Teh Oplos, Tengkleng, Selop dan Beskap

Jika orang ditanya apa yang menggerakkannya kembali mengunjungi Soto Gading, selain sotonya, orang akan menyebut sepet wangi teh, tempe garit, baru kemudian aneka cemilan pendamping yang tersaji di meja. Banyak warung, restoran atau wedangan di Solo, pun populer lantaran teh (panas maupun pakai es) yang mereka sajikan kepada tetamu.

Apa yang menarik dari teh Solo?!?

Jawabnya adalah oplosannya! Ya, oplosan dari sejumlah merek yang beredar di pasaran, dengan komposisi tertentu. Masing-masing orang punya selera sendiri-sendiri, meski yang umum tetaplah sepet dan wanginya. Setelah itu, barulah warna hasil seduhannya. Makin pekat warnanya, makin menguatkan karakter. Manteb!

Sejatinya, juru masak warung, wedangan atau restoran,  hanyalah penganut tradisi lama Wong Sala dalam mengoplos sejumlah merek teh. Nyapu dan Sintren termasuk dua merek yang cukup populer disatukan. Dari dua ‘unsur dasar’ itu barulah sebagian orang menambah merek lain seperti Dandang (yang berciri cokelat pekat), 999 atau Gopek. Belakangan, teh cap Gardoe menjadi unsur baru dalam sebuah komposisi oplosan.

Setiap warung/restoran yang asli punya Wong Sala, bisa dipastikan menggunakan teh oplosan, meski tak disebut di daftar menunya. Begitu pula jasa katering. Bahkan, jika seseorang rajin pergi kondangan, mereka akan tahu nama jasa katering yang dikontrak si empunya hajat, hanya dari teh yang disajikannya. Sekadar informasi saja, kebanyakan resepsi dihelat dengan pendekatan tradisional: 10 gelas teh sudah tersaji di meja-meja tamu. Sementara makanan ringan, sop, nasi-lauk dan es sebagai hidangan penutup, disajikan dengan pola ‘piring terbang’, yakni diantar oleh sinoman kepada para tamu yang duduk mengikuti rangkaian pesta/resepsi.

Tapi, teh oplos ala Solo memang hanya untuk dinikmati, bukan dibicarakan. Mungkin karena rutin dinikmati di rumah pada pagi, siang atau malam hari, sejak kecil hingga masa tua, maka teh oplos menjadi biasa-biasa saja. Berbeda dengan teh hijau, teh putih, teh oolong dan sebagainya, yang belakangan ramai diperbincangkan, dikupas kelebihan dan manfaatnya untuk kesehatan, dan sebagainya dan seterusnya hingga ujungnya menjadi mahal harganya.

Tak pernah saya menjumpai manajemen hotel di Solo, mulai yang kelas melati hingga bintangnya bertaburan, punya kesadaran apalagi mau menempatkan keunikan warisan tak benda (intangible) sebagai salah satu sajian unggulan menunya. Kebanyakan puas dengan memakai teh celup merek-merek dunia seperti Lipton atau Dilmah, atau minimal merek-merek lokal seperti Sari Wangi, Tong Djie, atau Sosro yang bukan premium.

Saya yakin, orang yang sering keluar-masuk restoran atau hotel berbintang, sudah terbiasa memesan hot tea, dan yang dterimanya berupa paket air panas di cangkir, satu sachet teh celup dan gula terbungkus kertas berisi sekitar lima gram! Dimana enaknya, coba? Bayar mahal-mahal, yang didapat cuma begituan… Kenapa tidak memuliakan tamu dengan cara, walaupun pakai teh celup, namun diseduh di dapur baru disajikan dalam paket pasangan teko dan cangkir???

Sebagai penikmat dan pengoplos teh, kadang saya iri dengan nasib tengkleng dan sate kere, yang bisa didongkrak kelasnya menjadi sajian mahal di restoran hotel berbintang empat dan lima! Padahal, sejarah tengkleng, sate kere dan teh oplos tak jauh beda. Tengkleng, sejarahnya, hanyalah tulang-tulang kambing yang tak layak dikonsumsi kaum ningrat dalam aneka pesta. Para abdi dalem yang ngiler akan nikmatnya daging kambing, lalu mengumpulkan sisanya karena dibuang sayang. Apalagi, pada setiap tulang masih menempel sekerat-dua kerat daging, sehingga lahirlah terobosan memanfaatkannya. Dibuatlah aneka bumbu untuk olahan berkuah, sehingga tengkleng bisa dinikmati.

Sate kere pun demikian. Mengadopsi sate kambing, dibakarlah potongan-potongan tempe gembus (buntil?) dengan bumbu sate, yang pada perkembangannya kemudian dikombinasikan dengan kikil dan daging sapi, hingga menjadi kuliner unggulan yang diburu banyak orang, terutama wisatawan maupun pelancong bisnis di kota Solo.

Banyak pelaku wisata, juga kelompok kreatif di Solo yang melupakan teh oplos sebagai produk kreatif orang Solo. Pada jamannya, saya yakin mengoplos adalah sebentuk perlawanan budaya. Ketika masa kerajaan dan masa penajajahan dulu, kaum bangsawan selalu mengonsumsi pucuk-pucuk daun teh, maka sisanya barulah untuk rakyat. Jika pucuk daun dibawa VOC ke luar bumi Hindia Belanda, maka sisa daun yang berkelas dua dan seterusnya diolah dengan menyampur bunga melati untuk melahirkan aroma dan rasa baru.

Dan, di tangan orang Sololah, aneka teh melati dari masing-masing resep perusahaan/pabrik, kembali dicampur dengan komposisi tertentu, di mana masing-masing unsur diambil karakter uniknya: wangi atau sepetnya, dan sebagainya. Lantas, hadirlah teh oplos khas Solo, yang berbeda dengan teh-teh yang disajikan di rumah-rumah atau warung-warung di Tegal, Pekalongan, Yogya, Semarang dan kota-kota lain.

Dari dulu kala, orang Solo sudah dikenal kreatif. Demi menolak budaya barat, pun dilakukan dengan menciptakan produk-produk baru lewat modifikasi sehingga memiliki ciri pembeda/diferensiasi. Jas yang identik dengan barat, dipotong bagian punggung bawahnya hingga menjadi beskap. Begitu pula sepatu pantalon, dipotong bagian belakang, dan alas dibuat sejajar menjadi selop.

Sayang, banyak orang tak terlalu memerhatikan yang demikian. Mungkin kelewat sering menjumpai, sehingga tampak biasa saja…

Leave a Reply