Rasan-rasan Cawapres

Sebagai orang polos dalam melihat dunia perpolitikan, saya selalu menyimak ‘persaingan’ Cak Imin dan Gus Rommy. Keduanya bagai dua peritel Indomaret dan Alfamart, yang gerainya terus merangsek ke kota-kota kecil, yang oleh sebagian orang dianggap telah mematikan usaha warung-warung kelontong. Di mana ada Indomaret, di situ pasti ada Alfamart. Begitu pun di jalan-jalan stratagis, asal ada billboard Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, tak jauh darinya terpampang wajah Romahurmuziy, Ketua Umum PPP.

Seperti halnya peritel, Cak Imin dan Gus Rommy pun sama-sama menjajakan diri, mewakili brand partai masing-masing, agar laku dibeli rakyat, dalam bentuk dukungan suara coblosan. Yang membedakan keduanya, Cak Imin menawarkan diri sebagai calon wakil presiden, dan belakangan terlihat ngebet banget  dipinang Pak Jokowi sebagai cawapres-nya dalam Pemilu 2019 mendatang. Sedang Gus Rommy, menilik pesan di balihonya, tidak mau menyebut diri sebagai calon wapres. Tak hanya itu, dalam beragam kesempatan wawancara pers (termasuk televisi), ia tak pernah mau disebut (apalagi menyebut diri) ingin jadi cawapres.

Di antara bakal calon-calon lain, saya ingin fokus menyorot kedua sosok politikus muda ini. Baik PKB maupun PPP, penyangga utamanya berasal dari massa yang sama, yakni kaum nahdliyin. Kebetulan, baik Cak Imin maupun Gus Rommy sama-sama memiliki keterkaitan kuat dengan para pendiri NU. Meski sama-sama ‘muda’, rupanya Cak Imin yang lebih senior secara usia dibanding Gus Rommy, justru lebih kelihatan nafsunya (jadi cawapres).

Tentu, sah-sah saja sikap yang ditunjukkan Cak Imin seperti itu, meski saya tidak yakin, keduanya masuk radar Pak Jokowi untuk dipilih jadi pendampingnya dalam Pemilihan Presiden setahun lagi. Apalagi, belakangan para pendukung Cak Imin malah pethenthengan alias bersitegang dengan kubu Gus Rommy, termasuk mengaitkan keberadaan PPP sebagai pendatang dalam koalisi pemerintahan Pak Jokowi.

Tapi, sebagai penonton, saya justru menyayangkan cara-cara Cak Imin dan elit-elit PKB yang jelas-jelas menunjukkan sikap memaksa Pak Jokowi untuk memilih Cak Imin sebagai bakal pasangannya. Bukan karena tiba-tiba Cak Imin dan DPP PKB mendeklarasikan dengan membentuk posko-posko Join, Jokowi-Muhaimin. Lebih dari itu, pernyataan seorang elit DPP PKB yang menyatakan bahwa 12 juta pemilihnya adalah potensi suara penentu kemenangan Pak Jokowi. Kesan yang saya tangkap, jika Pak Jokowi tidak memilih Cak Imin jadi wakilnya, maka 12 juta pemilih PKB akan lari meninggalkan Pak Jokowi.

Sebagai cebong garis keras, boleh dong saya merasa tersinggung dan marah-marah (sampai sekarang) terhadap cara-cara seperti itu?!?

Dalam benak saya, memangnya elit-elit partai (apapun partainya) bisa memaksa pemilih partainya mengikuti apa kata sang pengurus inti dan elit partai??? Saya kok tidak yakin. Buktinya sudah banyak, baik dalam pemilihan bupati/walikota, gubernur hingga presiden, suara partai tidak sama dengan perolehan suara calon eksekutif dalam setiap pemilihan umum.

Taruh kata, seandainya kelak Cak Imin tidak dipilih mendampingi Pak Jokowi, lalu bergabung dengan koalisi di luar koalisi Pak Jokowi, saya yakin perolehan suara Pak Jokowi dari massa PKB juga masih akan sangat banyak, untuk tidak bilang lebih banyak dari suara yang diberikan ke kandidat lain.

Sorry ya, Cak Imin… Menurutku, akan jauh lebih bagus jika sampeyan menyatakan sikap lebih jelas terlebih dahulu, bahwa PKB akan masih meneruskan koalisi dengan Pak Jokowi atau tidak. Tiru saja Partai Nasdem, Golkar, Hanura, hingga PPP yang sudah terang-terangan akan mendukung pak Jokowi dalam Pilpres nanti. Saya yakin, Pak Jokowi masih akan jadi magnet bagi pemilih potensial partai-partai itu, sehingga perolehan suara (dan jumlah kursinya) bakal meningkat dalam Pemilu 2019.

Kaum nahdliyin, tentu saja tidak bisa diklaim sebagai pendukung PKB, karena faktanya banyak kader-kader kaum sarungan yang memiliki pengaruh besar di partai-partai lain, seperti PPP, Golkar, Nasdem, Hanura, hingga Demokrat dan Gerindra. Dalam soal memilih (juga dipilih), sudah terbukti pula bahwa orang NU itu bebas merdeka.

Tapi, bicara suara partai, saya yakin baik PKB maupun PPP tidak ingin menggantungkan pada suara warga NU saja. Kelompok muda, terutama para pemilih pemula (dengan beragam latar belakang) yang jumlahnya bakal sangat menentukan kemenangan partai dan kandidat apapun, kelak, perlu didekati dengan cara-cara yang lebih gaul, fun dan bersahabat. Silakan Cak Imin bersaing dalam strategi  dengan Gus Rommy, juga tokoh-tokoh muda lainnya seperti Agus Yudhoyono dan sebagainya.

Satu hal penting yang dilupakan Cak Imin, dalam konteks menjajakan diri dan partainya kepada kaum muda, adalah tidak mau memanfaatkan momentum naiknya pamor NU (dan Ansor) akibat gaduh politik menjelang Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Simpati kaum muda, juga kelompok minoritas (agama dan etnis) terhadap kerja-kerja politik dan kultural Nahdlatul Ulama (dan segenap badan otonom dan aktivis-aktivisnya) yang terbukti sanggup menyikapi secara dingin dan santun ketika politisasi agama dimainkkan ‘Kelompok 212’, akhirnya menguap begitu saja.

Padahal, PKB yang oleh banyak orang diidentikkan sebagai keluarga besar Nahdlatul Ulama, punya posisi ‘lebih NU’ dibanding PPP. Andai PKB lebih menunjukkan kerja-kerja nonpolitik dalam turut serta membendung menguatnya politisasi agama lewat aneka media (terutama media sosial), misalnya, menyediakan bantuan hukum dan beragam bentuk advokasi lainnya, bukan mustahil akan mendongkrak pamor dan meningkatkan jumlah pemilihnya.

Menurut saya, cara-cara elit PKB, terutama Cak Imin dalam mbargaining Pak Jokowi, telah mengurangi respek sebagian orang, apalagi saya. Padahal, sejak banyak orang mengidentifikasi saya sebagai barisan keluarga besar nahdliyin, saya lebih sering disebut pro-PKB dibanding ke NU, oleh sebagian pendukung utama Pak Jokowi. Tapi, ya gak papa… Wong jika ditanya saya pilih Pak Jokowi atau Indonesia, saya akan jawab Indonesia! Jika ditanya pilih NU atau Pak Jokowi, ya akan saya jawab pilih NU!

Tapi, kalau ada lagi yang tanya pilih Pak Jokowi, Indonesia atau NU? Tentu, saya akan jawab: pilih ketiganya! Kenapa?

Jawabnya, NU adalah benteng utama Indonesia, tanah air dan negara yang saya cintai. Kebetulan, Pak Jokowi masih menyintai Indonesia, dan terus memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, seperti halnya cita-cita Nahdlatul Ulama. Selain itu, kesederhanaan dan kesantunan Pak Jokowi mirip akhlak para kiai yang tidak berpartai politik. Gituu…

Aslinya, saya punya banyak cerita mengenai rivalitas politik antara PKB dan PPP, termasuk sekitar manuver Cak Imin, Gus Rommy dan beberapa elit partai lain dalam kaitannya, termasuk ‘modus-modusan’ dengan Pak Jokowi. Tapi tidak baik ditulis di sini, karena lebih pas untuk diobrolkan sambil ngopi dan rokokan. Wong ceritanya juga didapat dari rontokan petir dan hujan, kok…

Terlepas dari itu semua, menurut hemat saya, Cak Imin aslinya punya modal kuat, terutama relasinya dengan SBY dan Partai Demokrat, yang didapat sebab pernah satu koalisi dan lama jadi menterinya. Posisi itu mestinya bisa membantu Pak Jokowi dalam membangun komunikasi politik, meski banyak orang tahu juga, Cak Imin cenderung dipandang sebelah mata oleh Bu Mega. Sayang saja, modalitas itu seperti tidak berguna pula 🙂

One thought on “Rasan-rasan Cawapres

Leave a Reply