Nyinyir terhadap Pembebasan Sandera

Tanpa niat meremehkan nasib para sandera, masih saja mengganjal dalam pikiran dan hati saya, mengenai keberanian ‘Surya Paloh connections’ melakukan klaim sebagai kelompok pembebas seorang nakhoda dan sembilan awak yang dibajak dan disandera kelompok Abu Sayyaf. Saya sebut dengan istilah ‘connections’ karena Surya Paloh melibatkan seluruh kekuatan unsurnya: Yayasan Sukma, Partai Nasdem dan MetroTV.

Jujur, sejak awal saya nyinyir karena sangsi pada ketulusan Surya Paloh dan seluruh orang di lingkarannya. Media Grup (yang diwakili MetroTV atau mungkin Media Indonesia) yang tak lain adalah perusahaan media yang seharusnya netral, jadi rancu perannya karena terlibat dalam sebuah ‘operasi’ bersama-sama dengan partai politik. Netralitasnya diragukan, setidaknya oleh saya seorang.

Kesangsian kian menjadi-jadi manakalah saya menyaksikan pernyataan Desi, reporter MetroTV, dalam sejumlah tayangan yang diulang-ulang di medianya sendiri, dan menempatkan Ketua Fraksi Nasdem di DPR, Viktor Laiskodat sebagai narasumber. Bahwa kesaksian mereka penting, saya tak membantahnya. Kehadiran mereka bisa dianggap sanggup menjawab rasa ingin tahu publik. Semua mbulet pada penggunaan jalur pendidikan, dan ketika didesak lantas mengembalikan ke hak prerogatif Tuhan sebagai penilai kebenaran.

Tapi, bagi saya, setelah menyimak keterangan mereka di media milik Surya Paloh, dan ‘kesaksian’ Laiskodat dan Ketua Yayasan Sukma di acara Indonesia Lawyers Club TVOne, membuat saya kian sangsi. Jawaban mereka sama sekali tidak menjawab rasa ingin tahu saya. Bantahan Kivlan Zein, yang mengaku sebagai tim negosiator mewakili perusahaan pemilik kapal yang dibajak, lebih meyakinkan, meskipun sejatinya meragukan pula. Termasuk, tuduhan Kivlan bahwa timnya Surya Paloh cari muka.

Saya yakin, kerja pemerintah jauh lebih serius, baik melalui jalur kementerian luar negeri, badan intelijen maupun kelompok-kelompok lain, termasuk memanfaatkan bekas atau narapidana politik terkait terorisme. Apalagi, jika merunut sejarah politik ‘Kelompok Selatan’ Filipina dengan gerakan fundamentalis di Indonesia. Abu Sayyaf adalah nama besar di MILF. Dan, MILF adalah kelompok yang tak sehaluan dengan MNLF karena pemimpinnya, Nur Misuari, dianggap kompromis terhadap Manila, yang terbukti kemudian melahirkan otonomi khusus Mindanau.

Asal tahu saja, kaum militan Mindanau dan Afghanistan memiliki ‘kedekatan’ dengan Indonesia karena almarhum Abdullah Sungkar, yang dikenal sebagai pemimpin tertinggi dan pendiri Jamaah Islamiyah. Sungkar adalah pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin (populer dengan sebutan Pondok Ngruki), Sukoharjo, yang pada 1985 melarikan diri ke Malaysia karena menghindari proses hukum (politik) karena melawan Pemerintah Indonesia, Soeharto.

Sungkar adalah ideolog sekaligus panglima perang. Para pengikutnya dikenal militan karena selain rekruitmennya sangat selektif, juga menjadikan Mindanau dan Afghanistan sebagai kawah candradimuka bagi kader-kadernya. Para pengikut Sungkar pernah menerbitkan buku-buku pendidikan kaderisasi hingga ilmu perang (termasuk merakit bahan peledak, penggunaan senjata, taktik gerilya), di antaranya Tarbiyyah Jihadiyah.

Bahwa keberadaan regenerasi gerilyawan MILF tidak bisa disangkal, namun agak musykil rasanya mereka memiliki kontak dengan Surya Paloh dan kawan-kawannya. Jika hingga kini yang terdengar bahwa tim negosiasi Surya Paloh memiliki kedekatan dengan Gubernur Sulu yang konon masih keluarga pendiri MNLF Nur Misuari, agak sulit menghubungkan kedekatan pengikut Abu Sayyaf yang berasal dari MILF, alias sempalan MNLF. MILF jelas tidak mau berdialog dengan Manila, sementara kerabat MNLF yang menduduki jabatan gubernur, otomatis menjadi kepanjangan tangan Manila.

Diplomasi Peyek dan Bakpia

Argumentasi yang lebih menggelikan, menurut saya, adalah ‘diplomasi peyek dan bakpia’ yang menyertai Al Quran dan kopiah. Apalagi, itu disebut sebagai ‘mahar’ untuk pertukaran 10 nyawa sandera yang awalnya ‘dihargai’ senilai Rp 150 milyar. Disebutkan pula, persembahan untuk penyandera hanya seberat 40 kilogram saja. Jika sekilo terdiri dari lima buah Al Quran dan lima buah kopiah, andai totalnya 20 kilogram, maka hanya berupa 100 kitab dan 100 kopiah.

Jika sisanya dibagi masing-masing sepuluh kilogram peyek dan bakpia, hanya berapa bungkus jumlahnya? Andai seluruh pengikut Abu Sayyaf hanya 100 orang pun, dijamin mereka akan saling berebut peyek dan bakpia, yang bakal habis sekali makan. Padahal, kalau menurut cerita para sandera yang diajak hidup berpindah-pindah, kadang hanya diberi makan sekali dalam sehari selama sebulan lebih.

Rasanya, lebih masuk akal jika argumentasi Surya Paloh dan kawan-kawan menukar para sandera dengan satu kapan sebesar kapal batubara itu, namun isinya kopiah, Al Quran, peyek dan bakpia.  Dan, menurut saya, itu bakal nyambung dengan Yayasan Sukma yang bergerak di ranah pendidikan. Meski diakui Ketuanya, bahwa Yayasan Sukma hanya bergerak di bidang pendidikan, dan hanya di Aceh, masih bisalah dihubung-hubungkan dengan Mindanau, Zamboanga, Sulu dan sekitarnya, yang sama-sama memiliki tradisi Islam kental seperti halnya bumi Aceh, yang di Indonesia dijuluki sebagai Serambi Mekah.

Tinggal dibikinkan alasan tambahan, karena sesama keluarga muslim, maka obrolan tim negosiasi Surya Paloh lebih enak dan lebih nyambung dengan gerilyawan Abu Sayyaf yang islami.

Kalau masih kurang kuat, bisa dimasukkan gimmick tambahan, bahwa para gerilyawan sangat merindukan peyek dan bakpia, karena itu mengingatkan tentara-tentara pejuang dari Filipina Selatan akan dinamisnya Kota Yogyakarta yang mengilhami semangat perang mereka. Ya, Yogyakarta yang ‘Islami’ bukan hanya dipimpin seorang sultan, namun memiliki banyak kelompok Islam militan, semacam Gerakan Pemuda Ka’bah, Laskar Umat Islam, Majelis Mujahidin Indonesia serta PKS Piyungan, yang dikenal tak punya lelah dan bosan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar di tanah kesultanan Islam hingga bumi Indonesia Raya.

Kalau masih juga kurang kuat juga, bisa saja Tim Surya Paloh menyampaikan kepada dunia, bahwa kerinduan gerilyawan Abu Sayyaf merasa mendapat kekuatan magis manakala memakan peyek dan bakpia. Ceritakan saja, bahwa pimpinan tertinggi Abu Sayyaf memberi hadiah liburan bagi pejuang-pejuangnya ke Yogyakarta, sehingga karenanya, pernah memakan peyek dan bakpia sehingga mereka sangat terkagum-kagum, sebab orang Islam di Indonesia sanggup menata satu-persatu kacang (atau kedelai) dalam adonan tepung yang dimasukkan di wajan penggorangan, sehingga wujud peyek sangat indah dilihat, artistik, dan menunjukkan kebesaran Allah SWT lewat kepiawaian umatnya yang berakal dan berakhlak.

Dan, vacancy gerilyawan MILF ke Yogyakarta juga membawa misi rahasia, misalnya membangun jejaring dengan sisa-sisa pengikut Abdullah Sungkar yang tersebar tak jauh dari Yogyakarta, misalnya Sukoharjo, Boyolali, Temanggung, Ciamis, Subang, dan kota-kota lain di Indonesia. Percayalah, jika Tim Surya Paloh mengatakan demikian, tak ada orang yang menanyakan apakah mereka memiliki paspor atau tidak, toh orang Indonesia sudah biasa baca koran, bahwa seorang pejuang militan bisa saja naik perahu nelayan, masuk Indonesia lewat Sangihe, Tarakan dan seterusnya dan sebagainya.

Eh, piye sih, kok malah saya jadi bingung sendiri???

Intinya, saya cuma ingin diyakinkan saja sama timnya Surya Paloh, dengan penjelasan yang lebih diterima akal sehat. Misalnya, Pak (Mas?) Baedlowi yang katanya punya kontak di Filipina Selatan itu siapa? Misalnya, apakah kelompok pengajiannya Abu Sayyaf pernah studi banding ke Yayasan Sukma mengenai pola pendidikan, dan sebagainya. Atau, bisa juga, misalnya, Si Baedlowi itu ke sana dalam rangka mengajari bagaimana cara membuat peyek dan bakpia, supaya taraf hidup keluarga gerilyawan meningkat, dan di antara 40 kilogram barang yang dijadikan mahar, sejatinya hanyalah contoh bahwa peyek itu bisa diekspor ke Amerika karena Obama pernah memakannya, dan bakpia menjadi oleh-oleh yang diburu turis dari seluruh dunia ketika berlibur di Yogyakarta.

Andai saja Desi yang dari MetroTV, yang dikenal sebagai jurnalis andalan liputan konfllik dan investigatif memasukkan kata-kata kunci seperti jaringan Hashim Salamat, Zamboanga, Umar Patek, dan sederetan nama-nama lain yang terkait dengan isu-isu terorisme, sebagai penyimak, saya pasti puas. Eh, tapi memang kalian tak hendak memuaskan keraguan saya seorang, kok yaaa….

Gitu lho, para pembacaaa….

Oh, iya… Saya lupa. Mari kita doakan empat saudara kita yang masih disandera segera dibebaskan. Saya yakin pemerintah sudah melakukan beragam upaya, baik dengan cara diplomasi maupun operasi. Tapi, soal kerja beginian, ada kode etik yang tak bisa diceritakan ke publik. Semoga keempatnya segera bebas, dan tak ada lagi pihak-pihak yang mengklaim menjadi sang pembebas. Apapun motifnya, itu sangat tak pantas.

Update (7 Mei 2016 pukul 3.40 WIB):

Ada masukan menarik dari teman AJI Indonesia, Lensi Mursida melalui akun Facebook saya, mengenai penjelasan Ahmad Baedlowi dari Yayasan Sukma, yang menjelaskan bahwa Negosiator itu Pendidik. Seorang teman lagi merespon melalui jalur privat, bahwa Tim Surya Paloh yang diterjunkan dalam proses negosiasi dengan penyandera adalah kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Silakan menyimpulkan sendiri. Saya, masih keukeuh menganggap klaim itu berlebihan. Dasarnya, lagi-lagi, proses demikian tak lazim dipamerkan, kecuali dalam bentuk investigasi jurnalistik. Dan, dalam kasus ini, saya menilai kelewat tendensius, dengan mengagungkan Surya Paloh, dan menggunakan media utama Media Grup yang tak lain adalah perusahaan pers yang saya nilai cenderung bias dalam pemberitaan terkait Surya Paloh dan Partai Nasdem. 

Leave a Reply