ABU 96

Sumber: Infografis Tirto.id

Sumber: Infografis Tirto.id

Kalah jadi abu, menang jadi arang. Begitu peribahasa yang saya dapat sejak duduk di bangku sekolah dasar, yang maknanya kurang-lebih tidak ada gunanya bertarung, berperang atau bermusuhan satu sama lain.

Tapi, makna peribahasa itu bisa saja dimaknai berbeda dengan Rizieq Shihab dan para pengikutnya, yang hobi banget mengobarkan permusuhan kepada siapapun. Semua hal bisa dijadikan musabab. Entah orang hendak membangun gereja, bisnis tempat hiburan hingga warung makan buka siang hari di bulan Ramadhan.

Atas nama penegakan ketertiban dan menjaga keimanan sebagian orang, FPI dan kawan-kawan tak segan menggasak warung, tak peduli pemiliknya tua renta dan bermodal pas-pasan. Apalagi diskotik atau tempat hiburan malam yang dikelola dengan modal berlebih, tentu jauh lebih menggoda syahwat mereka dalam membentengi moral umat.

***

Saya sungguh gembira ketika Aksi Bela Ulama 9 Juni berakhir sepi. Jangankan 500 ribu seperti yang mereka teriakkan sebelumnya, bahkan seribu pun tak sampai.

Tidak adanya ijin dari pengelola Masjid Istiqlal dijadikan alasan, karena basis-basis massa di berbagai daerah lantas ragu, sehingga urung datang.

Masih belum cukup alasan untuk keluar dari rasa malu, tadarus pun disalahkan. Aktifitas ibadah berupa tadarusan, membaca Al Quran, zikir bahkan dikatakan tak penting karena berkumpul, berorasi (biasanya sambil menghujat sana-sini, terutama kepada Jokowi) yang dilabeli sebagai aksi nyata bela ulama, dianggapnya jauh lebih penting.

Sejujurnya, saya tak paham dengan jalan pikiran pemuka Presidium Alumni 212 itu.

Jika kata ulama yang merupakan bentuk jamak dari kata alim (orang berilmu, tunggal), alangkah anehnya jika tuduhan ‘negara melakukan kriminalisasi ulama’ hanya merujuk pada Rizieq Shihab seorang. Padahal, sebagaimana watak dan perilaku orang alim yang bicaranya santun, mengajak pada perbuatan baik, itu tidak menemukan buktinya pada sosok Rizieq. Rizieq pun bahkan harus berhadapan dengan banyak gugatan/aduan ke kepolisian, sebagai lembaga penegak hukum yang sah di republik ini. (Kasus-Kasus yang Melibatkan Nama Rizieq Shihab)

Rizieq yang ‘melarikan diri’ dari ancaman jeratan banyak kasus, kini pasti kesepian. Kesepian yang sesepi-sepinya. Status keimamannya sedang diuji. Klaim sebagai imam besar umat Islam, tampaknya mulai rapuh jika melihat sedikitnya pendukungnya yang menghadiri Aksi Bela Ulama di Istiqlal, 9 Juni (ABU 96), kemarin.

Yang membuatnya tampak besar hanyalah satu-dua orang dekat Rizieq. Dan, kebesaran namanya pun diuntungkan oleh para awak media yang merindukan banyaknya ‘klik’ di website mereka. Siaran pers pun mereka embat, demi kunjungan alias pageviews. Kian banyak kunjungan, iklan akan datang, tarif bisa naik, valuasi pun bisa dipertahankan nilainya, syukur segera naik, sehingga fulus mengalir mulus ke pundi-pundi mereka.

Coba simak: adakah media yang mengirimkan jurnalisnya ke Saudi untuk melihat aktifitas Rizieq selepas masa umrohnya? Di mana ia menginap, berapa tarif per malamnya? Atau sejauh mana respon penguasa Kerajaan Saudi dalam ‘memuliakan’ hadirnya seorang imam besar umat Islam dari negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia dan salah satu target penting untuk penyebaran paham Wahabi itu???

Kenapa media tidak menanyakan respon atas ajakan penyambutan kepulanga Rizieq, kepada tokoh-tokoh penggerak massa Islam, yang ketika Aksi 212 rela jalan kaki ratusan kilometer??? Padahal, targetnya dulu ‘cuma’ untuk menjegal kemenangan Ahok di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta (syukur dipenjara).

Barangkali perlu juga menginvestigasi, benarkah dulu, pada aksi 212 dan sebagainya itu, ada pihak yang turut memanfaatkan sehingga mau mendanai, dimana peran Rizieq begitu sentral, powerful yang kini seolah menjadi sosok tak berguna karena tak banyak yang membela? Jangan-jangan, tak ada lagi potensi kekuatan Rizieq untuk menggembosi bahkan mendongkel rezim Jokowi sebagaimana Ahok tempo hari???

Kemana para tokoh yang kemarin-kemarin mengagungkan Rizieq, sehingga mereka tak nongol di Istiqlal, Jumat kemarin? Jangankan datang, membuat press release ke media yang rindu pageviews pun tidak… Alangkah malang si lebay Rizieq.

***

Tentu, kesepian Rizieq di ‘pengasingannya’ kini berbuah galau. Resah kalau-kalau kelak tak ada sejuta orang menjemputnya di bandar udara Soekarno-Hatta.

Mari kita nanti pada tanggal 12 Juni. Kata polisi, Senin besok inilah batas akhir berlakunya visa Rizieq di Arab Saudi. Silakan simak Minggu sore atau malam ini, adakah pemberitaan mengenai berbondong-bondongnya ‘massa Islam’ dari Solo, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat dan wilayah-wilayah lain se-Indonesia yang diklaimnya sebagai ‘umat’ yang diimami Rizieq Shihab.

Saya menduga, politisi-politisi dan bandar-bandar politik yang dulu terlibat dalam Aksi Bela Islam saat mengadili Ahok dengan pengerahan massa, sudah tak banyak yang terlibat. Tak ada lagi kepentingan yang mempertemukan dan mempersatukan ‘umat Islam’ dalam kasus Rizieq. Terbukti, tak banyak lagi ceramah-ceramah di masjid-masjid mengenai pengobaran semangat membela ulama junjungan mereka.

Kalaupun masih ada hujatan terhadap Presiden Jokowi, pun tak semassif dulu. Kini tak sering terdengar lagi, pekikan ‘ganyang PKI’yang kemarin-kemarin disematkan kepada Jokowi.

Sebaliknya, sikap mereka justru ‘melunak’ dengan meminta difasilitasi Komnas HAM untuk memediasi agar Jokowi menghentikan proses ‘kriminalisasi ulama’ yang dilakukan oleh polisi, seperti yang mereka tuduhkan selama ini. Lucunya, Natalius Pigai, komisioner Komnas HAM, dengan rela hati mengikuti kemauan mereka, sehingga menggelar pertemuan dengan pejabat Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan HAM yang dikomandani Wiranto, yang tak lain adalah ‘sahabat lama’ Rizieq Shihab, terutama pasca-reformasi 1998 lewat jalur Pam Swakarsa.

Saya menduga, gertak sambal bahwa Rizieq akan pulang dengan menunggu kesiapan ‘umat Islam’ menyambut dan menjemput kepulangannya tak akan terbukti. Justru, ucapan Rizieq sebagaimana disampaikan berulang kali oleh Ansufri Idrus Sambo, salah satu juru bicaranya, hanya akan berakhir mengecewakan. Menjadi test case yang gagal.

Mari kita tunggu aksi besar mereka: melumpuhkan bandara dengan mengumpulkan sejuta umat, lalu membikin barikade manusia sepanjang Cengkareng-Petamburan.

Saya pasti gembira bila itu terjadi. Gembira karena pasti akan banyak video dan foto yang dibuat dengan drone atau diambil dari helikopter. Bukannya apa-apa. Saya cuma ingin melihat karya monumental teman-teman jurnalis foto dan video, yang bakal membuat dunia tercengang!

4 thoughts on “ABU 96

  1. Semoga Indonesia terbebas dari orang-orang yang selalu mencari keributan. Indonesai ini negara yang damai tentram sejahtera. Jangan diusik dengan kegiatan-kegiatan yang meresahkan!

Leave a Reply