Pertimbangan Memilih Maskapai Penerbangan

Berita pembatalan sanksi kepada Lion Air (dan Air Asia) akibat kesalahan membawa penumpang terminal kedatangan luar negeri ke jalur domestik, sudah saya duga sebelumnya. Mau dibilang prasangka atau pendapat mengada-ada, silakan. Silakan pula menyimak ‘kemesraan’ Direktorat Perhubungan Udara dengan Lion Air, yang berulang kali menyodorkan fakta, tak pernah ada sanksi yang membuat Lioan Air jera lalu berbenah memanjakan konsumennya.

Jika Anda mengeluh tidak bisa melihat foto di atas dengan jelas, percayalah, permasalahan bukan pada mata Anda. Lion Air memang susah dilihat dengan mata telanjang semata.

Jika Anda mengeluh tidak bisa melihat foto di atas dengan jelas, percayalah, permasalahan bukan pada mata Anda. Lion Air memang susah dilihat dengan mata telanjang semata.

Semula, saya mengira di bawah Ignasius Jonan, Kementerian Perhubungan akan tegas seperti citra yang dibuatnya selama ini. Juga, harapan kepada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk bersikap keras (termasuk melakukan upaya hukum) menekan manajemen Lion Air memenuhi ‘hak dasar’ konsumen atas jasa penerbangan akan ketepatan jadwal keberangkatan. Tapi, ya saya maklum. Jonan dan orang YLKI hanya bisa bersuara keras melawan rokok. Itulah ‘spesialisasi’ mereka.

Tulisan di bawah ini sudah disiapkan dua hari sebelum pernyataan resmi pembatalan sanksi terhadap Lion Air (dan Air Asia) oleh Kementerian Perhubungan.

Membaca berita reaksi manajemen Lion Air yang mengadukan ke Bareskrim Mabes Polri menyusul insiden penurunan penumpang penerbangan luar negeri ke terminal domestik, saya kok jadi ikut-ikutan jengkel. Geregetan. Apalagi ketika membawa-bawa nasib 27 ribu karyawan sebagai alasannya. Sama sekali tidak menunjukkan profesionalisme manajemen. Memangnya dengan mengatasnamakan dua puluh tujuh ribu kepala bisa menghapus kesalahan?

Merajuk seperti kanak-kanak lantas mengadu, jelas tak elok. Mengancam menghentikan sejumlah rute penerbangan pun saya tafsir sebagai bentuk mengancam, karena merasa dibutuhkan banyak orang, sehingga penghentian penerbangan seakan membuat banyak urusan terganggu. Bijakkah? Silakan Anda menilai sendiri. Semoga arogansi itu bukan karena sang pemilik sudah menjadi pejabat di lingkungan Istana Kepresidenan.

Air Asia dan Citilink sama-sama maskapai berbiaya rendah (low cost carrier/LCC) di tanah air. Dua maskapai ini termasuk yang layak direkomendasikan sebagai pilihan. Sayang, rutenya masih terbatas.

Air Asia dan Citilink sama-sama maskapai berbiaya rendah (low cost carrier/LCC) di tanah air. Dua maskapai ini termasuk yang layak direkomendasikan sebagai pilihan. Sayang, rutenya masih terbatas.

Menurut saya, perlu dicermati lagi. Apakah selama ini Lion Air sudah memberikan hak-hak konsumennya secara sepadan, misalnya memberi jaminan terbang tepat waktu? Bagaimana sikap otoritas penerbangan, khususnya Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, terhadap banyaknya kekurangan manajemen Lion Air yang ditunjukkan lewat protes, amuk penumpang di terminal-terminal keberangkatan akibat delay tanpa kejelasan?

Sebagai penganjur paham congkakisme, saya ingin ‘menasihati’ para pembaca, agar memilih hati-hati memilih moda transportasi, baik darat, laut maupun udara. Pilih perusahaan yang dikelola oleh manajemen yang profesional. Dan karena perusahaan bergerak di bidang jasa, selama ia tak menempatkan konsumen sebagai raja yang harus dilayani, sebaiknya tinggalkan saja.

Kalau saya, selalu menghindari terbang dengan Lion Air. Kecuali tak ada moda transportasi lain, atau tiada alternatif penerbangan dari maskapai lain,barulah saya mau, meski dengan berat hati. Kalau ditanya sebabnya, hingga saya menulis ini, merasa tak yakin manajemen Lion Air benar-benar mengurus bisnisnya dengan berorientasi kepuasan konsumen. Kejadian delay hingga berakibat kemarahan calon penumpang sering diberitakan, dan terjadi tidak hanya di satu tempat.

Perhatikan tulisan di kanan bawah pada foto. Bukti bahwa Sriwijaya Air dirawat oleh ahlinya, GMF AeroAsia yang reputasinya sudah diakui dunia.

Perhatikan tulisan di kanan bawah pada foto. Bukti bahwa Sriwijaya Air dirawat oleh ahlinya, GMF AeroAsia yang reputasinya sudah diakui dunia.

Satu yang saya sorot adalah siapa ‘bengkel’ yang merawat mesin dan perangkat pendukungnya. Kebetulan, saya hanya percaya kepada GMF AeroAsia, anak perusahaan Garuda Indonesia yang khusus menangani perawatan pesawat terbang. Sehebat apapun pilot, kalau pesawat yang dikendalikannya tidak memiliki performa meyakinkan, ya sama saja bohong. Ibarat bus, sehebat apapun sopir, ia tak akan bisa menjalankan tugasnya mengendalikan kendaraan dengan baik jika, misalnya, mesinnya tak terawat baik, bannya sudah kerap divulkanisir, dan sebagainya.

Dan, sedangkal pengetahuan yang saya miliki, ban (belakang) pesawat hanya boleh digunakan untuk sekian kali pendaratan (lupa, 50 atau 60?). Ban masih diperbolehkan divulkanisir sebanyak (kalau tak keliru) dua kali, yang masing-masing hanya untuk jumlah pendaratan yang lebih sedikit dari ban baru. Dan, soal vulkanisiran ban pesawat, itu lazim dan diperbolehkan menurut regulasi internasional, meski dengan ketentuan ketat. Produsen ban pun hanya beberapa. Tidak semua pabrik ban memiliki lisensi produksi.

Setahu saya, hanya sedikit maskapai dalam negeri yang menjadi klien GMF AeroAsia, di antaranya Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya/NAM Air, dan Air Asia Indonesia. Seingat saya, Lion Air bukan pelanggan GMF AeroAsia. Dan, mengingat nama GMF AeroAsia yang memiliki sertifikat internasional dalam hal perawatan pesawat, tak aneh jika banyak maskapai asing ternama ada dalam daftar kliennya.

Saya memotretnya saat naik Susi Air menerbangi langit Kalimantan Utara. Kecanggihan peralatan pendeteksi cuaca yang terletak di ruang pilot ini memberi gambaran jarak dan ketinggian posisi awan. Pilot bisa menghindari situasi yang mengancam keselamatan penerbangan. Konon, peralatan semacam ini juga perlu dikalibrasi oleh otoritas tertentu, sebab kesalahan data akan mengakibatkan celaka.

Saya memotretnya saat naik Susi Air menerbangi langit Kalimantan Utara. Kecanggihan peralatan pendeteksi cuaca yang terletak di ruang pilot ini memberi gambaran jarak dan ketinggian posisi awan. Pilot bisa menghindari situasi yang mengancam keselamatan penerbangan. Konon, peralatan semacam ini juga perlu dikalibrasi oleh otoritas tertentu, sebab kesalahan data akan mengakibatkan celaka. Jangan takut naik pesawat. Semua peralatannya sudah berteknologi tinggi.

Jadi, kata kuncinya adalah jaminan keselamatan penerbangan lewat perawatan pesawat supaya tetap prima. Bisa jadi, biaya/nilai kontraknya mahal, sehingga Lion Air tidak menjadikan GMF AeroAsia sebagai perawat armadanya demi menekan pengeluaran perusahaan.

Asal tahu saja, saya sering mengolok-olok teman yang memilih terbang dengan Lion Air dengan alasan murahnya tarif. Biasanya saya mengatakan demikian, “Kalau sayang nyawa dan masih ingat punya banyak dosa, kenapa kamu tidak memilih lebih mahal sedikit tapi keselamatanmu terjamin?” Dan jika teman itu mengembalikan itu kepada takdir, saya segera menukas demikian: “Jika kita dikaruniai akal dan diperintahkan ikhtiar, kenapa tidak menggunakannya?”

Dulu hingga awal 1990an, sebelum ada Adam Air, Lion Air dan maskapai-maskapai lain, kalau ada kesempatan naik pesawat, saya akan memprioritaskan Garuda Indonesia, baru kemudian Bouraq atau Mandala. Rekor saya, bahkan mencapai 50 penerbangan dengan Garuda dan sekitar 10 kali menggunakan Bouraq atau Mandala dalam setahun. Dan, sampai saat ini jumlah saya terbang dengan Singa Merah belum menyamai jumlah terbang dengan Bouraq/Mandala.

Saya sombong, kan??

Gak apa-apa.  Sejak awal, saya tidak punya trust memadai terhadap maskapai milik Rusdi Kirana ini. Kalaupun ada orang/lembaga mengundang saya untuk suatu acara di Jakarta, misalnya, saya akan memilih kereta api atau bus, jika pengundang mensyaratkan menggunakan Lion Air karena alasan pagu pendanaan. Atau, saya minta uangnya lalu saya tomboki sendiri untuk  naik Garuda.

 Kini, jika ketersediaan dana jadi kendala untuk bepergian dengan pesawat, saya punya beberapa alternatif, yakni Citilink, Sriwijaya atau NAM Air. Kadang memperoleh harga lebih murah dibanding Lion Air, kadang sedikit lebih mahal, tapi masih terjangkau. Dan, sejak saya memilih tiga nama maskapai tadi setahun terakhir, akibatnya keanggotaan saya di Garuda sampai downgrade menjadi blue setelah belasan tahun ‘bertahan’ di kelas silver karena hanya beberapa kali terbang. Dan, tentu saja, itu bukan soal penting bagi saya. Toh, semua pesawat dari maskapai-maskapai tadi dirawat oleh GMF.

Jadi, kata kuncinya ada di perusahaan jawa perawatan pesawat terbang.  Kebetulan, GMF tak cuma jago kandang, namun punya gengsi di tingkat Asia. Logikanya, karena perusahaan berkelas, maka jasanya dihargai mahal. Karena itu, hanya perusahaan yang dikelola dengan manajemen moderen dan profesionallah yang mau mengeluarkan bujet besar ‘hanya’ untuk perawatan armadanya. Bukan sekadar membuat pilot tenang menerbangkan, namun juga karena menghargai penumpang, yang sudah membayar seluruh pengeluaran operasional ditambah keuntungan bagi perusahaan.

Jujur, hingga saya menuliskan ini, saya masih sangsi apakah Lion Air sanggup melakukan perawatan armada, baik mesin hingga peralatan navigasi (yang konon juga perlu dikalibrasi untuk membantu pilot membaca situasi dengan presisi). Kalau menyimak ada pilotnya ditangkap karena terbukti memakai narkotika, lantas pilot mogok lantaran perkara sepele semacam uang transpor saja, maka itu sudah cukup jadi alasan saya menilai betapa tidak profesionalnya manajemen perusahaan itu.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak teman, kenalan atau sidang pembaca yang budiman, yang memiliki otoritas menentukan biaya perjalanan dinas, untuk menimbang pilihan maskapai jika penghematan anggaran menjadi pertimbangan. Jangan asal membuat ketentuan ‘non-Garuda’ demi menghemat biaya, lantas asal-asalan memilih maskapai. Lebih baik menggunakan plafon anggaran. Sebab, belum tentu harga tiket Lion Air pada saat yang sama lebih murah dari Garuda, apalagi jika perjalanan sudah terencana jauh-jauh hari sebelumnya.

Selama harga tiket masih ramah terhadap isi dompet, saya akan memilih masakapai ini. Saya selalu kangen dengan kopinya. Kalau sepuluh tahun lalu, yang saya kangeni adalah coklatnya. Bentuknya kotak sekitar 2,5 cm, warnanya kombinasi putih dan coklat kehitaman.

Selama harga tiket masih ramah terhadap isi dompet, saya akan memilih masakapai ini. Saya selalu kangen dengan kopinya. Kalau sepuluh tahun lalu, yang saya kangeni adalah coklatnya. Bentuknya kotak sekitar 2,5 cm, warnanya kombinasi putih dan coklat kehitaman.

Saya punya pengalaman. Pada 2006 (kalau tak salah ingat), saya diberi tugas mengkordinir perjalanan sejumlah wartawan untuk penerbangan Jakarta-Batam. Oleh si pemberi mandat, saya diberi ketentuan non-Garuda. Lantas, saya sedikit mendebat, pertimbangannya hanya nama maskapai atau biaya, yang kemudian dijawab biaya. Saya pun meminta sesuai plafon anggaran. Alhamdulillah, enam orang bisa saya pilihkan Garuda untuk perjalanan pergi-pulang, yang terbukti kemudian tiketnya lebih murah dibanding Lion Air, terpaut sekitar Rp 600 ribu/orang.

Begitulah petimbangan saya memilih maskapai. Semoga Anda serasional saya….. Dan, harap diingat, ini bukan soal gaya-gayaan! Saya lebih mempertimbangkan faktor keselamatan (penerbangan) lebih utama dibanding yang lain-lainnya. Sebab takdir tidak ada yang pernah tahu, maka ikhtiar merupakan keharusan. Ikhtiar itu merupakan salah satu perintah Tuhan.

Referensi yang patut Anda baca:

Gara-gara Sanksi, Lion Air Diberondong Investor, Bank, hingga Asuransi
Tersentaknya Lion Air dan “Trust” Masyarakat yang Harus Dijaga
Saat Ruang Rapat Komisi V DPR Dipenuhi Para Pramugari Cantik Lion Air

 

13 thoughts on “Pertimbangan Memilih Maskapai Penerbangan

Leave a Reply