Catatan Konser Ambyar Didi Kempot?

19 Oktober 2019, kami keluarga besar Rumah Blogger Indonesia (RBI) menyelenggarakan konser unik. Benar-benar unik.

Keunikannya, kami menggelar konser tunggal Mas Didi Kempot tanpa keluar biaya sepeserpun untuk penyelenggaraan. Sungguh. Tak serupiahkan keluar dari kocek kami.

Pergelaran yang kami namai KonserAmbyar itu adalah bagian dari angan-angan kami: Kobar, Nico, Sehat, Fajar dan beberapa teman RBI, membuat sesuatu untuk Mas Didi. Kenapa???

Bagi kami, Mas Didi adalah sosok seniman yang rendah hati. Punya banyak tembang yang diciptakan dan dinyanyikannya sendiri, dengan perjalanan hidup yang konsisten. 

Menjadi seniman besar tidak membuatnya lupa diri. Ia bergaul baik dengan siapa saja, dari tukang parkir hingga jenderal, dari anak muda hingga pinisepuh, dari gembel hingga orang kaya dan bangsawan.

Kesan saya, Mas Didi kelewat matang menjalani proses kesenimanan. Dimulai dengan mengamen di Solo, hingga mengadu nasib di ibukota Jakarta, bahkan sampai nggembel segala. Perjuangan kerasnya sejak awal 1980-an baru berbuah di penghujung 1989, ketika dia dan lagunya masuk dapur rekaman, dari sebuah label besar pada masa itu.

700an karya lagu sudah dicipta. Namun hidupnya biasa saja, tidak berlebih karena hak cipta tak pernah dibayarkan oleh pihak-pihak yang mengontraknya di kemudian hari. Marahkah dia???

Jawabnya: Mas Didi tidak marah. Mengurus hak apalagi menggugatnya pun tidak pernah dilakukan. Hidupnya mengalir. Toh, rejeki sudah jadi jalan takdir. Makanya, ia enggan mikir daripada bikin kenthir. 

Histeria menonton konser. Njogeti sakit hati…

“Biarlah semua dikembalikan kepada kehendakNya.” Selalu begitu jika ia ditanya mengenai royalti karya-karyanya.

Bahkan, ketika lagu-lagunya banyak di-cover penyanyi lain hingga membuat mereka berjaya, hidup berkecukupan, pun ia tak pernah iri. “Rejeki sudah ada yang mengatur. Saya pasrah saja,” katanya.

***

Kedekatan Mas Didi dengan teman-teman RBI bermula dari konsernya yang tak banyak dihadiri orang, di Taman Balekambang, Solo, sekitar sepekan usai lebaran. Kebetulan, teman-teman RBI berniat reunian lebaran sambil nonton konser di kawasan taman yang dulunya pernah dihuni seniman-seniman lawak Srimulat dan ketoprak, termasuk almarhum Mbah Ranto Edi Gudel, ayah Didi.

Rupanya, foto-foto dan video pendek yang direkam sebagai bagian dari keceriaan reunian itu viral di media sosial. Bahkan trending topik selama dua hari. Kebetulan, dari atas panggung, Mas Didi memperhatikan tingkah anak-anak muda yang malam itu tampil rapi-rapi dan wangi, sehingga dihampirinya seusai pentas.

Pertemuan itu rupanya memberi kebahagiaan dan kebanggaan bagi anak-anak muda itu. Sejak kecil mereka menggemari lagu Mas Didi, sehingga mereka hapal semua tembang yang dilantunkan adik kandung almarhum pelawak Mamiek Prakoso itu. Singkat kata, mereka saling berkenalan.

Sepekan kemudian, digelarlah Musyawarah Nasional (Munas) Lara Ati, yang dihadiri 300-an kaum patah hati, di halaman sekretariat RBI. Mas Didi hadir mengejutkan malam itu. Peristiwa malam itu pun viral kembali. https://youtu.be/ndY3aQPZhY0

Sebutan Godfather of Brokerheart, Lord Didi dan penamaan sadbois dan sadgerls pun ditawarkan malam itu, termasuk istilah Sobat Ambyar untuk menamai kaum patah hati.

***

Dari Balekambang ke RBI, lantas disusul program off air Ngobam oleh YouTuber Gofar Hilman, yang mewawancarai Mas Didi. Pengunjungnya pun di luar perkiraan. 2.000an orang (hampir semua kaum muda) berjejalan di halaman sebuah tempat wedangan di Kartosuro. Wawancara malam itu rencananya untuk bahan unggahan di channel YouTube Gofar.

Ya, rejeki memang hak prerogatif Ilahi. Sejak viral di media sosial, undangan manggung tak pernah berhenti. Kian ramai semakin ke sini, hingga Mas Didi tak punya waktu cuti barang sehari, bahkan hingga berakhirnya tahun ini.

Jika semula penampilan Mas Didi banyak didominasi oleh undangan-undangan menghibur pada acara resepsi (hajatan pernikahan, sunatan hingga pertemuan-pertemuan kantor/perusahaan), kini berubah jadi panggung-panggung konser. Tak hanya di Solo Raya, namun hingga ke luar kota bahkan luar Pulau Jawa. Meski lagunya berbahasa Jawa berirama campursari, namun masyarakat berbeda budaya pun menerimanya tanpa ada kesan basa-basi. 

Pertunjukannya selalu ramai orang membanjiri, meski banyak lagunya bertema patah hati. Ya, mereka semua malah njogeti. Menari-nari meski melantunkan syair-syair menyayat hati, mengingatkan peristiwa-peristiwa perih yang pernah mereka alami.

***

KonserAmbyar diniatkan sebagai hadiah bagi konsistensi perjalanan kesenimanan Mas Didi. Tahun ini, kebetulan mencapai 30 tahun Mas Didi meniti karir sebagai penciptan dan penyanyi campursari. Kami, para pengagumnya ingin menghadiahi, meski bisa saja tidak begitu berarti.

Semua bermula dari kebetulan-kebetulan. 

Kebetulan pertama, manajemen Hotel The Sunan ingin mengundang Mas Didi tampil di sana. Adalah Mbak Retno Wulandari, general manager hotel itu yang mengontak saya mengenai rencananya.

Karena berteman sudah lama, maka saya memberanikan diri menantangnya: “Daripada keluar duit buat nanggap Mas Didi, bagaimana kalau kita berkolaborasi membikin konser khusus untuk Mas Didi? Kamu pinjamkan ballroom-mu, kami yang mengisi dengan konser Mas Didi.”

Gayung bersambut. Pihak The Sunan menyiapkan ruang, kami dari RBI mendesain konsernya, sambil mengatur siasat mencari sumber sumber dana untuk penyelenggaraan konser.

Saya menemui Mas Didi, meminta kesediaan dan mengalokasikan waktunya untuk tampil dalam konser. Tak ada kontrak tertulis. Hanya secara lisan disampaikan, konser akan dibuat sedemikian rupa, sehingga penyelenggara tidak nombok, dan ada sisa hasil yang bisa dibagi antara kami (RBI dan The Sunan) dengan Mas Didi. Deal!!!

Waktu kosongnya Mas Didi pun hanya tiga hari, 18-19 September. Kami bersepakat memilih malam Jumat untuk mewujudkan hajat. Tidak terikat pada tradisi bahwa konser harus di malam liburan kerja/sekolah.

Rupanya, Gusti Allah meridhoi niat kami. Konser disiapkan hanya dalam waktu kurang dari 30 hari!

Pembicaraan dengan target sponsor utama pun dijalin. Kami hanya minta Rp 50 juta, dengan kontraprestasi bisa disepakati melalui diskusi. Meski duit segitu termasuk kecil bagi target sponsor yang merupakan perusahaan sangat besar, rupanya di penghujung pembicaraan hanya sanggup mendanai sebesar Rp 20 juta. Kami tegas menolaknya. Mendingan kami tidak mendapat untung daripada menerima duit ‘receh’ dari perusahaan dengan kekayaan trilyunan. 

Dalam hitungan kami, uang segitu tidak berkontribusi signifikan untuk biaya penyelenggaraan. Mendingan mengandalkan pendapatan dari jualan tiket, sambil

menjaga ‘martabat’ agar tidak jadi remeh karena urusan duit ‘receh’. Toh kami, termasuk Mas Didi, tidak menyoal untung-rugi. Yang penting konser berjalan mulus, membuat banyak orang senang, dan tidak nombok.

Lagi-lagi, Tuhan menunjukkan kuasanya. Kurang dari sepuluh hari waktu pelaksanaan, pertolongan pun datang. Pak Agus dari Lotus Production mau mendukung konser kami, dengan biaya semampu kami. Singkat kata, tata cahaya, tata suara dan panggung hanya ‘dihargai’ Rp 20 juta!!!

Padahal, menurut rancangan pembiayaan kami, untuk menutup kebutuhan panggung dan pernik-perniknya itu memerlukan sedikitnya Rp 55 juta. Belum tarif sewa ballroom yang bisa mencapai puluhan juta.

Alhasil, konser berlangsung lancar dan memuaskan semua pihak. Semua pendapatan (semua dari jualan tiket) dikurangi biaya produksi, masih tersisa lumayan, sehingga bisa kami bagi bertiga: RBI dan The Sunan masing-masing 25 persen, dan setengahnya untuk Mas Didi. Tidak banyak, tapi juga tak terlalu kecil, meski yang diterima Mas Didi hanya kurang dari setengah honor rata-rata penampilannya. 

Keuntungan RBI, The Sunan dan Mas Didi hanyalah kepuasan penyelenggaraan. Sejak awal kami tak berniat mengejar profit, sehingga kami bisa menjual tiket cukup murah dan terjangkau kalangan manapun. Dengan begitu, kami tidak memaksa diri, yang penting tidak rugi.

Serunya proses penyelenggaraan KonserAmbyar akan saya tuliskan kemudian… Jadi, tulisan ini masih bersambung…

3 thoughts on “Catatan Konser Ambyar Didi Kempot?

Leave a Reply to Kang Pardi Prabowo Cancel reply