Jalan-jalan ke Bumi Sriwijaya

Menyongsong Asian Games 2018, Palembang tampak terus berbenah. Kotanya tambah rapi, pembangunan infrastrukturnya  pun dipacu.  Taman pun terus dibangun sehingga bisa dijumpai di mana-mana. Sungguh perkembangan yang menggembirakan, menjadi jauh lebih indah dibanding 2013, ketika saya sempat tinggal di kota ini selama hampir dua bulan lamanya.

Pagoda di Pulau Kemaro, Palembang. Tiang listrik (dan kabelnya) merusak kenyamanan orang yang ingin menikmati indahnya pemandangan.

Pagoda di Pulau Kemaro, Palembang. Tiang listrik (dan kabelnya) merusak kenyamanan orang yang ingin menikmati indahnya pemandangan.

Palembang benar-benar tumbuh menjadi kota wisata. Daerah yang kaya ragam kulinernya, tempat-tempat bersejarah, hingga keragaman budayanya, termasuk produk-produknya. Sungguh memesona. (Terima kasih Kementerian Pariwisata yang telah memberi fasilitas jalan-jalan dan makan-makan gratis selama lima hari kepada sejumlah teman, termasuk saya).

Dulu, tiga tahun lalu, saya nyaris tidak sempat mencicipi kelebihan Kota Palembang. Jembatan Ampera pun hanya sekali saya nikmati pada malam hari, meski beberapa kali melintasi. Maka, giranglah saya ketika ditawari ikut jalan-jalan ke Palembang, apalagi mendengar ada rencana menikmati Sungai Musi, dalam arti berperahu di atasnya. Ternyata, saya baru tahu, Musi merupakan kali lebar yang sangat sibuk, dan menjadi urat nadi penentu kelangsungan kehidupan masyarakat, tidak hanya Palembang, namun juga kota/kabupaten lain di Sumatera Selatan, juga provinsi-provinsi lain.

Tapi, satu hal yang menggelitik saya adalah cerita seputar kelenteng San Ciao Miao Ie di Pulau Kemaro, yakni daratan seluas sekitar 50 hektar di tengah Sungai Musi. Mitos atau legendanya bisa saja bermacam-macam. Tapi banyak hikmah yang bisa dipetik. Dan, satu yang terpenting bagi saya adalah pesan multikulturalisme, yang terbukti lewat sejarah hubungan antarbangsa: Melayu-China-Arab (Yaman).

Pagoda dan dua naga penjaga.

Pagoda dan dua naga penjaga.

palembang_pagoda_20160510_076

Konon, daratan yang menyembul di tengah Sungai Musi merupakan ‘bukti’ ketulusan cinta putri raja setempat yang dilamar seorang pangeran dari Tiongkok. Katanya (sekali lagi katanya), seorang lelaki membawa persembahan emas dan perhiasan berharga dalam wadah yang disamarkan berisi asinan buah demi menghindari perompakan di lautan. Sialnya, ketika persembahan lamaran diserahkan, calon mertua merasa ditipu lantaran yang dibukanya hanya asinan, sehingga dibuanglah semua persembahan itu ke sungai.

Kesibukan dermaga di bawah Jembatan Ampera adalah potret dinamika sosial-ekonomi Palembang dan daerah-daerah sekitarnya. Tak jauh dari dermaga, terdapat pelabuhan yang sibuk. Ada terminal peti kemas yang menunjukkan aktivitas ekspor-impor, ada juga pelabuhan khusus milik PT. Pupuk Sriwijaya, yang menyuplai kebutuhan pertanian nyaris manjangkau seluruh wilayah Nusantara.

Kesibukan dermaga di bawah Jembatan Ampera adalah potret dinamika sosial-ekonomi Palembang dan daerah-daerah sekitarnya. Tak jauh dari dermaga, terdapat pelabuhan yang sibuk. Ada terminal peti kemas yang menunjukkan aktivitas ekspor-impor, ada juga pelabuhan khusus milik PT. Pupuk Sriwijaya, yang menyuplai kebutuhan pertanian nyaris manjangkau seluruh wilayah Nusantara.

Sang perjaka Tiongkok pun menceburkan diri ke sungai demi mengumpulkan perhiasan. Lantaran lama tak muncul, sang putri menyusul, mencebur diri mencari sang kekasih, ditemani dua pengawalnya. Dan seterusnya, dan sebagainya… Singkat ceritera, daratan yang muncul kemudian seturut dengan wasiat sang putri, bahwa jika kelak ia tak muncul kembali ke permukaan sungai, dimintanya kerabatnya untuk memerhatikan apa saja yang bakal terjadi sepeninggalnya.

***

 Dikisahkan, putri pemimpin lokal yang terjun ke sungai itu seorang muslimah. Tak ada penjelasan, apakah pemuda China itu seorang muslim, atau kelak bakal menjadi muallaf melalui proses pernikahan. Yang jelas, pertautan cinta tak dibatasi latar belakang etnisitas. Dan, di kompleks Pulau Kemaro, muncul pula kisah praktek tenggang rasa pendatang dari China terhadap sesama pendatang dari Yaman, di mana ada sebagian tanah yang didedikasikan oleh peranakan China untuk lokasi pemakaman peranakan Arab (Yaman) di sana.

Terpisah oleh sungai dengan jarak tak seberapa jauh, tinggalah 50-an kepala keluarga keturunan Yaman, bani Munawwar. Kampung mereka dinamai sesuai nama moyangnya. Kultur Islamnya kental terasa, namun menyatu dengan budaya lokal. Menyusuri lorong-lorong kampung Al Munawwar, saya dihadapkan pada bangunan-bangunan kuno yang nyaris kurang terawat, namun masih utuh. Keturunan Arab (Yaman) yang tinggal di sana pun menghapus persepsi saya akan stereotip keturunan Arab yang serba berada. Yang mudah kita jumpai di sana adalah peranakan Arab yang hidupnya seperti orang kebanyakan. Tidak kaya, namun bukannya miskin-miskin amat. Sempat saya saksikan seorang tukang becak, yang wajahnya kearab-araban. Beda banget dengan sebagian Arab-Arab di Jakarta, yang bermewah-mewah dalam penampilan namun suka mengeksploitasi perbedaan (agama, maupun etnis). Di salah satu kampung Arab di Palembang ini, sholawatan masih hidup, juga tradisi haul leluhur mereka. Bahkan, pada setiap 27 Rajab, dilangsungkan haul, di mana para keturunan bani Munawwar akan pulang ke kampung halaman, sejauh apapun perantauan mereka.

Terpisah oleh sungai dengan jarak tak seberapa jauh, tinggalah 50-an kepala keluarga keturunan Yaman, bani Munawwar. Kampung mereka dinamai sesuai nama moyangnya. Kultur Islamnya kental terasa, namun menyatu dengan budaya lokal. Menyusuri lorong-lorong kampung Al Munawwar, saya dihadapkan pada bangunan-bangunan kuno yang nyaris kurang terawat, namun masih utuh. Keturunan Arab (Yaman) yang tinggal di sana pun menghapus persepsi saya akan stereotip keturunan Arab yang serba berada. Yang mudah kita jumpai di sana adalah peranakan Arab yang hidupnya seperti orang kebanyakan. Tidak kaya, namun bukannya miskin-miskin amat. Sempat saya saksikan seorang tukang becak, yang wajahnya kearab-araban. Beda banget dengan sebagian Arab-Arab di Jakarta, yang bermewah-mewah dalam penampilan namun suka mengeksploitasi perbedaan (agama, maupun etnis). Di salah satu kampung Arab di Palembang ini, sholawatan masih hidup, juga tradisi haul leluhur mereka. Bahkan, pada setiap 27 Rajab, dilangsungkan haul, di mana para keturunan bani Munawwar akan pulang ke kampung halaman, sejauh apapun perantauan mereka.

Andai orang-orang yang bangga mengaku diri sebagai habib dan pejuang Islam namun menghalalkan darah (keturunan) China belajar dari cerita di Pulau Kemaro ini, alangkah indahnya persaudaraan multietnis yang terajut dalam keseharian bangsa Indonesia. Apalagi jika menyimak proses kemerdekaan bangsa Indonesia, di mana nama-nama berbau Arab, China, Jawa, Melayu dan etnis-etnis di bagian timur kepulauan Nusantara tercatat dalam tinta emas sejarah pergerakan, proklamasi, dan penyiapan perangkat kenegaraan setelah Agustus 1945.

Jika mau mundur ke belasan abad sebelumnya, pun bangsa Sriwijaya sudah berinteraksi dengan bangsa-bangsa yang jauh lebih luas dari ASEAN sekarang, lewat perdagangan dan kerja sama kebudayaan, bukan lewat cara peperangan!

Maka, SEA Games 2011 menjadi tonggak yang mengingatkan kembali peran kesejarahan kerajaan dan bangsa Sriwijaya. Begitu pula ASIAN Games 2018 yang akan diselenggarakan di Jakarta dan Palembang. Jika pemilihan Palembang sebagai kota kedua penyelenggaraan SEA Games memberi dampak signifikan pada perkembangan perekonomian kota (juga warganya) lantaran ribuan orang bertandang dari negara-negara anggota ASEAN, tentu jumlahnya akan berlipat pada event berskala lebih luas: ASIA!

Wajar jika kini, di Palembang dibangun Light Rail Transit (LRT), moda transportasi baru sejenis kereta listrik, melengkapi sarana transportasi publik Trans Musi yang sudah ada sebelumnya. Kedua moda itu tentu akan sangat dibutuhkan, kelak, ketika ribuan orang dari berbagai bangsa berbondong-bondong meramaikan gelaran Asian Games.

Tentu, akan lebih menarik dipikirkan mengenai penataan potensi wisata di Kota Palembang dan daerah sekitarnya. Saya yakin, pemetaannya sudah rampung dilakukan, baik oleh pemerintah provinsi maupun kota/kabupaten di Suatera Selatan. Namun, satu yang mesti dipertimbangkan, adalah penciptaan kenyamanan orang berwisata. Di sana-sini, saya masih menjumpai sisi buruk pariwisata: kesan kumuh dan kurang tertata.

One thought on “Jalan-jalan ke Bumi Sriwijaya

Leave a Reply