Menyaksikan Al Quran Raksasa

Baru sekali saya menyaksikan Al Quran berukuran raksasa. Rangkaian huruf diukir pada sebuah kayu, ditata bertingkat dan berlapis-lapis, pada sebuah rumah berdekatan dengan pondok pesantren. Banyak tokoh Islam dunia pernah mengunjungi museum, kendati lokasinya agak di pinggiran Kota Palembang.

quran_palembang_20160511_026Saat mengunjungi museum itu, awal Mei, saya tak punya gambaran sama sekali penyajian karya seni itu. Saat memasuki ruangan, pun saya belum ngeh. Sekilas, yang saya lihat hanyalah tembok kayu terdiri dari susunan jendela bertingkat hingga setinggi 20-an meter. Ketika ada beberapa orang membuka ‘jendela’ di baris atas, barulah saya paham, rupanya itulah yang disebut Al Quran berukuran raksasa.

Karena penasaran, saya mencari jalan untuk menaikinya. Dan, saya temukanlah sebuah tangga melingkar yang terletak di bagian belakang. Saya menyusuri lorong demi lorong dan memutar ‘daun-daun jendela’ yang tak lain merupakan lembaran-lembaran ukiran ayat-ayat suci. Allah Maha Besar!

quran_palembang_20160511_039Saya takjub dengan ketekunan juru ukir, yang meskipun konon dikerjakan oleh lima orang, hasilnya bisa selaras. Kwalitas tatahannya sama-sama halus, begitu pula pewarnaannya. Pantas saja banyak orang mengagumi dan jauh-jauh mau mendatanginya demi menyaksikan kebesaranNya menciptakan seniman-seniman ukir yang mengabadikan semua kalamNya.

Menurut cerita, masing-masing lembaran kayu itu berukuran tinggi 177 cm, lebar 140 cm dengan ketebalan 2,5 cm. Berbahan baku kayu tembesu, kayu lokal yang dikenal kuat, tahan air dan antirayap. Untuk keseluruhan 30 juz diperlukan 315 lembar dengan total mencapai 40 meter kubik. Sekilas, tidak tampak ada sambungan, sehingga jika benar itu tanpa sambungan, maka sempurnalah karya seni itu. Justru yang jadi pertanyaan kemudian adalah berapa usia pohon saat ditebang sehingga memiliki diameter hampir dua meter itu!

Sang pencetus gagasan atau inisiator pembuatan Al Quran raksasa tak lain adalah pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsaniyah, Sofwatillah Mohzaib atau akrab disapa Opat. Letak museum bersebelahan dengan pondok di Desa/Kecamatan Gandus, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Untuk mencapainya, jika Anda turun di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, bisa menggunakan taksi dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Selain taksi, bisa pula menumpang bus TransMusi koridor 7, turun di Jembatan Musi II dan berganti moda angkutan kota menuju lokasi. Hanya saja, kondisi jalan untuk mencapai lokasi tidak terlalu bagus kendati banyak pengunjung datang silih berganti dari berbagai kota di Indonesia dan mancanegara. Dan, jika sekarang-sekarang ini dijumpai banyak macet dimana-mana, tak lain karena Palembang sedang berbenah menuju kota yang indah. Menyambut Asian Games 2018, dimana Palembang menjadi tuan rumah selain Jakarta, pembangunan infrastrukturnya terus digenjot.

Tapi, meski susah payah mencapainya karena padatnya jalan raya, Anda akan memperoleh kepuasan ketika sampai di museum yang pembuatannya memakan waktu lama, sejak digagas pada 2002 hingga diresmikan pada 2009. Secara keseluruhan, pembuatan Al Quran raksasa itu melibatkan sedikitnya 35 orang dengan proses kerja yang rumit.

quran_palembang_20160511_030Kalaupun ada kekurangan, yang sempat saya catat hanyalah perawatan kebersihannya, terutama di lantai dua ke atas. Juga, penerangan yang kurang memadai. Tentu, itu bukan dimaksudkan agar memudahkan orang yang inginberfoto selfie. Lebih dari itu, supaya orang yang datang berkunjung bisa menikmati keindahan seraya mengagumi dan meresapi kalamullah yang terukir indah di sana.

One thought on “Menyaksikan Al Quran Raksasa

Leave a Reply