Catatan Sebuah Lomba Blog

Pertengahan Oktober 2016 merupakan masa menggembirakan. Lomba blog yang kami selenggarakan kebanjiran peserta, hingga tiga juri (Wisnu Nugroho, Donny BU dan Rony Lantip) pening kepala. Hingga sepekan menjelang penutupan, sudah ada 150 postingan yang harus dinilai. Semula, kami mengira hanya akan ada 200 peserta hingga lomba ditutup. Dan, itu merupakan target optimis kami, dengan asumsi orang sudah pada meninggalkan blogging karena ada Twitter, Facebook dan sejenisnya.

kitaindonesia_logoSebagai penyelenggara, saya terbelalak ketika jumlah yang masuk melebihi 420, meski setelah disortir tinggal 369 postingan yang harus dinilai! Rupanya saya terburu-buru membuat prediksi. Blogging masih ramai. Tak hanya di Jawa. Bahkan, dari berbagai penjuru negeri, yang konon kecepatan akses internetnya terbatas dan lebih mahal, tulisan-tulisan bagus didaftarkan. Dari Papua, Ogan Komering di Sumatera Selatan, dari pedalaman Riau, Sulawesi, dan masih banyak lagi.

Saat penjurian berlangsung, kepada dewan juri hanya kami sodorkan judul, alamat tautan (URL) dan kolom nilai hingga dipilih 22 tulisan. Tulisannya bagus-bagus: berbobot, penuh inspirasi, yang tentu saja bermanfaat bagi pembaca.

Untuk proses pengiriman hadiah, kami melakukan verifikasi dengan cara mengirim foto kartu identitas, alamat dan nomor rekening. Dari situlah, kami dibuat makin terkagum-kagum. Di antara pemenang, yang diseleksi dari 369 postingan, terdapat seorang pelajar SMP, dua pelajar SLTA dan seorang siswa pondok pesantren!

Alangkah gembiranya saya mendapati banyak kaum muda remaja mengikuti lomba KitaIndonesia (dan, diam-diam merasa dibuat malu lantaran jarang update blog dan tak kunjung mampu menulis dengan baik, apalagi bermutu).

Dan, yang membuat saya kaget adalah ketika mendapati seorang pemenang mengirim nomor rekening yang berbeda dengan namanya. Melalui email, sang pemenang menjelaskan: karena belum cukup umur, saya tidak memiliki rekening, sehingga saya berikan rekening atas nama bapak saya. Lalu saya membuka foto kartu identitasnya: sebuah kartu pelajar sekolah menengah pertama di pedalaman Provinsi Riau (daratan)!

***

Banyaknya peserta lomba, sepertinya dipicu oleh ‘tawaran kebebasan’ yang kami tegaskan dalam ketentuan lomba. Bebas, dalam arti kami tidak membebani blogger dengan syarat-syarat yang menurut hemat kami (sebagai penyelenggara), akan ‘mengotori’ tulisan berupa pesan sponsor dan keharusan begini-begitu.

Ya, kami pun sering dihinggapi rasa risih ketika ingin mengikuti lomba blog, namun harus mencantumkan nama brand atau lembaga sebagai sponsor, lengkap dengan tautannya. Belum lagi, kami diminta mem-follow akun Twitter, bergabung dalam fanpage Facebook, membagikan tulisan lewat beragam jejaring sosial dengan hashtag tertentu dan mensyen ke satu atau sejumlah akun.

Dari beberapa kali lomba blog yang kami selenggarakan, syarat-syarat demikian kami coba hindari agar orang nyaman menulis, tanpa beban. Karena itulah, kami sampaikan jaminan dan penegasan dalam ketentuan lomba, bahwa penyebutan nama sponsor tidak akan memengaruhi penilaian!

Kami sadar, ini termasuk eksperimen berani dan nekad, serta penuh risiko. Mana ada sponsor tidak butuh namanya disebut dan sebagainya dan seterusnya???

Jika menyimak tulisan demi tulisan peserta lomba blogging KitaIndonesia, kami hanya menjumpai beberapa peserta yang menyebut XL sebagai sponsor tunggal lomba itu. Menariknya, dari gaya penulisan dan rasa bahasanya, hanya satu-dua yang terdeteksi ‘modus’. Selebihnya, sekitar lima tulisan, ada yang mencoba kritis, ada pula yang berupaya menjaga jarak agar tak terjebak pada perilaku ‘ngecap’ demi kemenangan.

Kami beruntung ketemu mitra orang-orang hebat, yang mengerti ‘keresahan’ kami para blogger yang masih risih dengan penyantuman nama sponsor dalam sebuah postingan bebas. Mas Henry Wijayanto dan Mbak Ayu Triwahyu adalah dua orang hebat itu di PT. XL Axiata Tbk. yang bisa mengerti dan memahami strategi lomba yang kami tangani.

Asal tahu saja, lomba blog bertema Membangun Indonesia memalui Teknologi Komunikasi dan Internet, sejatinya dalam rangka ulang tahun ke-20 perusahaan telekomunikasi beroperasi dan melayani warga Indonesia, dari kota hingga sebagian pelosok Nusantara (ya, memang belum semua daerah karena aneka macam keterbatasan) itu

Kalau dalam rangka ulang tahun ke-20, kok gebyarnya tidak terasa? Pssttt!!! Gebyar seperti apa dulu??

Justru di ulang tahunnya ke-20 inilah, saya menganggap XL sudah cukup dewasa dan sudah kenyang makan asam-garam. Sehingga, perayaan tidak harus identik dengan pesta meriah, penuh sanjung dan puja-puji, yang hard selling atau apalah namanya. Bagi saya, kedewasaan XL cukup ditunjukkan dengan merayakan kegembiraan bersama-sama (dalam hal ini para blogger), melalui perbanyakan konten positif di Internet, yang ditulis oleh banyak orang, di antaranya ya seperti ditunjukkan oleh 369 postingan yang diikutkan lomba itu.

Lalu, XL dapat apa?

Jika semua postingan peserta lomba dibaca dengan baik, saya yakin XL akan memperoleh banyak masukan, juga pelajaran dari blogger/netizen, yang tentu jauh lebih berguna. Itu saja? Tidak! Jika Anda mau membaca tulisan-tulisan para pemenang lomba ini, saya yakin Anda pun akan mendapat banyak manfaat dan pengetahuan baru.

Satu hal penting yang kami tawarkan (selain kenyamanan menulis) dalam lomba blog ini, adalah penentuan nama-nama anggota dewan juri yang kami yakini memiliki pengalaman memadai, integritas, netralitas dan kredibilitas. Karena itu, mereka bakal independen dalam melakukan penilaian. Merekalah penjaga gawang lahirnya tulisan-tulisan bernas, bermutu, dan memiliki nilai manfaat bagi siapa saja.

Leave a Reply