasaan Eni. Eddy tak pernah mendua, juga tak pernah berpaling dari Eni.

Bagi yang suka baca cerpen-cerpen Jujur Prananto dan/atau Misbach Jusa Biran, saya yakin mereka akan suka film ini. Nyebeli, tapi asem tenan.

Dah, segitu saja. Saya tidak hendak menelanjangi karya apik dan layak tonton ini. Tontonlah. Jangan terganggu oleh tulisanku. Ini cuma sok tahu…

Leave a Reply